DO NOT ENTER ! (CHANBAEK)

BOYSLOVE/YAOI

Main Cast :

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Summary :

Jangan masuk ke dalam sana! Tidak ada yang diperbolehkan masuk ke dalam sana! Larangan tersebut telah diketahui oleh setiap penghuni rumah. Namun Byun Baekhyun, laki-laki yang mendadak menjadi seorang penyusup telah melanggarnya.

~Keseluruhan cerita berasal dari imajinasiku sendiri~

.

.

BB922016


Do Not Enter ! : Chapter 1

Suara langkah sepatu terdengar menghampiri seorang laki-laki mungil dengan hoodie abu-abunya yang tengah duduk santai di salah satu ayunan yang berada di sebuah taman.

"Byun Baekhyun."

Laki-laki berhoodie itu menoleh ketika merasa namanya dipanggil. Dan senyuman manis langsung mengembang diwajahnya saat melihat kedatangan sahabatnya yang sedari tadi ditunggu-tunggu.

"Jongdae-ah, akhirnya kau datang juga."

Baekhyun bangkit dari duduknya hingga kini keduanya saling berhadapan.

"Maaf, aku terlambat. Ini, aku sudah membawakannya untukmu."

Lelaki dengan nama lengkap Kim Jongdae itu menyodorkan beberapa brosur kepada Baekhyun.

Beberapa hari sebelumnya, Baekhyun sempat meminta tolong kepada Jongdae untuk memberikannya brosur-brosur lowongan kerja.

Saat ini Baekhyun memang tengah mencari pekerjaan. Karena seminggu yang lalu ia baru saja dipecat dari pekerjaannya sebagai seorang pelayan cafe. Ia masih ingat dengan jelas apa alasan ia dipecat waktu itu.

Ia dipecat hanya karena tak sengaja menumpahkan coffe ke salah seorang baju pelanggan. Terdengar tidak terlalu besar masalahnya, jika saja yang menjadi pelanggan saat itu bukanlah anak dari pemilik cafe tersebut. Dan ya.. semua kacau begitu saja. Kerja kerasnya selama 4 tahun, kini harus sia-sia hanya karena satu kali kecerobohannya. Dan mau tak mau ia harus memulai semuanya lagi dari nol.

Sedikit pemberitahuan, Baekhyun hanya tinggal seorang diri di sebuah rumah susun. Ia sudah tidak memiliki kedua orang tua sejak umurnya menginjak 15 tahun. Bukan hal yang mudah untuknya melewati masa-masa itu. Apalagi umurnya masih terbilang sangat muda. Tapi ia bersyukur karena setidaknya ia sempat memiliki seorang nenek yang mau merawatnya sampai ia berumur 18 tahun, dan itu artinya ia sudah cukup umur untuk bisa bekerja menghidupi dirinya sendiri.

Namun kabar duka pasti selalu ada. Di umurnya yang ke 19 tahun, lagi-lagi Baekhyun harus menelan kenyataan pahit ketika mengetahui neneknya meninggal dunia karena penyakit yang dideritanya.

Tapi Baekhyun tahu dibalik semua kesedihan dan luka yang diterimanya, pasti ada rencana terbaik yang sedang direncanakan Tuhan untuknya. Ia selalu menanamkan hal itu di dalam hati hingga di umurnya yang ke-25 tahun saat ini.

"Terima kasih, Jongdae-ah. Kau memang yang terbaik!"

"Tidak masalah."

Meskipun hidup Baekhyun tak berjalan seperti yang diimpikannya, tetapi ia sangat berterima kasih kepada Tuhan karena telah memberikannya seorang teman yang selalu ada untuknya seperti Kim Jongdae.

Baekhyun memutuskan untuk duduk kembali diikuti oleh Jongdae yang mendudukkan dirinya di ayunan yang berada disamping Baekhyun.

Laki-laki mungil itu tersenyum lalu mengalihkan pandangannya pada brosur-brosur ditangannya. Ia mulai melihat-lihat jenis pekerjaan apa saja yang sedang dicari oleh toko-toko di dalam brosur tersebut.

