Pagi itu Wolfram sedang menatap pantulan dirinya di cermin. Pakaiannya telah rapi. Merasa belum puas, dirapikannya sedikit kerah bajunya yang sebenarnya telah licin.
Wajahnya muram.
Pagi masih muda ketika ditatapnya jendela yang besar itu. Langit terlihat mendung, cahaya matahari hampir tidak kelihatan.
Hari ini dia akan menghadiri upacara pemakaman sang paman.
Namun sebelum itu, ada upacara lain yang harus dihadirinya.
Dia melangkah ke luar kamar, menuju sebuah ruangan yang lenggang dan sunyi.
Begitu masuk, dia terdiam di tengah ruangan. Berdiri di sana selama beberapa saat, tidak bergerak.
Langkahnya perlahan menuju kursi di balik meja. Diusapnya perlahan sandaran kursi itu dengan telapak tangan.
Dibayangkannya pamannya duduk di situ, mengerjakan berbagai hal.
Kelak, mungkin dia juga akan begitu.
Kini telah tiba gilirannya. Sesuatu yang bahkan nyaris tidak pernah terbayangkan, bahwa hari itu telah tiba untuknya.
Tanggung jawabnya kian berat kini.
Wolfram menghela napas.
Aku akan melindungi semua yang kau tinggalkan...
--
Upacara itu berlangsung hening dan singkat. Setelah mengucapkan sebaris kalimat sumpah dan sedikit prosesi kecil, Wolfram pun telah resmi menjadi kepala keluarga Bielefeld yang baru, menggantikan Waltorana.
Wajah Wolfram tampak datar selama upacara itu berlangsung. Sama sekali tidak terkesan.
Sesaat setelah keluar dari ruang upacara, disimpannya kembali lencana tanda kepala keluarga aristokrat yang baru diterimanya di dada.
Wolfram pun berjalan lagi ke luar. Langit tampak semakin mendung.
--
Ketika upacara pemakaman Waltorana dimulai, gerimis mulai turun. Tidak berniat menunda pemakaman, mereka pun meneruskannya di bawah tetesan gerimis.
Sekali lagi Wolfram harus menjalani upacara yang hening dan sunyi. Hanya ada beberapa orang yang hadir di situ, selain dirinya dan para pemimpin keluarga aristokrat yang lain. Yuuri ada di antara mereka, dengan Conrad berdiri di sampingnya.
Setelah pemakaman selesai, orang orang di pemakaman itu perlahan bubar. Wolfram tidak kunjung beranjak dari situ.
"Kalian duluan saja. Aku akan segera menyusul"
Yuuri hanya mengangguk maklum dan segera pergi. Memberikan waktu pada dirinya untuk berduka.
Conrad sempat menatapnya sesaat, sebelum pergi menyusul anak itu.
Gundukan tanah itu masih basah ketika Wolfram berdiri sendirian di situ. Rambut pirangnya mulai basah dan perlahan tetesannya mulai mengenai tanah.
Wolfram terus menunduk menatap batu nisan yang masih baru. Nama pamannya tertulis rapi di situ. Sorot matanya hampa.
Perlahan Wolfram pun berlutut. Cuaca pagi itu dingin. Hawanya cukup menusuk tulang, dan seolah olah dapat meloloskan tulangnya satu per satu.
Meski begitu, dia merasa matanya mulai menghangat.
Dilepaskannya sesaat beban yang selama ini ada di hatinya.
Wolfram hanya menunduk dalam, membiarkan air matanya perlahan bercampur dengan air hujan. Suara isakannya yang lirih tenggelam dalam dentuman gerimis.
Untuk kali ini saja, dibiarkannya dirinya tenggelam dalam nestapa.
Setelah beberapa saat, Wolfram pun berniat meninggalkan tempat itu.
Ketika itu dirasakannya hawa kehadiran seseorang di balik punggungnya.
Wolfram enggan berbalik. Dia sudah tahu siapa pria itu. Shinou.
"Hai. Aku turut berduka. Rupanya kau sudah menjadi penggantinya, ya" suaranya tenang dan ringan.
"Apa maumu?" Wolfram berkata datar dan lirih. Dia masih berlutut, memunggungi pria itu.
"Aku sudah pernah mengatakannya, kan? Aku ingin membuka kotak kotak itu. Dan itu mustahil tanpamu, pionku"
"Aku tidak ingat pernah menjadi pionmu"
"Dan aku ingat, aku sama sekali tidak pernah bilang akan melepaskanmu, Anak Muda. Kau milikku..."
Suaranya perlahan mulai merendah.
"Jangan mencoba melawan. Kau tahu? Tunanganmu yang tersayang itu adalah kunci kotak yang terakhir, Kagami no Minasoko. Kau tidak mau dia terluka, kan? Begitu juga dengan kedua saudaramu itu. Kalian berempat adalah pionku yang paling berharga... "
Seketika Wolfram tersentak kaget.
"Yuuri...? Kunci kotak...? Kenapa bisa..?" suara Wolfram terasa tercekat di tenggorokan.
"Anak itu mewarisi roh salah satu anggota keluarga Wincott... Ah, tidak ada waktu menjelaskannya di sini. Sampai jumpa... "
Seketika itu Wolfram berbalik. Pria di depannya tersenyum datar.
"Ah, satu hal lagi. Tolong sampaikan pada raja kecil itu. Waktunya dua hari lagi... "
Pria itu pun pergi. Sosoknya hilang ditelan angin.
Wolfram hanya mampu berdiri di tempatnya. Tangannya terkepal.
Tidak akan kubiarkan kau melakukan hal yang sama pada mereka...
Bersambung
