Yuuri melewati makan malamnya dengan hati gelisah. Makanan di dalam mulut dikunyahnya pelan pelan. Wajahnya tampak tidak tenang.

"Heika? Anda baik baik saja? Apa Anda merasa tidak enak badan? Kalau begitu Anda harus segera istirahat" Gisela menatapnya cemas. Wanita itu masih sibuk di ruangan itu.

Sejak tadi, Yuuri terus berada di sana. Bahkan memilih untuk makan malam di situ. Meski sempat heran, Gisela mengizinkan saja.

Wolfram masih berbaring di ranjang. Semakin lama, semakin dirasakannya tubuhnya memang sedang tidak bisa diajak kompromi. Setiap dia mencoba untuk bergerak, seluruh tubuhnya merasakan nyeri yang hebat. Pasrah, dia pun menerima kondisinya.

Baru setengah jam yang lalu, ketika Wolfram mencoba untuk mengangkat sendok untuk menyuapkan makanan ke mulut, tubuhnya seketika seakan menyatakan protes.

Yuuri yang melihatnya, telah bersikeras untuk membantunya makan. Meski Wolfram awalnya menolak, akhirnya dia luluh saat menyadari sorot mata tidak tega dari anak itu.

Berusaha keras menekan harga dirinya, Wolfram mendapati dirinya disuapi sang raja.

Dan kini giliran Yuuri yang makan malam. Namun rupanya ada sesuatu di kepalanya hingga membuatnya setengah melamun.

"Ah, tidak apa. Aku baik baik saja, Gisela" Yuuri menampik kecemasan wanita itu sopan. Yuuri segera mengalihkan perhatianya lagi ke nampan makan malam yang ada di pangkuannya. Didapatinya suapan terakhir di dalam sendok, yang langsung dimasukannya ke mulut.

Yuuri pun bangkit dari kursi.

"Gisela, terima kasih sudah mengizinkan aku terus berada di sini. Aku akan ke sini lagi nanti. Kuharap kau tidak keberatan" Yuuri berkata perlahan.

"Ah, tidak masalah, Heika. Anda boleh ke mari lagi bila Anda ada waktu" Gisela menanggapi hangat.

"Wolf, kau istirahat saja. Jangan memikirkan apa apa. Bila butuh sesuatu, jangan pernah sungkan padaku atau Gisela. Kami ingin kau segera sembuh" Yuuri menatap Wolfram lekat. Dihampirinya Wolfram yang berbaring di ranjang.

Wolfram mengangguk perlahan. Sebuah respon minimal yang kali itu membutuhkan usaha lebih. Entah karena rasa sakit di tubuh, atau rasa senang dan haru yang berusaha disembunyikan. Hanya dia yang tahu.

Terdengar suara pintu ditutup.

--

Yuuri tidak langsung beranjak dari balik pintu. Dirasakannya rasa tidak nyaman itu kembali hadir, kali ini bahkan semakin besar, sampai dadanya sakit.

Pertama kalinya dia merasakan hal yang seperti itu.

Sesaat kemudian, Yuuri berhasil mengenali perasaan ganjil itu.

Rasa takut.

Firasatnya benar benar menguasainya kali ini.

Yuuri pun berjalan perlahan, masih mencoba menekan perasaan tidak enak itu. Terbayang di kepalanya mereka yang telah pergi menuju tempat pria itu.

Dewa, tolong lindungi mereka... Lindungi kami...

Ketika mulai berjalan kembali, sayup sayup Yuuri mendengar suara detik jam.

Takut salah dengar, Yuuri pun berhenti di tengah lorong dan menajamkan telinga. Suara itu semakin jelas.

Tidak salah lagi. Dia memang mendengar suara detik jam.

Namun di lorong itu dan sekitarnya tidak ada jam apapun.

Kecuali pintu sebuah ruangan di ujung lorong, tidak ada apa apa lagi di situ.

Untuk sesaat, Yuuri menatap pintu itu lekat. Ada sesuatu di balik pintu itu yang Yuuri tidak sukai. Firasatnya semakin tidak nyaman.

Ditempelkannya sebelah sisi telinga ke daun pintu itu.

Suara detik jam.

Meneguk ludah beberapa kali, Yuuri mencoba memutar kenop pintu.

Ketika pintu itu dibuka, didapatinya ruangan remang remang yang cukup berantakan.

Ruangan sempit yang minim ventilasi itu segera membuatnya tidak nyaman.

Didapatinya meja kayu di pinggir ruangan. Di atas meja itu ada lilin lilin pendek yang ujungnya telah menghitam, tanda telah lama digunakan.

Kecuali itu, ada sebuah papan catur mengilap yang bidak bidaknya telah menggambarkan langkah rumit dalam permainan catur.

Berada di antara barang barang kusam di ruangan itu, membuat papan catur itu terlihat sangat mencolok.

Meja itu dilengkapi satu kursi. Andai di atas meja itu tidak ada papan catur,itu bukanlah pemandangan yang aneh.

Siapa yang bermain catur sendirian di tempat seperti ini?

Yuuri tahu pasti, semua pelayan dan prajurit penjaga di istana ini telah diberi kamar layak huni. Tidak ada yang sudi menempati ruangan pengap dan sempit seperti ini.

Yuuri mundur perlahan. Hawa di ruangan itu sungguh tidak enak. Dirinya ingin keluar.

Ketika itulah dirinya tidak sengaja menginjak sesuatu. Yuuri memungut perlahan benda itu.

Potongan bidak catur warna hitam.

Baru disadarinya bidak catur di papan itu telah hilang satu.

Dahi Yuuri mengerinyit heran. Kondisi kamar ini sama sekali tidak dipahaminya.

