Kris menegakkan tubuhnya yang sebelumnya bersandar pada kursi. Pikirannya melayang kembali pada sikap Chanyeol terakhir kali yang tampak begitu berbeda dari yang selama ini ia perhatikan.
"Bagaimana bisa Chanyeol bersikap seperti itu kepada si penyusup? Tidakkah itu aneh? Sebenarnya apa yang terjadi pada mereka berdua di dalam kamar saat itu?" Gumamnya.
Kris tak habis pikir mengapa adiknya bisa bersikap seperti itu kepada seseorang. Terlebih lagi adalah orang asing. Yang ia tahu, adiknya tidak suka apabila diusik oleh orang yang tak dikenalnya. Dan selama 10 tahun ini Kris tahu Chanyeol telah berubah total menjadi lelaki sedingin es.
Lalu bagaimana bisa ia menghangat semudah itu kepada orang asing? Si penyusup itu.
Kris merasa bahwa pasti ada sesuatu diantara mereka berdua. Terutama pada adiknya. Sampai akhirnya pemikirannya terhenti pada satu titik.
"Apa mungkin.. Chanyeol menyukai anak itu?" Kris terdiam dengan dahi yang berkerut.
Jujur saja itu konyol. Keduanya bahkan bertemu tidak sampai satu jam dan secara tidak sengaja. Mereka bahkan tidak saling mengenal satu sama lain.
Tapi jika itu benar, bagaimana bisa? Dengan mudahnya penyusup kecil itu mencuri perhatian adiknya. Dengan mudahnya penyusup kecil itu mengambil hati adiknya.
Kris rasa ia harus memastikannya sendiri.
"Sekretaris Hong, aku ingin penyusup itu menjadi pelayan pribadi untuk Chanyeol." Titah Kris.
Sekretarisnya yang sedari tadi berdiri di sampingnya tentu saja terkejut mendengar perintah itu. Tidak menyangka jika majikannya yang jelas sekali menunjukkan ketidaksukaannya terhadap penyusup tersebut ternyata justru memberi pekerjaan daripada membunuh laki-laki itu.
"N-Ne?"
"Aku ingin kau mengatur segalanya sesuai kemauanku."
"B-Baik, Tuan." Patuh sekretaris Hong.
Setidaknya jika asumsi Kris itu memang benar, maka ia bisa memanfaatkan hal itu. Ia bisa mengambil keuntungan dari perasaan tertarik yang sedang dimiliki oleh adiknya. Ia bisa membuat Chanyeol merubah sikapnya lewat si penyusup itu. Ia bisa membuat Chanyeol menjadi lebih baik.
Lagipula, ia rasa kali ini semuanya terlihat sedikit menarik. Ia ingin melihat bagaimana kelanjutannya.
"Aku ingin kau mengawasi mereka berdua dan memberitahukan padaku perkembangannya." Ucap Kris.
"Baik, tuan."
DO NOT ENTER ! (CHANBAEK)
BOYSLOVE/YAOI
Main Cast :
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Summary :
Jangan masuk ke dalam sana! Tidak ada yang diperbolehkan masuk ke dalam sana! Larangan tersebut telah diketahui oleh setiap penghuni rumah. Namun Byun Baekhyun, laki-laki yang mendadak menjadi seorang penyusup telah melanggarnya.
~Keseluruhan cerita berasal dari imajinasiku sendiri~
.
.
BB922016
Do Not Enter ! : Chapter 3
Baekhyun terdiam memandang lembaran kertas dihadapannya. Ia tidak tahu. Sungguh, ia tidak tahu mengapa ia bisa berada disini. Ia rasa pikirannya benar-benar kosong ketika menyetujui persyaratan-persyaratan itu.
Sejak kapan ia menerima bekerja di rumah menyeramkan ini? Ia tidak ingat sama sekali. Entahlah. Atau memang dirinya yang berusaha keras mencoba menolak mentah-mentah kenyataan dihadapannya.
Baekhyun membaca ulang lembar demi lembar tentang persyaratan apa saja yang harus ia patuhi selama bekerja di dalam rumah ini.
Peraturan No. 27 : Para pelayan dilarang meninggalkan rumah ini dengan alasan apapun sampai waktu yang bebas ditentukan oleh Pemilik Rumah.
Baekhyun menelan salivanya dengan gugup. Jika ia berani melanggar, ia akan mati. Semua peraturan yang tertulis disini, jika dilanggar pasti hukumannya hanya akan ada satu. Yaitu mati.
Ya ampun. 'Apa memang di rumah ini harga nyawa tidak bernilai apa-apa?'
"Dengan begini, anda sudah resmi menjadi bagian dari penghuni rumah ini. Segala hal yang anda lakukan akan diperhatikan sesuai dengan peraturan yang telah di tetapkan. Mohon berhati-hati." Ucap seorang pria paruh baya dihadapannya yang Baekhyun ketahui sebagai seorang pengacara.
Baekhyun masih terdiam di tempat duduknya. Ia tidak tahu harus berbuat apa.
Jika ia memikirkan keuntungan tinggal di dalam rumah ini, pasti banyak sekali. Ia tidak perlu susah payah untuk menghidupi dirinya. Ia tidak perlu susah payah mencari uang untuk membayar uang sewa rumah susun. Ia bisa tinggal nyaman di rumah mewah ini meski hanya menjadi seorang pelayan. Dan pada intinya segala kebutuhannya telah tercukupi di sini.
Namun jika dipikir kembali, ia benar-benar telah mempertaruhkan nyawanya. Sama saja dengan mengorbankan nyawanya untuk bisa tinggal disini.
Bagaimana bisa ia bekerja untuk seorang psikopat?! Bukan satu, melainkan dua!
Tidakkah itu artinya sekarang Baekhyun berada di antara hidup dan mati? Apapun yang ia perbuat di dalam rumah ini harus di lakukan dengan hati-hati. Jika tidak, ia pasti hanya akan tinggal nama saja.
"T-Tunggu dulu. Bisa beritahu saya bekerja dibagian apa?" Tanya Baekhyun.
Pria tersebut tersenyum dengan lembut. "Kau telah dipilih secara resmi menjadi pelayan pribadi Tuan Chanyeol."
Kedua bola mata sipit itu seketika membulat. "APA?!"
Tidak bisa dipercaya.
Tidak mungkin! Baekhyun akan lebih senang apabila ia bekerja dibagian tukang kebun. Memotong rumput setiap hari dengan gunting kuku, atau menyiram tanaman dengan gelas arak dibandingkan harus melayani laki-laki psikopat. Ya tuhan..
Di pertemuan pertama mereka, bahkan dirinya berusaha di bunuh. Bagaimana jika laki-laki itu mencoba untuk membunuhnya lagi?
Tidak akan ada satupun orang yang tahu apa yang berada dalam pikiran seorang psikopat.
"Karena semua telah ditanda tangani, urusan saya disini telah selesai. Kalau begitu, saya pamit undur diri. Permisi."
Pria tua itu membungkukkan badannya setelah mengucapkan salam perpisahan dan beranjak pergi meninggalkan Baekhyun yang terduduk lemas dengan segala kefrustasiannya.
"Aku tidak tahu apakah ini pilihan yang benar atau salah." Gumam Baekhyun putus asa.
"Memang akan sulit pada awalnya. Tapi lama kelamaan kau akan terbiasa." Nyonya Kim tersenyum hangat seraya merapikan tempat tidur kosong yang berada di samping tempat tidur Yeri.
