"Akhirnya aku menemukanmu..."

Wolfram masuk ke dalam kotak itu. Seketika kotaknya langsung tertutup.

"Wolfram...!"

Suara mereka yang melihat kejadian itu bercampur baur.

Yuuri terpaku diam. Rupanya dia masih terlalu kaget.

Kejadian itu berlalu begitu cepat. Wolfram sudah menghilang dari hadapan mereka, masuk ke dalam kotak itu.

Toudou no Gouka masih mengeluarkan bunyi gemuruh disertai api biru menyala.

Tiba tiba Conrad maju mendekati kotak itu, bermaksud membukanya dengan paksa dari luar.

Namun ketika tangannya hendak menggapai kotak itu, sengatan api panas menyentuh lengannya, seolah menolaknya.

"Ukh...!"

Conrad seketika mundur sedikit. Lengan bajunya terbakar sebagian.

"Hentikan, Weller-kyo. Menjauhlah dari situ. Tangan kirimu adalah salah satu kunci. Meski pada kotak yang berbeda, tapi kotak itu tetap akan memberikan sedikit respon"

Suara Murata tenang dan perlahan. Tidak terlihat panik.

Conrad mendelik padanya. Tatapannya kecewa sekaligus gelisah.

"Tapi Wolfram ada di dalam!"

"Kuncinya... Apa yang akan terjadi dengan kuncinya...Wolfram...!" Gwendal pun ikut panik. Seruannya tertahan.

"Tenanglah"

Shinou akhirnya buka suara setelah diam cukup lama.

Semua menoleh menatapnya.

"Adikmu itu digunakan dengan cara yang benar olehnya. Seperti yang dia katakan barusan" Shinou menatap Gwendal kalem.

"Lagipula, di saat kotaknya bergemuruh seperti ini, justru kuncinya lah yang paling aman. Karena kotak terlarang tidak bisa menyerang pemegang kuncinya sendiri"

"Wolfram masih... hidup... " Suara Gwendal sedikit tercekat di tenggorokan. Wajah itu tampak panik. Bulir keringat mengalir di dahinya.

"Yah, meskipun aku sendiri tidak bisa menjamin keselamatannya. Semakin lama dia di dalam kotak itu, maka tubuhnya akan semakin lemah. Segelnya pun akan semakin longgar. Entah dia bisa bertahan atau tidak, itu tergantung dirinya..."

"Orang yang kehilangan kemampuan melihat atau kehilangan kemampuan menggunakan tangan memang masih bisa bertahan, tapi kalau jantung..." Shinou menghentikan kalimatnya. Karena dia tahu pasti, mereka sudah tahu jawabannya.

Namun kalimat terakhir Shinou tadi seakan menyadarkan Yuuri dari keterpakuannya. Ekspresi wajahnya yang awalnya pucat, berubah panik.

"Murata! Kau pasti tahu sesuatu, kan? Kau pasti tahu caranya menghentikan benda ini dan membawa Wolfram keluar dari sana!" Yuuri menatap Murata lekat. Suaranya nyaris seperti memohon.

Murata menunduk, kemudian menggeleng perlahan.

"Sayangnya, aku juga tidak tahu. Aku tidak tahu apakah Tuan von Bielefeld selamat atau tidak. Yang bisa kita lakukan sekarang hanya menunggu."

Suaranya datar, tenang, tanpa emosi.

"Tidak mungkin... Wolf... " Yuuri menatap kotak Toudou no Gouka putus asa. Air matanya hampir meleleh lagi.

"Hm? Yuuri heika, apa kau ingin menyerah? Seperti bukan kau saja..." Shinou berkata perlahan. Ditatapnya Yuuri yang berdiri lemas di depannya.

Yuuri diam saja. Tidak dipedulikannya ucapan Shinou barusan.

"Aku akan membantumu..."

Suara Shinou tenang. Dia tersenyum hambar.

Yuuri hampir tidak bisa mempercayai kalimat yang baru didengarnya barusan. Untuk sesaat, dia mengira dirinya salah dengar. Perlahan, wajah yang menunduk itu terangkat.

"Apa maksudmu...?"

