Wolfram tetap bergeming, duduk bersandar di kotaknya, dengan napas yang agak tersengal dan cucuran keringat. Tidak terlalu dihiraukannya kalimat terakhir pria itu.

Rasanya beberapa tulangku retak sedikit...

Perlahan Wolfram mengangkat wajah, memperhatikan pria itu yang mulai sibuk dengan dirinya sendiri.

Ini kesempatan

Sambil menahan rasa nyeri di tubuh, Wolfram mulai mengingat rencananya lagi.

Dirabanya pelan saku celananya. Masih ada satu rencananya lagi yang belum diketahui pria itu.

Beberapa hari lalu, sesaat setelah Wolfram selesai menjelaskan rencananya, Anissina tiba tiba masuk ke dalam ruangan, dengan gaya khasnya, menawarkan barang terbaru hasil temuannya.

Mereka semua terperangah takjub setelah mendengar penjabaran Anisinna. Di tangannya ada sepasang benda kecil berwarna krem. Bentuk benda itu sekilas mengingatkan Yuuri pada wireless earphone yang pernah dibelikan Shouri untuknya.

Suara Anissina ketika menjelaskan hasil temuannya itu terdengar sangat antusias dan bangga. Selama tiga menit penuh, dia menjelaskan kegunaan barang itu, tanpa disela oleh siapapun di ruangan itu.

Meskipun terdengar tidak biasa, kali itu Gwendal pun rupanya mengakui kegunaan barang temuan Anissina itu.

Wolfram pun diam diam setuju. Benda yang dinamakan Anissina sebagai "Bisa Menghubungkan Suara Siapapun-kun" itu memang luar biasa bagi mereka.

Singkatnya, bentuk dan kegunaan benda itu hampir mirip dengan earphone wireless yang dimiliki Yuuri. Benda itu bisa menghubungkan dan mendengar suara mereka satu sama lain dalam satu waktu. Seperti alat komunikasi jarak jauh. Warna krem sengaja dibuat untuk menyamarkan benda itu dari penglihatan musuh. Dan bisa diaktifkan dan dimatikan kapan saja.

Anissina memberi mereka benda itu masing masing satu.

Pelan pelan, Wolfram mulai memasang benda itu di telinganya. Dipastikannya pria itu sedang tidak memperhatikannya, sebelum kemudian mengaktifkan benda itu.

Sesaat kemudian, terdengar suara statis.

Lalu suara statis hilang, digantikan suara gemuruh angin kencang dan samar suara retakan tanah.

Wolfram merinding. Suara itu begitu keras di telinganya, seolah dia ada di sana.

Dua kotak kehancuran sudah terbuka, meski tidak sempurna. Ditambah kotaknya yang baru saja membangkitkan serombongan mayat hidup. Wolfram sudah dapat membayangkan kekacauan yang terjadi di luar sana.

Matanya terpejam, pasrah.

Lalu terdengar suara itu.

"Julia...?"

Suara Conrad terdengar parau di telinganya. Bola mata Wolfram tanpa sadar melebar mendengar nama itu.

--

"Julia...?"

Conrad menatap takjub sosok wanita di depannya. Wajahnya masih sama seperti terakhir Conrad melihatnya, dua puluh tahun lalu, sesaat sebelum Tragedi Luttenberg pecah.

Wajah yang selalu dirindukannya. Mata itu, bahkan senyumannya seolah tidak pernah lenyap.

Bahkan setelah dia mati.

Namun melihatnya sekarang, jelas terasa menakutkan bagi Yozak. Wanita itu telah meninggal dua puluh tahun lalu, tepat setelah Perang Luttenberg berakhir.

--

Gisela berada di dalam Istana Perjanjian Darah, sibuk mengobati orang orang yang terluka. Jejeran ranjang darurat yang dipenuhi pasien yang terkulai lemah, orang lalu lalang, dan rintihan pasien. Sementara hidungnya dipenuhi aroma obat.

Gisela telah akrab dengan situasi ini sejak lama.

Sambil terus berkonsentrasi melilitkan perban pada kaki salah satu pasien, Gisela berusaha mendengarkan berbagai suara dari dalam benda kecil yang dipasang di telinga kirinya. Benda pemberian Anissina itu baru saja ia pakai dan nyalakan.

