Jika memikirkan hal itu kembali, kini Baekhyun tak bisa bersikap biasa saja seperti yang seharusnya. Rasanya ada yang berubah dalam dirinya. Ia memegang keningnya sendiri untuk memastikan bahwa dirinya masih waras. Namun setiap kali bayangan itu muncul, ia merasa ada sesuatu yang baru dalam dirinya.

Berterima kasihlah kepada seseorang yang telah membuat hatinya menjadi gundah seperti ini. Lelaki itu terus teringat akan perhatian dari sang tuan muda yang cukup mengejutkan siapapun termasuk dirinya sendiri.

Baekhyun menoleh kesamping dimana Chanyeol tengah berbaring memunggunginya. Nampaknya lelaki itu masih tertidur dengan lelap. Hari masih begitu pagi dan cahaya matahari bahkan belum terlihat.

Ia yang tak tahu harus berbuat apa, merasa harus melarikan diri dari kamar ini sekarang. Mereka baru saja tidur bersama. Meskipun dalam artian sebenarnya. Tetapi tetap saja akan terasa canggung jika Baekhyun menunggu Chanyeol terbangun.

Dan ia tak tahu apa yang harus dilakukan jika lelaki itu terbangun nanti. Terlebih lagi mengingat sikap superhero Chanyeol tadi malam saat menyelamatkannya membuat perasaan Baekhyun sedang terombang-ambing. Ia perlu menenangkan hatinya untuk sementara.

Baekhyun menyibak selimutnya dengan perlahan dan turun dari atas tempat tidur. Ia berjalan mengendap-endap karena tak ingin menimbulkan suara yang dapat membangunkan sang tuan muda.

Ia segera keluar dari dalam kamar dan menutup pintu tersebut dengan hati-hati.

Baekhyun tak tahu saja jika Chanyeol tidak tidur sedari tadi. Chanyeol benar-benar tidak tidur semalaman. Entah mengapa matanya tak dapat terpejam bahkan untuk beberapa menit saja. Hal itu menyebabkan adanya lingkaran hitam samar-samar dibawah matanya.

Chanyeol menyadari Baekhyun yang pergi meninggalkannya di ruangan yang mendadak berubah dingin setelah kepergian lelaki mungil itu. Namun ia tak berbuat apa-apa. Tepatnya ia tidak bisa melakukan apapun. Chanyeol terlalu sibuk menenangkan jantungnya. Karena tanpa bisa ia kendalikan, detak jantungnya terus-menerus berdebar sejak keduanya berbaring diranjang yang sama sampai saat ini.

Bahkan hanya mendengar deruan napas tenang Baekhyun, Chanyeol merasa jantungnya akan meledak. Perasaannya meluap-luap. Ia tidak pernah berada satu ranjang dengan orang yang ia sukai sebelumnya. Dan itu membuatnya bingung serta gugup setengah mati.


DO NOT ENTER ! (CHANBAEK)

BOYSLOVE/YAOI

Main Cast :

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Summary :

Jangan masuk ke dalam sana! Tidak ada yang diperbolehkan masuk ke dalam sana! Larangan tersebut telah diketahui oleh setiap penghuni rumah. Namun Byun Baekhyun, laki-laki yang mendadak menjadi seorang penyusup telah melanggarnya.

~Keseluruhan cerita berasal dari imajinasiku sendiri~

.

.

BB922016


Do Not Enter ! : Chapter 5

Baekhyun dibuat termenung dalam perjalanannya menuju lantai satu. Begitu banyak hal yang hinggap dikepalanya dan menyita pikirannya. Dan semua itu karena satu orang. Siapa lagi jika bukan karena Park Chanyeol.

Ia tengah memikirkan sudah berapa kali laki-laki itu bersikap baik padanya. Sudah berapa kali laki-laki itu menyanjungnya dan membuat jantungnya berdebar. Oh bahkan dihari pertama mereka bertemu, laki-laki itu telah berhasil membuat jantungnya hampir copot dengan ciuman yang tak terduga kala itu.

Baekhyun teramat yakin bahwa dirinya tak mungkin menyukai seorang Park Chanyeol. Hari dimana ia menyukai seorang psikopat, mungkin saat itu ia telah kehilangan akal sehatnya. Namun pemikiran mengenai Chanyeol tidak bisa ia hilangkan.

Seperti ada sesuatu yang menarik dari laki-laki itu, Baekhyun selalu merasa ingin masuk pada dunianya. Dan ia selalu ingin ikut campur dalam permasalahan laki-laki itu. Ia ingin menjadi tempat berteduh laki-laki itu.

Seseorang tolong katakan sebenarnya ada apa dengannya? Apakah ini hanya sebatas rasa penasaran? Atau lebih?

Tetapi Baekhyun tak bisa memikirkan hal lain lebih dari itu. Ia tidak ingin membayangkan bahwa dirinya menyukai seorang psikopat. Yang benar saja!

"Tidak mungkin, Baek." Baekhyun menggelengkan kepalanya berulang kali. "Kau merasa seperti itu pasti karena lingkunganmu berisi dengan orang-orang aneh."

Lalu ia mulai mengangguk-angguk berbicara pada dirinya sendiri. Mencoba meyakinkan diri bahwa asumsinya benar.

"Ya, benar. Kau tidak mungkin menyukai laki-laki yang seperti itu." Ucap Baekhyun lagi.

Mungkin Baekhyun bisa bersikeras menolak dan menganggap bahwa rasa itu adalah sebuah rasa penasaran. Karena tentu ia baru mengalami hal seperti ini untuk pertama kalinya. Jadi, ia merasa ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini. Ia ingin tahu mengenai Chanyeol yang notabene nya adalah seorang psikopat. Ia ingin tahu semuanya. Dan menurutnya itu adalah hal yang wajar.

Laki-laki itu mengalihkan perhatiannya pada tubuhnya yang masih terbalut dengan kemeja dan celana bahan seperti yang semalam ia kenakan. Ia menyentuh tubuhnya sendiri. Tidak terdapat sedikitpun luka pada tubuhnya.

Bukankah ini sebuah keajaiban? Semalam ia tidur bersama seorang psikopat. Dan saat ini ia terbangun dalam keadaan hidup dan baik-baik saja. Tidak ada hal aneh yang terjadi tadi malam. Chanyeol benar-benar tidak melakukan apapun terhadapnya.

Dan hal itu membuat Baekhyun berpikir kembali. Mungkin memang benar bahwa Chanyeol akan menjaganya. Bahwa Chanyeol serius dengan perkataannya.

'Sepertinya aku bisa mempercayai laki-laki itu.'

Tanpa sadar Baekhyun membiarkan dirinya terlarut dalam lamunan. Tak menyadari bahwa ada orang lain yang berada disana.

"Dilarang melamun."

Baekhyun tersentak dan menoleh kesumber suara yang berasal dari belakang tubuhnya. Begitu ia menoleh, ia mendapati lelaki bertubuh tinggi dengan jas hitamnya. Ah, lelaki ini lagi. Dia adalah orang yang memergoki Baekhyun saat mencoba melarikan diri.

Wajah lelaki berkulit putih pucat itu dipenuhi dengan lebam dan sebuah plaster di dahi juga sudut bibirnya. Sepertinya luka tersebut didapat dari Chanyeol yang memukuli para pengawal ketika mereka mencoba membawanya ke ruang bawah tanah.

"Apa kau baik-baik saja?"

Tidak ada maksud lain selain hanya berbuat baik. Baekhyun rasa ia perlu menanyakan hal itu mengingat bahwa semua luka tersebut didapat karenanya.

Mau dipikir berulang kalipun, para pengawal tidak salah jika membawanya ke tempat itu untuk di eksekusi. Dirinya lah yang telah melanggar peraturan dan mereka hanya mematuhi perintah tuan mereka.

"Cukup baik." Balas lelaki itu singkat. Ia berjalan melewati Baekhyun memilih pergi terlebih dahulu. Namun mendadak lelaki itu menghentikan langkahnya dan berbalik untuk menatap Baekhyun.

Kini tinggi mereka sejajar. Karena Baekhyun berada pada dua anak tangga diatas lelaki tersebut. Mata mereka lurus menatap satu sama lain.

"Ada apa?"

"Kurasa kau sepertinya dekat dengan tuan muda." Ucap lelaki itu dan sedikit memberi jeda. "Aku hanya ingin memperingatimu. Kau harus berhati-hati dengan yang namanya psikopat."

Baekhyun mengernyit bingung. "Apa maksudnya?"

"Mereka bisa saja bersikap baik, lembut, sopan dan lainnya. Tapi apa kau tahu? Psikopat itu sangat pandai bersandiwara." Lelaki itu mengedikkan bahunya. "Aku berkata seperti ini hanya ingin memperingatimu sebelum kau terlambat menyadari semuanya."

Baekhyun tak membalas apa-apa. Namun Baekhyun merasa tak suka dengan perkataan pengawal itu. Ia menunjukkan raut wajah tak senang.

Dan sepertinya pengawal itu menyadari perubahan pada ekspresi Baekhyun. Tetapi dibandingkan menjelaskan sesuatu, lelaki itu memilih bersikap tak acuh dan segera pergi menghilang dari pandangan Baekhyun.

Baekhyun memperhatikan pengawal itu dari jauh. Rasanya Baekhyun ingin sekali meneriaki tepat didepan wajah lelaki tersebut bahwa Chanyeol itu berbeda. Chanyeol bukan psikopat seperti itu. Chanyeol tidak seburuk yang dipikirkan orang lain. Jadi, jangan seenaknya membuat kesimpulan sendiri.

Baekhyun menghela napasnya kasar. 'Kenapa aku harus merasa sekesal ini?' Memang apa untungnya dengan membela Chanyeol mati-matian?

Ya ampun, Baek. Bagaimana bisa kau membela seorang psikopat yang bahkan belum kau kenal dengan betul? Kau juga telah membuat sebuah kesimpulan sendiri.


Sudah waktunya untuk sarapan. Sesampainya di depan pintu kamar terlarang, mendadak Baekhyun ragu untuk mengetuk pintu kamar tersebut. Berulang kali ia mengusap dadanya dan menghembuskan napas untuk membuat rasa gugupnya hilang namun hal itu tak berhasil.

Apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia bersikap biasa saja seperti tak ada yang terjadi? Tapi bagaimana jika Chanyeol mengungkit dirinya yang pergi begitu saja tadi pagi?

Ah, masa bodoh.

Baekhyun memejamkan matanya erat-erat dan mengetuk pintu kamar Chanyeol.

Begitu Baekhyun membuka pintu tersebut, ia langsung mendapati Chanyeol didepannya.

Mereka bertatapan dengan canggung. Dan Chanyeol lah yang pertama kali memutuskan tatapannya.

"Uh.. Halo." Sapa Baekhyun.

Chanyeol berdeham pelan. Ia mengusap belakang lehernya berulang kali dan mengangguk pelan.

Keduanya mencoba untuk terlihat biasa saja tetapi jelas-jelas mereka terlihat sangat gugup. Ya tuhan, mereka hanya tidur dalam artian sebenarnya. Tetapi mereka sudah canggung seperti ini.

Bagaimana jika mereka tidur dalam arti lain?

Chanyeol meliriknya sejenak sebelum berjalan menuju sofa di ruangannya. "Semalam.. kau tidur nyenyak?"

"Ah? Iya.."

Baekhyun mengikuti lelaki tersebut dari belakang.

"Lalu kenapa kau pergi pagi-pagi sekali?"

Baiklah. Baekhyun harus memutar otak dengan cepat. Ia harus memikirkan sebuah alasan. "I-Itu.. Ada banyak hal yang harus ku kerjakan. Kau tahu sendiri, aku ini seorang pelayan. Dan aku tak enak hati membangunkanmu untuk sekedar pamit."

Baekhyun tersenyum canggung. Mencoba untuk membuatnya terlihat normal. Dan beruntungnya Chanyeol tidak menyadari kebohongan dalam kalimat Baekhyun.

Tunggu. Chanyeol baru menyadari sesuatu. Ia memperhatikan Baekhyun saat ini yang tidak membawa nampan seperti biasanya. Lelaki itu tak terlihat membawa apapun kesini.

"Sarapan?" Tanya Chanyeol. Dimana sarapannya?

"Ah, sebenarnya aku ingin mengusulkan sesuatu padamu." Baekhyun memberi jeda pada ucapannya. "Bagaimana jika kau sarapan di ruang makan mulai sekarang?"

Chanyeol terdiam tanpa kata mendengar usulan itu. Sejujurnya, Chanyeol tidak ingin dan tidak akan melakukannya. Sarapan di ruang makan? Bukankah itu artinya ia akan berada satu meja dengan Kris? Ia tidak yakin jika selera makannya tidak hilang setelah melihat kehadiran pria itu.

"Tenang saja, aku akan menemanimu jika kau mau. Jadi kau tak perlu khawatir, ok?"

Namun Chanyeol tahu ia tidak bisa menolak ucapan Baekhyun. Terlebih lagi melihat senyuman Baekhyun diakhir kalimat, membuat nya tidak bisa bahkan hanya sekedar memberi penolakan singkat.

Jadi ia mengangguk samar sebagai jawaban.

Dan siapa sangka hal itu menyebabkan senyuman teramat lebar dibibir Baekhyun. Mata sipitnya membentuk sebuah eye smile yang membuat lelaki itu nampak manis. Ia sangat senang karena Chanyeol mau mendengarkan ucapannya.

"Terima kasih." Ucap Baekhyun sebelum ia berjalan terlebih dahulu keluar dari kamar.

Tak tahu bahwa Chanyeol kini tengah berdebar setelah senyuman manisnya itu. Dan membuat Chanyeol merasa seperti muda kembali ketika mengingat bahwa untuk pertama kalinya senyuman itulah yang membuatnya tak bisa berkata-kata.

Untuk beberapa detik yang terasa begitu lama, Chanyeol hanya terduduk diam diatas sofa. Ia menyukai debaran yang berada di dadanya.

Baekhyun menghentikan langkah dan berbalik. "Mengapa kau masih disana?"

Segera Chanyeol yang baru tersadar langsung berjalan menyusul Baekhyun yang berada di ambang pintu.

"Sering-seringlah tersenyum."

Suara itu terdengar hampir seperti gumaman namun Baekhyun dapat mendengarnya dengan jelas. Akan tetapi ketika ia menoleh kearah Chanyeol, lelaki itu telah mempercepat langkahnya mendahului Baekhyun.


Sejujurnya untuk beberapa alasan, Baekhyun telah memutuskan untuk menjadi pelayan sesungguhnya. Mulai hari ini, ia akan mengabdi kepada Chanyeol sebagai seorang pelayan dengan seluruh hatinya. Karena itu, ia akan menjaga Chanyeol dengan caranya sendiri. Dan meskipun hanya hal kecil, Baekhyun akan tetap mencoba membantu laki-laki itu menyelesaikan permasalahannya dengan Kris.

Dan nyatanya Baekhyun benar-benar berhasil membuat Chanyeol keluar dari kamarnya. Ia berhasil membujuk Chanyeol untuk duduk di ruang makan dan menyantap sarapannya disana bersama dengan Kris.

Saat ini tujuan Baekhyun hanya ingin membuat Chanyeol merasa terbiasa berada dalam satu ruangan dengan kakak kandungnya.

Sumpah serapah terlalu banyak diucapkan oleh Chanyeol di dalam hati. Sial. Ia tidak ingin bertemu dengan kakak kandungnya itu. Terlebih lagi setelah kejadian tadi malam. Namun apa daya, ia tidak bisa menolak usulan Baekhyun.

Jadi disinilah dirinya berada. Duduk dengan tidak nyaman di ruang makan berhadapan dengan Kris. Oh, katakan apa yang lebih buruk dari pada ini?

Berbanding terbalik dengan yang dirasakan oleh Kris. Kakak kandungnya itu tak menyangka bisa mendapati adiknya berada diruang makan saat ini. Sebenarnya ia sudah akan mengamuk saat mengetahui bahwa hari sudah mulai siang dan Chanyeol belum juga sarapan. Terlebih lagi ia sendiripun bahkan sudah terlambat kerja. Emosinya tidak bisa terkontrol.

Namun semua itu sirna begitu dirinya melihat Chanyeol berada diruang makan. Ia melupakan amarahnya dan memilih untuk duduk tenang memperhatikan adiknya.

Sementara yang diperhatikan, mencoba untuk mengalihkan pandangannya. Chanyeol tidak ingin selera makannya nanti hilang karena melihat wajah pria itu. Jadi lebih baik ia menganggap pria itu tidak ada sama sekali disini.

"Aku senang kau keluar."

Chanyeol mengabaikan ucapan manis Kris. Ia merotasikan bola matanya dan mengetukkan jarinya diatas meja tak sabaran. Yang Chanyeol ingin lakukan sekarang hanyalah segera menghabiskan makanannya dan cepat pergi dari tempat ini.

Tubuhnya terasa panas. Sulit untuknya bersikap baik-baik saja sementara dihadapannya duduk seseorang yang sangat ia benci.

Kris hanya bisa tersenyum pahit menyaksikan Chanyeol tak menanggapinya dan jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaannya berada disana. Namun tak apa. Ia cukup senang hanya dengan melihat adiknya tak masalah satu meja untuk makan bersama setelah sekian lama.

Detik demi detik berlalu. Mereka terlalu banyak menghabiskan waktu dalam keheningan sampai akhirnya sarapan mereka tiba. Para pelayan datang berbaris sebelum menyajikan berbagai jenis makanan di atas meja besar dan panjang itu.

Baekhyun ikut serta dalam penyajian tersebut. Ia menata letak alat makan untuk Chanyeol juga menyusun dengan rapih lauk pauk diatas meja. Ia sedikit memberi senyuman tipis pada laki-laki itu.

"Aku melakukannya karenamu." Ucap Chanyeol tiba-tiba. Chanyeol hanya ingin membuatnya jelas bahwa ia tidak akan melakukan hal ini jika bukan karena Baekhyun yang memintanya.

Dan Baekhyun membalas hal itu dengan sebuah anggukan kecil. Ia tahu. Ia mengerti bahwa Chanyeol terpaksa melakukannya. Namun ia senang karena Chanyeol tidak menolak usulannya secara mentah-mentah.

Seluruh pelayan mulai menyingkir satu persatu setelah selesai dengan tugas mereka. Pelayan-pelayan itupun membungkukkan badannya setelah pamit undur diri. Begitu juga dengan Baekhyun.

Kini hanya tersisa mereka berdua disana. Chanyeol tak mau membuang waktunya dan segera memilih beberapa lauk untuk di makannya. Ia tidak mau berlama-lama disana.

Sang kakak kandung yang memperhatikan Chanyeol tengah memilih makanan, kembali membuka pembicaraan.

"Jika tahu bahwa kita akan makan bersama seperti ini, aku akan terlebih dahulu menyuruh mereka memasakan makanan kesukaanmu."

"Tidak perlu repot-repot." Jawab Chanyeol dengan ketus.

Tanpa adanya ucapan 'selamat makan', adiknya itu menyantap makanannya dengan cepat.

Sementara Kris nampaknya lebih suka berbicara dengan adiknya daripada menyantap makanannya. Jadi ia menaruh sendok dan garpu kembali pada tempatnya. Dan berbicara ini-itu.

"Apa kau ingin nambah? Atau kau ingin makanan lain? Aku akan menyuruh mereka membuatkannya untukmu."

Meskipun ia tahu Chanyeol tidak akan menanggapinya, namun Kris tak ingin berhenti mencoba.

"Kau harus makan yang banyak. Aku tidak ingin kau sampai sakit."

Chanyeol tak membalas. Ia segera menyendokkan nasi ke mulutnya dengan lahap.

"Kau alergi seafood kan? Sebaiknya kau menyingkirkan makanan itu karena isinya adalah cumi."