"Jangan salah paham. Hubunganku dengan kakakku itu memang sangat buruk. Rasanya aku ingin bicara baik baik dengannya. Aku melakukan ini untuk diriku sendiri, bukan untuk kalian"

"Dan aku ingin merebut pionku kembali..." Shinou berkata datar, namun matanya menatap kotak Toudou no Gouka penuh ambisi.

"Aku akan bantu kau dari luar. Kau harus bisa membuka kotaknya dan masuk ke dalam, lalu menyelamatkan anak itu. Sementara aku akan mengirim sebagian rohku ke dalam dan menemukan pria itu. Bagaimana...?" Shinou berkata lagi. Suaranya kali ini sangat lembut, dan terselip nada rayuan di situ.

Jenis suara yang hampir selalu bisa menggoyahkan orang lain.

Termasuk Yuuri.

Hening.

"Baiklah... Aku setuju..." Yuuri akhirnya menjawab. Suaranya terdengar yakin.

"Heika...!" Conrad dan Gunter berseru pelan.

"Huh... Sudah kuduga. Kau bukan tipe yang mudah menyerah. Benar, kan, Yuuri heika...?" Shinou menatapnya sinis. Wajahnya tersenyum masam.

Yuuri hanya menatapnya dengan senyuman pasrah.

Tunggu aku, Wolf.

Yuuri berjalan perlahan menuju kotak yang masih terus bergemuruh dan mengeluarkan api itu. Kemudian berusaha membukanya. Tangannya segera dijilat api. Yuuri menahan perih. Perlahan, kotak itu pun akhirnya terbuka.

Hitam. Pekat.

"Wolfram! Kau di sana?!" Yuuri mencoba memanggil Wolfram.

Tidak ada jawaban.

Yuuri pun bergegas ingin masuk ke dalam, menyelamatkannya.

"Yuuri! Tunggu! Itu berbahaya...!"

Tiba tiba Yuuri merasa tubuhnya ditahan seseorang dari belakang.

Dia berbalik. Conrad menatapnya dengan pandangan memohon dan khawatir.

Sejenak, Yuuri hanya mampu menatap wajah yang tampak kuyu namun berusaha tegar itu.

Yuuri selalu mengerti perasaan Conrad. Meski pria itu hampir selalu menyembunyikan emosi darinya.

Dan Yuuri tahu, Conrad pun pasti menyadarinya.

Kalau dia juga mengerti perasaan itu.

Yuuri menatap mata cokelat keperakan itu lekat. Dia tersenyum lembut.

"Aku akan selamatkan adikmu, oke... ?"

Conrad terpaku. Seakan Yuuri telah menebak perasaannya. Wajahnya terlihat kaget. Cengkraman tangannya pada Yuuri mengendur perlahan.

Yuuri pun perlahan masuk ke dalam kotak itu, yang langsung tertutup lagi begitu dirinya masuk.

--

Yuuri berada di suatu tempat yang dia sendiri tidak pernah tahu. Di mana mana hitam pekat. Gelap.

Seolah dia sedang berada di ruang hampa. Kakinya melayang layang di udara.

"Aku di mana...? Apa di sini tidak ada jalan...?"

--

Sementara itu di luar kotak, mereka menunggu gelisah.

Shinou tetap berdiri tenang di tempatnya.

"Shinou! Kenapa kau izinkan Shibuya masuk ke dalam kotak itu?! Kau tahu kan, kalau sebenarnya itu berbahaya?!"

Murata tiba tiba terlihat berang. Kesabarannya kali ini hampir habis menghadapi sahabatnya yang satu ini.

Shinou hanya tersenyum tipis. Murata tidak memahami senyuman itu.

"Tenanglah, Daikenjaku. Percayalah pada temanmu yang satu itu. Aku sudah bilang kan, kalau dia itu istimewa? Selain itu... Kalaupun kau hentikan dia, aku rasa akan percuma saja... Aku berani bertaruh, dia akan berterima kasih padaku karena sudah membantunya menyelamatkan tunangannya..." Shinou tersenyum menang. Dia tahu, sahabatnya itu tidak akan menyangkal dia kali ini.

Murata menyerah, pasrah.

"Orang orang di generasi ini benar benar bodoh... "

--

"Aku di mana...? Apa di sini tidak ada jalan...?" Yuuri bergumam pelan.

Tiba tiba seketika itu muncul jalan setapak yang berwarna putih. Jalan itu lurus, seakan tidak ada ujungnya.

