DO NOT ENTER ! (CHANBAEK)
BOYSLOVE/YAOI
Main Cast :
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Summary :
Jangan masuk ke dalam sana! Tidak ada yang diperbolehkan masuk ke dalam sana! Larangan tersebut telah diketahui oleh setiap penghuni rumah. Namun Byun Baekhyun, laki-laki yang mendadak menjadi seorang penyusup telah melanggarnya.
~Keseluruhan cerita berasal dari imajinasiku sendiri~
.
.
BB922016
Do Not Enter ! : Chapter 4
Baekhyun melihat kalender yang berada diatas nakas. Dua minggu lagi hari natal akan segera tiba. Dan itu membuatnya teringat bahwa sebentar lagi pula adalah hari peringatan kematian keluarganya.
Mengingat hal itu, membuat sudut hatinya kembali terasa nyeri. Sampai sekarang, kematian keluarganya masih terasa tidak nyata baginya. Meskipun ia selalu berusaha mencoba untuk melupakannya, namun bayang-bayang kejadian itu masih ada yang tersisa di dalam memorinya.
"Wuah, sebentar lagi hari natal ya." Yeri datang mendekat dan memposisikan dirinya disamping Baekhyun yang tengah termenung.
Baekhyun menoleh sekilas kearah Yeri. "Memangnya ada apa?"
"Oppa belum tahu, ya? Setiap hari natal, maka seluruh pelayan akan merayakannya dengan berpakaian seperti santa." Yeri terlihat begitu bersemangat menjelaskannya. Wajahnya berseri-seri. Seakan-akan hari natal adalah hari yang ditunggu-tunggu olehnya. "Nanti akan ada banyak sekali makanan yang disajikan lho."
"Wow." Baekhyun tak menduga jika hal seperti itu ada di rumah ini. Ia tak mengira jika pemilik rumah yang dingin seperti Kris ternyata suka merayakan hal seperti ini setiap natal. Ia kira suasana dirumah ini akan sama seperti biasanya. Sunyi dan membosankan.
Yeri tersenyum memperhatikan Baekhyun yang nampak sedikit terkejut mendengar ucapannya barusan.
"Meskipun Tuan Kris seperti itu, ia masih memberi sedikit kebebasan kepada pekerja seperti kita. Tuan Kris sebenarnya pun tidak terlalu buruk seperti kelihatannya. Ia mungkin bersikap dingin, tetapi ia tidak akan mengusik kita jika kita tidak mengusiknya terlebih dulu."
Baekhyun terdiam. Ia mulai sedikit tertarik mendengarnya. Sejujurnya ia sangat penasaran dengan Kris. Terutama Chanyeol. Kedua laki-laki itu selalu membuatnya berada dalam tanda tanya.
"Apa oppa tahu, bahwa pekerja dirumah ini mendapatkan gaji setiap bulannya?" Tanya Yeri.
Satu hal lagi yang berhasil mengejutkan Baekhyun kembali. "Benarkah? Aku tidak tahu soal itu." Sepertinya ada banyak hal yang tidak benar-benar Baekhyun ketahui mengenai rumah ini.
Bukankah ia terlalu bersikap tak acuh pada segala yang ada, hanya karena ia akan benar-benar meninggalkan rumah ini sebentar lagi?
Melihat Baekhyun yang tak tahu apa-apa, akhirnya Yeri mulai menjelaskan secara ringkas mengenai masalah gaji di rumah ini. "Gaji itu akan masuk kedalam rekening yang telah dibuat khusus oleh Tuan Kris untuk para pekerja seperti kita."
"Uang itu bisa kita pergunakan untuk membeli kebutuhan kita dirumah ini." Lanjut Yeri.
Tentu Baekhyun lagi-lagi tak menyangkanya. Ia tidak mengira bahwa nyatanya meskipun para pekerja dirumah ini dipaksa bekerja, mereka masih mendapatkan hak mereka.
Meskipun baginya pribadi, tinggal di rumah ini dan mendapat makan sudah lebih dari cukup. Ia merasa sedikit lega. Setidaknya pekerja di rumah ini tidak benar-benar diperlakukan sama seperti budak.
Dan Baekhyun mulai berpikir bahwa Kris ternyata tidak begitu buruk seperti yang ia pikirkan. Sepertinya, pria itu masih memiliki hati dibalik sikap dingin dan fakta bahwa ia seorang psikopat.
Oh ya ampun Baek, tidak sadarkah kau bahwa dirimu terlalu menganggap semua yang ada dirumah ini dengan pandangan negatif? Buktinya mereka masih memiliki sisi positif yang bisa kau lihat.
"Tapi.. bukankah uang itu percuma saja? Kita tidak bisa keluar dari rumah ini untuk sekedar membeli barang yang kita butuhkan dengan gaji itu." Tanya Baekhyun penasaran. Yang ia tahu, tidak ada satupun orang yang bisa keluar dari rumah ini, bukan? Lalu bagaimana caranya mereka dapat membeli kebutuhan mereka?
"Sepertinya oppa benar-benar tidak tahu ya." Gadis yang lebih muda dari Baekhyun itu terkekeh pelan seraya menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga. "Setiap akhir bulan, Ahn Ahjussi yang bertugas untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan oleh pekerja dirumah ini akan datang. Kita hanya perlu memberinya list barang yang ingin kita beli, lalu ia akan mengurus segalanya termasuk rekening kita."
Ahh, Baekhyun mulai mengerti sekarang. Jadi rupanya ada satu orang yang memiliki tugas seperti itu. Dan pada intinya, para pekerja memang benar-benar tidak diberikan kebebasan untuk keluar dari rumah ini.
"Memangnya oppa pikir darimana semua make up itu berasal, jika bukan karena aku membelinya? Kekeke..." Yeri menunjuk pada meja rias yang dipenuhi dengan berbagai macam alat make up yang Baekhyun sendiri tak tahu dengan jelas apa kegunaan mereka.
Ucapan Yeri memang benar adanya. Dan barang-barang itulah yang menjadi buktinya.
Untuk nominal gaji para pekerja dirumah ini, mungkin tak ada yang bisa mengira berapa pastinya. Yang jelas, nominalnya benar-benar fantastis. Dan tentu tidak ada yang benar-benar tahu berapa gaji para pekerja selain Kris dan sekretaris setianya.
Seperti biasa, pagi ini Baekhyun kembali mengantarkan sarapan kepada Chanyeol di kamar terlarang.
"Ini sarapannya."
Begitu Baekhyun menaruh nampan yang dibawanya di atas meja, laki-laki itu bermaksud untuk pamit undur diri dari sana ketika melihat Chanyeol mulai menyantap makanannya.
Namun lagi-lagi Chanyeol berhasil menyuruhnya untuk duduk disamping laki-laki tinggi itu.
"Temani aku makan." Ucap Chanyeol pelan.
"Ne." Jawab Baekhyun seraya mendudukkan dirinya disofa.
Sejujurnya Baekhyun tidak mengerti. Mengapa dirinya harus duduk disamping Chanyeol dan menunggu laki-laki itu menyelesaikan makanannya? Tapi untuk mencari aman, Baekhyun hanya bisa mematuhinya.
"Keundae, mengapa kau tidak keluar dan makan di ruang makan saja bersama-sama dengan Tuan Kris?"
Chanyeol berhenti mengunyah dan menoleh pada Baekhyun detik itu juga. "Kau sepertinya tidak tahu betapa aku membenci pria itu."
Baekhyun terdiam. Setelah dipikir-pikir kembali tentang bagaimana kekacauan di rumah ini terjadi pada hari pertama dirinya masuk kedalam rumah ini, seharusnya ia tahu bahwa hubungan kedua kakak-beradik itu tidak baik.
Memangnya ada apa dengan mereka?
Namun dibanding menanyakannya, Baekhyun hanya membalasnya dengan, "Ah maaf, aku tidak tahu tentang itu."
Dan Chanyeol kembali melanjutkan makanannya seperti tidak ada yang terjadi. Sementara Baekhyun hampir bosan setengah mati hanya duduk diam menunggu laki-laki itu menyelesaikan makanannya tanpa melakukan hal apapun.
Akhirnya Baekhyun memutuskan untuk memandang ke sekelilingnya sekaligus menghindar dari menatap Chanyeol. Karena entah mengapa ia selalu merasa gugup disamping laki-laki itu. Entah karena dirinya yang kadang masih terbayang akan ciuman mereka, atau mungkin karena ia takut dengan psikopat itu. Baekhyun sendiri pun tak tahu.
Kamar Chanyeol sepertinya selalu tampak rapih. Semuanya tertata dan tanpa debu sekalipun. Mungkin Chanyeol merupakan jenis orang yang sangat menjaga kebersihan disekitarnya. Karena setahunya, keadaan kamar ini tidak pernah disentuh sedikitpun oleh para pelayan.
