Rombongan kuda itu melaju cepat di atas tanah, membuat tanahnya bergetar sedikit. Sementara langit telah gelap.

"Kalau kau membunuhku, kuil ini akan meledak dan hancur. Kalian akan mati. Sementara bila kalian nekat meninggalkan tempat ini, maka istana itu yang akan meledak. Dua orang itu beserta orang orang di dalamnya akan tewas..."

"Jangan kemari...! Mereka lebih membutuhkanmu daripada aku! Julia juga bilang begitu... "

"Pergi, Conrad! Kalian semua harus selamat...!"

Semua kilasan kejadian itu mengalir begitu saja di ingatan Conrad. Semua terjadi begitu cepat. Tanpa jeda, tanpa peringatan.

Mereka bahkan tidak punya firasat apapun tentang ini.

Salah satu dari mereka telah tewas...

Conrad memejamkan mata sekilas, lalu sorot mata itu berubah tajam.

'Dialah yang seharusnya mati, bukan kau...'

--

Suara ledakan terdengar tepat setelah mereka hampir sampai di gerbang istana. Bubungan asap hitam dan nyala api merah menyala, menyatu dengan langit malam.

Waktu habis

Api telah membakar setiap sudut dan tubuh bangunan istana Perjanjian Darah. Istana itu telah berubah menjadi lautan api.

Untuk sesaat, mereka terdiam di atas pelana. Bunga api memercik ke arah mereka, namun mereka tak lagi peduli.

Conrad segera turun dari kuda dan hendak berlari ke dalam, namun Gwendal langsung menahan tangannya.

"Conrad, jangan gegabah! Kau bisa tewas!" Suara Gwendal tegas dan keras, sangat berbeda dari dirinya yang biasanya.

"Aku tidak peduli! Mereka masih di dalam, aku harus pergi menolong mereka!" suara Conrad tidak kalah keras. Suara itu marah bercampur frustrasi.

"KAU MAU MATI KONYOL?!" suara Gwendal menggelegar di tengah malam itu. Wajahnya kaku.

Conrad terdiam, menatap wajah sang kakak dengan mata melebar.

Cengkraman tangan Gwendal pada Conrad mengendur, namun tidak dilepaskannya.

"Conrad, dengarkan aku. Bukan hanya kau yang ingin mereka selamat. Aku juga, mereka juga..." Gwendal menoleh ke belakang sekilas, ke arah Gunter dan yang lain.

"Aku mohon, jangan bertindak sendirian. Jangan gegabah. Mereka belum tentu...ada di dalam... " sorot mata biru yang keras itu melunak perlahan.

"Apa maksudmu...?" suara Conrad berubah lirih, seolah dia telah kehabisan tenaga.

Gwendal menghela napas sekilas, lalu tangannya menyentuh benda kecil yang ada di telinganya.

"Anisinna, kalian semua baik baik saja? Apa evakuasinya berjalan lancar?" suara Gwendal kembali tenang seperti biasa.

Selama beberapa detik, tidak ada jawaban.

"Anisinna, kau bisa mendengarku? Apa kau selamat?"

"...Ya... Kami... baik... saja..."

Meski suara itu terdengar samar dan putus putus, itu adalah suara dan kabar terindah yang pernah Gwendal dengar belakangan ini. Gwendal langsung mendesah lega.

"Kalian ada di mana...?" Gwendal bertanya lagi.

"Bawah... tanah... istana... segera... padamkan... apinya... merambat ke pemukiman..."

Gwendal mengerti. Mereka mengungsi ke ruangan bawah tanah. Anisinna minta untuk segera memadamkan apinya agar tidak semakin meluas ke bangunan penduduk. Diam diam, Gwendal memuji langkah cerdas teman kecilnya itu dalam hati.

"Baiklah. Tunggu dengan tenang di situ. Kami akan segera datang!" Gwendal mengakhiri percakapan itu dan mematikan alat yang menempel di telinganya.

"Sudah kubilang, kan? Mereka baik baik saja. Conrad, jangan pernah lagi kau ingin mati konyol! Aku sudah bosan menghadapi sifatmu yang begitu" Gwendal menatap Conrad lagi. Suaranya datar, tapi wajahnya tersenyum samar.

Conrad terdiam, kemudian mengangguk mengerti. Hatinya lega luar biasa mendengar kabar itu.

