Sosok itu tampak kewalahan menahan terpaan angin kencang yang menerpa seluruh tubuhnya. Jubah yang dikenakannya seolah tidak berguna kali ini. Suara gemuruh memekakan telinganya.
Pria itu sedang dalam perjalanan menuju Shinmakoku. Kuda yang ditungganginya masih setia menemaninya. Dirinya menerima kabar angin bahwa Shinmakoku telah diserang. Meski dia telah bersumpah untuk membenci bangsa Mazoku selamanya, namun dorongan untuk segera pergi melihat keadaan tanah kelahiran rupanya telah mengalahkan egonya.
Anginnya semakin kencang saja! Tanahnya juga mungkin sebentar lagi akan segera roboh! Tapi ini bukan kekuatan dia, kan?
Adalbert membatin dalam hati. Dirinya teringat sosok Maoh yang sempat "mengamuk" di arena Tenkaichi Bundokai di Shimaron ketika menghadapinya di segmen keterampilan pedang, beberapa waktu lalu.
Adalbert yang mewakili Shimaron akhirnya kalah saat itu. Skor akhir 2-1. Pihak Caloria yang diwakili oleh orang orang dari Shinmakoku itu sukses memenangkan Tenkabu untuk pertama kalinya, mengalahkan perwakilan tuan rumah sekaligus sang juara bertahan acara multi - sport terbesar di wilayah manusia itu.
Adalbert tanpa sadar tersenyum kecut. Anak itu memang aneh, batinnya. Lugu namun juga berbahaya.
Namun kemudian perhatiannya teralih. Dapat diilihatnya dari jauh segerombolan massa. Untuk sesaat, Adalbert mengira itu pasukan perang milik Shinmakoku.
Namun kemudian disadarinya itu bukan gerombolan biasa. Itu gerombolan mayat hidup.
Adalbert terperangah, wajahnya tampak ngeri. Untuk sesaat dirinya seolah terpaku di tempatnya.
Belum selesai dengan rasa terkejutnya, tiba tiba dari dalam kepalanya terdengar suara wanita itu.
Julia, tunangannya di masa lalu.
Adalbert, aku mohon. Tolong dia dan teman temannya. Dia membutuhkanmu. Aku tahu, kau pasti juga ingin menolongnya, kan?
Adalbert terdiam. Julia terus bicara. Tunangannya itu telah meninggal dua puluh tahun lalu. Dan Adalbert masih menyalahkan para mazoku dan Shinou atas takdir kematian wanita itu.
Dia masih berat menerima kenyataan itu. Maka, ketika suara wanita itu terdengar dari dalam kepalanya, Adalbert merasa seolah sedang bermimpi.
Mulutnya seakan terkunci rapat. Meski hatinya dipenuhi perasaan haru, mulut dan tubuhnya seolah dikunci. Sampai akhirnya suara itu lenyap dari kepalanya.
Adalbert seketika mempercepat langkah kudanya.
--
Wolfram duduk bersandar di balik kotak miliknya sendiri. Perasaan lega memenuhi hatinya. Bahunya terasa ringan. Matanya terpejam perlahan.
Aku ingin istirahat...
Namun sesaat kemudian terdengar suara pintu yang didobrak keras.
Wolfram terkejut mendengar suara itu. Terlebih suara yang muncul sesaat setelahnya.
"Ada apa ini?!"
Sosok Adalbert yang duduk di atas pelana kudanya sungguh asing di mata Wolfram, lebih lebih untuk Shinou.
"Wah... Ada tamu tak diundang rupanya... Ada perlu denganku?" Shinou yang seketika mampu mengatasi rasa terkejutnya itu pun menyambut Adalbert ramah. Senyum tipis terkembang di wajahnya. Wolfram seketika waspada. Dia sangsi Shinou tidak berniat untuk melukai pria itu.
Sosok Adalbert yang muncul tiba tiba pun tak ayal mengherankannya.
Apa yang dilakukan pria itu di sini?
Seolah mampu membaca pikiran Wolfram, Shinou pun melontarkan pertanyaan serupa pada sosok di depannya.
"Itu tidak penting. Aku tidak ada urusan denganmu. Yang kuinginkan adalah anak itu. Aku harus membawanya kembali ke istana... " Adalbert menjawab ringan. Wajahnya tersenyum hambar. Jari telunjuknya mengarah pada Wolfram yang masih terduduk letih.
Mata Shinou tampak melebar sesaat. Tidak menyangka akan mendapat jawaban semacam itu.
"Hmmm... Aku ragu kau bisa membawanya pergi. Kau harus hadapi aku dulu, Adalbert von Grantz. Selain itu, aku tidak akan membiarkanmu merebut pionku... "
Wajah Shinou tampak gelap dan berbahaya.