Dan pandangannya terhenti pada sebuah brosur yang tengah mencari seorang pekerja sebagai kasir di sebuah toko buku. Gajinya terbilang lumayan dibandingkan gaji pekerjaan lainnya yang disebutkan di brosur-brosur itu.

"Ku rasa aku akan mencoba untuk melamar pekerjaan di toko buku ini terlebih dahulu." Ucap Baekhyun pelan.

Jongdae terlihat mengangguk-angguk setuju dan seperti biasa ia akan menyemangati Baekhyun dengan kalimat-kalimat penyemangatnya yang membuat Baekhyun merasa tenang dan nyaman secara bersamaan.

"Semangatlah, Byun Baekhyun. Apapun itu, aku yakin Tuhan pasti akan selalu membawamu ke tempat yang baik. Kau pasti bisa mendapatkan pekerjaan yang layak untukmu."

"Terima kasih, Jongdae-ah."

Jongdae membalasnya dengan sebuah anggukan kecil. "Oh ya, apa kau tidak ingin mampir dulu ke rumahku?"

Baekhyun melirik sekilas kearah jam tangannya lalu mendesah dengan raut wajah murung. Dari taman, rumah Jongdae tidak cukup jauh. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih 10 menit dengan berjalan kaki. Namun apabila dari rumah Jongdae ke rumah susun tempat tinggal Baekhyun, maka itu akan memakan waktu 30 menit.

"Sayang sekali, aku harus segera pulang ke rumah mengambil beberapa formulir untuk melamar. Aku harus segera cepat-cepat melamar sebelum ada yang terlebih dahulu diterima, kan? Apalagi kau tahu sendiri bahwa jarak rumah kita sangat jauh. Maaf ya, mungkin lain kali."

"Ah, tidak apa-apa. Kalau begitu cepatlah pulang ke rumah. Aku akan mendoakanmu dari sini. Semoga berhasil!"

"Hm. Aku pergi dulu, Jongdae. Sampai jumpa! Sekali lagi, terima kasih." Baekhyun melambaikan tangannya lalu mulai berjalan menjauhi taman.

Namun tiba-tiba ia mendengar suara Jongdae memanggil namanya. Dan ketika Baekhyun menoleh, dengan senyuman jahilnya Jongdae mengatakan,

"Hati-hati saat melewati rumah di ujung sana, Baek!"

Lalu setelahnya Jongdae tertawa ketika melihat raut wajah sahabatnya yang langsung berubah pucat. Oh, sial! Jongdae sedang mencoba menakuti Baekhyun dengan kalimat itu.

Yang dimaksud Jongdae, adalah rumah keluarga Park. Siapa yang tidak mengenal keluarga tersebut? Keluarga Park merupakan salah satu keluarga konglomerat yang sangat terkenal di Korea. Tetapi ada beberapa hal menakutkan tentang rumah keluarga itu, selain sikap sang pemilik rumah yang sangat amat dingin.

Sebenarnya tidak ada yang tahu secara detail mengenai rumah itu. Namun ada desas-desus yang mengatakan bahwa siapapun orang asing yang memasuki rumah itu, ia tidak akan pernah bisa keluar lagi. Banyak yang mengatakan kemungkinan besar mereka diperbudak. Dan ada juga yang mengatakan jika mereka mungkin saja telah dibunuh disana.

Telah beredar banyak gosip dimana-mana. Dan Gosip yang sempat menggemparkan tentang rumah itu adalah ketika seorang wanita paruh baya mengatakan kepada semua orang bahwa anaknya yang bekerja menjadi pelayan di rumah keluarga Park tidak pernah pulang lagi sejak saat diterima kerja di rumah tersebut. Wanita itu juga mengatakan bahwa anaknya tidak diperbolehkan untuk keluar dari rumah itu selamanya.

Memang terdengar tidak masuk akal, tetapi semua ucapan wanita itu terasa sangat meyakinkan.

Hal ini juga sempat sampai ke media. Namun entah bagaimana bisa kabar tersebut dalam sekejap hilang seperti diterpa angin. Tentu saja hal itu membuat Baekhyun curiga dan mau tak mau akhirnya percaya pada ucapan wanita tersebut. Pasti keluarga Park telah menutup mulut semua orang dan media tentang kabar miring itu. Terlebih lagi keluarga Park itu sangat kaya raya. Terlalu mudah baginya untuk melakukan hal sekecil itu.