"Kita harus segera padamkan apinya! Aku akan menggunakan sihir tanah, kalian carilah air sebanyak mungkin!" Gwendal mulai memberi perintah. Yang lain mengangguk patuh.

Gwendal mulai mengeluarkan sihir tanahnya, sesuatu yang jarang dia lakukan. Dalam hati, Gwendal bersyukur tanah bisa menjadi alternatif air untuk menghentikan api.

Butuh waktu semalaman untuk memadamkan lautan api itu. Dengan sihir tanah yang sangat banyak, berember ember air, dan bantuan dari warga sekitar.

Istana Perjanjian Darah telah hangus terbakar. Temboknya pun hancur karena ledakan bom, sisa sisa terbakar menjadikan tampilan istana megah itu terlihat suram.

Pagi telah datang, menggantikan malam yang mencekam itu. Matahari bersinar terang, seolah berusaha mengusir kemuraman wajah mereka.

Murata teringat serpihan kayu yang ia pungut sebelum meninggalkan kuil itu. Serpihan itu kini ada di tangannya lagi. Murata menatapnya lekat.

Tidak salah lagi, ini adalah serpihan kotak itu... Kalau begitu ini bisa jadi harapan terakhir...

Mereka masih terdiam di depan puing istana. Menatap sisa bangunan itu dengan tatapan muram. Satu satunya hal yang mereka syukuri adalah tidak adanya korban jiwa dalam ledakan istana itu. Dan mereka sangat lega karenanya.

Namun bayangan Adalbert masih mengusik Conrad. Pria itu mungkin adalah satu satunya korban jiwa dari ini semua. Datang dan pergi semaunya, berlagak pahlawan, lalu mati. Mati untuk menolong mereka semua.

Entah harus dikatakan sebagai pria yang beruntung atau sial. Beruntung karena mati sebagai pahlawan dan sudah melaksanakan keinginannya, atau sial karena sudah mati begitu saja, tanpa ada peringatan sama sekali.

Kaulah yang paling berhak menilai...

Conrad terdiam menatap langit, seolah pria itu ada di sana.

Gwendal menyalakan benda yang menempel di telinganya lagi. Suara statis menyambutnya. Sesaat kemudian, dia bersuara lagi.

"Kami sudah memadamkan apinya, kalian bisa keluar. Tunggu kami, akan kami bantu"

"Terima... kasih... Cepatlah... tidak banyak... waktu... terluka... " suara Anisinna terdengar lirih dan tidak terlalu jelas. Gwendal dan yang lain bergegas ke pintu ruangan bawah tanah yang ada di salah satu lantai ruangan yang telah menghitam.

Yozak dan Gwendal segera membuka pintu besi tahan api itu. Besinya pun telah remuk di beberapa bagian, memperlihatkan dahsyatnya ledakan dan api yang berkobar tadi malam.

"Anisinna? Kami sudah di sini! Anisinna, dimana kau?" Gwendal mencoba memanggil Anisinna. Setelah menunggu beberapa saat, kepala wanita itu muncul dari bawah. Mereka mendesah lega.

"Kalian lama sekali! Banyak yang terjadi selama 24 jam. Heika tidak mau bicara, meski sudah dipaksa. Dialah yang menemukan bom itu pertama kali. Sesuai perintahmu Gwendal, aku segera bertindak begitu tahu di istana ini ada bom. Heika melapor ke Gisela, dan Gisela melapor padaku. Kami berdua, dibantu para pelayan wanita, memimpin evakuasi ini. Kuharap kalian punya rasa terima kasih pada kami, para wanita!" Anisinna berkata bangga di akhir, meski wajahnya tampak sedikit lusuh.

"Ya, aku benar benar berutang budi padamu. Berkat alat penemuanmu ini juga, kita bisa selamat. Aku jadi bisa segera melapor padamu. Keadaan Wolfram bagaimana?" Gwendal teringat keadaan saudaranya yang sedang terluka itu.

"Dacascos dan Amblin menggotongnya kemari, dia baik baik saja. Kau harus berterima kasih pada pasangan suami istri itu. Amblin bahkan masih sempat menyelamatkan beberapa berkas kerjamu, sungguh sekertaris pribadi yang hebat! Aku sudah bilang, tinggalkan semuanya, tapi dia tidak mau mendengar dan bersikeras" Anissina bicara lagi.