Kris benar-benar perhatian kepada Chanyeol. Ia tak hentinya memperhatikan bagaimana Chanyeol makan dan terus mengajak adik kesayangannya itu untuk berbicara dengannya. Tak memikirkan bahwa Chanyeol sudah hampir muak mendengar ocehan tak jelasnya yang sangat berisik bagaikan suara lalat.

"Apa besok kau akan sarapan disini lagi?"

"Kuharap kita bisa terus seperti ini."

TRANG..

Chanyeol sedikit membanting garpu dan sendok ditangannya hingga terdengar bunyi nyaring. Baiklah, ia sudah muak.

Chanyeol segera berdiri dari duduknya. Ia mencondongkan tubuhnya pada meja dengan kedua tangan yang berada di sisi meja untuk menahan tubuhnya.

"Kumohon berhentilah." Ucap Chanyeol. "Berhentilah bersikap seperti kita sedekat itu."

Chanyeol tak mempedulikan ekspresi Kris saat ini. Bagaimana senyuman diwajah Kris menghilang begitu saja sesaat setelah mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Chanyeol.

"Kau bukan kakakku. Dan aku tidak akan pernah menganggapmu seorang kakak."

Lagi-lagi Chanyeol mengabaikannya. Ia memilih untuk segera pergi dari sana. Chanyeol tidak sempat menghabiskan makanannya karena ia terlalu muak berada disana. Ia terlalu lelah dengan segala akting Kris yang bersikap seperti seorang kakak yang baik padanya.

'Kau bilang, kau tidak ingin aku sakit?' Chanyeol tertawa sinis. 'Tapi jelas-jelas kau selalu menyakitiku selama 10 tahun, bajingan.'

Setelah apa yang Kris lakukan padanya, bagaimana bisa Kris bersikap baik-baik saja? Chanyeol hanya ingin pria itu setidaknya jangan menyembunyikan sifat bajingannya ketika mereka hanya berdua. Karena Chanyeol sudah tahu betapa bajingan seorang Kris Park.


Baekhyun yang sedari tadi memperhatikan dari balik dinding, berakhir menghela napasnya setelah menyaksikan kepergian Chanyeol yang terburu-buru. Pasti sangat sulit untuk laki-laki itu melawan keinginan agar tidak membuat masalah lagi. Baekhyun tahu Chanyeol telah berusaha keras untuk tidak membahas masalah diantara mereka berdua sehingga tidak akan terjadi pertengkaran seperti sebelum-sebelumnya.

Namun meskipun begitu, Baekhyun cukup salut melihat Chanyeol telah berusaha keras menahan diri. Meskipun hanya sebuah kemajuan kecil, Baekhyun merasa itu sudah cukup.

Sesaat setelah kepergian Chanyeol, Baekhyun memutuskan untuk berjalan mendekati pria yang masih terduduk di ruang makan tanpa belum menghabiskan setengah dari sarapannya. Ia berhenti tepat disamping Kris dan segera membungkukkan badannya kepada pria itu.

Baekhyun terlihat gugup. Ia masih tidak bisa melupakan kejadian kemarin.

"Permisi."

Kris meliriknya sekilas tanpa berkata apa-apa. Lalu mulai menyantap makanannya dalam keheningan.

"Ada yang ingin saya bicarakan pada tuan."

Baekhyun jadi merasa dejavu. Sikap Kris saat ini hampir sama dengan sikap Chanyeol pertama kali. Sama-sama mengabaikannya. Memang, seorang adik dan kakak pasti akan memiliki kesamaan dalam beberapa hal.

Baekhyun menghembuskan napasnya perlahan. "Saya minta maaf atas apa yang telah terjadi kemarin." Ucap Baekhyun penuh keseriusan. "Saya juga berterima kasih karena tuan tidak membunuh saya setelah kejadian itu."

Baekhyun kembali membungkuk hormat pada Kris yang masih mengabaikannya dan membuat Baekhyun merasa ia seperti bayangan yang tak terlihat.

Tetapi hal itu tidak membuat Baekhyun berhenti mengucapkan maksudnya. Ia berdeham pelan dan memantapkan hatinya.

"Dan yang ingin saya katakan saat ini adalah, saya akan berusaha menjadi pelayan yang baik untuk tuan muda. Saya akan terus berada disampingnya dan melayani segala kebutuhannya."

"Karena itu.. izinkan saya melayaninya dengan cara saya sendiri." Lanjutnya.

Kris menghentikan kunyahan pada mulutnya sesaat setelah Baekhyun selesai berbicara. Ia beralih menatap Baekhyun dengan datar. Kembali menunggu Baekhyun menjelaskan maksud perkataannya.

"Saya tidak akan membiarkan siapapun memberinya obat bius lagi. Saya tidak akan membiarkan siapapun menganggapnya seperti monster lagi. Saya juga tidak akan membiarkan ia diasingkan lagi. Saya akan melindunginya dengan cara saya sendiri." Baekhyun menatap tepat ke bola mata Kris. Dan yang paling penting..

"Saya akan membuatnya merasa hidup dan bebas. Saya akan membuatnya dapat melihat matahari yang bukan hanya bisa ia lihat dari balik jendela."

Jelas sudah maksud Baekhyun. Kris mengerti tanpa perlu dijelaskan ulang. Dan ia tak menyangka jika Baekhyun akan segigih itu untuk merubah Chanyeol dengan memberi perhatian yang begitu khusus untuk adiknya itu.

Kris seharusnya merasa senang. Tentu saja. Bukankah itu yang ia harapkan sejak awal?

Namun saat ini Kris tak bisa merasa seperti itu. Sialnya, ia tidak sesenang itu. Ia akui ia cukup kagum dan salut terhadap Baekhyun, namun entah mengapa ia merasa tidak menyukainya. Ia tidak menyukai bagaimana Baekhyun begitu menaruh perhatian pada adiknya.

"Kalau begitu, saya permisi."

Kris mengeratkan pegangannya pada sendok. Ia tak tahu harus berbicara apa.

Bahkan sampai saat lelaki mungil itu menghilang dari hadapannya, Kris masih terdiam tak mengucap sepatah katapun. Ia hanya mendengarkan suara langkah Baekhyun yang mulai menjauh.

Kris tidak suka Baekhyun sebaik itu.


Lelaki itu memukul keras stir mobilnya. Ia frustasi. Harus bagaimana lagi? Harus dengan cara apa lagi ia mencari Byun Baekhyun? Kabarnya yang menghilang secara tiba-tiba membuatnya merasa ada yang aneh. Jongdae merasa pasti ada sesuatu yang terjadi.

Haruskah ia menghubungi polisi? Ia tidak menemukan Baekhyun dimanapun. Di rumahnya, di tempat kerja lamanya, maupun di toko yang akan dilamarnya. Bahkan pegawai toko buku itu mengatakan padanya bahwa tidak ada seseorang yang berpenampilan seperti Byun Baekhyun yang datang untuk melamar pekerjaan.

Dan informasi yang ia dapatkan dari pemilik rumah susun adalah bahwa Baekhyun sempat kembali ke rumah dan setelahnya ia pergi lagi dengan membawa sebuah map. Yang bisa Jongdae pastikan berisi formulir-formulir.

Itu tandanya Baekhyun menghilang sebelum dirinya sempat melamar. Kemungkinan bisa jadi ia menghilang saat diperjalanan. Bisa saja sesuatu terjadi padanya. Hal terburuknya adalah kecelakaan. Namun ia tak mendengar desas-desus adanya kecelakaan di daerah rute rumah susun tempat Baekhyun tinggal sampai ke toko buku yang akan dilamarnya.

Lalu sebenarnya apa yang terjadi? "Sebenarnya kau berada dimana, Byun Baekhyun?"

Jongdaepun memutar balik stirnya dan menancap gas menuju jalan pulang ke rumahnya. Ia harus memikirkan cara selanjutnya secara matang-matang. Mungkin ia akan menelpon polisi atau terus mencari Baekhyun sendirian. Karena sejujurnya ia pun tidak bisa mempercayai polisi. Mereka terlalu lamban dalam bertindak.

Mobil itu terus bergerak dan mendadak berhenti tepat di samping sebuah rumah besar dengan halaman yang begitu luas. Rumah itu bertingkat tiga. Dijaga oleh para pengawal dan dipasang cctv diberbagai tempat.

Jongdae menoleh kearah rumah tersebut. Rumah yang memiliki begitu banyak rumor bertebaran.

Ia menatap dengan seksama ke dalam rumah itu dengan pandangan mencari tahu. Entah mengapa firasatnya mengatakan bahwa mungkin saja Baekhyun terjebak di dalam rumah itu seperti orang lain.

Namun mana mungkin? Ia sendiri cukup ragu mendengar rumor-rumor tersebut. Tetapi rasanya ada yang aneh.

"Ahh, kurasa aku harus tidur terlebih dulu." Jongdae mengacak rambutnya dengan kedua tangan. Ia bingung. Ia terlalu pusing memikirkan hal ini.

Yang jelas, Jongdae akan mengambil langkah selanjutnya dengan cepat. Ia akan segera menemukan temannya.


Hampir saja Baekhyun mengelilingi seluruh ruangan yang ada di rumah ini hanya untuk mencari Chanyeol. Beruntung ia telah berhasil menemukan laki-laki itu di lantai dua. Jika tidak, mungkin ia harus rela kakinya kesakitan berjalan kesana kemari.

Omong-omong, sangat jarang Baekhyun bisa berada di lantai ini. Bahkan bisa dibilang hampir tidak pernah. Yang ia lakukan hanya berada di lantai satu dan tiga saja. Terus-menerus seperti itu.

Jika di lantai satu merupakan ruang tamu, dapur beserta ruang makan, taman belakang dan kamar tidur para pelayan serta pengawal yang berkisar puluhan orang. Maka di lantai dua yang pertama kali ditemukan adalah ruang keluarga yang luas dengan sebuah bar kecil disampingnya. Cocok untuk tempat bersantai menonton televisi seraya meminum segelas wine. Ada sebuah piano putih juga disana.