Detik berikutnya, nyala terang seketika bergerak cepat ke arahnya.
Keras. Telak.
Shinou menggeram. Tubuhnya kaku.
Adalbert menatapnya dingin. Di tangan kanannya terlihat sisa sisa horyouku yang tadi dia arahkan pada pria itu.
Wolfram terkesiap melihatnya. Dia tahu Adalbert menguasai horyouku, sihir milik manusia. Namun yang tidak pernah diketahuinya adalah sihirnya ternyata sekuat itu.
Adalbert tiba tiba mengangkat tubuh lelahnya dan membawanya di sisi pinggang. Pria itu membawanya seakan dia adalah sekarung tepung.
"Tung... Adalbert, apa yang kau lakukan?!" Wolfram mencoba berontak. Tapi gagal.
"Jangan berontak! Aku akan membawamu kembali pada mereka. Jangan tanya apapun sekarang. Kita harus segera pergi sebelum efek horyouku nya habis!" suara Adalbert meninggi.
"Tapi aku harus menghentikan kotak itu dulu! Mayat hidup akan terus muncul selama kotak itu belum kuhentikan!" Wolfram bersikeras.
Adalbert menghela napas frustrasi.
"Baiklah. Lima menit. Lebih dari itu tidak bisa!"
Wolfram lega. Adalbert menurunkan tubuhnya. Wolfram bergegas menuju kotaknya.
Wolfram terdiam di depan kotak itu. Dapat dirasakannya tubuhnya semakin lemah. Dengan sisa sisa tenaga, dirasakannya kekuatan kotak itu melemah perlahan, lalu kemudian tertutup sempurna.
Kehendak penegang kunci adalah mutlak.
Detik berikutnya, Wolfram limbung dan nyaris mengenai lantai sebelum Adalbert meraih tubuhnya dan membawanya di sisi pinggang.
Pandangan Wolfram mengabur. Namun hatinya lega.
Adalbert pun segera meninggalkan kuil itu. Shinou masih menatapnya penuh amarah.
Kini yang aktif tinggal dua kotak kehancuran. Sementara satu kotak sudah tertutup, sementara yang satu lagi belum dibuka.
Shinou tersenyum miring di tengah rasa sakitnya.
Yang pertama baru peringatan... Setelah ini adalah kehancuran untukmu... Untuk kalian semua...
--
Conrad masih mendekap Julia. Dapat dirasakannya rambutnya yang lembut itu di telapak tangannya. Untuk sesaat, aroma yang familiar ikut memenuhi indera penciumannya.
Conrad... Aku harus pergi...
Suara lembut itu kembali mengalun. Dapat Conrad rasakan sosok Julia yang perlahan memudar.
Conrad tersenyum lega menatap sosok di depannya.
Sampai jumpa lagi
Sesaat kemudian, suara Yozak yang antusias seketika mengalihkannya.
"Wolfram kakka ada di istana! Dia baik baik saja! Dan dia bersama... Adalbert!"
Suara Yozak tampak antusias dan lega. Sementara tangan kanannya tampak memainkan earphone yang ada di telinganya, tanda dia mendapat informasi itu dari sana.
--
"Adalbert! Mau apa kau kemari?" Gisela terperangah melihat kedatangan pria itu di Istana Perjanjian Darah.
"Anak ini perlu segera diobati. Dia semakin lemas saja. Anak keras kepala... " Adalbert melirik Wolfram yang tampak tertidur di pinggangnya.
"Wolfram kakka! Kenapa...? Bagaimana kau... "
"Sudahlah Gisela. Akan ada waktunya untuk itu. Akan kujelaskan sampai kau puas" Adalbert berkata perlahan.
Gisela menatap Adalbert sesaat. Sorot mata itu serius.
"Baik. Kau berutang satu penjelasan padaku. Ah, bukan hanya padaku. Pada heika dan yang lainnya juga. Kau tidak boleh pergi sebelum itu" suara Gisela datar.
"Tenang, aku tidak berniat kabur. Kau boleh mengikatku kalau kau tidak percaya"
Gisela tidak memperdulikan jawaban Adalbert yang terakhir. Wanita itu telah sibuk berkonsentasi menyembuhkan Wolfram yang berbaring di depannya.
Syukurlah... Dia tidak terluka terlalu parah... Tapi kali ini dia harus istirahat total... Tubuhnya hampir kehabisan maryoku, fisiknya pun lemah sekali... Mungkin kalau Adalbert tidak datang, Wolfram kakka sudah...
Gisela segera menghentikan pikiran itu. Dirinya terus berkonsentrasi mengobati anak itu.
--
Conrad dan Yozak segera bergegas kembali ke istana Perjanjian Darah setelah menerima kabar itu.