Mata Baekhyun mendadak terhenti pada sebuah bingkai foto yang berada di atas nakas. Satu-satunya bingkai foto yang ada di ruangan itu. Namun bingkai foto itu ditidurkan di atas nakas. Tidak dipajang. Membuat Baekhyun bertanya-tanya mengapa dari seluruh barang yang tersusun dan ditata rapih, hanya bingkai foto itu saja yang tidak dipajang seperti yang seharusnya.
Mengapa?
"Apa tanganmu sudah lebih baik?" Suara Chanyeol mengagetkan Baekhyun.
Laki-laki mungil itu memandang kearah tangannya sendiri. Meskipun luka itu masih terasa begitu perih, tetapi ia baik-baik saja. Buktinya ia masih bisa membawa nampan untuk tuan mudanya ini, kan? Dan sepertinya lukanya sudah semakin membaik.
"Lukanya akan segera sembuh." Jawab Baekhyun. Dan Chanyeol hanya menanggapinya dengan anggukan kecil. Membuat suasana kembali menjadi canggung dan sunyi.
Baekhyun menatap laki-laki itu penuh tanda tanya. Sebenarnya ia ingin sekali menanyakan ini. "Aku tidak mengerti. Mengapa kau bersikap baik sekali padaku?"
Chanyeol menoleh. "Memangnya kenapa?"
"Tidak. Aku hanya merasa aneh. Maksudku, aku hanya seorang pelayan."
Ucapan Baekhyun tentulah benar. Bagaimana mungkin Chanyeol yang merupakan seorang psikopat bisa bersikap baik kepadanya yang berstatus sebagai pelayan.
"Dan juga, kesan pertama kita pun tidak baik. Kau tahu sendiri, bukan? Kita sempat ya.. sedikit berkelahi dan.. oh aku masih ingat bagaimana tatapan kebencianmu padaku waktu itu."
Baekhyun menarik napas dan menghembuskannya.
"Lalu mendadak aku harus menjadi pelayanmu. Tapi mendadak aku juga tidak menemukan lagi tatapan kebencianmu itu. Mengapa tiba-tiba kau bersikap seperti ini padaku?"
Baekhyun tentu ingat jika ia pernah mengatakan kepada Chanyeol bahwa mereka harus melupakan kejadian pertumpahan darah itu. Tetapi sikap yang Chanyeol tunjukan padanya benar-benar berbeda drastis. Dan hal itu membuat Baekhyun bingung. Ia sulit mengartikan apakah Chanyeol memang baik padanya atau ada maksud tersembunyi.
Chanyeol mengabaikan tatapan mata Baekhyun yang meminta penjelasan. Laki-laki itu memilih berdiam diri dan kembali melanjutkan makannya dari pada memberi sepatah dua patah kata sebagai jawaban.
Chanyeol memperlakukan Baekhyun berbeda tentu karena sebuah alasan. Ia tidak mungkin bersikap buruk pada orang yang disukainya, kan? Terlebih lagi cinta pertamanya.
Baekhyun mengernyit melihat Chanyeol yang tampak tidak mengacuhkannya. Heol. Apa laki-laki ini baru saja mengabaikannya?
Baekhyunpun memilih diam. Baiklah. Lagipula untuk apa ia berbicara dengan psikopat menyebalkan ini? Seharusnya ia hanya melakukan tugasnya saja dan tidak memikirkan hal lain selain mencari cara untuk membebaskan dirinya.
Tapi meskipun ia mencoba untuk tidak memulai pembicaraan, pada akhirnya ia terlalu bosan harus berada dalam situasi seperti ini. Mulutnya tak tahan untuk tak bicara bahkan semenit saja.
Sampai akhirnya, ia teringat akan kejadian tadi malam. "Omong-omong, apa kau baik-baik saja?" Tanya Baekhyun.
Chanyeol memandangnya dengan bingung. Tidak mengerti mengapa lelaki mungil disampingnya dapat bertanya seperti itu.
"Kemarin.. sepertinya kau bermimpi buruk." Ucap Baekhyun hati-hati.
Dan Chanyeol mengingatnya. Malam yang menyesakkan itu. "Aku selalu mengalaminya."
Tak terhitung sudah keberapa kalinya ia mengalami mimpi buruk seperti itu. Mungkin sudah lebih dari ratusan kali. Ia tak tahu bagaimana cara untuk menghentikan mimpi itu datang disetiap malamnya.
"Begitukah? Maafkan aku, aku tidak tahu jika kau akan diberi obat bius jika aku memanggil pelayan."
"Tidak apa. Aku sudah terbiasa." Chanyeol nampak santai mengenai hal itu. Rasanya memang ia tidak mempermasalahkan bagaimana penghuni rumah memperlakukan dirinya bagaikan monster yang harus di hindari oleh orang-orang.
"Kau selalu diberi obat bius?" Kaget Baekhyun.
Ia tidak menyangka jika Chanyeol selalu di beri obat semacam itu hanya karena ia seorang psikopat.
Psikopat memang adalah sebuah penyakit. Tetapi, tidak bisakah mereka memperlakukannya lebih manusiawi sedikit? Mungkin yang Chanyeol butuhkan bukanlah obat bius itu.
Chanyeol bersandar pada sofa. Ia telah selesai menghabiskan makanannya. "Hanya setiap kali aku mencoba meloloskan diri. Mereka selalu berhasil menangkapku dan memberiku obat bius."
Baekhyun mengangguk pelan tanda mengerti. Namun ada sesuatu yang membuatnya bingung.
"Kalau dulu kau selalu mencoba meloloskan diri, lalu mengapa ketika kau dibebaskan untuk keluar kau justru malah berdiam diri di kamar ini?"
Chanyeol terdiam sesaat dalam tatapan mata itu. "Karena aku tidak memiliki alasan untuk pergi dari sini lagi."
Baekhyun dibuat bingung. Alasan? Apa yang menjadi alasan laki-laki itu untuk meloloskan dirinya? Bukankah karena ia ingin bebas dari ruangan ini? Apalagi alasan yang masuk akal selain itu?
"Memangnya apa alasanmu meloloskan diri waktu itu?"
Chanyeol kehilangan kata-kata. Ia terdiam menatap kedua mata Baekhyun bergantian. Rasanya seperti ia ingin mengatakan sesuatu, namun semua itu tertahan ditenggorokannya.
"Baekhyun."
Lelaki mungil itu mengerjap. Entah mengapa jantungnya mendadak berdetak cepat. "N-Ne?"
"Aku akan keluar dari kamar." Chanyeol langsung mengalihkan pandangannya dan berdiri.
Seandainya saja Baekhyun tahu, bahwa dirinyalah alasan Chanyeol selalu mencoba meloloskan dirinya kala itu. Ia selalu berusaha untuk keluar dari rumah dan pergi ke taman. Berharap-harap dapat bertemu dengan Baekhyun lagi dan dapat mengetahui namanya.
Namun ia selalu gagal. Para pengawal dan pelayan selalu berhasil mencegahnya. Dan kembali mengurung dirinya didalam kamar terlarang.
Tetapi kini, ia rasa ia tidak perlu lagi melakukannya karena Baekhyun berada disini. Di jarak pandangnya. Ia selalu bisa melihat Baekhyun dan itu sudah cukup untuknya.
Namun Chanyeol terlalu takut untuk memulai segalanya. Ia takut mengatakan bagaimana perasaannya pada lelaki mungil itu. Ia terlalu takut memikirkan bahwa kemungkinan laki-laki itu akan menghindar darinya karena sebuah kenyataan yang tak dapat dihindari bahwa ia adalah seorang psikopat.
Disukai oleh seorang psikopat? Tidakkah itu terlalu menyeramkan untuk dibayangkan?
Kini Chanyeol hanya bisa menunggu saat yang tepat untuk mengatakan semuanya.
TV dibiarkan saja menyala menampilkan sebuah acara yang tidak terlalu begitu menarik baginya. Seraya memakan snack, lelaki itu mengambil ponselnya dan mengecek pesan chat pada sebuah sosial media.
Tidak dibalas.
Jongdae mengernyit dengan bingung. Sudah hampir 3 hari ia tidak mendengar kabar sahabatnya itu. Tidak biasanya Baekhyun mengabaikan pesan maupun telepon darinya. Padahal dirinya hanya ingin bertanya tentang pekerjaan baru temannya itu. Namun entah mengapa Baekhyun tidak pernah menjawab satupun pesan atau telepon darinya.
Baekhyun yang ia kenal adalah seseorang yang selalu menghubunginya dan memberitahu segala hal yang dialaminya kapanpun dan dimanapun. Baekhyun tidak pernah sedikitpun melewatkan hari tanpa berbicara dengannya.
Namun mengapa bagaikan hilang di telan bumi, Baekhyun tak pernah terdengar lagi kabarnya dan bahkan kehadirannya.
"Apa sesuatu terjadi padanya?" Jongdae menggigit bibirnya dan berpikir keras.
Ia sangat khawatir terhadap sahabatnya itu. Bagaimana jika benar-benar terjadi sesuatu pada Baekhyun?
Bagaimana jika lelaki itu membutuhkannya namun tak dapat melakukan apapun atau sekedar memberitahunya?