"Begitu... Syukurlah..." Gwendal mendesah lagi. Sorot matanya menghangat.

"Terima kasih, Anisinna. Sepertinya pandanganku padamu cukup berubah setelah ini" Gwendal menatap teman kecilnya tulus.

"Sudahlah, tidak usah bertele tele, bantu kami keluar. Akan aku mulai dari wanita dan anak anak" Anisinna berkata datar, berusaha menyembunyikan rona merah muda di pipi.

"Ya. Cepatlah sedikit" suara Gwendal pun kembali datar seperti biasa.

Murata dan yang lain yang menyaksikan semua itu telah berusaha menahan senyum untuk tidak menggoda dua orang itu.

"Ahhh... Anisinna-chan... sepertinya aku patah hati..." Yozak menatap mereka berdua dengan tatapan menggoda yang terlalu kentara, hingga membuat Gwendal salah tingkah.

"Grie Yozak, tidak usah bicara ngelantur!" Gwendal menatap Yozak tajam. Tapi mukanya tampak malu.

"Baik... Ah, Gwendal kakka mendahuluiku rupanya... " Yozak menjawab, masih berusaha menggoda tuannya. Suara dan tatapan matanya dibuat menggoda. Dan ini dilakukannya untuk menutupi perasaannya. Dia sedikit cemburu.

"Aku tidak mengerti maksudmu"

Yang lain akhirnya tidak tahan lagi untuk tidak tertawa. Tawa lepas pertama setelah sekian lama.

--

Setelah semua wanita dan anak anak keluar, kini giliran para prajurit yang sakit dan terluka. Beberapa dari mereka dalam keadaan kritis, yang segera ditangani lagi begitu mereka keluar. Untungnya, mereka semua selamat.

Akhirnya semua telah keluar, kecuali Gisela, Yuuri, Wolfram, dan Anisinna.

Yuuri menolak untuk keluar. Dia terlalu takut.

"Kami semua sudah membujuknya, tetap tidak berhasil. Sepertinya dia cukup syok dengan ledakan itu"

Itu yang dikatakan Anisinna.

"Biar aku yang jemput heika ke situ... " Conrad menawarkan diri.

"Aku ikut" Murata berkata pelan. Conrad mengangguk hormat.

Mereka berdua masuk melalui tangga batu yang menuju ke bawah. Ruangan itu pengap dan remang remang karena hanya diterangi lilin dan ventilasi kecil.

"Heika?" Conrad mencoba mengenali sosok rajanya di kegelapan. Yuuri menelungkupkan wajahnya di kedua tangan yang terlipat di lutut.

Tidak ada reaksi. Wolfram dan Gisela menatap Conrad penuh harap, seolah minta pertolongan.

"Heika, kami sudah pulang... Kami masih... hidup... " Conrad mengucapkan kata terakhir itu dengan sedikit tercekat. Bayang bayang Adalbert menghantuinya lagi.

Tidak ada reaksi. Yuuri masih diam.

"Yuuri... tolong katakan sesuatu..." suara Wolfram lirih. Anak itu berbaring di atas kain putih lusuh yang dihamparkan di situ.

"Shibuya, Shinou sudah... tewas... kita menang... kau tidak perlu cemas lagi..." Murata pun mencoba mengajak sahabatnya itu bicara. Suaranya lembut namun sendu.

Perlahan Yuuri mengangkat wajah. Wajah itu muram.

"Lalu...?"

Suara itu lirih dan terluka.

Untuk sesaat, Conrad dan Murata merasa merinding mendengar nada itu.

"Kita semua menang dan selamat. Kau harus naik ke atas dan menikmati cahaya matahari. Ayolah, Shibuya!"

Kali ini Murata berusaha terlihat ceria, khas anak SMA.

"Heika, yang lain sudah menunggu Anda di atas. Kami semua...selamat. Hanya istana saja yang... meledak..." Suara Conrad berubah pelan di akhir, tapi sepertinya Yuuri tidak menyadarinya.

"Apa semua ini ada artinya...? Aku yang memilih untuk berperang dengannya... aku yang sudah menghancurkan istana ini... menghancurkan rumah kalian... aku... " Yuuri berkata pelan. Matanya berair.

