"Wolfram akan baik baik saja, kan...?" Yuuri bertanya pada Gisela yang baru saja selesai memeriksa anak itu. Raut wajahnya nyaris tidak berubah sejak pagi. Dipenuhi kabut kecemasan.

Gisela masih berlutut di sisi ranjang, kemudian berdiri, menatap Yuuri serius.

"Dia akan baik baik saja, Heika... Anda tidak perlu cemas. Dia akan segera bangun" Gisela berkata perlahan. Untuk sesaat dia ragu akan mengatakan rahasia yang dia ketahui tentang Wolfram, atau terus menutup mulut. Akhirnya dipilihnya pilihan yang terakhir. Untuk saat ini.

"Saya permisi" Gisela segera pergi setelahnya, meninggalkan Yuuri yang berdiri sendirian di tengah ruangan kamar Wolfram yang luas itu.

Yuuri menghela napas pelan. Beberapa malam belakangan sungguh malam yang melelahkan baginya. Lelah fisik dan hati.

Dirabanya pergelangan tangannya yang telapaknya tampak diperban, akibat luka bakar tadi malam. Perban itu seolah terus mengingatkannya tentang rentetan kejadian itu, dan apa yang sudah menunggunya di depan.

Sudah beberapa jam berlalu sejak mereka pergi meninggalkan kuil itu. Pria itu mengatakan padanya memberinya waktu jeda.

Setelah sarapan, Yuuri bersikeras menjenguk Wolfram di kamarnya, tanpa ditemani siapapun. Mereka maklum.

Yuuri kembali duduk di kursi samping tempat tidur. Menatap wajah yang masih terlelap itu. Tidak ada tanda tanda dia akan bangun, meski sudah hampir tengah hari.

Wajah Wolfram tampak lelah dalam tidurnya.

Melihat Wolfram tertidur begitu lama, Yuuri benar benar takut. Takut Wolfram tidak akan bangun lagi.

Dia masih menyimpan trauma. Trauma yang nyaris tidak bisa hilang sejak kejadian itu.

Saat itu dia berada di atas kapal milik Saralegui. Sara memberinya mantel berwarna biru muda. Wolfram yang tampak curiga, memberinya mantel lain dan memutuskan untuk memakai mantel Sara, menggantikan dirinya.

Yuuri sama sekali tidak punya pikiran aneh saat itu. Diturutinya keinginan Wolfram tanpa rasa curiga. Diserahkannya mantel pemberian Sara pada Wolfram, yang langsung dipakai anak itu. Yuuri sempat menyebutnya mirip Teru Teru Bozu berwarna biru muda.

Ketika kapal itu telah berlayar, tiba tiba mereka diserang. Lautan api yang dipicu minyak gas meluas di dek kapal. Saat mereka sedang berusaha menyelamatkan diri, terjadilah kejadian itu.

Anak panah meluncur ke arahnya. Sesaat dia pasrah, mengira dirinya akan segera mati.

Namun ternyata Yuuri salah.

Anak panah itu tidak mengarah ke dirinya. Melainkan ke orang di sebelahnya.

Wolfram rebah di tengah kapal, dengan anak panah yang menancap di dadanya, sedikit ke kiri.

Yuuri terkesiap seketika. Dia benar benar mengira Wolfram sudah mati. Rasa takut akan kehilangan benar benar menguasai dirinya saat itu. Bukan marah, hanya takut. Takut kehilangan temannya yang berharga.

Meski akhirnya Wolfram selamat berkat buku Anisinna yang disimpan Wolfram di balik mantelnya, sehingga anak panah hanya mengenai buku itu, dan menyelamatkan nyawanya, Yuuri tetap merasa bersalah. Karena seharusnya dia lah yang memakai mantel biru muda itu. Dia nyaris mencelakakan temannya sendiri.

Rasa bersalah itu terus membayanginya sejak awal petualangannya di Seisakoku, dan telah berubah menjadi trauma yang cukup dalam.

Sampai hari ini.

Yuuri menghela napas untuk ke sekian kali.

Terdengar suara ketukan pintu.

"Heika, Anda masih di dalam?"

"Conrad... Ya... "

Conrad masuk ke dalam, kemudian menghampirinya di samping tempat tidur. Wajahnya muram.

"Heika, istirahatlah sebentar. Anda belum tidur sejak semalam. Anda pasti lelah. Dan sudah waktunya makan siang" Conrad berkata lembut.

"Nanti saja..." Yuuri menjawab singkat.

Untuk sesaat, keheningan memenuhi ruangan.

"Conrad, apa menurutmu... Wolfram akan... bangun?" Yuuri berkata lirih. Matanya terus menatap kaki ranjang.

"Yuuri, dia akan segera bangun... Dia baik baik saja... Karena itu istirahatlah sebentar. Anda membutuhkan itu. Saya akan menjaganya di sini" Conrad mencoba meyakinkan anak itu. Suaranya kali ini terdengar berbeda, sedikit memohon.

Yuuri mengalah. Dia pun luluh.

"Baiklah... Mungkin kau benar. Aku butuh istirahat... Rasanya lelah sekali..."

Conrad tersenyum lega. Yuuri pun pergi, meski terlihat enggan.

Terdengar suara pintu ditutup.

Conrad pun akhirnya duduk di kursi samping tempat tidur. Selama beberapa saat, dia duduk saja di sana, tidak melakukan apapun.

Wolfram masih pulas. Tidurnya tenang sekali, nyaris seperti mayat.

Conrad menggeleng cepat, mengusir bayangan buruk yang terlintas di kepalanya.

