"Masuklah dan aku akan memberi tahu semua yang kau dan kalian ingin ketahui"

"Dan biarkan aku meminjam jasad anak ini untuk sementara waktu..."

Yuuri menelan ludah. Wolfram yang ada di depannya kini bukanlah Wolfram yang dia kenal. Dia tahu itu. Untuk sejenak dia ragu. Dia berdiri saja di sana, tidak bergerak.

"Ada apa, Heika? Jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu... " sosok itu berkata lembut. Suaranya halus dan merdu, namun aura yang dipancarkannya benar benar membuat siapa pun yang melihatnya merinding.

"Di mana... Wolfram yang asli? Yuuri mulai maju perlahan. "Apa... yang kau lakukan padanya...?" Sosoknya kian dekat, hingga kini Yuuri sudah berdiri beberapa senti saja dari sosok itu.

Teman temannya yang lain berdiri waspada di belakangnya. Seakan bersiap dengan segala situasi. Wajah wajah itu tegang.

Sosok itu tiba tiba tersenyum tipis.

"Mau bertanya dengan orang ini? Meski mungkin dia juga tidak tahu apapun..."

Yuuri melirik tajam sosok Shinou yang berdiri gelisah tak jauh darinya.

"Apa yang kau lakukan padanya?"

"Sungguh, aku tidak tahu. Tiba tiba saja dia jadi seperti itu. Bukan aku yang melakukannya... Tidak... Bukan aku... Aku tidak tahu apapun..." suara itu perlahan mulai menyusut, sampai hampir seperti bisikan.

Yuuri sungguh heran melihat reaksi barusan. Seakan Shinou menjadi orang yang berbeda pula.

Tatapan mereka pun beralih ke Wolfram yang masih berdiri kokoh di tempatnya.

Sosok itu menyeka sisa cipratan darah di wajahnya dengan kasar. Sorot matanya menatap jasad kaku Waltorana sekilas.

"Ah, kau sudah membunuhnya, ya. Ya sudahlah... Kuakui, dia memang tidak terlalu berguna... Benar benar polos seperti bayi..." Matanya terpejam sejenak.

"Selamat datang. Sungguh aku sudah lupa rasanya didatangi oleh orang sebanyak ini... Sejak aku terjebak dalam kotak itu... " sosok itu berkata lirih.

"Seperti yang kukatakan barusan, aku akan meminjam jasad anak ini untuk sementara waktu... Tenang, dia tidak akan mati... Untuk saat ini..." dia memberi penekanan pada kalimatnya yang terakhir, seakan memberi peringatan.

"Apa maksudmu...?" Conrad berkata lirih. Ada nada tegang di suaranya.

"Aku telah terjebak di kotak ini sejak ribuan tahun lalu. Saat aku mati, ternyata aku tidak bisa langsung pergi ke dunia sana. Rohku dinyatakan invalid, dan selama itu rohku hanya bisa gentayangan saja. Sampai akhirnya rohku ikut terkunci bersama roh jahat lain di kotak itu"

"Belakangan, segel kotak itu mulai longgar. Aku mulai bisa melihat kondisi di luar. Aku telah menyaksikan semuanya. Dan aku sudah sejak lama mengawasi anak ini" Ditatapnya telapak tangannya yang terbuka, seolah mengaguminya.

"Ah, lebih tepatnya, menjaganya darimu, saudaraku yang picik... " Mata itu menatap Shinou penuh dendam.

Shinou terdiam kaget. Matanya melebar. Tubuhnya mendadak terasa dingin.

"Saudara... Jangan jangan kau... " Yozak berkata perlahan. Suaranya terdengar takjub.

"Yah, harus kuakui, aku dan dia bersaudara, meski bisa dibilang kami tidak punya hubungan darah sama sekali..." sosok itu tersenyum kecut.

"Ayahnya menikahi ibuku. Kami pun menjadi keluarga. Tapi dia malah... Membunuhku... Hanya karena dipikirnya aku lebih pintar darinya... Sungguh ironis" sosok itu menggeleng perlahan. Suara itu terdengar kecewa.

