Semua karakter milik masashi kishimoto
Tapi cerita ini milik saya
.
.
.
.
"Aku pikir.. Aku terlalu berlebihan" Naruto, berbicara sendiri, Ini sudah hampir malam. Dan dia masih ada di hutan. Kepalanya sangat pusing saat ini.
Kage bunshin yang dia kirim ke perpustakaan, Baru saja dia hilangkan. Berbagai macam hal baru yang secara serentak masuk ke dalam otaknya, membuat nya hilang kesadaran beberapa saat, dalam artian pingsan.
Biasanya efeknya hanya akan menyebabkan sakit kepala, Naruto tidak menyangka hanya gara-gara dua bunshin dia bisa pingsan.
Mungkin itu bukan penyebab utamanya, hari ini dia melatih kekuatan fisiknya. Dia ingin tau seberapa besar staminanya, seberapa besar kekuatan tubuhnya, dan seberapa besar mentalnya untuk tetap melanjutkan siksaan yang dia buat sendiri.
Naruto juga ingin tau seberapa banyak chakra yang dapat dia keluarkan, dia terus-menerus mengeluarkan chakranya.
Sampai tangannya gemetar, kakinya gemetar, Sampai dia tidak bisa berdiri lagi, Naruto ingin mempersiapkan dirinya matang-matang.
Dia tau dunia ninja itu keras. Naruto tau mungkin di masa depan, dia akan melawan musuh yang sangat kuat, Jika dirinya sudah kelelahan atau pun kehabisan chakra lebih dulu dari pada musuhnya, maka habislah dia.
Oleh sebab itulah dia juga melatih fisiknya sampai batas maksimal, dan mencoba memperbesar kapasitas chakra yang dia miliki.
Dan beginilah akhirnya, bahkan setelah 15 menit berlalu, diam telentang, Naruto masih tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
Naruto benar-benar lelah hari ini, perutnya sangat lapar, dia ingin pulang, memakan sedikit makanan miliknya yang ada di kulkas. Atau pergi ke kedai ichiraku, menikmati Mei ramen yang sangat lezat itu, tapi dia tidak bisa, mungkin bermalam disini juga tidak buruk.
Suasana hutan sangat sepi, hawa dingin mulai terasa, meskipun tidak sedingin hatinya saat ini.
Diam memandangi langit, langit orange menjelang malam, dia ingin bertemu seseorang, Naruto sedang merindukan Tsunade.
Naruto ingin melihat wajahnya, dia ingin melihat senyuman Tsunade, dia ingin mendengar suaranya, dia merindukan saat jemari lentik itu membelai wajahnya.
Dia merindukan semuanya tentang wanita itu.
Saat dia sadar, air matanya sudah mengalir, jatuh membasahi tanah. Dia langsung mengusap matanya, perasaan ini tidak boleh mengganggunya.
Dia harus sabar, Tsunade bilang dia akan kembali menemuinya, dia tidak boleh meragukannya.
"Aku pikir kamu sedang beruntung" lamunannya terhenti, Naruto menoleh ke arah sumber suara, di sana ada seorang gadis yang berjalan ke arahnya, menghampirinya lalu berjongkok di sampingnya.
Ino benar, dia sangat beruntung "Aku sudah memperingatkan mu, jangan terlalu berlebihan" ini bukan pertama kalinya dia menemukan Naruto dalam keadaan seperti, Ino tidak habis pikir, dia sudah berulang kali mengatakannya, tapi anak ini seperti tidak punya telinga.
Ino agak gemas dengan orang ini, akhir-akhir ini Naruto selalu berlatih lebih keras dari biasanya, dia tidak tahu kenapa, bahkan Naruto tidak memedulikan keadaan tubuhnya.
Ino pikir mungkin ada sesuatu yang mengganggu pikiran Naruto, sehingga dia berusaha melupakannya dengan cara berlatih sekeras mungkin, berusaha melarikan diri.
Dia juga melihatnya, mata Naruto agak sembab, apa mungkin dia baru saja menangis. Ino hanya diam akan hal itu. Ino pikir dia tidak perlu menanyakan apa masalahnya kali ini. Dia merasa tidak perlu ikut campur.
Karena dia tau, hanya dengan melihat matanya saja Ino sudah mengerti, mata redup penuh dengan kerinduan.
Ino akan membiarkannya, membiarkan Naruto menyelesaikan masalahnya sendiri, atau mungkin Naruto sendiri yang akan membicarakannya padanya, jika itu terjadi, Ino akan dengan senang hati mendengarkan keluh kesahnya.
Ino kemudian membantu Naruto berdiri, membantunya untuk berjalan, "maaf karena selalu merepotkan mu" akhir-akhir ini Ino memang selalu datang pada saat-saat seperti ini.
"Itu fungsinya teman" Naruto pikir saat Ino pertama kali menemukan dirinya dalam keadaan seperti ini hanya lah sebuah kebetulan, karena Ino juga berlatih di hutan yang sama.
Tapi kejadian ini terjadi berkali-kali, Ini seperti Ino tahu, bahwa dia sedang membutuhkan bantuan. Jujur saja Naruto sangat senang sekaligus merasa bersalah akan hal ini, dia senang karena mengetahui bahwa ada orang yang selalu ada membantunya saat dalam keadaan susah. Dan Dia merasa bersalah karena selalu saja merepotkan Ino tanpa bisa membalas kebaikan gadis ini.
Misalnya saja saat ini, mereka sudah sampai di rumahnya. Ino sedang memasak dengan bahan makanan seadanya. Sedangkan Naruto sedang mandi membersihkan tubuhnya.
selalu saja seperti ini, Naruto sudah pernah bilang bahwa Ino tidak perlu memasakkan makanan untuk nya, dia bisa melakukannya sendiri.
Tapi Ino tetap bersikeras melakukannya, seperti ini sudah menjadi kebiasaannya. Ino benar-benar gadis yang baik.
Meskipun Ino masih anak-anak seperti dirinya, menurutnya Ino sudah sangat hebat dalam urusan memasak. Aroma enak langsung tercium saat Ino datang membawakan beberapa makanan padanya "makanan siap!".
Dengan sigap Ino menata makanan di meja "a-apa?" dia sadar Naruto sudah memperhatikannya sedari tadi, melihat Naruto yang seperti itu, Ino jadi ingat Sakura yang selalu memperhatikan apa pun yang ada di sekitarnya.
sedangkan Naruto, dia masih tetap diam memandanginya dengan saksama, bahkan tanpa berkedip sama kali, Ino merasa wajahnya sudah memerah sekarang, dia malu di tatap terus seperti itu.
Naruto mengalihkan pandangannya pada makanan di depannya "Aku merasa sudah seperti memiliki seorang ibu" Ino tersenyum mendengar itu "sudah lah berhenti memandangi ku, dan cepat makan" seorang ibu? Ya dia memang akan menjadi seorang ibu nantinya, oleh sebab itu lah dia belajar mengurus rumah, belajar memasak, belajar memahami perasaan orang lain, agar dia bisa menjadi istri yang baik nantinya.
"Aku harus segera pulang, kamu harus menghabiskan semuanya" ini sudah malam, Ino tidak boleh pulang terlalu malam, orang tuanya sudah memberi batas jam keluar malam, dia harus pulang sebelum jam delapan malam. Kalau tidak orang tuanya pasti memarahinya.
"Ya, hati-hati di jalan" selepas kepergian Ino, Naruto langsung memakan makanan yang di buat gadis itu, terlihat sederhana memang, tapi ini begitu spesial baginya, dia akan memakan makanan apa pun yang di masak Ino, karena ini adalah sebuah kebaikan yang kesekian kalinya dia terima dari gadis itu.
Perutnya sekarang sudah kenyang, tenaganya mulai terisi kembali, tapi badannya masih terasa sakit, dia ingin segera tidur sekarang, berharap tubuhnya kembali bugar besok, berharap malam ini dia bisa bermimpi indah..
.
Umurnya sudah menginjak dua belas tahun, tinggal tiga hari lagi akan di adakan ujian kelulusan genin, Naruto sudah mempersiapkannya dengan matang, semua latihan yang dia jalani akan berguna sebentar lagi.
Untuk dua hari ke depan dia tidak ingin berlatih, dia ingin mencari sebuah senjata yang cocok untuknya, mungkin sebuah pedang pendek tidak buruk.