Saat mendengar nama itu disebut dari sana, Gisela terkesiap seketika. Tangannya terhenti sejenak.

Julia... sudah... mati... Aku yakin... Karena akulah yang telah membakar mayatnya, sesuai permintaan terakhirnya padaku...

--

"Gisela, jika terjadi sesuatu padaku nanti, aku mohon, tolong bakar jasadku, ya... "

Sosok itu tersenyum lembut sekali padanya.

Gisela terperangah mendengar ucapannya.

"Kenapa... Apa maksudmu, Julia?"

Sahabatnya yang lembut namun pendiam itu melanjutkan,

"Di dalam tubuh anggota keluarga Wincott, ada sebuah racun mematikan. Aku tidak mau itu disalahgunakan di kemudian hari. Karena itu, aku ingin kau membakar jasadku bila kelak aku meninggal..."

Dan kemudian datanglah waktu itu. Dia harus membakar jasad sahabatnya sendiri. Ini wasiatnya, dan dia harus melakukannya.

Hatinya teriris ngilu ketika harus menyaksikan jasad Julia perlahan dibakar di dalam nyala api, hingga hanya tersisa tulang tulangnya saja.

Sisa tulang itu kemudian ia kubur dalam tanah pemakaman. Tidak ada nisan.

Hanya Gisela dan keluarga Wincott yang tahu hal itu.

Tidak untuk Conrad, sahabatnya.

Bahkan tidak untuk Adalbert von Grantz, tunangan sah-nya sekalipun.

--

Wolfram terdiam setelah mendengar nama Julia dari dalam sana. Wolfram teringat sosok wanita itu, sosok lembut yang nyaris tidak pernah marah.

Beberapa tahun lalu, Wolfram bisa dikatakan adalah muridnya. Muridnya yang paling bandel, kalau boleh menambahkan.

Dia sering berontak padanya, merasa marah karena harus berkutat dengan buku buku medis, alih alih maju ke medan perang.

Meski begitu, Julia sangat sabar terhadapnya.

Kadang Wolfram diam diam merasa Julia seperti sosok kakak perempuan baginya.

Dan waktu itu Wolfram tahu, kelak mungkin dia akan benar benar jadi kakak iparnya.

Namun takdir berkata lain. Julia harus meregang nyawa, kemudian meninggal, karena ulah orang orang yang tidak menyukai hal itu.

Saat perjalanannya menuju Shimaron bersama Gisela beberapa waktu lalu, wanita itu menceritakan hal yang sungguh membuat Wolfram kaget.

Saat itu Wolfram bertanya pelan pada Gisela, "Apa Suzanna Julia benar benar sudah meninggal...?"

Tidak ada maksud tertentu bertanya seperti itu. Hanya saja, kadang Wolfram seperti melihat sosok Julia di dalam tubuh Yuuri, terutama ketika dirinya berubah menjadi uesama-mode.

Galak, namun lembut hati...

Dan lagi, Wolfram memang tidak pernah melihat jasadnya ataupun menghadiri pemakamannya.

Jawaban Gisela benar benar membuat dirinya terdiam saat itu.

Gisela bilang, dia telah membakar jasadnya dan mengubur sisa tulangnya diam diam.

--

"Kau benar benar... Julia...?" suara Conrad masih tersendat ketika mengucapkan nama itu. Pedangnya yang dari tadi terhunus, turun seketika.

Sorot matanya memancarkan kerinduan tertahan.

Yozak yang berada tepat di belakang Conrad seketika berbalik.

Suzanna Julia von Wincott.

Wanita luar biasa lembut, dengan mata yang, meski tak mampu melihat, namun seolah mampu melihat segalanya dengan mata hati.

Dan Yozak tahu, sahabatnya telah lama menyimpan perasaan terhadap wanita itu, bahkan setelah wanita itu meninggal.

Berulang kali, Yozak harus berkata padanya bahwa Julia sudah tiada. Dia tidak ada di sini lagi.

Tidak di sini... Tidak di tubuh seorang Shibuya Yuuri sekalipun...

Sosok Julia di depan mereka masih terdiam, sebelum menyahut lembut pertanyaan Conrad barusan,

"Ya... Ini aku..."

Conrad terdiam sejenak.

"Kata mereka... Kau sudah mati... "

Suaranya terdengar sendu, pelan, dan ragu.

