Ukh...!"
Suara lengguhan mengalihkan perhatian mereka. Wolfram telah bangun.
"Wolf! Syukurlah!" Yuuri menghampirinya, tampak lega.
Gisela buru buru menghampirinya pula. Seketika sampai di samping anak itu, tangannya menahan tubuhnya agar tidak segera bangkit dari dipan.
"Jangan bangun dulu! Dada Anda masih sakit. Anda bisa kesulitan bernapas...!"
Ada sesuatu di dalam suaranya yang membuat Wolfram mengalah. Perlahan, dia berbaring lagi.
Ketika melihat tubuhnya, baru disadarinya dia sedang tidak mengenakan pakaian. Dadanya tampak dibebat dengan perban yang cukup tebal.
"Apa yang terjadi padaku...?"
Suara itu lirih namun menuntut. Wajah mereka seketika berubah sendu.
Wolfram menatap mereka satu per satu.
"Sannan boy, kau pingsan karena kelelahan. Sekarang istirahat saja, tidak usah bertanya apa apa lagi"
Adalbert tiba tiba bersuara. Wajahnya datar.
Wolfram balas menatapnya sengit.
"Jangan ikut campur, Adalbert. Aku berterima kasih kau sudah menyelamatkan aku, tapi itu tidak lantas membuatmu bisa mengaturku...!"
Merasa tersinggung oleh kalimat barusan, wajah Adalbert seketika berubah marah.
"Anak keras kepala! Kau tahu, dirimu itu masih beruntung! Sedikit lagi terlambat, kau pasti mati!" Suara Adalbert berang.
Wolfram terdiam.
Yuuri, Conrad dan Gisela pun hanya mampu menutup mulut menatap pria itu. Tidak menyangka dia akan berucap seperti barusan.
Merasa perlu memperbaiki suasana, Gisela pun berjalan menghampiri Wolfram di sisi ranjang.
"Adalbert benar, Tuan. Anda perlu istirahat. Tidak perlu memikirkan apapun... Cukup sembuhkan diri Anda dulu... Semuanya akan baik baik saja... " Gisela berkata perlahan.
"Tapi aku baik baik saja...! Aku tidak perlu istirahat! Urusanku dengan pria itu belum selesai! Kalau tidak... Kalian semua akan... " Wolfram bersikeras.
"Kami semua akan...? Dibunuhnya? Hah, aku yang akan membunuhnya lebih dulu, sebelum dia berhasil membunuhku!" Adalbert menyambung kalimat Wolfram cepat, bahkan sebelum Wolfram selesai dengan kalimatnya.
"Dengar, Wolfram. Kami akan segera kembali ke kuil itu. Urusanmu akan menjadi urusan kami. Tentu saja kau tidak perlu ikut. Tubuhmu masih terlalu lemah untuk itu. Kami tidak memerlukan penghambat"
Suara Adalbert datar dan dingin.
Wolfram menatap Adalbert marah. Dia tidak pernah suka diremehkan.
"Pengkhianat seperti kau tahu apa?!"
"Aku memang pernah berkhianat, tapi aku juga punya keinginan untuk menebus dosa! Ini tanah airku, dan kali ini aku ingin membelanya...!"
Setelah mengucapkan kalimatnya yang terakhir, Adalbert langsung berbalik pergi.
Setelah itu, selama beberapa saat, tidak ada yang bersuara.
"Aku akan ikut. Luka ini bukan apa apa... Aku tidak peduli apa yang akan dikatakan pria itu"
Wolfram berkata pelan.
"Wolf... Kupikir Gisela dan Adalbert benar. Kau butuh istirahat. Adalbert itu... Dia sudah berjanji akan membantuku. Jadi kau tidak perlu cemas" Yuuri pun kali ini berusaha membujuk.
"Yuuri, aku tahu kau sangat mudah percaya pada orang lain. Tapi maaf, aku tidak bisa mematuhi perintahmu kali ini, sekalipun kau adalah rajaku. Aku harus menyelesaikan ini, karena akulah yang memulainya. Semua ini terjadi gara gara aku... Ini tanggung jawabku... Biarkan aku menyelesaikannya..." Wolfram berkata lirih.
Yuuri diam. Tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Tidak bisa"
Gisela dan Yuuri menoleh. Conrad tiba tiba sudah berada di sisi ranjang, berdiri menatap wolfram yang sedang terbaring di situ.
