"Sajangnim!"

Kris mengalihkan pandangannya dari berkas yang sedang di bacanya, ketika tiba-tiba sekretarisnya masuk ke dalam ruangannya dengan raut wajah panik dan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

"Ada hal apa sampai-sampai kau lupa tatakrama untuk mengetuk pintu terlebih dahulu seperti saat ini, Sekretaris Hong?"

Nada suara nya benar-benar tajam. Membuat suasana di sekeliling ruangan itu tiba-tiba berubah menjadi mencekam.

Kris benar-benar sangat disiplin dalam setiap hal. Dan ia sungguh tak suka ketika sekretarisnya melakukan hal yang paling dibencinya.

Sekretaris kepercayaannya sekaligus orang yang menjadi kaki tangannya itu langsung tersadar atas kecerobohan yang baru saja dilakukannya. Ia membungkukkan badannya dengan sopan sebelum akhirnya berucap dengan nada panik. "Maafkan saya, Sajangnim. Tapi ada hal penting yang harus saya sampaikan kepada anda."

"Apa?"

"Saya mendapat kabar bahwa saat ini sesuatu yang darurat tengah terjadi di rumah, Sajangnim."

Kris mengernyit lalu melepas kacamata bacanya. "Apa maksudmu?"


DO NOT ENTER ! (CHANBAEK)

BOYSLOVE/YAOI

Main Cast :

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Summary :

Jangan masuk ke dalam sana! Tidak ada yang diperbolehkan masuk ke dalam sana! Larangan tersebut telah diketahui oleh setiap penghuni rumah. Namun Byun Baekhyun, laki-laki yang mendadak menjadi seorang penyusup telah melanggarnya.

.

.

~Keseluruhan cerita berasal dari imajinasiku sendiri~

BB922016


Do Not Enter ! : Chapter 2

Kesan pertama yang Baekhyun bisa berikan adalah bahwa laki-laki itu benar-benar tampan. Dan.. sangat bergairah. Baekhyun jelas mengakui hal itu. Ia bisa merasakan bagaimana atmosfir disekitarnya yang berubah ketika mereka bertemu pandang.

Laki-laki itu memiliki paras yang tanpa cacat di sekitar wajahnya. Benar-benar tidak tergores sedikitpun. Matanya berwarna kecoklatan dan rambut panjangnya yang basah menutupi setengah wajahnya.

Meskipun laki-laki itu memiliki rambut yang panjang hingga hampir menyentuh bahu, hal itu sama sekali tidak mengurangi sedikitpun ketampanannya. Sungguh.

"Siapa kau?" Tanya laki-laki itu.

"Uh.. H-Halo.."

Baekhyun membungkukkan badannya dan tersenyum dengan canggung. "A-Aku.. bukan siapa-siapa kok." Baekhyun menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri. Mengapa ia bisa segugup itu? Bodoh. Ucapannya justru akan membuat laki-laki itu curiga.

Namun hal yang Baekhyun takutkan tak terjadi. Laki-laki itu hanya membalasnya dengan tatapan datar. Tetapi meskipun begitu, Baekhyun tak bohong jika ia bisa merasakan aura tidak enak yang ada pada diri laki-laki tersebut. Entah mengapa Baekhyun ingin melarikan diri rasanya.

Laki-laki itu nampak tak acuh, namun terlihat lebih berbahaya dibandingkan para bodyguard diluar sana.

Sebelumnya, Baekhyun merasa bahwa laki-laki itu terlihat baik-baik saja dan tak ada yang salah atau ada yang aneh sedikitpun dari lelaki itu. Lelaki itu bersikap normal seperti manusia pada umumnya. Tentu saja.

Namun ketika laki-laki bertubuh tinggi tersebut maju beberapa langkah mendekatinya, tiba-tiba ia merasa panik dan langsung melangkah mundur. Perasaannya mengatakan hal buruk akan terjadi.

"Kau pikir aku bodoh?" Ucap laki-laki itu. "Kau pikir kau bisa mempermainkanku?"

Rahangnya kian mengeras ketika Baekhyun semakin melangkah mundur. Ekspresi laki-laki itu lebih dari sekedar menyeramkan. Begitu pula dengan tatapannya yang tajam dan mengintimidasi.

'Ya tuhan. Mau apa dia?'

Baekhyun merasakan ketakutan yang berkali lipat melebihi rasa takutnya saat di kejar-kejar oleh para bodyguard rumah ini.

"Tidakkah kau menyadari bahwa kau ini.. terlalu naif?"

"N-Ne?"

Baekhyun sekarang tersudut di dinding. Dan saat itu pula laki-laki tersebut menghentikan langkahnya beberapa senti di depan Baekhyun.

Laki-laki bertubuh jangkung itu tidak memiliki taring atau kuku yang tajam. Ia bukan vampire atau bahkan serigala seperti yang ada di novel-novel yang sering ia pinjam dari Jongdae. Tapi mengapa Baekhyun merasa bahwa laki-laki ini sama menyeramkannya dengan tokoh fiktif itu?

"Jangan bermain-main denganku." Bisik laki-laki itu dengan suara rendah namun mengancam. "KATAKAN SIAPA KAU?!"

"Aaakkhh!"

Baekhyun menjerit tatkala lehernya tiba-tiba dicengkram dengan kuat oleh tangan laki-laki itu. Lelaki itu benar-benar tak terduga dan Baekhyun ketakutan setengah mati saat ini.

Siapa dia?

Baekhyun yakin dia bukanlah pemilik rumah ini karena ia tahu laki-laki bernama Kris Park lah yang menjadi pemilik rumah sekaligus konglomerat di Korea.

Lalu, apa laki-laki ini adalah seorang Bodyguard? Tetapi jika dipikirkan lagi tidak mungkin juga jika dilihat dari penampilannya saat ini.

Lalu mengapa pula ia menemukan laki-laki ini dengan keadaan terkunci di dalam sebuah ruangan?

Laki-laki ini manusia, kan?

"T-Tolong..akhh.."

Semua kalimat pujian untuk laki-laki bernama lengkap Park Chanyeol yang sebelumnya Baekhyun ucapkan di dalam hatinya, kini ia tarik kembali. Perlakuan dari laki-laki yang tengah mencekik nya saat ini benar-benar mengerikan.

"Cepat beritahu aku, siapa kau?! Apa kau suruhan dari pria brengsek itu?!"

Yang Chanyeol maksud adalah Kris. Ia curiga jika laki-laki aneh yang masuk ke dalam ruangannya saat ini merupakan orang suruhan dari Kris untuk mengawasinya. Dan jika memang benar, ia tak akan segan-segan untuk membunuh Baekhyun sekarang juga.

Sementara Baekhyun sendiri berani bersumpah bahwa ia sungguh tak mengerti dengan apa yang laki-laki itu maksud. Jadi ia hanya bisa terus menggeleng dan mencoba memberontak dengan memukul lengan laki-laki itu karena ia benar-benar kesulitan bernapas.

"JAWAB!"

"To..long..Lepas..k-kan..aku..hh..dulu.."

BRUKK..

Laki-laki itu pada akhirnya melepaskan cengkramannya dengan menghempaskan tubuh Baekhyun ke lantai dengan sangat keras sampai Baekhyun jatuh meringis kesakitan.

Baekhyun terbatuk-batuk ketika akhirnya ia bisa menghirup udara sebanyak-banyaknya. Ia mengusap lehernya merasakan nyeri di bagian sana yang terlihat memerah. Rasanya tadi ia sudah hampir mendekati ajalnya.

Namun seakan tak peduli, Chanyeol bersedekap dan kembali berbicara. "Aku memberimu kesempatan terakhir. Katakan padaku siapa kau dan apa tujuanmu masuk ke dalam ruangan ini!"

Baekhyun mengambil napas sejenak sebelum akhirnya menguatkan diri berucap dengan pelan. Sejujurnya ia sangat ketakutan.