Beberapa hari yang lalu, Naruto melihat Anbu yang biasa mengawasinya, seorang Anbu wanita, dia berlatih menggunakan pedang dengan seorang jounin konoha, dia tidak tahu siapa itu.
Naruto yang melihatnya tentu saja terkesima, itu terlihat begitu indah dimatanya, semua gerakannya terlihat begitu memukau.
Oleh sebab itulah dia mulai tertarik untuk menggunakan pedang, dan menurutnya pedang pendek akan sangat cocok dengannya, dia akan tetap bisa bergerak leluasa saat memegang pedangnya.
Dan jika dia ingin mempelajari cara menggunakan pedang, itu artinya dia harus memiliki pedang terlebih dahulu. Hari ini, Dia sudah berniat untuk membelinya, tapi...
Sedari tadi dia sudah berkeliling desa mencari toko persenjataan yang ada di konoha. Memang benar dia sudah menemukan beberapa toko persenjataan ninja, tapi saat dia masuk malah di usir oleh pemilik toko, Naruto tau akan berakhir seperti itu.
Meskipun begitu dia akan terus mencoba, saat ini dia sedang berdiri di sebuah toko bernama toko senjata tenten, Ini adalah toko terakhir yang belum dia kunjungi, Naruto berharap hasilnya akan berbeda.
Saat Naruto membuka pintu, bel pertanda adanya pelanggan berbunyi, "selamat datang!" dan suara seorang anak perempuan menyambut kedatangannya.
ternyata penjaganya anak perempuan, sepertinya gadis ini hanya sedikit lebih tua darinya, mungkin dia anak pemilik toko ini "Apa ada yang bisa aku bantu?" Naruto hanya diam berdiri di depan pintu, dia sedang menunggu.
"permisi?" Tenten kembali bersuara, mencoba menyadarkan anak di depannya, anak itu hanya diam berdiri di depan pintu, apa anak ini salah masuk toko?, dilihat dari penampilannya mungkin tidak.
"kau tidak akan mengusirku kan?" Akhirnya anak ini mau bicara, dan mengusir? Apa maksudnya?. "apa kau yang bicarakan?, mana mungkin aku mengusir pelanggan". Tenten tidak mungkin mengusir Seorang pelanggan, ayahnya bilang perlakukan pelanggan sebaik mungkin, tidak peduli siapa pun itu, tidak peduli dari kalangan mana pun, pelanggan tetaplah pelanggan, jadi mana mungkin dia mengusirnya.
Dan dia juga tahu siapa anak ini, "jadi apa yang kau cari?" Naruto masuk ke dalam toko, dia melihat sekelilingnya, di dalam sana terdapat berbagai macam senjata "Aku pikir kau akan mengusirku" lagi-lagi masalah pengusiran, dan untuk kesekian kalinya pertanyaan Tenten di dihiraukan oleh Naruto, Tenten menghembuskan nafas panjang, mungkin anak ini sudah di usir oleh beberapa pemilik toko senjata yang lain yang telah dia kunjungi, oleh sebab itulah dia selalu menanyakan soal pengusiran, kalau itu benar Tenten mengerti akan hal itu.
"Jadi, apa yang kau cari?" sekali lagi Tenten menanyakannya, dan jika anak ini berbicara soal pengusiran lagi , Tenten berjanji akan memukul kepala anak ini supaya dia sadar kalau toko milik keluarganya selalu memperlakukan pelanggannya dengan baik, dan tenten juga harus sadar kalau memukul pelanggan itu akan merusak citra tokonya.
"Aku mencari pedang pendek" mendengar itu Tenten langsung saja menuntun Naruto ke rak khusus pedang pendek, di sana ada cukup banyak pedang pendek, Naruto bingung memilih yang mana "Apa ada pedang yang ramping dan agak berat?".
Pedang pendek yang ramping dan cukup berat. Tenten tahu itu, dan pedang itu hanya ada satu di tokonya, pedang pendek berwarna hitam legam, pedang itu memiliki kualitas yang sangat bagus, tapi karena bobotnya yang berat dengan ukuran yang kecil, itulah sebabnya membuat orang lain tidak ada yang mau membelinya "kami punya satu pedang yang seperti kau maksud, tapi harganya..." dan tentu saja harganya juga mahal, Tenten yakin Anak seumuran Naruto tidak punya uang yang banyak, apa lagi Naruto itu masih anak akademi.
"mahal ya.." Naruto sedikit kecewa mendengarnya, di sana tertera satu juta sembilan ratus ribu ryo, dia sudah menduganya kalau harganya akan sangat mahal "jika kau baru ingin belajar, bagaimana kalau memulainya dengan pedang dengan kualitas menengah" Tenten berjalan ke sisi kiri rak dan mengambil sebuah pedang "pedang ini kualitasnya cukup bagus, harganya juga jauh lebih murah dengan pedang itu".
Tenten mencabut pedang itu dari sarungnya, pedang mata dua, berwarna hitam dengan garis biru di tengahnya, dengan gagang berwarna hitam, panjang nya hanya sekitar 80 cm, bentuknya juga terlihat elegan, Tenten menyerahkan pedang itu pada Naruto.
Membiarkan Naruto mencobanya, Melihat Naruto beberapa kali mengayunkan pedang itu, anak itu terlihat cocok dengan pedangnya, dan sepertinya Naruto juga merasa nyaman menggunakannya "berapa harganya?".
"Hanya seratus ribu ryo" Naruto merasa nyaman menggunakan pedang ini, bobotnya juga tidak terlalu ringan, dan juga tabungannya, ada seratus dua puluh ribu ryo, jika dia membelinya, sisa uangnya masih cukup untuk biaya hidup tiga bulan ke depan. Sudah ia putuskan, Naruto akan membeli pedang ini.
"Aku beli pedang ini" Naruto menyerahkan uangnya, memberikannya pada gadis di depannya.
Tenten dengan cekatan membungkus pedang itu dengan kain dan mengikatkan dengan rapi, menyerahkannya pada Naruto, tapi anak itu sepertinya tidak menyadarinya, sedari tadi, Naruto selalu memandangi pedang hitam yang dia tunjukkan itu, sepertinya dia benar-benar menginginkan itu, mungkin tidak ada salahnya memberikan harapan pada anak ini.
"Jika kau mau, aku akan mengatakan pada ayahku untuk menyimpannya, sampai kau memiliki uang yang cukup untuk membelinya" mendengar itu Naruto sontak melihat ke arahnya, " aahhh.. Aku mau!" Naruto terlihat sangat gembira, tanpa sadar Naruto menggenggam tangan Tenten dan memajukan wajahnya, Tenten hanya mengangguk pelan. Ini terlalu dekat dan mengejutkan bagi Tenten, dia agak malu dengan posisi mereka sekarang.
"A-ano.. m-maaf" Naruto menyadari apa yang baru saja dia lakukan, dia buru-buru mundur, Naruto merutuki dirinya sendiri, sifat kekanak-kanakannya tiba-tiba saja muncul "um.. tidak apa-apa" Tenten memakluminya, dia juga kadang seperti itu kalau sedang gembira "Kalau begitu terima kasih umm.." Naruto bingung, sedari tadi dia tidak tahu nama gadis baik di depannya ini "nama ku Tenten, salam kenal Naruto" seakan mengerti isi pikiran Naruto Tenten memperkenalkan dirinya, jadi memang benar seperti apa yang dia pikirkan, nama toko ini di ambil dari nama anak pemilik toko ini, "terima kasih, Tenten".
Dengan itu Naruto pergi dari sana, dengan senyuman di wajahnya, dengan sebilah pedang terbungkus kain di tangannya, tapi sepertinya dia merasa ada yang aneh tadi, entah lah dia tidak tau itu, mungkin perasaannya saja, yang penting dia sudah mendapatkan apa yang dia cari.
.
.
Hari ini adalah hari yang sangat penting, hari ini akan menentukan masa depannya nanti, Naruto tidak boleh gagal, dia harus menjadi nomor satu, Naruto cukup percaya diri dengan kemampuannya yang sekarang, tapi tetap saja untuk menjadi peringkat satu itu sulit, mengingat saingannya yang juga tidak kalah hebatnya.
