"Huh, kekuatan emosional rupanya. Kekuatan yang paling membuatku jijik...!"
Sosok itu telah kehilangan jasad yang sempat dia kuasai.
Wolfram masih lemas. Yuuri menatap roh itu sengit.
"Kembalikan jasadku...!"
"Larilah...! Biar aku urus dia...!"
"Shinou...! Baiklah...! Wolf, kau bisa berdiri?" Yuuri membantu Wolfram bangkit, kemudian langsung mengamit lengannya, menjauhi tempat itu. "Hah, aku tidak percaya kau bahkan membantu anak itu. Apa sebenarnya maumu?"
"Tidak ada. Aku tidak bermaksud membantu mereka. Aku punya tujuanku sendiri. Selain itu... Aku ingin menemuimu... "
"Menemuiku? Untuk apa? Aku sudah ditakdirkan untuk terus hidup di kegelapan dan terkunci di sini... "
"Tidak. Ada cara agar kau bisa pergi ke alam sana dengan tenang... Dan kau tahu itu... "
"Jangan membual. Kau tahu apa? Kau tidak pernah tahu rasanya terkunci di dalam sini selama ribuan tahun. Dan kau lah yang membuatku menderita! kau yang mengunciku di sini! Merenggut kebebasanku! Setelah kau merenggut nyawaku, rupanya itu pun belum cukup!"
"Ya... Aku tahu... Maaf... Maafkan aku.."
"Kau baru minta maaf sekarang? Setelah ribuan tahun? Apa tujuanmu?"
"Aku ingin ketenangan jiwa. Untuk memenangkan pertarungan besar, butuh ketenangan jiwa. Itulah yang aku tahu..."
"Apa yang membuatmu berpikir aku akan memaafkanmu sekarang?"
"Aku tahu, kau sudah lelah. Waktunya kau istirahat"
Hening.
"Sudah lama aku tidak mengobrol denganmu... Selamat tinggal... "
Sosok itu perlahan menghilang. "Yuuri... Apa kita sudah sampai...?"
Wolfram bertanya lirih. Dia berjalan perlahan, membuntuti Yuuri. Tangannya masih digandeng Yuuri.
"Masih belum, Wolf. Aku sendiri tidak tahu ujungnya di mana..."
"Putra ketiga Cecilia. Ini adalah kotak yang bisa kau kendalikan. Kau pasti tahu jalan keluarnya. Tuntun kami."
Wolfram mendengar suara dari dalam kepalanya. Suara yang sangat dia kenal. Suara pria itu.
"Yuuri. Aku tahu jalan keluarnya... "
"Wolfram...?"
Seberkas cahaya putih tiba tiba memancar di tengah tengah merekaMalam berlalu. Sudah subuh. Sebentar lagi fajar menyingsing.
"Akhirnya kita keluar...!" Yuuri perlahan keluar dari kotak itu.
Teman temannya terkejut ketika melihat Yuuri keluar dari kotak itu. Diikuti Wolfram yang dibantu Yuuri keluar.
"Yuuri...! Wolfram...!" Conrad langsung menyongsong mereka berdua sesaat mereka berdua keluar dari kotak itu.
"Heh... Sudah kuduga kalian berhasil... Yah, satu penghalangku sudah selesai kuatasi... Langkahku setelah ini akan lebih mudah... " Shinou berjalan perlahan menuju mereka.
Toudou no Gouka telah berhenti bergemuruh. Api biru itu pun telah hilang. Hanya bekas hangus dan beberapa retakan yang tersisa.
"Shinou... Terima kasih... " Yuuri berkata pelan, tapi tulus.
"Heh. Tidak perlu. Kita sudah impas. Aku membantumu menyelamatkan anak itu, dan anak itu sudah berhasil mengeluarkan kita dari sana" Shinou tersenyum miring.
"Ya... Kukira begitu... " Yuuri menjawab canggung.
"Tapi jangan kira urusan kita selesai. Aku masih ingin mendengar jawabanmu tentang pilihan itu. Jangan kira semuanya sudah berakhir... Ambisiku masih tetap sama... " Suara itu seketika berubah. Ambisius, dingin, dan mencekam.
"Tapi untuk kali ini kubiarkan dulu kalian pergi. Aku pun butuh memulihkan tenagaku. Menghadapi orang itu membuatku lelah... " Shinou menghela napas pendek.
"Sesaat lagi waktunya akan tiba, kurasa. Sungguh aku tidak sabar lagi... Kuharap kau berpikiran sama denganku, Yuuri heika..."
Yuuri hanya diam.
"Yuuri, ayo kita pergi... " Conrad berusaha menjauhkan Yuuri dari sosok menjengkelkan itu.
Wolfram tiba tiba limbung.
"Wolfram...!" Yuuri seketika berlari ke arahnya.
"Wolf...?"
Wolfram tertidur. Rupanya dia terlalu lelah.
Conrad pun akhirnya membawa Wolfram dengan kedua tangan. Sementara Yozak membawa jasad Waltorana di punggung.
Mereka segera pergi dari tempat itu. Selagi mereka diberi kesempatan.
"Daikenja..."
Shinou memanggil lirih Murata ketika mereka tinggal berdua. Murata pun sudah hendak beranjak dari situ.
Murata menoleh.
"Aku akan berhasil dengan rencanaku... Itu pasti... "
Shinou tersenyum ganjil. Sorot matanya redup.
Murata pun pergi dari situ.
BersambungBaru kali ini coba menerbitkan dua chapter dalam satu hari.