Namun tidak bisa dipungkiri, saat melihat Wolfram tidur setenang ini, pikiran buruk seringkali menyerangnya, terutama ibunya, sejak dulu.

Ketika masih balita, Wolfram divonis menderita penyakit jantung bawaan. Sejak itu, dunia mereka berubah, terutama untuk ibu mereka.

Hahaue selalu merasa takut ketika Wolfram kecil tidur. Conrad seringkali memergoki hahaue seperti sedang memastikan anak bungsunya masih bernapas. Hahaue selalu mengulang kalimat ini seperti mantera, seolah berusaha meyakinkan dirinya sendiri :

Dia masih bernafas. Hanya tidur...

Conrad yang telah merawat Wolfram sejak masih bayi pun diam diam merasa takut, bila seandainya adiknya tiba tiba berhenti bernafas ketika tidur.

Namun belakangan, rasa takut itu hilang seiring berubahnya kebiasaan tidurnya yang mengeluarkan dengkuran cukup nyaring dan selalu bergerak ketika tidur.

Sampai hari ini.

Ingatan Conrad melayang ke beberapa bulan yang lalu, ketika dia berada di sebuah pelabuhan, hendak menuju Shimaron. Ketika itu dia masih belum memutuskan untuk kembali ke Shinmakoku.

Ketika itu dia melihat Kinan di tengah para tahanan yang hendak dibawa ke penjara di Darco dengan menggunakan kapal.

Ketika melihat sosok itu, Conrad seolah tidak bisa menahan diri. Dia nyaris menghajar pria itu.

Yuuri bilang padanya, bahwa Kinan lah yang telah menembak Wolfram dengan panah.

Panah yang hampir merenggut nyawa adiknya dan rajanya.

Detik itu Conrad sadar, dia takut kehilangan Wolfram. Karena itu dia sangat memahami perasaan Yuuri. Conrad pun tahu, Yuuri menyimpan perasaan bersalah yang dalam pada Wolfram sejak saat itu. Karena itu dia tidak membiarkan Yuuri melihat Kinan di Darco.

--

Sementara itu para pemimpin keluarga aristokrat yang tersisa tampak terkejut mendengar laporan dari Gunter dan Gwendal. Keduanya menuturkan kejadian malam itu dan beberapa malam sebelumnya, sampai akhirnya Waltorana tewas.

Semuanya tampak terpukul, terutama Tuan von Radford. Mendengar bahwa salah satu mantan muridnya telah tewas dengan tragis, ditambah fakta bahwa anak itu sempat hendak membunuhnya, membuatnya sedih sekaligus kecewa. Dan ada perasaan bersalah ketika ia mengingat perlakuannya pada Waltorana beberapa waktu lalu.

Melihat wajah Tuan von Radford yang tampak sedih dan menyesal, Del Kielson segera teringat kejadian siang itu. Rasanya dia mengerti perasaan pak tua itu sekarang.

"Jasad Waltorana akan segera dimakamkan dalam waktu dekat" Gwendal berkata datar.

Semua yang hadir hanya mengangguk pelan. Wajah mereka muram.

"Kudengar Wolfram juga pingsan... Dan belum sadar... Dia keponakan Waltorana, kan? Ketika Waltorana meninggal, itu artinya dia lah yang berhak menggantikannya, karena Waltorana tidak memiliki anak... " perlahan suara Densham von Karbelnikoff terdengar.

"Tidak, tunggu dulu..."

Gwendal tiba tiba berkata perlahan.

Semua yang ada di ruangan itu terkejut.

--

Hari menjelang malam. Yuuri kembali lagi ke kamar Wolfram setelah merasa telah istirahat cukup.

Kali ini Conrad bersikeras menemaninya. Yuuri tidak menolak.

"Heika... Terima kasih untuk kemarin malam..." Conrad berkata lirih pada Yuuri yang berdiri di sampingnya.

Mereka sedang menatap matahari yang semakin rendah dari balik jendela.

Yuuri hanya tersenyum kecil.

"Ah, tidak masalah, onii-chan... Aku akan selalu mengerti perasaanmu"

"Ya, heika. Terima kasih..." Conrad balas tersenyum tipis.

Tiba tiba terdengar suara lengguhan dari belakang. Mereka segera berbalik.

Wolfram perlahan berusaha membuka mata. Matanya mengerjap beberapa kali.

"Wolfram...! Kau sudah bangun! Kau baik baik saja...?" Yuuri segera menghampirinya. Wajahnya tampak lega.

"Yuuri... Conrad..." suara Wolfram lirih sekali, nyaris tidak terdengar. Matanya masih sayu.

"Kau baik baik saja...? Bisa bangun...?" Kali ini Conrad yang bicara padanya. Wajahnya tampak lega, namun tenang.

Wolfram tidak menjawab. Matanya masih menatap langit langit. Wajahnya datar.

Tiba tiba terdengar suara ketukan pintu yang cukup nyaring, disusul suara langkah kaki beberapa orang prajurit istana.

"Ada apa ini...?" Yuuri menatap mereka bingung.

Kalimat yang dikeluarkan salah satu dari mereka sungguh di luar dugaan.

"Wolfram von Bielefeld. Anda dinyatakan bersalah atas pembunuhan berencana pada beberapa orang prajurit istana. Anda akan menjalani hukuman kurungan rumah untuk waktu yang belum ditentukan"

Suara itu tegas dan datar.

Yuuri dan Conrad terkesiap.

"Apa katamu...?"

Bersambung