Siang itu Gwendal sedang duduk di balik meja kerjanya. Matanya menatap seluruh kertas yang diletakkan secara acak di atas meja. Kerutan di dahinya semakin dalam ketika dirinya sedang berpikir keras. Matanya terpejam, diikuti gumaman frustrasi.

Tiba tiba terdengar suara burung merpati pos dari balik jendela. Gwendal segera berbalik.

Merpati pos merah? Apa ada sesuatu yang darurat? Tapi Yozak tidak mengatakan apa apa...

Gwendal bergumam dalam hati. Tapi sesaat kemudian, dia ingat rencana mereka tadi malam.

Wolfram...!

Gwendal segera membuka jendelanya dan menyambut burung itu ke lengannya. Diambilnya tabung kecil yang ada di kaki burung itu, lalu diletakkannya burung itu di bahunya.

Perlahan dibukanya gulungan kertas yang ada di dalam tabung. Dahinya seketika berkerut lagi setelah membaca kertas itu. Firasat aneh yang tidak nyaman segera menguasai hatinya.

"Gwendal, mengenai rencana itu..." Conrad segera masuk setelah mengetuk pintu. Namun suara Conrad terputus ketika dilihatnya ekspresi saudara laki lakinya yang tidak biasa. Tampak tegang dan tidak nyaman.

"Conrad, panggil mereka semua ke sini. Sekarang juga"

Suara Gwendal datar dan dingin.

Conrad terdiam sejenak. Kemudian mengangguk pelan, "Ya..."

Suara pintu ditutup terdengar lebih pelan dari biasa.

Gwendal menghela napas. Diletakannya kertas itu di atas meja kerjanya. Samar tercium aroma sitrus dari kertasnya.

--

"Datanglah ke kuil itu malam ini. Kalian semua, tanpa terkecuali. Tidak perlu membawa pengawal apapun. Cukup kalian saja"

Yozak membacakan surat itu di depan mereka yang berkumpul di ruangan itu.

"Apa benar isi suratnya seperti itu...? Kenapa Wolfram menyuruh kita datang ke sana?" Yuuri bergumam pelan.

"Memang seperti itu isinya, Tuan Muda. Kalau Anda tidak percaya, baca saja sendiri" Yozak melambaikan kertas itu pada Yuuri yang berdiri di seberang meja.

Hidung Yozak bergerak pelan. "Ah, ngomong ngomong, kertas ini aromanya agak aneh... "

"Eh? Seperti apa?"

"Seperti aroma sitrus atau jeruk. Kalau aromanya cukup kuat seperti ini, seolah kertasnya sudah ketumpahan air jeruk" Yozak tampak geli sendiri mendengar ucapannya barusan.

Mendengar kalimat Yozak itu, tiba tiba Gwendal merebut kertas itu dari tangan Yozak yang berdiri di sebelahnya. Kertasnya telah kumal karena sudah banyak berpindah tangan.

"Waa, pelan pelan, Tuan. Kalau sampai sobek, bisa gawat nanti"

"Begitu rupanya! Pantas kertasnya beraroma sitrus!" Suara Gwendal terdengar antusias, nada suara yang sangat jarang terdengar darinya.

Semuanya menatap Gwendal heran, sekaligus takjub.

Namun sesaat kemudian, mereka mengerti apa yang dimaksud Gwendal. Semuanya, kecuali Yuuri.

"Apa maksudnya...?" Tanyanya pelan pada Murata yang ada di sampingnya.

"Shibuya, kami akan memperlihatkan sulap kecil untukmu..." Murata menjawab tenang. Matanya berkedip sekilas.

Yuuri menatap sahabatnya heran.

Sesaat kemudian, di atas meja telah diletakkan sebatang lilin yang menyala.

Murata perlahan mendekatkan kertas itu pada nyala api kecil, sebelum Yuuri menghentikannya.

"Tunggu, apa kau ingin membakar suratnya? Jangan, itu mungkin mengandung sebuah pesan..!"