Lalu tak jauh dari ruang keluarga, adalah kamar Kris yang sangat luas melebihi kamar terlarang yang Chanyeol tempati. Tepat didepan kamar Kris sendiri, terdapat ruangan kerjanya dan juga sebuah library. Jika masuk ke dalam lagi melewati lorong kamar Kris juga ruang kerja dan library, maka akan ditemukan tempat gym yang berada di sebelah kiri dan tepat disampingnya adalah sebuah kolam renang indoor.

Lantai dua memang lebih terlihat mewah dibandingkan lantai lainnya.

Sementara dilantai tiga sendiri hanya ada sebuah library yang tak kalah besar dari yang ada di lantai dua, kamar terlarang dimana Chanyeol dikurung, dan juga dua buah kamar kosong lainnya yang dikunci dari sejak Baekhyun datang ke rumah ini. Tak dibiarkan terbuka sama sekali. Bukan karena ada sesuatu yang special. Hanya saja kamar itu sudah tidak terpakai lagi.

Baekhyun berjalan mendekati Chanyeol yang tengah duduk disofa.

"Sedang apa disini?"

Chanyeol menoleh dan mendapati Baekhyun yang sedang berjalan kearahnya. "Hanya duduk saja." Jawabnya singkat. Ia kembali mengalihkan pandangannya kedepan.

"Apa tidak ada yang ingin kau lakukan?" Tanya Baekhyun. Ia mendudukkan dirinya disamping tuan muda. "Seperti berenang mungkin. Atau lainnya?"

"Tidak ada."

Baekhyun menggembungkan pipinya. Mendadak Chanyeol menjadi lelaki yang teramat dingin. Tiba-tiba ia merasa sedih. Apa laki-laki itu marah padanya karena telah membuat laki-laki itu harus terpaksa makan bersama Kris?

"Kalau begitu, apa kau mau ikut aku keluar?" Tanya Baekhyun lagi.

Ia harap kali ini Chanyeol tidak menolak juga.

"Kemana?"

"Taman belakang. Mungkin kau juga butuh udara segar."

Bukan tanpa alasan Baekhyun mengajak Chanyeol kesana. Ia ingin mengajak Chanyeol untuk menghirup udara. Rasanya pasti akan lebih nyaman dan sejuk daripada berada di sebuah kamar terus-menerus yang tidak memiliki cukup udara segar.

Dan merekapun akhirnya bersama-sama pergi menuju taman belakang dengan posisi yang sama-sama tak berbicara.

Terasa begitu canggung. Sama seperti biasanya. Sampai akhirnya Chanyeollah yang mencoba membuka pembicaraan terlebih dahulu.

"Kau.."

Baekhyun menoleh.

"Bagaimana keadaan-"

"Keadaan tanganku?" Seperti yang sudah Baekhyun duga laki-laki disampingnya ini akan berkata seperti itu. Ia terkekeh pelan melihat Chanyeol menanggapinya dengan anggukan polos.

Sepertinya laki-laki itu kesulitan mencari topik untuk diperbincangkan, karenanya ia selalu bertanya mengenai keadaan tangan Baekhyun.

Lelaki bertubuh mungil disampingnya itu tersenyum manis dan memperlihatkan telapak tangannya yang sudah tak berbalut perban. "Tanganku sudah membaik. Jadi kau bisa melupakan pertanyaan itu sekarang kkk~ Lalu bagaimana dengan lenganmu sendiri?"

"Hmm.. ya, sama." Chanyeol mengangguk seraya mengusap pelan lengannya. Meskipun masih sedikit terasa nyeri, tapi ia tak apa. Hal seperti ini bukanlah apa-apa baginya.

"Oh ya, ada hal yang ingin aku bicarakan padamu."

Tiba-tiba Baekhyun menghentikan langkahnya. Membuat Chanyeol yang tengah berjalan lantas ikut menghentikan langkahnya dan membalik tubuh menghadap Baekhyun.

Ia memandang laki-laki itu penuh tanda tanya.

Sementara Baekhyun sendiri berdiam diri untuk sesaat. Tak tahu harus memulai dari mana. Rasanya terlalu banyak yang ingin ia katakan sampai ia kesusahan mencari dimana inti dari semuanya.

Baekhyun berdeham pelan sebelum membuka mulutnya. "Sejujurnya, sulit bagiku untuk mempercayai seseorang disini."

Lelaki bertubuh mungil itu menatap Chanyeol sejenak sebelum kembali berbicara,

"Tapi aku ingin mempercayaimu.. dan aku berusaha mempercayaimu untuk menjagaku."

Chanyeol mendengarkan. Ia meneliti wajah Baekhyun yang tampak gugup dan malu. Terlihat juga dari bagaimana jari mungil itu memainkan lengan kemeja yang dikenakannya sendiri. Baekhyun terlihat sangat menggemaskan dimata Chanyeol saat ini.

"Aku sangat berterima kasih atas semua yang kau lakukan untukku. Aku tak tahu harus membalasnya dengan cara apa. Yang bisa kulakukan hanya menjadi pelayan setiamu."

"Jadi mulai sekarang kau bisa mengatakan apapun padaku. Kau bisa meminta apa saja. Kau bisa menjadikanku sandaranmu atau lainnya. Dan aku akan mengajakmu melakukan hal yang tidak bisa kau lakukan atau hal yang tidak pernah kau lakukan sebelumnya. Kita akan melakukannya bersama-sama. Apa itu tidak apa-apa?" Lanjutnya.

Chanyeol mengangguk. Baginya sendiri, tentu saja ia akan melakukan semua yang pelayan pribadinya ini katakan. Sama sekali tidak ada alasan untuk membantah ucapan lelaki mungil itu.

Lelaki itu tersenyum manis. "Kalau begitu, bisakah aku meminta satu hal lagi?" Tanya Baekhyun yang langsung dibalas dengan anggukan kecil dari tuan mudanya. "Bisakah kau mendengarkan setiap ucapanku? Ini demi kebaikanmu juga."

"Aku akan mendengarkan."

Lelaki itu kembali tersenyum manis. "Terima kasih." Ia senang setidaknya persetujuan dari Chanyeol akan membuat semuanya berjalan mudah. Rencananya untuk membuat Chanyeol tampak manusiawi menjadi lebih mudah. Ya, semoga saja.

"Sekarang giliranku."

Chanyeol maju selangkah secara tiba-tiba. Baekhyun tentu saja terkejut dengan pergerakan itu, namun ia memilih mendongak menatap tuan mudanya.

"Bisakah aku meminta satu hal juga darimu?"

Lelaki mungil itu mengangguk. "Tentu saja. Apa itu?"

Detik ini, Chanyeol menatapnya sama seperti tadi malam.

"Setelah semua ini, aku harap kau menjadi satu-satunya orang yang tidak takut padaku."

Suasana mendadak senyap. Baekhyun terdiam menatap mata Chanyeol sementara detak jantungnya mulai berdetak tak karuan.

Namun tak menunggu apa yang akan Baekhyun berikan sebagai jawaban, lelaki itu segera berbalik badan dan melanjutkan langkahnya.

Baekhyun sendiri dibuat dilema oleh kalimat itu. Bagaimana mungkin ia tidak takut pada seorang psikopat? Yang benar saja. Selama ini Baekhyun hanya tidak memperlihatkannya didepan Chanyeol. Tetapi sejujurnya ia ingin sekali lari dari tempatnya berada. Karena itu, ia sampai mencoba kabur dari tempat ini.

Tapi, mungkinkah Chanyeol berkata seperti itu karena telah percaya padanya? Chanyeol ingin dirinya menjadi satu-satunya orang yang mengerti dan paham perasaan laki-laki itu.

Lalu apa itu juga memungkinkan mereka bisa menjadi lebih dekat dari sekarang?

Baekhyun rasa ia harus mencoba beradaptasi dengan laki-laki itu. Dan ia pun tersadar bahwa bukan hanya Chanyeol yang harus menyesuaikan diri. Nyatanya ia pun harus bisa menyesuaikan dirinya.

Baekhyun segera mempercepat langkahnya menyamai Chanyeol.

"Aku tidak akan takut padamu."

Tuan mudanya menoleh dengan gerakan cepat. "Benarkah?"

Baekhyun mengangguk yakin. Dengan jari mungilnya, ia menyentuh perut Chanyeol dan menekan-nekannya. "Lihat? Aku bahkan berani menyentuhmu. A-Aku tidak takut sama sekali." Baekhyun tersenyum cerah.

Oh tentu saja itu kebohongan besar! Wajahnya bahkan sudah pucat. Baekhyun terlalu berani melakukan hal itu hanya untuk membuatnya terlihat normal. Hanya untuk membuat Chanyeol percaya padanya. Beruntung saja tidak ada hal aneh yang terjadi padanya setelah menyentuh lelaki itu.

Chanyeol tersenyum tipis. Ia merasa senang karena Baekhyun tidak takut kepadanya. Tidak seperti seseorang. Yang sudah ia anggap sebagai neneknya sendiri namun setelah melihat keadaan dirinya yang memiliki gangguan kejiwaan, justru pergi menjauhinya. Lucu sekali.

Seperti yang di duga, taman belakang benar-benar luas. Bahkan rumah susun Baekhyun tidak lebih luas dibandingkan taman belakang rumah majikannya. Baekhyun jadi dibuat bertanya-tanya seberapa kaya seorang Kris Park.

Ditempat itu terdapat sebuah kolam ikan yang bersih dan jernih. Lalu ada dua buah ayunan disana yang terlihat sangat aneh bagi Baekhyun mengingat bahwa kedua pemilik rumah ini adalah seorang laki-laki. Tetapi mereka akhirnya duduk dalam keheningan disana.

Baekhyun memperhatikan Chanyeol yang tengah memejamkan matanya membiarkan cahaya matahari menyinari wajahnya dengan angin yang menghembus surai hitam Chanyeol hingga berterbangan.

Posisi seperti ini membuat Baekhyun speechless. Ia hanya terdiam memperhatikan laki-laki itu. Entah mengapa hal ini menjadi sesuatu yang menarik untuknya perhatikan. Matanya tak dapat beralih dari laki-laki itu.

