Planeptune terbakar. Semua penduduk berlarian ke sana-kemari. Ada yang terluka, pingsan, dan mati. Tidak ada yang bisa menolong mereka.
"Tolong!"
"Awas!"
"Ayah, ibu!"
"Tinggalkan tempat ini!"
Suara semua orang terdengar tatkala serangan energi terus meluncur ke arah gedung-gedung futuristik. Seorang gadis kecil yang duduk di tengah buku terbuka, menyaksikan pemandangan kehancuran itu, dengan ekspresi yang sangat panik.
"Gawat!" seru gadis yang membawa buku sebagai kendaraannya, langsung masuk ke portal dimensi.
.
.
.
Disclaimer:
Bleach: Tite Kubo
Hyperdimension Neptunia: Idea Factory
.
.
.
Pairing: MaleInoue x FemChigo
Genre: fantasy, family, humor, adventure, action, scifi, romance
Rating: M (berubah ratingnya karena ada adegan yang mengandung kekerasan, gore, dan sebagainya)
Setting: dunia Gamindustri
.
.
.
Goddess Shinigami
By Hikayasa Hikari
.
.
.
Fic request for Special Pairing 15
.
.
.
Chapter 24. Tidak bisa keluar
.
.
.
Ichigo dan kedua saudaranya masih tinggal sementara di Leanbox, bersama Noire dan Blanc. Mereka memilih beristirahat usai konser dan penyerangan monster. Berpikir ingin mencari hiburan agar membuat otak mereka lepas dari dera masalah.
"Ayo, kita bermain game!" seru Vert tersenyum lebar saat berada di kamarnya. Ada beberapa Goddess bersamanya.
"Kita bermain game apa?" tanya Ichigo sedikit membelalakkan mata.
"Kita bermain game ini saja."
Vert menghidupkan Console dengan cara menekan tombol yang ada di tengah -- Console itu adalah mesin menyerupai Playstation. Console itu berada di atas meja berkaki rendah. Layar hologram persegi panjang mengudara di atas Console itu.
Vert mencari daftar permainan yang tertera di layar itu dengan menggunakan kursor. Kursor itu digerakkan dengan gamepad. Vert menunjuk beberapa game yang menurutnya sangat bagus dimainkan.
"Kita bermain ini saja," kata Vert tersenyum. Duduk diapit Ichigo dan Neptune.
"Tidak. Aku sudah memainkannya dengan Nepgear beberapa kali," balas Neptune menggeleng.
"Kalau ini?"
"Aku juga sudah memainkannya dengan Neptune. Bosan," tolak Ichigo bermuka datar.
"Yang ini?"
"Tidak."
Ichigo dan Neptune menggeleng kompak. Sementara Nepgear, Rukia, Noire, dan Blanc, menyaksikan mereka dari belakang. Duduk di dekat meja sembari menikmati cemilan dan minuman.
"Aaah, kalian ini bagaimana?" tanya Vert kelimpungan, "jadi, kita harus bermain game apa sekarang?"
" Game apa, Neptune?" Ichigo balik bertanya sambil melirik Neptune.
"Entahlah, Ichigo-nee," jawab Neptune menggeleng cepat.
"Bagaimana kalau kalian memainkan game yang kubuat ini?" Tiba-tiba, Nepgear muncul di samping Ichigo. Memperlihatkan sebuah mesin kecil menyerupai Console, tetapi berdesain berbeda.
"Eh? Kau bisa membuat game?" tanya Ichigo mengerutkan kening.
"Iya, Ichigo-nee," jawab Nepgear tersenyum, "apa Ichigo melupakan soal itu?"
"Aku baru tahu sekarang."
"Dasar, Ichigo-nee malah melupakannya!"
"Jangan marah, Nepgear. Ayo, kita lihat game seperti apa yang kau buat itu," sela Neptune tersenyum.
"Baiklah."
