DO NOT ENTER ! (CHANBAEK)
BOYSLOVE/YAOI
Main Cast :
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Summary :
Jangan masuk ke dalam sana! Tidak ada yang diperbolehkan masuk ke dalam sana! Larangan tersebut telah diketahui oleh setiap penghuni rumah. Namun Byun Baekhyun, laki-laki yang mendadak menjadi seorang penyusup telah melanggarnya.
~Keseluruhan cerita berasal dari imajinasiku sendiri~
.
.
BB922016
Do Not Enter ! : Chapter 6
Baekhyun segera mengambil langkah seribu dari kamar tersebut. Lelaki itu terduduk di kamarnya sendiri dengan pandangan menerawang. Ia menampar kedua pipinya berulang kali mencoba menyadarkan dirinya atas apa yang baru saja terjadi.
Matanya terpejam dengan frustasi ketika ia mencoba me-reka ulang kejadian tersebut di dalam kepalanya.
Saat itu ia berada di pelukan Chanyeol.
Lalu.. lelaki itu..
"Apa yang berusaha laki-laki itu lakukan padaku?" Baekhyun bergumam pada dirinya sendiri.
Astaga! Dan juga apa yang berusaha ia coba lakukan? Mengapa ia memejamkan matanya saat itu dan bukannya memberi perlawanan? Sebenarnya apa yang terjadi pada reaksi tubuhnya? Mengapa tubuhnya sangat berlawanan dengan pikirannya?
Jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelum-sebelumnya. Ini terasa gila. Dan yang lebih aneh, ia seharusnya bersyukur kepada pengawal tersebut. Pengawal itu berhasil menghentikan hal yang tak di inginkan terjadi. Tetapi mengapa ada rasa sedikit kecewa dalam hatinya? Apa yang sebenarnya ia harapkan?
Dan kini ia dibuat bertanya-tanya. Mengapa Chanyeol melakukan hal itu? Mengapa Chanyeol berusaha menciumnya? Mereka bukanlah jenis orang yang saling menyukai. Mereka juga bukanlah sepasang kekasih. Mereka hanya sebatas majikan dan pelayan. Lalu mengapa mereka harus berada di posisi seperti ini?
Baekhyun masih bisa mengerti jika Chanyeol mengeluh padanya. Itu karena lelaki tersebut membutuhkan sandaran. Ia masih bisa mengerti jika Chanyeol terlihat nyaman bermain dengannya. Itu karena lelaki tersebut membutuhkan seorang teman. Ia masih bisa mengerti dalam beberapa hal.
Tetapi untuk kali ini.. pikiran Baekhyun buntu. Apa sang tuan muda menyukainya? Tetapi tidak mungkin seorang psikopat bisa menyukai seseorang, bukan? Sepertinya begitu. Atau.. entahlah. Baekhyun tak tahu.
"HA!"
"Astaga!"
Yeri berteriak seraya menepuk pundak Baekhyun tiba-tiba mengakibatkan reflek yang cukup mengejutkan dari lelaki itu.
Yeri terkekeh pelan dan mengambil posisi duduk di sampingnya. "Apa yang sedang oppa lamunkan?" Sedari tadi gadis itu memperhatikan dari jauh, lelaki itu nampaknya tengah banyak pikiran.
"T-Tidak ada."
Yeri menyipitkan matanya meneliti tatapan mata Baekhyun yang nampak tak fokus. Terlebih lagi melihat kedua pipi lelaki tersebut yang merona merah membuat semuanya terasa semakin mencurigakan.
"Lalu mengapa kedua pipi oppa memerah seperti itu?" Tanya Yeri dengan kedua matanya yang terlihat mengintimidasi.
Tangan mungil Baekhyun segera bergerak menutupi kedua pipinya. Ia menggeleng dengan cepat. Berusaha mengatakan bahwa tak ada yang perlu di khawatirkan ataupun ditanyakan lagi. Ia baik-baik saja.
Namun Yeri sangat sulit untuk dibohongi. Ia jelas bisa mengetahui bahwa ada sesuatu yang terjadi pada lelaki tersebut. Dan hal itu semakin membuatnya penasaran. "Katakan saja padaku apa yang sedang oppa pikirkan." Bujuknya.
Namun Baekhyun masih enggan berbicara.
"Kulihat oppa habis dari kamar tuan muda. Apa terjadi sesuatu diantara kalian tadi?" Yeri terus saja mencoba memancing Baekhyun untuk berbicara. "Sejauh apa hubunganmu dengannya, oppa? Apa kalian sudah berciuman? Jangan-jangan.. kalian juga sudah tidur bersama."
Baekhyun berpura-pura tak mendengar apapun. Dengan kedua tangannya, ia bergerak menutupi telinga dan memejamkan matanya.
"Ah, aku baru ingat. Waktu itu oppa tidak tidur bersama kami. Dimana lagi oppa bisa tidur sementara tuan muda membawamu bersamanya." Yeri menaik-turunkan alisnya dengan senyuman lebar diwajahnya. Benar-benar menyebalkan bagi Baekhyun.
"Hentikan Yeri!"
"Aahh.. Jangan bilang padaku, bahwa kedua pipi oppa memerah karena tuan muda melakukan sesuatu padamu."
"Aarghh.." Baekhyun dibuat kesal sendiri. Ucapan Yeri memperburuk keadaannya. Kini wajahnya sudah semerah tomat. Ia tidak mampu untuk berkata-kata lagi. Reaksi tubuhnya tidak mau mendengarkannya.
Yeri terkekeh pelan karena berhasil menggoda lelaki itu. Ya ampun, ia tidak mengerti mengapa bisa semenyenangkan ini menggoda seorang Byun Baekhyun.
Namun Yeri tak ingin bertanya lebih jauh. Ia bisa memahami bagaimana perasaan Baekhyun. Jadi ia hanya berkata, "Apa hatimu bergetar, oppa?"
"Jika iya, mungkin kau harus sering menanyakan hatimu." Lanjutnya.
Yeri cukup mengerti jika teman sekamarnya ini nampak tengah dilanda perasaan aneh dan dibuat dilema berkali-kali.
Yeri juga bisa mengerti betapa kerasnya seseorang yang sehat-sehat saja menolak untuk memiliki perasaan kepada seseorang dengan masalah gangguan jiwa yang cukup serius.
Tak ada yang bisa dipaksakan. Tidak ada satupun orang didunia ini yang ingin jatuh cinta kepada seorang psikopat, bukan? Serupawan apapun. Sesempurna apapun. Tak akan ada. Termasuk Baekhyun sendiri.