Ujian ini di lakukan satu persatu di tempat yang berbeda, jadi murid lain tidak akan bisa melihat temannya yang sedang melakukan ujian.
Kelas sedang ribut sekarang teman sekelasnya sedang membicarakan seperti apa ujiannya, siapa pengawasnya, dan saling berbagi info bagi mereka yang sudah melalui ujian, ada juga beberapa anak yang terlihat gugup, mungkin mereka kurang percaya diri.
Contohnya saja Sakura, Naruto sedikit khawatir dengannya, mukanya makin lama terlihat makin pucat, Ino sedang tidak ada, dia sedang melakukan ujian sekarang, setelah Ino Sakuralah selanjutnya, Naruto memutuskan untuk mendekati Sakura.
Dia tidak tahan melihatnya seperti itu "Sakura" bahkan saat dia memanggilnya Sakura tidak mendengarnya, Ini lebih parah dari yang dia duga, saat dia menepuk bahu Sakura, barulah gadis itu sadar, dan menoleh padanya.
"Santai saja, lagi pula kau sudah melihat yang lain melakukannya saat praktik, jangan takut!" Naruto berusaha memberikan senyuman terbaiknya, dan itu malah terlihat lucu di mata Sakura, dia tertawa melihatnya. "kenapa tertawa, memangnya ada lucu?" ya wajahmu lah yang terlihat lucu, Sakura ingin sekali mengatakan itu, tapi sebaiknya jangan "hmm... tidak ada" dia menggelengkan kepalanya, Rasa gugupnya mulai berkurang sekarang.
"Kau hanya perlu melakukannya seperti apa yang pernah kau lihat" Naruto benar untuk apa dia takut, dia sudah sering melihat teman-temannya melakukannya saat praktik "Kalau itu Sakura, aku yakin pasti bisa" yah dia harus yakin pada dirinya sendiri, bahwa dia bisa, tidak ada yang perlu di takuti, dia telah melihat semuanya "terima kasih, Naruto".
Pintu kelas terbuka, Ino sudah selesai, sekarang adalah gilirannya, Guru Iruka sudah memanggilnya, Sakura berjalan keluar kelas, dengan langkah penuh percaya diri. Dan Ino yang keheranan melihat temannya yang sebelumnya terlihat pucat pasi menjadi cerah seperti itu, sebenarnya apa yang terjadi?.
.
.
.
Guru Iruka membuka pintu kelas dan memanggil Naruto. Sekarang adalah gilirannya, dia adalah yang terakhir, Naruto langsung saja berjalan menuju keluar kelas, saat dia melewati Guru Iruka. Guru Iruka memegang pundaknya "Naruto aku tahu kau hebat dalam hal teknik tapi, teori itu juga penting, jadi berusahalah jangan sampai gagal di sana". Naruto hanya mengangguk, dia mengerti, Guru Iruka juga sudah memperingatkannya tentang ini beberapa kali, nilai teorinya kurang bagus, tapi dia akan berusaha sebisa mungkin untuk ini.
Guru Iruka mungkin satu-satunya Guru yang tulus mengajarinya di akademi, oleh sebab itulah dia menghargai semua nasehat yang di berikan oleh Iruka
Tidak seperti yang lainnya yang bersikap sok baik, mungkin untuk membangun pandangan orang lain bahwa mereka adalah Guru yang baik, apa lagi si Mizuki itu, bukan bermaksud menjelek-jelekkan orang lain. Tapi dia tahu, hanya dengan melihat sorotan mata dan senyuman yang orang itu tujukan padanya, dia bisa melihat apakah orang itu benar-benar ingin berbuat baik padanya atau hanya sekedar cari muka, jujur saja Naruto merasa jijik dengan orang itu.
Naruto sudah masuk ruang ujian teori, hanya ada dia dan satu orang pengawas di sana, suasananya benar-benar hening, Ini bagus, dia menyukai ini, Naruto bisa berpikir dengan tenang.
Setiap materi hanya ada lima soal, dan ada empat materi jadi totalnya ada dua puluh soal, meskipun sedikit, dia tidak bisa meremehkannya, setiap soal memiliki jawaban yang menjebak, dia tidak boleh gegabah dan asal memilih, mencoba berpikir dengan tenang, dan memanfaatkan waktu yang ada, walau pun hanya sedikit, ujian teori hanya di berikan waktu sebanyak dua puluh menit, itu artinya dia harus menyelesaikan satu soal dalam satu menit.
Dua puluh menit sudah berlalu, ujian teori sudah selesai, sekarang dia akan melakukan ujian praktik, dia sudah ada di lapangan latihan akademi, kali ini yang mengawasinya adalah Guru Iruka "baiklah Naruto, yang pertama lakukan jutsu penyamaran" mendengar itu Naruto yang melakukannya ini cukup mudah baginya.
"Henge no jutsu"
Asap putih mengepul dan menghilang, Naruto memutuskan berubah menjadi seorang jounin yang mengenakan masker, dan ikat kepala yang di miringkan hingga menutup mata kirinya, dia melihat orang ini kemarin, berjalan sambil membaca buku, Naruto tau buku itu, karena Tsunade memilikinya juga, menurutnya buku itu tidak baik di baca di tempat umum, tapi orang itu tetap santai membacanya dan tidak memedulikan beberapa wanita yang menatapnya tajam, karena membaca buku laknat di tengah keramaian.
"Bagus, sekarang buatlah satu bunshin" Naruto mengangkat tangannya "Guru, aku tidak bisa menggunakan jutsu bunshin, aku hanya bisa menggunakan kage bunshin, apa boleh?" Iruka yang mendengarnya justru merasa senang, sebelumnya Ino juga mengatakan hal yang sama, gadis itu juga tidak bisa menggunakan bunshin no jutsu, tapi sebagai gantinya dia menggunakan mizu bunshin, Iruka justru tidak pernah menyangka, kalau muridnya ternyata menguasai jutsu bunshin tingkat tinggi seperti itu "baik, tunjukkan padaku".
Naruto mengangguk mengerti, dia langsung membuat satu kage bunshin, Iruka yang melihatnya tersenyum senang, dia memiliki murid-murid yang hebat "Naruto, kau hebat!" Iruka memberikannya acungan jempol pada Naruto.
"Sekarang, lakukanlah sebuah jutsu yang kau kuasai selain jutsu-jutsu yang tadi" hanya ada tiga jutsu elemen yang Naruto kuasai saat ini, dan hanya ada satu yang benar-benar bisa dia lakukan dengan sempurna. Membentuk segel tangan, menghirup nafas yang panjang, mengonsentrasikan chakra elemen api di dalam tubuhnya "Katon: Gōkakyū no Jutsu" dan mengeluarkannya melalui mulutnya, sebuah bola api besar tercipta menuju ke tengah lapangan, menghilang dan meninggalkan kawah di permukaan tanah.
"B-bagus" sepertinya Iruka harus mengajukan surat pengajuan dana perbaikan untuk menutup kawah besar itu, sekarang ada dua kawah di sana, yang sebelumnya di buat oleh Sasuke menggunakan jutsu yang sama.
"yang terakhir adalah melempar kunai dan shuriken, lakukan dengan sungguh-sungguh, atau aku tidak akan meluluskanmu" Iruka tahu, melihat kepribadian Naruto saat ini. Anak itu pasti mengetahui bahwa dengan tes yang sudah dia lalui, walaupun melempar kunai dan shuriken dengan asal-asalan dia akan tetap lulus, Iruka tidak mau muridnya berpikiran seperti itu, walaupun itu benar, oleh sebab itulah dia mengancam Naruto.
Tapi ada satu hal yang tidak diketahui Iruka, Naruto selalu serius saat melakukan semua tes yang dia jalani, karena dia ingin menjadi yang nomor satu.
.
.
Ujian kelulusan Genin telah selesai kemarin, Naruto baru saja pulang dari akademi, hasil ujian telah di umumkan, dia kecewa dengan hasilnya, gadis itu akhirnya keluar dari sangkarnya, Ino berhasil mengejutkan seluruh guru dan teman-temanya, seorang gadis yang terlihat biasa saja namun siapa sangka, ternyata dia lah lulus terbaik di angkatannya sedangkan dirinya hanya di peringkat dua, Sudah Naruto duga, dia tidak mungkin bisa mengalahkan Ino, tapi setidaknya dia mengalahkan rivalnya, dia berada satu tingkat di atas Sasuke, itu sudah cukup menjadi obat penghibur baginya.
teman sekelasnya lulus semua, dengan hasil yang memuaskan, tapi kalau Naruto tidak salah dengar, ada seorang anak dari kelas lain yang tidak lulus, itu pasti akan menjadi pukulan berat bagi anak itu, mau tidak mau, anak itu harus mengulang kembali satu tahun.
