Disclaimer:

Bleach: Tite Kubo

Hyperdimension Neptunia: Idea Factory

.

.

.

Main Character: female Ichigo

Genre: fantasy, family, humor, adventure, action, scifi

Rating: T

Setting: dunia Gamindustri

.

.

.

Goddess Shinigami

By Hikayasa Hikari

.

.

.

Fic request for Special Pairing 15

.

.

.

Chapter 2. Bertemu Neptune

.

.

.

Nepgear menjelaskan berbagai hal tentang dunia Gamindustri. Di dunia itu, terbagi empat wilayah yaitu kota Planeptune yang dipimpin oleh Neptune atau Purple Heart, Lastation dipimpin oleh Noire atau Black Heart, Lowee dipimpin oleh Blanc atau White Heart, dan Leanbox dipimpin oleh Vert atau Green Heart.

Saat ini, Ichigo dan Nepgear berada di wilayah Leanbox. Mereka terus berjalan melewati jalan setapak yang ditemui di padang rumput.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi sehingga ketiga Goddess itu menghajar Neptune-Onee-san," jelas Nepgear bermuka sedih, sedikit menundukkan kepala, "Neptune-Onee-san bisa tiba di Planeptunus karena diantar oleh gadis yang bernama Compa. Dia amnesia dan kini tidur di kamarnya."

Ichigo manggut-manggut. "Aku mengerti. Apa yang harus kita lakukan agar Neptune bisa mendapatkan ingatannya?"

"Entahlah."

"Mungkin dengan cara klasik. Misalnya membenturkan kepalanya ke dinding."

"Hah? Apa dengan cara itu, Neptune-onee-san bisa ingat lagi?"

"Mungkin saja. Tapi, saranku, jangan lakukan itu."

"Hah? Mengapa?"

"Biarkan saja kepala Neptune terbentur sendiri."

Ichigo tersenyum. Matanya melembut. Kharisma sebagai seorang kakak terpancarkan dari dirinya. Membuat Nepgear terpaku, lantas mengangguk dan tersenyum.

Tangan Ichigo dan Nepgear yang tetap terkait, membuat perasaan Ichigo yang semula frustasi dengan keadaan ini, perlahan membaik. Dia bersyukur masih mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup. Namun, fisiknya yang tidak seperti dulu, sangat mengganggu pikirannya.

Mengapa saat aku hidup lagi, harus menjadi perempuan begini? Hei, tuhan, kau sudah mempermainkan aku.

Ichigo bermonolog. Merasa marah pada seseorang yang telah mengirimnya ke dunia ini. Tapi, tiba-tiba, dirinya tersentak saat mendengar suara Nepgear.

"Ichigo-onee-san, kita tiba juga di kota Planeptune!" seru Nepgear tersenyum lebar, memegang kedua tangan Ichigo.

Ichigo melebarkan mata. Menyadari dirinya tiba di kota yang dipenuhi gedung-gedung tinggi futuristik. Banyak orang yang lewat di sekitarnya dan Nepgear. Mereka juga berpakaian futuristik.

Ternyata benar, aku tiba di kota masa depan, batin Ichigo.

Ichigo sendiri turut berpakaian futuristik serba putih-merah muda keunguan. Dia memperhatikan keadaan sekitar yang sangat berisik. Masih merasa asing dengan keadaan ini.

"Onee-san," kata Nepgear menggoyang-goyangkan badan Ichigo.

"Hah? Ya, ada apa?" Ichigo terperanjat, membelalakkan mata.

"Kau sedang memikirkan apa?"

"Rumah kita ada di mana? Aku ingin menemui Neptune."

"Oh. Rumah kita ada di sana."

Nepgear menarik Ichigo lagi. Mereka berlari kencang melewati orang-orang yang berlawanan dari mereka. Menuju arah yang ditunjuk Nepgear tadi.

Rumah Neptune dan Nepgear berbentuk futuristik dengan nuansa putih-keunguan. Pintu depan terbuka otomatis ketika Ichigo dan Nepgear masuk. Mereka berjalan melewati ruangan yang sangat luas -- ruang tamu dan ruang tengah menjadi satu.

"Neptune-nee!" panggil Nepgear masuk ke kamar Neptune. Diikuti oleh Ichigo dari belakang.

Neptune yang semula tertidur, terbangun karena digoyang-goyang kuat oleh Nepgear. Dia membuka separuh kelopak matanya. Melihat Nepgear dengan muka kusut.

"Ada apa, Nepgear?" tanya Neptune bangkit dan duduk di tengah ranjang, "aku mengantuk sekali. Jangan ganggu aku."

"Neptune-nee, aku sudah menemukan Ichigo-nee," jawab Nepgear tersenyum, menunjuk Ichigo.

"Eh? Ichigo-nee sudah ditemukan?"

"Ya. Dia ada di wilayah Leanbox."

"Aaah, syukurlah. Ichigo-nee selamat!"

Neptune menghela napas lega. Kemudian melompat dari ranjang, berlari ke arah Ichigo. Langsung memeluk erat pinggang Ichigo.

"Ichigo-nee, aku mengkhawatirkanmu," kata Neptune dengan mata berkaca-kaca.

"Sama. Aku juga mengkhawatirkan Ichigo-nee," balas Nepgear turut mendekap Ichigo.

