Disclaimer:

Bleach: Tite Kubo

Hyperdimension Neptunia: Idea Factory

.

.

.

Pairing: MaleInoue x FemChigo

Genre: fantasy, family, humor, adventure, action, scifi, romance

Rating: M (berubah ratingnya karena ada adegan yang mengandung kekerasan, gore, dan sebagainya)

Setting: dunia Gamindustri

.

.

.

Goddess Shinigami

By Hikayasa Hikari

.

.

.

Fic request for Special Pairing 15

.

.

.

Chapter 25. Monster yang tangguh?

.

.

.

Neptune yang ada di dalam game, menjelajahi labirin tanpa dinding. Dia masih berwujud manusia, memegang pedang yang mirip dengan katana. Di hadapannya, ada dua monster hijau bertubuh kecil lunak -- sejenis Slime.

Inoue dan para Goddess yang menonton Neptune di layar hologram dari Consol, duduk rapi. Mereka merasakan ketegangan saat dua Slime melompat ke arah Neptune. Dua monster itu melemparkan cairan sejenis asam dan dihindari oleh Neptune.

"Aaah! Hampir saja!" seru Neptune. Dia melompat saat mengelak serangan dari monster-monster itu. Kemudian dia berlari cepat seraya melayangkan pedang horizontal ke kanan. "Aaah!"

Neptune berhasil menebas dua kaki semua monster itu. Monster-monster lenyap dan berubah menjadi koin-koin yang berputar. Neptune mengambil koin-koin itu, lalu semua koin itu melayang masuk ke icon koin yang ada di pojok kiri atas.

"Neptune-chan! Semangat! Aku yakin kau akan keluar dari sini!" seru Vert meletakkan kedua tangannya di antara mulutnya sehingga membentuk corong. Berharap suaranya menjadi lebih keras agar Neptune bisa mendengarnya.

"Ya, Vert-chan! Aku akan berusaha keras!" balas Neptune melambaikan tangan, masih mendengar suara Vert dan semua temannya.

"Nepgear, apa kau sudah selesai memperbaiki bug-nya?" tanya Ichigo menoleh ke arah Nepgear.

"Belum, Ichigo-nee," jawab Nepgear menatap laptop miliknya yang terletak di atas meja, "seharusnya aku bisa mengatasi bug-nya, tetapi aku tidak tahu asal penyebab bug itu datang."

"Hah? Bagaimana bisa?"

Ichigo berdiri dan berjalan mendekati Nepgear. Dia penasaran dengan apa yang terjadi di laptop Nepgear. Inoue dan semua orang juga penasaran, bergegas mengerubungi Ichigo serta Nepgear.

Tiba-tiba, muncul pusaran dimensi yang muncul di layar laptop, mengejutkan Ichigo dan semua orang. Bertepatan lingkaran sihir berbentuk tabung mengelilingi mereka. Lingkaran sihir yang biasa digunakan Histoire.

"Aaah? Apa ini?" tanya Uni membelalakkan mata saat disedot pusaran itu duluan.

"Aaah! Uni!" teriak Noire membulatkan mata. Ikut masuk ke pusaran itu.

"Aaah!" pekik Inoue dan semua orang yang tersedot juga masuk ke pusaran itu.

Hening ketika pusaran itu menghilang. Neptune juga lenyap dari layar. Dia turut disedot oleh pusaran dimensi yang membawanya keluar dari game.

.

.

.

Seekor monster raksasa hitam setinggi sepuluh meter menyerupai kalajengking, memporak-porakdakan sebagian bangunan yang ada di Planeptune. Dari ujung ekornya, energi merah besar mirip laser beam keluar dan meluncur ke sasaran yang ditujunya. Mengakibatkan ledakan besar beruntun yang mencetak parit besar panjang.

"Sialan! Dia kuat sekali!" seru gadis berpakaian bikini dengan balutan amor di badannya. Bersayap mekanik yang membuatnya bisa terbang, "semua seranganku tidak mempan padanya!"