Dan satu tahun itu pasti akan terasa sangat berat, itu pasti, beban mental karena malu, atau pun karena ejekan dari anak-anak yang lain pasti akan sangat membebaninya, Naruto mengerti itu, dia hanya mengangguk-ngangguk sendiri.
Melupakan hal itu, Naruto kembali memikirkan siapa yang akan menjadi kawan satu timnya, dia cukup penasaran, dia berharap dapat berkerjasama dengan baik bersama timnya nanti, berlatih bersama, menjalankan misi bersama, saling mendukung satu sama lain, saling menjaga satu sama lain.
Dan Naruto berharap, saat dia dan timnya menjalankan misi ke luar desa, dia berharap bisa bertemu Tsunade nantinya, Naruto memang tidak tahu keberadaan Tsunade Sekarang, tapi tidak menutup kemungkinan mereka masih bisa bertemu saat dia menjalankan misi nantinya, Naruto berharap itu benar-benar terjadi.
Naruto senyum-senyum sendiri membayangkan itu semua, sedangkan Ino yang sedari tadi berjalan di samping Naruto hanya melihatnya dengan tatap heran, memangnya apa yang di pikirkan Naruto sampai tidak sadar akan kehadirannya.
"Apa yang kamu pikirkan?" Naruto terkejut mendengar suara di sampingnya "aah!.. s-sejak kapan kau ada di sini?" Ah lagi, dia terlalu fokus dengan pikirannya sendiri, sampai-sampai tidak sadar akan kehadiran seseorang, mungkin jika ini medan pertempuran dia sudah mati sekarang, "sejak kau tersenyum seperti orang mesum" Naruto menaikkan sebelah alisnya, apa benar wajahnya terlihat seperti itu barusan, dia mengalihkan pandangannya pada orang-orang sekitar. Para gadis di sana terus memandanginya tanpa henti, sepertinya apa yang di katakan Ino benar, mungkin dia akan mendapatkan julukan Baru, Naruto si bocah mesum, mungkin itu julukan Baru yang akan dia terima.
Naruto hanya menunduk malu, wajahnya merona karena saking malunya, dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dan tawa halus dari gadis-gadis di sana terdengar, Naruto benar-benar malu sekarang.
Ino yang mendengarnya, langsung saja menarik tangan Naruto menjauh dari sana, dia tidak suka dengan gadis-gadis yang sedari tadi memandangi Naruto. Ino tidak suka melihatnya.
"K-kita mau ke mana?" Naruto kaget ketika Ino menariknya tiba-tiba, Ino tidak menjawabnya, gadis itu hanya diam, dan terus memegang tangannya, membawanya menjauh dari keramaian.
Naruto sudah beberapa kali bertanya, tapi Ino tetap diam, Naruto mengerti sekarang, Ino terlihat kesal, dia sedang marah, ini adalah kelemahan Ino yang kedua, marah tanpa sebab yang jelas. Lagi-lagi Naruto harus mencari tahu, kenapa dia marah? Pada siapa dia marah? Apakah Ino marah padanya karena dia tidak sadar akan kehadiran gadis itu. Naruto yakin bukan karena itu, lalu apa? Entahlah, Ini menyebalkan. Dia harus mencari solusi lain, kalau tidak ini akan terus berlanjut sampai besok.
Naruto menghentikan tarikan Ino, mereka saling berhadapan sekarang "dari pada kita terus berjalan tidak tahu mau ke mana, lebih baik kita ke ichiraku, aku lapar" Ino masih saja diam, sepertinya dia benar-benar tidak ingin bicara sekarang "tenang saja, aku yang akan bayar" tanpa menunggu jawaban Ino, Naruto langsung menarik tangan gadis itu, membawanya menuju kedai Ichiraku. Berharap kemarahan tanpa sebab gadis itu akan hilang.
.
.
.
Guru Iruka telah mengumumkan pembagian tim, Naruto tidak satu tim dengan Ino, itu sudah pasti. Ino sudah mengatakannya, kalau dia pasti satu tim dengan Chouji dan Shikamaru, para leluhur klan mereka juga membentuk tim seperti itu, hubungan antar klan mereka sudah terjalin dari dulu, hingga terus berlanjut sampai sekarang.
Sedangkan Naruto, dia satu tim dengan Sakura dan Sasuke, menurutnya mereka akan menjadi tim yang hebat. Biasanya sebuah tim Genin akan di isi oleh dua orang yang memiliki nilai akademis bagus, sedangkan yang satunya memiliki nilai rata-rata atau yang paling rendah.
Mungkin dirinya dan Sasuke di tempatkan pada tim yang sama, untuk menunjang kemampuan Sakura, membantunya menjadi lebih baik, dan sebagai motivasi, karena Sakura hanya mendapat Nilai rata-rata.
Tapi menurut Naruto ini adalah sebuah kesalahan tapi menguntungkan, timnya di isi orang-orang yang tidak normal, dan dia menyukai itu.
para guru hanya tidak tahu, Sakura yang sebenarnya.
Rasa sabarnya sudah mulai habis, mereka bertiga sudah mulai gelisah, anak-anak yang lain sudah lama pergi bersama jounin pembimbing mereka, sedangkan mereka bertiga, sudah tiga jam mereka menunggu, tapi tidak ada tanda-tanda kalau jounin pembimbing mereka akan datang.
"Mau ke mana?" Sakura bertanya padanya, saat dia berjalan ke arah pintu kelas "Aku mau pulang, sepertinya jounin pembimbing kita tidak akan datang" Sasuke juga berdiri dari tempat duduknya "Aku tidak ingin mati kelaparan disini" dari tadi Sasuke sudah menahan rasa laparnya, Ini sudah jam 14:30, sudah lewat jam makan siang, dari pada menunggu orang yang tidak pasti kapan datangnya, lebih baik dia pulang dan mengisi perutnya.
Sedangkan Sakura masih setia duduk di tempatnya "tunggulah sebentar lagi" sebentar lagi? Dari tadi mereka sudah menunggu, tapi sampai kapan mereka akan terus menunggu, "lebih baik kau juga pulang Sakura" Naruto mengajak Sakura untuk ikut bersama mereka, agak tidak sopan jika meninggalkan Sakura sendirian disini.
Pada akhirnya Sakura menyerah juga, dia berdiri dari tempat duduknya, berjalan menuju pintu kelas, tapi saat mereka membuka pintu dan berjalan keluar kelas, langkah mereka terhenti, di hadapan mereka saat ini, berdiri seorang jounin, berambut putih dengan masker yang menutupi wajahnya, dan ikat kepala yang menutupi mata kirinya " aahhh... Apa kalian Naruto, Sakura, dan Sasuke?".
Mereka bertiga hanya diam, dengan wajah masam, menatap tajam pada orang yang sedari tadi mereka tunggu, kalau tidak salah namanya adalah Kakashi "maaf aku terlambat, tadi ada sedikit masalah".
"tidak akan kami maafkan" dengan serentak mereka menjawabnya bersama, mereka sedang dalam ke adaan satu hati sekarang, sedangkan Kakashi hanya tersenyum tanpa merasa bersalah sama sekali, dia memang ada sedikit masalah tadi.
Saat di jalan, seperti biasa Kakashi memang selalu membaca buku hijaunya itu, dan tadi ada seseorang yang mencuri buku itu darinya, Kakashi tau buku itu memang sangat hebat, dan lagi pula itu adalah edisi spesial, sehingga menurutnya, wajar jika banyak orang mengincar buku itu, sehingga dia menghabiskan waktu cukup lama untuk mencari pelakunya, di tengah kerumunan orang-orang.
Menyudahi senyumannya, dan di gantikan dengan wajah malas, Kakashi menyuruh ketiga calon muridnya untuk pergi ke atap, menghilang dengan sunshin menuju atap akademi, Kakashi lagi-lagi mengeluarkan buku laknat itu lagi, membacanya sembari menunggu ketiga calon muridnya datang.
