Aku mengintip dari balik pojokan dan memulai memindai halaman sekolah.
Periode kedua, ketiga, keempat telah usai tanpa masalah, jadi yang tersisa adalah makan siang dan dua periode. Setelah itu, aku bisa pulang dan mengakhiri hari penderitaan. Namun, tinggal tersisa beberapa jam sebelum sekolah selesai, beberapa jam untuk semuanya yang memungkinkan semuanya hancur. Aku tahu aku harus tetap waspada.
Di seluruh halaman, berates-ratus murid mengobrol di bermacam meja-meja dan bangku-bangku. Namun, seperti kebanyakan hari, banyak murid-murid youkai memilih untuk ke atap sekolah untuk menikmati makan siang mereka, keuntungan dari kemampuan untuk terbang dan sebagainya. Maksudku, beberapa manusia ada yang bisa terbang juga kalau mereka memiliki niat untuk belajar dan memiliki kemampuan sihir, tapi semua youkai sepertinya lahir dengan kekuatan untuk melayang.
Seperti kubilang, youkai adalah aneh.
Tapi sekarang, ada sebuah grup youkai yang spesifik yang aku sedang awasi. Yang mana adalah anggota-anggota Klub Catur SMA Gensokyo.
Sekarang aku tahu apa yang kalian pikirkan, "Klub catur? Serius? Bahaya apa yang mungkin mereka wakili?"
Jawaban untuk itu, "Aku bisa menjamin kalian tidak pernah bertemu dengan murid-murid klub catur seperti ini."
Di antara semua murid di SMA Gensokyo, di antara semua grup, Klub Catur SMA Gensokyo adalah yang paling aneh, dan itu bukan karena keahlian mereka di permainan papan kuno juga. Tidak, semua orang di SMA Gensokyo tahu kalau apapun yang terjadi di ruang klub itu tidak terlibat dalam catur sedikitpun.
Jadi mereka terlibat dalam apa, kalau bukan catur? Well, pertanyaan itu sulit untuk dijawab, tapia da rumor-rumor. Beberapa ada yang lebih dipercaya dari lainnya, yang dimana rumor terkadang, konsensus yang lebih umum adalah mereka semacam grup detektif. Yang mana menejelaskan kenapa mereka selalu mengintai sekitar dan menanyakan pertanyaan aneh, tapi itu tidak menjelaskan perilaku aneh mereka. Pendapatku adalah mereka mungkin sejenis mafia rahasia yang membuat murid-murid "menghilang" jadi organ mereka bisa dijual di pasar gelap, tapi tidak ada yang konkrit.
Bagian dari alasan kenapa Klub Catur tidak pernah menerima anggota baru. Faktanya, sepuluh murid yang sama tetap menjadi anggota Klub Catur satu-satunya selama aku di sini:
Remilia Scarlet, Reimu Hakurei, Marisa Kirisame, Sakuya Izayoi, Alice Margatroid, Youmu Konpaku, Reisen Udengein Inaba, Sanae Kochiya, Hong Meiling dan yang terakhir… Patchouli Knowledge.
Yeah, sekarang aku mengerti kenapa aku sedikit paranoid jika bertemu Klub Catur, terutama mengingat bagaimana Patchouli bersikap ke aku pagi ini. Aku tahu jika ada apapun yang benar-benar dapat menghentikan kesempatan aku secara permanen untuk hidup dengan damai dan tentram, yang mana itu terlibat dan kemungkinan dibunuh oleh Klub Catur. Orang mati tidak dapat menjalani kehidupan sama sekali, apalagi yang normal.
Itulah mengapa aku kecewa melihat tidak ada satupun anggota Klub Catur di halaman hari ini yang mana artinya mereka mungkin masih berkeliaran di sekitar sekolah, tidak diragukan membuat masalah.
"Jadi, apa yang sedang kita lihat sekarang?" Aku melompat di saat sebuah suara yang aku kenal baik berbicara dari belakang aku, dan tidak, kali ini bukan Patchouli. Itu adalah orang yang aku sedang coba hindari seperti wabah sejak pagi ini, tapi sepertinya takdir akhirnya telah menangkap aku.
Aku dengan perlahan berputar untuk menghadap orang ini. "H-halo, Kepsek Yakumo." Aku akhirnya menjadi gagap.
