Butuh waktu cukup lama sampai akhirnya Gisela selesai memeriksa tubuh Wolfram yang sedang berbaring di atas dipan darurat itu.
Gisela menghela napas perlahan. Wajahnya muram.
Dia tahu, Wolfram memang anak yang keras kepala. Bila dia sudah bertekad, hampir dipastikan tidak akan ada yang bisa menghentikannya.
Karena sifatnya ini pula, Wolfram telah berhasil melewati banyak hal dalam hidupnya. Dan Wolfram tampak bangga akan hal itu.
Namun kali ini, Gisela merasa harus menghentikan anak itu. Apapun yang terjadi. Sebelum kondisinya semakin memburuk.
Dan dia tahu, dia tidak bisa melakukannya sendirian. Dia butuh bantuan.
Gisela memutuskan akan berbicara pada Conrad tentang kondisi anak itu.
Gisela segera menyusul ke ruang rapat.
Tujuannya hanya satu : Memberitahukan kondisi Wolfram pada saudara laki lakinya.
--
Tiba tiba terbayang satu nama di benaknya. Conrad seketika merasa ngeri. Dan takut.
Tapi Yuuri bukan dia... Yuuri bukan Julia...
Hal itu telah mengusik pikirannya. Maka, tepat setelah urusannya di ruangan itu usai, Conrad segera berlari menuju ruangan Yuuri.
"Heika...!"
Conrad buru buru membuka pintu kamar sang raja. Wajahnya tampak tegang dan sedikit terengah. Bahkan dia telah lupa mengetuk pintu.
"Conrad...?" Yuuri seketika menoleh padanya. Yuuri sedang duduk di atas tempat tidur, dengan nampan di atas selimutnya.
"Anda baik baik saja...?" Conrad bertanya perlahan pada sosok di depannya. Suaranya lirih.
"Ya... Sudah lebih baik... Gunter memintaku untuk makan sedikit. Dia juga sudah mengatakan kalau Wolfram sudah ada di istana. Adalbert yang menyelamatkannya, kan...? Setelah ini Gunter memperbolehkanku menjenguknya sebentar... " Yuuri menjawab perlahan. Wajahnya tersenyum tipis.
Sesaat Conrad terdiam. Yang ada di depannya kini adalah Shibuya Yuuri, bukan Suzanna Julia von Wincott.
Wajah mereka memang sama sekali tidak mirip, namun aura yang dipancarkan dua orang ini nyaris serupa.
Tapi Yozak sudah berulang kali mengatakan padanya kalau Yuuri dan Julia adalah dua orang yang berbeda.
Mana yang harus dipercayainya : Firasatnya sendiri ataukah ucapan sahabatnya?
"Conrad? Kau baik baik saja...?"
Tidak kunjung mendapat respon, Yuuri pun menatapnya cemas.
"Saya baik baik saja..."
"Setelah ini aku ingin segera menemui Wolfram. Kuharap dia baik baik saja..."
Perlahan Conrad tersenyum. Sifat seperti ini khas Yuuri. Peduli pada semua orang, meski kadang terasa berlebihan.
Kali ini, Conrad mencoba memandang Yuuri sebagai pribadi yang utuh, tanpa dibayangi sosok sahabat lamanya di masa lalu.
Conrad mendesah lega. Mungkin Yozak memang benar...
"Permisi...! Apa Weller-kyo ada di dalam?"
Tiba tiba terdengar suara Gisela di balik pintu. Mereka menoleh.
"Gisela? Ya, dia ada di dalam. Ada apa? Kenapa kau buru buru begitu?"
Di balik pintu, Gunter menatap putri semata wayangnya itu heran.
"Ayah...!"
Suara Gisela yang terdengar tidak tenang itu jelas telah mengusik mereka. Tahu dirinya sedang dipanggil, Conrad pun berjalan menuju pintu.
"Gisela? Ada apa?" Conrad bertanya pada wanita di depannya. Didapatinya wajah Gisela yang tidak nyaman. Hatinya berdesir.
"Aku harus bicara denganmu. Ini tentang Wolfram..." Gisela menjawab pelan.
Conrad terdiam sejenak. Dapat dipastikannya Gisela datang membawa kabar yang tidak nyaman. Pelan, Conrad mengangguk.
"Ayah juga boleh mendengarkan kalau mau... Lebih banyak orang lebih baik... " Gisela menoleh pada sang ayah. Gunter tidak menolak.
--
Terdengar suara pintu ditutup.