Ah, Baekhyun jadi merinding mengingatnya, ditambah lagi saat ini ia tengah melewati rumah tersebut. Ya tuhan, ia masih tidak menyangka jika rumah semegah dan semewah istana itu ternyata tidak seperti yang dibayangkannya.

Dalam kesunyian, Baekhyun memperhatikan rumah itu dan sedikit tersentak saat pandangannya tiba-tiba mendapati seseorang tengah menatapnya tajam dari balik jendela rumah tersebut.

Mata Baekhyun memang sedikit minus tetapi walaupun samar-samar ia bisa melihat bahwa yang tengah menatapnya dari jendela lantai tiga saat ini adalah seorang laki-laki.

Orang itu masih terus menatapnya tajam sepanjang ia berjalan hingga membuat Baekhyun merinding dan akhirnya lari dengan terbirit-birit.

'Tuhan, kumohon lindungi aku.'


Pria tinggi berumur 34 tahun yang tampak rapih dengan jas hitamnya, tengah menatap cermin besar dengan tangan yang bergerak memasang dasi dibalik kerah kemejanya.

Setelah dasi itu terpasang dengan sempurna, pria tampan itu berjalan mendekati meja kerjanya untuk memeriksa apakah ada berkas yang masih tertinggal di meja.

Ketika dirasanya tidak ada lagi yang tertinggal, ia pun berniat mengambil tas kerja yang ia letakkan di kursi.

Namun pergerakannya terhenti sejenak saat pandangannya terjatuh pada laci meja kerjanya.

Ia terdiam beberapa menit seperti tengah memikirkan sesuatu, sebelum akhirnya ia beranjak mengambil kunci laci tersebut yang disimpannya diantara selipan rak buku yang tersusun dengan teratur di sudut ruangan.

Lalu ia membuka laci tersebut dengan kunci yang diambilnya tadi dan mengambil satu-satunya barang yang ada di dalam sana. Yaitu tumpukan koran yang terlihat sudah usang karena terlalu lama disimpan di dalam laci tersebut.

Kris membolak-balik koran-koran itu. 'Kurasa aku tidak bisa menyimpan ini terus-menerus. Aku harus segera membuangnya.' Batinnya.

Koran-koran lama itu hampir semuanya memuat halaman depan dengan font besar bertuliskan pembunuhan sebuah keluarga.

Kris Park, pria tampan itu menghela napasnya kasar sebelum kembali menaruh tumpukan koran tersebut ke dalam laci dan menguncinya. Tak lupa ia menaruh kembali pula kunci tersebut ke tempat sebelumnya.

Kris memutuskan untuk keluar dari ruang kerja dan berjalan menuju ruang makan untuk sarapan. Sehabis itu, ia akan langsung berangkat ke kantor.

Seperti itulah rutinitasnya setiap pagi. Menjadi seorang konglomerat itu lebih dari sekedar melelahkan. Namun untungnya ia sudah terbiasa dan justru sangat menikmati pekerjaannya. Terlebih lagi ia adalah seorang workaholic.

"Apa kau sudah mengantarkan'nya' makan?" Tanya Kris kepada salah seorang pelayan yang sedang menyajikan makanan di atas meja.

Pelayan itu jelas tahu siapa yang dibicarakan oleh tuannya. Siapa lagi jika bukan seseorang yang tinggal dibalik pintu terlarang, Richard Park.

Pelayan itu terlihat gelisah untuk menjawab. "B-Belum, Tuan. Maafkan saya. S-Saya baru saja ingin mengantarkannya."

Pelayan itu menunduk ketakutan dan menyesali perbuatannya. Ia seharusnya ingat bahwa ia tidak di perbolehkan untuk lalai sedikitpun. Apalagi majikannya ini bisa sangat menyeramkan ketika marah. Dan entah hal apa yang akan diterimanya jika kemarahan itu telah sampai pada batasnya.

Kris mengepalkan tangan mendengarnya. Nafsu makannya tiba-tiba menghilang begitu saja.