.
.
.
Mereka bertiga sudah sampai di atas akademi, duduk di hadapan jounin pembimbing mereka, Kakashi diam memperhatikan muridnya "untuk hari ini kita hanya akan melakukan perkenalan, seperti nama, hal apa saja yang kalian sukai, hobi dan cita-cita" sebenarnya Kakashi sudah tahu biodata dari masing-masing calon muridnya ini, tapi dia ingin langsung mendengarnya dari orangnya, lagi pula perkenalan diri di hari pertama menjadi Genin adalah hal yang harus di lakukan.
"dimulai dari dirimu, gadis kecil" menunjuk ke arah Sakura, tapi sebelum Sakura berbicara Naruto terlebih dahulu mengangkat tangannya "bukankah Guru yang harus memperkenalkan diri terlebih dahulu" Kakashi mengerti, sebagai calon guru yang baik, dia harusnya sudah memperkenalkan dirinya terlebih dahulu "namaku Hatake Kakashi, hal yang ku sukai tidak ada, hobi ku kalian tidak perlu mengetahuinya, dan cita-cita masih rahasia".
Mereka bertiga hanya melongo, Perkenalan macam apa itu, mereka bertiga menatap Kakashi kesal, orang di depan mereka ini hanya memperkenalkan namanya saja "baiklah sekarang giliran mu".
"nama ku Haruno Sakura, hal yang ku sukai adalah diriku sendiri, hobi ku memperhatikan orang-orang kuat, dan cita-cita menjadi kunoichi terhebat konoha" keinginan yang bagus, Kakashi pikir gadis ini sama seperti gadis-gadis jaman sekarang, yang menjadi ninja hanya untuk mencari popularitas, tapi sepertinya tidak.
"Uzumaki Naruto, yang ku sukai adalah berada di dekat Tsunade dan makan ramen, hobi ku adalah memandangi Tsunade dari dekat, dan cita-cita ku membuat orang lain mengakui ku dan menjadi hokage" satu lagi perkenalan yang agak aneh, Kakashi, Sakura, dan Sasuke menatap Naruto dengan lekat, bagian akhirnya memang mengesankan, tapi bagian tengahnya, itu jelas-jelas mengatakan bahwa Naruto mengakui menyukai orang yang bernama Tsunade itu.
"apa?" Naruto yang dilihat seperti itu hanya menatap balik, apa dia mengatakan hal aneh. Sedangkan Sakura masih memandangi Naruto, dia penasaran.
siapa itu Tsunade? Sakura, bahkan tidak tahu, dia bahkan tidak pernah melihat Naruto dekat dengan perempuan lain selain dirinya, Ino, dan anak pemilik kedai ramen yang bernama Ayame,
Tsunade yang Sakura tahu adalah Tsunade senju, ninja medis terhebat di konoha bahkan dunia, sang legenda Sannin, tapi itu tidak mungkin, Naruto tidak mungkin kenal dengan orang sehebat itu.
"Uchiha Sasuke, yang ku sukai adalah mempelajari hal baru, untuk hobi aku tidak tahu, dan cita-cita ku... tidak, ini lebih seperti keinginan yaitu mencari tahu kebenaran tentang klan ku" ini jauh lebih baik dari apa yang Kakashi duga, Kakashi pikir Sasuke akan mengatakan hal-hal berbau balas dendam, tapi ternyata tidak, anak ini memiliki tujuan yang lebih baik. Setidaknya untuk sekarang Kakashi tidak perlu khawatir dengan bocah Uchiha ini.
"Baiklah, untuk hari ini sudah cukup, besok temui aku di tempat latihan area 7 jam 10 pagi" Kakashi berdiri, melangkah pergi dari sana "oh aku lupa, aku sarankan untuk tidak sarapan agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan" Saat mereka bertiga ingin mengajukan pertanyaan, Kakashi sudah menghilang terlebih dahulu.
Naruto pergi dari sana, di ikuti Sakura dan Sasuke, ini sudah sore. Berpisah di pertigaan jalan, memberikan tos satu sama lain, membangun ikatan untuk menuju masa depan, mereka sudah mendengar rumor tentang Kakashi, seorang jounin yang selalu mengembalikan Genin ke akademi hanya karena menurutnya Genin itu belum siap menjadi seorang ninja, Mereka harus bersiap untuk besok, menanamkan pada diri mereka masing-masing, tidak ada kata kembali, tidak ada kata mengulang, mereka akan terus maju.
.
.
.
"Sakura, perhatikan kami dengan baik, kau lah inti rencana kita" mereka bertiga sedang bersembunyi, membuat rencana yang memiliki tingkat keberhasilan paling tinggi untuk mengetahui tujuan ujian ini "Naruto benar, kami percaya pada mu dan kau juga harus percaya pada kami" Naruto tau, Sasuke pasti menyadari kemampuan Sakura, kemampuan yang dapat membuat semua orang iri, jadi mereka berdua akan mengeluarkan kemampuan gadis ini dengan baik.
Sebelumnya Kakashi mengatakan mereka akan melakukan sebuah ujian, mereka bertiga harus memperebutkan dua lonceng kecil yang di ikat di pinggang jounin itu, setiap orang harus bisa mendapatkan satu lonceng itu, kalau tidak, maka akan langsung di kembalikan. Atau bahkan jika mereka semua tidak bisa merebut lonceng itu, maka mereka bertiga akan langsung di kembalikan ke akademi
Dan masalahnya loncengnya hanya ada dua, dan mereka bertiga, itu artinya salah satu dari mereka harus di korbankan, dan tentu saja mereka tidak mau itu, terlebih lagi mereka tidak pernah mendengar ada tim yang di isi hanya oleh dua orang genin dan satu jounin, satu tim genin selalu di isi oleh tiga genin dan di pimpin oleh seorang genin, jadi apakah yang di katakan Kakashi untuk mengembalikan salah satu dari mereka atau bahkan mereka semua ke akademi hannyalah bohongan.
Kalau di lihat-lihat dari sebelum-sebelumnya itu bukanlah sebuah kebohongan, jounin satu ini terkenal karena sering mengembalikan Genin yang baru lulus ke akademi. Jadi apa tujuan ujian ini.
Dengan informasi yang ada, mereka sudah memutuskan, mereka akan merebut lonceng itu apa pun yang terjadi, dan jika salah satu dari mereka di kembalikan ke akademi, maka mereka semua akan kembali ke akademi. Mereka tidak boleh egois, mereka tidak boleh memikirkan diri sendiri, karena mereka adalah tim.
Menyusun rencana dengan Sakura sebagai pusatnya, membiarkan Sakura melihat pertarungan mereka, membiarkan Sakura melihat cara bertarung sang jounin, membuat jounin itu bertarung serius di awal meskipun sedikit, adalah tugas Naruto dan Sasuke, saat Sakura sudah siap, Sakura lah yang bertugas mengalihkan perhatian Kakashi sedangkan mereka berdua mencari celah untuk merebut lonceng itu.
.
Kakashi berdiri di tengah lapangan sambil membaca bukunya, dia sudah berdiri di sana selama sepuluh menit, tidak ada pergerakan dari genin-genin itu, mungkin mereka masih menyusun rencana, atau mungkin kabur? Tidak itu tidak mungkin, walaupun kasus itu pernah terjadi, tapi tim ini di isi oleh dua orang lulusan terbaik tahun ini, jadi hal itu tidak mungkin.
Dan jika lima menit ke depan masih tidak pergerakan, maka dia lah yang akan mencari mereka. Namun saat dia sibuk memikirkan itu, Naruto dan Sasuke datang dari sisi kiri dan kanan.
Sasuke melempar kunai ke arah kaki Kakashi, dengan tangan kanan yang masih memegang buku, Kakashi melompat ke belakang, Naruto muncul dari sisi kiri mencoba untuk menendang kepalanya, namun Kakashi menghentikan dengan tangan kirinya.
Kakashi terdorong cukup jauh dari tempat asalnya, bukunya jatuh ke tanah, dia tidak menyangka tendangan Naruto cukup kuat sehingga membuatnya harus menahan tendangan itu dengan dua tangan.
