Suasana panik seketika menyambut mereka ketika sampai di kamar itu.
"Wolfram!"
Berbagai suara langsung memenuhi gendang telinga. Terdengar berbagai intruksi silih berganti.
"Terus pompa jantungnya, saya akan menyuntikan adrenalin!"
"Sudah 60 detik! Cek reaksi tubuh!"
"Belum ada reaksi! Tambahkan dosis adrenalin!"
"Wolfram kakka, berjuanglah! Kami selalu menunggu! Wolfram kakka, kembalilah! Wolfram kakka!"
Suara Gisela menggema di ruangan yang kini dipenuhi oleh para tenaga medis. Sementara kedua tangannya terus menekan dada anak itu.
Keringat tampak memenuhi pelipis wanita itu. Tidak dihiraukannya keringat yang mulai menetes.
Gisela kini hanya fokus pada satu hal. Mengembalikan denyut jantung anak itu.
"Sudah 60 detik! Cek reaksi tubuh!"
Ketika harus terus menunggu reaksinya sesaat, rasanya seperti selamanya.
Jari telunjuk kiri Wolfram bergerak sedikit.
"Ada reaksi! Denyut jantung kembali!"
Kelegaan segera memenuhi hatinya dan semua orang di ruangan itu.
"Wolfram kakka! Syukurlah!" suara Gisela lega bercampur haru. Segera dimiringkannya tubuh anak itu, kemudian memeriksa pupil matanya dengan senter mungil.
"Wolf!"
"Heika... Semuanya... Wolfram kakka baik baik saja. Segera setelah ini dia akan kami periksa secara menyeluruh. Harap Anda semua berkenan menunggu" Gisela berkata perlahan pada deretan wajah cemas di depannya.
Terdengar hembusan nafas lega.
Wolfram segera dibawa dengan tandu darurat, menuju ke ruang pemeriksaan. Matanya masih sayu. Sesaat kemudian matanya tertutup lagi.
Yuuri menatap kepergian Wolfram dengan tatapan bersalah.
"Heika... Kita harus menunggu" suara lirih Conrad seketika menyadarkannya dari lamunan.
"Um... "Ketika Wolfram membuka mata, langit langit kamar seketika memenuhi penglihatannya. Tubuhnya rasanya lelah sekali.
Ah, aku pasti pingsan tadi... Konyol sekali...
Matanya mengerjap beberapa kali. Diliriknya pintu kamar yang tidak familiar itu.
Ini bukan kamarku...
Tiba tiba pintu itu terbuka perlahan. Sosok Yuuri muncul. Melihat Wolfram sudah sadar, Yuuri seketika berlari ke arahnya, lantas memeluknya, erat.
"Wolfram! Syukurlah!"
Pelukan erat Yuuri sungguh membuat Wolfram kaget. Matanya melebar sesaat.
"Yuuri...?"
Yuuri terus memeluk Wolfram, tidak dihiraukannya suara lirih Wolfram barusan.
Kalimat Yuuri selanjutnya sungguh mengejutkannya.
"Wolf, aku mohon, jangan pergi dariku.. Dari kami semua... Kau tidak perlu menanggung ini sendirian... Karena kami ada di sini bersamamu... Kita akan lawan pria itu bersama sama... Aku tidak akan membiarkanmu mati..." suara Yuuri terdengar sedikit parau.
Wolfram merasakan air menetes ke bahu kirinya.
Jadi rupanya kau sudah tahu ya...
Wolfram hanya tersenyum tipis.
"Jadi kau yang mengambil buku harianku, ya? Dasar... " suara lirih Wolfram membuat Yuuri terperanjat, lantas melepaskan pelukannya.
"Bukan! Itu Murata yang... " Kalimat Yuuri terputus ketika dilihatnya Wolfram hanya memandanginya. Tatapan yang lagi lagi sulit dipahami.
"Wolfram, aku benar benar minta maaf... Selama ini ternyata aku memang tolol... Waktu di kapal itu juga... Semuanya salahku... "
Yuuri menunduk dalam. Suaranya hampir hilang di tenggorokan.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, Yuuri. Sudahlah... Lagipula aku baik baik saja. Aku mengerti kau selalu ceroboh seperti itu... Hennachoko..." Wolfram hanya tersenyum tipis. Suaranya halus dan tenang.
Perasaan hangat dan lega seketika memenuhinya saat dia mendengar ejekan dari Wolfram seperti biasa.
Sudah lama sekali dia tidak memanggilku begitu...
Setelah beberapa saat, Yuuri keluar. Segera ditemuinya Gisela untuk mengabarkan Wolfram telah bangun. Wolfram sedang menikmati perlahan makan malamnya yang diletakan di atas nampan, ketika didengarnya suara ketukan halus di pintu.
"Ya... "
Gwendal masuk dan berjalan perlahan ke arahnya. Wajah kakak sulungnya itu terlihat lega, sekaligus gugup.
"Aniue? Ada apa...?" Wolfram cukup terkejut melihat kedatangannya.
Gwendal duduk di kursi samping ranjang. Ekspresi wajahnya tidak berubah.
Setelah sesaat, barulah Gwendal membuka mulut.
"Bagaimana perasaanmu...? Maafkan aku. Rasanya aku jahat sekali, harus menjadikanmu tahanan rumah. Kami akhirnya memutuskan kau tidak sepenuhnya bersalah. Besok, kau sudah bukan tahanan rumah lagi... " Gwendal berkata perlahan. Suaranya pelan dan kaku. Namun terselip nada bersalah di situ.
Hening.
"Aku baik baik saja... Aku mengerti... Waktu aku ingin mengejar Yuuri ke Shimaron, dan kau melarangku... Aku tahu kau sebenarnya mencemaskan aku... Kau selalu seperti itu... " Wolfram tersenyum dikulum.
Sekilas dia teringat topi rajutan berbentuk beruang yang ketika itu dia temukan di dalam tas, disertai sebuah pesan di secarik kertas dari kakak sulungnya itu.
Gwendal tersenyum tipis.
"Waltorana akan dimakamkan besok pagi... Kau akan ikut mengantarkannya ke peristirahatannya yang terakhir. Lalu..." kalimat Gwendal terputus.
Wolfram menunggu sabar. Sekilas raut mukanya berubah sendu teringat mendiang sang paman.
"Kami memutuskan akan mengangkatmu sebagai kepala keluarga Bielefeld... Apa kau bersedia?"
Wolfram nampak terkejut. Namun sesaat kemudian dia mengangguk pelan.
Karena kami ada di sini bersamamu...
"Ya, aku bersedia... "
BersambungMenulis chapter ini sambil mendengarkan playlist album Badai Pasti Berlalu milik Chrisye. Album lagu favorit saya sepanjang masa.