"Oppa bisa berada disini dulu. Lagipula tidak ada yang harus oppa kerjakan, bukan?" Yeri bangkit dari duduknya dan tampak tengah merapihkan penampilannya. "Kalau begitu aku pergi dulu."
Yeri tersenyum dan segera menghilang dari pandangan Baekhyun. Lelaki itu langsung menghela napasnya dengan berat ketika tak mendapati seorangpun didalam kamar kecuali dirinya sendiri.
"Ah.. sebenarnya ada apa denganku?"
Baekhyun mengacak rambutnya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya lagi. Ia masih ingat dengan jelas bahwa ia dan Chanyeol pernah berciuman sebelumnya. Saat pertama kali mereka bertemu.
"Ya, kita sudah pernah melakukannya. Lalu kenapa aku merasa seperti ini?" Namun saat ini semuanya terasa berbeda.
"Bahkan saat itu aku.. tidak malu sama sekali." Ia meremas rambutnya dengan frustasi.
Baekhyun menidurkan tubuhnya diatas tempat tidur dan menutup wajahnya menggunakan bantal. Baekhyun dibuat pusing sendiri dengan sikapnya.
Tetapi seharusnya Baekhyun tidak menyingkirkan pemikiran bahwa saat itu, ia nampak biasa saja karena amat jelas bahwa ia tak memiliki perasaan apapun. Jauh berbeda dengan yang ia rasakan sekarang.
Andai saja kali ini ia bisa meminta bantuan Yeri lagi untuk memanggil Chanyeol sarapan. Baekhyun masih tak sanggup bertemu dengan laki-laki itu. Karena sampai saat ini, hanya menyebutkan nama laki-laki itu saja sudah membuat jantungnya berdetak tak karuan. Ini semua semakin menjadi aneh.
"Permisi." Baekhyun mengetuk pintu kamar Chanyeol dan setelahnya melangkah masuk ke dalam kamar tersebut.
Ia mendapati Chanyeol yang tengah menatap ke luar jendela seperti yang biasa dilakukannya setiap hari. Mungkin tanpa disadari hal itu telah menjadi hobinya.
"Chanyeol-ssi, sudah waktunya sarapan." Ucap Baekhyun seraya memandang kearah lain.
Setelah apa yang terjadi kemarin, kini ia tak bisa menatap tepat ke arah lelaki tersebut terutama matanya. Tidak boleh, itu berbahaya.
Chanyeol menoleh. Dan ia langsung mengerutkan dahinya begitu melihat Baekhyun. Tatapannya mendadak berubah khawatir.
"Ada apa denganmu?" Tanya Chanyeol.
Tentu saja Chanyeol khawatir. Ia mendapati sang pelayan kesayangannya menggunakan masker mulut saat ini.
Mengapa lelaki itu memakai benda tersebut?
Chanyeol berjalan mendekat pada Baekhyun. "Apa kau sakit?"
Chanyeol berpikir mungkin saja Baekhyun terserang flu karena udara sudah semakin dingin, terlebih lagi kemarin mereka sempat bermain salju di taman belakang. Ia akan merasa bersalah sekali jika hal itu sampai terjadi.
"Aku baik-baik saja."
Baekhyun sontak mundur beberapa langkah mencoba untuk membuat jarak diantara mereka seraya melambaikan tangannya dan menggeleng pelan.
Baekhyun hanya tidak ingin membuat Chanyeol khawatir. Karena sepertinya lelaki itu akan terus berjalan mendekat jika Baekhyun tak menjauh.
Akhirnya Chanyeol berhenti. Namun tatapannya masih terlihat khawatir. "Lalu mengapa kau memakai masker?" Pandangannya bahkan tak lepas dari lelaki mungil tersebut. Ia menuntut Baekhyun untuk menjawab yang sejujurnya.
Mata Baekhyun bergerak-gerak melirik ke arah lain. "Aku sungguh tidak apa-apa. Jangan khawatir."
Sesungguhnya Baekhyun memakai masker mulut pada hari ini karena usul dari Yeri. Gadis itu mengatakan padanya, "Pakai saja maskerku jika wajah oppa masih memerah saat bertemu dengannya."
Baekhyun juga tak mengerti dengan kedua pipinya yang mendadak selalu merona hanya karena mendengar nama Chanyeol atau bahkan membayangkan wajahnya. Terlebih lagi saat ini ia berhadapan langsung dengan lelaki itu. Bayangkan saja semerah apa wajahnya kini.
Jadi mau tak mau, ia memakai masker mulut saat ini. Karena jika saja ia tak memakai masker tersebut, mungkin ia akan malu setengah mati dengan wajah yang telah merah sepenuhnya.
Namun sepertinya Chanyeol tak mengerti bahwa Baekhyun tengah berdebar saat ini. Chanyeol tak tahu bahwa Baekhyun bahkan sampai berusaha menahan napasnya karena terlalu gugup dengan jarak mereka saat ini. Chanyeol sama sekali tak paham dan malah menangkup kedua pipi Baekhyun.
"Kenapa kau tidak menatapku?"
Membuat lelaki mungil itu sontak membulatkan mata sipitnya. Lututnya mendadak lemas. Mengapa Chanyeol melakukan ini padanya? Tidak boleh seperti ini. Ia bahkan belum bisa menemukan jawaban atas perasaan anehnya, dan lelaki itu justru menambah beban pikiran untuknya.
Dengan perasaan yang bercampur aduk, Baekhyun segera mendorong tubuh Chanyeol.
"Aku baik-baik saja!"
Setelahnya Baekhyun langsung melarikan diri. Ia tidak bisa bertahan lebih lama lagi bersama dengan Chanyeol. Karena entah mengapa, ia mulai merasa bahwa dirinya semakin jauh lebih aneh. Karena sesungguhnya ia mengharapkan jarak yang lebih dekat dengan lelaki itu.
Sementara Chanyeol, hanya menatap kepergian Baekhyun dengan tanda tanya yang besar. Sikap Baekhyun sungguh berubah drastis hari ini. Apa laki-laki itu berusaha menjauhinya? Apa laki-laki itu berusaha menghindarinya? Tapi mengapa? Chanyeol kira mereka baik-baik saja.
Hari ini Chanyeol merasa lebih tenang karena ia menyantap makanannya tanpa kehadiran Kris di ruang makan. Pria tersebut telah lebih dulu pergi ke kantor dengan terburu-buru. Sepertinya ada hal penting yang harus dikerjakan.