Julia tersenyum padanya, "Aku... masih hidup, kok... "

Keempat orang yang mendengar suaranya terkesiap seketika.

"Taichou, jangan dengarkan dia! Suzanna Julia sudah mati dua puluh tahun lalu! Apa kau lupa?!"

Teriakan Yozak yang nyaring menembus earphone milik Wolfram dan Gisela. Mereka berdua terdiam.

Selama ini pun, kadang mereka masih merasa, Julia masih di sini. Meski akal sehat mereka tentu menentang hal itu.

Conrad terdiam seketika saat mendengar teriakan sahabatnya. Langkah kakinya terhenti.

--

"Tapi dia tidak ada hubungannya. Yuuri heika bukan Julia. Benar, kan?"

Yozak berkata begitu saat Conrad mengatakan bahwa Yuuri merupakan sosok yang membawa roh Julia di dalam dirinya.

Saat itu, dengan ragu Conrad menjawab,

"Ya... Aku tahu... Yuuri bukan Julia... "

--

Hatinya hancur saat mendengar kabar itu. Tubuhnya yang masih dalam masa penyembuhan pun menjadi semakin nyeri.

Wanita yang dicintainya telah dibunuh. Pelakunya diduga kuat adalah Stoffel dan Waltorana. Mereka tidak menyukai Conrad sama sekali.

Manusia itu tidak boleh menjalin hubungan dengan mazoku. Apalagi Julia telah bertunangan.

Diam diam Conrad meradang.

Sesaat setelah wanita itu meninggal, Conrad pergi menjalankan tugas yang diberikan Shinou padanya, yang disampaikan melalui Ulrike.

Conrad memutuskan menjalankan tugas itu. Hatinya hampa.

Dia ditugaskan untuk membawa jiwa Julia ke Bumi, dan memberikan roh itu ke dalam tubuh sosok Maoh di masa akan datang, yang akan lahir di Bumi.

Dan kelak akan datang ke Shinmakoku sebagai raja.

Saat itu Conrad sungguh heran, apa tujuan Shinou memberikan tugas semacam ini padanya.

Hatinya masih terluka. Bahkan rasanya dia tidak akan segan memusnahkan apapun saat itu.

Dia mengatakannya dengan jelas di depan Ulrike ketika itu.

"Bagaimana jika seandainya aku membawa roh ini dan malah memusnahkannya di sana? Kau tidak takut?" suaranya dingin dan angkuh ketika mengatakannya.

"Shinou heika percaya padamu... Dia bilang kau tidak mungkin melakukannya... " Ulrike menyahut lirih.

Conrad terdiam, kemudian pergi dari situ.

--

Sesaat sebelum pergi ke Bumi, Conrad telah berencana membuat perhitungan dengan kedua pria itu.

Dia menghadapi Waltorana dan Stoffel seorang diri.

Dirinya kalah. Salah satu dari mereka telah menggoreskan luka sayatan yang cukup panjang pada alis kanannya.

Segera setelah itu, para maiden mengirim Conrad menuju Bumi.

Dirinya pun terdampar di Bumi, tepatnya di hamparan tanah Meksiko, dengan berlumuran darah di alis kanan.

Sebelum akhirnya diselamatkan seorang bocah laki laki berkulit cokelat yang membawanya ke rumahnya.

Luka itu diobati oleh ibu bocah itu. Wanita itu berkata bahwa lukanya tidak dalam meski mengucur cukup banyak, namun sepertinya akan meninggalkan bekas yang mencolok.

Setelah mengobati lukanya, mereka bahkan menampung Conrad untuk tinggal di sana beberapa waktu.

Conrad pun berkenalan dengan anak itu. Namanya Carlos, tinggal bersama ibu dan adik perempuannya yang bernama Nikki.

Keesokan harinya, pria itu datang.

Dokter Rodrigez mengenalkan dirinya, membawanya ke tempat prakteknya, dan menjelaskan soal misi ini padanya. Dia juga yang membawa Conrad menuju Boston, Amerika Serikat, setelah sebelumnya mengerecokinya dengan alat canggih dari NASA untuk menguasai bahasa Inggris dalam satu malam. Memberinya kartu identitas, dan mengajarkan hal sederhana yang ada di Bumi.

