"Tunggu, apa yang akan kalian lakukan padanya?" Yuuri terperangah menatap para pengawal di depannya.
"Heika, tolong keluar. Jangan khawatir, dia akan dijaga seorang tabib dan dua pengawal di depan pintu" pengawal itu berkata tegas. Wajahnya kaku.
"Tapi... "
"Keluarlah. Lagipula aku ingin sendiri"
Tiba tiba Wolfram berkata pelan. Dia masih berbaring di ranjang, menutup wajahnya dengan punggung tangan.
"Heika, Anda masih perlu istirahat" Conrad mengusap pelan punggung anak itu, menggiringnya keluar.
Yuuri diam saja. Kemudian mengangguk patuh. Wajahnya muram.
Saat berjalan keluar menuju lorong, Conrad sudah bisa menduga. Ini pasti perintah Gwendal.
Conrad hanya mendesah pelan. Terdengar suara ketukan halus di pintu. Sejenak Gwendal mengangkat kepala dari dokumen yang sedang dibacanya.
"Masuklah"
Conrad masuk ke dalam, kemudian berjalan menuju meja kerja Gwendal di tengah ruangan.
"Ada apa?" Gwendal berkata datar tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen yang sedang dibaca.
"Menjadikan Wolfram sebagai tahanan rumah. Itu perintah darimu, kan? Boleh aku tahu alasanya?" suara Conrad tenang, agak kontras dengan wajahnya yang tampak muram.
Gwendal menatap Conrad seketika. Dahinya berkerut sedikit. Dia menghela napas sekilas.
"Ya... Karena dia adalah tersangka pembunuhan. Selama penyelidikan berjalan, akan lebih baik dia dikurung begitu. Geika ingin menanyainya beberapa hal. Selain itu... dengan begini untuk sementara dia tidak akan bisa dimanfaatkan oleh pria itu lagi. Dan kurasa Wolfram butuh istirahat..." Gwendal berkata perlahan. Diletakkannya dokumen itu di atas meja. Disandarkannya punggungnya ke kursi, seolah kursi itu bisa menyerap rasa lelahnya.
"Sudah kuduga... Kau pasti akan melakukan itu" Conrad tersenyum tipis.
"Kau mengerti kan, kenapa kita tidak bisa mengurungnya di dalam sel bawah tanah? Kondisinya bisa memburuk kapan saja..." Gwendal memejamkan mata, tampak pasrah.
"Kau benar..." "Wolfram kakka, bagaimana keadaan Anda?" Gisela bertanya lembut pada Wolfram yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang. Anak itu hanya mengenakan kemeja tipis berwarna putih. Melihat Gisela datang, dia hanya mengangguk kecil. Tanpa senyum.
"Aku baik baik saja..."
Gisela tersenyum maklum. Dia berusaha keras untuk selalu tersenyum di depan anak itu. Gisela mengerti Wolfram sangat tidak suka melihat wajah sedihnya yang seringkali dia tunjukkan saat dia memeriksa tubuhnya.
Begitu pula dengan hari ini.
Gisela melirik nampan makan malam yang telah kosong di atas nakas. Wajahnya sumringah.
"Syukurlah, Anda mau menghabiskan makan malam!"
Wolfram diam saja.
Sesaat sebelum mengakhiri pemeriksaan rutinnya, Gisela meletakkan sebuah lonceng di samping tempat tidur Wolfram.
"Silakan bunyikan lonceng ini bila Anda merasa tidak enak badan. Saya akan segera datang begitu mendengar suaranya. Ah, saya akan berada di ruangan persis di sebelah kamar Anda. Jangan khawatir" Gisela berkata lembut.
"Baiklah. Terima kasih..."
Gisela tersenyum, kemudian berlalu keluar.
Wolfram menatap buku harian yang diletakkannya di atas meja tulis. Sudah cukup lama dia tidak menulis di situ. Keesokan harinya, Murata datang berkunjung ke kamar Wolfram, untuk menanyakan beberapa pertanyaan.
Selepas sarapan, Murata duduk di kursi tepat di sisi ranjang. Wajah Wolfram datar. Tampak tidak terganggu dengan kehadirannya.
Wajah Murata ceria seperti biasa. Dia bertanya santai dengan anak itu. Sehingga suasana pun cukup menyenangkan.