Baekhyun termenung sendiri. Semuanya tidak semudah yang ia pikirkan. Ia tidak yakin apakah ia bisa melewati semua itu sampai ia bisa keluar dari rumah ini. Karena demi apapun, ia takut sekali jika akan membuat kesalahan sedikit saja. Semua peraturan yang ditanda tanganinya terasa mencekiknya. Ia merasa sangat terkekang.
Bagaimana bisa ia keluar dari tempat ini jika situasi di sini begitu ketat?
Ia takut bahkan sebelum dirinya sempat melarikan diri, ia telah kehilangan nyawanya disini.
"Karena seluruh pelayan di rumah ini adalah perempuan maka tidak ada kamar bagimu. Dan karena hanya kamar ini yang kosong, jadi untuk sementara waktu kau bisa berbagi kamar dengan kami mulai sekarang." Ucap Nyonya Kim setelah selesai merapihkan tempat tidur untuk Baekhyun.
Baekhyun yang sedang melamun, mengerjapkan matanya untuk sesaat sebelum benar-benar mencerna maksud dari Nyonya Kim. "N-Ne? Apa.. tidak apa-apa jika aku berada disini? Bagaimanapun juga aku laki-laki."
Tinggal di dalam kamar dengan dua orang wanita? Baekhyun pasti akan merasa canggung sekali. Seumur hidupnya, ia tidak pernah berada dalam situasi seperti ini.
"Tidak apa-apa. Tenang saja. Aku bisa mempercayaimu, kan?"
"Terima kasih, Nyonya Kim. Aku bersumpah aku tidak akan berbuat macam-macam kok." Yakin Baekhyun seraya membungkukan badannya dengan sopan.
Wanita paruh baya itu tersenyum menanggapinya. Baginya yang belum 24 jam mengenal Baekhyun, ia sudah bisa merasakan bahwa laki-laki bertubuh mungil itu adalah anak yang baik. Perilakunya benar-benar mencerminkan sopan santun.
Pintu kamarpun terbuka. Yeri masuk dan langsung menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidurnya sendiri.
"Ah, aku pusing dengan para pelayan lain. Mereka tidak hentinya menanyakan tentangmu oppa."
Merasa dirinya terpanggil, Baekhyun menoleh dengan bingung. "Tentangku? Memangnya ada apa denganku?"
Baekhyun tentu tak tahu bahwa kini dirinya menjadi topik hangat yang selalu dibincangkan oleh para pelayan-pelayan muda. Dan ia tentu tak tahu bahwa dirinya kini telah menjadi idola dadakan bagi para pelayan-pelayan tersebut.
"Oppa merupakan satu-satunya laki-laki yang menjadi pelayan disini. Tentu saja para pelayan lain sangat penasaran dan ingin mendekatimu." Jelas Yeri seraya bangkit untuk mendudukan dirinya.
Yeri memutar bola matanya mengingat betapa jengah dirinya dengan para pelayan yang terus mendekatinya hanya untuk mendapat informasi mengenai Baekhyun. Ia benar-benar merasa risih.
"Sepertinya pelayan lain menemukan kesenangan mereka setelah adanya kehadiranmu, oppa. Aku yakin mereka semua bosan hanya melihat para pengawal yang itu-itu saja. Jadi mereka berusaha mendekatimu."
Baekhyun tertawa kecil. "Hahaha.. Begitu kah?"
"Hm. Tapi oppa tidak perlu takut. Aku akan melindungimu dari mereka."
"Aku akan baik-baik saja kok."
"Aku akan mengawasi mereka semua." Ujar Yeri penuh semangat. Dan hal itu membuat Baekhyun tersenyum lembut.
"Terima kasih."
Yeri mengangguk-angguk mengerti.
"Ah ya, kudengar Tuan Muda akan dibebaskan dari kamar terlarang ya?" Lanjut Yeri.
"Benarkah? Bagaimana kau bisa tahu?" Sahut Nyonya Kim.
"Aku tidak sengaja bergabung sebentar bersama para pelayan yang bergosip hehe.." Yeri terkekeh pelan. Sepertinya bergosip memang hal yang sulit untuk dihindari oleh gadis remaja sepertinya. "Tapi aku sungguh tidak menyangka hal ini akan terjadi."
Baekhyun memandangnya bingung. "Memangnya kenapa jika Chanyeol dibebaskan dari kamar terlarang?" Jika Chanyeol memang telah dibebaskan, lalu apa masalahnya? Lagipula memang seharusnya laki-laki itu dibebaskan. Menahan seseorang didalam kamar seperti itu bisa saja menyebabkan kondisi fisik yang buruk bagi seseorang.
"Oppa lihat sendiri bagaimana sikapnya, bukan? Merupakan sebuah ancaman jika ia dibiarkan bebas berkeliaran dan berbuat sesukanya. Pasti seluruh penghuni rumah sudah dicincang jadi potongan kecil-kecil olehnya." Yeri menggeleng pelan mengusir bayangan menyeramkan mengenai tuan mudanya itu.
"Dan hei, oppa tidak boleh menyebut tuan muda kita dengan nama. Beruntung saat ini kita tengah berada di kamar. Jika tidak, aku yakin oppa langsung dibunuh bahkan sebelum sempat bekerja."
Baekhyun meringis mendengarnya. Ia lupa akan hal itu. "Tempat ini sangat menyeramkan."
Yeri menyetujuinya. Tempat seperti ini memang tidak diharapkan atau diimpikan oleh siapapun termasuk dirinya. Tetapi ia tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa tempat ini sangat berarti untuknya. Tempat ini sudah seperti 'rumah' baginya.
"Mulai besok oppa sudah akan bekerja. Aku akan membantumu untuk dapat beradaptasi. Jadi aku akan melakukan touring khusus untukmu. Sebenarnya, rumah ini tidak terlalu buruk jika oppa mematuhi setiap peraturan yang ada."
"Benarkah? Terima kasih, Yeri-ah."
Baekhyun harap semua hanyalah bagian dari mimpi buruknya. Namun kenyataan memang tidak pernah bisa dihindari. Dirinya berdiri tegap dengan kemeja putih yang membalut tubuhnya. Ini hari pertama dirinya bekerja. Sedikit informasi, dirinya saat ini hanya bisa mengenakan kemeja karena tidak ada baju pelayan khusus pria untuknya.
Memang biasanya para lelaki akan dijadikan sebagai pengawal namun Baekhyun terlalu mungil untuk dijadikan pengawal, terlebih lagi ia tidak memiliki kemampuan bela diri.
Tidak bisa dikatakan bahwa Baekhyun dapat bersikap tenang saat ini. Karena demi apapun, Baekhyun sungguh tak ingin melakukannya. Ia tidak ingin pergi ke lantai tiga untuk mengantarkan sarapan kepada Chanyeol.
Ia tidak sanggup untuk bertemu laki-laki itu setelah apa yang terjadi kemarin. Perkelahian mereka, juga.. tentang ciuman itu. Dan fakta bahwa Chanyeol psikopat yang berbahaya.
Baekhyun menggeleng pelan ketika bayangan itu muncul kembali. Ah, sial. Ia tidak ingin bertemu Chanyeol. Setidaknya, untuk sekarang. Karena mungkin saja, ia akan berubah menjadi memalukan ketika bertemu laki-laki itu lagi.
"Sedang apa kau disana?"
Suara itu membuat Baekhyun tersentak. Salah seorang pelayan yang tengah bertugas di dapur ternyata menyadari keberadaan Baekhyun yang sedari tadi hanya berdiam diri menatap nampan di atas meja yang berada di hadapannya.