"Haruskah aku mendatangi rumahnya?"
Haruskah Jongdae mencarinya?
Sesuai dengan perkataannya, akhirnya Chanyeol keluar juga dari kamarnya. Meskipun enggan, ia mencoba untuk melangkahkan kakinya keluar.
Ia berjalan menelusuri seisi rumahnya yang teramat sangat luas layaknya istana kerajaan. Dan ia baru menyadari sesuatu pada hari ini. Bahwa seisi rumahnya telah dipenuhi dengan lukisan-lukisan karya para pelukis terkenal dan foto kakaknya sendiri. Benar-benar memperlihatkan kekayaan keluarga ini dari semua lukisan dan pajangan mahal itu.
Sebelumnya ketika Chanyeol membuat kekacauan saat itu, ia tidak benar-benar memperhatikan setiap sudut rumah yang nyatanya telah berubah hampir 180 derajat.
Jujur Chanyeol sedikit terkejut. Karena ia sama sekali tidak menyangka bahwa rumah yang ditinggalinya ternyata telah berubah menjadi semenjijikan ini.
"Hei, Bajingan. Sebangga inikah kau telah berkuasa atas segalanya?" Ucapnya sendiri pada bingkai foto Kris yang terpasang di dinding.
Laki-laki itu menoleh ke sekelilingnya dan ia menyadari sesuatu yang lain. Sesuatu yang teramat mengganggunya. "Apa bajingan itu telah membuang semua foto keluarga dan menghiasinya dengan semua sampah ini?"
Chanyeol tak menyangka bahwa Kris benar-benar tidak menaruh satupun foto keluarga dimana-mana. Benar-benar hanya terisi oleh lukisan dan pajangan yang bagi Chanyeol tidak penting sama sekali. Melihatnya terus-menerus membuat Chanyeol sakit mata. Ingin rasanya ia menghancurkan semua barang-barang tidak berguna itu.
Dan Chanyeol memutuskan untuk berjalan lagi. Kali ini ia berjalan menuju sebuah kamar yang dulu ia kenal sebagai kamar orangtuanya.
Namun ketika ia membuka pintu kamar itu, nyatanya kamar tersebut sama berubahnya. Kamar tersebut telah berubah menjadi sampah juga. Dipenuhi dengan hiasan-hiasan yang menyilaukan dan lukisan-lukisan yang menyakitkan matanya.
Dan ia mendapati Kris disana. Nyatanya kamar orangtuanya kini pun telah berubah menjadi kamar pria itu.
Chanyeol tersenyum miring melihat Kris disana. Amarahnya terasa memuncak.
Bagaimana bisa pria itu membuatnya menjadi membenci ruangan yang penuh kenangan ini juga?
"Kau pasti telah berkuasa sekali sekarang." Remeh Chanyeol.
Laki-laki itu masuk ke dalam dan berjalan mendekati Kris yang tengah duduk di sofa seraya membaca buku yang tidak ingin Chanyeol ketahui sama sekali.
"Semenyenangkan itukah kau setelah mengurungku dan berkuasa atas rumah dan harta keluarga ini?"
Kris menutup bukunya ketika mendengar ucapan Chanyeol. Sepertinya adiknya ini mulai memancing pertengkaran lagi dengannya.
Rasa letih yang Kris rasakan dan kehadiran tiba-tiba Chanyeol di kamarnya ini membuat perasaannya semakin memburuk.
"Chanyeol, aku lelah dengan semua ini. Tidak bisakah kita melupakan apa yang terjadi dulu dan mulai menjalani hidup seperti yang seharusnya?"
Kris frustasi. Ia tidak tahu harus dengan cara apalagi agar adiknya ini mau mengerti bahwa semuanya telah berlalu. Seharusnya yang Chanyeol lakukan adalah meninggalkan semua kenangan buruk dibelakang dan hidup dengan tenang. Bukannya terus-menerus membahas masalah ini.
Chanyeol memandangnya tajam. "Aku masih tidak mengerti mengapa semudah itu kau melakukan semuanya dan mengucapkan hal seperti itu."
Chanyeol mengitari sekeliling kamar itu. Dan Chanyeol semakin muak.
"Aku tidak melihat satupun ada foto keluarga dirumah ini. Dimana semua itu?"
"Haruskah aku memajangnya?'' Ucap Kris. Ia menoleh dan menatap Chanyeol dengan datar. "Apa untungnya untukku?"
Dan hal itu sukses membuat emosi Chanyeol yang ditahannya sedari tadi meluap.
Laki-laki itu berjalan mendekati kakak kandungnya dan mencengkram kemeja pria itu.
"Bajingan! Kau belum sadar juga apa yang telah kau lakukan, hah?!"
Namun tanpa rasa takut, Kris berujar dengan santai. "Aku sadar. Aku melakukan semuanya atas kesadaranku. Aku teramat sadar." Ia beralih menatap Chanyeol dengan tatapan yang sama tajamnya. "Dan aku sadar aku tidak membutuhkan mereka."
"Brengsek!"
Chanyeol benar-benar marah. Ia melayangkan pukulan kepada kakak kandungnya itu. Terus-menerus memukuli sang kakak dengan membabi buta. Apa yang lebih menyakitkan dari semua luka itu? Tentu perasaan Chanyeol. Perasaannya bercampur aduk menjadi satu. Yang paling membuat perasaannya sakit adalah karena Kris merupakan seorang kakak yang paling ia sayangi.
Dengan sisa tenaganya, Kris menahan tangan Chanyeol. Ia meringis dengan napas yang terputus-putus. "Sadarlah, Chanyeol. Hidup.. harus tetap berlanjut. Mereka sudah tiada. Dan itu kenyataan yang harus kau terima."
Chanyeol menepis tangan Kris. "Kau membunuh mereka! Itu kenyataan yang ku terima!"
Kembali lagi Chanyeol melayangkan pukulan pada wajah Kris yang telah dipenuhi lebam dan darah. Chanyeol tak peduli. Semua luka yang Kris terima masih belum cukup.
"Kalau kau memang tidak membutuhkan keluargamu, lalu mengapa kau tidak membunuhku juga?!" Teriak Chanyeol sampai menggema diruangan itu.
Seketika saat itu juga beberapa pengawal datang dan menahan Chanyeol untuk memukuli Kris lebih parah. Chanyeol memberontak didalam pegangan beberapa pengawal yang mencoba menjauhkannya dari hadapan Kris.
Hal ini disaksikan oleh banyak orang. Beberapa pengawal dan pelayan datang untuk berjaga-jaga apabila ada sesuatu yang harus mereka lakukan. Dan Baekhyun berada di sana. Ia menyaksikan bagaimana Chanyeol meluapkan amarahnya.
"Apa kau berusaha membunuhku secara perlahan, Wu Yifan?"
Itu adalah ucapan terakhir Chanyeol sebelum ia melepas dengan kuat pegangan para pengawal dan pergi dari sana.
Baekhyun hanya dapat terdiam menatap kepergian Chanyeol. Entah mengapa menyaksikan lelaki itu meluapkan emosinya membuatnya merasa bahwa laki-laki itu benar-benar rapuh. Ia tidak tahu mengapa namun yang jelas, ia ingin berada di sisi laki-laki itu untuk menenangkannya.
Kris terdiam mengamati Chanyeol yang pergi begitu saja. Ia mengusap pelan darah di sudut bibirnya.
"Awasi dia." Titah Kris pada seluruh pengawal.
Yeri dan Baekhyun berjalan keluar dari kamar Kris. Para pelayan lain telah mengurus segala yang dibutuhkan oleh Kris dan tandanya mereka tidak memiliki pekerjaan untuk itu.
Yeri mendesah pelan. "Hhh.. Aku sudah menduga hal ini akan terjadi. Aku sudah merasa bahwa ini memang pilihan yang salah. Dengan membebaskan Tuan Muda, itu hanya membuat keadaan rumah menjadi semakin kacau. Memang seharusnya Tuan Muda Chanyeol berada di kamar terlarang selamanya saja."
Baekhyun terdiam mendengar ucapan Yeri. Ia tak bisa berkata layaknya ia tahu permasalahan diantara kedua saudara itu. Karena ia sendiri pun tidak tahu pasti ada apa sebenarnya dirumah ini. Meskipun sebenarnya rasa penasaran tentu tak bisa dihindarinya. Ia terus bertanya-tanya. Sebenarnya ada apa diantara Chanyeol dan Kris? Masalah apa yang melibatkan keduanya sampai-sampai terdengar kata bunuh-membunuh?
Namun meskipun ia tak tahu apa-apa, dari sudut pandangnya ia kurang setuju dengan ucapan Yeri.
"Aku memang tidak tahu apapun. Tapi kurasa ini pilihan yang tepat. Jika Chanyeol terus berada di kamar terlarang itu, sama saja dengan menghindari permasalahan terus-menerus. Jika seperti itu, permasalahan diantara mereka berdua tidak akan pernah terselesaikan."
Baekhyun menatap kearah pintu kamar Kris.