Gunter dan Conrad menunggu dengan sabar. Mereka berdiri di tengah ruangan, sementara Gisela berjalan perlahan ke arah mereka.
Gisela menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan, seolah berusaha memperoleh kekuatan dari situ.
"Saya sudah memeriksa keadaan Wolfram-kakka dan... Saya harus bilang bahwa keadaannya benar benar di luar dugaaan..."
Air muka kedua lelaki di depannya tampak menegang.
Meski menyadarinya, Gisela terus bicara, "Wolfram kakka mengalami fraktur tulang di beberapa bagian. Dia butuh istirahat total. Maryoku nya terkuras sangat banyak, itu yang membuat tulangnya akhirnya retak dan patah, terutama di bagian rusuk. Keadaannya sekarang bisa mengancam organ dalamnya, terutama jantung... Selain itu, tubuhnya memar cukup banyak karena fraktur tulang dan kelelahan... Satu satunya yang bisa disyukuri adalah Wolfram-kakka bisa segera mendapat pertolongan hingga masih mampu bertahan... Andai sedikit lebih lama lagi, dia pasti sudah..."
Suara Gisela tercekat di tenggorokan ketika mengucapkan kalimat terakhir.
"Saya rasa Wolfram kakka sudah tidak boleh memaksakan diri lagi. Dia tidak boleh keluar dari istana ini sampai tubuhnya membaik. Dan itu membutuhkan waktu paling sedikit dua bulan... Itu artinya... Kita tidak bisa membiarkan Wolfram kakka terlibat dengan perang ini lagi... Itu akan mengancam nyawanya... " Gisela berkata perlahan. Wajahnya muram.
Hening sesaat.
"Watson bisa menggantikan Wolfram sementara sebagai perwakilan Bielefeld... Aku yakin dia bersedia. Masalahnya, adalah menyampaikan keadaannya pada Wolfram sendiri. Anak itu sangat keras kepala..." Gunter berkata pelan.
"Ayah benar. Dia perlu dibujuk dan diberi pengertian. Kali ini mungkin harus memakai sedikit paksaan... "
"Aku... akan mencoba bicara padanya" Conrad tiba tiba bicara perlahan.
Gisela dan Gunter menatap Conrad simpatik. Mata cokelat keperakan itu balas menatap mereka lembut.
"Ah, ya. Conrad mungkin satu satunya orang yang bisa menangani si Wagamama Puu itu. Dia pasti tahu apa yang harus dia lakukan" Gunter tersenyum tipis. Masih jelas di ingatannya bagaimana Conrad yang sejak dulu selalu berhasil meredam kemarahan sang adik.
Conrad hanya tersenyum tipis. Wajahnya tampak sendu.
"Kau tidak mengatakan hal ini pada Gwendal, Gisela?" Gunter kembali menatap Gisela.
Gisela menggeleng perlahan. "Gwendal kakka adalah ketua komando. Dia butuh konsentrasi. Saya tidak bisa menyampaikan hal yang dapat merusak fokusnya... Sementara Yuuri Heika... Saya tidak ingin dia tahu keadaan tunangannya sekarang. Itu akan memperparah kondisinya. Anak itu pun masih butuh istirahat... Soal Sheri-sama... selain karena beliau sedang tidak ada, berita seperti ini bisa membuat beliau histeris..." Gisela menjawab lirih.
"Keputusan yang bijak. Putriku memang hebat" Gunter tersenyum bangga padanya.
Untuk sesaat, Gisela tampak tersipu.
--
Conrad telah kembali ke kamar Yuuri. Dia menawarkan diri untuk menemaninya menemui Wolfram. Yuuri tidak keberatan.
Ketika berjalan di lorong, Adalbert menegur mereka.
"Oi, Weller-kyo! Kenapa kau terlihat buru buru tadi? Apa terjadi sesuatu?" Adalbert terlihat heran.
"Tidak... Tidak ada apa apa... " Conrad menjawab datar. Tapi wajahnya terlihat muram.
Yuuri yang menyadari ekspresi wajah Conrad kali itu sempat heran. Yuuri merasa Conrad telah menyembunyikan sesuatu darinya.
"Kau mau menjenguk sannan boy? Anak itu benar benar merepotkan. Aku masih tidak mengerti kenapa dia bisa ada di sana sendirian. Apa pria itu melakukan sesuatu padanya?"
Pertanyaan Adalbert padanya mengalihkan perhatiannya. Yuuri terdiam sesaat, menatap Adalbert muram.
"Ya... Bisa dibilang begitu..."
