Malam yang sunyi. Meski langit tampak cerah malam itu, namun ketegangan dalam dirinya tidak lantas hilang.
Wolfram berjalan perlahan. Dia akan ke tempat itu lagi. Menemui pria itu.
Ketika telah sampai, Wolfram sudah dapat menekan rasa gugupnya. Sorot mata itu terlihat yakin.
Wolfram pun masuk ke dalam.
"Ah, kau datang juga. Sudah kuduga. Kau memang pion yang menarik... " Shinou menoleh padanya, beralih dari dinding bata yang suram itu.
"Ya..." Wolfram menjawab pelan. Suaranya tenang.
Shinou tersenyum puas. Tidak disangkanya anak itu akan menurut semudah ini. Dengan begini, jalannya akan semakin mudah.
"Mulai besok, hari pasti jadi lebih menyenangkan. Bukan begitu, Anak Muda? Aku sudah tidak sabar lagi... Gairahku seolah meluap luap... "
"Kau benar, heika... " Wolfram menjawab kalem. Suara itu mengandung rasa hormat yang kentara.
--
Pagi itu Wolfram memutuskan untuk segera menemui Yuuri. Dia ingin segera menyampaikan pesan pria itu padanya.
Tatapan Yuuri padanya sesaat setelah Wolfram selesai menyampaikan pesan itu sungguh tidak akan pernah Wolfram lupa. Sorot mata itu tampak dingin, tampak siap dan percaya diri. Namun di saat yang sama, ada kilat pasrah dan kecewa dalam bola mata hitam pekat itu.
Yuuri hanya mengganguk kecil. Saat itu mereka sedang berkumpul di ruang rapat. Dan Wolfram merasa itulah waktu yang tepat untuk mengatakannya.
"Baiklah. Beberapa hari yang lalu, aku sudah meminta para penduduk di sekitar untuk mengungsi sejauh mungkin, ke daerah perbatasan. Meski mereka sempat menolak, akhirnya mereka menurut. Jadi rumah penduduk sudah kosong. Kita bisa berperang denganya tanpa ragu, dan menekan kemungkinan korban sipil sekecil mungkin... "
"Lusa... Aku ingin kita sudah bersiap sejak tengah malam, mengantisipasi serangan dadakan... "
Suara Yuuri terputus sejenak. Anak itu menatap teman temannya yang berdiri mengelilingi meja, yang balas menatapnya dengan tatapan teduh dan tanpa ragu.
Mereka semua percaya padanya.
"Kuharap kalian akan terus percaya padaku... Apapun yang terjadi... Sungguh aku tidak bisa menjanjikan kemenangan, aku sadar kemampuanku tidak sehebat itu... Tapi aku... Ingin melindungi kerajaanku... Kerajaan kita... Aku yakin, kalian semua pun begitu... Aku butuh bantuan kalian semua... Semuanya, tanpa terkecuali... "
Yuuri berkata perlahan. Suaranya pelan namun jelas di ruangan sunyi itu.
Semua tidak berkata apapun. Hanya tersenyum.
Yuuri terlihat lega.
"Yuuri. Aku ada rencana"
Wolfram tiba tiba membuka mulut. Semua menatapnya dalam diam.
--
Wolfram menatap langit malam dari langit langit yang dilapisi kaca transparan. Ini akan menjadi malam yang panjang.
Rencana Wolfram sederhana. Dia akan menarik simpati Shinou, diam diam mengeruk rencana perang darinya, sambil terus berada di samping pria itu.
Karena itu dia datang padanya, seolah masih tunduk pada pria itu.
Wolfram tersenyum pahit. Dan ini satu satunya jalan untuk memastikan mereka akan baik baik saja.
Wolfram akan segera mengirimkan surat lewat merpati bila dia tahu sesuatu. Dia tinggal menuliskan surat dan memanggil merpati itu datang.
Tapi itu baru bisa dilakukan paling cepat besok pagi. Malam ini, tugas pertamanya adalah memberi isyarat lampu dari jendela atas.
Dirasakannya benda kecil yang ada di sakunya. Senter mungil sebagai isyarat cahaya, bila pria itu hendak menyerang.
Pria itu tidak punya pasukan apapun. Tapi siapa tahu? Toh, dia memegang senjata paling mengerikan. Empat empatnya sekaligus.
Wolfram diam diam bergidik ngeri membayangkannya.
Apa mereka mampu?
Waktu seolah berlalu dengan sangat lambat. Malam semakin larut, namun pria itu belum menunjukkan tanda tanda akan membuka penyerangan.
"Kau tahu, Anak Muda... Meski aku sangat menyukai perang... Sebenarnya aku takut melihat darah..."
Tiba tiba Shinou berbicara lirih.
"Tapi... Kali ini harus ada pengecualian... Karena itulah kuncinya... "
Wolfram mengerinyit heran. Dia tidak memahami kalimat pria itu.
Shinou berbicara lagi, "Tiga menit lagi... Kita akan melihat kembang api meledak di udara... Yang terpenting dari perang adalah pusatnya... Incar pusatnya dan kau akan dapat menguasai sisanya... "
Sesaat kemudian, Wolfram baru menyadarinya.
Itulah rencananya. Tiga menit lagi...
Kembang api... Meledak...
Wolfram menggumamkan kalimat itu dalam hati.
Pusatnya...
Wajah Wolfram seketika berubah pias ketika menyadarinya.
Sebelum dia sempat berlari ke atas untuk memberi isyarat lampu, terdengar suara dentuman dahsyat dari luar.
Terlambat.
Terdengar teriakan panik menyusul silih berganti dari jauh. Nyala api kemerahan tampak mewarnai langit malam.
Istana Perjanjian Darah telah meledak...
"Nah... Sudah dimulai... " Shinou tersenyum tipis di atas singgasana kotaknya.
Wolfram menatapnya tidak berdaya.
Bersambung