Apa kalian ingat ketika aku bilang Klub Catur adalah yang paling aneh? Yeah, well, akua gak berbohong, karena Yukari Yakumo, adalah orang yang berdiri di depan aku dan kepala sekolah, bagaimanapun lebih aneh. Sebuah teka-teki, tak satupun, bahkan Klub Catur tidak tahu apapun tentang dia. Selain itu dia adalah youkai yang punya kemampuan untuk membuka portal (atau "celah" yang dia panggil) di manapun dia mau. Oh, dan dia punya kecenderungan untuk memakai topi-topi aneh.
Benar, tidak ada satupun yang tahu tentang Ny. Yakumo, tapi semua orang tahu untuk takut kepada Ny. Yakumo. Kemampuan dia membuat menjadi kekuatan yang harus dipertimbangkan, tidak ada satupun tempat di seluruh sekolah yang dia tidak bisa muncul di saat kalian tidak mengharapkannya. Tapi bagian yang mengerikan tentang Ny. Yakumo adalah semuanya terlihat berjalan sesuai dia. Yang mana bisa dikatakan, tidak peduli apapun, dia sepertinya selalu punya rencana sakti.
Mengintimidasi, cerdas, namun selalu sedikit main-main juga. Itulah Yukari Yakumo, sebuah kombinasi dari sifat-sifat kepribadian yang tidak pernah sekalipun membuat aku menggigil.
"Kamu terlihat sangat mencurigakan hari ini, Tn. Coates. Saya percaya kamu kamu tidak merencanakan sesuatu yang jahat~?" Ny. Yakumo bertanya dengan nada sindiran seperti biasa.
"Ti-tidak! Tentu saja tidak, itu menentang semua ideal-ideal Saya!" Aku menjelaskan dengan cepat.
"Ah, yes… tentu saja, 'ideal-ideal' kamu. Apa saja mereka? Untuk tetap tidak terlihat selama mungkin?"
"Seperti itulah, ya."
Ny. Yakumo menggembungkan pipinya sedikit. "Bukankah itu membosankan? Saya bersumpah Saya tidak akan pernah mengerti kalian manusia. Terlepas dari itu, bukankah kamu seharusnya mengambil makan siang alih-alih mengkhawatirkan 'ideal-ideal'?"
"Ah, tidak perlu, Saya membawa bekal makan siang!" Aku berkata, sambil memegang kotak makan aku.
Aku tidak pernah membeli makan siang di sekolah, terutama karena aku harus mengantri setidaknya beberapa menit di tengah halaman yang penuh dengan murid-murid. Tentunya akan ada beberapa mata yang mengarah ke aku, yang dimana orang-orang akan berbicara mengenai aku, tentu saja tanpa keraguan akan menyebabkan kehancuran- well, kalian tahu lah.
"Saya bisa lihat kamu telah mempersiapkan untuk membuat kontak manusia sesedikit mungkin," Ny. Yakumo berkata, dalam nada agak kecewa. "Tapi, Saya penasaran, apakah kamu tidak pernah merasa kese-"
"Tidak." Aku menjawab sebelum Ny. Yakumo selesai berbicara.
Ny. Yakumo cemberut, sebelum akhirnya memasang senyumnya yang seperti biasa. "Baiklah, tidak ada peraturan yang melarang menjadi orang tertutup. Tapi Saya harus memperingatkan kamu…" Ny. Yakumo tiba-tiba jatuh ke dalam salah satu portalnya.
"Suatu hari kamu akan mengerti kalau kesendirian tidak menyenangkan seperti yang kamu pikirkan," dia berbisik ke telingaku dari belakang.
"Gah!" Aku menjerit dan jatuh ke depan dengan terkejut sebelum berputar menghadap dia, hanya melihat dia cekikikan.
"Well, itu hanya sebuah pemikiran," Ny. Yakumo berbalik dan berjalan ke arah halaman. "Selamat makan siang!" Dia berteriak sambil melambaikan tangannya.
Aku mendesah dengan lega, akhirnya, mimpi buruk telah usai dan aku bisa menikmati makan siangku dengan damai. Untungnya, sekolah tidak punya peraturan tempat di mana kamu bisa dan tidak bisa makan, dan selama bertahun-tahun aku bisa menemukan beberapa titik di mana orang-orang hapir tidak pernah kunjungi. Aku bersiap untuk ke salah satu titik-titik tersebut, namun, sebelum aku bisa…
"Oh! Satu hal lagi!" Ny. Yakumo mengeluarkan kepalanya melalui dinding yang di sebelah aku dengan salah satu portalnya.