"Nepgear, kau malah ikut-ikutan!"

"Maaf."

Nepgear tersenyum. Alisnya melengkung ke atas. Neptune juga tersenyum. Menebarkan keceriaan di sekitar yang mengundang Ichigo juga tersenyum. Saat seperti ini, mengingatkan Ichigo pada dua adik perempuannya yang ada di dunia sebelumnya.

Semoga ayah dan adik-adikku baik-baik saja di dunia sana, batin Ichigo lagi.

"Oh ya, Ichigo-nee, Neptune-nee, apa kalian lapar?" tanya Nepgear melepaskan pelukan, menatap kedua wajah dua kakak perempuannya bergiliran.

"Sepertinya aku lapar," jawab Ichigo memegang perutnya yang tidak merasa nyaman.

"Sama. Aku juga lapar," balas Neptune juga memegang perutnya. Bertampang kusut.

"Baiklah. Aku akan membuat makanan untuk kalian!"

Nepgear berlari keluar dari kamar. Pintu tertutup otomatis. Ichigo dan Neptune tersenyum melihatnya, lalu saling memandang.

"Neptune, apa kau juga hilang ingatan?" tanya Ichigo menyipitkan mata.

"Ya, sepertinya begitu, Ichigo-nee," jawab Neptune memegang bagian belakang kepalanya, "Ada gadis baik hati yang bernama Compa, mengantarkanku pulang ke kota ini."

"Oh. Apa yang kau ingat sekarang?"

"Cuma namaku saja."

"Begitu, ya?"

"Ichigo-nee juga menghilang berbulan-bulan ini. Memangnya Ichigo-nee kemana?"

"Entahlah."

Ichigo sendiri bingung mengapa Neptune mengatakan itu. Dia saja baru saja tiba di dunia ini dan belum mengenal dunia ini sepenuhnya.

"Daripada kita membicarakan itu, lebih baik kita bantu Nepgear memasak. Bagaimana?" tanya Ichigo. Senyum menyerupai garis kurva terpatri di wajahnya.

"Baiklah, Onee-san," jawab Neptune mengangguk, tersenyum lebar.

.

.

.

Acara makan malam berlangsung hening di dapur. Ichigo menikmati makanan yang dibuatnya bersama Neptune dan Nepgear. Merasakan kenyamanan sebagai perempuan.

"Aku sudah selesai makan!" seru Neptune memperlihatkan piring dan gelasnya yang sudah kosong. Bermuka riang. Duduk berhadapan dengan Ichigo.

"Aku juga!" teriak Nepgear mengangguk, tersenyum lebar.

"Oh ya, biar aku yang cuci piring," sahut Ichigo mengangkat piring dan gelas miliknya.

"Tunggu, biar aku yang mencuci, Ichigo-nee!" pinta Nepgear bangkit berdiri dari kursi. Mengangkat piring dan gelasnya. Berjalan untuk mengambil piring dan gelas milik Ichigo serta Neptune.

"Biar aku yang membereskan meja." Neptune bergegas berdiri.

Ichigo terpaku melihat Neptune dan Nepgear. Kedua adiknya bekerja sama untuk bekerja. Menampilkan senyum tipis di wajahnya.

"Neptune, kau itu pemimpin kota ini, 'kan?" tanya Ichigo bermuka datar, berdiri.

"Ya. Nepgear yang bilang begitu," jawab Neptune mengangguk, sibuk mengelap meja logam dengan kain bersih.

"Seharusnya Ichigo-nee yang memimpin kota ini, tetapi Ichigo-nee belum bisa berubah menjadi CPU, jadi warga-warga kota memilih Neptune-nee untuk menjadi Goddess," jelas Nepgear yang sibuk mencuci piring di dekat wastafel, "keluarga kita itu keturunan Goddess yang memiliki kekuatan Purple Heart. Tugas kita adalah melindungi kota ini dari monster dan Goddess jahat lainnya."

"Oh, begitu." Ichigo manggut-manggut.

"Tapi, ada musuh yang sering mengacau di kota kita. Namanya Rei Ryghts. Itu Goddess yang memiliki kekuatan Blue Heart. Dia terobsesi ingin menguasai wilayah kita dan wilayah Goddess lainnya."

Nepgear yang menyahut paling akhir. Dia menukikkan alis. Membayangkan wajah Rei yang sangat menyebalkan baginya.

"Itu berarti ... aku belum bisa mengaktifkan kekuatan Purple Heart itu," kata Ichigo melihat saksama dirinya, "tapi, bagaimana caranya aku mengaktifkan kekuatan itu?"

"Aku tidak tahu," tukas Nepgear menggeleng.

"Mungkin aku bisa menggunakan kekuatanku yang sebelumnya."

"Kekuatanmu yang sebelumnya? Apa maksudnya?"

Nepgear dan Neptune berhenti bekerja. Mereka mengerutkan kening. Merasa penasaran dengan kekuatan yang dikatakan Ichigo. Hanya senyum tipis yang ditunjukkan Ichigo untuk menanggapi pertanyaan Nepgear.

.

.

.

Bersambung

.

.

.

A/N:

Chapter 2 up. Terima kasih atas review kalian ya. Jika ada waktu, saya akan sambung lagi ceritanya. Selamat menunggu chapter 3.

Dari Hikayasa Hikari.

Rabu, 5 Oktober 2022