Chanyeol duduk dengan nyaman menunggu sarapannya datang.
Ia memperhatikan ketika para pelayan berjalan mendekat membawa sajian makanan. Sebenarnya, ia tengah memperhatikan satu-satunya lelaki diantara para pelayan tersebut.
Menyadari tatapan intens dari sang tuan muda, Baekhyun segera menunduk. Mencoba untuk fokus pada pekerjaannya dan mengabaikan teriakan dalam hatinya yang menyerukan bahwa seorang Park Chanyeol tengah memperhatikannya sedari tadi.
Pelayan-pelayan tersebut maju satu per satu untuk menyajikan hidangan di atas meja. Gilirannya Baekhyun, ia nampak gugup karena tatapan Chanyeol terasa seperti menelanjanginya.
Chanyeol sendiri berpikir mengapa Baekhyun nampak berusaha mengabaikannya. Seingatnya, Baekhyun lah yang pertama kali mengajaknya untuk saling mengenal satu sama lain. Saling berbagi satu sama lain. Dan karena Chanyeol merasa diberi peluang, tentunya ia tak menyia-nyiakan hal tersebut. Ia selalu berusaha mengikis jarak diantara mereka perlahan-lahan. Tetapi ia tak mengerti mengapa Baekhyun tiba-tiba seperti ini. Apa lelaki itu mulai merasa tak nyaman dengannya?
Chanyeol merasa harus memastikannya. Ia tidak ingin Baekhyun tiba-tiba menjauhinya tanpa alasan seperti ini.
"Temani aku makan."
Ucapan tiba-tiba Chanyeol ternyata membuat Baekhyun mendadak kehilangan fokusnya.
"N-Ne?" Pikiran lelaki itu buyar seketika. Dan tanpa sengaja, ia menjatuhkan mangkuk berisi sup panas yang dipegangnya.
PRANGG..
"Aww.."
Mangkuk itu jatuh ke lantai hingga pecah.
Beruntung hanya sebagian tangannya yang terkena sup panas tersebut. Dan beruntung saja tangannya tidak melepuh. Hanya saja kulitnya memerah.
Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Baekhyun, kau harus sadar. Ia hanya memintamu menemaninya makan. Bukankah kau sudah terbiasa mendengar hal itu? Lalu mengapa hari ini kau nampak berbeda? Mengapa reaksimu sebegitu hebohnya? Mengapa kau mulai menganggap semua yang Chanyeol katakan sebagai sesuatu yang istimewa?
Semua para pelayan terkejut. Termasuk Chanyeol yang berada tepat disampingnya. "Baek, kau baik-baik saja?" Chanyeol bermaksud bangkit dari duduknya untuk menolong lelaki mungil tersebut. Namun sebuah suara membuat pergerakan Chanyeol terhenti.
Seorang juru masak tiba-tiba mendekat kepada Baekhyun dan memarahinya. "Apa kau tidak bisa melakukan hal dengan benar?"
Wanita tersebut berkacak pinggang sementara Baekhyun segera menundukkan kepalanya. Ia tahu semua adalah salahnya. Sebelumnya, sang juru masak juga telah memarahinya yang terus-menerus melamun di dapur. Dan kini.. ia justru menumpahkan sup yang seharusnya menjadi hidangan spesial untuk tuan muda.
Entah mengapa Baekhyun jadi lebih mudah kehilangan fokus saat ini.
"Maafkan saya." Baekhyun membungkukkan badannya kepada juru masak dan juga Chanyeol. Ia malu sekali.
"Kalau kau tidak bisa melakukan sesuatu dengan benar, lebih baik kau tidak usah berada disini!"
Chanyeol menatap wanita beralis tebal itu dengan tatapan tajam sedari tadi. Dan ia rasa ia tak bisa menahannya lagi. Tangannya mengepal dengan kuat. Bagaimana bisa orang ini dengan beraninya mengatakan hal seperti itu kepada Baekhyun-nya? Bahkan tepat dihadapan Chanyeol sendiri. Apa orang ini telah bosan hidup?
Chanyeol merasa sangat marah terlebih lagi Baekhyun terus saja mengatakan kata maaf pada juru masak tersebut. Chanyeol tidak bisa tinggal diam saja.
"Hei kau." Panggil Chanyeol dengan suara beratnya. Lelaki itu bangkit dari duduknya dan mengambil sebuah garpu. Ia memainkan garpu tersebut dengan kedua tangannya.
Seketika Juru masak itu menoleh kearah Chanyeol dengan wajah yang berubah cerah. Padahal sebelumnya, wajah wanita itu tampak galak dengan dahi yang berkerut.
"Ada apa tuan muda? Apa ada yang tuan perlukan?"
"Taruh tanganmu diatas meja." Chanyeol mengetuk meja makan dengan garpu tersebut.
"N-Ne?" Juru masak itu bingung.
Chanyeol meliriknya kembali dengan tajam. Chanyeol tidak akan mengulangi perkataannya.
Seakan mengerti dengan tatapan Chanyeol yang memerintah, meskipun wanita tersebut tak mengerti apapun, namun ia segera menaruh telapak tangannya diatas meja. Sembari bertanya-tanya dalam hati mengapa sang tuan muda menyuruhnya melakukan hal ini.
Tuan muda yang diagung-agungkan dan dipuja parasnya oleh setiap orang itu tersenyum miring memperhatikan tangan milik juru masak yang sepertinya tercipta untuk membuat makanan terbaik dirumah ini.
Akan tetapi Chanyeol rasa, sepertinya akan sangat menarik apabila tangan itu tak dapat digunakan lagi.
Dan saat itulah, Chanyeol menusuk sebelah punggung tangan sang juru masak dengan garpu yang ia pegang.
"Aaakhhh..!" Sontak juru masak itu menjerit kesakitan.
Semua orang menutup mulut mereka dan menahan napas melihat kejadian itu. Mereka semua dibuat merinding. Tak ada yang menyangka mereka akan menyaksikan hal ini secara langsung.
Kejadian itu sangat cepat dan Chanyeol melakukannya dengan kasar.
Baekhyun sendiri sudah dibuat membelalak tak percaya. "Park Chanyeol!"
Baekhyun tak bisa menahan rasa terkejutnya melihat apa yang baru saja dilakukan Chanyeol dan bagaimana tatapan lelaki itu yang nampak puas saat mendengar betapa histerisnya teriakan sang juru masak. Chanyeol bahkan mengabaikan panggilannya.