"N-Namaku.. Byun Baekhyun. Aku.. hanya seseorang yang tidak sengaja memasuki rumah ini. Maksudku, bukan tidak sengaja. S-Sebenarnya aku masuk ke dalam rumah ini hanya untuk mengambil kertas formulirku yang entah bagaimana bisa terbang ke halaman rumah ini."

Chanyeol terlihat mendengarkan penjelasan Baekhyun dengan seksama.

"Aku sungguh tidak berniat untuk menjadi penyusup. Sungguh. Tapi bodyguard di luar sana ingin menangkapku. Jadi aku lari dan aku hanya berusaha bersembunyi disini karena ku kira, tempat ini adalah.. g-gudang."

Baekhyun kira, penjelasannya mampu membuat laki-laki itu meredakan amarahnya. Ia mengira jika laki-laki itu setidaknya tidak akan mencekik lehernya lagi karena ia telah berkata yang sejujurnya. Namun, ia tetap tidak bisa melunturkan ekspresi laki-laki itu yang datar sedari tadi.

"Apa kau pikir aku akan percaya dengan cerita tidak masuk akal itu?"

"N-Ne?" Baekhyun sontak terkejut.

"Kesabaranku sudah habis." Geram Chanyeol.

Baekhyun membulatkan matanya ketika tiba-tiba Chanyeol berjongkok dan kembali mencekiknya. Tidak! Seseorang tolong selamatkan Baekhyun saat ini juga! Cengkraman laki-laki itu dilehernya kian menguat. Baekhyun sudah tak sanggup lagi bahkan untuk sekedar memberontak. Ia benar-benar kesakitan..

Sebenarnya manusia macam apa dia? Laki-laki itu benar-benar menyeramkan seperti monster.

'Kumohon seseorang tolong selamatkan aku.'

Baekhyun menutup matanya. Ingin rasanya ia menangis karena ia begitu ketakutan. Mengapa tak ada seorang pun yang datang menolongnya? Apa Baekhyun harus pasrah dengan keadaan ini? Apa Baekhyun harus mati seperti ini?

Diantara rasa sakit yang Baekhyun rasakan, diam-diam Chanyeol tersenyum. Begitu menikmati ekspresi kesakitan Baekhyun saat ini. Sampai semakin lama tubuh itu mulai terasa lemas.

'Tuhan, selamatkan aku..' Batin Baekhyun.

TAP..TAP..TAP..

Suara seseorang yang berlari terdengar samar-samar dari luar kamar. Namun meskipun begitu, Chanyeol benar-benar sangat peka karena ia langsung menoleh ke arah pintu dan setelahnya berlari keluar kamar mencari orang yang sedari tadi menguping dari sana. Ia bahkan meninggalkan Baekhyun yang tergeletak dengan seluruh tubuhnya yang lemas begitu saja.

"Berani-beraninya kau menguping, huh?" Gumam Chanyeol dengan seringaian di bibirnya ketika matanya menangkap seorang pelayan yang tengah berlari terbirit-birit menuruni tangga.

Chanyeol melangkah dengan pelan mengikuti pelayan itu. "Baiklah, mari kita buat ini menarik." Ia bahkan telah lupa dengan Baekhyun yang tadi ia coba bunuh.

Sudah lama sekali Chanyeol tidak pernah 'bermain-main'. Sepertinya akan menyenangkan bila ia 'bermain' sebentar dengan pelayan tersebut.

Sementara itu, Baekhyun mencoba berdiri dengan tubuhnya yang lemas. Ia sangat berterima kasih karena Tuhan telah mendengarkan doanya. Saat ini adalah kesempatan emas untuknya melarikan diri dari laki-laki menyeramkan itu. Ia bahkan tak perduli lagi dengan kertas formulirnya yang kini entah berada dimana. Ia hanya ingin segera pergi dari tempat ini.

Baekhyun melangkah keluar dari kamar dengan tangan yang bertumpu pada dinding. Ia berjalan mendekati pintu yang menjadi tempatnya masuk ke dalam rumah ini sebelumnya dan membuka pintu tersebut lalu melangkah menuruni tangga dengan perlahan.

"Cepat cari penyusup itu di tempat-tempat yang memungkinkan untuk bersembunyi. Kita harus segera menangkapnya sebelum Tuan Kris kembali dari kantor."

"Baik!"

Baekhyun menghentikan langkahnya mendengar suara tersebut. Dan ketika ia menoleh ke bawah, di dasar tangga terdapat beberapa bodyguard yang sebelumnya ia temui di depan pagar.

Baekhyun mendesah pelan kemudian dengan langkah hati-hati ia berbalik untuk masuk kembali ke dalam rumah.

Sial.

Mengapa ia harus mengalami keadaan seperti ini?


Saat itu ia tengah membawa pakaian kotor di tangannya sembari berjalan melewati ruang keluarga menuju mesin cuci yang ada di belakang rumah, ketika dirinya melihat para pelayan lain sepertinya dan beberapa bodyguard tengah berkumpul di ruang keluarga.

"Ada penyusup masuk ke dalam rumah ini. Cepat kalian cari ke sekeliling rumah!"

"Baik!" Serentak para pelayan, yang lalu membungkukkan badan mereka dengan patuh dan mulai berpencar.

Sebenarnya ada apa? Penyusup? Apa maksudnya? Ia sungguh tak mengerti dengan situasi saat ini.

"Mengapa kau berdiri disini, Kim Yerim?" Seseorang menepuk pundaknya dari belakang.

Yeri menoleh dan ia tersenyum senang mendapati sang kepala pengurus rumah lah yang baru saja menepuk pundaknya.

"Halmeoni!"

Sang kepala pengurus atau yang sering disapa Nyonya Kim hanya tersenyum tipis mendengar Yeri memanggilnya halmeoni. Setiap kali Yeri memanggilnya dengan panggilan itu, entah mengapa hal itu selalu membuatnya teringat akan seseorang yang juga memanggilnya dengan sebutan 'Halmeoni'. Dan hal itu membuatnya rindu.

"Aku sedang membawa cucian kotor yang halmeoni minta aku bawakan. Ayo kita ke belakang rumah sama-sama." Ajak Yeri dengan semangat.

Anak itu memang sangat ceria dan selalu bersemangat. Tentu saja, karena usia gadis itu terbilang masih begitu muda. Bahkan ia merupakan pelayan termuda di rumah ini. Siapa sangka jika umurnya masih 19 tahun.

"Tidak, Yeri. Biar aku saja. Sekarang, kau pergilah ke lantai tiga." Titah Nyonya Kim seraya mengambil keranjang cucian dari tangan Yeri.

Gadis itu mengerjap dengan bingung. "Ne? Memangnya kenapa, halmeoni?"

"Saat ini sedang ada penyusup yang masuk ke dalam rumah. Pergi ceklah ke lantai tiga. Jika ada sesuatu yang mencurigakan, cepat beritahu aku atau para bodyguard."

"T-Tapi.. kenapa harus aku yang mengeceknya?"

"Karena kaulah yang sering pergi ke lantai tiga mengantar makanan untuk tuan muda. Dan para bodyguard beserta pelayan lain tengah mengecek tempat-tempat lainnya."

Yeri langsung mengelak tak terima. "Tapi itu kan dulu, halmeoni. Sekarang aku sudah di pindah tugaskan untuk mencuci pakaian. Luna eonnilah yang saat ini menggantikanku untuk mengantar makanan pada tuan muda. Kenapa tidak Luna eonni saja yang melakukannya?"

"Luna sedang sakit saat ini. Karena itu, kau gantikan dia."

Yeri langsung menggeleng dengan cepat. Tidak. Jangan dirinya.

"Halmeoni.. jangan aku. Aku takut setiap kali pergi ke sana. Bagaimana jika nanti aku pergi ke lantai tiga dan sesuatu yang buruk terjadi padaku?"