"Kau seharusnya sudah mengantarkan makanan itu 10 menit yang lalu! Apa kau tidak sayang nyawamu, huh? Jika Tuan Kris tahu hal ini, tamat sudah riwayatmu." Omel pelayan tersebut.
"M-Maaf, sunbaenim."
"Cepat antarkan ke kamar tuan muda!"
"B-Baik."
Baekhyun membungkukkan badannya. Dan akhirnya semua penolakan dalam dirinya ia kesampingkan. Dengan sangat amat terpaksa ia memutuskan membawa nampan tersebut dan pergi menuju lantai tiga.
Sebenarnya jika hanya mengantarkan makanan itu ke depan pintu bukanlah masalah untuknya karena ia tidak perlu menampakan dirinya dihadapan laki-laki itu. Namun ia mendapat perintah bahwa ia harus masuk ke dalam kamar dan memberikan sarapan tersebut secara langsung. Sekaligus memberitahukan pada Chanyeol tentang peraturan yang Kris buat untuknya.
Laki-laki manis itu menghela napasnya kasar. Berharap-harap andaikan saja ada orang yang dengan baik hati ingin menggantikan dirinya melakukan pekerjaan ini.
"Jangan memasang wajah lesu seperti itu."
Tiba-tiba suara itu entah muncul dari mana.
Baekhyun menoleh kesegala arah mencari sumber suara tersebut dan ia mendapati seorang laki-laki berjas hitam tengah menatapnya dari ujung tangga.
"Kukira kau telah diberitahu untuk menjaga sikapmu disini. Kau harus berhati-hati." Ucap laki-laki tersebut sambil berlalu meninggalkannya.
"Ah, n-ne." Baekhyun menatap kepergian laki-laki tersebut. Harus Baekhyun akui laki-laki tersebut benar-benar tampan meskipun wajahnya sangat amat datar dan tidak bersahabat. Dalam hati ia bertanya-tanya siapa lelaki itu. Apakah dia salah satu bodyguard disini?
Namun Baekhyun harus berterima kasih kepada laki-laki tadi yang menasehatinya, karena sekarang Baekhyun merasa jauh lebih tertekan. Ia harus lebih berhati-hati lagi dengan sikapnya.
Astaga, bagaimanapun caranya ia harus cepat-cepat pergi dari tempat ini sebelum terjadi sesuatu kepada dirinya.
Baekhyun menggigit bibir bawahnya ketika ia telah berada di depan pintu terlarang. Kini pintu itu sudah tidak lagi diberi gerendel gembok. Hanya dikunci biasa saja dari luar.
Baekhyun mengetuknya pelan sebelum membuka kunci pintu tersebut.
Baiklah, ia harus menghadapi rasa takutnya.
Dan ya ampun, ia harus menghilangkan bayangan saat mereka berdua tidak sengaja.. berciuman.
Lagipula itu sebuah ketidaksengajaan. Ia harus melupakannya. Harus. Ia harus bersikap biasa saja. Harus!
Ia menelan saliva nya dengan gugup ketika melangkah masuk secara perlahan. Diliriknya ke sekeliling. Ia mencari dimana keberadaan Chanyeol saat ini. Dan ia menemukan laki-laki itu tengah berdiri menatapnya dengan bersandar pada dinding disebelah jendela. Sial, ternyata ia telah diperhatikan sejak tadi.
"Uh.. Halo." Sapa Baekhyun dengan canggung.
Chanyeol hanya menatapnya tanpa suara. Tatapan intensnya membuat Baekhyun semakin salah tingkah dibuatnya. Tentu saja ia menjadi begitu gugup karena tengah berada dalam satu ruangan dengan seorang psikopat yang kapan saja bisa mencoba membunuhnya seperti kemarin.
"A-Aku.. M-Maksudnya saya.. kesini untuk mengantarkan sarapan anda." Dengan gugup Baekhyun menaruh nampan tersebut di atas meja.
Sekeras apapun Baekhyun mencoba menutupi kegugupannya, nyatanya semua itu terlihat jelas dari bagaimana kedua tangannya gemetar menaruh nampan tersebut sampai-sampai gelas yang dibawanya hampir saja tumpah.
"Kau boleh bicara banmal denganku." Chanyeol berjalan mendekat dan duduk disofa yang berada didepan meja.
Baekhyun menoleh kepada Chanyeol yang berada tepat disampingnya. "N-Ne? Eohh.. Baiklah."
Entah hanya perasaannya saja atau memang Baekhyun merasa ada yang aneh dengan sikap Chanyeol. Ayolah, bagaimana mungkin majikannya ini bisa bersikap santai kepada seorang pelayan sepertinya terlebih lagi setelah apa yang terjadi kemarin. Mereka bahkan sempat berkelahi.
Atau memang semua psikopat seperti itu? Bertindak layaknya tak ada apapun yang terjadi namun dibalik itu semua terdapat jebakan. Ah, Baekhyun harus lebih berhati-hati lagi dengan lelaki ini.
"Kemari." Ucap Chanyeol tiba-tiba seraya menepuk sofa disebelahnya. Kata itu terdengar sangat memerintah. Dan Baekhyun tidak berani untuk sekedar menolaknya.
Baekhyun dengan berat hati melakukan sesuai kata-kata Chanyeol. Dengan gugup, Baekhyun duduk disofa panjang dimana Chanyeol duduk namun ia memilih untuk sedikit menjaga jarak dengan laki-laki itu. Tetapi entah bagaimana bisa dijarak seperti ini saja ia bisa mencium aroma parfum laki-laki itu.
"Mendekat."
Baekhyun menoleh dengan cepat. Apa? Apa laki-laki itu baru saja menyuruhnya untuk duduk lebih dekat?
"Kubilang mendekat."
Kini Baekhyun semakin canggung dibuatnya. Teringat akan ciuman dan fakta bahwa duduk disamping lelaki psikopat semakin memperburuk detak jantungnya. Sial. Baekhyun juga harus mengalihkan pandangannya dari bibir itu. Berhenti bertindak konyol, Baekhyun.
"Ehm.. Anu.. Aku ditugaskan untuk memberitahumu sesuatu." Ucap Baekhyun.
Chanyeol tetap melanjutkan makanannya tanpa menaruh sedikitpun perhatian pada Baekhyun yang sedang berbicara.
Baekhyun menghela napasnya dan kembali melanjutkan kalimatnya. "Mulai sekarang, aku adalah pelayan pribadimu. Jadi.. kuharap kita bisa melupakan kejadian kemarin dan menjalin komunikasi yang baik. M-Mohon bantuannya."
Hening. Chanyeol benar-benar tidak melirik Baekhyun sama sekali. Tapi meskipun begitu, Baekhyun tahu Chanyeol mendengarkannya. Tidak peduli apa laki-laki itu akan memperhatikannya atau tidak, yang penting ia telah menjalankan tugasnya.
"Lalu, mulai sekarang kau juga telah dibebaskan dari ruangan ini."
"Sebenarnya tidak bisa dikatakan bebas juga. Ada jadwal tertentu. Kau dibebaskan untuk keluar dari kamar mulai dari jam 7 pagi sampai dengan jam 10 malam. Selebihnya, kamar ini akan kembali dikunci. Begitulah peraturannya."
"Baekhyun." Panggil Chanyeol tiba-tiba.
"Ya?" Baekhyun gugup. Apa ia berbicara terlalu banyak lagi? Apa ia membuat laki-laki itu kesal karena mendengarnya mengoceh terus-menerus?