Nepgear menekan tombol yang ada di tengah Console milik Vert. Layar udara menghilang. Kemudian Nepgear meletakkan Console miliknya di samping Console milik Vert. Dia menekan tombol di sisi kanan untuk menghidupkan Console-nya.
Console berbentuk oval itu bercahaya biru tua. Cahaya itu membentuk layar hologram persegi panjang. Menampilkan jendela yang langsung masuk ke menu utama permainan.
"Keren!" seru Neptune. Matanya berbinar-binar. "Kau memang cerdas membuatnya, Nepgear. Tapi, aku tidak pernah melihat kau membuatnya."
"Aku membuatnya diam-diam saat Neptune-nee tidak ada di rumah," balas Nepgear tersenyum. Duduk di samping Ichigo.
"Cara bermainnya bagaimana, Nepgear?" tanya Vert menjeling Nepgear.
"Oh ya, cara bermainnya tidak menggunakan gamepad." Nepgear langsung berdiri dan mengambil sesuatu dari kopernya yang tergeletak tak jauh darinya. Semua orang memperhatikannya.
Nepgear tersenyum, menunjukkan sesuatu pada semua orang. Matanya berbinar-binar.
"Ini dia!" lanjut Nepgear. Suaranya cukup keras.
"Helm?" tanya Rukia tercengang. Bukan hanya dia, tetapi semua orang ternganga kecuali Nepgear.
"Ya. Helm ini semacam portal agar seseorang yang bisa masuk ke game dan langsung menjadi karakter sungguhan di game itu."
"Menarik juga." Noire bermuka datar, mendapatkan tanggapan dari Blanc.
"Bagaimana caranya agar kita bisa masuk langsung ke game?" tanya Vert mengerutkan kening.
"Pertama, siapa yang ingin memainkan game ini duluan?"
"Aku!" seru Neptune mengangkat tangan.
Nepgear berjalan menuju Neptune. Semua orang memperhatikannya lagi.
"Neptune-nee, pakai ini di kepalamu," kata Nepgear tersenyum, menyodorkan helm ke arah Neptune.
"Begini," balas Neptune memakai helm ke kepalanya.
"Iya. Begitu."
"Lalu, selanjutnya bagaimana?"
"Pejamkan mata. Konsentrasi dan ucapkan Start."
" Start."
Neptune melakukan apa yang diperintahkan Nepgear. Matanya terpejam. Saat dia mengucapkan 'start', tombol start yang ada di layar Console milik Nepgear, ter-klik sendiri. Otomatis kesadarannya berpindah ke game.
Proses loading di game, tidak membutuhkan waktu yang lama. Diri Neptune yang asli, muncul di layar. Mengejutkan semua orang.
"Wah, Neptune ada di game sekarang!" seru Vert membelalakkan mata.
"Hebat, Nepgear," sahut Ichigo memegang bahu kiri Nepgear.
"Ya, Ichigo-nee," balas Nepgear tersenyum lebar.
"Hei, aku bisa mendengarkan kalian dari sini," ujar Neptune berekspresi layaknya karakter game RPG. Dialog ucapannya tertulis di bawah namanya, tepatnya di kotak putih.
"Wah, kau bisa mendengar, Neptune-nee. Itu bagus," tukas Nepgear melihat lebih dekat ke layar, "dunia game yang kini kau singgahi itu bernama Nepulus Grift Game Full Dive. Game yang berbentuk seperti labirin dan ada banyak monster digital yang menghuninya. Jadi, tugas Neptune-nee adalah membasmi semua monster agar mendapatkan koin dan item."
Semua orang mendengarkan apa yang dikatakan Nepgear. Mereka kagum dengan kecerdasan adik bungsu Ichigo itu. Terutama Ichigo, semakin sayang pada adik bungsunya itu.
"Neptune-nee harus mendapatkan koin untuk menambah nilai EXP, lalu carilah item sebanyak mungkin untuk memperkuat serangan dan kebutuhan hidupmu selama di sana. Jangan lupa cari juga kunci agar bisa masuk ke labirin selanjutnya," jelas Nepgear lagi. Mukanya serius.