Ia bangkit dari duduknya yang tadi sudah berniat untuk segera menyantap makanannya.

"Kau mulai menjadi lamban. Dengar, aku tidak akan pernah mendapati lagi kelambananmu ini atau kau akan tahu apa akibatnya!"

"B-Baik, Tuan." Pelayan itu membungkukkan badannya berulang kali.

"Cepat pergi siapkan makanannya, biar aku yang mengantar."

Kris menghembuskan napasnya kasar ketika pelayan itu segera pergi ke dapur untuk mengambil nampan beserta makanan untuk tuan mudanya.

Kini Kris telah melangkah menuju lantai tiga dengan sebuah nampan dikedua tangannya. Lebih dari sekedar mengantar makanan, sebenarnya ia pun ingin mengobrol sedikit dengan adik kesayangannya itu.

Ya, Richard Park adalah adiknya. Dan sudah lama sekali sejak ia bisa berbicara berdua saja dengan adik laki-lakinya itu.

Jauh di dalam lubuk hati, ia sangat merindukan Richard. Ia selalu merasa bersalah untuk setiap harinya bahkan setiap detik yang dilewati oleh Richard di dalam ruangan itu. Walau ia tahu bahwa semua itu untuk kebaikan Richard sendiri.

Namun, kini ia sudah tidak tahan lagi. Ia ingin mengeluarkan sang adik dari penderitaannya selama 10 tahun di dalam kamar itu. Ia tidak bisa melihat adiknya terus-menerus berada di dalam ruangan itu sendirian.

Kris berdiri dengan kaku menatap pintu di hadapannya. Ia bergerak mengetuk pelan pintu tersebut dan tiba-tiba ia merasa gugup tanpa alasan. Selama 10 tahun ini, ia tidak pernah menyapa adiknya selain hanya berdiam diri menatap pintu tersebut selama beberapa menit sebelum ia berangkat kerja.

"Hai, Richard. Bagaimana kabarmu hari ini?" Tanyanya.

Kris gugup menunggu jawaban dari Richard. Ia berharap setelah beberapa tahun yang sudah terlewati, adiknya akan mau berbicara dengannya.

Namun beberapa menit telah berlalu. Tetapi, ia sama sekali tak kunjung juga mendapat jawaban dari dalam kamar tersebut.

Kris menghela nafasnya. Ia berjongkok dan menaruh nampan tersebut di lantai. "Aku membawakanmu makanan. Kau pasti lapar, kan?"

Namun tetaplah hanya keheningan yang menjawabnya. Richard tidak menjawab satupun pertanyaan dari Kris. Entah karena laki-laki itu masih tertidur, atau memang ia tak berniat sama sekali untuk menjawab pertanyaan dari kakaknya.

Padahal Kris sangat berharap Richard mau menjawabnya. Karena sebenarnya dibalik ucapan basa-basinya, ada hal penting yang ingin ia katakan pada adiknya itu.

Kris mengambil dari saku celananya beberapa kunci yang digabungkan jadi satu dengan gantungan kunci.

"Richard, ada suatu hal yang ingin aku bicarakan denganmu."

"Aku ingin mengeluarkanmu dari sana. Sungguh, aku benar-benar tidak ingin kau terus sendirian dan kesepian didalam sana. Kau ingin keluar, kan? Aku akan mengeluarkanmu sekarang juga. Jadi, maukah kau berjanji padaku untuk bersikap tenang?" Lanjutnya.

Kris sungguh merasa putus asa. Adiknya sama sekali tidak mengacuhkannya. Jadi, ia mencoba untuk mengetuk kembali pintu itu.

"Richard-"

"BERHENTI MEMANGGILKU RICHARD, SIALAN!"

Kris sedikit tersentak ketika tiba-tiba mendapati balasan sebuah teriakan dari dalam kamar itu.

"R-Richard.."

"KU BILANG BERHENTI MEMANGGILKU SEPERTI ITU! KAU BILANG KAU INGIN MENGELUARKANKU DARI SINI? KAU YAKIN AKU AKAN BERSIKAP TENANG? SETELAH AKU KELUAR DARI SINI AKU AKAN MEMBUNUHMU DENGAN KEDUA TANGANKU SENDIRI DAN MEMBUATMU MERASAKAN KEMATIAN YANG SANGAT LAMA, BERENGSEK!"