"Bagaimana keadaan tanganmu?"
Baekhyun mengerjap pelan. Cukup terkejut mendengar laki-laki itu ternyata menanyakan tentang lukanya.
"Ah? Aku baik-baik saja. Luka ini sudah diobati, pasti akan sembuh secepatnya."
Chanyeol melirik sekilas kearah tangan Baekhyun lalu kembali menatap mata Baekhyun.
"Park Chanyeol."
Baekhyun mengernyit bingung. Apa maksudnya? Mengapa laki-laki itu menyebut namanya sendiri?
"Kubilang namaku Park Chanyeol."
"Ah.. itu, aku sudah tahu namamu."
Chanyeol sedikit terkejut mendengarnya. "Kau tahu namaku?" 'Apa kau mengingatku?'
"Iya. Nyonya Kim memberitahukan namamu padaku."
Sekilas Baekhyun melihat raut wajah Chanyeol berubah setelah ia mengatakan hal itu. Tidak yakin juga, namun yang Baekhyun lihat ekspresi itu menampakan raut kecewa. Baekhyun yakin ia tidak mengatakan hal yang salah lalu ada apa dengan laki-laki itu?
"Ceritakan tentangmu." Ucap Chanyeol.
'Tentangku? Apa? Apa yang harus kuceritakan padamu?'
Baekhyun mengernyit menatap Chanyeol yang menatapnya balik dengan serius.
'Dan kenapa? Kenapa aku harus melakukannya?'
Pertanyaan itu menghantuinya namun Baekhyun hanya bisa menjawab, "Tidak ada yang spesial tentangku. Lagipula aku memiliki kenangan buruk yang tidak ingin kuingat lagi. Aku sudah melupakan itu semua."
'Jadi, karena itukah kau tidak mengingatku? Bahkan sekedar namaku?' Chanyeol memandang Baekhyun dalam diam. "..Begitukah?"
Baekhyun mengangguk kecil.
"Hm.. Apa ada hal lain yang kau butuhkan? Atau.. kau ingin aku melakukan sesuatu untukmu?"
Baekhyun harus mengalihkan pembicaraan. Entah mengapa sejak dulu ia tak begitu suka ketika seseorang membuatnya harus mengingat masa lalu. Lagipula ia sedikit tidak nyaman dengan situasi saat ini. Rasanya seperti Chanyeol tengah mencoba untuk mengenalnya lebih dekat. Dan hal itu membuatnya merasa aneh.
"Bagaimana menurutmu? Apakah ada hal yang ingin kau lakukan untukku?"
Dan yang lebih aneh, ia merasa tidak nyaman dengan tatapan mata Chanyeol yang dalam. Ia bahkan sampai tak bisa mengalihkan pandangannya dari tatapan itu.
Baiklah untuk saat ini ia bisa mengabaikan hal itu sejenak, dan berpikir apa yang harus ia lakukan?
Ruangan ini terlihat bersih. Sepertinya ia tidak perlu merapihkannya. Lalu apa? Ia harus apa?
Baekhyun memperhatikan Chanyeol dari atas ke bawah. Akhirnya. Ia tahu apa yang harus dilakukan. Ia rasa ada sesuatu hal yang harus ia ubah dari laki-laki ini.
"Hmm Chanyeol-ssi.. tidakkah kau merasa.. sedikit risih dengan rambutmu?" Tanya Baekhyun dengan sopan. Oh tentu saja ia harus melakukannya dengan sopan. Ia harus menjaga sikapnya terlebih lagi di depan psikopat ini.
"Ada apa dengan rambutku?"
"Tidak.. Hanya saja kurasa itu terlalu panjang."
Rambut Chanyeol memang panjang sebahu. Hal itu disebabkan karena ia tidak pernah memotongnya. Lagipula di dalam kamar ini, benda-benda tajam seperti gunting tidak ada. Hal itu dilakukan untuk mencegah hal bodoh yang mungkin akan dilakukan oleh Chanyeol.
Karena sebelumnya terdapat kejadian saat seorang pelayan tengah memberi makanan melalui lubang di bawah pintu, dan Chanyeol menusuk punggung tangan pelayan itu menggunakan gunting. Chanyeol melakukan hal itu seraya meminta untuk di bebaskan. Sejak saat itu, benda-benda tajam langsung disingkirkan dari kamar terlarang.
"Kalau kau mau, mungkin aku bisa melakukan sesuatu pada rambutmu." Ucap Baekhyun.
Chanyeol hanya memandangnya dengan wajah datar. Membuat Baekhyun merasa bahwa laki-laki itu tidak menginginkannya. "Atau mungkin tidak."
Chanyeol masih menatapnya dengan tatapan itu. "Lakukan."
Satu hal yang Baekhyun ketahui pada hari ini. Bahwa Chanyeol tidak seburuk yang ia duga. Laki-laki itu bukan seorang psikopat yang tak bisa hidup tanpa membunuh seseorang di sekitarnya. Setidaknya ia tahu bahwa laki-laki itu tidak berbuat aneh kali ini.
Dan tanpa disadarinya pun, ia mulai merasa sedikit santai sekarang. Tidak tegang atau merasa canggung ketika berada di dekat laki-laki itu. Namun ia masih tetap waspada dan tentu menjaga sikapnya.
Seperti seorang ahli, Baekhyun memainkan gunting pada rambut Chanyeol dan memotongnya dengan cepat. Ia terlihat begitu luwes melakukannya. Karena memang ia telah terbiasa melakukannya untuk dirinya sendiri.
Dari dulu, Baekhyun yang terbiasa mandiri tentu melakukan hal-hal kecil seorang diri.
Beberapa menit telah berlalu dan ketika Baekhyun melihat hasil karyanya sendiri, ia merasa tertohok melihat perubahan laki-laki itu. Tentu saja. Rambut panjang Chanyeol memang tak bisa menutupi ketampanan laki-laki itu. Namun dengan gaya rambutnya yang sekarang benar-benar membuat siapapun yang melihatnya akan meleleh.
Park Chanyeol benar-benar tampan. Dan Baekhyun mengakui hal itu dengan senang hati.
Baekhyun segera mengambil sebuah cermin seukuran wajah saja untuk menunjukannya pada Chanyeol tentang gaya rambutnya saat ini.
Chanyeol menatap dirinya di depan cermin itu. Ia memegang rambutnya dan bergerak melihat bentuk rambutnya dari segala sisi. "Tidak buruk."
"Kau tampan." Ucap Baekhyun tiba-tiba yang membuat Chanyeol seketika menoleh menatap kearah Baekhyun. Kedua pipi Baekhyun perlahan mulai merona. Baekhyun menyesali mulutnya yang tidak bisa dikunci rapat dan membuat suasana mendadak menjadi canggung.
"M-Maksudku, kau.. terlihat cocok dengan rambutmu yang sekarang."
Chanyeol tampak mengabaikannya. Ia sibuk menatap pantulan dirinya di depan cermin. Sepertinya laki-laki itu menyukai gaya rambut yang Baekhyun lakukan padanya.
"Uhm.. Chanyeol-ssi."
Chanyeol menatap Baekhyun dari pantulan di cermin.
"Hari ini adalah hari pertamamu diberi sedikit kebebasan, apa.. kau tidak ingin keluar?" Tanya Baekhyun.
Ia ingin sekali menanyakan ini. Karena sedari tadi, mereka hanya berada di dalam kamar saja tanpa keluar. Chanyeol pun terlihat tidak begitu tertarik untuk pergi keluar dari kamar.