Nyonya Kim terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya menghela napas pelan. "Halmeoni juga tidak ingin kau melakukannya. Tapi ini adalah sebuah keharusan. Kalau begitu, biar halmeoni saja yang menggantikanmu. Bawalah cucian ini ke belakang rumah."

Yeri membulatkan matanya. Apa?!

Yeri tidak akan memperbolehkan kepala pengurus rumah untuk pergi ke lantai tiga. Pasti kakinya akan sakit karena menaiki tangga sebanyak itu. Yeri tidak ingin melihat kepala pengurus rumah harus melakukan itu hanya karena ia menolaknya.

"T-Tunggu! Halmeoni tidak boleh kesana.. Pokoknya tidak boleh. B-Biar aku saja."

Wanita paruh baya itu tersenyum hangat, karena ia tahu cara ini akan berhasil. Anak itu pasti tidak akan mau menyusahkannya. Ia pun meninggalkan Yeri dengan membawa pakaian kotor lalu pergi menuju belakang rumah.

Yeri menghela napasnya sebelum menaiki anak tangga demi anak tangga menuju lantai tiga.

Ya tuhan, sudah lebih dari satu bulan ia tidak pernah pergi lagi ke lantai tiga semenjak dirinya dipindah tugaskan. Dan ia sangat bersyukur karena tidak lagi harus pergi ke tempat menyeramkan itu. Namun kini, ia harus kembali merasakan ketegangan disetiap langkahnya menuju lantai tiga.

Yeri menghentikan langkahnya ketika ia telah sampai di sana. Matanya memandang ke sekeliling dengan was-was. Jantungnya berdetak cepat dan tak hentinya ia mengucap doa di dalam hati.

Ia melangkah dengan perlahan menuju kamar terlarang. Ia ingat bahwa ia ditugaskan hanya sekedar untuk mengecek. Ya. Hanya mengecek. Jadi, seharusnya ia tidak perlu merasa setakut ini. Namun ia harus terkejut ketika melihat gembok-gembok yang tergeletak di lantai.

Ia menutup mulutnya menatap pintu tersebut yang sepertinya telah dibuka oleh seseorang tanpa ijin. Siapa yang telah berani-beraninya membuka pintu terlarang tersebut?!

Jika pintu tersebut terbuka, artinya ini adalah sebuah ancaman bagi seluruh penghuni rumah.

"KATAKAN SIAPA KAU?!"

Yeri tersentak mundur beberapa langkah ketika mendengar suara tersebut yang berasal dari dalam kamar. Setelahnya terdengar suara jeritan tertahan seseorang.

Dugaan Yeri, pasti penyusup itu yang telah membuka dan masuk ke dalam kamar terlarang ini. Bodoh. Ia pasti tidak akan bisa selamat dari tuan mudanya yang sangat kejam.

Ia jadi teringat cerita tentang beberapa bodyguard yang terluka-luka dan salah satunya tewas oleh tuan mudanya yang kala itu tengah memberontak. Terlalu menyeramkan untuk dibayangkan. Dan Yeri tak ingin apabila harus ada korban lagi yang disebabkan tuan mudanya.

Yeri tidak bisa membiarkan hal ini lebih lama. 'Aku harus segera memberitahu halmeoni.' Ucapnya dalam hati sebelum ia berlari pergi dengan terburu-buru menuju lantai satu.

Ia terus menggumamkan kata 'halmeoni' seiring dengan langkah kakinya yang cepat menuruni tangga ketika dirinya tiba-tiba mulai merasa takut akan suara langkah yang saat ini terdengar tengah mengikutinya dari belakang.

TAP..

TAP..

Yeri menoleh sebentar bermaksud untuk melihat siapa yang tengah mengikuti nya dari belakang. Dan matanya membulat ketika melihat seringaian dibibir seorang laki-laki tampan yang berada dibelakangnya. Yang entah mengapa perasaannya mengatakan bahwa orang itu adalah tuan mudanya.

"Kau mau lari kemana, hm?" Suara itu membuat bulu kuduk Yeri berdiri. Hanya suaranya saja, tapi berhasil membuat Yeri hampir mati ketakutan.

Yeri segera berteriak meminta bantuan sembari mempercepat langkahnya menuruni tangga.

"Tolooong!"

Teriakan gadis itu sama sekali tidak mengusik Chanyeol. Teriakan itu justru membuat laki-laki itu tertawa dengan senang. Oh lihatlah, mangsanya sedang ketakutan setengah mati dan berusaha kabur darinya.

"Kau tidak akan bisa lari dariku~ Kau tidak akan bisa lari dariku~" Chanyeol bersenandung pelan masih dengan seringaian dibibirnya.

Yeri berlari dengan panik menuju dapur. Ia harus mengambil sesuatu dari sana sebagai pertahannya.

Gadis itu sungguh polos dan tidak berpikir bahwa sekeras apapun dia berusaha melawan, dia bukan tandingan tuan mudanya itu. Jawabannya sudah pasti bahwa ia akan kalah dari Chanyeol.

Yeri memegang pisau dengan kedua tangannya dan menodongkan pisau tersebut kearah Chanyeol.

"Menjauh dariku!"

Chanyeol terkekeh senang melihat tajamnya pisau tersebut diarahkan kepadanya.

Dengan santai, ia berkata pada Yeri. "Jadi kau memintaku untuk membunuhmu dengan pisau ya? Tidak buruk juga. Aku pandai menggunakan pisau."

Yeri tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya ketika secara tiba-tiba Chanyeol bergerak mendekat dan dengan hitungan per detik ia telah berhasil berdiri di belakang Yeri dengan tangan yang melingkar di sekitar leher gadis tersebut. Yeri sungguh panik ketika pisau itu menyentuh lehernya. Ia akan mati!

"Seharusnya kau tidak mengambil pisau setajam ini. Pisau yang tak terlalu tajam adalah yang terbaik." Bisik Chanyeol di tengah-tengah tangis gadis itu saat dirinya menggoreskan pisau tersebut kearah pipinya. Chanyeol benar-benar rindu melakukan hal ini. Ia rindu melihat bagaimana ekspresi kesakitan bercampur ketakutan dari seseorang yang menjadi mangsanya.

"Karena pasti akan terasa lama ketika benda itu menyayat tubuhmu. Kau akan kesakitan dan itu akan menyenangkanku." Chanyeol terkekeh pelan diakhir kalimat. Suasana hatinya berubah senang melihat Yeri yang hanya bisa menangis dan terus menggeleng pelan. Memohon kepada tuan mudanya untuk tidak membunuhnya. Ia belum ingin mati.

Tetapi Chanyeol tetaplah Chanyeol. Ia kembali terkekeh pelan sebelum akhirnya ekspresinya berubah menjadi dingin.

"Aku benar-benar akan membunuhmu."

Chanyeol sudah benar-benar akan melakukannya jika saja sebuah suara tidak datang menghampiri dan menginterupsinya.

"Chanyeol-ah.."

Suara lembut nan lemah. Begitu lemah sampai membuat Chanyeol sedikit tersentak karena ia begitu merindukan suara itu. Suara yang sejak lama tak pernah lagi di dengarnya. Suara milik halmeoninya..

Chanyeol menoleh ke samping dan ia mendapati halmeoni kesayangannya berdiri tak jauh dari dirinya. Wanita tua itu terlihat sangat berbeda dari yang terakhir kali ia lihat. Kini halmeoni terlihat lebih kurus dan banyak sekali kerutan di wajahnya. Untuk sesaat pandangan matanya yang membunuh kini berganti dengan sendu.

"Halmeoni..?"

"Chanyeol, ku mohon lepaskan dia."