"Baiklah. Aku mengerti. Tapi, apa aku bisa berubah menjadi Goddess di sini?" tanya Neptune mengerutkan kening.
"Bisa. Coba saja."
"Aku coba."
Neptune memejamkan mata. Mengaktifkan gelang HDD yang terpasang di tangan kanannya. Gelang itu bercahaya keunguan dan berhasil mengubah Neptune menjadi Purple Heart.
"Keren! Aku bisa berubah menjadi Purple Heart!" teriak Neptune tersenyum lebar.
"Baguslah, Neptune-nee!" balas Nepgear turut tersenyum lebar.
"Aku akan menggunakan mode Goddess kalau bertemu dengan monster yang lebih kuat saja."
Neptune berubah menjadi manusia. Menampilkan senyum lagi. Semua orang yang menontonnya, memahami keputusannya itu.
"Tapi, aku mau keluar dulu karena aku lapar," sambung Neptune menunjukkan muka tidak nyaman.
"Dasar, Neptune!" gerutu Noire bermuka masam.
"Oh, kau lapar. Silakan makan dulu. Masih banyak makanan yang tersaji di meja," sahut Vert terkikik geli.
"Bagaimana caranya keluar dari sini, Nepgear?"
"Ucapkan 'logout'," sahut Nepgear tersenyum lagi.
" Logout."
Sunyi. Neptune terpaku karena menyadari sesuatu yang ganjil. Begitu juga dengan Nepgear dan beberapa Goddess lain.
"Eh? Tidak bekerja! Logout! Logout! Logout!" seru Neptune bermuka panik, "aku tidak bisa keluar dari sini!"
"Eh? Mengapa bisa jadi seperti itu? Seharusnya sistem merespon suara orang yang memakai helm ini," balas Nepgear juga kalang-kabut, memperhatikan helm yang tetap dipakai Neptune.
"Jadi, bagaimana ini, Nepgear?"
"Mungkin ini bug. Jadi, Neptune-nee tidak usah panik. Aku akan segera mencari cara untuk memperbaikinya."
"Sampai kapan aku menunggu sampai kau selesai memperbaikinya?"
"Neptune-nee bermain game dulu, berusaha menaklukkan labirin pertama itu, daripada menunggu aku selesai memperbaiki bug itu."
"Baiklah."
Neptune pasrah dengan keadaan yang menimpa dirinya. Kemudian dia beranjak pergi. Posisi karakter dirinya di layar berubah membelakangi semua orang. Berjalan menuju arah sesuai dengan jalur yang ditentukan oleh koordinat game.
"Nepgear, cepatlah untuk menemukan bug itu," pinta Ichigo bertampang cemas.
"Iya," sahut Nepgear mengangguk.
"Neptune! Bertahanlah sampai kau bisa keluar lagi!" teriak Rukia duduk di sisi kanan Vert.
"Benar! Jangan kalah!" pekik Noire duduk di sisi kiri Vert.
"Aku juga mendukungmu!" seru Blanc duduk di sisi kiri Noire.
Semua gadis sibuk menyemangati Neptune. Sementara Nepgear berkutat dengan laptopnya yang terhubung dengan helm lewat jalur bluetooth. Dia serius sekali saat mengakses program game untuk menemukan penyebab bug.
.
.
.
Dua gadis berpakaian serba hitam terlihat di keramaian pusat kota, tepatnya di Leanbox. Semua orang yang melewati mereka, tertarik melihat mereka. Fokus pada gadis berpakaian hitam yang lebih tinggi.
"Noire-nee masih ada di sini, jadi kita harus mengunjunginya sekarang," ucap Uni menggandeng tangan kakak perempuannya yang baru.
