"Aku sudah berhasil membuka kotaknya. Tapi kekuatannya tidak maksimal. Kalau begini, aku akan memakai seluruh kekuatan yang ada pada kotak milikmu... Ya... Kurasa itu akan jadi alternatif yang bagus. Dengan ini kita impas... Lagipula, maryoku milikmu ada banyak, kan? Kau pasti sanggup..."
"Apa yang ingin kau lakukan?" suara Wolfram dingin.
Pria itu tersenyum, kemudian menyeringai kejam. "Membuat pasukan mayat hidup..."
"Pasukan...mayat hidup...?"
"Ya. Kau lupa? Kotak milikmu itu mampu menghidupkan orang mati. Dengan maryoku milikmu yang kuyakini sangat kuat, aku bisa membuat pasukan mayat hidup yang sangat besar... Jadi kau belum boleh mati, Anak Muda. Aku masih membutuhkanmu..." Suaranya berubah lirih dan dingin. Sorot matanya masih sama : Berbahaya. Seakan dia bisa membunuh kapan saja, sesuka hatinya.
Tubuh Wolfram meremang. Pria itu seolah bisa membaca pikirannya beberapa saat lalu untuk siap mati.
"Nah, Anak Muda. Kemarilah. Kau adalah pion utamaku..." suaranya kali ini telah berganti menjadi halus dan lembut. Sebaliknya, ekspresi wajahnya semakin dingin dan kejam.
Wolfram tetap berdiri di tempatnya. Kerutan di dahinya semakin kentara, giginya bergeretak pelan.
Shinou yang mampu menyadari gestur penolakan itu, tidak mau tinggal diam.
Detik berikutnya, seolah ada kepalan dan magnet kuat yang menariknya secara paksa, tiba tiba Wolfram sudah berdiri di depan kotak Toudou no Gouka. Wolfram berusaha untuk terus berontak, namun gagal.
"Lepaskan aku, brengsek!" Untuk kali pertama, Wolfram mampu memaki pria ini dengan kata kasar. Selama ini Wolfram telah mengikuti pria itu, nyaris tanpa protes.
Shinou untuk sesaat dibuat kaget karenanya. Ekspresi wajahnya berubah perlahan, tampak melunak.
"Apa katamu...? Brengsek...?"
Pria itu terdiam sesaat, sebelum melontarkan sebuah pertanyaan.
"Aku ingin tahu, yang mana menurutmu yang lebih pantas disebut brengsek : Sengaja mengkhianati rajamu dan keluargamu sendiri demi tujuan egois, atau menghancurkan kerajaan milik sendiri demi masa depan yang lebih baik...? Mana yang lebih brengsek, Anak Muda? Jawab aku..."
Suaranya dalam dan mengintimidasi. Wajahnya kini tersenyum lembut.
Pertanyaan retorik. Tanpa ditanya pun, Wolfram tahu, dia lebih pantas disebut brengsek daripada pria itu.
Wolfram menunduk saja, tidak mau menjawab.
"Melihat dirimu, aku tahu pasti jawabannya. Kalau begitu, kau tidak punya pilihan, selain untuk terus dalam rencana ini. Anggap saja sebagai penebusan dosa. Bukan hal buruk, kan?"
Wolfram masih diam. Tapi wajah itu tampak pasrah.
"Baiklah... "
Suara lirih akhirnya keluar dari mulutnya.
Shinou tersenyum. Perlahan cengkramannya pada Wolfram pun mengendur.
Aku akan terus melangkah, meski telah mengalir darah... "Wolf...!"
Yuuri terbangun tiba tiba, seolah bangun dari mimpi yang sangat panjang. Tubuhnya bermandikan keringat. Dapat dirasakannya kakinya menghangat dibalik selimut.
Denyutan hebat di kepala dan perutnya segera mengalihkan perhatiannya.
"Ukh...! Kenapa... aku tiba tiba ada di kamar? Wolfram dan yang lainnya... Aku harus..."
Tiba tiba terdengar suara pintu dibuka. Gunter yang melihat tuannya telah sadar dari pingsan, segera menghampiri anak itu.
"Heika, syukurlah Anda sudah siuman!" Wajahnya Gunter tampak terharu, bahkan hampir menangis.
"Gunter... Mana yang lainnya...? Wolfram... Conrad... Gwendal... Mereka bertiga adalah... kunci kotak... Dan kotaknya sudah aktif... Apa yang terjadi...?" Yuuri bertanya lirih, wajahnya lemas bercampur cemas. Siapapun yang melihat raut wajahnya saat ini tidak akan tega membohongi anak itu, terlebih Gunter.
Jadi dia putuskan untuk berterus terang.