Chanyeol menatap wanita paruh baya itu dengan dada yang bergemuruh. Sudah 10 tahun berlalu.. Sudah 10 tahun ia terkunci di ruangan itu dan tak bertemu halmeoni.. Ia ingin sekali menghampiri halmeoninya sekarang juga dan memeluknya. Mengatakan bahwa ia sangat rindu dengan halmeoni.

Tapi, ia berhenti. Ia berhenti dari semua pemikiran itu karena ia tidak bisa melakukannya.

Selama ini hatinya terus bertanya-tanya. Ia terus dibuat bimbang akan pertanyaan-pertanyaan yang muncul setiap kali ia menghabisi waktu di dalam kamar terlarang. Pertanyaan-pertanyaan yang terus mengganggunya dan terkadang membuatnya ingin menghancurkan pintu kamar.

Apakah.. halmeoni menyayanginya?

"Halmeoni.. Kenapa Halmeoni tidak pernah mengunjungiku?" Tanya Chanyeol dengan nada datar. Ia tidak berekspresi apapun menatap sang kepala pengurus rumah itu. "Aku sendirian di dalam ruangan itu. Aku kedinginan dan kesepian. Tetapi, kenapa halmeoni tidak pernah datang seberapa seringpun aku berdoa?"

"Chanyeol-ah.."

"Halmeoni.. Apa, aku semenyeramkan itu untukmu?" Rahang Chanyeol mengeras.

"Aku tidak akan meminta kau membebaskanku. Aku juga tidak akan melukaimu. Aku hanya ingin Halmeoni menyapaku setiap pagi dan menanyakan kabarku. Aku hanya ingin halmeoni ada di saat aku sangat membutuhkan halmeoni. Aku hanya ingin halmeoni tetap bersikap seperti biasa. Tetapi mengapa halmeoni tidak melakukannya?" Lanjutnya.

Suara itu benar-benar datar tetapi mengapa Yeri bisa merasakan dengan jelas luka yang laki-laki itu rasakan? Sang kepala pengurus rumah pasti juga bisa merasakannya bahkan Yeri yakin wanita paruh baya itu lebih tahu hal itu dengan betul dibandingnya.

Yeri diam-diam mengamati situasi saat ini. Tidakkah situasi saat ini merupakan sebuah kesempatan untuknya? Ia akan mencoba untuk membebaskan diri dari laki-laki itu saat dia lengah.

"Kau sudah tidak menganggapku lagi, bukan? Pasti kau berpikir.. aku akan selamanya berada di ruangan itu."

Chanyeol dan kepala pengurus rumah saling bertatapan. Wanita paruh baya itu hanya bisa terdiam mendapati semua pertanyaan-pertanyaan itu. Ia ingin sekali menjawab, namun tidak bisa. Ia dilarang. Jadi, ia hanya bisa diam dan biarkanlah Chanyeol menganggapnya seperti apa yang dipikirkan oleh laki-laki itu.

Secara tiba-tiba Yeri mendorong lengan Chanyeol mencoba membebaskan diri dan ketika dirinya berhasil, ia langsung berlari ke arah punggung kepala pengurus rumah. Ia mencoba mencari perlindungan pada halmeoninya.

"BERANINYA KAU!" Amuk Chanyeol yang mendapati Yeri dengan beraninya meloloskan diri darinya.

Yeri menatap Chanyeol dari balik punggung Nyonya Kim. "Halmeoni, aku takut." Ia menggenggam erat lengan halmeoninya penuh ketakutan, namun sedikit merasa senang karena ia bisa membebaskan diri walaupun lehernya harus tergores oleh pisau itu. Ia bersyukur goresan tersebut tidak terlalu dalam.

Chanyeol menatap dengan geram kearah gadis yang telah berhasil kabur dari tangkapannya. Ia menyesal karena tidak segera membunuh gadis itu sebelumnya dan justru mengucapkan kata-kata konyol yang bahkan tak mendapat satupun jawaban dari wanita tua dihadapannya.

Chanyeol menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan datarnya lagi seperti semula. Laki-laki itu berjalan mendekat. Pandangan matanya kembali menjadi tajam seakan bersiap membunuh siapapun yang berani menghalanginya.

"Menyingkir." Titahnya.

"Tidak. Kau tidak boleh melukai dia, Chanyeol. " Kepala pengurus rumah tersebut menggeleng dan terus mencoba melindungi Yeri di balik punggungnya.

Chanyeol merasa marah. Ia muak karena Nyonya Kim terus melindungi gadis itu.

"WAE?! Karena dia sudah kau anggap sebagai cucumu sendiri?!" Chanyeol mendecih. "Kau tidak ingin anak itu terluka, tetapi mengapa kau melukaiku? Apa aku ini sudah tidak kau anggap cucumu lagi?!"

Dan lagi, Chanyeol kembali mengucapkan kata konyol. Lalu ia tersadar akan sesuatu. Halmeoni yang sangat ia sayangi telah berubah karena bocah itu. Bocah itu lah yang mencoba menjadi penggantinya ketika ia dikurung di dalam kamar sialan.

Mata Chanyeol berkabut. Hasrat Chanyeol ingin membunuh gadis itu kian menjadi. Tidak ada yang boleh merebut apapun yang Chanyeol miliki darinya.

"Cepat menyingkir atau aku akan melukaimu!"

Wanita itu tersentak kaget. "K-Kau.. akan melukaiku?"

"Aku tidak akan mengulang untuk yang kedua kalinya."

BRUKK..

Laki-laki itu mendorong dengan kasar tubuh wanita paruh baya itu ke lantai. Tak perduli bahwa wanita itu memiliki tubuh yang lemah dan rapuh.

Yeri berteriak dengan panik. "Halmeoni!" Yeri bergerak mendekati tubuh lemah itu yang kini sama sekali tak bergerak.

"Halmeoni, sadarlah!" Teriaknya bercampur dengan isak tangis.

Chanyeol seakan buta. Ia bahkan tak perduli dengan keadaan wanita paruh baya itu. Ia ingin membunuh Yeri sekarang juga. Ia harus membunuh orang yang telah berani-beraninya mengambil apa yang telah jadi miliknya.

Chanyeol mengangkat pisau itu tinggi-tinggi dan bersiap untuk menancapkannya ke punggung gadis itu yang tengah berusaha membangunkan halmeoninya. Namun hal itu tertahan ketika seseorang berdiri menghalangi Yeri dan menahan pisau itu dengan kedua telapak tangannya.

"AKKH.. APA KAU SADAR DENGAN APA YANG KAU LAKUKAN?! KAU SUDAH GILA, YA?! LETAKKAN PISAUNYA! INI BERBAHAYA!"

Baekhyun menatap Chanyeol dengan berani. Ia sedikit bangga karena bisa berteriak sekuat itu kepada Chanyeol yang berbahaya. Padahal sebelumnya ia hanya bisa berucap dengan terbata-bata karena ketakutan.

Sebenarnya ia lupa bahwa ia harus berhati-hati dengan Chanyeol karena ia sungguh terkejut ketika tengah mencari jalan keluar, ia melihat laki-laki ini mencoba membunuh seorang pelayan. Benar-benar tak habis pikir. Sebelumnya, laki-laki itu berniat untuk membunuhnya. Dan kini ia juga mencoba membunuh para pelayan. Sebenarnya ada apa dengan laki-laki itu?

Apa laki-laki ini sudah tidak waras? Mengapa ia selalu saja ingin membunuh orang?!

"Kau lagi? Menyingkir dariku! Aku akan membunuhnya! Aku akan membunuh kalian semua!" Teriak Chanyeol.

Baekhyun berani bersumpah bahwa laki-laki itu sangat menakutkan saat ini. Terlebih lagi urat leher laki-laki itu sampai terlihat ketika berteriak. Tapi Baekhyun mencoba untuk bersikap tenang. Di saat seperti ini tidak ada gunanya membalas api dengan api.