Lelaki psikopat itu memang memasang wajah datar tetapi tatapan matanya memancarkan api yang menyala-nyala. Melihat betapa kesakitan sang juru masak itu membuat Chanyeol dengan sengaja semakin menekan garpu tersebut lebih dalam. Memberikan luka yang lebih sakit dan perih kepada juru masak tersebut. Tak mempedulikan darah yang perlahan mulai mengalir dari punggung tangan wanita itu atau bahkan sekedar air mata yang menetes menahan sakit.
"Akkhh.. T-Tuann.."
"Chanyeol hentikan!" Baekhyun terlihat sangat marah. Ia sangat kecewa melihat Chanyeol menyakiti seseorang tepat di hadapannya sendiri.
Tetapi Chanyeol tak berhenti sampai disitu. Tidak mungkin hanya seperti itu saja. Karena seseorang yang berhasil membuat Chanyeol marah tak akan pernah ia beri ampun.
Chanyeol bergerak mencengkram kerah sang juru masak tersebut.
"Park Chanyeol!" Teriak Baekhyun frustasi. Chanyeol harus berhenti sekarang juga.
Dan saat itu atensi Chanyeol perlahan bergerak kearah Baekhyun yang menatapnya dengan ekspresi marah dibalik masker yang dikenakan. Baekhyun lantas menggelengkan kepalanya menyuruh Chanyeol untuk tidak melakukan hal lain yang lebih dari ini. Sudah cukup.
Pada akhirnya Chanyeol mengalihkan pandangannya dari Baekhyun dan menghela napasnya dengan berat.
Ia mengalah.
"Hari ini adalah hari keberuntunganmu. Kau mengerti?" Chanyeol melepas cengkraman pada kerah sang juru masak dan melempar tubuh tersebut hingga terjatuh. Jika saja Baekhyun tak berusaha begitu keras untuk menghentikannya, mungkin nyawa wanita itu telah melayang.
"Berterima kasihlah kepada Baekhyun."
Chanyeol kembali duduk dengan tenang seakan tak ada hal menegangkan yang baru saja terjadi. Begitu sang juru masak mengucapkan puluhan kata terima kasih, para pelayan lain bergegas membawanya pergi dari ruang makan untuk diobati.
Meninggalkan Baekhyun yang tengah menatap Chanyeol dengan tatapan frustasinya.
"Mengapa kau melakukan itu?" Tanya Baekhyun.
Chanyeol menatap Baekhyun balik. "Ia pantas mendapatkannya." Balasnya dengan santai. Chanyeol terlihat sama sekali tak merasa bersalah. Lelaki itu justru bersikap bahwa yang ia lakukan tadi adalah hal yang benar.
Lihatlah sekarang. Chanyeol tidak ada bedanya dengan Kris.
Baekhyun mengacak rambutnya sendiri. "Aku tidak pernah mengajarimu melakukan hal seperti itu."
"Apa kau senang melihat orang lain terluka?" Baekhyun mengerutkan dahinya dan mencondongkan tubuhnya pada Chanyeol. "Katakan padaku!" Tanpa sadar Baekhyun mulai meninggikan suaranya. Ia hanya.. merasa sangat kecewa dan sedih. Ia tidak suka Chanyeol bersikap seperti itu.
Dan jujur Chanyeol sedikit kesal dengan sikap Baekhyun saat ini. Mengapa Baekhyun tak mau mengerti? Chanyeol hanya berusaha memberi pelajaran yang pantas bagi juru masak tadi. Tetapi Baekhyun justru marah kepadanya sampai seperti ini.
Chanyeol tak suka jika Baekhyun menganggap perlakuannya salah. Karena setiap hal sekecil apapun itu yang ia lakukan, ia merasa telah mengambil keputusan dengan benar.
"Kau sungguh ingin tahu? Kau akan kecewa jika mendengar jawabanku." Chanyeol mengalihkan pandangannya tak ingin beradu tatap dengan Baekhyun. Dan ia pun bergumam, "Aku tidak mengerti dimana letak kesalahanku."
Baekhyun yang mendengar hal itu lantas menghela napasnya dan memilih untuk duduk ditempat yang tak jauh dari Chanyeol. "Kau tidak boleh melukai seseorang, Chanyeol-ssi."
Ia mulai memelankan suaranya. Sadar bahwa berteriak saat ini bukan pilihan yang baik. Ia tak boleh membuat suasana semakin panas diantara mereka.
Dan hal itu ternyata berhasil membuat Chanyeol sedikit lebih tenang. "Apa dia tidak melukaimu?" Tanya Chanyeol. Ia mengarahkan telunjuknya tepat ke dada Baekhyun. "Dia baru saja melukai perasaanmu."
Baekhyun cukup terharu. Disaat ia berpikir tingkah Chanyeol yang tidak punya hati, saat itu Chanyeol sedang memikirkan perasaannya.
Baekhyun kehabisan kata. Psikopat memang selalu bersikap semaunya. Jika menurut mereka benar maka mereka akan terus melakukannya. Dan ia tak tahu harus dengan cara apa lagi untuk membuat Chanyeol berubah dan mengakhiri perdebatan ini.
"Pokoknya jangan melakukan hal seperti itu lagi, Chanyeol-ssi."
"Kau harus mendengarkanku. Jika aku mengatakan tidak berarti tidak. Dan jika aku menyuruhmu berhenti, kau harus berhenti." Lanjutnya.
Chanyeol nampak ingin protes. Namun Baekhyun telah berbicara lebih dulu.
"Jika kau melanggarnya, aku tidak akan mau melihatmu lagi."
Baekhyun pergi dari sana. Ia tak ingin beradu argumen lebih jauh. Ia tak ingin membuat suasana diantara mereka jauh lebih memburuk dari ini. Dan akhirnya mereka berada pada situasi yang membingungkan. Untuk pertama kalinya mereka bertengkar. Dan mereka sama sekali tak tahu harus berbuat apa.
Kepergian Baekhyun membuat Chanyeol membuang semua makanan yang ada di mejanya. Ia ingin marah. Ia ingin menutup mulut Baekhyun. Tapi Chanyeol tidak bisa melakukan hal yang berlawanan dengan keinginannya. Jadi Chanyeol hanya bisa terdiam dengan segala kefrustasiannya.
Mungkin keduanya kira pertengkaran mereka tak akan bertahan lama. Mereka mengira bahwa waktu akan dengan cepat menyatukan mereka kembali. Tapi sayangnya ego mereka terlalu besar. Mereka tak ingin menyapa satu sama lain. Atau mengucapkan hal yang terlintas dikepala mereka saat tak sengaja berpapasan.
