"Nah, sudah dimulai... " Shinou duduk tenang di singgasananya. Matanya berkilat, tampak puas.

Wolfram diam terpaku menatapnya. Dia telah kalah satu langkah.

Langit malam telah berubah menjadi kemerahan. Nyala kobaran api terlihat dari jauh. Sementara suara riuh rendah terdengar silih berganti.

Wolfram berbalik, menatap pemandangan itu melalui jendela.

"Aku telah berhasil menghancurkan salah satu bagian terpenting dalam perang. Kau tahu apa itu...?"

Wajah dan suaranya setenang air, seakan dia lupa telah meledakkan istana miliknya sendiri -dulu.

"Istana kerajaan... " Wolfram menjawab pelan, menahan kemarahan yang nyaris keluar.

Shinou menggeleng.

"Bukan. Aku tidak peduli dengan istana itu. Mereka adalah tokoh utamanya. Tidak menarik jika mereka langsung kubunuh begitu saja. Aku ingin memainkan permainan yang bertahan lama..."

"Apa maksudmu...?"

"Pikirkanlah, Anak Muda. Tempat vital yang selalu dijaga dan diawasi. Tempat yang dijaga, namun sebisa mungkin tidak akan pernah mau dibuka... "

"Gudang amunisi dan senjata..." Wolfram bergumam lirih. Wajahnya tampak ngeri. Terbayang sebesar apa ledakan yang dapat dihasilkan, bila bom diletakan di situ.

"Tepat sekali. Langkah pertama adalah menghancurkan amunisinya. Ah, amunisi yang aku maksud bukan hanya senjata... Lebih dari itu..." Pria itu lagi lagi tersenyum puas.

Wolfram tidak tahan lagi. Dia lantas berlari ke tingkat atas. Ditinggalkannya pria itu sendirian di tempatnya.

Bagai tikus dalam perangkap, sekali masuk, tidak akan bisa keluar lagi...

--

Suara dentuman keras itu telah mengagetkan semua orang di istana. Kepanikan menyebar dalam sekejap. Semua orang berlari panik dan sebagian bergegas menuju sumber suara.

Ledakan itu nyaris membakar habis gudang amunisi yang besar itu. Api berkobar liar di sekitarnya, sementara bunga api berhamburan. Hawanya pun panas.

"Heika, gudang amunisi telah meledak!"

Suara Yozak memecah keheningan. Wajah setiap orang di ruangan itu berubah seketika.

"Apa... katamu...?"

"Meskipun letak gudang itu cukup jauh dari istana utama, kita tetap harus waspada. Selain itu... " Suara Gwendal terhenti sesaat.

"Gudang itu menyimpan hampir semua persenjataan dan cadangan makanan... Ini artinya waktu kita tidak banyak..." Suara Gwendal mengecil, nadanya berubah serius dan penuh amarah. Giginya mengatup, dahinya berkerut dalam.

"Dia sungguh sungguh dengan rencananya... Orang yang paling mulia pun, dalam sekejap bisa berubah jadi monster..." Murata menunduk dalam.

"Ada korban jiwa?" Conrad bertanya pelan pada sahabatnya. Suara itu dingin.

"Dua prajurit penjaga tewas dan lima orang luka serius" Yozak menjawab cepat.

"Shinou itu... Aku pasti akan..."

Tiba tiba Yuuri bergumam sendiri. Nada suara itu terdengar lain. Dingin dan penuh hawa membunuh. Tatapan matanya pun tampak berubah. Kejam.

Hawa ruangan itu tiba tiba berubah. Menjadi dingin dan menusuk.

"Heika...!" Conrad yang berdiri di dekatnya langsung menepuk pundak anak itu, menenangkannya.

"Ah...? Apa yang tadi aku lakukan...?" Yuuri tiba tiba sadar, seolah baru kembali dari tidur panjang.

"Tenanglah, heika. Semuanya belum berakhir..." Suara Conrad terdengar lembut dan tenang di telinganya, namun tetap saja, hatinya tidak bisa ditenangkan begitu saja.

Yuuri menoleh ke jendela besar di depannya. Samar terlihat cahaya lampu yang dipantulkan oleh kaca jendela. Cahaya itu bergerak turun naik menghadap dirinya.

Yuuri tahu persis siapa itu dan apa artinya.

Wolfram telah mengirimkan sinyal.

Tidak salah lagi. Ledakan barusan adalah rencana pria itu.

--

Wolfram menghela napas. Berat. Malam terasa sangat lama. Disimpannya lagi senter kecil itu di saku. Dipanjatkannya doa singkat dalam hati, meski dia tidak tahu sedang memohon kepada siapa.

"Jangan muram begitu... Mari kita nikmati malam yang indah ini. Jalan masih panjang..." Shinou tiba tiba muncul di belakangnya.

Wolfram terperanjat. Tubuhnya seketika berbalik.

Kuharap dia tidak akan pernah membuka topengku...

Shinou melirik buah jeruk yang ada di tangannya. Dilemparkannya pada anak itu.

"Hadiah untuk keberanianmu... " Shinou berkata tenang.

Wolfram melirik jeruk pemberian pria itu jengah. Seperti yang dikatakannya, perjalanan masih panjang.

--

Cahaya pagi mulai merembes melalui jendela. Ketika cahaya matahari datang, seolah semua kengerian dan ketegangan malam sebelumnya hanya ilusi. Tak lebih dari sekadar mimpi.

Sayangnya, kenyataannya tidak begitu.

Wolfram membuka mata dengan perasaan hampa. Tubuhnya terasa kaku setelah bersandar di dinding batu yang dingin hampir semalaman.

.

"Selamat pagi, Anak Muda. Aku ada permintaan. Kuharap kau mau melakukannya"

"Apa itu, Yang Mulia?" Wolfram menjawab datar. Kali ini dia tidak terkejut lagi dengan kebiasaan pria itu, yang bisa muncul kapan saja.

"Tolong tulis surat pada istana, bahwa aku akan segera membuka kotak itu... Dan aku ingin mereka datang dan menyaksikannya di sini..."

Shinou berkata tenang. Suaranya mengandung rasa puas. Wajahnya tampak sumringah.

Wolfram tampak terkejut. Sesaat dia diam. Jakunnya bergerak turun.

"Dan... bila aku menolak...?"

"Kau lah yang paling tahu risikonya, Anak Muda. Aku mohon, jangan membantahku... Kau tidak mau mereka terluka, kan?"

"Aku butuh semuanya... Termasuk kunci kotak terakhir... Kau mengerti maksudku, kan?"

Suara itu dingin dan penuh ancaman. Namun anehnya, Wolfram merasa tidak terintimidasi kali ini.

"Baiklah..." Wolfram menjawab pelan.

"Kutunggu kau di bawah... Jangan terlalu lama. Kau bisa mengirimnya dengan merpati pos, kurasa..." Pria itu berbalik pergi.

Wolfram menghela napas.

Bukan kau saja yang punya rencana...

--

Wolfram menutup amplop surat berisi pesan yang telah ditulisnya sesuai keinginan pria itu.

Disematkannya surat itu pada merpati pos yang bertengger di lengannya, yang langsung terbang begitu mendengar perintah. Wolfram memakai merpati pos merah, yang konon kecepatannya dua kali lipat merpati pos putih biasa.

Semoga mereka menyadari pesanku...

Wolfram melirik sisa buah jeruk yang dia letakkan di atas meja tulisnya.

Bersambung

--

Akhirnya saya bisa menulis lagi setelah satu bulan.

Saya harap bisa menulis lanjutannya lebih cepat. Terima kasih telah bersedia menunggu.