"Selamat malam... "

Suara lirih pria itu seketika menyambut mereka ketika masuk ke dalam.

Pria itu masih terduduk lemas di tengah ruangan, namun wajahnya tersenyum tenang.

"Mari kita akhiri permainan ini... Aku sudah bosan..." Shinou berkata perlahan.

"Ya... Kau benar... Tidak ada artinya ini diteruskan lagi. Karena kau sudah kehilangan pionmu... Pion utama mu.." Murata berkata lirih. Wajahnya menunduk sekilas.

"Huh, siapa bilang? Selama dia dan tiga pemegang kunci lain masih hidup, aku masih punya kesempatan.." Shinou berkata mengejek.

"Kami datang untuk menghentikan kotak kotak itu dan membunuhmu, brengsek! Jangan kira kau masih punya kesempatan! Aku bahkan ragu kau masih bisa melihat matahari besok pagi!" Adalbert berkata nyaring. Sedetik kenudian, matanya tajam melirik Gwendal dan Conrad.

Mereka berdua mengangguk.

"Sekarang! Segera tutup kotaknya!"

Adalbert memancarkan horyouku pada Shinou lagi. Dalam sekejap, perhatian Shinou teralih. Otot tubuhnya yang sempat melemas, kini kembali kaku. Bahkan lebih dari yang sebelumnya.

Conrad dan Gwendal segera berlari menuju kotak masing masing, dan akhirnya kotak kotak itu pun tertutup sempurna.

Suara gemuruh perlahan mengecil, sampai akhirnya hilang sama sekali.

"Sudah berakhir. Segalanya sudah berakhir, Shinou. Kau kalah... " Murata berkata lirih dan berjalan ke arahnya. Wajahnya muram.

"Tidak. Kalian yang bodoh kalau mengira aku akan bisa kalah semudah itu..."Shinou tersenyum dingin. Sorot mata itu kejam.

"Apa maksudmu...?"

"Aku telah mengaktifkan kumpulan bom di istana itu. Selangkah saja kalian keluar dari sini, otomatis bom itu akan meledak..."

Suaranya tenang dan percaya diri.

Mereka terkesiap.

"Kalian pikir aku tidak mempersiapkan apa apa? Aku tahu, kalian menyembunyikan dua anak itu di istana Perjanjian Darah agar jauh dari jangkauanku... Aku sudah bisa menduga kalian akan kembali kemari untuk menghentikan kotak kotak ini... Karena itu kusiapkan jebakan. Kalian semua akan mati... "

"Anggap saja ini puncak kejutan. Akan kuceritakan pada kalian satu hal yang bagus..."

"Dua puluh tahun lalu... Aku memintamu untuk membawa jiwa Suzanna Julia von Wincott ke Bumi. Ke tubuh seorang bayi laki laki yang akan lahir di Bumi. Bukan begitu, Conrad Weller...?" Shinou menatap Conrad dingin.

Conrad menatap pria itu marah. Giginya mengatup tanpa sadar.

"Apa yang ingin kau katakan...?" Suara Conrad tertahan.

"Dugaanmu selama ini tepat. Yuuri adalah sosok Julia. Anak itu mewarisi roh Julia di dalam dirinya, dan karena itu Yuuri heika juga adalah... Pemegang kunci kotak terlarang. Kunci kotak terlarang terakhir, Kagami no Minasoko..."

Conrad terkesiap.

"Ketika Julia meninggal, itu artinya aku butuh jasad lain untuk sang pemegang kunci baru. Andai Julia masih hidup, maka dia lah yang memegang kunci kotak Kagami no Minasoko di generasi ini... Sayangnya dia harus meninggal. Akhirnya kuputuskan pemegang kunci selanjutnya tidak boleh berasal dari sini... Itu akan mengancam jiwanya... Tanah penuh perang tidak cocok untuknya... Akhirnya kutemukan jawaban itu di Bumi. Jepang, tanah yang paling tahu dan sudah merasakan dampak buruk dari perang. Kurasa mereka tidak akan sebodoh itu untuk mengulangi dosa yang sama... Karena itu kupikir dia akan aman di situ... Sampai waktunya tiba dia kupanggil kemari..."