Dan hubungan mereka yang tak baik ini terus berlanjut sampai hari kedua.
Sejujurnya mereka tak tahan. Mereka ingin kembali pada keadaan dimana mereka bisa bermain bersama. Berdekatan dan bercerita tentang hal-hal konyol. Sesederhana itu saja.
Baekhyun terduduk melamun diayunan. Ia merasa kesal sendiri karena Chanyeol sepertinya tidak merasakan apapun. Sepertinya Chanyeol tidak merasa ingin mereka bisa kembali bersama. Dan Baekhyun mulai bergumam dengan segala makiannya. "Dasar psikopat tidak punya hati. Kau juga tidak peka."
Baekhyun menggembungkan pipinya. "Mengapa kau tak melakukan apapun?" Ia terus saja menggerutu. "Menyebalkan sekali."
Sepertinya hanya Baekhyun saja yang merindukan saat-saat mereka bersama. Sepertinya hanya Baekhyun saja yang ingin mereka kembali dekat, bukannya bersikap tak acuh tiap kali mereka bertemu.
Tetapi Baekhyun tak tahu bahwa Chanyeol jauh lebih rindu daripada dirinya. Karena itulah, saat ini Chanyeol berjalan mendekati Baekhyun yang tengah melamun.
Chanyeol mengambil posisi duduk diayunan yang berada disamping lelaki mungil tersebut.
"Baiklah, aku menyerah. Maafkan aku. Aku mengaku salah." Ucap Chanyeol tiba-tiba.
Baekhyun sedikit terlonjak tersadar dari lamunannya. Dan begitu ia menoleh, ia mendapati wajah menyebalkan Chanyeol yang entah mengapa membuat Baekhyun merasa senang saat melihat wajah datar itu lagi.
Ia juga merasa senang karena akhirnya Chanyeol mau mengakui kesalahannya.
Dan Baekhyun rasa pipinya kembali memanas karena kehadiran lelaki itu. Secepat kilat Baekhyun segera bergerak memasang masker di mulutnya.
Lelaki itu berdeham pelan sebelum ekspresi wajahnya berubah terlihat amat kesal jauh berbeda dengan perasaan dihatinya yang bersorak gembira. Ia hanya tidak ingin terlihat begitu mudah. Ia pantas kesal. Mengapa baru sekarang lelaki itu datang? Kenapa lama sekali?
Chanyeol terlihat bingung saat Baekhyun tak berkata apa-apa dan hanya memandang wajahnya dengan suram. "Kau tak mau memaafkanku?" Tanya Chanyeol. "Apa kau semarah itu padaku?"
Baekhyun menyipitkan matanya dan meninju pelan lengan Chanyeol. "Apa perlu selama itu hanya untuk meminta maaf?" Tanyanya dengan kesal.
"Maaf, Baek. Maafkan aku."
Chanyeol bukanlah tipe orang yang akan mengucapkan kata maaf dengan begitu mudah. Bahkan Chanyeol tak pernah mengatakan maaf kepada siapapun. Karena itulah, butuh waktu yang cukup lama baginya untuk berpikir keras memahami perasaannya. Bahwa ia harus segera memperbaiki keadaan mereka.
Baekhyun menghela napasnya dan memperhatikan wajah Chanyeol yang terlihat begitu serius. "Baiklah. Baiklah. Aku maafkan."
"Terima kasih, Baek. Aku tidak tahu harus bagaimana jika kita tidak berbaikan sekarang."
Mendengar ucapan Chanyeol membuat Baekhyun diam-diam mengulum senyumnya dibalik masker. Terkadang Chanyeol berbicara terlalu jujur.
"Memangnya kenapa?" Tanyanya.
"Hampa." Lelaki itu menatap Baekhyun dengan dalam. "Aku tidak bisa melihat senyumanmu atau bahkan mendengar suaramu."
DEG.
Detak jantung Baekhyun berdebar sangat cepat. Mata sipit miliknya menatap Chanyeol mencoba mencari kebohongan dari tatapan itu namun sialnya ia tak menemukannya. Yang ada hanya Chanyeol yang terlihat sangat serius.
"M-Mwoyaa~" Baekhyun segera mengalihkan pandangannya dan berdeham mencoba mencairkan kecanggungan diantara mereka.
"Tapi.. apa kau baik-baik saja?" Tanya Chanyeol.
"Hm?"
"Kau tiba-tiba memakai masker."
Tentu saja Baekhyun harus memakainya. Karena Baekhyun tak ingin Chanyeol melihat dirinya yang merona karena lelaki itu.
"Aku baik-baik saja."
Dan Chanyeol memutuskan untuk percaya. "Baiklah." Ia tidak ingin mereka kembali beradu argumen dan bertengkar lagi.
"Waktu itu kau pernah mengajakku membuat boneka salju." Kata Chanyeol. "Aku ingin membuatnya denganmu sekarang. Kita harus memperbaiki hubungan kita, bukan?"
Pipi Baekhyun kembali muncul semburat merah dan ia tersenyum kecil. "Ya. Kita bisa membuatnya sekarang."
Tanpa disadari, seseorang berwajah teramat datar diam-diam memperhatikan dari balik dinding. Lalu berbalik pergi setelah cukup lama berdiam disana.
Tawa mereka memenuhi halaman belakang. Mereka nampak asyik dan sibuk sendiri membuat boneka salju paling baik. Terkadang mereka akan bercanda dan saling melempar gumpalan salju kearah satu sama lain. Atau dengan jahil akan menghancurkan boneka salju lawan yang telah dibuat susah payah. Tetapi anehnya setelah itu, mereka juga akan saling membantu membuat boneka salju mereka.
"Yeol, kau harus membuat telinga dan wajahnya." Ucap Baekhyun seraya menghias boneka salju miliknya sendiri.
Chanyeol sedikit tersentak mendengar panggilan yang Baekhyun berikan. Dan tanpa sadar ia tersenyum kecil karena hal itu.
"Aku lebih suka seperti ini." Balasnya.
Boneka salju milik Chanyeol terlihat sangat polos. Hanya berbentuk salju saja. Tidak ada wajah. Atau bahkan syal yang ditaruh dileher boneka salju itu. Siapapun yang melihat pasti akan berkata bahwa boneka salju milik Chanyeol tidak menarik sama sekali.
Tidak seperti milik Baekhyun yang terlihat lucu dengan wajah dan banyaknya aksesoris yang digunakan.
Baekhyun hanya mengerucutkan bibirnya dan bergumam, "Tapi aku lebih suka jika dihias."