Dan seketika itu gerombolan mayat hidup pun tiba tiba berhenti dan perlahan menghilang. Mereka heran, namun bergegas kembali.
--
"Wolfram!"
Sosok Conrad yang berlari ke arah salah satu ranjang darurat itu tampak mencolok. Bajunya tampak kotor dan lusuh dengan bercak darah dan aroma tanah.
Yozak yang berlari di belakannya pun berpenampilan nyaris serupa.
Gisela dan Adalbert menoleh.
"Wolf... "
Conrad bergumam pelan saat dilihatnya Wolfram tidak sadarkan diri di atas dipan darurat itu.
"Tenang. Dia hanya tidur"
"Adalbert! Kenapa kau ada di sini?" Conrad menatap sosok itu takjub.
"Jangan mematapku begitu. Aku bukan mayat hidup yang bisa bangkit dari kubur!" Adalbert protes.
"Lalu... Kenapa?"
Adalbert diam.
"Selain itu, kenapa tiba tiba pasukan mayat hidup itu tiba tiba lenyap...?" Yozak bergumam pelan.
"Itu karena anak itu sudah menutup kotak Toudou no Gouka miliknya. Dia lah yang membuat pasukan mayat hidup itu atas perintah Shinou" Adalbert menjawab tenang.
"Kau... Dari mana...kau tahu?" Conrad heran.
Adalbert tidak langsung menjawab.
"Mungkin kau akan menganggap aku gila, tapi aku berani bersumpah, aku telah mendengar suara Julia dan dia memintaku untuk menolong anak itu... Terdengar konyol, aku tahu..." Adalbert tersenyum kecut.
"Kau juga bertemu dengannya...?" Conrad bergumam kaget. Seketika Gisela menoleh.
Conrad pun menceritakan kejadian itu, ditimpali dengan suara Yozak dan Gisela yang juga mengaku mendengar suara wanita itu.
"Ah, rupanya dia tidak hanya datang padaku ya... " terdengar nada kecewa dan cemburu dalam suara Adalbert setelahnya.
Diam diam Yozak sedang berusaha menahan tawa.
"Ah, kami harus melapor ke Gwendal dulu. Gisela, tolong jaga dia, ya" Conrad menatap Gisela yang sedang sibuk mengobati barisan pasien.
Gisela hanya mengangguk pelan sambil tersenyum.
"Selain itu... Terima kasih sudah membawanya kemari... " Conrad menatap Adalbert tulus.
Adalbert tampak jengah. Dia mendengus kecil.
"Apa von Grantz-kyo juga mau ikut mendatangi Gwendal kakka di ruangannya?" Tiba tiba Yozak berbicara pada Adalbert, sesaat sebelum meninggalkan tempat itu.
Meski terdengar basa basi, Adalbert berpikir itu tawaran yang tidak terlalu buruk. Maka dia mengangguk.
Sebelum pergi, Adalbert menoleh pada Gisela dan mengatakan dirinya tidak akan kabur.
"Baiklah"
--
Ruangan rapat itu segera dipenuhi deretan wajah serius.
Gwendal sempat terkejut dan marah ketika melihat sosok Adalbert. Namun dirinya segera melunak setelah Conrad menjelaskan bahwa pria itu telah menolong adik bungsunya.
"Di mana Gunter?" Conrad menyadari ketidak hadiran Gunter di ruangan itu.
"Aku memintanya menemani Yuuri heika untuk sementara di kamarnya"
Adalbert pun mulai menceritakan semuanya pada mereka yang ada di dalam ruangan itu.
"Untuk sementara ini, Shinou telah kubuat lumpuh dengan horyouku untuk sementara. Tapi mengingat kekuatan pria itu, efeknya mungkin hanya bertahan beberapa jam. Dalam jeda itu, kurasa kita bisa masuk ke kuil itu lagi dan menghentikan kotaknya... " Adalbert bicara perlahan, menatap Conrad dan Gwendal yang berdiri di depannya.
Mereka diam. Terdengar mudah dan sederhana. Meski mungkin tidak akan seperti itu. Tapi tentu ini rencana yang cukup baik.
"Kita hentikan dua senjata yang tersisa darinya. Pria itu sudah kehilangan pion utamanya, dia tidak bisa apa apa lagi..." Gwendal berkata yakin.
Diam diam Conrad ragu. Masih ada satu lagi yang belum terjawab.
Siapa yang memegang kunci kotak Kagami no Minasoko di antara mereka?
Tiba tiba terbayang satu nama di benaknya. Conrad seketika merasa ngeri. Dan takut.
Tapi Yuuri bukan dia... Yuuri bukan Julia...
--
Hitung mundur telah dimulai...
Pria itu tersenyum licik.
Bersambung
--
Menulis chapter ini sambil mendengarkan album Manusia.