Gadis berambut ungu gelap, terengah-engah. Bahunya turun-naik. Sekujur tubuhnya sudah dipenuhi luka-luka akibat serangan dari sang monster. Namun, pertahanan tubuhnya masih kuat, membuatnya bisa bertarung lagi.

Gadis berambut ungu gelap, kembali melemparkan pedangnya yang bisa berubah menjadi cambuk. Cambuk itu berhasil menangkap ekor yang menjadi andalan sang monster. Senyum sadis terukir di wajah gadis Goddess yang cantik.

"Jangan kau pikir, kau bisa mengalahkan aku begitu saja," kata gadis berambut ungu gelap, menyipitkan mata, "aku akan membuatmu hancur sekarang!"

Monster berteriak, menarik cepat gadis Goddess dengan ekornya. Gadis Goddess membelalakkan mata saat ekor monster mengayunkannya seperti kincir. Menyebabkan gadis itu pusing tujuh keliling. Semakin lama semakin cepat, kemudian sang monster melemparkannya sangat kuat ke arah langit.

"Aaah!" teriak gadis berambut ungu gelap itu. Dia terpental sangat jauh dari monster. Mendarat di reruntuhan bangunan. Bertepatan beberapa orang jatuh dari langit, langsung menimpa dirinya.

"Aduh," ucap Ichigo yang mendarat di samping gadis berambut ungu gelap tadi.

"Histoire ada di mana dia?" tanya Nepgear bersisian dengan Ichigo.

"Hah? Kita ada di mana ini?" Noire tengkurap di samping Uni.

"Kita ada di Planeptune." Blanc tercengang.

"Semuanya hancur," sahut Vert membelalakkan mata, telentang.

"Apa yang terjadi di sini?" tanya Rukia di samping Vert.

"Mengapa empuk sekali?" Renji tidak sengaja meremas sesuatu berbentuk bulat dan lunak. Spontan, matanya membesar saat beradu pandang dengan gadis berambut ungu gelap tadi dari jarak yang cukup dekat. "Aaah!"

Renji spontan mundur beberapa langkah. Semua orang melihatnya, bingung, hal tidak terduga dari Renji adalah hidung Renji berdarah setelah melihat pakaian serba terbuka dari gadis berambut ungu gelap. Semua orang mengetahui gelagat Renji, membelalakkan mata.

Noire dan Uni datang menghampiri Renji. Tiba-tiba, Noire menampar pipi kanan Renji. Mengejutkan semua orang.

"Ren-nee mesum!" teriak Noire melototi Renji.

Uni menambahkan tamparan di pipi Renji yang bebas. "Mengapa Ren-nee seperti itu? Sudah kubilang beberapa kali, jadilah perempuan yang anggun!"

Renji melongo. Berekspresi pucat pasi. Memegang kedua pipinya dengan perasaan panik.

Sialan, mengapa ini harus terjadi padaku? Batin Renji menangis pasrah.

Semua gadis berbisik-bisik kecuali Inoue. Mereka berekspresi serius.

"Ren-chan belum bisa mengendalikan jiwanya yang masih laki-laki. Kita harus membantunya untuk menjadi perempuan yang sesungguhnya," kata Vert menukikkan alis.

"Tapi, bagaimana caranya, Vert-nee?" tanya Rukia mengerutkan kening.

"Kita lakukan cara yang sama seperti saat Ichigo baru menjadi perempuan."

"Oh, ya, benar juga," sahut Nepgear tersenyum.

"Masalah itu, nanti kita bicarakan lagi. Yang utama itu, kita harus menolong Goddess itu," sela Blanc bertampang datar.

Kemudian semua mata tertuju pada gadis berambut ungu gelap tadi. Gadis berambut ungu gelap yang masih terbaring.

"Eh? Dia?" Ichigo membelalakkan mata.

"Plutie!" seru Neptune berlari mendekati Plutia. Dia jatuh bersama Inoue tak jauh dari Ichigo dan para gadis mendarat tadi.

Plutia setengah sadar, masih mendengar suara semua orang. Masih berwujud Iris Heart. Plutia melihat semua orang mengelilinginya.