"Tidak." Jawab Chanyeol singkat.
"Tapi kenapa? Mau tak mau, kau harus keluar dari kamar mulai sekarang. Lagipula didalam ruangan tertutup terus-menerus tidak baik juga untuk kesehatan."
Tentu saja Chanyeol ingin keluar dari tempat ini. Ia ingin menghirup udara segar dipagi hari. Atau melakukan aktivitas kesana-kemari. Bukannya hanya berdiam diri di dalam ruangan tertutup.
Namun jika ia keluar, ia tahu itu bukanlah pilihan yang tepat. Ia tidak ingin bertemu dengan kakaknya terlebih lagi berbicara untuk saat ini.
Karena bagaimanapun juga, sebenci apapun dirinya terhadap kakaknya, ia selalu berusaha untuk menghindari Kris. Ia tidak bisa bertatap muka dengan pria itu. Karena ia takut kehilangan kendali. Ia takut bahwa dirinya kehilangan akal dan membunuh lelaki itu tanpa pernah menanyakan maksud tujuan kakaknya melakukan hal 'itu' dulu.
"Tentu aku akan keluar. Nanti."
Baekhyun hanya mengangguk pelan. "Hm.. Baiklah." Ia rasa Chanyeol tidak suka jika ia menanyakan alasannya. Entahlah..
"Kurasa tidak ada lagi yang kau perlukan. Jika kau butuh sesuatu, kau bisa memanggilku atau mencariku. Kalau begitu, aku permisi."
Pada akhirnya Baekhyun meninggalkan Chanyeol sendirian di kamar terlarang. Namun meskipun Chanyeol merasa kosong dan sepi dengan kepergian Baekhyun, tetapi ia cukup senang saat ini.
Senyuman yang tak pernah ia tunjukkan pada siapapun lagi selama 10 tahun, kini muncul saat dirinya menatap pantulan wajahnya di cermin. Meskipun senyuman itu bukan senyuman lebar. Hanya sebuah senyuman teramat tipis.
Chanyeol tak pernah merasa sebahagia ini bisa berada di dalam kamar terlarang.
"Aku yakin ini bukan hanya perasaanku saja. Aku yakin dia tertarik padamu, oppa."
Baekhyun lagi-lagi kembali mengabaikan ucapan Yeri sampai membuat gadis itu kesal.
Ayolah, Yeri tidak bodoh. Yeri sangat yakin jika tuan mudanya memang memiliki ketertarikan kepada Baekhyun. Bagaimana mungkin ia bisa tidak tahu, jika sedari tadi Chanyeol mengawasi mereka berdua dari balik jendela kamarnya yang berada di lantai tiga itu.
Bahkan Chanyeol menatapnya tajam seakan-akan ingin membunuhnya. Entah karena masalah kemarin atau karena saat ini dirinya berada disamping Baekhyun. Tapi yang jelas, Yeri tahu bahwa Chanyeol terus memperhatikan Baekhyun sejak tadi.
"Tidak mungkin, Yeri. Itu hanya perasaanmu saja." Baekhyun berlalu meninggalkan Yeri yang masih melirik ke lantai tiga dengan was-was.
Baekhyun sibuk memperhatikan ke sekelilingnya. Sial. Ia sudah mengelilingi seisi rumah dan halaman namun hasilnya nihil. Tak ada jalan keluar.
Rumah macam apa ini. Mengapa begitu tertutup? Tembok nya benar-benar tinggi dan tak ada satupun jalan rahasia untuk keluar dari rumah ini. Bagaimana bisa Baekhyun melarikan diri jika seperti ini? Terlebih lagi ia baru mengetahui bahwa terdapat banyak sekali cctv disetiap sudut halaman rumah.
Rumah ini seperti penjara!
Satu-satunya jalan keluar adalah.. tidak ada! Benar-benar tidak ada!
Baekhyun terdiam dengan matanya yang berkaca-kaca. Ia sungguh putus asa memikirkan nasib malangnya.
"Tamatlah sudah riwayatku."
Baekhyun berjongkok diatas rumput dan menghela napasnya dengan kasar. Tidak ada jalan keluar artinya ia akan menetap disini selama sisa hidupnya. Dan ia tidak tahu sampai kapan ia hidup.
Aah, tidak bisa seperti ini. Ia bahkan belum mengucapkan selamat tinggal kepada Jongdae. Ia juga belum meminta maaf kepada Ahjumma pemilik rumah susun karena sering terlambat membayar uang sewa.
Yeri berlari kecil mendekati Baekhyun. "Oppa, Tuan Muda masih saja melihat ke sini. Aku yakin dia memperhatikan kita. Tepatnya dirimu."
Sejujurnya Yeri sangat takut dengan Chanyeol. Ah, ia sudah bertahun-tahun hidup di rumah psikopat ini tetapi ia tidak pernah benar-benar mengenal Chanyeol. Dan kini tatapan Chanyeol membuatnya berpikir tentang kematian.
Rasanya seperti Tuan Muda nya akan membunuhnya dengan tatapan itu. Ia sudah cukup takut ketika kemarin hampir saja terbunuh. Luka di lehernya pun belum sembuh total.
Baekhyun berdiri dan menoleh kelantai tiga. Dan benar saja, Chanyeol tengah menatapnya dari sana.
"Dia menatapmu. Aku benar, bukan?" Tanya Yeri.
"Kurasa dia menatap kita.. karena dia ingin keluar?"
Yeri menoleh kepada Baekhyun. "Maksudnya?"
"Dia tidak pernah keluar dari sana. Pasti rasanya canggung harus keluar dari kamar. Jadi, ia hanya bisa memandangi dari balik jendela. Kurasa begitu."
Yeri terdiam dan memikirkan ucapan Baekhyun. Tidak salah juga. Sepertinya memang Tuan Muda mereka ingin keluar. Karena itu, lelaki tersebut menatapnya dan Baekhyun. Mungkin tatapan itu adalah tatapan iri bahwa Yeri dan Baekhyun bisa pergi keluar dengan bebas.
"Lalu kenapa ia tidak keluar saja? Lagipula ia sudah diberi kebebasan."
"Entahlah."
Saat ini Baekhyun tidak bisa berpikir hal lain selain bagaimana caranya ia bisa kabur dari rumah ini. Pokoknya, secepatnya ia harus mencari jalan keluar. Ia tidak bisa berlama-lama disini.
Apa yang paling menakutkan baginya? Ketika mimpi buruk itu terus datang menyelimutinya. Menghantuinya disetiap malam-malam yang ia lewati.
Sesak. Chanyeol merasa tak bisa bernapas tiap kali kenangan-kenangan itu muncul dalam mimpinya. Menyerangnya dan menyiksanya perlahan-lahan.
Tubuhnya berkeringat. Mimpi buruk itu tidak mau menghilang. Ia terus mengerang. Memohon agar mimpi buruk itu berhenti. Berhenti mengganggunya.
"Tidak! Tidaak!"
Chanyeol menggeleng berulang kali. Mencoba mengusir mimpi buruk itu pergi. Mengusir suara-suara aneh yang muncul di dalam kepalanya.
Tapi lagi-lagi, mimpi itu mencengkramnya erat. Memaksanya mengingat setiap kenangan-kenangan pahit yang coba ia lupakan.