"Jika memang harus berkelahi, maka berkelahi lah. Awalnya pasti memang akan sulit, tapi seiring berjalannya waktu aku yakin mereka mulai bisa terbuka pikirannya dan mencoba menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin."
Kata-kata itu membuat Yeri terdiam. Tak bisa dipungkiri, kata-kata itu benar adanya. Memang yang dibutuhkan oleh Kris dan Chanyeol adalah waktu. Waktu bagi mereka untuk menahan diri. Dan yang pasti nya waktu untuk Chanyeol menerima kenyataan.
Baekhyun menghembuskan napasnya pelan. Untuk sebuah alasan yang tidak jelas, ini memang terasa aneh dan juga sangat mengganggunya. Karena sedari tadi hati kecil Baekhyun terus bertanya-tanya.
'Akankah laki-laki itu baik-baik saja?'
Namun yang ia lakukan hanya berdiam diri. Ia tak tahu harus berbuat apa. Dan ia rasa Chanyeolpun butuh waktu untuk menenangkan dirinya sendiri.
Kris mengompres luka di sudut matanya. Ditidurkan tubuhnya diatas tempat tidur. Dengan mata yang terpejam, ia memikirkan kembali pertengkarannya dengan Chanyeol. Seharusnya ia tidak menjawab Chanyeol dengan perkataan yang seperti itu. Ia seharusnya bisa menahan emosinya. Yang jujur saja memang telah lelah menanggapi sikap Chanyeol yang tak ada habisnya.
Sebenarnya mudah sekali bagi Kris mengatakan alasan mengapa dirinya membunuh keluarganya sendiri. Namun setelah ia pikir-pikir kembali, Chanyeol tidak mungkin akan menerima alasan itu. Bahkan jika sebenarnya Kris tak bersalah. Ya. Ia sangat yakin dirinya tak bersalah.
"Kalau kau memang tidak membutuhkan keluargamu, lalu mengapa kau tidak membunuhku juga?!"
Kris menghela napasnya dengan kasar ketika kalimat itu terngiang dipikirannya. Bukankah sudah jelas dari perkataannya sebelumnya? Kris membunuh keluarganya karena ia tidak membutuhkannya. Lalu jika ia tidak membunuh Chanyeol, bukankah itu berarti bahwa ia membutuhkan adiknya itu?
Ponsel milik Kris yang berada diatas nakas bergetar. Ada sebuah panggilan masuk. Kris menaruh kompresan tersebut di nakas dan mengambil ponselnya.
Nama yang tertera di layar ponselnya berhasil membuat Kris tersenyum miring. Dengan segera ia menjawab panggilan itu.
"Wah, ada apa ini kau meneleponku secara tiba-tiba?"
Suara dari seberang sana terdengar sama angkuhnya dengan Kris. "Aku hanya ingin menyapamu saja."
Salah satu alis Kris terangkat.
"Begitukah?"
"Ya. Setidaknya aku bisa mendengar suara angkuhmu sebelum kau mati."
Kris ingin tertawa membayangkan betapa bodohnya orang ini. Tidak ada habisnya pria bodoh itu berusaha menghancurkan dirinya. Jelas-jelas semua usaha itu akan percuma saja. Sia-sia.
"Ah.. Jadi kau tengah merencanakan sesuatu lagi saat ini?"
"Tepat sekali. Kau mungkin takkan menyangkanya."
'Hal konyol apalagi yang tengah direncanakannya?'
Kris masih ingat betul apa yang dulu orang ini pernah coba lakukan padanya. Berulang kali pria bodoh itu mencoba untuk menyingkirkannya dengan berbagai macam cara sampai yang membahayakan nyawanya.
Pria bodoh yang Kris maksud adalah saingannya di dunia bisnis. Jung Ilnam, pria paruh baya yang menjadi konglomerat kedua setelahnya yang juga ikut memberi pengaruh bagi masyarakat Korea Selatan sepertinya.
Ilnam selalu melakukan segala macam cara untuk menjatuhkan dan menyingkirkan Kris. Meskipun harus dengan cara curang sekalipun. Ia tidak akan menyerah untuk mencelakai Kris dan mengambil alih posisi sebagai konglomerat terkaya dan paling berpengaruh di Korea.
Sepertinya pria tua itu gila harta dan kekuasaan.
Sejauh ini, Kris masih baik-baik saja karena ia selalu berhasil lolos dari jebakan Ilnam. Dan ia kira pria tua itu akan berhenti untuk mengusiknya. Namun, sepertinya pria tua itu belum juga sadar bahwa ia telah mencari masalah dengan seorang psikopat.
"Kau tahu, kau telah salah bermain-main dengan seseorang." Bisik Kris.
Ancamannya cukup menakutkan. Siapapun yang mendengarnya akan dibuat merinding. Namun Ilnam begitu gigih dan percaya diri. "Tidak.. tidak.. Aku jelas mengenali musuhku sebelum memulai peperangan."
Kris tertawa remeh mendengarnya. 'Apa kau benar-benar telah mengenali musuhmu, hm?'
"Baiklah. Aku akan menyambut kejutanmu dengan senang hati."
Kris menutup panggilan itu. Ia mengepalkan tangannya. Mungkin selama ini ia bisa selamat. Ia bisa lolos dari serangan Ilnam bertubi-tubi. Tetapi kali ini berbeda. Kali ini keberadaan Chanyeol yang berkeliaran di sekitar rumah mungkin bisa saja diketahui oleh Ilnam yang selalu memata-matainya.
Kris harus berhati-hati dan tentu melindungi adiknya. Karena ia yakin bukan hanya dirinya saja yang akan di incar.
Kali ini, Kris benar-benar tidak akan mengabaikannya lagi.
Hari telah berganti malam.
"Chanyeol-ssi.."
Kamar itu gelap. Seluruh lampu tak ada satupun yang dinyalakan. Hanya ada satu-satunya cahaya yaitu sinar rembulan yang masuk melewati jendela dengan gorden yang terbuka lebar. Dan ia mendapati Chanyeol berdiri didekat jendela. Lelaki itu sama sekali tak menoleh ketika dirinya melangkah masuk dengan nampan di kedua tangannya.
"Chanyeol-ssi, kau belum makan dari siang. Kau harus makan atau kau bisa sakit." Ujar Baekhyun seraya menaruh nampan yang dibawanya di atas meja. "Kudengar kau suka galbi, bukan? Aku membawakannya untukmu."
Ia sedikit menduga bahwa akan seperti ini jadinya karena sedari tadi laki-laki itu sama sekali tidak keluar dari kamarnya. Dan karenanya, ia bahkan sampai meminta chef untuk memasakan makanan yang disukai Chanyeol supaya dapat membujuk laki-laki itu agar mau makan.
Lelaki mungil itu menatap kembali pada Chanyeol yang masih berdiri di sana. Laki-laki bertubuh tinggi itu tidak menjawab atau hanya sekedar menoleh padanya. Laki-laki itu masih tetap diam pada posisi berdiri layaknya sebuah mannequin.
Menghela napasnya, Baekhyun mencoba memanggil laki-laki itu lagi.
"Chanyeol-ssi?"
Karena berulang kali Baekhyun tak mendapat jawaban, akhirnya ia memutuskan untuk berjalan mendekat ke sisi Chanyeol.
Ia menatap lelaki tinggi itu dari samping. Chanyeol tampak tak berekspresi lebih. Masih seperti biasanya. Tampak begitu datar. Namun Baekhyun bisa merasakan bahwa kali ini ada yang berbeda. Ia sangat yakin jika laki-laki itu bersikap seperti ini karena masalah tadi siang.
"Chanyeol.." Panggil Baekhyun dengan lembut. Berharap-harap Chanyeol mau menjawabnya. Atau setidaknya-
Laki-laki tinggi itu pada akhirnya menoleh. Dan saat itu rasanya bagaikan dejavu, Baekhyun menatap Chanyeol yang memandangnya balik dengan sendu. Dan entah kehebatan dari mana ia bisa melihat semuanya dari tatapan itu. Semua kesedihan yang tertumpuk di hati Chanyeol karena laki-laki itu tak bisa mengungkapkan atau meluapkannya pada siapapun.
"C-Chanyeol.."
Tatapan mata Chanyeol membuat Baekhyun sulit berkata-kata. Lelaki itu terlihat sangat sedih dan Baekhyun tak tahu harus berbuat apa.
"Dulu kami adalah keluarga yang bahagia." Ucap Chanyeol tiba-tiba membuat Baekhyun reflek mengerjapkan matanya.
Chanyeol yang tiba-tiba ingin bercerita kepada Baekhyun saat ini, membuat laki-laki mungil itu sedikit bingung dan merasa aneh. Bagaimanapun juga mereka tidak sedekat itu.
Namun yang Baekhyun lakukan hanya diam dan menunggu Chanyeol melanjutkan ucapannya. Ia akan mendengarkan semuanya. Jika hal itu bisa membuat Chanyeol sedikit mengurangi beban dihatinya.