Suara itu di iringi dengan gebrakan pintu berkali-kali.

Kris tampak terdiam dan tak menunjukkan wajah ketakutannya sedikitpun ketika mendengar kalimat tersebut dari Richard. Ia terdiam karena ia menyadari sesuatu, bahwa adiknya tidak pernah memaafkannya bahkan setelah sekian lama.

"Apa.. kau masih membenciku? Apa kau tidak pernah memaafkanku tentang hal 'itu'?" Tanyanya dengan nada terluka.

"Jangan harap! Aku tidak akan pernah melupakan hal 'itu' selamanya. Bahkan sampai saat ini aku masih mengingat dengan jelas seberapa besar kebencianku padamu!"

Seharusnya Kris ingat bahwa Richard memiliki sifat yang hampir sama dengannya. Sangat keras kepala.

"Maafkan aku."

"Aku ingin kematianmu. Bukan permintaan maafmu, Yifan."

Jujur ia sedikit sakit hati mendengarnya. Bukan karena kalimat kasar adiknya, namun ketika Richard tidak memanggilnya lagi dengan sebutan 'Kris' seperti bagaimana dulu laki-laki itu memanggilnya.

Richard dan Kris merupakan panggilan yang mereka berikan satu sama lain sewaktu kecil dulu. Semacam panggilan kesayangan seorang kakak-adik. Namun sepertinya, kini panggilan itu tidak berguna lagi.

Kris menatap kosong kearah pintu ketika mendengar adiknya sendiri memanggil nama Kanadanya.

"Richard Park.." Lirih Kris.

"Namaku Park Chanyeol. Bukan Richard Park."

Kris hanya bisa mengiyakannya. Baiklah jika Richard tidak menginginkan panggilan masa kecilnya lagi. Tidak apa. Ia akan menuruti perkataan adiknya itu karena ia tidak ingin membuat adiknya merasa tidak nyaman.

Dan sepertinya pembicaraan mereka cukup sampai di sini saja. Ia rasa jika mereka terus melanjutkannya, mungkin akan terjadi pertengkaran yang tak ada akhirnya.

"Baiklah, Chanyeol. Mari kita lanjutkan perbincangan ini nanti. Aku harus pergi bekerja. Nikmatilah makananmu, Chanyeol-ah."

"Tidak perlu bersikap sok baik padaku. Pergilah."

Helaan nafas terdengar untuk yang kesekian kalinya. "Baiklah. Aku pergi."

Kris menggantung kunci yang sedari tadi di pegangnya di gantungan dinding di samping pintu terlarang itu sebelum ia melangkah pergi.

Kris tampak mencoba untuk tak perduli dengan sikap ketus yang Chanyeol berikan kepadanya. Ia menguatkan hatinya mulai saat ini bahwa ia tidak akan menyerah. Ia akan mencoba untuk membuat Chanyeol memaafkannya dan menyayanginya seperti dulu.

Dan ia yakin bahwa ia juga bisa membuat Chanyeol berubah sepertinya yang kini juga telah berubah menjadi lebih baik. Setidaknya, Kris selalu mencoba untuk melawan perasaannya agar tak akan bersikap seperti dulu lagi.


Sembari berjalan, Baekhyun mengecek lembar demi lembar berkas surat lamaran yang berada di dalam map yang dibawanya. Semangatnya seakan membara karena begitu senang untuk melamar pekerjaan. Bagaimana pun juga ia harus bekerja karena membutuhkan uang untuk menghidupi dirinya sendiri.

Namun seakan keberuntungan sedang tidak berpihak kepadanya. Angin berhembus dengan kencang pagi itu hingga berkas yang di pegangnya berterbangan kemana-mana. Baekhyun memekik di dalam hati ketika melihat kertas demi kertas yang sebelumnya berada di tangannya kini telah jatuh berserakan diatas jalan.

"Aish." Baekhyun bergerak memunguti berkas-berkasnya dengan umpatan yang tak hentinya keluar dari bibir tipisnya.