"Oh, tempatnya sangat bagus," balas Renji memperhatikan teliti keadaan sekitar. Dia heran karena semua orang memperhatikannya dengan sorot aneh. "Tapi, mengapa banyak poster gadis berdada besar dengan iklan game RPG terpasang di mana-mana?"
"Itu Vert, Goddess yang memimpin tempat ini."
"Oh. Dia cantik juga."
Renji berhenti sejenak, menatap poster Vert. Poster itu terpasang di sebuah tiang listrik. Uni memperhatikan gelagat aneh dari Renji.
"Ren-nii, mengapa wajahmu memerah?" tanya Uni mencubit pipi Renji, "tingkahmu sama seperti Ichigo-nee."
"Sakit! Lepaskan!" teriak Renji kelabakan.
"Bersikaplah seperti perempuan!"
"Itu sulit!"
"Ichigo-nee saja bisa beradaptasi dengan cepat! Tentu kau bisa melakukannya!"
Uni dan Renji saling ribut. Semua orang berhenti untuk melihat mereka. Bahkan ada dari mereka yang tertawa.
"Uni," sapa seorang laki-laki berambut orange-kecokelatan, berjalan menghampiri Uni dan Renji.
"Hah? Inoue-nii," balas Uni tersenyum lebar.
"Eh? Inoue?" tanya Renji tercengang.
Inoue dan Renji saling memperhatikan antara satu sama lain. Mereka tidak saling mengenal kecuali Renji. Uni yang melihat mereka bergantian, tersenyum.
"Inoue-nii, perkenalkan, ini kakakku yang baru. Lebih tua dari Noire-nee. Namanya Renji," kata Uni menatap Inoue.
"Kakak baru? Renji?" tanya Inoue membelalakkan mata.
"Kau ... Inoue Orihime?" Renji menunjuk muka Inoue.
"Kau ... Abarai Renji?" Inoue juga menunjuk wajah Renji.
Sunyi. Semua orang ternganga karena mendengarkan mereka. Setiap hati, tidak mengerti.
"Aaah! Mengapa kau jadi laki-laki keren begini, Inoue?" Renji berteriak menggila.
"Diam, Ren-nee." Uni langsung membekap mulut Renji, langsung berbisik ke telinga Renji. "Kau tidak boleh membeberkan apapun tentang dunia asalmu pada orang-orang di dunia ini, 'kan? Itu yang dikatakan Histoire."
Renji mengangguk beberapa kali. Tampangnya memucat karena melihat muka Uni yang seolah menyeramkan seperti monster. Kemudian Uni tersenyum.
"Bagaimana kalau kita pergi ke Basilikom utama sekarang?" tanya Uni. Wajahnya berseri-seri.
"Ya," jawab Renji mengangguk lagi. Lesu.
"Aku juga mau ke sana," sahut Inoue tersenyum.
"Baiklah. Inoue-nii ikut kami saja."
Giliran Inoue yang mengangguk. Dia berjalan bersama Uni yang menyeret Renji. Orang-orang juga bubar karena pertunjukan gratis telah usai.
.
.
.
"Noire-nee!" teriak Uni saat masuk ke kamar Vert. Dia langsung melompat dan menimpa Noire.
Bagian belakang kepala Noire terbentur lantai. Dirinya dihimpit oleh Uni. Kaget.
"Uni-chan! Mengapa kau tiba-tiba muncul begini?" tanya Noire yang merasa sakit pada kepala dan sekujur tubuhnya. Menukikkan alis.
"Maaf," jawab Uni langsung duduk bersimpuh di samping Noire, "soalnya aku merindukan Nee-chan."
"Baru sebulan lebih, kau merindukanku?"
"Tentu saja. Lalu, aku juga punya kabar bagus."
"Kabar apa?"
"Masuklah, Ren-nee!"
Renji masuk ke kamar kecuali Inoue yang mengintip dari pintu. Semua gadis membelalakkan mata saat melihat Renji. Fokus mereka malah tertuju pada tato di badan Renji.