Namun yang paling membingungkan, detak jantungnya kembali berdebar seperti sebelum-sebelumnya. Park Chanyeol sangat tampan. Dan fakta itu bukanlah sesuatu yang bisa ia sangkal. Namun seharusnya Baekhyun tahu bahwa hal itu bukan satu-satunya alasan dari debaran jantungnya.

Begitu mata bulat laki-laki itu terbuka, Baekhyun segera berdeham pelan. Ia mengalihkan pandangannya kedepan seraya merentangkan tangannya seperti tengah melakukan pemanasan. Oh, sebenarnya ia hanya berusaha untuk tidak terlihat habis memperhatikan tuan mudanya.

"Aaahh, segarnya." Ucap Baekhyun seraya menoleh kepada Chanyeol. "Betul, kan?" Yang diangguki singkat oleh lelaki tinggi itu.

"Hmm.. Omong-omong, sudah berapa lama kau berada di kamar terlarang?" Tanya Baekhyun seraya mulai mengayunkan ayunan yang ia duduki.

"10 tahun."

Wuah.. Baekhyun tidak pernah mengira akan selama itu. Pikirnya mungkin hanya sebatas 3-5 tahun. "Benarkah? Lama sekali. Apa kau tidak pernah keluar selama 10 tahun itu?"

Chanyeol memperhatikannya yang tengah asik bermain ayunan. Hembusan angin yang menerpa wajah Baekhyun membuat lelaki mungil itu tampak polos seperti anak kecil.

"Tentu saja pernah. Saat aku mencoba melarikan diri. Dan seperti yang kau tahu, mereka selalu berhasil menangkapku lalu membiusku."

Ya ampun. Obat bius itu lagi. Membuat Baekhyun jadi kesal tiap kali mendengarnya.

Ia menapakkan kakinya menghentikan laju ayunan dan beralih menatap sang tuan muda. "Aku tidak mengerti. Memangnya kenapa kau harus di kurung seperti itu?" Tanya Baekhyun penasaran. "Sebenarnya apa kesalahan yang telah kau perbuat?"

Rasanya sangat tidak adil dan juga tak masuk akal. Mengapa Chanyeol harus dikurung selama itu? Justru karena hal inilah yang bisa memperburuk mental laki-laki itu.

Chanyeol mendadak terdiam. Tatapan matanya lurus ke depan. Ekspresi itu membuat Baekhyun segera menyalahkan dirinya yang tak bisa mengontrol untuk tak bertanya lebih.

"Ah, m-maaf jika aku bertanya seperti itu. Kau bisa mengabaikannya."

Lelaki bertubuh tinggi itu menoleh dan tersenyum pahit. "Itu juga pertanyaan yang ingin ku tanyakan. Aku sendiri tak tahu mengapa pria itu mengurungku disana."

Sangat aneh tentunya. Mengapa seseorang yang telah dikurung selama bertahun-tahun tak tahu alasan mengapa ia diperlakukan seperti itu.

Chanyeol terlihat menghela napasnya dan Baekhyun rasa dirinya harus mengalihkan pembicaraan. Tujuan Baekhyun saat ini bukan untuk membuat Chanyeol kembali mengingat kesedihannya. Ia justru ingin menghibur Chanyeol.

"Wuah, lihat! Pohon yang itu. Besar dan kuat sekali ya." Ucap Baekhyun dengan semangat yang membuat Chanyeol sedikit terkejut dan sontak menoleh kearah telunjuk Baekhyun yang menunjuk pada sebuah pohon besar yang tak jauh dari tempatnya berada.

"Pasti akan cocok jika ada rumah pohon disana." Gumam Baekhyun. Ah, ia jadi teringat kedua orangtuanya yang dulu berniat membuatkan rumah pohon untuknya. Tetapi sampai saat ini, ia bahkan tak bisa merasakan bagaimana rasanya berada di dalam sana.

"Apa kau pernah masuk ke dalam rumah pohon?" Baekhyun mengalihkan perhatiannya pada Chanyeol. "Sedari dulu aku ingin sekali masuk ke dalam rumah pohon. Pasti akan menyenangkan berada disana."

'Rumah pohon?' Chanyeol memandang pohon besar itu dalam diam lalu beralih menatap wajah berseri-seri sang pelayan.

"Aku belum pernah masuk kedalam rumah pohon." Jawab Chanyeol yang membuat Baekhyun sedikit merasa senang. Nyatanya ia tak sendirian.

"Aku harap aku bisa masuk kedalam rumah pohon. Setidaknya sekali saja." Baekhyun memeluk dirinya sendiri.

Disaat seperti ini ia jadi merindukan senyuman ayahnya yang selalu mengembang saat tengah mengerjakan proyek rumah pohon untuknya diteras rumah. Namun sayangnya rumah pohon itu tidak selesai dibuat karena musibah yang harus dihadapi oleh kedua orangtuanya. Dan juga Baekhyun tak cukup uang untuk membiayai pemakaman kedua orangtuanya hingga akhirnya ia harus menjual rumah kesayangannya tersebut dan tinggal bersama neneknya.

"Udara sudah semakin dingin. Sepertinya salju akan turun menghitung hari lagi."

Baekhyun mengeratkan pelukan pada dirinya sendiri. Sudah memasuki pertengahan bulan Desember, tentu mulai terasa adanya perubahan suhu. Namun sejujurnya ia lebih merasa dingin pada hatinya. Ia begitu merindukan keluarganya tetapi ia tak tahu harus bagaimana. Baekhyun menundukkan wajahnya dalam-dalam.

DEG.

Baekhyun sedikit tersentak ketika kedua tangan yang berukuran lebih besar darinya tiba-tiba menangkup kedua pipinya. Baekhyun mendongak dan mendapati Chanyeol tengah berjongkok didepannya. Lelaki itu menatapnya datar namun matanya menyiratkan keteduhan. Dan itu membuat Baekhyun bersedih. Ia kesulitan menahan sesuatu yang menyesakkan dalam dadanya.

Terlebih lagi kedua tangan Chanyeol yang hangat membuatnya ingin menangis. Ia rindu kehangatan seperti ini. Ia terlalu lelah mengisi waktu demi waktu tanpa rasa hangatnya seseorang yang berada di sisinya.

"Kurasa sebaiknya kita ke dalam. Kau sangat kedinginan." Ucap Chanyeol pelan.

Baekhyun menanggapinya dengan helaan napas. "Sebentar lagi hari natal." Hal ini yang paling membuatnya bersedih. Ia jadi bertanya sendiri mengapa ia selalu mengalami hal-hal yang menyedihkan? Hari peringatan kematian keluarganya sebentar lagi, jadi wajar saja jika ia merindukan mereka, bukan?

Namun sepertinya, bukan hanya Baekhyun saja yang merasa sedih saat ini.

Chanyeol memandang kearah lain. Ia jelas ingat dengan betul hari peringatan kematian keluarganya sebentar lagi. Sudah 10 tahun ia sama sekali tak berziarah. Ia ingin sekali mengunjungi pemakaman mereka.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Baekhyun. Lelaki itu tak sengaja menyadari perubahan pada ekspresi Chanyeol.

Sebenarnya Chanyeol ingin mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Namun, ia berkata lain. "Aku tidak baik-baik saja." Karena mulai sekarang, Baekhyun adalah tempatnya bersandar. Ia ingin menjadikan Baekhyun satu-satu orang tempat dimana ia bisa mengeluh. Satu-satunya orang yang paling mengetahuinya.

"Ada apa?" Baekhyun memusatkan seluruh perhatiannya pada Chanyeol. Ia sudah bersiap untuk mendengar keluhan laki-laki itu.

"Sebentar lagi hari peringatan kematian keluargaku. Aku ingin sekali berziarah."

Baekhyun mengerjapkan matanya tak percaya. Kesamaan ini tidak bisa dikatakan sebuah keberuntungan, bukan?

"Benarkah? Begitu juga dengan orangtuaku. Hari peringatannya sebentar lagi tepat dihari natal." Dan nyatanya tanggal hari peringatan kematiannya pun sama dengan Chanyeol.

"Sama juga dengan keluargaku." Gumam Chanyeol. Ia tidak tahu jika mereka memiliki kesamaan seperti ini. Ia kira dulu dihari dimana Baekhyun menangis di taman, itu adalah hari kematian orangtuanya. Ternyata tidak. Siapa yang menyangkanya, bukan?

"Kalau benar begitu, lalu kita harus bagaimana?" Baekhyun tersenyum lemah. Hari akan terus berlalu dan tak akan terasa jika hari itu semakin dekat. "Aku merindukan mereka." Apa yang akan keduanya lakukan di hari itu dengan fakta.. "Tuan Kris tidak akan membiarkan kita pergi hanya untuk berziarah, bukan?"

Chanyeol terdiam. Itu benar. Kris pasti akan melarang siapapun keluar dari rumah ini. Dan Baekhyun yang berada dihadapannya hanya bisa menghembuskan napas. Mungkin tahun ini ia tidak bisa pergi berziarah. Ia harus meminta maaf kepada kedua orangtuanya yang berada di surga.

"Aku akan memikirkan caranya." Sahut Chanyeol.


Map itu terlempar keatas meja. Dan berserakanlah beberapa foto dari dalam map coklat tersebut.

Kris memilih untuk memandang keluar jendela perusahaannya yang menjulang tinggi. Ia menatap bangunan-bangunan yang tak kalah tinggi dari perusahaannya.

"Maafkan aku, Tuan." Sekretaris Hong membungkukkan badannya dengan hormat. Ia merasa bersalah setelah membuat mood Kris menjadi buruk.

Kris tak menjawab. Ia menyeruput kopi yang berada ditangannya tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari sana.

Dan Sekretaris Hong tahu apa yang tengah dirasakan oleh Tuannya. Bertahun-tahun mengabdi dan menjadi sekretaris setia Kris sudah membuatnya hapal dengan perubahan mood pada pria tersebut. Bahkan sampai hal-hal terkecil.

Akhirnya Kris bersuara. "Katakan padaku, sedekat apa mereka?"

"Akhir-akhir ini mereka memang sangat dekat, tuan. Dan tadi malam, Baekhyun sempat tidur di kamar tuan muda." Jawab Sekretaris Hong.