"Tapi aku tidak bisa mengerti. Bagaimana bisa.. seorang hyung yang paling kusayangi melakukan semua ini kepada keluarganya sendiri." Chanyeol mengalihkan pandangannya dan tersenyum sinis. Mengingat bagaimana kejadian dulu, membuat dirinya kembali menelan kenyataan pahit.
"Kau tahu apa yang ia lakukan?"
Baekhyun hanya menggeleng pelan. Dan menunggu apa yang akan Chanyeol katakan padanya.
Memangnya apa yang sebenarnya telah Kris lakukan pada keluarganya sendiri? Sampai-sampai membuat Chanyeol seperti ini setiap kali hal itu dibahas. Membuat Chanyeol menjadi sosok paling rapuh yang pernah ada di muka bumi.
Chanyeol kembali menatap keluar jendela. Terdiam untuk sesaat sampai terdengar sebuah bisikan keluar dari mulutnya. "Ia membunuh keluarganya dengan kedua tangannya sendiri."
Hal itu tentu tak dapat membuat Baekhyun menahan keterkejutannya. Jadi ini yang dimaksud dengan pembicaraan bunuh-membunuh tadi siang?
Kenyataan bahwa Kris telah membunuh keluarganya sendiri kini tak mengejutkan lagi bagi Baekhyun apabila peraturan dirumah ini semuanya menyangkut kematian. Psikopat memang benar-benar gila dan berbahaya. Jika membunuh orang terdekat saja semudah itu, apalagi orang asing seperti dirinya ini?
"Aku masih mengingat bagaimana senyumannya kala itu." Tangannya mengepal. Chanyeol menahan perasaan sakit di dadanya tiap kali mengingat cerahnya senyuman Kris setelah membunuh keluarganya sendiri. "Aku masih ingat dengan jelas betapa bahagianya ia melakukan hal itu."
Baekhyun hanya bisa diam dan mendengarkan semuanya. Ia masih tak menyangka bahwa hal yang menyebabkan kedua saudara kandung itu bertengkar hebat adalah hal ini. Namun yang ia tak mengerti, mengapa Kris membunuh keluarganya? Apa kesalahan mereka? Tidak mungkin bukan, jika Kris membunuh tanpa alasan?
Chanyeol menoleh kembali pada Baekhyun.
"Aku sudah bertanya ribuan kali padanya. Mengapa ia melakukannya? Atas dasar apa ia membunuh keluarganya sendiri?" Chanyeol tersenyum pahit. Ia kembali melanjutkan ucapannya, "Dan jawaban yang keluar dari mulutnya selalu sama. Dari dulu sampai sekarang, ia selalu mengatakan bahwa ia tidak membutuhkan keluarganya."
Terdengar cukup tidak masuk akal. Jika memang Kris tidak membutuhkan keluarganya, ia bisa angkat kaki dari rumah ini. Tidak perlu membunuhnya seperti itu.
"Aku tahu ia gila. Aku tahu ia psikopat bajingan sepertiku. Dan yang juga ku tahu bahwa ia tidak akan pernah melukai orang yang ia sayangi. Tapi, kenapa? Kenapa ia melukai keluarganya dan mengecewakanku?"
Baekhyun memandang Chanyeol dalam diam. Ia bisa merasakan betapa kecewanya Chanyeol. Ia sendiripun terlalu terkejut dan bingung mendengar semua ini.
Tapi.. "Aku yakin kau pasti akan menemukan jawabannya suatu saat nanti." Suara lembut Baekhyun menyapa pendengaran Chanyeol.
Dan entah dorongan dari mana, Baekhyun mendekat selangkah pada laki-laki itu. Ia mendekap laki-laki itu kedalam pelukannya. Sejujurnya Baekhyun tidak mengerti mengapa dirinya bersikap seperti ini. Namun nalurinya berkata inilah yang ingin ia lakukan sedari tadi. Ia ingin memeluk Chanyeol dan mengatakan padanya bahwa semua akan baik-baik saja.
"Bertahanlah. Semua akan baik-baik saja." Bisik Baekhyun.
Chanyeol membalas pelukan itu. Ia memeluk tubuh mungil Baekhyun dengan sangat erat. Ia membiarkan dirinya untuk lemah dihadapan laki-laki mungil itu kali ini. Karena sekeras apapun Chanyeol berusaha untuk menyembunyikannya, ia tetap tidak bisa. Ia pun membiarkan air mata mengalir di kedua pipinya.
Tentu Baekhyun mengetahui hal itu. Ia bisa merasakan bahunya basah. "Apa itu sakit?" Tanya Baekhyun pelan. Dan Chanyeol mengangguk.
Ya. Benar. Jika memang itu sakit, katakanlah. Setidaknya pada seseorang yang kau percaya. Jangan terus menahannya sendirian.
"Menangislah. Aku akan selalu memelukmu seperti ini." Bisikan Baekhyun berhasil membuat Chanyeol menangis seperti anak kecil. Selama ini Chanyeol tidak pernah bisa menangis selain hanya bisa bersikap bahwa ia tidak apa-apa.
Ia selalu menguatkan dirinya dan berkata bahwa ia baik-baik saja. Tapi sebenarnya tidak seperti itu. Ia ingin menangis. Ia ingin menangis dipelukan seseorang.
Tangisan itu terdengar memilukan. Baekhyun merasa hatinya teriris mendengarnya. Membayangkan laki-laki ini menahan semuanya sendirian, pasti sangat sulit untuknya.
Hari ini, Baekhyun menemukan sisi lain pada diri Chanyeol. Ia baru mengetahui bahwa Chanyeol yang ditakuti oleh penghuni rumah, Chanyeol si psikopat gila ini, ternyata memiliki kelemahan juga.
Chanyeol yang sekarang benar-benar terlihat rapuh, dan membuat Baekhyun ingin memeluknya lebih erat lagi. Mengatakan padanya kata-kata yang bisa menenangkannya. Karena Baekhyun bisa mengerti perasaan Chanyeol. Perasaan seseorang yang ditinggalkan. Perasaan kesepian dan rasa sakit yang mendalam.
Tanpa Baekhyun sadari sendiri, ia telah memberi perhatian kepada Chanyeol. Ia telah mengabaikan kata-katanya sendiri untuk tidak mencampuri urusan di dalam rumah ini. Bagaimanapun juga, Baekhyun sangat sulit mencegah dirinya untuk tidak berbuat sesuai perasaannya tanpa memikirkan hal lain.
Dimalam yang ditemani cahaya bulan yang mengintip dari balik jendela, keduanya saling berpelukan dalam kesunyian. Perlahan-lahan dengan tersembunyi, perasaan hangat itu memeluk dan menyelimuti hati mereka. Menjadikannya sebuah debaran halus nan seirama.
Setelah berhasil menenangkan Chanyeol dan membuat laki-laki itu memakan makan malamnya, Baekhyun segera keluar dari kamar terlarang dan menguncinya. Ia bersandar kepada pintu dibelakang tubuhnya. Kini ia baru menyesali perbuatannya yang mendadak itu.
Tidak seharusnya Baekhyun memeluk Chanyeol. Tidak seharusnya Baekhyun melakukan sesuatu yang pada akhirnya akan membuat kerja otaknya lambat. Bahkan sekarang detak jantungnya terlalu sibuk berdegup kencang.
Ia kira Chanyeol akan membunuhnya atau setidaknya akan melukainya jika ia memeluk laki-laki itu. Namun beda dengan pemikirannya, Chanyeol justru membalas pelukannya lebih erat. Baekhyun merasa aneh ketika rasa hangat menghampirinya saat memikirkan laki-laki itu lagi. Ah, ada apa dengannya?
'Kau tidak mungkin menyukai seorang psikopat, bukan?'
Baekhyun menampar pipinya teramat keras setelah pemikiran bodoh itu hinggap dikepalanya. Ah, ia tidak tahu ada apa dengan dirinya. Tapi setelah mengetahui sisi Chanyeol yang baru, Baekhyun mulai tidak takut lagi kepada laki-laki itu. Bahkan ia sampai berpikir mungkin mereka bisa bersahabat atau semacamnya.
Laki-laki itu buru-buru menggelengkan kepalanya. "Apasih yang kupikirkan." Gumam Baekhyun.
Ia pun melangkahkan kakinya pergi menuju sebuah tangga melingkar yang sebelumnya pernah ia lewati.
Ya, sebenarnya ia akan mencoba untuk melarikan diri malam ini. Hari-hari sebelumnya ia sudah memperhatikan letak-letak rumah besar ini dan ia pun telah menetapkan akan mencoba meloloskan diri pada hari ini.
Meskipun sangat kecil kemungkinannya bisa lolos, tetapi percobaannya hanya bisa satu kali jadi ia harus bisa berhasil kabur apapun yang terjadi.
Mungkin terkesan buru-buru dan tanpa perencanaan yang matang. Namun sudah tidak ada kesempatan lagi. Ia tidak boleh menunda-nunda kepergiannya atau ia akan semakin kesulitan pergi dari tempat ini.