"Kau... Membunuh saudaramu sendiri?" Yuuri tersentak kaget. Ditatapnya Shinou dengan tatapan tidak percaya.

Shinou diam saja. Wajahnya sekaku boneka kayu.

"Rupanya dendam dalam hatiku inilah sebab aku ditolak di dunia sana, hingga akhirnya harus mendekam di dalam kotak itu. Tapi sekarang aku sudah bebas. Dan aku butuh sebuah tubuh untuk bisa keluar. Kuputuskan untuk menggunakan tubuh anak ini. Siapa namanya? Wolfram? Nama yang bagus..." Sosok itu tersenyum senang, namun sorot matanya tetap dingin.

"Apa yang ingin kau lakukan padanya? Cepat keluar dari tubuh itu! Dia bukan mainan!" Yuuri mulai marah.

"Memang bukan. Dia kerabatku... Aku salah satu leluhurnya... Sama seperti dia... Kalau kau ingin tahu" Dia tersenyum miris. Sorot mata itu datar. Tanpa emosi.

"Kau... Ibumu itu... Dia... Bielefeld...?" Shinou berkata kaku.

"Ya... Dan kau pun rupanya telah menikahi salah satu kerabat ibuku...Dunia ini memang terlalu sempit... Dan konyol... " sosok itu terkekeh pelan.

Semua tampak terhenyak kaget dengan kenyataan lain yang mereka dengar.

"Karena itu mudah saja bagiku untuk mengambil alih tubuh anak ini. Ah, sebenarnya aku selalu berada di dekatnya, mengawasinya. Menjaganya. Meski ironisnya, wajahnya terlalu mirip denganmu" Matanya mengerling Shinou dingin.

"Aku tahu rencanamu sejak awal, saudaraku. Aku hanya bisa tertawa saat kau merasa sudah hampir menang. Seolah tidak ada yang bisa menghentikanmu lagi... Tapi kau salah... "

"Setiap kotak kotak terlarang itu berisi roh di dalamnya. Roh jahat, kalau boleh kukatakan. Saudaraku, kau ingin membuka kotaknya, kan? Tapi aku jamin, kau bahkan tak tahu caranya" Sosok itu tersenyum menang.

"Tentu saja dengan menggunakan kunci yang tepat, kan?" Shinou menjawab kesal. Dia seakan sedang dipermalukan di depan semua orang. Dan dia tidak suka itu.

"Aku bicara soal cara yang tepat. Memang, semua orang tahu kunci yang tepat untuk membuka kotak. Namun sebenarnya tidak ada yang tahu cara membuka kotak itu dengan benar... Semuanya terlalu bernafsu untuk menguasai dunia, sampai lupa hal sesederhana itu..."

"Apa... Yang ingin kau lakukan...?" suara Gunter mencicit takut.

"Biar kuberi tahu kalian satu hal yang bagus. Karena biar bagaimana pun, tak akan kubiarkan saudaraku itu menggunakan kotak ini. Karena aku yang lebih membutuhkannya. Bukan dia..." Sosok itu berkata datar.

"Seiring waktu, segel kotak kotak ini pun sebenarnya sudah mulai mengendur. Tidak sekuat saat pertama kali disegel. Yang dilakukan untuk membuka kotak ini cukup mudah..."

"Kalian tahu, apa sebabnya para kunci tidak boleh terlalu dekat dengan kotaknya?"

Nada suara itu seolah memberi pertanyaan yang dituntut untuk dijawab.

Hening sesaat. Hanya gemuruh kotak yang terdengar.

"Karena semakin dekat mereka dengan kotak itu, dan berdiri semakin lama di dekatnya, maka itu akan semakin melonggarkan segelnya. Maka yang harus dilakukan oleh kuncinya hanyalah mendekat dan berdiri sedekat mungkin dengan kotaknya dalam waktu yang lama..."