"Ka ... kalian ...?" Plutia melebarkan mata.

"Apa yang terjadi di sini, Plutie?" tanya Neptune memegang tangan kiri Plutia.

"A ... ada monster yang menyerang tempatku ini."

"Monster?"

Semua orang membulatkan mata sempurna. Tiba-tiba, muncul semburan energi besar meluncur ganas ke arah mereka. Serangan dari sang monster, diketahui oleh Renji.

"Semuanya! Awas!" teriak Renji. Suaranya sangat keras.

"Santen Kosshun!" seru Inoue, berdiri dan mengulurkan kedua tangan ke depan. Fullbring miliknya menyebar menjadi kubah bercahaya. Membungkus semua orang sehingga serangan monster tadi tidak mengenai mereka.

Ledakan besar menghantam perisai Inoue. Dampaknya membuat dinding dan tanah bergetar hebat bagai dilanda gempa bumi tektonik. Semua orang berpegangan karena panik.

"Kita harus membantu Inoue!" pekik Ichigo, langsung berubah menjadi Goddess.

"Ya," balas semua Goddess mengangguk kecuali Plutia dan Renji. Mereka memejamkan mata. Berkonsentrasi untuk memusatkan pikiran agar membangkitkan kekuatan HDD di gelang masing-masing.

Namun, sesuatu yang ganjal terjadi pada Ichigo dan rekan-rekannya. Hanya Ichigo dan Rukia yang berubah menjadi Goddess. Mereka sudah berdiri bersama Inoue, menyadari keanehan itu.

"Eh? Gelangnya tidak bercahaya?" tanya Neptune tercengang.

"Ada apa ini?" Nepgear bermuka pucat.

"Apa yang terjadi sebenarnya?" Vert bingung, membelalakkan mata.

"Mengapa mereka berdua yang bisa berubah, sedangkan kita tidak bisa?" Blanc menukikkan alis.

"Kalau begini, kita tidak bisa berubah untuk melawan monster itu," ujar Uni membelalakkan mata.

"Ichigo," kata Rukia menyipitkan mata, "apa kita saja yang harus bergerak untuk memusnahkan monster ini?"

"Ya," balas Ichigo memanggil pedangnya ke bahu kanannya, "Ren-chan, apa kau juga mau bergabung dengan kami?"

"Tidak! Jangan memanggilku begitu!" teriak Renji melototi Ichigo.

"Mengapa kau begitu, Renji?"

"Aku belum bisa berubah wujud seperti kalian. Aku tidak tahu caranya untuk menjadi Goddess. Karena itu, aku akan menunggu di sini dan melindungi yang lainnya." Renji bermuka datar.

Ichigo dan Rukia membulatkan mata. Mereka saling pandang. Sadar bahwa Renji belum siap untuk berubah menjadi Goddess.

"Baiklah, Renji. Kami serahkan yang lainnya padamu." Ichigo tersenyum.

"Ya. Tidak perlu khawatir, tentu, aku akan melindungi yang lainnya." Renji mengangguk, tersenyum.

"Kita mulai, Ichigo!"

"Inoue-kun, tetaplah melindungi semua orang dengan perisaimu, ya?" Ichigo menepuk bahu Inoue.

"Ya, Ichigo-chan," sahut Inoue mengangguk.

Rukia langsung terbang bersama Ichigo. Mereka menembus perisai Inoue. Bergegas menghampiri sang monster.

Ekor monster melengkung, menembakkan semburan energi yang lebih besar ke arah Ichigo dan Rukia. Dua Goddess Shinigami berpencar menggunakan langkah kilat shunpo, saling melemparkan serangan balasan.

"Getsuga Tenshou!" seru Ichigo melayangkan pedang vertikal ke bawah. Menciptakan reiratsu biru membentuk pilar ke arah monster.

""Menarilah, Sode No Shirayuki!" kata Rukia memegang pedang di depannya dan memutarnya berlawanan dari arah jarum jam.