Aku berteriak dan terjatuh di bokong aku karena terkejut, tapi Ny. Yakumo sepertinya tidak peduli. "Jangan pikir Saya tidak tahu kamu terlambat pagi ini, anak muda. Saya tidak menghukum kamu karena ini pertama kalinya kamu telat, tapi jangan diulang lagi!" Dia berkata, dengan usaha gagal dalam nada disiplin.
"Lagi, selamat menikmati makan siangmu!" Ny. Yakumo memasukkan kepalanya lagi ke dalam portal, lalu tertutup seketika.
Aku berdoa aku tidak akan pernah bertemu dia lagi.
Remilia Scarlet, si iblis merah dan presiden klub, memandang kondisi ruangan Klub Catur SMA Gensokyo, dan dengan cepat menyadari bahwa beberapa anggota… absen.
"Marisa?" Remilia memanggil si penyihir sederhana dan bendahara klub, Marisa Kirisame, yang sedang serius dengan handphonenya.
"Yeah? Ada apa, Remi?" Marisa menjawab tanpa melepas matanya dari layar HP, yang membuat Remilia kesal.
"Dimana Reisen?" Remilia bertanya, mencoba untuk menahan frustrasinya.
"Uh… kenapa kamu nanya aku, ze?" Marisa, akhirnya melihat Remilia.
Remilia menghela nafas kesal. "Jadi apakah ada yang tahu dimana Reisen?" Dia bertanya kepada anggota lainnya.
"Oh, aku tahu dimana Reisen, ze! Hanya ingin tahu kenapa kamu nanya aku secara spesifik," Marisa berkata dengan seringai di mukanya.
Remilia sedikit lagi ingin menampar dia. "Oke, 'ze'! Terus coba kamu beritahu aku dimana Reisen, 'ze'!" Remilia berteriak, dengan impresi buruk suara Marisa.
Namun, sepertinya Marisa tidak sadar atau tidak peduli. "Oke! Reisen sedang sakit," Dia menjawab dengan riang.
"Sakit!? Lagi!?" Remilia bertanya tidak percaya. "Hanya empat hari sejak terakhir kali dia sakit!"
"Yeah, Reisen sering sekali sakit," Marisa berkata santai. "Hei, lihat nih meme yang aku temukan," Marisa sebelum berkata sebelum suara notifikasi Discord berbunyi dari hp yang lainnya.
Remilia akhirnya mengambil hpnya Marisa. "Tidak ada meme! Ini meeting serius!" dia mendidih.
"Kamu tahu kalau dia memancing-mancing kamu lagi, ya kan Presiden?" Sakuya Izayoi, sekretaris klub yang sangat loyal, bertanya.
Si gadis kuil merah dan wakil presiden, Reimu Hakurei, memutar matanya. "Jujur saja, kapan dia tidak mancing-mancing orang?" dia menunjukkan.
Seringai Marisa melebar.
Remilia bisa merasakan sakit kepala hebat muncul. "Terlepas dari itu, Reisen tidak ada di sini, bagaimana dengan Youmu? Di mana dia?"
"Ah, aku bisa menjawab itu," Si youkai penyihir penyayang-boneka, Alice Margatroid, merespon. "Beberapa anak laki-laki berpikir akan lucu menarik ekornya Myon saat istirahat periode ketiga. Jadi Youmu… well, dia sekarang ditahan, hanya itu saja."
"Dan aku membayangkan kalau anak itu sedang di kantornya Eirin dengan Reisen?" Reimu bertanya.
Alice mengangkat bahu. "Apapun yang tersisa dari dia kurasa," dia berkata sebelum kembali mengagumi boneka yang di tangannya.
Remilia mencubit batang hidungnya. "Baiklah, aku mungkin menyesal bertanya, tapi bagaimana dengan Sanae?"
"Ke dokter gigi," si penyihir penderita asma, Patchouli Knowledge, menjawab singkat.
Remilia memukul tangannya ke meja ruang pertemuan, membuatnya bergoyang sangat hebat. "Jujur saja, kalian pikir ini adalah sebuah permainan?! Kita sedang berurusan dengan kasus terbesar yang pernah kita dapatkan dan tiga dari anggota kita bahkan tidak ada!" Dia berseru marah.