Sebuah kejutan.

Kris merasa tenggorokannya tercekat. Ia sungguh tidak menyangka jika hubungan mereka berdua telah sejauh itu. Chanyeol yang selama ini ia kenal sudah mulai berubah perlahan-lahan sejak kedatangan Baekhyun.

Ia jadi teringat kejadian semalam dimana adiknya begitu melindungi sang pelayan baru itu. Dan Chanyeol membawa Baekhyun naik ke lantai tiga tempat dimana kamarnya berada. Bagaimana bisa lelaki itu membiarkan seseorang tidur di kamarnya?

Kris menoleh sekilas.

"Ada lagi?"

"Seperti yang tuan lihat dari foto-foto yang saya berikan tadi. Mereka tengah menghabiskan waktu bersama-sama. Sepertinya mereka memiliki sebuah hubungan khusus."

"Cukup. Kau boleh pergi."

Begitu sekretarisnya keluar dari dalam ruangannya, Kris mulai berjalan ke meja kerjanya dan mengambil lembaran foto yang berserakan disana.

Katakanlah bahwa Kris iri saat ini. Melihat keduanya tampak begitu dekat. Dan hanya dirinya yang berada dalam kesepian seperti ini.

Apa ini yang namanya egois jika Kris menginginkan hubungan mereka berdua hancur berkeping-keping?


Siapa sangka jika kini mereka benar-benar menghabiskan waktu bersama-sama. Sejak hari itu, dengan penuh tekad Baekhyun selalu mengajak Chanyeol berbicara dan juga mengajak lelaki itu bermain ataupun hanya sekedar menonton film.

Baekhyun merasa bahwa Chanyeol sangat jauh dari pemikirannya. Chanyeol benar-benar tidak seburuk yang diduga. Ia sungguh dapat mempercayai laki-laki itu. Jadi bahkan berada didekatnya sekalipun, Baekhyun tak merasakan ketakutan lagi.

Hanya saja ada satu masalah. Selama ia berada bersama Chanyeol, ia bisa mengambil kesimpulan bahwa laki-laki itu seperti roller coaster yang dapat membuat jantungnya terus berdebar. Ia harus lebih berhati-hati.

Dan Chanyeol sendiri menikmatinya. Tak ada sesuatu yang tak disukainya saat bersama dengan Baekhyun.

Namun ada kalanya juga mereka akan beragumen kecil seperti saat ini.

"Ah, aku tidak mau main denganmu lagi." Baekhyun menaruh stick game dengan kasar.

Mereka tengah bermain playstation di kamar terlarang. Semua bermula ketika Baekhyun tak sengaja menemukannya di dalam lemari yang ia kira akan berisi dengan puluhan kaset film. Ternyata justru berisi sebuah playstation dan tumpukan kaset game. Dan berakhirlah mereka memutuskan bermain playstation.

"Wae?" Tanya Chanyeol dengan datar.

"Kau curang. Kau selalu menang dariku."

Chanyeol berusaha memberi pembelaan pada dirinya. Tentu itu bukan salahnya jika ia terus menang permainan ini. "Aku tidak curang. Aku memang lebih jago darimu."

"Kalau begitu biarkan aku menang sekali saja."

"Itu curang namanya."

"Kau tidak asik! Egois sekali!" Kesal Baekhyun.

"Apa kau tahu sudah berapa kali kita memainkan ini? 7 kali! Dan kau terus-menerus menang. Apa kau tidak bosan? Kau tidak memiliki sedikit rasa simpati padaku ya?" Baekhyun menyipitkan matanya. "Ini kan hanya game. Kenapa pula kau begitu serius memainkannya sampai tidak membiarkan aku menang sekalipun?"

Baekhyun berkacak pinggang seraya meniup poni yang menutupi dahinya.

"Pokoknya aku tidak mau main lagi denganmu."

Lelaki mungil itu segera bangkit dari duduknya. Namun Chanyeol langsung bergerak menahan lengan laki-laki itu. Dengan sedikit memohon ia berkata, "Ayo kita main sekali lagi. Aku akan membiarkanmu menang."

Chanyeol tidak pernah mengalah sebelumnya. Ayolah, ia selalu ingin memang dalam segala hal apapun itu. Ia ingin menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Ia tidak akan membiarkan siapapun lebih darinya. Namun Baekhyun berhasil membuat Chanyeol merelakan hal itu.

Baekhyun kembali memposisikan dirinya duduk dengan nyaman.

Sejujurnya Baekhyun bukanlah orang yang pemarah hanya karena masalah sepele seperti ini. Ia justru senang bisa menemani tuan mudanya bermain meskipun ia harus rela kalah sedari tadi. Ia senang karena Chanyeol menghabiskan waktunya bukan hanya berdiam diri saja. Ia senang membuat perubahan seperti ini.

Karena itu, ia ingin membuat Chanyeol membiarkannya menang dengan alasan ia ingin Chanyeol belajar untuk mengalah pada orang lain. Ia ingin Chanyeol berbagi kepada orang lain. Tujuan Baekhyun hanya ingin membuat Chanyeol berubah menjadi sedikit manusiawi.

"Wohoooo.. aku menang! Kau lihat? Aku berhasil mengalahkanmu! Yeaayy!" Baekhyun bersorak gembira. Ia menepuk tangannya dengan meriah. Wajahnya tampak berseri-seri dibandingkan sebelumnya.

Chanyeol tahu bahwa ia yang memutuskan mengalah. Ia sengaja memberi kesempatan untuk Baekhyun menyerang nya dalam game itu hingga ia kalah. Kemenangan Baekhyun bukanlah murni dari hasilnya. Jelas-jelas Chanyeol telah mengalah padanya.

Namun melihat bagaimana Baekhyun tengah gembira saat ini membuat Chanyeol tanpa sadar mengembangkan senyuman tipisnya. Baekhyun nampak lucu sekali. Ia jadi merasa bahwa mengalah pada laki-laki itu bukanlah suatu hal yang buruk.

Tanpa sadar tangan Chanyeol bergerak mencubit sebelah pipi Baekhyun dengan gemas. Tak akan ada satupun orang yang tahan melihat betapa manisnya seorang Byun Baekhyun termasuk Chanyeol sekalipun.

Pemilik mata sipit itu terkejut dan muncullah semburat merah di kedua pipi chubbynya. "K-Kenapa kau mencubit pipiku?"

Namun Chanyeol tak menjawab apapun. Ia melepas cubitannya dan bergerak mengusap puncak kepala si mungil sembari berkata, "ayo bermain lagi."

Tetapi juga ada kalanya mereka menghabiskan waktu yang sangat manis dengan perhatian-perhatian kecil satu sama lain. Entah mereka sadar atau tidak jika telah bersikap melindungi satu sama lain.

"Chanyeol-ssi, salju pertama turun!" Baekhyun bersorak riang. Ia memandang keluar jendela kamar terlarang dimana salju yang ditunggu-tunggu akhirnya turun pada hari ini tengah membasahi jalanan.

Chanyeol berjalan mendekat dan ikut melihat salju tersebut disamping Baekhyun. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, akhirnya ia kembali merasa senang melihat salju pertama turun. Karena saat ini ada Baekhyun disampingnya.

"Ayo kita turun melihat saljunya." Baekhyun teramat antusias. Ia segera berjalan ke lemari Chanyeol dan mengambil sebuah mantel musim dingin untuk lelaki itu.

Chanyeol hanya diam menuruti Baekhyun untuk memakai pakaian hangat yang diberikannya.

Terakhir, Baekhyun mengambil syal dan memakaikannya di leher lelaki yang lebih tinggi darinya itu. "Kau tidak boleh kedinginan, tuan muda." Godanya seraya terkekeh pelan. Sementara Chanyeol hanya bisa mengerjap dengan gugup.

Setelah melihat Chanyeol sempurna dengan pakaiannya, ia segera menarik Chanyeol untuk ikut dengannya kebawah. Namun Chanyeol berhasil menghentikan lelaki itu dengan menarik lengan Baekhyun hingga berbalik kearahnya dan hampir saja menabrak dada bidangnya.

"A-Ada apa?"

"Bagaimana bisa kau membuatku tampak kepanasan dengan pakaian tebal ini sementara kau sendiri hanya mengenakan kemeja tipis?"

Chanyeol mengambil sweater hangatnya dan memberikan kepada Baekhyun untuk dipakai. "Setidaknya pakai itu. Baru kita akan keluar melihat saljunya."

Baekhyun segera menurut karena ia sudah tak sabar untuk melihat salju. Iapun memakai sweater biru laut yang diberikan oleh Chanyeol padanya.

Chanyeol memperhatikan lelaki itu dalam diam. Dan ia memutuskan melepas syal yang tadi Baekhyun pakaikan padanya untuk ia pasangkan di leher Baekhyun.

"Kenapa kau memberiku syalnya?"

"Aku ini tahan dingin tidak sepertimu." Gumam Chanyeol pelan.

Baekhyun dibuat tersipu malu. Ia tidak menyangka jika Chanyeol bisa mengetahui hal itu hanya dengan mengamatinya beberapa hari saja.

Mereka pun sama-sama pergi menuju taman belakang. Dan Baekhyunlah yang paling senang begitu melihat salju turun menutupi rerumputan di taman. Sepertinya salju sudah turun pada tengah malam sehingga salju kini telah berhasil menutupi hampir seluruh jalanan.

Baekhyun mendongak membuka mulutnya seraya memejamkan matanya. Menikmati tetesan salju yang turun.

Baekhyun membuka matanya dan sedikit terkejut ketika mendapati Chanyeol tak melakukan apa-apa selain memperhatikannya.

"Kenapa kau memperhatikanku sedari tadi?"

"Memangnya tidak boleh?"

Lelaki bertubuh mungil itu menyipitkan matanya. "Jangan-jangan.. kau suka padaku, ya?" Goda Baekhyun.

"Iya."