Laki-laki itu meniup pelan poni rambutnya dengan kesal dan langsung memeriksa berkasnya kembali, takut apabila ada salah satu kertas yang hilang.

Dan ternyata benar. Formulir data dirinya tidak ada.

"Oh? kemana kertas formulirku?" Gumamnya pada diri sendiri.

Baekhyun menolehkan kepalanya kesana-kemari. Namun ia tidak melihat adanya kertas formulir itu di mana-mana. Hingga ketika matanya menoleh ke arah rumah di sampingnya, ia harus terkejut begitu melihat kertas yang dicarinya tergeletak di atas rumput di dalam rumah tersebut.

Sebenarnya bukan suatu masalah apabila kertas formulir nya berada di sana. Ia bisa meminta ijin kepada sang pemilik rumah untuk mengambil kertas formulir nya yang terbang ke dalam rumah itu. Namun lain hal jika dengan yang satu ini. Ia baru sadar akan sesuatu. Bahwa sedari tadi, ia berada di samping rumah Keluarga Park.

Kenapa pula ia harus melewati jalan ini lagi?

Oh, Tuhan.

Sungguh sial. Ia tidak mungkin kembali lagi pulang ke rumah hanya untuk mengambil formulir yang sama. Tetapi bagaimana caranya untuk mengambil kertas formulir itu? Di depan pagar rumah keluarga Park terdapat beberapa security dan juga bodyguard bertubuh besar. Bahkan sebelum bertanya, Baekhyun yakin dirinya akan ketakutan setengah mati.

"Apa yang harus kulakukan? Pikirkan sesuatu, Byun Baekhyun. Pikirkan."

Baekhyun memukul pelan kepalanya dan mencoba berpikir sekeras mungkin. Namun ia tetap tidak tahu harus berbuat apa dengan keadaan ini.

"Ah, mau bagaimana lagi? Kurasa aku harus mencoba dulu untuk meminta ijin kepada mereka."

Pada akhirnya dengan seluruh keberaniannya, Baekhyun berjalan melangkah menuju para security dan bodyguard yang berdiri tegap di depan pagar.

Begitu dirinya menghampiri mereka, Baekhyun langsung mendapat tatapan tajam. Oh, Baekhyun di landa rasa takut sekarang.

"Ada keperluan apa kau kemari?"

Salah satu diantara ke sepuluh orang yang berjaga di depan pagar rumah tersebut bertanya kepada Baekhyun dengan nada dingin.

"A-Anu.. I-Itu.. A-Aku kemari karena-"

"Apa kau sedang mencoba untuk meminta ijin masuk ke dalam rumah?" Tanya pria itu lagi.

"Iya! A-ah maksudku tidak ke dalam rumah. Hanya ke.. halaman? Aku hanya ingin mengambil sesuatu milikku yang baru saja jatuh ke dalam rumah ini. Aku-"

"Tidak di perbolehkan. Dengan alasan apapun."

"T-TAPI.."

"Pergilah. Sebelum kami menyeretmu dari sini." Ucap laki-laki itu.

Baekhyun menggigit bibirnya. Dan dengan pasrah ia menunduk lalu memutar tubuhnya berbalik pergi menuju ke tempat di mana kertas formulir nya berada. Ia menatap dengan lesu kertas itu dari luar rumah tersebut. Ia merasa hampir putus asa.

Namun bukan Baekhyun namanya apabila ia menyerah begitu saja. Ia akan mencoba memasuki rumah tersebut dengan memanjat.

Baekhyun menatap besi yang menjadi bagian dari tembok pembatas rumah yang tinggi melebihi kepalanya itu. Besi tersebut dipenuhi oleh kawat diatasnya. Akan kesulitan jika ia melewati sana. Dan akhirnya Baekhyun memilih memanjat tembok disebelah pagar besi tersebut.

Tidak ada pilihan lain.

"Semangat, Byun Baekhyun." Ucapnya.

Baekhyun pun bersusah payah dan mencoba hampir lebih dari lima kali untuk menaiki tembok tersebut. Ia mencoba melakukannya dengan sepelan mungkin agar tak ketahuan. Dan akhirnya setelah beberapa kali percobaan, ia bisa masuk ke dalam rumah tersebut.