"Tenanglah, Shibuya. Aku tidak bermaksud membakar kertasnya. Justru seperti yang kau katakan, kertas ini mengandung pesan, dan kita akan membaca pesan Von Bielefeld-kyo dengan cara ini"

"Apa...?"

Murata mulai meletakan kertas itu di atas api lilin. Perlahan muncul tulisan samar dari kertas itu.

"Nah, ini dia. Sudah muncul. Memang ada pesan rahasia di sini. Ditulis dengan tinta alami dari jeruk" Murata tersenyum puas, sementara yang lain mendesah lega.

"Hiraukan pesan ini. Jangan kemari. Dia bermaksud membuka semua kotaknya malam ini. Serahkan dia padaku. Aku akan baik baik saja... Serang dia dari jauh. Seluruh kepala keluarga wilayah harus siaga. Tolong kabarkan pada Watson untuk mengamankan wilayah Bielefeld dan merencanakan serangan dari sana. Dia orang kepercayaan paman, jadi dia pasti mengerti... "

Murata terdiam setelah selesai membaca tulisan itu.

"Ini..." suara Murata terputus.

"Apanya yang 'Serahkan dia padaku'?! Apa maksudnya 'aku akan baik baik saja'...! Dia tidak mungkin bisa melawan Shinou sendirian... Itu terlalu berbahaya...!" Suara Yuuri tiba tiba berubah berang.

Mereka terkejut mendengar reaksi sang raja.

"Keras kepala! Dia pikir dia bisa melakukan semuanya sendiri!" kemarahan Yuuri rupanya belum usai.

"Tenanglah, Shibuya. Kalau soal keras kepala dan merasa bisa melakukan semuanya sendiri, kurasa kau juga sama saja. Sudah lupa saat kau bersikeras untuk menyelamatkannya dari dalam kotak waktu itu? Dan berbagai kejadian lain sebelum itu" suara Murata terdengar tenang dan lembut, dengan sedikit nada menggoda di kalimat terakhir.

Yuuri terdiam. Murata benar.

"Waktu itu aku hanya ingin menyelamatkannya...!"

"Kalau begitu, kurasa Von Bielefeld-kyo juga merasa seperti itu. Dia hanya ingin melindungimu dan menjauhkanmu dari masalah yang lebih besar. Kurasa kalian juga mengerti perasaannya. Iya, kan?" Murata melirik mereka yang berdiri mengelilingi meja.

Mereka diam. Namun sorot mata mereka seakan menyatakan persetujuan.

"Aku tidak peduli! Aku tetap akan pergi ke sana. Aku tidak bisa membiarkannya berjuang sendirian di sana! Lawannya terlalu tangguh!"

"Heika... "

Murata tersenyum lembut. Dia tahu, yang dia katakan akan sia sia saja.

"Baiklah. Keputusan mutlak tetap ada padamu, Yuuri heika"

Mereka hanya tersenyum pasrah.

--

Malam itu Wolfram menatap langit malam dengan gelisah. Dia tidak bisa membayangkan reaksi Shinou bila orang itu tahu Wolfram telah menipunya.

Mungkin aku akan tamat juga pada akhirnya. Ah, akhirnya dia yang benar, ya. Aku mati, sementara yang lain masih hidup. Tak apa. Ini lebih baik...

Wolfram sudah siap menerima semua konsekuensinya, saat disadarinya mereka telah datang ke mari.

Si tolol itu...! Kenapa dia ke sini?! Yang lainnya juga! Apa mereka gagal membaca pesanku? Itu mustahil! Kecuali...

Wolfram segera mengingat tabiat Yuuri yang keras kepala. Wolfram tersenyum meringis.

--

Wolfram kembali berdiri di samping Shinou ketika menyambut mereka datang, seperti waktu itu. Namun kali ini dengan kesadaran dan kewaspadaan penuh.