Mendadak kedua pipi Baekhyun merona. "A-apa?" Ia tidak menyangka jika Chanyeol akan menjawab seperti itu. Karena niatnyapun memang hanya bercanda saja. Namun melihat wajah serius Chanyeol, Baekhyun tidak tahu apa laki-laki disampingnya ini tengah bercanda juga atau tidak.

Namun Chanyeol mengalihkan pandangannya dan bertingkah seperti tak mengatakan apapun.

Hal itu menjadikan suasana mendadak canggung sebelum Baekhyun berdeham pelan.

"Cobalah!"

Dengan gerakan kaku Chanyeol mencoba ikut membuka mulutnya. Merasakan tetesan salju di lidahnya. "Rasanya aneh."

Baekhyun tertawa renyah melihat ekspresi datar itu. Bagaimana bisa Chanyeol lucu sekali dengan ekspresinya? Apa mungkin karena Baekhyun terlalu gembira saat ini?

Atau bisa saja karena ia selalu menyukai setiap ekspresi Chanyeol.

Haatchiii..

Lelaki mungil itu bersin. Dan sontak Chanyeol bergerak mendekat dengan panik. "Apa kau flu?"

"Tidak. Udaranya sangat dingin saja."

"Apa kau mau masuk ke dalam?"

"Kita baru saja berada disini. Bagaimana bisa kita langsung ke dalam lagi?" Baekhyun menunjukkan raut sedihnya. Namun setelah itu, ia tersenyum manis mencoba menghilangkan kekhawatiran yang tercetak jelas di wajah Chanyeol. "Aku tidak apa-apa."

Tapi Chanyeol tidak bisa membiarkannya begitu saja. Chanyeol bergerak ke arah belakang Baekhyun. Ia mendekap Baekhyun dengan mantelnya dan mengancingi mantel tersebut hingga kini Baekhyun tampak seperti anak kanguru yang berada di kantong ibunya.

"Apa yang kau lakukan?" Baekhyun histeris. Ia sangat terkejut dengan perlakuan Chanyeol. Dan entah sudah semerah apa wajahnya kini.

"Aku hanya ingin membuat kita tidak kedinginan."

"Ta-Tapi aku tidak apa-apa."

"Diamlah."

Apa kini mereka tampak seperti majikan dan pelayan? Tentu saja tidak. Chanyeol selalu berusaha melewati batas itu. Ia ingin menunjukkan bahwa baginya Baekhyun adalah miliknya bukan sekedar seorang pelayan pribadi.

"Chanyeol-ssi?"

Yang dipanggil membalasnya hanya dengan gumaman.

Tetapi Baekhyun tak melanjutkan ucapannya. Ia justru terdiam sesunyi suasana saat ini.

Chanyeol kebingungan. Ia tak mengerti mengapa Baekhyun tidak melanjutkan ucapannya.

"Ada apa?" Tanya Chanyeol.

Namun Baekhyun tak menjawab. Ia terdiam sangat lama hingga Chanyeol menganggap bahwa lelaki itu baru saja mengabaikannya.

Baekhyun menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Wajahnya ia tenggelamkan dibalik mantel hingga kini hanya kedua bola matanya yang terlihat. "Masih dingin." Gumam Baekhyun.

Chanyeol mendengarnya. Ia tersenyum tipis sebelum akhirnya kedua tangannya bergerak memeluk Baekhyun.

Meski Baekhyun bersikeras menolak, namun ia tak bisa berbohong pada dirinya sendiri bahwa ia menyukai kehangatan yang menyelimuti mereka saat ini.

Meski jantungnya berdebar tak karuan dan mungkin ia kesulitan menghirup oksigen karena terlalu gugup, tetapi ia suka berada dalam dekapan lelaki itu.

"Besok.. ayo kita membuat boneka salju."

"Ok."


Kris sudah banyak tahu tentang hubungan Chanyeol dan Baekhyun. Hampir setiap harinya ia mendapat kabar tentang keduanya. Hampir setiap jamnya ia menyaksikan kedekatan mereka berdua. Sudah lebih dari cukup semua itu.

Dan kini ia juga harus menyaksikan adegan bermesraan adik kandungnya dengan seorang pelayan dari balik jendela kamarnya. Apa-apaan ini? Bukankah ini terlalu berlebihan?

Kris bertemu dengan Chanyeol tanpa sengaja di tangga lantai dua. Ia bertujuan untuk pergi kelantai satu sementara Chanyeol ingin ke kamarnya yang berada di lantai tiga. Akhir-akhir ini Chanyeol memang lebih sering terlihat diluar ruangan. Ia sudah tak terlalu sering berada di kamarnya lagi.

Chanyeol berjalan mengabaikan keberadaan kakak kandungnya. Ia hanya tidak ingin adanya pertengkaran lagi. Namun ucapan Kris berhasil menghentikan langkahnya.

"Aku tidak menyangka jika kau sedekat itu dengan pelayan tersebut." Kris menatap Chanyeol seraya bersedekap. "Apa kalian berpacaran?"

Chanyeol meliriknya tajam. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Apa kau perlu mengetahuinya?"

"Aku hanya bertanya saja." Kris mengedikkan bahunya bersikap tak peduli. Bohong sekali.

"Apa kau berniat menyakiti Baekhyun seperti dulu kau menyakiti'nya'?" Sarkas Chanyeol. Lelaki itu tersenyum miring menatap Kris dengan wajah mengejek.

Kris terlihat sangat santai menanggapinya. "Kau ingin aku melakukan itu?"

"Berani kau melakukannya, aku akan membunuhmu."

"Kau ketakutan, Chanyeol." Kris terkekeh pelan melihat rahang Chanyeol yang mengeras menandakan bahwa lelaki tersebut tengah marah setelah mendengar perkataannya.

"Tenang saja. Aku tidak akan menyakiti Baekhyunmu."


Baekhyun kembali dibuat dilema saat ini. Memikirkan kedekatan mereka akhir-akhir ini membuat perubahan yang sangat drastis baik sifat Chanyeol maupun hubungan mereka berdua. Mereka lebih dekat dibandingkan saat pertama bertemu. Mereka lebih terbuka dibandingkan saat pertama berbincang. Mereka lebih saling membutuhkan dibandingkan biasanya.

Dan hubungan mereka yang seperti ini nyatanya juga membuat perubahan drastis pada perasaan Baekhyun. 'Apa aku sudah gila?' Kalimat itu lah yang terus terputar diotaknya.

Baekhyun menenggelamkan wajahnya diatas bantal. 'Pasti aku sudah gila.'

Rasanya ia mulai tak dapat berpikir jernih. Meskipun berulang kali ia berkata dalam hatinya untuk bersikap biasa saja, tetapi kerja tubuhnya tak mau mendengarkannya. Reaksi tubuhnya selalu berkata lain.

"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Suara Yeri membuat Baekhyun menoleh sejenak.

Baekhyun menghembuskan napasnya kasar dan menggeleng pelan sebelum akhirnya kembali menenggelamkan wajahnya.

"Kenapa wajah oppa kusut seperti itu? Ceritakan saja padaku."

Tidak. Mana mungkin Baekhyun bisa menceritakan hal ini kepada orang lain. Ia pasti sudah tidak waras. Orang-orang akan menganggapnya aneh atau sejenisnya.

"Karena tuan muda?" Tanya Yeri tiba-tiba.

Tubuh Baekhyun menegang mendengar sebutan itu. Ia langsung bangkit duduk dan menggeleng cepat. "T-Tidak. Bukan karena dia!"

Yeri menyipitkan matanya dan meneliti wajah Baekhyun cukup lama. "Ah.. jadi karena tuan muda ya." Meskipun Baekhyun mengelak, namun sepertinya Yeri tahu apa yang tengah melanda perasaan lelaki itu.

Baekhyun menghembuskan napasnya dengan kasar. Bagaimana bisa Yeri tahu?

Gadis cantik itu memusatkan seluruh perhatiannya kearah Baekhyun. "Apa oppa tengah dilema saat ini?"

"Perasaan aneh apa ini? Tidak mungkin seperti yang kuduga, bukan? Haruskah aku membiarkan perasaan ini atau tidak?"

"Apa oppa tengah merasakan perasaan seperti itu?" Lanjut Yeri.

Kedua bola mata Baekhyun membulat tak percaya. "Kau! Bagaimana kau bisa tahu?" Seru Baekhyun. Lelaki itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Apa kau peramal?"

Yeri berdecak pelan. "Semua itu tertulis jelas di dahimu, oppa."

"Benarkah?" Baekhyun sontak menutupi dahinya. Dan Yeri hanya menanggapinya dengan gelengan kepala. Lelaki itu tidak terlihat lebih tua darinya saat ini. Sepertinya cinta memang bisa membuat seseorang menjadi aneh seperti sikap Byun Baekhyun saat ini.

"Sekarang cepat ceritakan padaku!"


Bercerita kepada Yeri memang sedikit membantu. Ia merasa bebannya sedikit hilang. Ia merasa lebih lega karena ia memiliki seseorang yang menjadi tempat curhatnya. Namun yang harus ia sesali dari bercerita pada gadis itu adalah, gadis itu tidak memberinya solusi apapun.

Jadi disinilah Baekhyun berada. Dengan segala perasaannya yang bercampur aduk dan usaha mencoba untuk bersikap seperti tak pernah ada terjadi pergulatan di hatinya. Ia akan melewati semua ini sendirian.

Kali ini mereka memutuskan hanya akan menonton televisi di kamar terlarang. Baekhyunlah yang paling bersemangat. Ia langsung mengambil posisi duduk dan mengganti channel tv hingga berhenti pada sebuah channel musik. Oh tentu saja ia ingin menunjukkannya kepada Chanyeol. Ia ingin mengetes apakah Chanyeol mengetahui girl dan boygroup korea yang cukup populer.

Chanyeol mendudukkan tubuhnya disebelah kanan Baekhyun. Dan hanya diam memperhatikan apa yang tengah Baekhyun lakukan.

"Chanyeol-ssi, kau tahu lagu ini?"

Chanyeol diam mencoba mendengarkan lagu bergenre electronica yang tengah diputar di televisi. "..Tidak."