Tak mau membuang waktu, Baekhyun segera mengambil kertas formulir data dirinya dan bergegas untuk memanjat tembok lagi. Bahkan ia sampai tidak mencari kesempatan untuk sekedar mengagumi betapa luasnya halaman rumah itu.

Namun sebuah suara tiba-tiba mengejutkannya.

"SIAPA DISANA?!" Teriak seseorang. Lalu terdengar beberapa langkah kaki terburu-buru datang mendekatinya. Mereka adalah bodyguard rumah ini.

Jantung Baekhyun berdebar-debar. Sial, ia ketahuan. Ia harus pergi sekarang juga sebelum tertangkap.

Baekhyun berbalik menuju tembok yang tadi ia naiki. Ia mencoba untuk menaikinya lagi namun kepanikan yang melandanya membuat dirinya berkali-kali terpeleset. Semua rumor dan gosip tentang rumah ini yang tiba-tiba berputar di kepalanya membuatnya semakin panik tak terkendali.

'Sial. Aku harus bagaimana? Aku akan mati.'

Baekhyun bahkan tak bisa lagi hanya terus mencoba. Ia harus segera bersembunyi di suatu tempat sebelum ketahuan.

Pada akhirnya laki-laki itu melangkah dengan pasti menuju sebuah bangunan yang entah apa. Bangunan tersebut merupakan bagian dari rumah tersebut. Sepertinya bangunan itu merupakan bagian belakang rumah.

Baekhyun mencari persembunyian disana. Namun yang ia temukan hanyalah sebuah tangga melingkar yang akan membawanya ke atas. Ia tak mampu lagi berpikir apakah ia harus menaikinya atau tidak karena ia tahu ia tidak memiliki waktu untuk sekedar berpikir sejenak.

Baekhyun menaiki tangga tersebut dengan cepat dan tanpa suara. Namun entah sudah berapa puluhan tangga yang telah ia naiki, ia tetap tak sampai pada ujungnya.

Merasa jika ia tidak lagi di ikuti, ia menghentikan langkahnya sejenak untuk sekedar beristirahat. Ia rasa kini betisnya sudah kencang karena menaiki tangga melingkar itu dengan cepat.

"Aish, sampai kapan aku akan terus menaiki tangga ini?" Kesalnya.

Meskipun mengeluh, tetapi Baekhyun pada akhirnya kembali bangkit dan melanjutkan langkahnya. Namun kini lebih santai.

Hosh..Hosh..

Akhirnya..

Akhirnya Baekhyun sampai juga pada ujung tangga. Ia langsung membuka pintu yang ada di hadapannya.

Baekhyun menolehkan kepala kesana-kemari. Ia tak tahu kini berada di lantai berapa namun koridor yang berada di hadapannya saat ini tampak begitu sunyi. Dan kini, ia bisa melihat koridor rumah tersebut yang sialnya tampak begitu menakjubkan untuk di abaikan.

Baekhyun masih terdiam dengan tatapan yang terus mengagumi tiap-tiap pajangan ataupun lukisan yang terpasang di sana. Juga ada sebuah foto seorang pria berjas di frame besar yang Baekhyun ketahui sebagai pemilik hampir semua perusahaan terbesar di Korea. Hingga akhirnya tatapannya berhenti pada sebuah pintu yang berada di sudut koridor tersebut.

Ia mengernyit ketika melihat ada yang aneh dengan pintu itu. Lebih dari 5 grendel gembok menghiasi pintu tersebut.

'Apa itu gudang?' Tanya nya dalam hati.

Tapi mengapa gudang harus di kunci sebanyak itu?

Baekhyun mendekati pintu tersebut dengan rasa ingin tahu yang berlebihan. Dengan perlahan, ia menyentuh gembok tersebut.

Namun lagi-lagi sebuah suara kembali mengejutkannya.

"Ada penyusup masuk ke dalam rumah ini. Cepat kalian cari ke sekeliling rumah!"

"Baik!"

Suara yang berasal entah dari mana itu membuat mata Baekhyun membulat dan ia pun kembali panik. Tanpa berpikir dua kali, Baekhyun mengambil sebuah kunci yang di gantung di samping pintu dan membuka gembok tersebut dengan kunci-kunci itu.