"Aku tidak boleh lagi membiarkanmu dan Yuuri dalam bahaya. Tetap di sini... " Nada suara Conrad terdengar memohon. Sudut alisnya mengeras.
"Wolf... Tulang rusukmu patah, juga beberapa tulang lain. Kau butuh istirahat, maryoku milikmu nyaris terkuras habis. Dengan kondisimu yang seperti itu, aku tidak bisa membiarkanmu pergi..." Conrad berkata perlahan. Ditatapnya Wolfram yang balas menatapnya dengan tatapan yang sulit dipahami.
"Yuuri juga. Anda tidak bisa saya biarkan pergi. Shinou sudah jelas mengincar Anda juga. Saya harus menjauhkannya dari Anda secepat mungkin. Serahkan semuanya pada kami. Saya berjanji, kami akan kembali dalam keadaan hidup... "
Yuuri menatap Conrad tidak percaya.
Sebenarnya Yuuri pun hendak membantah, namun sorot mata serius pria itu berhasil mengurungkan niatnya. Yuuri pun mengalah.
Hanya kali ini, tambahnya dalam hati.
"Baiklah, Conrad. Pastikan kau menepati janjimu, ya. Aku akan menunggu" Yuuri tersenyum. Dia pun pamit untuk pergi.
"Saya pergi sebentar mengambil persediaan obat. Saya akan segera kembali"
Sesaat kemudian, Gisela pun pamit keluar.
Hening.
"Kau itu memang tidak pernah berubah. Selalu ingin melindungi kami. Padahal aku tahu... Bahumu tidak sekuat itu... " Wolfram berkata perlahan, menatap saudara laki lakinya.
"Kau juga sama, Wolf. Kau juga selalu ingin melakukan semuanya dan menanggungnya sendirian, padahal aku tahu... Tubuhmu tidak sekuat itu..." Conrad berlutut di sampingnya. Sorot matanya lembut menatap sang adik.
"Di luar dugaan, kita memang mirip... Sama sama keras kepala... " Wolfram tersenyum meringis.
Conrad tersenyum tipis.
"Saat aku memutuskan untuk pergi ke Shimaron dan harus mengkhianati kalian semua, aku yakin itu keputusan yang benar. Aku harus menjauh karena aku tahu, mereka sedang mengincar keberadaan pemegang kunci kotak terlarang, yaitu aku. Kupikir, dengan menjauh dari sini, itu akan menjauhkan kalian semua dari bahaya. Aku tidak mau mengambil risiko. Aku ingin menghadapi segala bahaya itu sendirian. Karena itu kuputuskan untuk bersandiwara, meskipun rasanya sakit..."
Conrad tiba tiba bicara lagi. Wolfram diam. Suara itu terdengar lirih dan getir.
"Tapi sekarang, aku tahu itu keliru... Saat itu.. Andai yang kupilih adalah menghadapinya bersama sama, kupikir aku tidak perlu sampai harus menyakiti kalian selama itu... Karena itu, Wolf, aku tidak ingin kau mengulangi kesalahan sama yang pernah kulakukan..."
Wolfram tersentak. Sekarang dia baru mengerti kenapa Conrad bersikeras melarangnya pergi.
"Kita sama sama mantan pengkhianat sekarang. Sama saja dengan Adalbert. Benar benar konyol... " Wolfram tersenyum hambar.
Conrad tertawa.
--
Menjelang malam, mereka bersiap untuk kembali menuju kuil itu.
Di depan istana, beberapa ekor kuda telah disiapkan. Gwendal, Conrad, Adalbert, Yozak, Gunter, dan Murata tampak berdiri di depan kuda masing masing.
Yuuri tidak ikut. Kali ini dia diminta untuk berdiam di istana demi keselamatannya sendiri. Di luar dugaan, Yuuri tidak menolak.
Dengan satu syarat : Mereka semua harus kembali dalam keadaan hidup.
Dan mereka menerima syarat itu dengan senang hati. Yuuri cukup lega, meski masih ada kabut kecemasan dalam hatinya.
"Nah, Heika. Kami pamit. Tolong jaga diri Anda. Sampai jumpa... " Conrad menatapnya dari pelana kuda. Pria itu masih sempat tersenyum hangat padanya, sebelum pergi.
"Sampai jumpa..." Yuuri berusaha tersenyum setulus mungkin padanya, menyembunyikan rasa kalut yang semakin kentara.
Suara derapan kuda makin mengecil, lalu hilang.
Bersambung