Dengan cepat Sasuke sudah ada di sampingnya kiri Kakashi, berusaha mengambil lonceng yang ada di pinggangnya, Kakashi berhasil menahan tangan Sasuke dengan tangan kanannya, Naruto datang dari kanan, melayangkan pukulannya dengan keras namun berhasil di tahan Kakashi dengan tangan kirinya.
"Saatnya beraksi, Sasuke!" Posisi mereka saat ini sedang saling menahan "Ya!".
Mereka berdua melompat mundur cukup jauh dari Kakashi, maju bersamaan, Naruto melompat tinggi menggunakan satu kakinya mengincar kepala Kakashi, namun berhasil di tahan oleh Kakashi dengan kedua tangannya, mendorong Naruto ke atas, berbalik menghentikan pukulan Sasuke yang melompat dari belakang, Kakashi menahan tangan kiri Sasuke, dan menggagalkannya, Sasuke melanjutkan serangannya menggunakan kaki kirinya namun, Kakashi berhasil menangkapnya, melempar Sasuke ke arah pohon berharap anak itu membentur pohon itu.
Naruto datang dari atas dengan kunai yang ada di tangannya mencoba menebas Kakashi dari atas ke bawah, beruntung dia cepat menyadarinya, sehingga dia bisa menggeser tubuhnya sedikit ke belakang, dalam posisi berjongkok dengan cepat Naruto memutar badannya mencoba menusuk perut sisi kiri Kakashi, namun Kakashi berhasil menahannya, mendorong tangan, mengangkat kakinya menendang Naruto, menyebabkan Naruto terlempar cukup jauh, Sasuke menahan Naruto agar tidak jatuh menghantam tanah.
Kakashi memperbaiki posisinya, melihat Naruto dan Sasuke berdiri cukup jauh darinya, bukunya sekarang entah di mana, dia melihat Naruto menggunakan kage bunshin mereka sekarang bertiga, maju bersamaan menyerang segala sisi, Kakashi hanya bisa bertahan, dia hanya beberapa kali bisa menyerang balik, melompat ke belakang menghindari kunai yang di lempar oleh Sasuke dan di kombinasikan oleh shuriken kage bunshin Naruto, membuat jumlahnya menjadi ratusan.
Tidak ada jeda, Naruto datang menyerangnya, Kakashi menundukkan kepalanya menghindari sabetan kunai Naruto, dia mencoba menyerang balik, memukul perut Naruto namun anak itu bisa menahannya dengan satu tangan, menggenggam tangan Kakashi dengan kuat, Naruto memutar tangan Kakashi dengan berat badannya, membuat Kakashi tertunduk.
Naruto mengarahkan lututnya untuk menghantam wajah Kakashi, namun berhasil di hentikan, Kakashi melakukan tendangan circle sehingga membuat Naruto kehilangan keseimbangannya, mengarahkan pukulannya ke arah Naruto namun Sasuke datang menahannya.
Mereka berdua beradu tinju, saling menahan serangan masing-masing, gerakan Sasuke yang lebih lincah membuatnya agak kesulitan, mungkin ini karena mata Sharinggan yang sudah aktif, meskipun hanya satu tomoe tapi anak ini sudah sangat hebat untuk ninja yang baru saja lulus akademi.
Naruto ikut masuk dalam pertarungan, Sasuke dengan taijutsu Uchiha, Naruto dengan taijutsu akademi tapi ini terlihat sedikit berbeda mungkin anak itu melakukan improvisasi sendiri, Kakashi harus lebih serius, berapa bagian seragamnya sudah sobek akibat serangan mereka berdua.
Sasuke dan Naruto terus menyerang dirinya, mereka sudah beberapa kali menyatukan satu tangan mereka membentuk segel tangan, Kakashi merasa pernah melihat ini, apakah salah satu dari mereka akan menggunakan jutsu, jika benar siapa yang akan menggunakannya, jika di lihat dari segel tangan yang mereka bentuk mungkin ini adalah jutsu bola api jadi kemungkinan yang akan mengeluarkannya jutsu adalah Sasuke, segel tangan terakhir terbentuk Kakashi melempar Naruto jauh ke belakangnya.
Dia ingin fokus pada Sasuke yang ada di depannya dan bersiap untuk menghindari jutsu yang akan di keluarkan Sasuke.
Namun sepertinya keputusannya salah.
Katon: Gōkakyū no Jutsu
Katon: Gōkakyū no Jutsu
Naruto dan Sasuke melancarkan jurus yang sama, Kakashi terjebak di antara dua bola api raksasa, dia tidak menyangka Naruto juga bisa mengeluarkan jutsu itu, ledakan besar terjadi di tengah lapangan, asap putih mengepul di udara, kawah besar tercipta di sana, mereka berdua meningkatkan kewaspadaan, mereka tau ninja sekelas Kakashi tidak mungkin dengan mudah terkena jutsu itu.
"Tetap waspada dalam keadaan apa pun, itu bagus" Naruto kaget, dia segera menahan pukulan Kakashi yang ada di sampingnya, Kakashi terus menyerang membuat Naruto kewalahan, Naruto beberapa kali terkena pukulan Kakashi, wajahnya mungkin lebam sekarang, Sasuke datang membantu, membuat Kakashi mundur.
Mereka berdua maju bersama, membuat Kakashi harus lebih berkonsentrasi menghadapi mereka, percikan api tercipta saat dua kunai beradu, Naruto memiliki tenaga yang lebih kuat, dia harus mengalirkan chakranya ke tangan dan kaki untuk mengimbangi kekuatan Naruto, Sasuke bergerak dengan lincah, anak itu selalu menyerang Kakashi dari sisi tak terduga.
Sasuke menunduk ke samping menghindari pukulan Kakashi, mencoba menyerang dari bawah namun di tahan oleh tangan Kakashi, menendang Kakashi membuat Sasuke dapat menjauh dari jounin itu.
Naruto datang dari atas mencoba menghantamkan satu kaki ke kepala Kakashi namun dapat di hindari, menyebabkan permukaan tanah yang hancur.
Terus menerus Menahan semua serangan Naruto hanya akan membuat tangannya sakit, terlebih lagi Sasuke yang sudah melepaskan jutsu api ke arahnya tanpa memedulikan Naruto yang sedang berhadapan dengannya, Kakashi menggunakan sunshin untuk berpindah ke belakang Sasuke , sedangkan Naruto yang terkena jutsu api berubah jadi asap putih.
Jadi begitu, Kakashi mengerti, kerja sama mereka cukup bagus, saling percaya satu sama lain.
Dia terus menyerang Sasuke, membuat anak itu kewalahan, menendang kaki Sasuke, membuat anak itu kehilangan ke keseimbangan, Kakashi ingin melanjutkan serangannya namun Naruto datang menghentikannya.
Mereka saling menutupi satu sama lain, Sasuke dan Naruto lari mengelilinginya dengan arah yang berbeda, kedua anak itu sedang membentuk segel tangan.
"Katon: gokakyu no jutsu"
"futon: kaze no maki"
"Angin dan api? Apa mereka mencoba mengombinasikannya?" jutsu bola api dan pusaran angin mengarah padanya, Kakashi membuat kubah tanah, ledakan besar terjadi.
Kubah tanah Kakashi sudah tidak berbentuk, Kakashi tidak menyangka mereka bisa melakukannya, menggabungkan dua jutsu itu sangat sulit untuk di lakukan dengan orang lain, salah satunya harus mampu mengimbangi konsentrasi chakra pada jutsu rekannya, agar kedua jutsu bisa bersatu, bahkan ninja selevel jounin pun tidak banyak yang bisa melakukannya.
Kakashi berdiri di tengah lapangan yang sudah berantakan, dia memandangi kedua muridnya. kondisi Sasuke dan Naruto saat ini kurang baik, ada beberapa luka lebam di tubuh dan wajah mereka. Mereka sudah hampir mencapai batas.
Kakashi akui Naruto dan Sasuke memiliki kerja sama yang bagus, mereka sangat hebat untuk seukuran genin, tapi ini masih kurang baginya, sedari tadi hanya mereka berdua yang menyerangnya, lalu apa yang di lakukan gadis itu? Apa mungkin memasang jebakan? Tidak, sepertinya itu tidak mungkin.
"Aku akui kalian sangat hebat, tetapi dari tadi hanya kalian berdua yang menyerang ku, karena hanya ada dua lonceng, mungkin saja kalian telah menyingkirkan orang yang paling lemah yaitu Sakura, tanpa sepengetahuan ku hmm?"