"Mwo? Benarkah? Padahal lagu ini terkenal." Baekhyun bersenandung mengikuti alunan musik. "Pick me pick me up~" Dan tanpa sadar ia ikut menggerakan tangannya menarikan tarian tersebut.

"Chanyeol-ssi, aku akan mengajarimu tariannya." Ia memutar tubuhnya menghadap kearah Chanyeol.

"Ikuti aku."

Pick me- Pick me- Pick me up~

Baekhyun mulai menggerakkan kedua tangan ke tubuhnya seperti para gadis-gadis di layar televisi tersebut. Baekhyun tampak bersemangat melakukannya. Tetapi berbalik dengan Chanyeol yang hanya diam memperhatikan. Sang tuan muda tampaknya enggan melakukan tarian aneh tersebut.

"Kau tak asik." Baekhyun mendengus pelan.

Lalu ia kembali membenarkan posisi duduknya. Dan kali ini ia mengganti channel yang tengah menayangkan sebuah drama yang diperankan oleh Ji Chang Wook. Drama itu cukup terkenal dan tak jarang terkadang Baekhyun mendengar para pelayan membicarakan betapa tampannya seorang Chang Wook dalam drama itu.

"Wuahh.. dia tampan sekali." Gumam Baekhyun.

Chanyeol memperhatikan lelaki disampingnya yang tengah menatap ke layar tv dengan pandangan memuja. Baekhyun seakan-akan tenggelam dalam drama itu. Atau tepatnya ketampanan dari sang aktor. Dan Chanyeol tak suka melihatnya.

"Siapa?"

"Dia. Ji Chang Wook." Tunjuk Baekhyun pada layar tv.

"Ji Chang Wook?" Chanyeol memandang tajam pada layar tv. Rasanya ia ingin menghancurkan benda itu. Melihat wajah aktor itu membuatnya ingin menghajar wajah pria tersebut. Bagaimana bisa dengan mudahnya aktor itu mengambil seluruh perhatian Baekhyun saat ini? Chanyeol sangat tidak terima.

"Dia benar-benar keren.." Gumam Baekhyun.

Lihatlah bagaimana tatapan berbinar Baekhyun saat memandang aktor tersebut. Bahkan Chanyeol tidak pernah ditatap seperti itu olehnya. Cukup sudah. Chanyeol tak bisa lagi menahannya. Ia tidak suka bagaimana cara Baekhyun menatap pada aktor yang ada di tv itu.

Chanyeol menarik remote tv yang ada pada Baekhyun dan segera mematikan layar tv. Membuat Baekhyun sontak protes tak terima. Ia tengah memperhatikan aktor tampan tersebut, mengapa Chanyeol bersikap seperti ini tiba-tiba?

"Mengapa kau mematikannya?"

"Kau tidak boleh menontonnya." Jawab Chanyeol datar.

Baekhyun mengerutkan dahinya kebingungan. "Waeyo?" Mengapa tiba-tiba ia tidak diperbolehkan menonton? Bukankah tadi baik-baik saja?

"Pokoknya tidak boleh."

'Ada apa sih?' Baekhyun tak mengerti mengapa Chanyeol bersikap seperti ini. "Tolong kembalikan remotenya, Chanyeol-ssi." Namun yang jelas Baekhyun ingin menonton drama tersebut. Ia ingin melihat akting aktor pria itu.

"Tidak akan."

Baekhyun menyodorkan tangannya. "Kembalikaan.."

Entah mengapa saat ini Chanyeol seperti anak kecil yang tengah merajuk. Lelaki tersebut menggeleng-geleng seraya mengangkat tinggi-tinggi tangannya yang memegang remote hingga Baekhyun kesulitan meraihnya.

"Aish. Sebenarnya ada apa denganmu?"

Baekhyun terus mencoba meraih remote itu kembali. Namun Chanyeol bangkit berdiri dan semakin meninggikan tangannya. Mengingat perbedaan tubuh Baekhyun yang sangat jauh dengan Chanyeol, membuat lelaki mungil itu berdiri diatas sofa dan berusaha mengambil remote tersebut dari tangan Chanyeol.

Namun siapa sangka jika pergerakan Chanyeol yang menjauh tiba-tiba membuat Baekhyun yang hampir saja meraih remote itu harus kehilangan keseimbangan dan terjatuh..

"Kyaa!"

..Kepelukan Chanyeol.

Baekhyun mengerjapkan matanya. Beruntung Chanyeol dengan sigap berhasil menangkapnya agar tak terjatuh.

Namun posisi Chanyeol yang memegang erat pinggang Baekhyun dan kedua tangan si mungil yang bertumpu pada bahu Chanyeol membuat suasana mendadak canggung. Mereka hanya saling menatap cukup lama.

Jantung Baekhyun berdegup kencang. Ia mengumpat dan menyumpahi degupan tersebut yang semakin menggila ketika Chanyeol berkata,

"Kau ingat? Terakhir kali kita berebut benda, apa yang terjadi setelahnya?" Ucap Chanyeol seraya tersenyum dengan sangat tampan. Saat ini Chanyeol tengah menggodanya!

Kedua bola mata milik Baekhyun membulat. Pipinya merona merah membayangkan kejadian itu lagi. Bagaimana bisa Chanyeol mengungkitnya? Dan.. mengapa saat ini senyuman yang lelaki itu berikan terlihat jauh beribu kali lipat lebih tampan dari senyuman tipis biasanya?

Tunggu. Apa laki-laki dihadapannya ini akan mengulangi hal yang sama saat ini dengan yang waktu itu?

Sepertinya benar hal itu akan terjadi lagi. Chanyeol mengeratkan pegangannya pada pinggang ramping Baekhyun. Ia membawa tubuh Baekhyun lebih mendekat padanya sampai tidak ada lagi jarak yang tersisa. Ia mendekatkan wajahnya pada Baekhyun.

Lelaki mungil itu segera memejamkan matanya erat-erat. Otaknya sulit bekerja dengan cepat. Seharusnya ia melakukan sesuatu bukannya pasrah dan memejamkan mata sembari menunggu bibir itu akan menyentuhnya. Ia pasti sudah gila sekarang.

Bibir tebal itu terus bergerak mendekat. Chanyeol memperhatikan wajah cantik Baekhyun dari jarak sedekat ini. Lelaki itu tersenyum kecil sebelum kembali mengikis jaraknya. Bibirnya terus mendekat dan hampir saja bersentuhan dengan milik Baekhyun jika saja sebuah suara tidak tiba-tiba muncul.

"Permisi-oh astaga."

Kedua mata Baekhyun mendadak terbuka lebar. Otaknya tiba-tiba jernih kembali. Ia segera mendorong tubuh Chanyeol menjauh darinya. Baekhyun menoleh menatap pada pengawal yang berada diambang pintu dan tak sengaja menyaksikan hal yang seharusnya tak ia lihat.

"S-Saya ingin membetulkan pintu ini. M-Maafkan saya. Saya tidak tahu jika.."

Chanyeol hanya memandang pengawal tersebut dengan datar. Ia bersikap seperti tidak ada yang terjadi. Jauh didalam lubuk hatinya, ia ingin sekali menggebrak meja dan membakar hidup-hidup pengawal yang baru saja masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Karena.. oh sialan. Pengawal itu baru saja merusak suasana!

Mengapa tidak dari kemarin-kemarin pengawal itu membetulkan pintunya?!

Sementara Baekhyun sendiri memilih menundukan kepalanya dalam-dalam dan menggigit bibir bawahnya. Ia berusaha menyembunyikan wajah memerahnya yang menahan malu. Rasanya ia ingin menenggelamkan dirinya di sungai Han saat ini. Ia sungguh malu untuk sekedar mengangkat wajahnya.

"K-Kurasa aku harus pergi sekarang." Ucap Baekhyun dengan gugup. "P-Permisi." Tanpa mengangkat wajahnya, ia membungkukkan badannya kepada Chanyeol dan segera menghilang dari kamar tersebut.

Baekhyun terlalu malu dengan semua ini. Apa yang baru saja terjadi beberapa menit yang lalu? Apa yang baru saja akan mereka lakukan?

.

.

.

.


{ To Be Continued }


9k words..

Hai semuanya muehehe..
Maaf atas keterlambatannya. Seharusnya sih minggu lalu ff ini udah selesai dan bisa di publish. Tapi pas aku cek lagi gak tau kenapa aku ngerasa tulisanku aneh banget. Jadi karena itulah, aku memutuskan untuk.. ngetik ulang.. tapi kayaknya masih aneh:(

Bbh lagi galau nih, readers. Dia sedang dilema karena dia kayaknya suka sama pcy. Kira-kira alasan dilemanya karena apa ya? Wkwk

Maaf apabila momen chanbaeknya masih sedikit. Karena guys, aku gak pandai bikin romance wkwk kenyataannya ngetik krisyeol momen lebih gampang dari chanbaek. Yatuhan.. wkwk Dan aku juga gak mau terlalu banyak naruh momen chanbaek karena aku harus fokus juga sama jalan ceritanya. takutnya jadi gak nyambung sama cerita hehe

Oh iya, katanya krisyeol mirip ya sama cerita naruto(?) Itachi sama sasuke ya kalo gak salah wkwk aku gak tau mirip dibagian mananya karena aku gak pernah nonton naruto heuheu

Ada juga yang bilang kayak beauty and the beast wkwk Mungkin karena sama2 tinggal disebuah tempat yang gak pernah dikunjungin orang(?) Yaitu tempat terlarang. Trus mereka juga sama2 terkurung yang satu karena fisik yang satu karena mental wkwk dan akhirnya datanglah seorang princess yang mengetuk pintu hati mereka eaaakk wkwk tapi jujur aja ff ini gak terinspirasi dari cerita manapun. Semuanya berasal dari imajinasiku sendiri muehehe

Kayaknya ada juga yang req cinta segitiga ya?

...

...
Wkwkw

Selalu seperti biasanya.. Terima kasih kepada kalian semua yang telah setia menunggu.. Terima kasih kepada yang sudah fav/foll/review. Terakhir, kritik dan saran yang membangun akan selalu aku terima dengan senang hati. Sampai jumpa!