Dan entah bagaimana Chanyeol mendengar itu. Lelaki tersebut terdiam sejenak memperhatikan Baekhyun yang sibuk sendiri menghias. Sebelum akhirnya ia bertanya, "Dimana rantingnya?"
Mendadak laki-laki itu ingin menghias boneka saljunya juga.
Akhirnya boneka salju mereka selesai dibuat. Baekhyun memperhatikan boneka salju yang dibuatnya sendiri. Boneka salju tersebut nampak lebih mungil dibandingkan yang Chanyeol buat. Punya Chanyeol terlihat seperti yang membuatnya. Sama-sama besar. Yang Baekhyun maksud adalah tubuhnya. Bukan yang lain.
Baekhyun tersenyum dibalik masker melihat betapa lucunya kedua boneka salju yang memiliki perbedaan ukuran cukup jelas itu. Tanpa menyadari bahwa Chanyeol dengan terang-terangan tengah memperhatikannya. Meskipun tertutup oleh masker, namun Chanyeol masih bisa melihat raut wajah bahagia Baekhyun yang sangat cantik.
Chanyeol jadi ikut tersenyum melihatnya sebelum kembali memandang boneka salju mereka.
"Bukankah kedua boneka salju itu terlihat seperti sepasang kekasih? Sepertinya kita harus membuat mereka berciuman." Tiba-tiba saja Chanyeol bergerak untuk mendekatkan kedua boneka salju itu hingga berada pada posisi saling berhadapan.
Baekhyun sontak menahannya. "Tidak. Mereka tidak boleh berciuman. Mereka juga bukan sepasang kekasih."
Chanyeol menoleh.
"Kenapa?"
Ia sangat menyukai boneka salju itu karena baginya, boneka salju tersebut terlihat seperti dirinya dan Baekhyun.
Lelaki mungil itu nampak berpikir sejenak. "Karena.. mereka berbeda."
"Apa jika mereka berbeda, mereka tidak boleh saling mencintai?"
Baekhyun menggeleng pelan. "Cinta mereka akan menjadi cinta yang aneh."
Sejujurnya Baekhyun tengah membicarakan perasaannya. Ia hanya takut jika rasa cintanya menjadi sangat aneh bagi orang-orang. Karena itulah ia terus menolak perasaannya.
Chanyeol menghadap pada Baekhyun sepenuhnya. "Kurasa cinta bukan hanya ada satu saja."
"Cinta itu memiliki banyak variasi." Lanjutnya.
"Dan jika cinta mereka aneh, tetap saja itu disebut cinta."
Ucapan Chanyeol berhasil membuat Baekhyun terdiam. Lelaki yang lebih pendek itu sontak langsung menunduk. Kata-kata Chanyeol membuatnya menyadari dirinya sendiri.
'Kalau begitu jika perasaanku untukmu terasa aneh, tetap saja pada intinya aku menyimpan perasaan untukmu, kan?' Batin Baekhyun.
Jadi, apa Baekhyun harus mengakui perasaan ini?
"Baek?" Panggil Chanyeol. Lelaki itu bingung melihat Baekhyun yang mendadak diam.
"Eo? K-Kalau begitu mari kita buat mereka berciuman."
Chanyeol dan Baekhyun segera mengatur posisi salju buatan mereka dan berusaha mendekatkan wajah kedua boneka salju tersebut hingga mulut hiasan boneka salju bersentuhan.
Mereka tersenyum melihatnya. Dan bergerak untuk mengambil posisi duduk di hadapan boneka salju mereka.
"Wuahh.. Aku iri sekali dengan boneka salju kita." Ucap Baekhyun. Ya, Baekhyun merasa iri. Boneka saljunya terlihat sangat bahagia. Seakan-akan tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari kejamnya dunia ini dan hanya menikmati waktu bersama pasangannya.
Namun Chanyeol yang mendengar itu dibuat salah mengerti. Ia kira Baekhyun merasa iri karena melihat kedua boneka salju itu berciuman. Jadi ia bertanya akan sesuatu, "Apa kau akan tetap memakai itu?" Lelaki itu menunjuk masker yang Baekhyun pakai dengan dagunya.
Baekhyun menoleh menatap Chanyeol disampingnya dan mengangguk pelan. "Tentu saja."
Chanyeol mengangguk tanda mengerti. "Baiklah." Kali ini, ia akan mewujudkan agar Baekhyun tak merasa iri dengan boneka salju tersebut.
Lelaki tinggi itu segera menangkup kedua pipi Baekhyun dan menatap sejenak pada masker yang dikenakan oleh lelaki mungil itu. Namun detik setelahnya ia mendekatkan wajahnya untuk mencium Baekhyun. Oh tidak, lebih tepatnya mencium bibir Baekhyun yang tertutup oleh masker dengan sebuah sentuhan sederhana.
Chanyeol memejamkan matanya dan tetap pada posisi mendekatkan bibirnya mencoba merasakan bentuk bibir Baekhyun dari balik masker.
Baekhyun membisu. Tiba-tiba saja Chanyeol menciumnya secara tidak langsung dan Baekhyun bisa merasakan detak jantungnya yang menggila. Chanyeol selalu membuat hatinya kacau. Dan sialnya, ia menyukai perlakuan manis Chanyeol saat ini padanya. Dan ia tak bisa berbuat apa-apa akan hal itu.
'Chanyeol, kurasa.. aku menyukaimu.'
Perlahan, Baekhyun mulai ikut memejamkan matanya. Ia membiarkan perasaannya mengalir.
Lagi-lagi Kris harus melihat hal seperti ini.
Pria itu segera menutup jendelanya dengan gorden. Ia tak ingin menyaksikan lebih lanjut dan memilih untuk duduk di kursi kerjanya.
Ia menyeruput secangkir kopi dan berniat untuk mengalihkan pikirannya dengan mengerjakan sebuah pekerjaan. Namun tiba-tiba, ia melihat ada sebuah email masuk dilaptopnya.
Dengan penasaran, ia segera menggerakkan mouse laptop untuk membuka email tersebut. Dan matanya sontak membulat tak percaya ketika ia mendapati sebuah foto adiknya yang diambil tanpa sepengetahuan.
Bagaimana bisa ada yang tahu tentang Chanyeol? Apa ada yang memata-matai rumahnya?
Tak ada seorangpun yang tahu mengenai Chanyeol. Bahkan media sekalipun. Kris selalu berusaha melindungi adiknya setelah kejadian 10 tahun yang lalu itu. Dan karena itulah ia mengurung Chanyeol di kamarnya. Saat itu, ia tidak ingin Chanyeol keluar dari rumah dan membuat orang-orang menyadari keberadaannya.