"Dia siapa, Uni-chan?" tanya Ichigo menyipitkan mata.
"Dia mirip dengan kita," kata Noire ternganga.
"Dia kakak baru. Kakak sulung kita yang dibawa Histoire dari dunia lain. Namanya Renji," jawab Uni tersenyum.
"Hah? Renji?" Ichigo dan Rukia membulatkan mata sempurna.
"Ichigo-chan, Rukia-chan, kalian kenal dia?" tanya Vert menunjuk Renji.
"Ya, Vert-nee. Kami mengenalnya. Dia shinigami yang sama dengan kami," jawab Rukia melirik Vert dan mendapatkan anggukan dari Ichigo.
"Shinigami lagi?" Blanc menghela napas.
Renji bersedekap dada. Menampilkan senyum khas. Tingkahnya masih sama seperti dirinya yang dulu.
"Aku Renji, New Black Sister, kandidat CPU Lastation," ucap Renji menukikkan alis, "aku sudah mati di dunia asalku, dan dihidupkan lagi oleh Histoire. Aku bereinkarnasi menjadi gadis yang menjadi kakak sulung Noire dan Uni. Jadi, bagi kalian yang mengenalku, silakan berdiri."
Rukia yang berdiri duluan, memandang Renji dengan ekspresi hampa. Matanya menajam. Alisnya tertukik.
"Aku Rukia, Green Sister, kandidat CPU Leanbox," ujar Rukia bernada tegas, "aku mengenalmu, Abarai Renji."
"Eh? Kau ... Kuchiki Rukia?"
"Iya."
"Kau bereinkarnasi menjadi gadis juga!"
"Lalu, mengapa?"
"Ini tidak adil! Aku laki-laki, mengapa menjadi perempuan begini?"
Renji frustasi, menjambak rambutnya sendiri. Kepalanya tertunduk. Masih belum bisa menerima keadaan yang sebenarnya.
"Aku juga laki-laki, tetapi takdir sudah menetapku menjadi perempuan di dunia ini. Mau tidak mau, aku harus menerima takdir itu," kata Ichigo juga berdiri. Semua mata tertuju padanya.
Renji mengangkat kepala untuk melihat Ichigo. "Apa? Kau itu laki-laki?"
"Ya. Aku Kurosaki Ichigo, yang kau lihat diriku ini sekarang perempuan."
"Hah? Kau benar-benar menjadi gadis tulen sekarang, Ichigo?"
"Ya, begitu. Mengapa? Kau punya masalah dengan itu?"
"Tidak. Aku hanya berpikir hanya Ichigo yang sekarang menjadi perempuan, bukanlah laki-laki yang keren."
"Apa katamu?"
Ichigo marah, mendekatkan wajahnya dengan wajah Renji, tetapi berjarak cukup dekat. Renji yang semula menunjuknya, berekspresi mengejek.
"Kau itu juga perempuan, bodoh! Apa kau lupa kau juga direinkarnasi oleh Histoire? Jika dia tidak menyelamatkanmu, pasti kau sudah mati, Renji!" bentak Ichigo mendelik Renji.
Renji turut melototi Ichigo. Emosinya juga naik, hendak adu jotos dengan Ichigo. Tapi, sebelum itu terjadi, Nepgear dan Uni menghentikan mereka.
"Sudah, Ichigo-nee! Malu dilihat yang lain," kata Nepgear menarik tangan Ichigo.
"Ya. Kalian seperti laki-laki yang hendak berkelahi saja," balas Uni juga menarik tangan Renji.
"Tapi, kau malah menjadi gadis cantik begini. Bertato lagi," sela Rukia menahan tawa, "lucu juga melihatmu begini, Renji."
"Jangan tertawakan aku, Rukia!" Renji melototi Rukia.
"Aku tidak menertawakanmu..."