Ketika dia menatap dinding kamar, didapatinya sebuah lemari jam antik grandfather.

Di bumi, benda ini mungkin sudah termasuk barang antik yang layak masuk barang koleksi orang berduit. Namun di dunia ini, jam ini rupanya masih menjadi barang mewah biasa.

Yuuri hanya heran, kenapa jam sebagus ini malah disimpan di ruangan pengap seperti itu.

Suara jam ini rupanya yang dari tadi dia dengar dari luar.

Harusnya dia keluar saja dari ruangan itu sedari tadi. Toh, rasa penasarannya sudah terjawab. Persetan dengan kamar siapa ini. Itu bukan urusannya. Mungkin ini hanya gudang.

Andai Yuuri mau berpikir seperti itu.

Namun rupanya rasa penasaran itu belum terpuaskan. Sekaligus berusaha menghilangkan firasat buruknya, dipikirnya sekalian saja dia periksa semuanya. Sudah kepalang basah.

Yuuri pun memutuskan membuka batas kaca yang ada di tubuh jam antik itu.

Seketika membuka batas kaca itu, Yuuri mencium aroma terbakar dari situ.

Rasa syukur dan menyesal menyeruak tanpa ampun dari hatinya.

Firasat buruknya telah terbukti.

--

"Kalau kau membunuhku, kuil ini akan meledak dan hancur. Kalian akan mati. Sementara bila kalian nekat meninggalkan tempat ini, maka istana itu yang akan meledak. Dua orang itu beserta orang orang di dalamnya akan tewas..." Shinou berkata perlahan, wajahnya datar.

"Aku sudah tidak peduli lagi... Akan kumusnahkan kalian semua... Lalat yang tidak berguna... Membunuh satu atau seratus orang tidak akan ada bedanya... "

Conrad terkesiap. Sadar sepenuhnya mereka semua telah dalam bahaya.

Yuuri...! Wolfram...!

"Weller-kyo... Jangan memasang wajah tegang begitu..."

"Kau hanya perlu memilih : Nyawamu atau nyawa sang raja dan adik kecilmu tersayang...?"

"Pada akhirnya selama kita hidup, kita akan terus dihadapkan pada pilihan... Entah itu pilihan sulit atau mudah..."

Shinou terdiam sejenak sebelum melanjutkan,

"Kita selalu memilih : Aku memilih untuk menjadi raja atas kerajaanku sendiri, kalian memilih untuk mematuhi segala perintahku...

"Aku memilih untuk memuaskan hasratku, kalian memilih untuk menjalankannya untukku.

Apa kemudian aku pantas disebut jahat...?"

Shinou berkata lirih. Wajahnya kali itu muram dan terluka.

"Kita yang menentukan takdir kita sendiri. Meski akulah yang menyusun semua rencana itu, pada akhirnya kalian pun dapat memilih mau melakukan atau tidak..."

"Begitu pula dengan perang ini... Itu pilihan kalian, kan? Dan semua ini akan berakhir begitu kalian memilih pilihan kali ini... Aku sudah bosan memilih..."

Conrad diam. Wajahnya semakin menunjukkan amarah.

Dirasakannya gemerutuk gigi yang semakin sakit.

"Kau benar. Kita lah yang menentukan takdir kita sendiri. Justru karena itulah kemudian pilihan darimu itu jadi tidak berlaku. Pilihan yang ada bukan cuma dua, Yang Mulia... "

Adalbert berkata perlahan. Pedang besarnya telah terhunus.

Adalbert tiba tiba berlari ke arah pria itu.

Dan terjadilah hal itu.

Pedang telah menembus dada kiri pria itu. Tidak ada darah yang mengucur. Hanya ada raut wajah kesakitan dan terkejut yang menghiasi saat saat terakhirnya.

"Apa... Maksudmu...?"

"Kemungkinan itu tidak terbatas... "

"Kau itu... Pengkhianat yang aneh... Aku tidak akan menyerah... "

Tiba tiba mata Adalbert melebar. Giginya mengatup keras.

Shinou tersenyum lemah.

"Kita jadi sama sama tidak bisa melihat matahari besok pagi..."

"Huh, pada akhirnya salah satu dari kami harus mati... Yah, menurutku tidak akan ada yang menangisi kita berdua... "

Mereka semua terhenyak menyaksikan kejadian itu.

"Adalbert!" Conrad berlari ke arah pria itu.

"Jangan kemari...! Mereka lebih membutuhkanmu daripada aku! Julia juga bilang begitu... "

Suara Adalbert lirih. Tubuhnya mulai melorot ke lantai.

"Pergi, Conrad! Kalian semua harus selamat...!"

"Adalbert!"

"Cepatlah... Kuil ini... akan meledak... "

Yozak, Murata, Gwendal, dan Gunter sudah berada di ambang pintu keluar. Wajah mereka muram menatap Adalbert.

Conrad berbalik pergi. Hatinya sakit.

Sampai jumpa...

--

Suara ledakan itu sungguh memekakan telinga dan menghancurkan hati.

Wajah mereka muram menatap puing puing kuil itu dari pelana kuda yang melaju pergi.

Sesaat sebelum pergi, di tanah yang menghitam, Murata memungut sebuah serpihan kayu. Serpihan kayu yang amat dikenalinya.

--

Rasa syukur dan menyesal menyeruak tanpa ampun dari hatinya.

Firasat buruknya telah terbukti.

Yuuri tidak mampu menahan rasa takutnya lagi saat didapatinya bom di dalam lemari jam antik itu.

Yuuri segera berlari meminta bantuan.

--

Suara derap kuda menghujam tanah di tengah kegelapan malam itu.

Hanya satu permintaan mereka saat itu : Semoga mereka masih punya waktu.

Bersambung