"Aneh. Tuan muda benar-benar tidak keluar dari kamarnya sama sekali?" Tanya Yeri dengan nada terkejut. Tentu saja ia kebingungan mendengar ucapan Baekhyun yang mengatakan bahwa tuan mudanya tidak keluar dari kamar seharian ini.
Bukankah seseorang yang dikurung secara paksa tentu saja ingin bebas? Ingin keluar dari ruangan yang menyesakkannya?
Tetapi mengapa Chanyeol tidak melakukannya? Sudah seharian ini ia hanya berada di dalam kamarnya sendiri, padahal ia telah diberi kebebasan untuk sekedar menghirup udara segar.
"Aku tidak tahu. Mungkin ia merasa lebih nyaman berada di kamar itu?" Sahut Baekhyun.
Ia sendiri tidak mengerti. Apa ada sesuatu yang membuat laki-laki itu tidak ingin keluar dari sana?
Nyonya Kim mengerutkan dahinya. "Tidak mungkin. Selama sepuluh tahun ini, sudah berkali-kali ia mencoba kabur dari ruangan itu."
Nyonya Kim pun dibuat bingung dengan sikap Chanyeol kali ini. Mengapa laki-laki itu memilih mengurung dirinya? Padahal dulu ia selalu mencoba segala cara untuk meloloskan diri.
Baekhyun menghela napasnya. Ia melirik kearah jam dinding yang ada di dalam kamar.
"Sudah hampir tepat jam 10 malam. Aku harus pergi mengunci kamar itu."
Kris menatap keluar jendela dengan secangkir kopi ditangannya. Pandangannya terlihat menerawang pada masa lalu. Ke masa-masa dimana semuanya tidak seburuk ini.
Tentu Kris bukan sedang menyesali perbuatannya kala itu. Ia bukan tipikal orang yang akan menyesali setiap tindakannya. Terlebih lagi mengingat bahwa dirinya pun adalah seorang psikopat.
Ia hanya sedang memikirkan saat dimana semuanya masih baik-baik saja. Sampai suatu ketika seseorang menghancurkan segalanya dengan ucapannya. Dan membuat dirinya harus segera membereskan kekacauan saat itu.
"Ya. Aku tidak akan melakukannya jika ia tetap diam saat itu." Ucap Kris.
Bukan salahnya. Memang seharusnya orang itu menutup mulutnya. Menjaga rahasianya. Hal itu terjadi bukan atas kesalahan dirinya. Salahkan saja pada orang itu yang tidak tahu kapan ia harus menutup mulutnya. Salahkan saja kepada orang itu yang telah mengacaukan segalanya.
"Ia memang pantas mendapatkan itu."
Kris menyeruput kopinya dan tersenyum miring.
"Kau memang pantas mati. Kau tahu itu, kan?" Ucap Kris pada salah satu bintang yang paling terang dilangit. Ia tidak pernah lupa. Sejak dulu sampai saat ini, ia masih ingat sekali betapa orang itu sangat menyukai bintang.
Baekhyun bermaksud untuk mengunci kembali pintu kamar terlarang, namun ia harus menghentikan aktivitasnya ketika mendengar suara aneh yang berasal dari dalam kamar itu.
Jantungnya berdetak kencang. Apa sesuatu terjadi pada tuan mudanya itu? Atau mungkin tuan mudanya itu tengah melakukan sesuatu yang aneh saat ini?
Ia mendekatkan telinganya pada pintu kamar. Suara-suara aneh itu semakin terdengar jelas.
'Sebenarnya apa yang dilakukan psikopat itu didalam?'
Meskipun menakutkan, namun Baekhyun rasa ia harus mengeceknya.
"Permisi." Baekhyun mengetuk pintu tersebut sebelum akhirnya membukanya dengan perlahan. Ia sengaja membiarkan pintu tersebut terbuka lebar. Jadi, jika sesuatu yang buruk terjadi ia bisa segera melarikan diri.
"Ch-Chanyeol-ssi?"
Baekhyun melangkah masuk dengan gugup.
Ia menyalakan lampu untuk melihat seisi ruangan dengan lebih jelas. Dan ia mendapati Chanyeol terbaring diatas tempat tidurnya dengan tidak nyaman.
"Ch-Chanyeol-ssi? Gwaenchanayo?" Baekhyun berjalan mendekat.
Ia dapat melihat tubuh Chanyeol berkeringat dan kepalanya terus menggeleng kesana-kemari. Dahinya berkerut dan ia tak hentinya bergumam pelan. Laki-laki itu terlihat sangat kesakitan.
'Apa laki-laki ini sedang bermimpi buruk?'
"Chanyeol-ssi?" Baekhyun dibuat semakin panik ketika laki-laki itu semakin mengerang dan bergerak tak nyaman. Ia mencoba menepuk pelan pipi laki-laki itu dan memanggil namanya berulang kali namun laki-laki itu tak kunjung membuka matanya.
Ada apa sebenarnya dengan laki-laki ini?
Baekhyun menggenggam tangan Chanyeol dengan kedua tangannya. Berulang kali ia mengusap pelan punggung tangan itu dan memanggil nama tuan mudanya.
"Chanyeol-ssi? Kumohon sadarlah!"
"Haaah.."
Chanyeol tiba-tiba membuka matanya dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Mimpi buruk itu menghilang dalam sekejap. Dan matanya yang sendu kini mendapati Baekhyun berdiri disampingnya dengan panik. Dan Chanyeol juga mendapati tangannya digenggam oleh laki-laki mungil itu.
"B-Baekhyun.."
"Chanyeol-ssi? Kau baik-baik saja? Tunggu sebentar. Aku akan memanggil pelayan."
Baekhyun berlalu pergi meninggalkannya.
Chanyeol hanya bisa memandangnya, tak sanggup untuk sekedar menahannya. Tangannya hanya menggapai udara kosong. Ia tidak membutuhkan siapapun. Karena sejak saat ia dikurung, mimpi buruk itu selalu datang kepadanya dan ia terbiasa menghadapi mimpi itu sendirian.
Tak lama kemudian Baekhyun kembali berserta seorang pelayan disampingnya.
Baekhyun memilih menjauh dan membiarkan pelayan itu mengurus Chanyeol. Dan Baekhyun terpaksa menyaksikan sendiri bagaimana pelayan itu mengeluarkan alat suntikan.
Baekhyun mengerutkan dahinya. Bukan ini yang ingin ia lihat. Bukan ini alasan Baekhyun memanggil pelayan itu. Namun mengapa pelayan itu memberi suntikan kepada Chanyeol? Suntikan apa itu?
"Tunggu. Apa itu?"
"Obat bius."
"Ta-Tapi kenapa sunbae memberinya obat bius?" Tanya Baekhyun ketika pelayan yang lebih tua darinya itu ingin beranjak pergi setelah menyuntikkan obat bius pada Chanyeol.
Pelayan itu meliriknya sekilas seraya merapihkan bekas suntikan tadi.
"Tuan Kris yang menyuruh kami memberinya obat bius tiap kali ia berulah." Jawab pelayan itu.
"Tapi laki-laki itu tidak membuat ulah. Kurasa ia hanya bermimpi buruk. Hanya mimpi buruk."
Pelayan itu nampak tak peduli dengan omongan Baekhyun dan memilih untuk segera meninggalkan ruangan itu. "Aku harus pergi. Masih banyak pekerjaan yang harus kulakukan."
Baekhyun terdiam menatap Chanyeol yang telah tidur kembali. Mungkin laki-laki itu terlihat lebih tenang dibanding sebelumnya. Namun dahi nya yang berkerut membuat obat bius itu sama sekali tidak memberi perubahan yang besar.