Ia hanya bisa meminta maaf dalam hati pada Nyonya Kim dan Yeri karena ia akan segera pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan sedikitpun.
Bagaimana pun juga Baekhyun telah menguatkan hatinya. Ia berdoa dalam hatinya dan memohon agar semuanya berjalan dengan lancar.
Baekhyun yang mengumpat di balik dinding, memperhatikan cctv yang terpasang disudut-sudut rumah. Sangat sulit untuk menghindari cctv itu. Karena semua sudut terekam semua cctv tanpa ada yang terlewatkan sedikitpun. Tapi tak apa. Baekhyun akan tetap mencobanya. Ia akan melakukan semuanya dengan cepat. Ia harus bisa lolos.
Namun entah mengapa, tiba-tiba wajah Chanyeol terlintas dalam pikirannya. Tidak dapat dimengerti mengapa, namun Baekhyun merasa ada sesuatu yang menahannya untuk pergi dari tempat menyeramkan ini.
Baekhyun menoleh keatas. Dari tempatnya berada, ia masih bisa melihat sedikit jendela kamar Chanyeol yang berada di lantai tiga. Mungkin sekarang Chanyeol telah tidur dengan lelap.
Ia sedikit merasa bersalah. Padahal, baru saja hari ini Chanyeol terbuka padanya. Baru saja Chanyeol bergantung padanya. Baru saja ia menemukan sisi baru Chanyeol. Baru saja ia bisa berpikir lebih positif kepada Chanyeol. Tetapi ia justru malah akan meninggalkan laki-laki itu.
Ia menyesal karena telah mengucapkan kata-kata yang memberi harapan pada Chanyeol. Tidak seharusnya ia bersikap seperti itu. Pada akhirnya kini semua jadi terasa semakin berat.
Tapi ia tak tahu harus bagaimana. Karena dirinya pun ingin bebas. Dan ia pun telah merencanakan untuk kabur malam ini.
Sebaik apapun tempat ini, seindah apapun tempat ini, Baekhyun tidak merasa nyaman. Ia tidak merasa bahwa tempat ini bisa disebut sebagai "rumah".
'Fokus, Baek. Kau harus fokus. Kau pasti bisa.' Batinnya menyemangati diri sendiri.
Baekhyun memperhatikan beberapa pengawal yang tengah berkeliling mengecek keadaan di teras dan halaman depan rumah.
Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Ia harus menunggu sampai pengawal-pengawal itu menghilang dan pergi mengecek tempat lain yang jauh darinya.
Layaknya seorang maling, Baekhyun mulai mengendap-endap agar tak ketahuan oleh para pengawal itu.
Ia berusaha pergi menuju sebuah tembok tinggi yang tak lumayan jauh dari tempat persembunyiannya tadi. Disamping tembok itu berdiri sebuah pohon yang cukup besar.
Dilakukan tanpa suara, ia mulai menaiki tembok itu perlahan-lahan dengan bantuan ranting pohon yang kuat.
Ia mulai berkeringat. Jantungnya berdetak teramat cepat. Ia sampai takut jika pengawal-pengawal tersebut dapat mendengar suara detakan jantungnya.
Firasatnya berkata bahwa ia akan berhasil. Karena tekad dan kemauan besarnya. Dan siapa sangka jika kini Baekhyun telah berhasil duduk diatas tembok tinggi itu. Ia hanya perlu melompat dan ia sudah akan keluar dari rumah menyeramkan itu.
Namun sepertinya takdir berkata lain.
Begitu Baekhyun akan melompat, seseorang berhasil menarik kerah kemeja yang dikenakannya dengan kuat sampai-sampai Baekhyun terjatuh kebelakang dengan punggung yang menghantam tanah terlebih dulu.
"Argh.." Baekhyun meringis kesakitan.
Seseorang yang merupakan pengawal itu memandangnya tajam. "Kau pikir kau bisa lolos dari rumah ini?" Tanyanya sarkas.
Baekhyun segera terduduk dengan lemah. Seluruh tubuhnya terasa nyeri. Ia menatap kearah pengawal itu dengan wajah frustasi. Sial, ia ketahuan.
"Lalu aku harus bagaimana? Aku tidak bisa terus berada disini! Aku tidak bisa terus ketakutan memikirkan apa aku akan mati. Apa mereka akan melukaiku. Aku ingin bebas!"
Mata sipitnya berkaca-kaca. Baekhyun merasa ia bisa saja terkena depresi. Ia tidak bisa hidup dalam ketakutan terus-menerus.
"Ck, bodoh. Apa kau pikir di dunia ini semua bisa berjalan sesuai kemauanmu?"
Pengawal itu, tanpa disadari adalah seseorang yang pernah menyapa Baekhyun di ujung tangga dengan mengatakan bahwa ia harus memperhatikan sikapnya.
Baekhyun mengingat laki-laki itu. Laki-laki yang sangat dingin.
Seakan tak peduli, pengawal itu langsung menyeret Baekhyun dengan mudah. Ia menarik lengan Baekhyun dengan sekali tarikan.
"Karena kau telah melanggar peraturan, kau akan kubawa kepada Tuan Kris."
Kedua mata sipit itu membulat.
"Tidak! Tunggu! Kumohon bebaskan aku! Apa kau tidak pernah merasa ingin keluar dari tempat ini?! Ku rasa bukan hanya aku saja yang merasa begini! Lepaskan aku!"
Teriakan Baekhyun mengundang pengawal lain untuk menghampirinya. Sungguh sial. Padahal sedikit lagi saja. Baekhyun bisa terbebas.
Pengawal-pengawal tersebut membawanya kedalam rumah tepatnya ke dalam ruangan kerja Kris.
Pengawal itu segera melaporkan kejadian yang baru saja terjadi bagaimana cara Baekhyun mencoba untuk melarikan diri dari rumah ini.
Mendengar itu, Kris hanya memandang datar pada Baekhyun. Tentu bukan sebuah hal yang baru mendengar hal seperti ini. Ia pun tidak terkejut lagi. Ia bahkan sudah terbiasa.
"Sayang sekali. Kalau begitu selamat tinggal, Byun Baekhyun."
Padahal Kris kira ia bisa menikmati sedikit lebih lama bagaimana hubungan Baekhyun dan Chanyeol akan berlangsung. Namun sepertinya takdir berkata lain. Mungkin memang seharusnya Baekhyun sudah mati sejak awal. Ia tidak pantas berada di samping Chanyeol.
Setelah Kris mengatakan kepada para pengawal kemana dirinya harus berada, disitulah Baekhyun mulai berteriak ketakutan.
"Tidak! Tunggu!"
Para pengawal kemudian menyeret Baekhyun keluar dari sana. Baekhyun akan dibawa ke ruang bawah tanah yang gelap, dimana biasanya orang sepertinya atau yang membuat kesalahan akan di eksekusi. Dibunuh dengan berbagai macam cara.
"Tunggu sebentar! Jangan bunuh aku!"
Baekhyun berusaha melepas tangannya yang sudah mulai memerah karena terus dicengkram paksa. Tidak bisa seperti ini. Tidak boleh. Ia tidak bisa mati dengan sia-sia.
"TOLONG AKU. KUMOHON SESEORANG TOLONG AKU."
Baekhyun sudah akan menangis saat ini. Matanya berkaca-kaca. Lelaki mungil itu kesulitan bernapas karena terlalu panik.
Ia harus bagaimana? Siapa lagi yang bisa ia mintai tolong selain Jongdae?
"PARK CHANYEOOOL!"
Nama itu terucap begitu saja dari bibir Baekhyun. Baekhyun memejamkan matanya. Ia tidak tahu mengapa. Ia benar-benar reflek mengucap namanya.
Sangat bodoh, pikirnya. Memangnya jika ia memanggil Chanyeol, laki-laki itu akan datang menyelamatkannya? Laki-laki itu bahkan tengah terkurung saat ini.
Apa yang bisa ia harapkan dari Chanyeol? Hanya karena ia telah sedikit lebih dekat dengan Chanyeol, ia sudah berani untuk meminta tolong pada laki-laki itu? Apa ia gila?
Namun sebuah suara dobrakan pintu beberapa kali yang samar-samar terdengar dan langkah kaki terburu-buru membuat waktu terasa berhenti untuk sejenak.
Semua orang disana berhenti melakukan aktivitas mereka dan menoleh ke arah tangga. Dimana seorang laki-laki tampan tengah berdiri dengan wajah mengeras dan juga tatapan membunuh.
Tentu saja Park Chanyeol yang berdiri disana dengan tangan mengepal.
Semua orang lantas berbisik-bisik penuh tanda tanya. Mereka tak menduga kedatangan tiba-tiba tuan muda mereka yang seharusnya terkunci di kamar terlarang.
Siapa yang tidak tahu bahwa Chanyeol benar-benar marah saat ini? Bahkan dalam sekali lihat saja mereka mengetahuinya. Namun yang menjadi pertanyaannya adalah, apa tepatnya yang membuat Chanyeol semarah itu?
Mata tajam milik Chanyeol mengarah kepada para pengawal.