Serangan Rukia mampu menciptakan aliran dingin yang sangat cepat. Sang monster bisa menahan dirinya agar tidak terseret oleh aliran dingin itu. Hal itu tidak mengalihkan perhatiannya, tetap fokus pada dua lawannya. Ekornya kembali melengkung, menembakkan energi lebih besar dari serangan sebelumnya ke arah serangan Ichigo.

Ledakan besar tidak terelakkan saat serangan monster dan Ichigo beradu. Menimbulkan gelombang kejut yang mementalkan apa saja di sekitarnya, termasuk Ichigo dan Rukia.

"Gawat! Ichigo! Rukia!" teriak Inoue dan para Goddess saat menyaksikan peristiwa ledakan mengerikan itu. Inoue juga berusaha tetap menggunakan perisai agar melindungi dirinya dan semua orang selama Ichigo dan Rukia bertarung menghadapi monster.

Ichigo dan Rukia terhempas ke tempat yang berbeda. Mereka mendarat kasar. Merasakan sekujur tubuh mereka sangat sakit. Pakaian mereka tidak robek, tetap utuh sediakala.

"Se ... seranganku mampu ditahan oleh monster itu?" tanya Ichigo membeliakkan mata. Syok.

"Ichigo! Ayo, bangkit! Ini baru permulaan!" jawab Rukia dari jarak yang cukup jauh dari Ichigo. Suaranya sangat keras.

"Benar. Baru permulaan."

Ichigo perlahan berdiri. Menghentakkan kakinya ke tanah berlapis reruntuhan. Tiba-tiba, Zangetsu kembali tergenggam di tangannya, bersama aliran reiratsu mengelilingi tubuhnya.

"Bankai!" jerit Ichigo menukikkan alis. Pakaiannya berubah saat masuk mode bankai.

Rukia menyipitkan mata. "Apa aku juga harus menggunakan bankai? Karena kulihat monster ini cukup tangguh. Tapi, aku akan coba menggunakan semua jurusku."

Rukia berdiri dan langsung terbang. Melihat Ichigo yang juga melayang ke arah sang monster. Ichigo hendak mengeluarkan serangan terkuatnya seraya bersuara sangat keras, " Getsuga Tenshou!"

Zangetsu terayun vertikal ke bawah berkecepatan tinggi. Menembakkan reiratsu hitam-keunguan menyerupai pilar ke arah monster. Sang monster sudah berpindah tempat, nyaris di dekat Inoue dan para Goddess, kembali menembakkan energi sangat besar. Serangannya kembali beradu dengan dengan serangan Ichigo. Sehingga menimbulkan ledakan sangat kuat dari sebelumnya.

Efek ledakan itu kembali mementalkan apa saja, dan bahkan membakar wilayah Planeptune lebih luas. Bahkan Inoue tidak bisa menahan perisai itu lebih lama akibat guncangan yang terlampau kuat, menyebabkan dirinya dan para Goddess terkena dampak ledakan. Mereka terlempar cukup jauh dari lokasi pertempuran.

Ichigo dan Rukia kembali mendarat di tempat yang berbeda. Mereka merasakan tubuh yang semakin sakit. Pedang mereka juga terlepas dari tangan masing-masing.

"Ti ... tidak mempan juga?" Ichigo membesarkan mata. Menyadari pergerakan monster ke arahnya. Monster itu sangat besar, hendak menyerangnya dengan ekornya.

Asap hitam mengepung lokasi pertempuran. Sehingga semua orang sulit untuk melihat. Tapi, Inoue dan para Goddess sudah terkapar pingsan dari jarak yang tak jauh. Bermandikan debu tebal.

"Ichigo!" teriak Rukia, mendengar suara langkah kaki monster yang menggema. Dia buru-buru bangkit dan memanggil pedangnya dengan hentakan kaki.

Rukia menggunakan shunpo. Dia tiba di depan Ichigo sebelum monster menembak Ichigo. Berdiri di permukaan tanah. Menunjukkan muka garang pada si monster.

"Some no mai, Tsukishiro!" seru Rukia dengan suara yang sangat keras.