Kakashi ingin mencari tahu, dia menanyakannya bukan tanpa sebab, kejadian seperti itu pernah terjadi sebelumnya, dan tentu saja, Kakashi langsung mengembalikan mereka ke akademi.
Naruto membersihkan darah di bibirnya, "kami adalah teman, dan kami tidak akan pernah mengorbankan teman kami hanya karena sebuah lonceng yang tidak berguna" Naruto mengatakannya dengan lantang.
Sasuke mengencangkan ikat kepalanya "meskipun kami tidak mendapatkan lonceng itu, kami tetal akan menjadi ninja" ya apa pun yang terjadi mereka bertiga akan menjadi ninja, mengaktifkan Sharinggannya bersiap untuk rencana selanjutnya.
"dan sensei, kau seharusnya tidak meremehkan Sakura" Naruto bersiap dengan kuda-kudanya
"Karena Sakura adalah yang terkuat di antara kami bertiga"
Mereka berdua mengatakannya bersamaan.
Dan Kakashi yang terkejut menyilangkan tangannya di depan dadanya, Saat Sakura tiba-tiba muncul di depannya, dan memandangnya dengan sangat keras, membuat Kakashi terlempar sangat jauh.
"Sunshin?" Kakashi kembali di kagetkan saat Sakura tiba-tiba sudah ada samping kirinya, dia menahan tendangan Sakura, mencoba menyerang balik namun gadis itu bisa menghindarinya.
Sakura terus menyerang dirinya, terlebih lagi Naruto dan Sasuke ikut bergabung, mereka berdua tidak ikut menyerangnya, Naruto dan Sasuke hanya mengincar loncengnya, itu cukup merepotkan baginya.
Menjauhkan Naruto dan Sasuke, Kakashi bergerak mundur, "Kage bunshin no jutsu" sakura langsung membuat satu bunshin dan langsung berlari mengelilingi Kakashi sambil melakukan segel tangan dengan cepat.
Kakashi pernah melihat ini sebelumnya, dan itu baru saja terjadi, mungkinkah Sakura juga akan melakukan hal yang sama dengan yang di lakukan Naruto dan Sasuke tadi, tapi dia ragu Sakura bisa melakukannya, mengingat dari biodata dan hasil ujian akademi yang telah dia baca, Sakura tidak bagus dalam teknik dan gadis itu juga tidak bisa menggunakan jutsu element, apa mungkin ini hanya gertakan, agar dia fokus memperhatikan Sakura dan membuka jalan untuk Naruto dan Sasuke.
Namun ternyata pemikirannya itu salah "yang benar saja!"
"Katon: gokakyu no jutsu"
"futon: kaze no maki"
Kakashi secepat mungkin membentuk segel tangan, membuat kubah tanah berlapis saat melihat jutsu angin dan api yang jauh lebih besar dari milik Naruto dan Sasuke menuju ke arahnya.
Kedua jutsu itu menyatu, membentuk pusaran api Raksasa, menghancurkan apa pun yang ada di sekitarnya, kubah Kakashi sudah hancur, hawa yang sangat panas terasa, lapangan ini benar-benar hancur. "Sepertinya terjadi kesalahan dalam penilaian" dia tidak menyangka akan di berikan kejutan seperti ini, Kakashi kembali memfokuskan dirinya, beberapa bagian bajunya hangus terbakar, jutsu kombinasi Sakura memiliki jangkauan serangan yang jauh lebih besar dari pada milik Sasuke dan Naruto, uap asap dan debu mulai menghilang, Naruto dan Sasuke muncul dari kiri Dan kanan berusaha menggapai lonceng di pinggangnya dan Sakura yang lagi-lagi menggunakan shunsin untuk berpindah ke hadapannya.
Bergerak mundur, menghindari dua tangan yang hampir menggapai loncengnya, menahan pukulan sakura, Kakashi menundukkan menghindari tendangan sakura yang mengarah ke kepalanya sambil menyercle kaki Sasuke dan menahan tangan Naruto, melempar Naruto ke arah Sakura yang masih di udara, namun gadis memanfaatkan momentum tubuh Naruto untuk memutar tubuhnya dengan satu tangannya untuk menghindar.
Sakura mendarat sempurna, Kakashi yang sudah berdiri kembali sudah bersiap untuk menerima serangan Sakura, Kakashi tidak boleh meremehkan gadis ini, dia merasa ada yang aneh, Kakashi merasa, dia sedang melawan gabungan antara Naruto, Sasuke, dan dirinya, jutsu itu, kekuatan itu, gaya bertarung itu, semuanya sama, saat dia menggunakan teknik taijutsu yang baru beberapa saat kemudian gadis ini juga melakukannya, apa mungkin gadis ini sedang menirunya, Kakashi harus memastikannya lain kali, dia merasa sedang melawan tiga orang yang berbeda dalam satu orang.
Mungkin memang benar gadis ini sedang menirunya, atau mungkin juga itu adalah keahliannya, oleh sebab itulah Sakura muncul di saat-saat terakhir, agar dia bisa melihat cara bertarungnya, menirunya dan mengimbanginya, membuatnya sibuk hanya dengan satu orang, memperbesar kemungkinan untuk dapat merebut lonceng dengan dua orang yang fokus untuk merebutnya.
Satu lonceng sudah berhasil di rebut, dan sekarang ada tiga kage bunshin Sakura dengan kemampuan yang mampu mengimbanginya, waktu ujian ini tinggal sepuluh menit, dengan kondisi yang seperti ini, mereka masih bisa merebut satu lonceng yang tersisa.
Dia sedang bertarung dengan dua kage bunshin Sakura, melompat ke sana sini menahan dan menghindari setiap serangan Sakura, dan dua tangan yang selalu muncul tiba-tiba untuk merebut loncengnya.
Saat dia menyerang balik, Sakura juga melakukan hal yang sama dengan gerakan yang sama, Kakashi salto ke belakang saat Sakura mengayunkan kunainya, menghantam kan kakinya ke bunshin Sakura yang ternyata mau menyerangnya dari belakang, menyebabkan bunshin itu menghilang, menahan terjangan Sakura dengan kedua tangannya, Kakashi memegang kaki Sakura dan melemparkannya ke arah Sasuke yang berlari ke arahnya, sehingga mereka saling bertubrukan, asap putih tercipta, kage bunshin Sakura sudah hilang dua-duanya.
Sekarang tinggal yang asli, terlebih ada Sasuke dan Naruto yang selalu siap merebut loncengnya, sehingga Kakashi lumayan sering menggunakan sunshin untuk bergerak cepat.
Begitu pun juga dengan Sakura, dia selalu bisa mengimbangi Kakashi, memukul mundur Naruto, memutar badannya ke belakang menghindari tangan Sasuke yang hampir merebut lonceng terakhir, menahan pukulan udara Sakura, gadis itu memanfaatkan tangan Kakashi untuk bergerak dan duduk di bahu kanan Kakashi, Sakura menyilangkan kakinya di leher Kakashi dan menahan tangan kanan Kakashi.
Kakashi mencoba membanting Sakura, namun dia jatuh berlutut saat Sasuke menekel bagian belakang lutut Kakashi. Dan menahan pergerakan kaki Kakashi.
"Sekarang Naruto!" Sakura berteriak, ini adalah kesempatan, Kakashi berusaha melepaskan diri, sedangkan Naruto berusaha dengan cepat menuju ke arah Kakashi, namun saat dia hampir mendapatkannya, Kakashi membanting Sakura yang sedang mengunci tangan kanannya pada Naruto sehingga kuncian itu terlepas mereka berdua saling tindih, menahan tangan Sasuke yang mencoba mengambil lonceng dari belakang, menendang dada anak cukup keras sehingga Sasuke terlempar beberapa meter, di susul dengan bunyi alarm yang telan di pasang terdengar, waktu ujian sudah berakhir.
Mereka gagal.
.
.
Mereka bertiga di ikat di batang pohon, Sasuke menunduk dalam diam, Sakura terus menangis, sedangkan Naruto, pandangannya lurus ke depan, mereka bertiga mungkin akan kembali ke akademi.
Kakashi terus memandangi ketiga muridnya, mereka sudah berusaha dengan keras, sejauh ini hanya mereka lah yang mampu membuatnya terkesima.