"Siapa yang mengatakan kau boleh menyentuhnya, brengsek?"
Baekhyun yang sedari tadi diam karena begitu terkejut, tanpa sadar meneteskan air matanya. Bagaimana bisa Chanyeol datang seperti seorang superhero setelah dirinya memanggil nama laki-laki itu? Keajaiban apa ini?
Entah apa itu, tapi yang pasti Chanyeol datang untuk menyelamatkannya, kan?
Chanyeol mengalihkan pandangannya pada Baekhyun. Dan tangannya semakin mengepal melihat laki-laki mungil itu menangis. Berani-beraninya mereka semua membuat Baekhyun-nya menangis. Tentu mereka harus diberi pelajaran yang pantas.
Lelaki tinggi itu melangkah dengan cepat mendekati beberapa pengawal yang berada disekitar Baekhyun.
"Aku akan membuat kalian semua mengerti bahwa kalian tidak berhak untuk menyentuhnya sehelai rambutpun." Bisik Chanyeol.
Para pengawal yang sedari tadi mencengkram Baekhyun mulai melepaskan cengkraman mereka secara tiba-tiba. Oh tentu saja mereka semua takut dengan Chanyeol. Tuan muda mereka ini sama menyeramkannya dengan Tuan Kris.
"T-Tuan muda, kami hanya mengikuti perintah dari Tuan Kris." Mereka mulai memberi pembelaan yang sebenarnya tidak begitu berarti bagi Chanyeol. Karena apapun alasannya, Chanyeol tidak akan pernah memaafkan mereka.
"B-benar, t-tuan muda."
Serentak para pengawal membungkukkan badan mereka dengan sopan. Mereka terlihat ketakutan dimata Chanyeol. Dan kenyataan itu membuat lelaki itu senang. Mereka memang seharusnya takut pada dirinya. Mereka harus tahu bahwa ia berbahaya, jadi sebaiknya mereka tidak melakukan sesuatu yang membuat Chanyeol marah.
Sedetik kemudian bisikan tajam kembali terdengar dengan seringaian yang menghiasi bibir tebal Chanyeol. "Kalian pikir, itu akan membuat kalian lolos dariku?"
Seringaian itu membentuk menjadi sebuah senyuman lebar yang menyeramkan. Chanyeol benar-benar tidak membiarkan pengawal-pengawal itu lepas dari tangannya. Ia segera memukuli mereka semua dengan membabi buta. Tak memberi ampun sedikitpun. Mereka pantasnya mendapatkan lebih dari ini.
Para pengawal itu meminta ampun. Mereka begitu tunduk kepada Chanyeol. Mereka segera bersujud memohon. Namun Chanyeol tidak berada pada suasana yang baik. Chanyeol menendang tubuh mereka. Ia bahkan telah mengambil sebuah guci dan melemparkannya kepada tubuh pengawal-pengawal itu.
Pecahan-pecahan keramik yang menancap pada tubuh pengawal dan yang jatuh berserakan membuat suasana rumah terlihat sangat kacau. Tapi Chanyeol tidak peduli.
"Hentikan, Park Chanyeol."
Suara yang teramat Chanyeol benci, kini menyapa pendengarannya. Tanpa perlu menoleh, Chanyeol segera tahu bahwa kakak kandungnya tengah berjalan mendekat kearahnya.
Begitu dirasa Kris berada tepat dibelakangnya, Chanyeol berucap. "Hei, Yifan. Sepertinya kau lupa, apa aku harus mengulanginya?"
Kris menatap punggung itu dalam diam.
"Aku sudah mengatakan padamu bahwa kau tidak boleh menyentuhnya, brengsek. Dengan tangan kotormu itu maupun dengan pengawal-pengawalmu." Lanjut Chanyeol seraya membalik tubuhnya menghadap sang kakak.
Jelas berbeda dengan Chanyeol, Kris terlihat sangat santai seperti biasanya.
"Lalu apa aku harus membebaskan penyusup yang ingin melarikan diri itu?" Tanya Kris.
Sang adik maju selangkah. Mempersempit jarak diantara mereka. Ia mencengkram kerah Kris dengan kedua tangannya.
Laki-laki itu berbisik penuh penekanan. "Kau tahu. Ketika aku mengatakan bahwa kau tidak diperbolehkan menyentuhnya, itu berlaku bahwa kau juga tidak berhak melakukan apapun padanya."
Cengkraman itu dilepas dengan kasar. Jari telunjuk Chanyeol menunjuk tepat ke wajah Kris.
"Dan dengar, aku masih bisa mengontrol diriku untuk tidak membunuhmu setelah apa yang terjadi dulu. Tetapi kali ini, jika kau berani mendekati Baekhyun seinci saja, aku akan benar-benar membunuhmu."
Tatapan mata tajam mereka saling beradu. Dan sang adik yang terlebih dahulu melepas tatapannya dan memilih untuk melangkah pelan mendekati Baekhyun yang duduk dengan lemas dilantai.
Wajah lelaki mungil itu telah basah oleh air mata dan wajahnya penuh dengan ketakutan. Tentu saja. Ia hampir saja bertemu dengan ajalnya jika saja laki-laki itu tidak datang.
Tangan besar milik Chanyeol terangkat menangkup wajah itu dan mengusap air mata yang membasahi kedua pipi Baekhyun. Namun hal itu tak membuat Baekhyun menghentikan tangisannya. Lelaki mungil itu justru semakin menangis dengan mencengkram kaos yang Chanyeol kenakan. Karena sungguh, ia tak menyangka ia bisa selamat dari kematiannya. Dan itu semua karena Chanyeol yang menyelamatkannya.
Diusapnya kepala Baekhyun dan didekap dengan begitu hangat. Begitu melindungi. "Jangan menangis. Kau akan tetap aman. Kau bersamaku."
Kris melihatnya. Melihat semuanya dengan kedua matanya. Bagaimana cara adiknya memperlakukan Baekhyun dengan begitu lembut. Dengan begitu hati-hati. Apakah Baekhyun terlihat seperti sebuah mutiara bagi Chanyeol?
Mungkin Kris harus membenarkan asumsinya bahwa Chanyeol memang benar telah jatuh cinta pada Baekhyun.
Chanyeol segera mengangkat tubuh Baekhyun dalam gendongannya. Sementara lelaki mungil itu hanya bisa menelusupkan wajahnya pada dada Chanyeol. Ia masih begitu syok atas apa yang terjadi.
Dengan Baekhyun yang berada dalam gendongannya, Chanyeol berucap dengan begitu keras kepada seluruh penghuni rumah yang berada disana.
"Kuperingatkan untuk kalian semua. Hari dimana kalian menyentuh atau mengusiknya seujung jaripun, itu adalah hari kematian kalian."
Laki-laki itu segera pergi menuju tangga dengan membawa Baekhyun bersamanya. Membiarkan seluruh tatapan yang mengikutinya sedari tadi semakin penuh dengan tanda tanya.
Kris tertawa kecil. Adiknya itu sudah besar rupanya. Adiknya kini bahkan sudah bisa membela orang yang dicintainya. Seperti yang dilakukan orang lain, Kris hanya bisa menatap kepergian Chanyeol dan Baekhyun.
"Kau lihat tatapan mata tuan muda? Astaga. Ia begitu keren. Aku sampai tak bisa bernapas karenanya."
"Ini seperti dalam drama-drama. Tuan muda benar-benar lelaki idamanku~"
"Cara tuan muda melindungi pelayan baru itu, ya ampun. Aku bisa mati saat ini juga. Dia sangat tampan."
"Tapi ada hubungan apa mereka?"
Pelayan-pelayan yang sibuk bergosip itu melupakan kehadiran Yeri dan Nyonya Kim disamping mereka.
Yeri sendiri bingung harus berekspresi seperti apa. Mengejutkan. Ternyata benar bahwa tuan mudanya menyukai Baekhyun.
"Apa ini keberuntungan atau kesialan?" Tanya Yeri pada Nyonya Kim yang juga diam bersamanya.
"Kurasa Chanyeol bisa menjaganya dengan baik."
Nyonya Kim berharap Chanyeol memiliki seseorang yang akan selalu berada disampingnya apapun yang terjadi. Tidak seperti dirinya yang kini menjauh dari sisi lelaki muda itu padahal ia tahu bahwa Chanyeol tidak memiliki siapapun lagi. Benar-benar jahat.
"Aku juga berpikir begitu. Tetapi apa itu tidak menyulitkan oppa? Ia baru pertama kali berada pada lingkungan seperti ini. Dan kini, ia justru disukai oleh seorang psikopat. Apa ia bisa menerimanya? Tidakkah itu justru akan membuatnya semakin ingin pergi dari sini?"
Bukannya Yeri tidak setuju. Ia hanya khawatir dengan Baekhyun nantinya. Laki-laki itu pasti akan mengalami banyak kesulitan. Ia belum bisa menyesuaikan diri namun sudah ada kenyataan yang harus ia terima lagi. Ia hanya ingin Baekhyun bisa dengan nyaman tinggal disini sepertinya.