"Apa begini caramu melampiaskan rasa sakit? Apa dengan begini, semua masalah akan selesai?" Lirih Baekhyun. Ia sungguh kesakitan harus menahan pisau tersebut. Harus sampai kapan lagi ia berada diposisi seperti ini?

Baekhyun meringis kesakitan. Tangannya dilumuri darah yang terus mengalir karena menahan dengan kuat pisau tersebut.

Chanyeol tidak membalas dan hanya menatap dalam diam mata sipit dihadapannya yang tengah berkaca-kaca. Tiba-tiba, Chanyeol kehilangan kata-kata.

"Hentikan semua ini." Suara itu membuat semua orang yang berada di dapur menoleh.

Kris datang dengan sekretarisnya juga bodyguard-bodyguard di belakangnya. Ia memasuki ruangan itu dengan tenang. Chanyeol menatap Kris dengan tajam dan ia menurunkan tangannya begitu juga Baekhyun yang mulai melepaskan tangannya dari pisau itu.

"Kau datang di saat yang tepat." Seringaian itu kembali muncul dibibir Chanyeol. Membuat semua orang yang berada di sana merinding ketakutan. Bagaimana bisa seseorang merubah ekspresinya secepat itu?

"Bukankah kita harus menyelesaikan sesuatu?" Chanyeol menaikkan sebelah alisnya menatap Kris yang hanya berdiam diri. "Aku akan menunggumu di ruangan di mana kau mengunciku selama bertahun-tahun."

Setelahnya Chanyeol pergi masih dengan pisau yang berada ditangannya.

Kris menghela napasnya dan mengalihkan pandangannya pada kekacauan di dapur saat itu. Sepertinya ia datang sangat terlambat.

Ia menatap datar Yeri yang masih menangis tersedu-sedu dengan sang kepala pengurus rumah dipangkuannya. Tatapan itu sama datarnya dengan Chanyeol. Kemudian Kris beralih menatap seorang laki-laki yang tak ia kenali yang saat ini tengah menatapnya balik.

"Apa dia penyusupnya?" Tanya Kris kepada sekretarisnya seraya menunjuk Baekhyun dengan dagunya.

Sekretaris Hong mengangguk. "Benar, Tuan."

"Bawa dia."

"Baik, Tuan." Bodyguard-bodyguard tersebut membungkukkan badannya dengan patuh. Lalu salah satu dari mereka bertanya, "Hukuman apa yang harus kami berikan kepadanya?"

"Aku akan memikirkannya nanti."

"Baik, Tuan."

Kris langsung melangkah menaiki tangga menuju lantai tiga yang diikuti oleh sekretaris Hong.

Baekhyun membulatkan matanya ketika bodyguard-bodyguard tersebut mendekat kearahnya dan berusaha untuk membawanya pergi. "Lepaskan aku! Hei, kalian ini bodoh ya? Kalian seharusnya mengikuti majikan kalian dan mencegahnya. Laki-laki itu gila! Ia bisa melukai majikan kalian. Apa kalian tidak melihat laki-laki itu membawa pisau ditangannya? Kalian seharusnya melindunginya!"

Bukannya Baekhyun mencari-cari alasan, namun ia benar-benar takut hal itu akan terjadi. Jika saja ia tidak membuka pintu itu, semua kekacauan ini pasti tidak terjadi kan? Jika benar bahwa Kris Park akan dibunuh oleh laki-laki itu, bukankah tandanya ia juga ikut bersalah? Dirinya lah yang telah membuka pintu tersebut dan membuat laki-laki itu melakukan semua kekacauan ini.

Para bodyguard tersebut diam dan saling berpandangan satu sama lain seperti menimbang-nimbang apa yang harus mereka lakukan. Dan entah apa yang saling mereka bicarakan hingga mereka langsung berlari menuju lantai tiga. Sepertinya mereka semua merasa khawatir dengan Tuan mereka.

Sementara para pelayan lain yang sedari tadi menyaksikan dari kejauhan mulai mendekat dan membantu Yeri untuk membawa sang kepala pengurus rumah itu ke kamarnya.

"Cepat panggil dokter." Ujar Baekhyun yang langsung diangguki oleh Yeri.

Baekhyun pun berniat untuk kembali ke lantai tiga. Ia tidak mungkin kabur dari rumah ini begitu saja setelah kekacauan menjadi semakin parah. Awalnya, ia memang ingin membebaskan diri namun apabila sampai ada korban.. tentu Baekhyun tak akan pergi begitu saja. Sejak dulu Baekhyun di didik untuk selalu bertanggung jawab atas apa yang ia perbuat. Dan kini, ia harus menyelesaikan masalah yang ia buat di rumah ini.

"Tunggu. Oppa mau kemana? Tanganmu berdarah.." Yeri menahan lengan Baekhyun.

"Aku harus melakukan sesuatu dengan keadaan ini."

"Ne?"

Baekhyun tak berkata apapun. Ia langsung pergi meninggalkan Yeri yang masih menatapnya bingung.


"Tuan. Sebaiknya tuan tidak masuk ke dalam."

"Benar, Tuan. Kami takut akan terjadi sesuatu kepada anda."

Bodyguard-bodyguard itu terus saja mencoba menahannya. Tapi Kris tahu bahwa ia tidak bisa berdiam diri saja. Ia harus menemui adiknya agar masalah cepat terselesaikan. Mulai sekarang Kris tidak akan lagi menghindar jika memang Chanyeol ingin mengetahui alasannya melakukan hal 'itu' dulu. Ia tidak akan lagi berdiam diri dan bersembunyi.

"Aku akan masuk ke dalam."

Kris menoleh dan mendapati Baekhyun menghampirinya yang tengah berdiri di depan pintu terlarang.

Kris mengernyit. "Kau?"

Baekhyun berhenti tepat di samping pria itu.

"Aku memang tidak tahu apa yang terjadi dengan laki-laki itu. Tapi ku rasa ini semua berhubungan dengan pintu yang terkunci, bukan? Laki-laki itu memang sengaja dikurung. Aku benar, kan?"

Kediaman Kris membuat Baekhyun meyakini asumsinya.

"Aku lah yang membuka pintu ini. Karena aku yang telah membuat semua menjadi seperti ini, maka aku juga yang akan menyelesaikannya. Aku akan masuk ke dalam." Lanjut Baekhyun.

Kris tertawa remeh mendengar ucapan tak masuk akal Baekhyun. 'Bersikap sok berani, huh?' Apa dia tahu sedang berhubungan dengan siapa? Apa dia pikir adiknya ini tidak berbahaya sama sekali?

Sejak awal Kris tidak suka dengan penyusup kecil ini. Entah mengapa ia merasa bahwa ia harus segera menyingkirkan laki-laki itu dari rumahnya.

"Begitukah? Kalau begitu, mari kita lihat. Apa kau masih bisa keluar dari kamar itu hidup-hidup." Ucapan Kris sukses membuat Baekhyun gugup seketika. Tetapi keputusan Baekhyun sudah bulat. Ia akan menghadapi Chanyeol.

Laki-laki mungil itu menghela napasnya sebelum membuka pintu tersebut.

Di sana, Chanyeol tengah berdiri membelakanginya menghadap jendela besar yang diberi teralis. Tiba-tiba Baekhyun teringat dengan seseorang yang menatapnya tajam dari balik jendela. Ternyata adalah laki-laki itu.

Chanyeol membalik tubuhnya ketika mendengar suara pintu yang tertutup. Tetapi ia harus mengernyit ketika melihat lagi-lagi Baekhyun lah yang menghampirinya.

"Kenapa kau yang masuk?" Tanya Chanyeol.

"Tolong. Kumohon hentikan. Aku tidak mengerti mengapa kau bersikap seperti ini, tetapi kau tidak seharusnya melakukan hal ini. Kau tidak seharusnya memegang pisau itu dan melukai orang-orang." Ucap Baekhyun.