"Von Bielefeld-kyo, boleh aku menanyakan beberapa hal?"
Wolfram diam. Murata mengartikannya sebagai persetujuan. Wolfram tidak protes.
"Kapan kau bertemu Shinou?"
Hening.
Wolfram sama sekali tidak membuka mulut.
Murata hanya tersenyum maklum.
"Kalau begitu, apa Shinou memperalatmu? Bagaimana caranya?"
Wolfram masih bergeming. Namun kali ini wajahnya tampak berkerut sedikit.
Murata tersenyum, tampak puas.
"Baiklah, terima kasih banyak, von Bielefeld-kyo. Semoga cepat sembuh."
Murata pun meninggalkan ruangan itu.
Wolfram tidak menyadari bahwa Murata telah mengambil sebuah barang dari kamarnya.
"Geika? Anda sudah selesai? Cepat sekali!" Yozak yang berdiri menunggu di depan ruangan, terkejut ketika dilihatnya tuannya sudah keluar dari kamar itu.
"Semua sesuai dugaanku, Yozak" Murata berkata perlahan.
"Kalau begitu, mari kita temui Gwendal kakka dan yang lain" Yozak berkata sambil mengekor tuannya itu.Semua orang di ruangan itu kini menatapnya, meminta jawaban.
"Sesuai dugaanku, dia bersikeras untuk tutup mulut"
"Jadi bagaimana...?" Yuuri bertanya gelisah. Dia sungguh yakin Wolfram tidak bersalah. Tapi dia tidak punya bukti.
"Dia memang tidak mau membuka mulut, tapi ekspresi wajahnya tidak bisa disembunyikan. Ekspresi wajahnya langsung berubah saat kutanya apakah Shinou memperalat dia. Kemungkinan besar dia terpaksa tutup mulut karena diancam oleh pria itu... Menjadikannya tahanan rumah memang pilihan terbaik untuk saat ini. Kita harus membatasi gerakannya agar pria itu tidak bisa memperalatnya, paling tidak untuk saat ini..."
Wajah orang orang di ruangan itu berubah muram.
Hening sejenak. Murata menghela napas perlahan.
"Lalu ini... Tadi kuambil diam diam ketika hendak keluar dari kamarnya. Kalau yang tertuis di sini benar, maka ini adalah bukti tak terbantahkan bahwa von Bielefeld-kyo tidak bersalah sepenuhnya..."
Wajah Yuuri berubah cerah.
"Jadi..."
"Tenanglah, Shibuya. Biar aku membacakan beberapa halaman terakhir dari buku ini... "
Suara Murata tiba tiba berubah muram. Sorot matanya menatap buku harian itu sendu.Sesaat setelah Murata pergi meninggalkan kamarnya, Wolfram baru menyadari sesuatu.
Buku hariannya yang seharusnya ada di atas meja tulis kini tidak ada lagi di situ.
Seketika menyadarinya, Wolfram langsung bangkit dari ranjang.
Namun tiba tiba kesadarannya pudar. Pandangannya kabur. Wolfram berusaha mempertahankan kesadarannya, namun gagal. Tangannya berusaha meraih lonceng yang diletakkan di samping kasurnya. Lonceng itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai, menimbulkan suara yang cukup nyaring.
Wolfram ambruk. Kesadarannya hilang. Murata telah selesai membaca buku harian itu hingga halaman terakhir yang diisi. Suasana ruangan itu seketika hening. Yuuri, Conrad, Gwendal, Gunter, dan Yozak tampak sibuk dengan pikiran masing masing. Tidak ada yang bersuara. Wajah mereka muram dan kuyu.
"Aku..."
"Maaf menggangu, permisi! Wolfram kakka jatuh pingsan! Gisela sama bilang tuan mengalami henti jantung!"
Suara Yuuri dipotong oleh seorang pengawal yang sekoyong koyong masuk ke ruangan mereka. Wajahnya panik.
Mereka terkesiap. Seketika berlari menuju kamar Wolfram.
BersambungKira kira masih ada dua atau tiga chapter lagi sebelum ke bagian pertarungan terakhir. Dan pertarungan terakhirnya pun juga sepertinya cukup panjang, dan akan dibagi ke beberapa chapter.
Terima kasih telah bersedia menunggu.