Bilah pedang Rukia bersinar dan membuat Rukia melakukan gerakan menebas saat para target berada di posisi. Ketika Rukia melakukan ini, menggambarkan lingkaran dengan ujung Sode No Shirayuki. Ruang di dalam lingkaran itu dan apapun di dalamnya membeku.

Lingkaran tidak hanya membekukan tanah, tetapi semua yang ada di dalam pengaruh lingkaran, termasuk apapun yang ada di udara. Menciptakan pilar cahaya memanjang yang membekukan semua yang ada di dalam lingkaran.

Monster itu berhasil dibekukan, tetapi entah mengapa dia bisa menghancurkan es itu dengan tembakan energi. Es itu meleleh bagai es yang dipanaskan karena serangan monster mengandung asam yang sangat panas.

"Apa?" Rukia membulatkan mata sempurna. Dirinya disambar oleh lilitan ekor monster. Membawanya terayun terbang dan diputar seperti kincir.

Monster melemparkan Rukia sangat kuat ketika putaran yang terakhir. Rukia terpental sangat jauh dari lokasi pertempuran. Tubuhnya menghantam tanah sangat kuat. Menyebabkan dirinya tak bergerak. Masih sadar.

"Rukia!" teriak Ichigo saat melihat Rukia yang terlempar karena asap telah menghilang. Ichigo ingin berdiri, tetapi perasaan sakit yang dirasakannya menghalau niatnya itu. "Ukh."

Sunyi. Monster kembali menfokuskan dirinya untuk menghadapi Ichigo. Mata biru menyalanya menyipit. Berteriak seraya mengacungkan ujung ekornya ke arah Ichigo.

Ichigo melihat monster dengan pandangan tajam. Alisnya menukik. Berusaha mengabaikan perasaan sakit.

"Apapun yang terjadi, aku harus ... melindungi semua orang di sini!" teriak Ichigo. Telapak tangan kanannya terangkat dan diletakkan di depan wajahnya. Tangannya ditarik dari kiri ke kanan.

Muncul topeng hollow yang menutupi wajah Ichigo. Bertepatan Zangetsu muncul di tangan kanan Ichigo. Aliran reiratsu mengelilingi tubuh Ichigo.

Monster menembak energi besar ke arah Ichigo. Ledakan terjadi di tempat Ichigo berdiri tadi. Ichigo muncul di atas kepala monster, melayang dengan angin yang bertiup sangat kencang.

Ichigo menebas horizontal ujung ekor yang merupakan senjata andalan monster, tetapi usahanya itu sia-sia saja. Betapa tidak, Zangetsu tidak berhasil menikam ekor itu, karena kulit monster terbuat dari logam yang sangat kuat. Monster menghantam Ichigo dengan seruduk ekornya. Melemparkan Ichigo kembali ke tanah.

.

.

.

Bersambung

.

.

.

A/N:

Chapter 25 up.

Akhirnya saya bisa menulis juga dan mengupdate-nya sekarang. Maaf banget, rencananya chapter ini diupdate tanggal 9 Januari 2023, 'kan? Ya, tepat pada hari itu, saya malah sakit lagi dan nggak bisa nulis terlebih dahulu. Ditambah anggota keluarga saya juga sakit, jadinya saya harus mengurus mereka.

Terima kasih banget kalian mau mereview dan menunggu cerita ini, meskipun update-nya lama. Saya nggak nyangka ada yang masih yang masih setia membaca cerita ini, jadinya saya bersemangat untuk melanjutkannya. Doakan ya, saya sehat terus agar bisa mengupdate cerita ini dengan cepat. Kalau bisa, saya akan update cerita ini seminggu sekali, kalau nggak ada halangan lagi.

Oh ya, saya nggak bisa menjawab review kalian karena apa yang kalian tanyakan akan terjawab di cerita ini. Yang pastinya, saya senang dengan semua review kalian. Itu apresiasi buat saya.

Sekian dan terima kasih.

Dari Hikayasa Hikari.

Rabu, 25 Januari 2023