Entah mengapa Baekhyun merasakan nyeri disudut hatinya. Ia tidak mengerti mengapa Chanyeol diperlakukan seperti ini.
Laki-laki itu bukan monster yang setiap saat bisa membahayakan orang. Karena buktinya, ia yang menjadi pelayan pribadinya masih baik-baik saja sampai detik ini. Dan laki-laki itu juga bukan buruk rupa yang harus diasingkan dari orang-orang.
Mengapa laki-laki itu harus diperlakukan tidak adil seperti ini?
Yang Baekhyun rasakan saat ini bahwa Chanyeol hanya seorang laki-laki yang terjebak dalam kegelapan. Laki-laki itu membutuhkan uluran tangan. Ia membutuhkan seseorang disampingnya.
"Semua orang menganggapmu seburuk itu. Namun, mengapa aku tidak merasa begitu?" Gumam Baekhyun.
Ia merasa aneh dengan hatinya sendiri. Ia tidak mengerti mengapa ia harus berempati kepada seorang psikopat yang bahkan tidak punya hati dan perasaan sedikitpun. Namun ia terus merasa sesuatu mendesaknya untuk harus berada di sisi laki-laki itu. Entah apa itu. Entah karena apa. Tapi perasaannya mengatakan, bahwa laki-laki itu membutuhkannya.
"Ah, tidak Byun Baekhyun." Baekhyun menggelengkan kepalanya.
Sepersekian detik Baekhyun langsung menghapus semua itu dari dalam pikirannya. Ia harus mengabaikan rasa empati dalam dirinya. Ia tidak perlu ikut campur dalam masalah di dalam rumah ini. Yang perlu ia lakukan hanya bersikap sebagaimana mestinya seorang pelayan. Dan segera mencari cara untuk meloloskan diri dari rumah ini.
Ia hanya harus memikirkan bagaimana ia bisa bebas tanpa perlu mengkhawatirkan orang lain. Karena saat ini, dirinya sendirilah yang perlu ia pikirkan dan khawatirkan.
Kali ini apa mimpi buruk juga yang menghampirinya? Saat ini Chanyeol berada didalam sebuah ruangan hitam yang tak berujung. Sendirian. Tak ada satupun orang disana.
Chanyeol ketakutan. Ia hanya bisa duduk seraya menekuk kedua kakinya.
Namun tiba-tiba secercah cahaya muncul dan menghampirinya. Membentuk sebuah langkah kaki seseorang kepadanya.
Chanyeol kebingungan. Ia hanya terdiam menatap cahaya itu. Sampai ketika tiba-tiba ruangan tersebut berganti menjadi ruangan putih seputih salju. Dan ia mendapati Baekhyun berdiri disana. Berdiri diatas cahaya yang menghampirinya.
Baekhyun tersenyum begitu lembut kearahnya dan mendekap tubuhnya dengan pelukan hangat.
"Karena telah datang terlambat, maafkan aku." Suaranya mengalun dengan begitu lembut. Membuat Chanyeol merasa nyaman berada didalam pelukan laki-laki mungil itu.
"Tidak. Tidak. Terima kasih karena kau datang kembali." Ucap Chanyeol seraya tersenyum dengan mata terpejam.
Yang Chanyeol tahu pasti didalam kegelapan yang menyesakkan ini, ia hanya bisa melihat cahaya yang datang meneranginya. Dan Baekhyun adalah cahayanya.
27 Desember 2006
Saat itu salju turun dengan lebat. Jarang sekali terlihat orang yang keluar dari rumah mereka karena cuaca benar-benar sangat dingin saat itu. Kebanyakan dari mereka memilih untuk bersantai di rumah bersama penghangat ruangan mereka sembari menonton acara televisi.
Tetapi seorang anak laki-laki berjas hitam dengan tubuh mungilnya tak mempedulikan betapa dingin dan membeku tubuhnya kini.
Sudah satu jam lebih Baekhyun berada di taman dan menangis seorang diri. Tidak ada satu orangpun yang berjalan ke arahnya untuk sekedar menanyakan ada apa dengannya. Mereka semua sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
"Sial!" Umpat seorang laki-laki yang berlari memasuki taman dengan mata yang berkaca-kaca.
Laki-laki itu menghentikan langkahnya dan menghembuskan nafas dengan kasar. Tangannya mengepal dengan kuat menahan amarah.
Ia menoleh bermaksud untuk duduk di sebuah bangku taman. Namun ketika ia mendapati seorang laki-laki tengah duduk di sana seraya menangis dengan wajah yang ditutup oleh kedua tangannya, membuat laki-laki itu mengurungkan niatnya.
Ia mencoba untuk tidak peduli pada orang itu dan memilih untuk berbalik dari taman. Sepertinya ia harus mencari tempat lain. Tempat yang sangat sunyi dan hanya akan ada dirinya seorang saja. Tempat dimana ia bisa meluapkan semua rasa amarah dan segala yang bercampur aduk di hatinya sedari tadi.
Namun entah mengapa, pada akhirnya laki-laki itu kembali dan mendudukkan dirinya di sebelah Baekhyun yang masih menangis sesegukkan.
Suasana terasa canggung selama beberapa menit. Sampai akhirnya laki-laki tinggi itu membuka suara.
"Hei, kenapa kau menangis sendirian disini?" Tanya laki-laki itu.
Untuk sesaat, lelaki yang ditanya mengangkat wajahnya dari balik kedua tangannya. Pandangan mata mereka bertemu. Mata sipit yang tampak merah dan membengkak karena terus saja menangis itu menatap ke arah mata bulat laki-laki tinggi di sampingnya.
"O-Orangtuaku.. hiks.." Baekhyun mengusap air mata diwajahnya dengan kasar.
"Ada apa dengan orangtuamu?"
"Mereka.. hiks.. meninggalkanku.. Mereka sudah tidak ada lagi di dunia ini.."
Baekhyun menundukkan wajahnya. Jemari tangannya yang pucat meremas celananya mencoba berusaha untuk menahan tangis yang sepertinya akan turun lagi membasahi pipinya.
Baekhyun tidak bisa membayangkan seperti apa dirinya nanti tanpa kedua orangtua disisinya. Ia masih begitu muda dan tak bisa berbuat apa-apa selain menangis menyalahkan keadaan. Bagaimana dirinya bisa melewati semua ini?
Mendengar hal itu, laki-laki disamping Baekhyun hanya terdiam seraya menatap butiran salju yang berjatuhan di taman.
Tanpa disadari, ucapan Baekhyun membuatnya merasa bahwa ia tak sendiri. Bahwa bukan dirinya saja yang merasakan bagaimana perihnya kehilangan seseorang yang disayangi.
"Keluargaku juga." Ucap laki-laki itu secara tiba-tiba membuat Baekhyun menoleh. "Mereka pergi meninggalkanku untuk selamanya tepat dihari natal."
Laki-laki itu berucap dengan nada yang sangat datar. Seakan-akan itu bukanlah masalah yang besar. Seakan-akan kepergian keluarganya itu bukan apa-apa baginya. Sikapnya saat ini menunjukan bahwa ia baik-baik saja.
"Jadi, aku bisa mengerti bagaimana perasaanmu saat ini." Lanjutnya.
Baekhyun terdiam menatap laki-laki itu.
Entah mengapa, meskipun suara itu terdengar sangat datar tetapi Baekhyun bisa merasakan bahwa sikap tidak pedulinya saat ini hanyalah sebuah kebohongan. Baekhyun bisa merasakan bahwa laki-laki itu tidak baik-baik saja.