Rukia tidak bisa menahan tawanya. Hatinya tergelitiki karena tingkah Renji tidak sesuai dengan keadaan sekarang. Suara tawanya cukup keras, sehingga memancing emosi Renji naik ke ubun-ubun.
"Rukia! Berhentilah tertawa!" sembur Renji berjalan cepat menuju Rukia. Menunjuk muka Rukia.
Rukia berhenti tertawa, memegang tangan Renji. "Apa kau bisa bersikap layaknya perempuan?"
"Tidak!"
"Kau harus belajar dengan Ichigo."
"Tidak perlu!"
"Ichigo, ajarkan Ren-chan tentang tata krama sebagai perempuan."
"Ya, Rukia-chan." Ichigo tersenyum.
"Apa-apaan panggilan Ren-chan itu?" protes Renji mendelik Rukia.
"Panggilan itu cocok untukmu."
"Tidak!"
Renji berteriak sangat keras. Frustasi kembali menyerang dirinya. Bahkan dia menggoyang-goyangkan badan Rukia dengan cara memegang kedua bahu Rukia.
Rukia murka, langsung menendang perut Renji. Tindakannya itu mampu membuat Renji diam. Kemudian Renji jatuh berlutut. Kepalanya tertunduk, seolah aura kesuraman merayap-rayap di belakang badannya. Memegang perutnya yang terasa sakit.
Rukia juga berlutut. Menepuk pelan kepala Renji. Mencoba memberikan hiburan. Tapi, Rukia tetap ingin tertawa karena senang dengan penderitaan Renji.
Semua orang yang menyaksikan interaksi di antara Rukia dan Renji, tercengang. Terutama mereka tidak menyangka Rukia yang terkesan anggun dan manis, ternyata memiliki sikap kasar seperti preman.
"Vert-chan, mengapa adikmu berubah total begitu setelah bertemu dengan Ren-nee?" tanya Noire menjeling Vert.
"Aku tidak tahu," jawab Vert tersenyum kaku.
"Rukia-chan, kukira seanggun dirimu, Vert," celetuk Blanc bertampang datar.
"Inoue-nii, mengapa kau berdiri di situ?" tanya Nepgear yang semula sibuk melototi laptop lagi, sambil duduk di dekat meja, menyadari keberadaan Inoue. Ichigo yang bersamanya, juga melihat Inoue.
Inoue tetap melongokkan kepalanya dari balik pintu, melemparkan senyum ke arah Nepgear. "Aku ingin melihat Ichigo-chan saja."
"Oh. Masuklah. Tidak apa-apa."
"Aku tetap di sini saja."
"Kau masih saja malu, Inoue-kun," sela Ichigo berjalan menghampiri Inoue.
Ichigo menarik Inoue masuk. Inoue panik, terpaksa mengikuti Ichigo. Hatinya senang bisa bersama Ichigo lagi.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
A/N:
Chapter 24 up. Update perdana di tahun baru, tahun 2023.
Maaf, ya, saya nggak mengupdate cerita ini sebulan karena kendala sakit dan nggak ada mood menulis. Tapi, saat saya cek semua review kalian, saya tergerak untuk mengupdate-nya. Ya, biar kalian nggak capek menunggu cerita ini update.
Maaf juga, saya nggak bisa membalas semua review kalian. Jadi, semua apa yang kalian tulis di review, akan terjawab di ceritanya.
Yang menunggu aksi Rukia menggunakan bankai, itu akan ditampilin saat Rukia menghadapi musuh yang sangat kuat. Begitu juga dengan Ichigo dan Renji. Karena cerita ini sudah memasuki cerita Hyperdimension Neptunia Rebirth 3, yang berarti Plutia akan muncul lagi. Saksikan saja di chapter depan.
Saya jadwalkan chapter 25 akan update pada hari Selasa, tanggal 9 Januari 2023. Itu kalau nggak ada kendala, ya. Sekian dan terima kasih.
Dari Hikayasa Hikari
Selasa, 3 Januari 2023