Seketika itu juga Gwendal dan Conrad tampak terkejut kaget, dan segera melangkah mundur, berusaha menjauh sejauh mungkin dari kotak kotak itu.

Mata kiri Gwendal mulai berkedut nyeri.

Tangan kiri Conrad mulai terasa sakit.

"Nah, sudah semakin terasa, kan? Kuharap kalian sudah mulai mengerti sekarang. Aku tahu apa yang ada di dalam kepalamu, saudaraku... Kau pikir dengan mengambil mata dan tangan kiri dua orang itu secara fisik bisa membuka kotak kotak itu? Hah, jangan konyol. Sejahat jahatnya roh kami, kami bukan pembunuh berdarah dingin seperti kau" suara itu pas menusuk. Nadanya dingin dan kejam.

"Dan ya... Tentu saja anak ini juga salah satu kunci dari kotak terlarang itu... Dan kalau boleh kukatakan, salah satu kunci dari dua kotak istimewa... "

Namun tiba tiba dia berhenti bicara. Matanya menatap Shinou lagi.

"Saudaraku, kau lah yang menyegel kotak kotak itu, bersama aku, roh yang jahat ini ke dalamnya. Alangkah baiknya bila kau saja yang menjelaskannya pada kami...Kau pasti tahu, kan...?" suara itu terdengar hampir seperti pujian.

Shinou diam saja. Seolah dirinya tidak mendengar.

Sosok itu menghela napas kesal. Namun dia mulai berbicara lagi,

"Kalau begitu... Bagaimana denganmu, Murata Ken? Kau pasti tahu, kan? Atau harus kupanggil kau Daikenja...?" Dia tersenyum sumir. Ada satu hal lagi yang ingin dia katakan tentang orang ini, namun ditahannya.

Murata tampak terkejut, namun kemudian mengangguk perlahan.

"Empat kotak terlarang itu memiliki fungsi yang berbeda... Dua kotak penghancur... Dan dua kotak penyembuh... " Murata mulai bicara perlahan.

"Dua kotak penghancur adalah Kaze no Owari dan Chi no Hate, sementara dua kotak penyembuh adalah Toudou no Gouka dan Kagami no Minasoko... "

"Kaze no Owari adalah kotak pembawa topan dan angin ribut, Chi no Hate adalah kotak penyebab gempa dan longsor... Sementara dua sisanya, Toudou no Gouka adalah kotak yang dapat memperpanjang umur, menyembuhkan penyakit, sampai menghidupkan kembali orang mati... Dan Kagami no Minasoko adalah kotak yang dapat menghapuskan segala kenangan buruk dan pembawa harapan... Dengan kata lain, dua penghancur dan dua penawar... Seperti itulah kami dulu membuatnya. Karena bagaimana pun, kami saat itu berharap meski terjadi kehancuran, mesti ada penawarnya..." Murata terdiam setelahnya.

"Jadi... Maksudmu...Wolfram bisa... Menghidupkan orang mati...? Yuuri tersentak kaget.

"Ya... Dan aku lah yang menginginkan kekuatan itu... Untuk diriku sendiri... Aku sudah lelah menjadi arwah penasaran. Aku ingin hidup... " Dia tersenyum licik.

Tiba tiba sosok itu berbalik, berjalan perlahan menuju kotaknya.

Semua tersentak kaget.

Dia membuka kotak itu. Toudou no Gouka yang masih mengeluarkan api biru dan suara gemuruh itu dibukanya perlahan dengan tangan.

Sosok itu masih bersemayam dalam tubuh Wolfram.

Diusapnya perlahan kotak itu. Matanya lembut menatap kotak itu. Dia berlutut di depannya. Namun kemudian dia bangkit berdiri.

"Akhirnya aku menemukanmu..."

Wolfram masuk ke dalam kotak itu. Seketika kotaknya langsung tertutup.

"Wolfram...!"

Aku tidak mau melakukan ini...

Hentikan dia...

Hentikan aku...

Bersambung