"Hah, sudah kuduga pria itu memang brengsek! Omong kosong kalau kalian masih memanggilnya Raja Agung!" Tiba tiba suara Adalbert meninggi. Yuuri dan Conrad tersentak kaget.
Hening.
"Aku kemari untuk menghajar pria itu. Jangan pernah salah paham. Pemikiranku masih sama terhadap kalian semua : Kaum tolol yang masih mau saja tunduk pada segala perintah orang itu. Benar benar konyol...!" Adalbert berkata dingin.
Ditinggalkannya mereka berdua di lorong.
Mungkin Adalbert benar... Selama ini kami lah yang terlalu naif...
--
"Begitu rupanya... Jadi kau memutuskan untuk pulang kembali kemari demi membunuh pria itu...? Yakin hanya itu yang kau cari? Julia pernah cerita padaku... Kau sebenarnya pria yang sangat memikirkan bangsa Mazoku... Hanya lantas beda pemikiran saja kau jadi lari dari sini... "
Gisela berkata perlahan pada pria di depannya. Wajahnya datar.
"Aku tidak peduli pendapatmu. Julia bisa saja bicara begitu padamu, tapi itu tidak lebih dari masa lalu" Wajah Adalbert tampak tidak acuh.
"Kalau memang begitu, kau tidak akan ada di sini sekarang... " suara Gisela lirih namun penuh penekanan.
Adalbert terdiam.
Hening memenuhi ruangan.
Gisela berjalan menuju pintu, sementara Adalbert masih diam di tempatnya. Wajahnya kaku.
"Aku masih harus melihat kondisi Wolfram kakka..."
"Tunggu...!"
Gisela menoleh.
"Aku ingin bicara pada anak itu. Dia pasti masih di sana sekarang... " suara Adalbert lirih.
Gisela hanya mengangguk. Dia tahu, Adalbert telah melunak.
--
"Wolf... Kondisinya baik baik saja, kan?" Yuuri menatap Wolfram yang masih belum sadar itu.
"Ya, Heika... Dia baik baik saja... " Conrad menjawab pelan. Alasan Gisela untuk tidak memberi tahu keadaan Wolfram yang sebenarnya segera terngiang di kepalanya.
Dari luar, kondisi Wolfram memang terlihat baik baik saja. Tidak ada luka luar sedikit pun di tubuhnya.
"Adalbert...! Gisela...!" Yuuri menyambut kedatangan kedua orang itu takjub.
Conrad heran. Melihat sifat Adalbert pada mereka barusan, rasanya Adalbert tidak akan mau berurusan lagi dengan mereka.
Adalbert berjalan ke arah Yuuri, lalu berhenti tepat di depan anak itu.
Yuuri seketika merasa ngeri. Tubuh Adalbert yang jauh lebih besar darinya, ditambah raut wajah keras pria itu, membuat dirinya merasa terintimidasi. Keringat keluar dari pelipis.
Conrad waspada.
Adalbert tiba tiba berlutut. Mereka bertiga seketika menahan napas.
"Izinkan aku membantu Anda mencapai tujuanmu, Heika. Saya harap Anda berkenan... " suara Adalbert terdengar lirih, namun sungguh sungguh.
Mereka menatap Adalbert takjub. Sesaat kemudian sorot mata mereka beralih menatap sang Maoh. Tampak menunggu jawaban darinya.
Untuk sesaat, Yuuri terkesiap. Tidak pernah disangkanya suatu hari Adalbert akan sudi berlutut padanya, bahkan menawarkan bantuan. Yuuri terdiam sesaat. Wajahnya kembali datar.
Namun sedetik kemudian, wajahnya tersenyum. Hawa tegang itu hilang seketika.
"Tentu saja. Dengan senang hati! Kurasa Shinou pun akan sangat terkejut jika kau mau memihak Shinmakoku!" Yuuri berkata antusias, sorot matanya cerah.
Conrad dan Gisela seketika menghela nafas lega. Meski sebenarnya Conrad sudah bisa memperkirakan jawaban serupa.
Ya... Itulah Maoh mereka. Terlihat polos dan ceroboh, tapi di saat yang sama memiliki hati yang tulus dan tidak pendendam. Siapa pun akan diterimanya dengan tangan terbuka, bahkan bila dia adalah seorang pengkhianat sekalipun.
Sama seperti diriku...
Bersambung
--
Akhirnya bisa menulis lagi. Terima kasih telah bersedia menunggu.
Chapter selanjutnya akan segera saya rilis.
Terima kasih.