Baekhyun terduduk di pinggir tempat tidur. Sementara Chanyeol berjongkok di depannya. Memperhatikan wajah lelaki mungil itu yang masih memerah sehabis menangis.
Baekhyun mengusap air matanya dan menatap canggung kearah Chanyeol.
"Maaf." Cicitnya.
Menundukkan kepalanya, Baekhyun terlalu malu. Setelah mencoba kabur dari tempat ini, bagaimana bisa ia bersikap seperti tidak terjadi apa-apa?
"Jangan pergi."
Sebuah kalimat yang tak diduga oleh Baekhyun sama sekali. Baekhyun menatap Chanyeol dengan kedua alis terangkat. Lelaki itu menyuruhnya untuk tidak pergi? Kenapa?
Chanyeol tidak mengalihkan pandangannya dari wajah Baekhyun sama sekali.
"Aku bisa menjagamu. Aku bisa membuatmu tetap aman. Aku tidak akan membiarkan mereka mengganggumu. Jadi tetaplah disini."
Hanya beberapa kalimat sederhana. Namun berhasil membuat Baekhyun berdebar-debar. Ia bukan seorang anak remaja yang akan berbunga-bunga mendengar kalimat semacam itu. Namun melihat bagaimana laki-laki itu begitu serius mengatakannya, Baekhyun tidak mengerti dengan dirinya yang cukup tersanjung.
Baiklah, Baek. Kau harus memikirkan hal ini. Apa kau akan tetap berada disini? Setidaknya kau tahu bahwa kau tidak akan mati selama ada Chanyeol disampingmu. Lagipula kau tahu bahwa rumah ini tidak begitu buruk, bukan? Apa kau mau mencoba untuk bertahan lebih lama lagi?
Ia dibuat pusing memikirkannya. Apa yang harus ia lakukan? Ia ingin pergi dari sini. Namun, ia tidak enak hati pada Chanyeol yang telah menyelamatkannya dan memintanya untuk tetap disini. Ia harus bagaimana, tuhan?
Apa ia harus mencoba bertahan disini lebih lama lagi? Dengan Chanyeol disampingnya.
"Baiklah.. Aku akan berada di sini."
Chanyeol teramat senang mendengarnya. Ia tersenyum tipis sebelum akhirnya berdiri dan mengusap puncak kepala Baekhyun dengan lembut. Lagi-lagi memberikan debaran halus di dada Baekhyun. Benar-benar konyol.
"Tapi bagaimana kau bisa keluar dari kamar ini?" Tanya Baekhyun penasaran. Wajar saja itu mengejutkan bagi Baekhyun ketika mendapati Chanyeol datang sesaat ia memanggilnya tadi.
Chanyeol mendudukan dirinya disebelah Baekhyun. "Aku mendobrak pintu itu."
Oh ya, Baekhyun memang sempat melihat keadaan pintu yang rusak itu. Ternyata Chanyeol mendobraknya.
"Ya ampun. Apa kau terluka?"
"Tidak apa-apa." Ucap Chanyeol. Ia memegang sebelah lengannya. "Si bajingan itu sepertinya mengganti pintunya dengan yang lebih kuat. Ia pasti takut aku akan melarikan diri. Jadi tadi aku harus mendobraknya sekuat tenaga."
Mata sipit itu memperhatikan lengan Chanyeol. Entah mengapa ia tidak percaya jika laki-laki itu tidak apa-apa. Tangannya terangkat untuk menyentuh lengan Chanyeol.
Laki-laki tinggi itu memang tidak berteriak kesakitan namun dahinya berkerut ketika Baekhyun menyentuh lengannya. Sepertinya laki-laki itu sedang menahan sakit.
"Kau terluka."
Chanyeol mengalihkan pandangannya. Memang sebenarnya ia terluka. Entah tulangnya patah atau bergeser ia tidak mengerti yang jelas ia kesakitan. Terlebih lagi tadi ia berkelahi dan sempat menggendong Baekhyun. Mungkin lengannya akan putus sebentar lagi.
"Apa ada kotak P3K disini?" Tanya Baekhyun seraya berjalan mencari kesekeliling ruangan. Dan Chanyeol memberitahunya bahwa p3k ada berada di laci nakas disamping tempat tidur.
Baekhyun segera mengobati lengan Chanyeol. Dan Chanyeol tidak keberatan untuk itu. Justru ia merasa senang karena diperhatikan oleh Baekhyun. Ia memperhatikan wajah serius Baekhyun yang tengah memberinya salep. Begitu cantik. Dan Chanyeol harus terkagum untuk kesekian kalinya. Baekhyun tak banyak berubah. Wajahnya masih tetap sama seperti pertama kali mereka bertemu.
"Nah. Selesai." Ucap Baekhyun dengan senyuman yang mengiringinya.
Chanyeol berdeham pelan sebelum akhirnya berterima kasih dan menyuruh Baekhyun untuk segera pergi tidur.
"Tidurlah."
Baekhyun mengangguk pelan. "Kalau begitu aku akan kembali ke kamarku. Terima kasih untuk bantuanmu tadi. Selamat malam."
Namun Baekhyun yang bermaksud untuk bangkit dari tempat tidur ditahan oleh Chanyeol. Membuat Baekhyun menoleh kebingungan. Ia tidak mengerti mengapa Chanyeol menahannya.
"Kau tidur disini."
"Ne?"
Tentu saja Baekhyun terkejut. Mengapa ia harus tidur disini? Ia bisa tidur di kamarnya bersama Yeri dan Nyonya Kim.
Chanyeol berdeham pelan. "Sudah kubilang aku akan menjagamu."
Chanyeol tidak bisa membiarkan Baekhyun begitu saja. Karena ia tidak bisa mempercayai siapapun. Dan ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada laki-laki mungil itu. Hanya ini satu-satunya cara untuk membuat Baekhyun aman. Yaitu dengan membuatnya tetap berada di sisi Chanyeol.
"Tapi-"
"Tidurlah."
Bagaikan perintah mutlak, Baekhyun tidak bisa menolak. Ia tidak bisa mengatakan bahwa ia tidak ingin tidur disini. Bagaimana mungkin ia bisa tidur satu ruangan dengan seorang psikopat? Baekhyun tentu tak melupakan fakta itu. Bagaimana jika ketika ia tengah tertidur, Chanyeol berusaha membunuhnya? Oh ya tuhan. Tidak ada yang tahu bagaimana pemikiran seorang psikopat, bukan? Ia takut laki-laki itu akan berubah jahat kepadanya.
"B-Baiklah.."
Baekhyun segera mengambil posisi nyaman diatas tempat tidur. Namun ia lupa akan satu hal.
"Kau akan tidur dimana?"
"Disampingmu." Jawab Chanyeol santai.
Semburat merah muncul di kedua pipi Baekhyun. Oh ya ampun. Ia bukan seorang remaja lagi yang merasa malu hanya karena berada satu tempat tidur dengan orang lain. Sepertinya ia harus menyingkirkan pemikiran konyol itu. Lagipula mereka hanya tidur. Tidak lebih. Ya, benar.
Sungguh hebat. Selain tidur satu ruangan, mereka juga tidur satu ranjang. Baekhyun tak tahu lagi apa yang akan terjadi padanya. Mungkin ketika terbangun nanti, ia telah berada di surga.
Chanyeol pun ikut memposisikan dirinya di samping Baekhyun yang berada dalam posisi tertidur nyaman. Namun ia memilih untuk membelakangi Baekhyun.
"Selamat malam, Baek." Ucap Chanyeol. Tanpa diketahui, Chanyeol jauh lebih gugup dibandingkan Baekhyun.
Ia bahkan tak bisa tertidur sampai pagi hari.
Dan yang ia lakukan dalam keheningan hanyalah mendengarkan deruan napas tenang Baekhyun.
.
.
.
.
{ To Be Continued }
8k words..
Halu haluu para readers tercinta.
Akhirnya update juga wkwk
Seriusan deh niatnya gak selama ini tapi jadinya malah lama ya. Maaf lagi-lagi membuat kalian menunggu eheu
Nah di chap ini kalian udah tau kan apa alasan krisyeol jadi macam tu wkwk dan itu baru sebagian infonya. Karena info terbesar tentang krisyeol akan hadir pada chap chap chap chap yang entah keberapa wkwk intinya sih cukup sampai disini info mengenai krisyeolnya karenaa... jeng jeng.. chap depan sepertinya akan lebih banyak dan fokus ke momen chanbaek. Yea yea yeaaay
Oh iya, selamat melakukan ibadah puasa bagi para readers yang menjalaninya ya..
Dan seperti biasa, Terima kasih kepada yang sudah fav/foll/review. Kalian adalah penyemangatku. Jadi jangan ragu buat ninggalin jejak ya. Aku selalu baca setiap review kalian kok. Dan yang mau pm aku, juga boleh aja kok hehe
Terakhir, kritik dan saran yang membangun akan selalu aku terima dengan senang hati. Sampai jumpa!