Ia melihat pesan yang ditinggalkan didalam email tersebut.
Are you ready?
Sebelah tangan Kris yang memegang cangkir tanpa sadar mengerat hingga cangkir tersebut retak dan pecah. Namun Kris tak mempedulikan luka ditangannya akibat pecahan cangkir tersebut dan justru mengepalkan tangannya yang berdarah. Ia benar-benar marah saat ini.
Tak perlu bertanya-tanya siapa orang dibalik semua ini. Pastilah yang mengirim email ini tak lain adalah Ilnam. Lelaki itu nampaknya benar-benar ingin bermain dengannya. Dan Kris tidak akan menanggapi hal ini dengan mudah.
Kali ini Kris benar-benar akan membuat Ilnam jera.
Kris segera memanggil sekretaris Hong ke dalam ruang kerjanya.
"Ada apa tuan?"
"Awasi dan cari tahu apa yang Ilnam lakukan. Segalanya. Bahkan hal sekecil apapun itu. Jangan ada satupun yang terlewatkan."
Rahang Kris mengeras. "Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh rumahku. Dan juga Chanyeol." Bisik Kris dengan tatapan yang terlihat sangat marah. "Aku tidak akan membiarkanmu lolos kali ini, Ilnam."
Baekhyun memang sudah mengakui perasaannya. Ia mulai mencoba memahami dan terbiasa dengan perasaan barunya. Namun sebenarnya ia masih tak mengerti mengapa Chanyeol melakukan hal itu padanya. Apa dugaan bahwa Chanyeol menyukainya itu benar? Tapi Chanyeol sendiri tak mengatakan apa-apa dan hanya terus membuat dirinya gila dengan semua pertanyaan yang terus muncul di kepalanya.
Ia butuh penjelasan dari laki-laki itu. Tetapi Chanyeol selalu bersikap seperti tak ada yang terjadi diantara mereka. Lelaki itu terlihat biasa saja.
Baekhyun merasa dirinya akan gila sebentar lagi. Ia bahkan telah membuang semua pikiran konyol dan mengakui pada dirinya sendiri bahwa ia telah jatuh cinta kepada tuan mudanya.
Baekhyun mengetuk pintu kamar Chanyeol dan membukanya. Ia memandang kesekeliling dan tak mendapati lelaki itu berada disana.
Hingga akhirnya ia mendengar suara tetesan air dari dalam kamar mandi. Sepertinya lelaki itu tengah mandi. Tidak seperti biasanya.
Baekhyun memutuskan berjalan menelusuri tiap inci ruangan itu dibandingkan hanya diam saja. Dan matanya kembali terpaku pada sebuah bingkai foto yang selalu ia dapati dinakas Chanyeol dengan posisi ditidurkan.
Lelaki itu tak berniat untuk lancang. Namun ia sedikit penasaran dengan isi bingkai foto itu. Jika memang tak ada sesuatu yang aneh, maka tak seharusnya bingkai itu selalu dalam posisi tidur. Dan jika memang tak ada yang aneh dari bingkai tersebut, maka Baekhyun akan meletakannya dengan benar. Mungkin hanya perasaannya saja yang aneh.
Tangan mungilnya bergerak mengambil bingkai tersebut dan bermaksud untuk membaliknya. Agar ia dapat melihat foto yang tersimpan di bingkai itu.
Namun sebuah tangan segera mengambil secara paksa bingkai foto itu membuat Baekhyun sedikit terlonjak.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Suara Chanyeol terdengar tak seperti biasanya. Seakan-akan laki-laki itu tak suka jika Baekhyun menyentuh bingkai tersebut.
"Maaf. Aku hanya ingin membenarkan letaknya." Balas Baekhyun dengan gugup.
Chanyeol tak menjawab dan langsung memasukan bingkai itu kedalam laci nakas.
Meskipun hanya sekilas, namun Baekhyun sempat melihat foto yang ada di bingkai itu. Sebuah foto keluarga. Mereka duduk dengan manis diatas sofa panjang. Senyuman mengembang diwajah mereka semua. Namun, rasanya ada yang aneh dari foto itu.
Baekhyun berdeham pelan dan menoleh tepat pada Chanyeol yang berada disampingnya. Mereka bertatapan cukup lama. Sebenarnya.. Baekhyun berpikir untuk bertanya tentang kejadian kemarin namun ia ragu dan justru mengatakan, "Waktunya untuk sarapan."
Sementara Chanyeol sendiri berharap laki-laki itu akan bertanya sesuatu. Chanyeol akan dengan senang hati menjawab pertanyaan Baekhyun jika menyangkut tentang ciuman mereka kemarin. Ia akan mengatakan bagaimana perasaannya selama ini pada laki-laki itu. Tetapi nyatanya, Baekhyun bersikap seperti ciuman itu tak pernah ada.
Baekhyun lekas membalik tubuhnya bermaksud keluar dari kamar tersebut. Namun Chanyeol menahannya. Fokusnya teralih pada masker Baekhyun. Dan ia rasa ada yang tak beres dengan lelaki itu.
Awalnya Chanyeol percaya jika lelaki itu baik-baik saja. Ia percaya jika tidak ada sesuatu yang terjadi pada Baekhyun. Namun sudah beberapa hari berlalu dan Baekhyun masih saja mengenakan masker. Chanyeol tentu saja khawatir. Sebenarnya ada apa dengan lelaki itu?
"Tunggu." Ucap Chanyeol. "Kau yakin kau baik-baik saja sementara kau selalu memakai masker akhir-akhir ini?"
Baekhyun mengerjap pelan. "T-Tentu saja."
Tetapi Chanyeol tak percaya dengan kata-kata Baekhyun lagi. Ia segera mengangkat tangannya menarik masker tersebut dari mulut Baekhyun. Dan betapa terkejutnya Chanyeol melihat wajah Baekhyun yang sangat merah seperti kepiting rebus.
"Mukamu sangat merah." Tanpa sadar Chanyeol memegang pipi Baekhyun. Dan hal itu justru membuat pipi Baekhyun semakin memerah. "Apa yang terjadi? Apa kau demam?"
Baekhyun segera menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya dan mengambil masker dari tangan Chanyeol. "Aku baik-baik saja." Gumam Baekhyun.
Chanyeol mengangkat dagu lelaki itu. Ia memperhatikan wajah Baekhyun dengan teliti.
"Katakan padaku ada apa denganmu."