Patchouli mendengus dan menutup bukunya sebelum menatap Remilia. "Kita tidak butuh mereka," dia berkata.
Patchouli mengambil sebuah binder dari dalam tasnya dan menaruhnya di meja, yang mana menunjukkan peta seluruh Gedung sekolah yang rumit. (Darimana Patchouli dapat peta itu hanyalah tebakan orang lain.)
"Menurut apa yang kita tahu mengenai kemampuannya Wakabayashi, dia hanya punya satu dari empat lokasi untuk kabur sekalinya kita kepung dia," Patchouli menunjuk ke sebuah persegi yang menandakan ruang rehat sekolah. "Yang mana adalah lorong di luar, Ruang 108, Ruang 109 di sebelah kiri, dan ruangan yang tepat di atas, Ruang 208."
"Aku dan boneka-bonekaku bisa melindungi bagian lorong dengan mudah," Alice berkata.
"Sepertinya tinggal 108 dan 109 untuk aku dan Reimu," Marisa menambahkan, merenggangkan lengannya untuk persiapan.
"Dan aku akan melindungi Ruang 208 sedangkan Patchouli menghadapi Wakabayashi di ruang rehat, benar" Sakuya bertanya.
"Dan selamat jalan, Tn. Waka!" Marisa berseru. "Ah, leganya, aku selalu membenci orang itu, ze."
"Kalian cepat mengerti." Patchouli menutup bindernya dengan senyuman lega.
"Jadi, kita semua tahu dengan rencananya? Bagus," Remilia berkata dengan gaya pimpinan militer yang bangga, walaupun dia hamper tidak melakukan apapun. "Mari kita ambil bukti itu."
Itu adalah rencana yang sempurna, Remilia berpikir, tidak ada rangkaian kebetulan yang tak tanggung-tanggung dan benar-benar tak terduga yang melibatkan kekuatan luar yang belum diketahui yang dapat menyebabkannya gagal.
"Ack!" Aku mendengus saat aku menyenggol dengan seseorang, membuatku menjatuhkan kotak makan siangku. "Maaf, maaf! Aku tidak melihat jalan!"
Kalau saja Ny. Yakumo tidak membuatku sangat gugup, aku mengutuk dalam hati.
Saat aku mendongak ke atas, jantungku langsung jatuh.
Bagus sekali, ini hanya orang terburuk ketiga yang kemungkinan aku bertemu hari ini.
"Tn. Coates!" Tn. Waka berteriak marah.
"Oh tidak! Tn. Waka, maafkan Saya!" Semburku.
Tn. Waka mendekat aku, cemberut mengancam. "Panggil aku Tn. Wakabayashi, bocah."
Aku mengecil kembali. "Be-benar! Maaf Tn. Waka- maksud Saya, Tn. Wakabayashi! Saya tidak melihat ke mana Saya jalan," Aku mengulang.
Mr. Waka menggeram. "Yah, Saya bisa lihat itu. Dengar, Saya berbuat baik kepadamu setelah kamu terlambat hari ini, tapi jangan pikir kamu kasus khusus. Kamu sama seperti dengan murid payah lain di sekolah ini," Tn. Waka mengancam, beberapa inci dari muka aku.
"Ten-tentu saja, Tn. Wakabayashi, Saya tidak akan menjadi yang lain!" Aku berseru, dengan jujur.
Tn. Waka terlihat sangat bingung untuk beberapa saat. "Yah, terserahlah." Dia mengambil kotak makannya. "Aku harus pergi ke suatu tempat, minggir."
Dengan itu, Tn. Waka mendorong aku dan berjalan ke Tuhan yang tahu di mana.
Aku berdoa agar aku tidak melihatnya lagi.
Tetap saja, aku pikir kita punya satu hal yang mirip, aku berkata dalam hati sambil mengambil kotak makan punyaku.
Tampaknya, kita punya selera kotak makan yang sama. Ah, aku harus berhenti menyamakan diri dengan Tn. Waka. Lebih baik jika kita tidak sama sekali.
Huh… ngomong-ngomong, bukankah kotak makan aku terasa lebih berat dari biasanya? Eh, mungkin hanya imajinasiku saja.