Chanyeol memandang Baekhyun dengan sinis. Ia mengamati laki-laki mungil itu dari atas sampai bawah. "Jadi kau ini memang orang suruhan si berengsek itu ya.."

Entah kakaknya yang bodoh atau apa, mengapa bisa ia mengirim orang lemah seperti ini untuk mengawasinya. Ia sungguh tak habis pikir. Laki-laki mungil itu terlalu mudah untuk dikalahkannya.

"Aku ini bukan suruhan siapapun. Cepat jauhkan pisau itu. Kumohon jangan melukai banyak orang lagi."

Chanyeol mengangkat sebelah alisnya.

"Kau tahu," Chanyeol menatap Baekhyun dengan jemari yang memainkan pisau tajam itu di tangannya. Darah menetes dari ujung pisau itu. Darah yang berasal dari tangan Baekhyun sebelumnya.

"Kau terlalu banyak omong."

Chanyeol menyerangnya secara tiba-tiba dengan pisau tersebut. Namun beruntung, Baekhyun berhasil menghindarinya. Baekhyun langsung berlari mengambil sebuah bantal dan menjadikannya sebagai pertahanan ketika tiba-tiba Chanyeol menodongkan pisau tersebut ke padanya. Dan bantal itu langsung robek oleh tajamnya pisau.

Baekhyun kembali berlari menjauh dari Chanyeol dan mencoba mencari-cari kesempatan ketika ia bisa menyerang balik laki-laki itu.

Baekhyun memang tidak pandai berkelahi, tetapi dulu ia pernah belajar sedikit tentang ilmu bela diri. Setidaknya, ia bisa menggunakannya untuk merebut pisau tersebut.

"Berengsek!" Umpat Chanyeol ketika lagi-lagi Baekhyun bisa menghindar dari serangannya.

Namun sayangnya hal itu tak bertahan lama. Chanyeol berhasil menangkap Baekhyun.

"Aakkhh.." Baekhyun terdorong ke dinding dengan Chanyeol yang menekan sebelah bahunya berusaha mengunci pergerakannya. Lelaki tampan itu tersenyum penuh kemenangan dengan tangan yang masih setia mengarahkan pisau tepat di daerah leher Baekhyun. Dengan sekali gerak saja, pisau itu akan memutuskan urat nadinya.

"Kau mungkin pandai menghindar. Tetapi, Park Chanyeol tak terkalahkan." Chanyeol tersenyum miring.

Benar-benar wajah yang tak mengekspresikan sedikitpun rasa bersalah. Menakutkan. Laki-laki itu terlihat senang dengan semua hal yang telah ia perbuat. Sangat berbahaya. Tapi bukan berarti Baekhyun akan menyerah begitu saja. Sama sekali tidak.

"Hyaaa!" Teriak Baekhyun tiba-tiba seraya mendorong Chanyeol dengan kekuatan penuh. Pisau itu terlempar entah kemana. Chanyeol tidak menduga serangan tiba-tiba tersebut hingga akhirnya ia limbung tak dapat menyeimbangkan tubuhnya.

Dan bodohnya Baekhyun baru menyadari bahwa laki-laki itu memegang bahunya dengan kuat sedari tadi. Ia pun otomatis ikut tertarik jatuh ke lantai.

Cup..

Kedua pasang bola mata itu sama-sama membulat menatap satu sama lain dengan terkejut. Tak menyangka bagaimana keadaan bisa berubah secepat ini. Baekhyun berada diatas tubuh Chanyeol dengan kedua belah bibir mereka yang saling bersentuhan.

Untuk beberapa detik yang terasa begitu lama bagi keduanya, suara apapun tak terdengar. Mereka hanya bisa merasakan detak jantung satu sama lain yang saling berirama.

Dengan terburu-buru Baekhyun bangkit dari atas tubuh Chanyeol. Baekhyun refleks menggigit bibirnya sendiri. Bagaimana bisa hal seperti itu terjadi di situasi seperti ini? Ia menjadi gugup tak terkendali. Sial. Ia masih bisa merasakan bibir Chanyeol disana.

Bibir itu, bagaimana bisa membuatnya merasa sangat nyaman hanya dengan sekali sentuhan?

Baekhyun rasa dirinya mulai tak waras. Ada yang salah dengannya. Dan detak jantungnya yang tak kunjung mereda semakin memperburuk keadaan.

Baekhyun diam-diam melirik Chanyeol takut-takut.

Chanyeol tak berucap apa-apa. Ia bangkit berdiri tepat dihadapan Baekhyun yang masih menggigit bibir bawahnya.

Chanyeol tahu ada yang salah dengannya. Tepatnya dengan detak jantungnya. Mata Chanyeol tak bisa beralih dari bibir Baekhyun. Bibir itu.. entah mengapa terasa begitu familiar baginya.

Baekhyun bisa merasakan ada yang aneh dengan lelaki itu. Meskipun Chanyeol memang aneh sejak awal, tetapi kali ini laki-laki tersebut terlihat lebih aneh lagi karena ekspresinya yang tampak terkejut dan seperti kebingungan. Laki-laki itu kini bahkan tak mencoba untuk membunuhnya lagi. Laki-laki itu hanya berdiam diri di hadapannya.

'Apa ciuman itu membuat dia menjadi jinak?' Tanya Baekhyun di dalam hati. Hah, pertanyaan konyol macam apa itu.

Tanpa sadar, tangan Chanyeol terangkat menyentuh sudut bibir Baekhyun dan bergerak mengusapnya pelan. Tubuh Baekhyun langsung menegang. Dalam hati ia bertanya-tanya mengapa laki-laki itu melakukannya.

Sementara Chanyeol tetap melakukan hal itu selama beberapa saat. Ia hanya perlu memastikan sesuatu dan ya, ia bisa merasakan perasaannya bergejolak. Chanyeol tak salah. Ia jelas mengenali laki-laki ini. Bukan hanya dirinya. Tetapi tubuhnya.

Chanyeol tahu dirinya tidak mungkin lupa bahkan setelah sekian lama.

"A-Apa yang kau-?"

"Byun Baekhyun.." Gumamnya pelan.

Baekhyun mengernyit bingung menatap laki-laki itu.

"Jadi, namamu Byun Baekhyun?"

Laki-laki itu adalah lelaki yang sama dengan lelaki yang pertama kali menatap Baekhyun tajam. Juga lelaki yang sama dengan yang pertama kali mencoba membunuh Baekhyun. Namun kini, laki-laki itu tengah menatap Baekhyun dengan sendu.

Aneh. Laki-laki itu menunjukkan ekspresi yang sulit Baekhyun artikan. Namun entah mengapa ia bisa merasakan tatapan Chanyeol yang penuh.. kerinduan. Padanya.

Sangat aneh.

Mengapa laki-laki itu sulit sekali ditebak? Sebenarnya ada apa dengannya?

"I-Itu.. yang t-tadi.. itu sebuah ketidaksengaj-"

Dan kejadian yang tak terduga setelahnya membuat Baekhyun terpaku. Ia benar-benar shock. Laki-laki itu mencium bibirnya. Dan kali ini dengan sengaja.

Kedua tangan Chanyeol menangkup wajahnya. Terus-menerus bergerak untuk mempersempit jarak diantara mereka dan memperdalam ciuman itu. Baekhyun tidak mengerti apa yang sebenarnya tengah terjadi disini.

Mengapa jadi seperti ini? Seingatnya, tadi mereka tengah berkelahi dengan tujuan masing-masing. Dirinya sendiri mencoba untuk merebut pisau dari tangan Chanyeol, sementara laki-laki itu berusaha membunuhnya.

Namun mengapa sekarang mereka berdua terlihat seperti sepasang kekasih yang sudah lama tak bertemu dan baru saja kembali dipertemukan oleh takdir?