Namun Baekhyun mengabaikannya dan segera memakai maskernya kembali. Ia bergegas pergi menuju pintu. Menghindari pertanyaan lanjut dari tuan mudanya.
Chanyeol tidak tinggal diam mendapati pergerakan itu. Ia mempercepat langkahnya dan memojoki laki-laki itu ke dinding. Kali ini Baekhyun tak akan bisa pergi dan harus menjawab pertanyaannya.
"Katakan padaku, Baek."
Mata Baekhyun terpejam dengan erat. "Ini semua salahmu!" Suara Baekhyun sedikit membentak. Ia hanya terlalu gugup berada didekat lelaki itu dan ia sangat frustasi. Wajahnya terasa panas dan semakin memerah.
Chanyeol terkejut mendengarnya. "Salahku? Apa yang telah ku lakukan padamu?" Namun Baekhyun kembali terdiam. "Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika aku berani menyakitimu, Baek."
"Katakan padaku."
Baekhyun sangat malu. Mengapa Chanyeol terus bertanya? Baekhyun tak bisa mengatakan yang sejujurnya. Ia tidak bisa mengatakan alasan dari semua ini. Tetapi Chanyeol terus saja mendesaknya. Hingga akhirnya,
"Kau selalu membuatku berdebar! Kau selalu datang menghantui pikiranku dan mengacaukan perasaanku! Bahkan hanya mendengar namamu saja jantungku berdegup sangat cepat!"
"Kau juga berbuat seenaknya. Kau menyentuh pipiku. Kau memelukku. Kau menciumku.." Lanjutnya.
Baekhyun mendongakkan kepalanya menatap Chanyeol. "Hatiku sibuk bertanya-tanya. Tetapi kau tidak berkata apapun. Kau tidak berusaha menjelaskan sesuatu padaku."
"Aku bingung." Baekhyun menarik napasnya. "Bagimu, aku ini apa?"
Chanyeol tak menjawab apapun dan hanya terdiam mencerna kalimat Baekhyun yang memiliki kesimpulan bahwa lelaki mungil itu memakai masker karena mencoba menyembunyikan perasaannya.
Chanyeol merasa sangat bahagia. Ucapan Baekhyun membuktikan bahwa lelaki itu memiliki perasaan yang sama dengannya.
Tangan Chanyeol bergerak menurunkan masker tersebut hingga ke dagu Baekhyun. Ia mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Baekhyun tanpa ijin. Hanya sebuah kecupan singkat yang berhasil membuat gejolak pada dada si mungil.
"Kau masih tidak menyadarinya?" Bisik Chanyeol. Ibu jari lelaki itu mengusap pelan kedua pipi sang pelayan.
Mata Baekhyun mengerjap dengan lambat. Mulutnya sedikit terbuka. Otaknya tak bisa bekerja. Ia tak tahu harus berkata apa. Ia terkejut dengan perlakuan lelaki itu.
Chanyeol memperhatikan kediaman Baekhyun. "Haruskah aku membuatnya lebih jelas lagi?"
Dan Chanyeol kembali menciumnya kali ini dengan memabukkan. Ia melumat, menggigit dan menghisapnya. Merasakan rasa yang ia sukai pada bibir tipis itu.
Ciuman lembut tersebut terlepas dengan saliva mereka yang menyatu. Chanyeol kembali mengusap lembut kedua pipi Baekhyun dengan ibu jarinya. Ia berbisik pelan dengan suara berat khasnya.
"Ciuman ini berbeda dari yang sebelum-sebelumnya." Ibu jari Chanyeol bergerak turun mengusap lembut bibir bawah Baekhyun. "Ciuman ini adalah pengakuanku."
Pancaran matanya yang dalam menatap Baekhyun dengan memuja. Baekhyun rasa nyawanya telah melayang entah kemana. Ia bahkan kesulitan bernapas.
"Apa sekarang kau masih belum juga menyadarinya?" Chanyeol mendekatkan dahi mereka hingga bersentuhan.
Baekhyun benar-benar tak bergerak. Hanya lirikan matanya saja yang dapat menunjukkan bahwa lelaki itu masih hidup.
Chanyeol berbisik tepat didepan bibir lelaki itu. "Aku menyukaimu, Baek."
Lalu ia tersadar akan sesuatu. Ia sedikit menjauhkan wajahnya dan menggeleng pelan. "Ah, tidak. Kurasa menyukaimu lebih tepat dikatakan untuk 10 tahun yang lalu."
Chanyeol menunjukkan senyuman termanis yang pernah Baekhyun lihat.
"Karena saat ini aku lebih dari sekedar menyukaimu. Aku mencintaimu, Byun Baekhyun."
Dan Chanyeol memberikan kecupan di dahi Baekhyun sebagai penutup dari pengakuannya.
Baekhyun, apa kau masih disini? Kau masih sadar, bukan?
.
.
.
.
{ To Be Continued }
5k words..
Aku merasa kalo aku terlalu sering mengklarifikasi (jadi berasa awkarin) kenapa aku telat update wkwk jadi mulai sekarang aku gak akan klarifikasi lagi dan hanya bisa meminta pengertian kalian karena aku juga punya kesibukan di real life dan juga semua tergantung pada kondisi dan ide aku hehe
Sekarang aku juga mulai netapin untuk setiap chap hanya memuat 5-7k words aja karena kalo terlalu banyak aku takut kalian jadi males bacanya eheu. Aku juga berusaha buat ngetik lebih baik lagi biar bisa diterima dengan baik juga sama readers semua. Gitu aja sih wkwk
Terima kasih yang sudah menjelaskan kisah sasuke itu. Aku baru tau kalo cerita mereka mirip disitu wkwk trus juga untuk yang nanyain kapan nc nya. Gini guys, aku aja gak pernah bilang kalo bakal ada nc kan?¿ '-' tapi gak tau nanti bakal ada nc atau tidaknya muehehe
Ohya, kayaknya aku bakal bikin instagram untuk info dan segalanya tentang ffku. Nanti kalo aku udah bikin, bakal aku kasih tau uname igku di chap berikutnya.
Btw aku juga mau curhat singkat nih. Jadi belum lama ini aku dapet email dimana aku diminta untuk kerjasama dalam webnovel. Dan kayaknya banyak banget author ffn yang diajak juga. Hmm.. menurut kalian gimana? What should i do?
Terima kasih yaa kepada yang sudah fav/foll/review. Kritik dan saran yang membangun akan selalu aku terima dengan senang hati. Sampai jumpa di chap berikutnya!