"Cepat. Cepat. Cepat." Gumamnya pelan.

Ia melepas gembok-gembok tersebut lalu ia memasukan kunci lain ke dalam lubang pintu dan membuka pintu tersebut dengan waktu kurang lebih dari 2 detik. Tak lupa ia menutupnya kembali dan menguncinya.

Baekhyun menghembuskan napasnya dengan kasar. 'Hampir saja.' Setidaknya di dalam gudang ini, ia bisa selamat dari kejaran para bodyguard menyeramkan itu.

Sungguh sial karena bisa-bisanya ia menjadi seorang penyusup dadakan dan dikejar-kejar seperti ini hanya karena sebuah kertas formulir. Ya tuhan..

Baekhyun pun memutar balik badannya dan, demi tuhan ia sungguh terkejut bukan main.

'Astaga. Gudang macam apa ini?'

Yang Baekhyun lihat saat ini bukanlah tumpukan kardus atau barang-barang lama yang tersusun tidak rapi seperti layaknya gudang pada umumnya.

Namun yang ia dapati saat ini adalah sebuah..

kamar?

Terdapat tempat tidur king size di tengah ruangan dengan sebuah televisi di hadapannya. Juga terdapat sofa untuk bersantai di sudut ruangan.

Kamar ini benar-benar tampak seperti kamar seorang pangeran. Bahkan rumah susun yang ditinggalinya tidak lebih luas dibandingkan kamar ini.

"Daeeeebak!" Ucap Baekhyun dengan mata sipitnya yang mengerjap lucu.

Laki-laki itu menatap ke sekelilingnya lagi-lagi tanpa bisa menyembunyikan kekagumannya.

"Bagaimana bisa kamar seindah ini dikunci begitu saja?"

Namun kegiatannya mengagumi ruangan itu harus terhenti ketika mendengar sebuah suara seperti air yang menetes dari sebuah pintu lain yang ada di dalam kamar tersebut.

Baekhyun menoleh ke arah sumber suara dan berjalan menghampiri pintu yang sepertinya adalah sebuah kamar mandi.

"Apa ada seseorang di dalam sini?" Tanyanya pada diri sendiri dengan suara yang sangat pelan. Namun detik setelahnya laki-laki itu menggeleng.

"Tidak. Tidak mungkin ada orang lain. Jelas-jelas kamar ini di kunci bahkan di gembok. Dan aku lah satu-satunya orang yang masuk ke dalam sini."

"Lagipula manusia macam apa yang bisa tinggal di dalam ruangan terkunci. Tidak masuk akal." Lanjutnya.

Baekhyun menatap pintu yang menjadi sumber suara itu berasal. Dan perlahan tangannya terangkat bermaksud untuk membuka pintu itu, ketika tiba-tiba saja pintu itu telah terbuka lebih dulu dari dalam.

Ceklek..

Mata Baekhyun membulat ketika pintu tersebut terbuka dan dirinya langsung mendapati dada bidang yang tercetak jelas di balik kaos seseorang, yang kini telah berada di hadapannya. Ia menelan salivanya dengan gugup. Lalu secara perlahan, ia memutuskan mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa laki-laki pemilik dada bidang yang ada di depannya saat ini.

"Siapa kau?"

'Ya tuhan..'

.

.

.

.


{ To Be Continued }


Terima kasih banyak untuk para readers yang sudah fav/follow/review ff ini. Jujur aja aku gak nyangka sama respon kalian hohoho Aku sampe gak bisa berkata-kata. Maaf aku gak bisa balas review kalian satu-satu tapi aku baca review kalian semua kok :) Sebenernya aku kurang pede publish chap ini. Semoga chapter 1 ini tidak mengecewakan ekspektasi kalian ya hehe.. Aku tau ini pendek banget tapi chap depan aku usahain untuk lebih panjang. Dan masalah update, aku gak bisa nentuin kapan mau publish setiap chapter. Aku gak mau janji karena aku takut aku gak bisa nepatin. Yang jelas aku bakal langsung publish setelah selesai nulis^^ Sekali lagi terima kasih untuk kalian semua~