Baekhyun merasa kepalanya pusing. Semuanya terasa berputar-putar. Entah karena ia mulai kehabisan darah atau karena ciuman yang bergairah itu.

Akhirnya, ia tak sadarkan diri.

"Hei?"

Chanyeol segera menangkap tubuh lemas Baekhyun yang hampir saja jatuh. Laki-laki itu dengan perlahan mendudukkan Baekhyun dilantai dengan tubuh yang disandarkan pada dinding.

Chanyeol tak berbuat apa-apa. Ia hanya memandangi wajah itu untuk waktu yang sangat lama. Tangannya terangkat untuk mengusap lembut wajah itu. Terdengar konyol memang, namun Chanyeol merasa 'hidup' kembali ketika melihat laki-laki itu lagi.

Chanyeol telah menemukannya bahkan sebelum ia mencarinya. Laki-laki itu datang kepadanya dengan sendirinya.

Tatapannya berhenti pada kedua tangan lelaki mungil itu yang dipenuhi oleh banyak darah. Lelaki mungil itu terluka. Dan ia merasa bodoh sekarang. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Chanyeol menyesal telah melukai seseorang.

"Byun Baekhyun.."

Laki-laki itu menatap Baekhyun dengan perasaannya yang bercampur aduk.

Tatapan mata itu. Tatapan mata milik Chanyeol yang tak pernah ia perlihatkan kepada siapapun, kini menatap Baekhyun dengan begitu lembut. Begitu melindungi Baekhyun dengan tatapannya yang hangat.

"Mengapa aku tidak bisa mengenalimu lebih awal?"

Jika sejak awal Chanyeol mengetahui bahwa Baekhyun adalah laki-laki itu. Maka ia tidak akan pernah mencoba menyakitinya. Bahkan ia tidak akan membiarkan laki-laki mungil itu tergores sedikitpun.

"Kau milikku, Baekhyun."

Sejak awal. Sejak pertemuan pertama mereka, sampai detik ini Baekhyun adalah miliknya. Baekhyun tidak boleh pergi darinya. Dan Chanyeol bersumpah, ia akan selalu menjaga dan melindungi apa yang telah jadi miliknya.


Kini hanya ada Kris dan Chanyeol saja yang berada di dalam kamar itu. Baekhyun baru saja dibawa pergi oleh para bodyguard untuk diobati oleh dokter terpercaya yang sebelumnya telah dipanggil ke rumah ini.

Kris terdiam menatap Chanyeol yang tengah menatap kepergian Baekhyun dengan tatapan yang sebelumnya tak pernah Kris sendiri lihat. Chanyeol seakan-akan tengah mengkhawatirkan laki-laki yang terluka tadi. Hal itu jujur sedikit aneh bagi Kris.

"Apa kau membunuhnya?" Tanya Kris. Chanyeol langsung menoleh mendengar pertanyaan itu.

"Aku melihat banyak darah pada laki-laki itu." Lanjutnya.

"Aku tidak membunuhnya."

'Kenapa? Bukankah hal itu mudah bagimu untuk melakukannya?'

Kris sendiri tak mengerti mengapa ia bisa berpikir untuk bertanya seperti itu. Ia hanya merasa aneh dengan sikap Chanyeol. Dan jujur ia sedikit tidak nyaman dengan hal itu.

Membunuh adalah hal yang mudah untuk dilakukan Chanyeol. Kris tahu hal itu dengan jelas. Ia juga tahu jika Chanyeol tidak suka jika ada orang yang berani mengusiknya. Lalu mengapa?

Harus Kris akui ia berharap jika Baekhyun mati dibunuh oleh Chanyeol. Ia tidak suka dengan penyusup itu. Perasaannya mengatakan bahwa ia harus segera melenyapkan laki-laki itu.

'Ada apa denganmu, Chanyeol? Bukankah laki-laki itu membuatmu kesal? Bukankah sebelumnya kau ingin membunuhnya? Mengapa kau tidak membunuhnya?'

Kris berdeham pelan. Chanyeol masih terdiam di tempatnya. Tak berbicara sepatah katapun. Padahal Kris yakin disaat seperti ini, pasti Chanyeol akan membunuhnya atau mengamuk padanya. Namun Chanyeol tidak melakukan apapun.

"Kurasa kau harus menenangkan dirimu dulu. Kita bisa bicara dilain waktu." Ucap Kris pada akhirnya.

Tak mendapati jawaban dari Chanyeol membuat Kris segera melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana.

Namun ketika Kris akan membuka knop pintu, Chanyeol bersuara.

"Jangan sentuh dia. Dia milikku."

Kris tentu saja terkejut mendengarnya. Apa yang baru saja Chanyeol katakan sangat diluar dugaan.

Kris beralih menatap Chanyeol dengan ekspresi tidak percaya.

Apa yang Chanyeol maksud adalah laki-laki yang terluka tadi?


"Kau sudah bangun?"

Pertanyaan itu terlontar dari kepala pengurus rumah yang sejak beberapa jam lalu duduk menunggu Baekhyun siuman bersama Yeri di dalam kamar mereka berdua.

Keadaan sang kepala pengurus rumah terlihat sudah lebih baik dari sebelumnya. Meskipun tubuhnya masih terasa sedikit lemas tapi ia baik-baik saja.

Baekhyun mengerjap pelan. Matanya menatap ke sekeliling. "Aku.. dimana?"

Saat ini ia berada dalam sebuah kamar dengan nuansa putih yang tidak begitu banyak perabotan namun terlihat luas dengan tiga buah tempat tidur di sana dan satu meja rias. Ia tidak tahu saat ini berada dimana. Seingatnya, ia berada di dalam kamar terlarang.

"Kau sekarang berada di kamar kami. Bagaimana keadaanmu? Aku harap kau baik-baik saja." Nyonya Kim mengambil segelas air putih dan menyodorkannya pada Baekhyun yang terduduk di atas tempat tidur masih dengan pandangan bingung.

"Aku baik-baik saja. Terima kasih." Baekhyun menerimanya dengan sopan lalu menengguknya.

"Jadi, siapa namamu?" Tanya Nyonya Kim pada Baekhyun. Sementara Yeri hanya diam memperhatikan lelaki mungil itu yang entah mengapa terasa sulit untuk diabaikannya. Yeri merasa tertarik dengan lelaki itu. Bukan semacam perasaan suka, tetapi lebih kepada kagum.

"Namaku Byun Baekhyun."

Nyonya Kim mengangguk-angguk pelan lalu memperkenalkan dirinya dan juga Yeri. "Kau bisa memanggilku Nyonya Kim atau Halmeoni. Dan disebelahku ini, gadis yang masih begitu muda dan polos ini bernama Kim Yerim. Kau bisa memanggilnya Yeri."

"Annyeong, Oppa!" Sapa Yeri.

"Annyeong, Yeri-ah."

"Oppa, kau sungguh hebat! Aku tidak pernah menyangka ada orang seberani dirimu. Aku dengar kau mencoba melawan tuan muda dengan tangan kosong. Itu keren! Meskipun kau pingsan pada akhirnya, namun kau berhasil membuat tuan muda tidak lagi memberontak. Ia bahkan bersikap tenang ketika pintu terlarang di kunci kembali seperti semula."

Baekhyun hanya menatap polos ketika Yeri berbicara dalam satu tarikan napas. Ia berusaha mencerna ucapan gadis itu pelan-pelan karena sesungguhnya nyawanya belum sepenuhnya terkumpul.

"Yeri, berhentilah menggosip bersama para pelayan lain." Nyonya Kim menggeleng pelan. Pasti Yeri mendengar kabar itu dari pelayan-pelayan lain yang suka sekali menggosip tentang majikan mereka sendiri.

"Tapi ini gosip yang tidak bisa dilewatkan begitu saja, Halmeoni. Ah, aku senang sekali karena oppa akan berada disini bersama kita."