"Heika... Anda tidak perlu merasa bersalah... Saya sudah bersyukur selama Anda dan Wolf baik baik saja..." Conrad berkata lembut pada Yuuri dan Wolfram yang ada di depannya.

"Conrad... Maafkan aku... Aku raja yang gagal... Aku sudah menempatkan kalian semua dalam bahaya... Aku memang tidak pernah pantas jadi raja!" Tangis Yuuri pecah kali ini.

Mereka menatap Yuuri iba. Namun kemudian Conrad menepuk pundak anak itu.

"Heika... Tidak ada yang gagal. Anda bukan raja yang gagal... Anda raja yang tulus dan baik hati... Saya merasa sangat bersyukur bisa menjaga Anda sampai hari ini... Tolong jangan bilang Anda raja yang gagal, karena itu tidak benar... " Conrad berkata lembut, matanya menatap Yuuri lekat. Tangannya menggengam tangan tuannya hangat.

Yuuri perlahan luluh.

"Conrad benar. Kau bukan raja yang gagal. Kau raja yang baik, meski kadang pengecut..." Wolfram berkata lagi. Kali ini suaranya tidak selirih tadi.

"Aku bukan pengecut... " Yuuri menyahut lirih. Wajah sembabnya tersenyum tipis.

Mereka lega. Mereka pun naik ke atas.

--

Matahari sudah rendah saat mereka selesai mendirikan beberapa tenda darurat. Mereka pun memutuskan untuk makan malam setelah Yozak kembali dari hutan dengan membawa seekor babi hutan utuh dan seikat besar kayu bakar.

Selesai makan malam, mereka duduk mengelilingi api unggun di berbagai sudut, yang terbagi dalam beberapa kelompok.

Kelompok Yuuri yang terdiri dari Yuuri, Wolfram yang berbaring di dalam kantong tidur, (Awalnya dia tidak mau, tapi Gisela memaksanya dengan ancaman, hingga Wolfram setuju), Conrad, Murata, Gwendal, Gunter, dan Yozak pun duduk melingkar mengelilingi api unggun.

"Sudah lama aku tidak menatap api unggun begini. Terakhir mungkin saat malam festival kebudayaan SMP dulu. Rasanya pun tidak seperti ini" Murata mencoba membuka percakapan.

"Ah, benar juga. Aku jadi kangen rumah... Sejak petualangan kita di Seisakoku, aku belum pulang ke bumi lagi... Bagaimana kabar mereka, ya...?" Yuuri bergumam pelan.

"Mereka baik baik saja, Shibuya. Kakakmu sehat, dia bahkan sedang akrab dengan wanita bernama Abigail... " Murata menjawab kalem.

"Siapa itu Abigail...?" Yuuri menyahut.

"Abigail Graves... Dia... hmm... dia cicitnya Richard Dueter dan April Graves..."

"Siapa itu...?"

"Richard Dueter adalah, bisa dibilang, pemegang kunci kotak terlarang yang pertama, dan dia adalah leluhurmu, Weller-kyo..." Murata berkata pelan, matanya menatap Conrad serius.

"Apa...?"

"Mungkin sudah saatnya aku menceritakan tentang ini, ya... Ini adalah ingatan sosok reinkarnasiku yang lain... Akan aku ceritakan pada kalian semua, asal mula empat kotak terlarang itu... "

Bersambung

--

Catatan :

- Amblin adalah sekertaris pribadi Gwendal dan istri Dacascos. Namanya hanya pernah disebut di novel dan beberapa drama cd. Tubuhnya besar.

- Di beberapa sumber resmi, Yozak disebutkan naksir dengan Anisinna

- Abigail Graves bertemu dengan Shouri di novel (Seisakoku arc) , mereka bersama dengan Bob, berusaha mencari kotak terlarang, Kagami no Minasoko. Abigail memang cicit Richard dan April. Dia adalah bule yang sangat menyukai kebudayaan Jepang.

--

Akhirnya bisa menulis lagi setelah sekian lama...

Ada banyak sekali urusan di dunia nyata, hingga saya harus vakum menulis di Wattpad. Namun, akhirnya saya bisa kembali punya cukup waktu untuk meneruskan fanfic ini. Chapter selanjutnya akan sedikit rumit, saya harap saya bisa menulisnya lebih cepat.

Terima kasih sudah bersedia menunggu.