"Wah, kalian benar benar datang. Dan keempat kuncinya sudah berkumpul. Saatnya membuka kotak itu satu demi satu... "

Empat...? Conrad bergumam dalam hati.

Kepalanya dengan cepat memutar kembali kalimat yang diucapkan geika padanya dan Wolfram di Seisakoku. Ada Hazel pula di situ. Saat itu sang Daikenja mengatakan bahwa Weller, Voltaire, dan Bielefeld adalah tiga pemegang kunci. Dan mereka, tiga bersaudara Mazoku, adalah pemegang kuncinya masing masing di generasi saat ini. Ditambah satu lagi, pemegang kunci dari keluarga Wincott yang belum ditemukan.

Tapi tidak ada anggota keluarga Wincott di antara mereka.

Tidak ada.

Benarkah...?

Ingatan Conrad terputus seketika ketika dirasakannya sensasi panas terbakar di lengan kirinya.

Erangan lolos dari mulutnya ketika rasa sakit itu terasa semakin kuat.

"Conrad...! Tunggu... Apa yang kau lakukan padanya?!" Yuuri berkata marah pada Shinou yang berdiri di depannya.

"Aku membuka kotak miliknya, itulah yang kulakukan..." Shinou tersenyum tenang.

Mata Wolfram menyipit. Dilihatnya Shinou seolah berdiri di atas angin, dan merasa telah menang.

Gwendal pun diperlakukan sama. Sensasi panas terbakar dari mata kirinya yang datang tiba tiba itu sungguh tak tertahankan.

Kaze no Owari dan Chi no Hate telah terbuka.

"Kalian semua, larilah sejauh mungkin dari sini! Semakin lama berdiri di sini, rasa sakitnya akan semakin terasa...! Kalian... Masih bisa... Selamat... Larilah...sebelum kotaknya terbuka sempurna...! Suara Wolfram yang awalnya nyaring, tiba tiba mengecil. Wolfram tampak menahan sakit di dadanya.

"Wolf... Kau bicara apa...?" Yuuri terdiam mendengar perkataan Wolfram. Sesaat kemudian, dia menyadari Wolfram pun menahan rasa sakit, dan hendak mendatanginya.

"Wolfram...!"

"Heika, kita harus pergi...!" cengkraman tangan Conrad pada lengannya menggagalkan niat itu. Yuuri hendak berontak, namun gagal ketika dirasakannya tinju keras di perutnya. Sebelum pingsan, sayup didengarnya suara Conrad berkata, 'Maaf'.

--

Mereka terus berlari, tidak berbalik ke belakang. Terdengar gemuruh bencana yang rasanya kian dekat. Mereka harus mencapai Istana Perjanjian Darah secepat mungkin.

--

"Kau membiarkan tiga buah kunciku kabur... Apa maksudmu, Anak Muda? Padahal aku hampir berhasil dengan rencanaku... Dengan begini aku hanya mengaktifkan setengah kekuatan dari dua kotak kehancuran itu..." Shinou berkata kecewa. Sorot matanya yang sebiru lautan itu terlihat berbahaya.

"Itu sudah cukup, kan? Kau sudah...membuka kotaknya. Kehancuran sudah dimulai... Dan... Mereka berdua tidak perlu mati... " Wolfram berkata perlahan.

"Kau ada benarnya. Aku sudah berhasil membuka kotaknya. Tapi kekuatannya tidak maksimal. Kalau begini, aku akan memakai seluruh kekuatan yang ada pada kotak milikmu... Ya... Kurasa itu akan jadi alternatif yang bagus. Dengan ini kita impas... Lagipula, maryoku milikmu ada banyak, kan? Kau pasti sanggup..."

"Apa yang ingin kau lakukan?" suara Wolfram dingin.

"Membuat pasukan zombie... " Shinou tersenyum kejam.

Bersambung

--

Akhirnya ada mood untuk menulis lagi. Saya harap bisa menulisnya lebih cepat.

Terima kasih telah bersedia menunggu.