"Gwendal dan Conrad baik baik saja... Mereka sedang berjaga jaga bersama pasukan prajurit di sekitar istana. Sementara Wolfram... Masih di sana... Dia akan baik baik saja, Heika" Gunter mengatakannya dengan tenang dan seyakin mungkin, meski untuk kalimat terakhir, dia sesungguhnya sangat ragu. Diam diam, Gunter pun telah mencemaskan keselamatan anak itu.
Genggaman Yuuri pada ujung selimut mengeras. "Aku tahu ada tanah pemakaman besar di wilayah Shinmakoku ini. Di situ lah aku akan mendapatkan pasukan zombie milikku"
Wolfram tidak menggubris gumaman pria yang kini berdiri di belakangnya, sementara dirinya telah berdiri di depan kotak miliknya yang telah mulai aktif. Lagi lagi api biru dan suara gemuruh muncul dari situ.
Wolfram memejamkan mata sesaat, sebelum dirasakannya maryoku miliknya yang seolah ditarik keluar dari tubuhnya.
Rasanya sangat menyakitkan. Langit mendung, awan hitam bergelung, sementara gerimis dan angin kencang menghantam tanpa ampun. Tanah pun terus mengeluarkan bunyi retakan, yang seolah bisa roboh kapan saja.
Ini masih setengah kekuatan. Entah apa jadinya bila kotak kotak itu dibuka sempurna. Wajah wajah prajurit yang berjaga tampak ngeri menyaksikan pemandangan di depannya.
Mata mereka terbelalak saat menyadari segerombol kelompok besar sedang mendekati Istana Perjanjian Darah.
Semakin dekat, semakin besar, semakin banyak.
Aroma amis menyeruak perlahan dari sana, bercampur dengan suara gemuruh dahsyat yang seolah tidak akan selesai.
Seketika mengetahui dengan jelas sosok yang mendekat, salah satu dari mereka berteriak nyaring,
"Pasukan mayat hidup menuju kemari! Semuanya siaga! Jaga seluruh lini istana!""Kerja bagus, Anak Muda. Kau selalu bisa memenuhi harapanku. Sekarang istirahatlah sejenak. Kali ini biar aku yang pegang kendali kembali... Ah, tugasmu belum selesai, kuharap kau bisa bertahan sampai saat itu... Kau mendengarku, Anak Muda...?"
Shinou menekan nada suaranya ketika disadarinya Wolfram tetap bergeming, duduk bersandar di kotaknya, dengan napas yang agak tersengal dan cucuran keringat.
Rasanya beberapa tulangku retak sedikit...
"Permainan ini semakin menarik. Dan untuk memenangkan permainan, kita harus sedikit mengacaukan psikologis lawan..."Gwendal kali itu adalah ketua komando pasukan istana untuk mengamankan wilayah Istana Perjanjian Darah, sementara Conrad dan Yozak menjadi pemimpin pasukan di lapangan.
Sampai saat itu, kerja mereka masih terkendali dan mendapat hasil yang cukup baik.
Selama ini mereka selalu bertugas dengan logika, dan seringkali berhasil menyingkirkan perasaan pribadi.
Paling tidak, itulah yang mereka duga.
"Kalau begini terus, tidak akan ada habisnya! Kita bahkan tidak bisa mendekat ke kuil itu untuk menghentikan kotaknya! Sial!"
Conrad sudah tidak berpikir berapa jumlah mayat hidup yang berhasil ditebasnya. Dia nyaris tidak lagi peduli. Dia bahkan telah melupakan rasa sakit di lengan kirinya, yang berubah sedikit kaku.
Yang ada di kepalanya kini hanya bagaimana cara agar mampu mendekat ke kuil itu, menghentikan kotak kotak itu, serta memusnahkan pria itu dan menyelamatkan adiknya dari sana.
Sudah cukup seluruh kegilaan ini. Conrad nyaris frustrasi.
Tepukan hangat untuk sesaat membuyarkan pikirannya.
"Taichou, jangan terbawa emosi. Lawan menyukai itu, ingat? Heika dan tuan muda kecil itu baik baik saja. Aku yakin"
Senyuman hangat Yozak berhasil melunakkan perasaannya.
Namun, saat dia berhasil mengenali salah satu sosok mayat hidup yang ada di barisan depan, seakan segalanya menjadi percuma.
Bahkan dia mungkin telah melupakan prinsip lama miliknya sendiri.
Suaranya seakan kaku saat mengucapkan nama itu.
"Julia...?"
BersambungMenulis chapter ini sambil mendengarkan playlist Kenny G.
Selama saya menulis fanfic ini, kadang rasanya pun dibuat frustrasi. Butuh waktu cukup lama untuk menentukan alur yang akhirnya saya pakai.
Sambil terus menulis kelanjutan fanfic ini, mungkin saya juga akan menulis fanfic oneshot Maruma yang bertema ringan, sebagai sedikit pengalihan.
Mohon dimaklumi.
Terima kasih.