"Selain itu penduduknya bermata dan berambut hitam, warna favoritku... Warna yang mengingatkan aku akan sahabat baikku... Daikenja... "

Matanya kini mengerling pada Murata. Murata menatapnya takjub.

"Aku sudah menyiapkan ini sejak lama. Sejak awal, kau juga adalah pionku. Terima kasih sudah melakukan dan menyelesaikan misi itu dengan baik. Berkat kau, aku jadi bisa melengkapi dan mengumpulkan pemegang kunci di satu generasi, di waktu dan tempat yang sama... Benar benar sesuai dengan keinginanku selama ini... "

Shinou tertawa puas.

"Saat seorang pemegang kunci mati, maka bayi sedarah yang lahir segera setelah kematiannya adalah pemegang kunci selanjutnya... Bukan begitu, Daikenjaku? Itu syaratnya, kan...?"

"Kau memang perancang strategi yang handal..."

Murata berkata lirih.

Shinou tersenyum puas.

"Menghubungkan tubuhmu sendiri dengan dua kotak terlarang yang kau miliki, dan nekat melewati batas ruang dan waktu... Kau memang adalah orang yang bernyali tinggi..."

"Tapi aku rupanya tidak cukup waspada. Seharusnya aku sudah bisa menduganya lebih awal... Karena kau... Selalu ingin mengumpulkan kepingan itu..." Murata berkata pelan. Pelan, dirinya berjalan ke depan, menuju pria itu.

"Para pemegang kunci harus dari garis keturunan yang berbeda, tapi dengan memanipulasi sang ratu terdahulu yang memiliki banyak kekasih... Dia berhasil membuat kalian bertiga menjadi saudara dengan ayah yang berbeda..."

Gwendal dan Conrad diam.

"Sementara itu, dia merencanakan kelahiran Shibuya dan aku di Bumi... Dan menyusun segalanya dari sini... Dan inilah hasilnya..."

Murata berhenti beberapa meter dari tempat pria itu.

"Maoh dengan hitam ganda, dan jiwa Daikenja yang terlahir kembali di jasad yang sama sama berambut dan bermata hitam..." Murata berucap lirih.

"Dasar bodoh! Kau hanya ingin memenuhi dan memamerkan pemujaanmu pada warna hitam ganda! Kau benar benar membuatku kesal!"

Tiba tiba suaranya meninggi.

Mereka yang menyaksikan kejadian itu seketika terkesiap.

"Ini kerajaanku dan kalian semua adalah pionku... Sudah kubilang kan, aku bukan orang suci... Aku bebas melakukan apapun yang kumau... Dan selama ini, toh kalian tunduk padaku... " Shinou tersenyum sumir.

"Sekarang tidak lagi, Raja Agung yang Terhormat... Kami tidak akan segan segan lagi membunuhmu...! "

Adalbert maju selangkah, mendekati pria itu.

"Kalau kau membunuhku, kuil ini akan meledak dan hancur. Kalian akan mati. Sementara bila kalian nekat meninggalkan tempat ini, maka istana itu yang akan meledak. Dua orang itu beserta orang orang di dalamnya akan tewas..." Shinou berkata perlahan, wajahnya datar.

"Aku sudah tidak peduli lagi... Akan kumusnahkan kalian semua... Lalat yang tidak berguna... Membunuh satu atau seratus orang tidak akan ada bedanya... "

Conrad terkesiap. Sadar sepenuhnya mereka semua telah dalam bahaya.

Yuuri...! Wolfram...!

Bersambung

--

Sebagian percakapan di sini diambil dari manga Maruma chapter 102, dengan pengubahan.