"Sampai saat ini bahkan aku masih berpikir, bukankah tuhan tidak adil? Bukankah semua ini terlalu cepat?"
Laki-laki itu akhirnya membalas tatapan Baekhyun. Dan kini Baekhyun bisa melihat semuanya dengan jelas dibalik tatapan itu. Kesedihan yang sangat mendalam.
"Semua orang berkata bahwa itu sudah takdirnya. Karena itu, aku sangat membenci takdir. Tapi aku lebih membenci diriku sendiri yang tak bisa berbuat apa-apa atau merubah takdir itu." Lanjut laki-laki itu.
"Aku merasa begitu naif. Kukira semuanya akan terus berjalan dengan baik-baik saja."
Dalam diam, Baekhyun memperhatikan setiap ekspresi laki-laki itu. Ekspresi yang terus berubah-ubah seakan mencoba begitu keras untuk menutupinya. Padahal dengan jelas, laki-laki itu sudah menunjukkannya di depan Baekhyun.
Laki-laki itu menghela napasnya pelan. Lalu kembali beralih menatap Baekhyun dan berkata diiringi dengan senyuman pahit,
"Aku memiliki segalanya. Tapi aku tidak memiliki sosok keluarga disisiku. Tidakkah itu menyedihkan? Untuk apa hidup seperti itu, bukan?"
Kedua bola mata sipit milik Baekhyun bergerak menatap bergantian mata laki-laki disampingnya. Ia tidak mengerti mengapa dirinya merasa sesak. Seakan-akan ia ikut merasakan penderitaan laki-laki itu.
Atau mungkin karena ia memang sangat cengeng. Ia lemah dan selalu saja menangisi segala hal. Tetapi meskipun begitu, terasa sangat aneh ketika ia melihat bagaimana laki-laki itu menceritakan masalahnya namun laki-laki itu terlihat bersusah payah untuk tegar dibanding meluapkannya.
"Aku merasa bahwa hidupmu sangat berat. Tetapi mengapa kau tidak menangis saat menceritakannya padaku?"
"Air mataku telah habis. Atau mungkin aku tidak bisa lagi menangis." Laki-laki itu tersenyum miris.
Karena semuanya telah hancur berkeping-keping. Entah sudah berapa kali ia menangisi semuanya. Namun yang ia terima hanyalah kekecewaan yang terus-menerus. Tidak ada yang berubah hanya dengan menangis.
Baekhyun membuka mulutnya untuk berucap namun laki-laki itu telah mendahuluinya.
"Kau tidak pulang ke rumahmu? Bibirmu sudah membiru." Tunjuk laki-laki itu kearah bibir Baekhyun.
Laki-laki tinggi itu melepas sarung tangan hangat yang menyelimuti kedua tangannya sedari tadi. "Pasti kau sudah lama sekali berada di sini, kan? Pakai ini."
Baekhyun hanya bisa mematung ketika laki-laki tersebut tiba-tiba memasangkan sarung tangan kepadanya. Diam-diam ia mulai mengamati laki-laki itu dan tersenyum kecil. Laki-laki ini tidak buruk juga.
Cup..
Mata laki-laki itu membulat ketika merasakan sesuatu yang lembut dan dingin menyentuh permukaan bibirnya. Ia menatap dengan terkejut Baekhyun yang saat ini tengah memejamkan matanya. Bibir mungil itu tak bergerak. Hanya diam selama beberapa detik sebelum akhirnya Baekhyun menjauhkan wajahnya dan tersenyum manis.
"Setelah aku berbicara denganmu aku tahu, semua orang memiliki kisah sedih masing-masing. Yang mungkin lebih buruk daripada kisahku. Jadi seharusnya aku bisa kuat dan setegar orang-orang yang tidak menunjukkan kisah sedih mereka." Ucap Baekhyun.
"Tapi kau tahu, tidak ada salahnya jika ingin menangis. Hatimu juga butuh sedikit kelonggaran. Jangan terus membuatnya membeku."
Ia tidak tahu harus bagaimana. Ada apa dengan dirinya? Perasaannya menghangat karena ucapan laki-laki itu..
Baekhyun membuatnya merasa nyaman hanya dengan ucapannya.
"Kumohon jangan menyembunyikan apa yang tidak bisa kau sembunyikan. Jika itu sakit, katakan. Jika kau ingin menangis, lakukan. Tidak ada salahnya menunjukkan semua itu. Jika kau bersikeras menyembunyikannya, kau justru akan menunjukkannya dengan jelas." Lanjut Baekhyun.
Laki-laki itu tak mampu berkata-kata. Ia hanya menatap wajah Baekhyun yang sangat cantik saat tersenyum seperti itu.
"Terima kasih untuk sarung tangannya. Ayo kita bertemu lagi. Dan di saat itu, mari kita saling menyapa dengan senyuman di wajah kita. Bukan kesedihan seperti saat ini."
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Selamat natal." Laki-laki itu bangkit dari duduknya.
"Namaku Park Chanyeol." Laki-laki itu tiba-tiba berucap membuat Baekhyun yang tengah berjalan menjauh berhenti dan menoleh padanya.
"Siapa namamu?" Tanya Chanyeol.
Senyuman Baekhyun mengembang diwajahnya. "Aku akan memberitahunya di pertemuan kedua kita." Kemudian laki-laki mungil itu melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan taman itu.
"Sampai jumpa, Chanyeol~"
Di lain sisi, Chanyeol terus mengamati Baekhyun yang perlahan-lahan mulai menghilang. Ia tidak mengerti mengapa matanya tak dapat beralih sedikitpun dari laki-laki mungil itu.
Ini kali pertamanya, jantung Chanyeol berdetak untuk seseorang.
Kau tentu tak akan pernah bisa melupakan seseorang yang pertama kali membuat jantungmu berdebar tak karuan.
Sejak saat itu, Chanyeol tidak pernah bisa melupakan Baekhyun.
Dan sejak saat itu pula, Chanyeol selalu berusaha melarikan diri dari kamar terlarang hanya untuk pergi kembali ke taman itu. Tempat dimana ia pertama kali bertemu dengan cinta pertamanya.
.
.
.
.
{ To Be Continued }
Halo halooo. Maaf untuk semua readers tercinta yang telah menunggu lama ff ini:(( aku bener2 minta maaf karena baru update sekarang. Aku terlalu sibuk sama real life dan bener2 buntu buat ngetik kelanjutannya saking banyaknya pikiran wkwk tapi berkat review dari kalianlah yang bikin aku semangat dan paksain untuk ngebuang rasa capek aku hehe
Semoga kalian gak lupa sama jalan ceritanya ya wkwk
Oh ya, ini 6,7k words loh:"") hehe aku udah ngasih tau flashbacknya chanbaek dan sedikit kode tentang masa lalunya nih. Untuk gaya rambut chanyeol, aku serahkan pada kalian mau ngebayangin chanyeol gantengnya pas gaya rambutnya kayak gimana wkwk
Chap ini masih santai-santai aja ya. Jangan yang panik2an dulu wkwk Btw aku langsung publish setelah selesai ngetik ini. Jadi kalo gak jelas mohon dimaafkan hoho Semoga chap ini tidak mengecewakan kalian~
Terima kasih kepada yang sudah fav/foll/review.
Terakhir, kritik dan saran yang membangun akan selalu aku terima dengan senang hati. Sampai jumpa!