Dokter Rodrigez sama seperti dirinya. Sama sama sedang bertugas menyampaikan roh orang yang sudah mati pada sesosok manusia yang akan lahir, dan kelak, akan tiba di Shinmakoku.

Bedanya, bila Conrad membawa roh Suzanna Julia, maka dokter Rodrigez membawa roh seorang wanita bernama Christine, seorang aktris film biru yang meninggal karena kecelakaan mobil.

Dan sebelum ini, roh itu telah banyak berganti sosok.

Anak yang menerima roh istimewa itu dikabarkan akan lahir di Hongkong dari sepasang keluarga berkebangsaan Jepang.

Conrad pun menceritakan pasangan Jepang yang sedang menanti kelahiran putra kedua mereka, yang sedang menetap di Boston, dan akan dia serahi roh ini.

"Wah, bayi yang kita tuju sama sama orang Jepang, ya. Mungkin di masa depan nanti, mereka akan berteman akrab"

Dokter Anak itu berseloroh ringan.

--

Conrad telah selesai menjalankan tugasnya di Bumi. Roh itu sudah diserahkan tepat setelah kelahirannya, dan dia sudah kembali ke Shinmakoku.

Hati Conrad mulai pulih berkat berbagai pertemuan dan kejadian yang dia alami di dunia lain itu.

Hangat dan bahagia.

Meski tidak bisa dikatakan pulih sepenuhnya, hatinya mulai terbuka lagi.

Celah dendam pun telah ditutupnya rapat rapat.

--

"Ya... Yozak benar... Kau sudah mati... Aku sendiri yang melihat rohmu, dan membawanya ke Bumi waktu itu... " Conrad berkata pelan. Wajahnya menunduk.

Julia terenyum lembut.

"Aku terus hidup di dalam hati kalian semua... Tapi kau harus melihat ke depan, Conrad. Ada banyak hal yang harus kau lindungi dan jaga selain aku : Rajamu, keluargamu, teman temanmu..."

Conrad mengangkat wajahnya perlahan.

"Ingatlah... Kau tidak pernah sendirian... Jangan terjebak masa lalu.."

Suara Julia lembut dan tenang. Wajah itu teduh.

Wolfram dan Gisela yang mendengar melalui earphone saat itu merasa ikut diingatkan kembali.

"Gisela... Terima kasih sudah mau melakukan hal itu untukku..."

Gisela terdiam. Air matanya mulai menggenang.

"Wolfram... Kau akan baik baik saja... Meski tubuhmu lemah, hatimu jauh lebih kuat dan tulus daripada siapapun... Kau mampu lewati ini... Bersabarlah sedikit lagi... Bantuan akan segera datang..."

Wolfram mendengarkan suara itu sepenuh hatinya. Wajahnya tersenyum lega. Seolah beban berat telah terangkat dari bahunya.

"Julia... Aku... " Conrad berucap lirih.

Sesaat kemudian, dia menghampiri wanita itu dan merengkuhnya dalam dekapan penuh kasih.

Julia...

Aku lelaki yang bahagia.

Saat aku kehilangan dirimu, aku membenci dan mengutuk segala hal di dunia ini. Aku menyalahkan diriku sendiri. Saat itu, aku berpikir akan terus hidup untuk menanggung dosa ini. Aku tenggelam dalam kesedihan.

Kupikir, tidak akan ada lagi hal yang pantas kulindungi di hidupku. Aku, sebagai setengah Mazoku, telah ditakdirkan untuk berumur panjang.

Tapi sekarang berbeda.

Saat itu, aku hanya ingin menanggung semua dosa dan rasa sakit dari jiwamu yang telah pergi mendahuluiku. Jika ada yang namanya surga, aku yakin, ke sanalah jiwamu telah pergi.

Bila jiwamu memang masih ada di sini, aku berdoa semoga hidupmu selalu bahagia, dan tidak pernah bertemu sosok pengecut sepertiku.

Julia, aku masih hidup

Aku tidak akan melupakanmu, tapi aku telah menemukan lagi sesuatu yang pantas dilindungi.

Bersambung

--

Ini chapter terpanjang yang pernah saya tulis, dengan musik milik Kitaro yang setia menemani saya.

Bagian terakhir di chapter ini saya ambil dan saya terjemahkan dari prolog novel Maruma volume 2.