Baekhyun yang sedari tadi hanya diam memperhatikan pada akhirnya mengernyit tak mengerti. "Apa maksudnya?"

Yeri menatap Baekhyun sejenak. Kemudian menjelaskan apa maksud dari perkataannya sebelumnya. "Siapapun orang asing yang masuk ke dalam rumah ini, hanya akan diberi dua pilihan. Menjadi pelayan dan patuh kepada pemilik rumah, atau memberontak dan mati."

Tentu saja Baekhyun kaget mendengar hal itu. Jadi.. Ternyata selama ini gosip yang beredar di luar sana benar adanya. Rumah ini benar-benar penuh dengan misteri dan hal-hal yang tak masuk diakal. Ia tidak menyangka jika orang asing yang masuk ke rumah ini memang benar-benar tidak akan bisa keluar.

Lalu bagaimana dengan dirinya?

"Aku yakin oppa akan memilih menjadi pelayan."

Pelayan? Yang benar saja. Ia tidak mau. Terlebih lagi setelah melihat bagaimana kekacauan dirumah ini terjadi.

Ia tak menyangka jika semua akan menjadi seperti ini. Ia ingin keluar dari sini. Ia tidak bisa berada di rumah ini. Ia harus bebas bagaimanapun caranya.

Seakan bisa membaca pikiran Baekhyun, Yeri berucap. "Percuma. Oppa tidak akan bisa lari. Benar-benar tidak bisa."

Baekhyun langsung menoleh.

"Sebaiknya oppa menyingkirkan pemikiran oppa tentang melarikan diri. Karena itu tidak akan berhasil. Yang ada, oppa justru akan mati karena telah mencoba untuk kabur." Lanjut Yeri yang diangguki oleh Nyonya Kim disebelahnya.

Hal itu tentu saja membuat perasaan Baekhyun semakin takut. Tidakkah rumah ini terlalu menyeramkan? Baekhyun sampai tak bisa mendengar kata lain selain mati.

Baekhyun tahu dirinya tidak boleh menyerah, ia pasti bisa kabur dari sini. Tetapi untuk saat ini, jika memang tidak bisa.. Jika Baekhyun memang tidak memiliki pilihan lain selain bekerja menjadi pelayan..

"Aku ingin bertanya." Ucap Baekhyun.

Nyonya Kim dan Yeri langsung memusatkan perhatian mereka pada Baekhyun.

"Aku benar-benar tidak mengerti situasi di rumah ini. Dan juga apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini." Baekhyun menghela napasnya. "Tapi aku bisa merasakan bahwa ada yang aneh dengan pemilik rumah dan juga.. laki-laki yang dikurung di dalam pintu itu."

"Bisa beritahu aku sesuatu?" Tanya Baekhyun.

Sementara Nyonya Kim dan Yeri hanya berdiam diri. Seakan tidak ingin melakukannya atau mungkin memang mereka tidak bisa memberitahunya.

Tapi Baekhyun tentu harus tahu dimana lingkungan ia berada kini. Ia harus mengenali dengan betul lingkungannya. Dan yang terpenting ia juga harus tahu bagaimana majikannya itu.

"Aku tidak memiliki pilihan lain selain menjadi pelayan di rumah ini, bukan? Karena itu, aku ingin mengetahui siapa mereka."

Nyonya Kim dan Yeri hanya bisa terdiam seraya bertukar pandang. Meskipun mereka berusaha untuk tidak membahas hal itu, tetapi pada akhirnya mereka harus mengatakan yang sejujurnya kepada Baekhyun. Lagipula sudah dipastikan bahwa Baekhyun akan tinggal disini bersama mereka. Tidak akan dibiarkan lari. Jadi, mereka bisa memberitahu rahasia besar tentang keluarga di rumah ini kepada Baekhyun.

Nyonya Kimlah yang akhirnya angkat bicara. "Pemilik rumah ini bernama Kris Park. Aku yakin kau sudah mengetahuinya. Mengingat bahwa Tuan Kris adalah seorang konglomerat terkuat di negara ini. Lalu, laki-laki yang dikurung itu bernama Park Chanyeol. Ia adalah adik kandung dari Tuan Kris."

'Ah, jadi laki-laki itu adalah adiknya.' Baekhyun mengangguk mengerti. Namun, sesuatu terasa mengganjal dihatinya. Mengapa Kris mengurung adiknya sendiri? Tidakkah itu aneh?

"Untuk alasan mengapa kekacauan seperti tadi bisa terjadi, dan mengapa tuan muda bersikap seperti itu, juga mengapa tuan Kris terlihat biasa saja, aku harap kau tidak terkejut mengetahui hal yang satu ini." Nyonya Kim terdiam sejenak. Baekhyun mengangguk tak sabar.

Sang pengurus rumah kembali melirik Yeri sebelum akhirnya menjawab semua rasa penasaran Baekhyun.

"Tuan Kris dan Tuan muda.."

"..Mereka adalah psikopat."

'A-Apa?' Baekhyun hanya bisa melongo mendengarnya. Psikopat? Psikopat yang itu? Gangguan jiwa? Benar-benar psikopat?

"P-Psiko..pat?"

Nyonya Kim dan Yeri mengangguk bersamaan.

Baekhyun terdiam dengan pemikirannya sendiri.

Jadi, alasan dibalik sikap laki-laki yang dikurung tersebut adalah karena ia seorang psikopat?

Begitu juga dengan sikap santai pemilik rumah ini?

Baekhyun dibuat pusing dengan semua kenyataan ini. Ia tidak pernah mengira jika hal seperti ini lah yang menyebabkan perilaku mereka seperti itu. Padahal Baekhyun berharap jika Chanyeol memang sudah bersikap urak-urakan sementara Kris juga orang terlalu cuek dan tak menganggap hal itu adalah masalah besar untuknya. Bukan seperti ini.

Sulit dipercaya.

Baekhyun pingsan begitu saja setelahnya. Membuat Nyonya Kim dan Yeri langsung bergerak panik.

"Hei, Nak."

"Oppa!"

Sulit untuk Baekhyun menerima kenyataan bahwa ternyata ia telah masuk ke dalam kandang singa. Bahwa ia dengan bodohnya tanpa sadar telah menyerahkan nyawanya sejak ia memasuki lingkungan rumah ini.

Bekerja untuk seorang psikopat? Baekhyun tidak pernah membayangkan hal itu akan terjadi pada dirinya.

Akankah semuanya berjalan baik-baik saja? Ia rasa tidak.

.

.

.

.


{ To Be Continued }


7k nih wkwkwk chap ini sudah panjang atau kepanjangan/? ( ͡° ͜ʖ ͡°) hoho

Kalau kalian bertanya-tanya kenapa Chanyeol keliatannya biasa aja.. Kirain dia pakaiannya bakal acak2an atau mukanya penuh luka2 wkwkwkw Jawabannya adalah, seorang psikopat gak akan nunjukin kalau dia psikopat hohoho Psikopat itu pasti orang yang keliatannya baik2 aja alias penampilannya normal kayak orang lain. Jadi itulah kenapa aku buat Chanyeol dan keadaan kamarnya sama kayak orang normal. Dan itu jugalah mengapa awalnya Baekhyun ngira Chanyeol fine fine aja wkwkwk

Btw ada apa dengan chanbaek? wkwkw Untuk flashback diantara Chanyeol dan Baekhyun, akan ada di chapter depan ya..

Sedikit sulit untuk chap ini. banyak yang aku rombak(?) untuk kepentingan chapter-chapter selanjutnya. Jadi maaf untuk keterlambatannya h3h3 :D Selalu berterima kasih kepada kalian semua yang sudah menyempatkan untuk fav/foll/review.

Terakhir, kritik dan saran yang membangun akan selalu aku terima dengan senang hati. Sampai jumpa!