"Aku rasa kalian sudah mengetahui hasilnya" mereka bertiga mengangguk secara bersamaan, mereka sudah siap, kalau harus mengulang satu tahun lagi untuk menjadi ninja, itu tidak apa-apa dari pada tidak sama sesekali.
"Kalian lulus" dengan mata menyipit Kakashi tersenyum di balik topengnya, ketiga muridnya masih belum merespon hingga beberapa saat Naruto bertanya "Apa aku tidak salah dengar, guru?" Kakashi menggelengkan kepalanya.
"Selamat kalian bertiga lulus" Kakashi memperjelas kata-katanya, Sasuke mengangkat wajahnya, Sakura berhenti menangis, Naruto melebarkan matanya, mereka saling tatap, hingga teriakan kegembiraan memenuhi lapangan itu, melupakan rasa sakit yang mereka terima "terima kasih, guru Kakashi!" mengucapkannya secara bersamaan, memberikan penghormatan karena telah meluluskan mereka, meskipun mereka gagal melakukan ujian.
"Yaahh... hari ini kalian resmi menjadi anggota tim tujuh" Kakashi mengacungkan jempol pada mereka, ini adalah tim pertama yang membuatnya kesusahan, kerja sama mereka mampu menyudutkannya, kemampuan individu mereka juga di atas rata-rata, terlebih Sakura, Kakashi harus mencari tahu kemampuan sebenarnya gadis itu, sebagai seorang guru dia harus mampu mengeluarkan potensi semua muridnya. Kakashi Melepaskan ikatan mereka bertiga pada batang pohon,
"Guru!" Sasuke mengangkat tangan, Kakashi menoleh padanya "kenapa kami di lulus kan dalam ujian ini, padahal kami hanya bisa merebut satu lonceng?" Kakashi mengangkat tangannya di Depan dada dengan jari telunjuk mengacung.
"pertama, kalian tidak menjatuhkan satu sama lain agar bisa lulus ujian ini"
"ke dua, kalian saling percaya pada rekan kalian"
"Ke tiga, kalian saling melindungi satu sama lain"
"Ke empat, tentu saja kerja sama kalian"
Mereka bertiga mengangguk mengerti "jadi ujian ini, hanya untuk melihat seberapa baiknya kami bisa bekerja sama?" Sakura angkat bicara, "begitulah" jadi begitu mereka mengerti sekarang pantas saja hanya ada dua lonceng yang diperebutkan.
"Baiklah, kalian boleh pulang, besok pagi kita berkumpul disini, kita akan mulai menjalankan misi" Kakashi berbalik melangkah pergi, "istirahatlah dan obati luka kalian" dia melambaikan tangannya, Kakashi harus segera melaporkan hasilnya pada tuan hokage.
.
Mereka masih berdiri di sana "Jalan kita sudah terbuka, sekarang tinggal bagaimana kita akan melaluinya" Naruto mengepalkan tangannya begitu pun dengan Sakura dan Sasuke "ya!" Mereka beradu tinju, sebagai salam permulaan, jalan awal menuju tujuan masing-masing, menuju masa depan yang masih tertutup oleh kabut tebal, berbalik, berjalan menuju rumah masing-masing, mereka ingin mengistirahatkan diri, mengobati luka-luka yang mereka terima. Menunggu hari esok yang tengah menanti.
.
.
Sudah sebulan mereka resmi menjadi Genin, dan selama itu pula mereka hanya menjalankan misi Rank D, kedua temannya sudah mulai merasa bosan, itu bisa di lihat dari raut wajah mereka yang tidak mengenakkan, Begitu juga dengan dirinya, meski pun menjalankan misi Rank D tetap menghasilkan uang untuk di tabung, tapi tetap saja jika terus begini dia juga akan merasa bosan, dan juga mereka tidak akan bisa berkembang jika hanya menjalankan misi Rank D.
Naruto melanjutkan kegiatannya mengambil sampah yang ada di sungai, wadah sampah yang ada di punggungnya sudah hampir penuh, sesekali dia melihat ke arah Kakashi yang sedang duduk santai di atas batu pinggir sungai yang sedang membaca buku laknatnya, Begitu pun dengan Sakura dan Sasuke, Naruto yakin mereka juga memiliki pemikiran yang sama yaitu, mengomeli Kakashi dan melemparinya dengan batu sungai karena seenaknya saja bersantai di saat mereka sedang bekerja, tapi itu tidak mungkin mereka lakukan, bisa di bilang mereka sedang dalam mode ngambek.
Kemarin sore Guru penipu itu bilang, besok mereka akan menjalankan misi Rank C, dan rasa senang langsung menghampiri hati mereka. Besoknya dengan semangat yang menggebu-gebu mereka berkumpul di kantor hokage, bersiap menerima rincian misi Rank C yang akan mereka jalankan, namun ternyata apa? Mereka lagi-lagi menjalankan misi Rank D, dan beginilah akhirnya memungut sampah di sungai dengan suasana sangat hening, hanya gemercik air sungai yang terdengar, tidak ada yang mau bicara.
Kakashi menghela nafas panjang, ketiga muridnya sedari tadi selalu curi-curi padang padanya, dia mengerti maksudnya, pasti dirinya sudah di cap sebagai guru pembohong, lagi-lagi Kakashi kembali menghela nafas panjang "dasar anak-anak".
"Sepertinya kalian sudah selesai, ayo kita kembali ke kantor hokage" Kakashi berdiri dari tempatnya, meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku " kita harus melapor dan mengambil misi selanjutnya" hening, Kakashi hanya diam menunggu reaksi ketiga anak di depannya Sepertinya mereka masih marah "Aku tidak mau jika menjalankan misi Rank D lagi" Naruto buka suara, dia sudah bosan dengan ini, "kami tidak akan berkembang jika terus melakukan ini" Sakura dan Sasuke mengangguk setuju, jika terus seperti ini mau sampai kapan tujuan mereka akan tercapai.
"Aku sudah bilang bukan? Kita akan menjalankan misi Rank C" Kakashi berjalan pergi meninggalkan mereka bertiga yang masih diam di dalam sungai, mereka tidak akan semudah itu percaya, tidak akan "jika kita lambat, bisa-bisa misinya akan di ambil oleh tim lain" dengan itu mereka buru-buru meninggalkan sungai, berlari menuju kantor hokage secepatnya "ayo cepat sensei!".
.
sebelumnya mereka sempat membuat keributan dengan mendobrak pintu tanpa permisi dan di akhiri omelan Kakek Hokage, sekarang mereka hanya berdiri dalam diam, di depannya ada Kakek Hokage yang sedang menjelaskan rincian misi Rank C yang akan mereka jalani sambil menatap mereka tajam, "dan ini adalah Tazuna-san, orang yang akan kalian kawal" Kakek Hokage memperkenalkan klien mereka, dia adalah seorang Kakek tua pembuat jembatan Negeri ombak, mereka di tugaskan untuk mengantarkan orang ini sampai ke kampung halamannya dengan selamat, ini adalah misi Rank C pertama mereka, mereka tidak boleh gagal.
sedari tadi orang itu hanya diam ,Tazuna terus menatap Naruto, Sasuke dan Sakura "tidak usah ragu, mereka adalah lulusan terbaik di angkatannya, lagi pula ini hanya misi pengawalan biasa" seakan mengerti keraguan yang di rasakan oleh Tazuna, Kakek Hokage bersuara, berusaha meyakinkan orang itu, "aku harap mereka masih hidup setelah berhadapan dengan para bandit" mereka hanya diam menerima hinaan itu, menghadapi klien seperti ini tidak bisa menggunakan kata-kata tetapi dengan fakta, mereka akan menunjukkan kenyataan bahwa mereka kuat, bandit atau Nukenin sekalipun bukanlah masalah bagi tim 7.
"Baiklah, besok pagi kalian berangkat, persiapkan barang bawaan kalian karena perjalanan ini akan memakan waktu beberapa hari, kalian boleh pergi"
"Baik"
dengan hormat, mereka langsung pergi dari sana, mempersiapkan perbekalan untuk misi esok hari, mempersiapkan diri agar tidak mengacau pada saat menjalankan misi, bersiap untuk melihat masa depan yang belum pernah mereka bayangkan sebelumnya.