Yuuri pun perlahan berhasil menjejakan kakinya di jalan setapak berwarna putih itu. Dia pun mulai berjalan.

Rasanya sudah lama sekali Yuuri berjalan. Namun dia sama sekali belum melihat tanda tanda keberadaan Wolfram di sana.

"Tunggulah, Wolf... Aku akan menyelamatkanmu..."

--

Sudah berjam jam sejak Yuuri masuk ke dalam kotak. Namun belum ada tanda tanda dia akan kembali.

Melihat situasi ini, Gwendal tidak tahan untuk membuka mulut.

"Apa kami benar benar bisa mempercayaimu? Kau bisa saja menjebak kami, kan?" Suaranya terdengar marah. Matanya menatap Shinou curiga.

Shinou hanya tersenyum sumir mendengarnya.

"Terserah kau saja. Aku tidak pernah memaksamu atau rajamu itu untuk mempercayaiku. Itu adalah pilihannya untuk percaya padaku. Harusnya kau tanya padanya, bukan denganku... "

Gwendal mendengus pelan mendengar jawaban itu.

"Kalau kau ingin adik tercintamu itu selamat, kau tidak punya pilihan selain percaya padaku. Paling tidak kali ini... "

Gwendal diam.

Shinou masih tersenyum tipis.

"Urusanku dengan kalian belum selesai... "

--

"Tunggulah, Wolf. Aku akan menyelamatkanmu..."

Baru saja Yuuri berkata seperti itu, tiba tiba dari jauh dia melihat sosok yang selama ini dia cari.

Kotak ini seakan mengerti dan merespon semua keinginannya...

Yuuri segera berlari mendekati sosok Wolfram yang dia lihat dari jauh.

"Wah... Ternyata nyalimu besar juga, ya... Mau datang ke tempat seperti ini... "

Tubuh Wolfram masih diambil alih. Sosok itu melayang di udara.

Yuuri kaget. Suara itu masih sama. Dingin dan menyeramkan.

Tenanglah. Aku akan membantumu.

Sebuah suara muncul dari dalam kepalanya. Suara Shinou.

"Kau... Cepat keluar dari tubuh itu! Tinggalkan dia sendiri!" Yuuri mulai berang.

"Tidak bisa. Dia harus gantikan posisiku di sini. Rohnya akan terkunci di kotak ini, sementara aku akan mengambil alih tubuhnya... Jangan ganggu aku..." sosok itu pun mulai marah.

"Tidak akan kubiarkan kau melakukannya!"

Aku tidak mau melakukan ini...

Tolong dia...

Tolong aku...

Tiba tiba Yuuri mendengar sebuah suara dari dalam kepalanya lagi. Tapi kali ini bukan suara Shinou.

Ini suara yang sangat dirindukannya...

Wolfram masih di sini! Dia masih bertahan...

"Wolfram! Kau masih di situ, kan?! Ini aku, Shibuya Yuuri! Aku tunanganmu! Jangan mau kalah dengannya, Wolfram! Aku tahu, kau pasti bisa merebut tubuhmu lagi!"

Yuuri mulai berteriak, mencoba menyadarkan Wolfram. Tangan kanannya mulai berusaha menggapai anak itu.

"Jangan berteriak... Nanti jasad ini bangun... "

"Aku mohon... Sadarlah Wolfram... Kami semua menantimu..." suara Yuuri menghilang di tenggorokan.

"Kau pernah datang dan meraihku... Apa kau tidak akan membiarkan aku meraihmu...?"

Sekelebat ingatan saat berada di pinggir jurang melintasi ingatannya.

Hening sesaat.

"Yuuri...?"

Suara itu terdengar lemah dan sayup.

Air mata yang menggenang di matanya kini telah berubah makna ketika ia mendengar namanya disebut.

"Wolfram...!"

Tangan Yuuri akhirnya berhasil meraih tangan Wolfram. Tubuh Wolfram perlahan mulai turun ke bawah.

Wolfram terlihat lemas dan mengantuk.

Tubuh itu akhirnya jatuh ke pelukan Yuuri.

"Akhirnya aku bisa meraihmu..."

Bersambung

--

Sebagian kejadian di sini diambil dari manga Maruma antara chapter 101 sampai 108, dengan pengubahan.