DO NOT ENTER ! (CHANBAEK)

BOYSLOVE/YAOI

Main Cast :

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Summary :

Jangan masuk ke dalam sana! Tidak ada yang diperbolehkan masuk ke dalam sana! Larangan tersebut telah diketahui oleh setiap penghuni rumah. Namun Byun Baekhyun, laki-laki yang mendadak menjadi seorang penyusup telah melanggarnya.

~Keseluruhan cerita berasal dari imajinasiku sendiri~

.

.

BB922016


Do Not Enter ! : Chapter 9

27 Desember 2006

Ketika itu, Sehun hanya mampu berdiri menatap seseorang yang berada dihadapannya dalam diam. Bagaimana mungkin Sehun tak mengenalinya? Sehun bahkan masih mengingat dengan jelas lelaki yang lebih tua beberapa tahun darinya itu pernah datang ke rumah dan menanyakan dimana keberadaan ayahnya.

Bodohnya, saat itu Sehun yang polos tak menaruh rasa curiga sedikitpun. Jadi ia memberitahukan keberadaan sang ayah yang tengah melakukan perjalanan keluar kota untuk urusan bisnis pada Kris yang ia kira adalah kerabat ayahnya. Namun ketidaktahuan itu berganti menjadi penyesalan tanpa henti setelah ia mengerti niat di balik kunjungan Kris. Seharusnya, Sehun tidak pernah memberi tahu lelaki itu jika ingin ayahnya tetap hidup.

"Lihatlah, siapa yang datang." Kris sedikit terkejut akan kehadiran Sehun secara tiba-tiba di kediaman rumahnya, namun ia dapat menyembunyikan raut itu dalam sebuah senyuman manis. "Selamat datang, Oh Sehun." Sambut Kris dengan ramah.

Sehun berdiam diri, mengepalkan tangannya. Ia tak dapat berpura-pura membalas sambutan hangat Kris dengan senyuman, apalagi membungkuk penuh hormat. Ia tidak sudi. Sehun tak akan pernah menghargai seseorang yang telah membunuh ayahnya, begitulah pikirnya waktu itu.

Bukan tanpa alasan Sehun bisa sangat yakin jika Kris yang membunuh ayahnya. Karena Sehun tahu bahwa ayahnya merupakan saksi mata atas kejadian pembunuhan yang terjadi kala itu di musim dingin dan ikut melibatkan Kris di sana. Ia yakin Kris berusaha keras menghapus bukti dengan menghilangkan nyawa para saksi.

Tanpa sadar Sehun telah mendekat dan mencengkram erat kerah baju yang Kris kenakan. "Kau menjijikan!" Pikirannya berkabut tanpa mempedulikan para pengawal yang langsung bergerak mendekat kepadanya.

"Dasar kau pembunuh!" Serunya mengisi kesunyian ruang tamu. Tangannya yang mengepal erat dilayangkan ke wajah Kris sebagai bentuk kemarahannya. Pukulan demi pukulan keras terus menghantam pewaris dari keluarga Park itu tanpa ampun. Sehun telah memenuhi wajah tampan lelaki tersebut dengan lebam. Untung saja dengan cepat para pengawal bergegas menahan Sehun untuk berbuat lebih jauh.

"LEPASKAAN!"

Sehun memberontak dalam pegangan para pengawal yang menariknya mundur. Tak menyiksanya, melainkan hanya membuatnya tak berada terlalu dekat dengan Kris. Namun Sehun tak ingin menurut, ia belum puas menghajar wajah Kris. Ia berniat untuk memukuli pewaris konglomerat terbesar itu sampai mati. Walau kematian lelaki itu tak akan sebanding dengan perasaan hancur yang ia rasakan.

"LEPASKAN AKU, KALIAN BAJINGAN SAMPAH!"

Sehun benar-benar kacau. Ia memberontak dan memukuli para pengawal yang berusaha menahannya. Sungguh di luar kendali. Tak ada satupun yang bisa menenangkan Sehun saat ini, atau setidaknya membuat lelaki itu menyerah. Sehun bagaikan serigala yang mengamuk menyingkirkan predator-predator disekitarnya.

Ia hanyalah seorang remaja polos. Namun satu hal yang Sehun percayai. Jika memang keadilan tak bisa di dapatkan, Sehun tak akan ragu untuk membuat keadilannya sendiri. Ia akan membunuh semua orang yang ada di rumah itu. Bukan masalah baginya jika memang harus ada pertumpahan darah.

Secara terang-terangan, Kris memperhatikan setiap tingkah lelaki dihadapannya dengan senyum miring menghiasinya. Kris menunjukan ketertarikannya pada kemarahan Sehun yang tak terkondisikan saat bagaimana kedua manik mata Sehun menatapnya dengan buas. Sehun telah dipenuhi dengan rasa ingin membunuh yang Kris suka. Kris hampir saja berpikir untuk mendidik Sehun menjadi seperti'nya'.

Kris merapihkan kembali kemejanya yang berantakan akibat ulah Sehun seraya berucap,

"Aku tidak membunuh ayahmu, Oh Sehun."

Tak perlu bersusah payah, Kris tahu ia mampu membuat Sehun berhenti bergerak hanya dengan beberapa kata. Dan benar saja, Sehun terdiam merasakan tubuhnya kaku saat nama ayahnya disebut dalam situasi saat ini. Jantungnya berdegup cepat menatap Kris yang balik menatapnya tenang sampai ia kembali mendengar suara lelaki itu mengisi ruang sepi.

"Aku hanya mempercepat kematiannya." Kris terkekeh jahat. Wajahnya sungguh menyeramkan dengan kata-katanya yang menyebalkan. Lebih menakutkan dari psikopat. Ia tak terdeskripsikan.

Ucapan itu tentu membuat Sehun semakin naik pitam. Rahangnya mengeras menahan amarah yang siap untuk meledak. Namun Kris sendiri bersikap dingin dan tak acuh. Seolah tak menyadari perbuatannya baru saja memancing Sehun untuk mengamuk kembali layaknya orang gila.

Sehun baru saja akan meninju wajah itu lagi, jika saja Kris tak kembali berbicara.

"Tinggallah disini." Ucap Kris.

Sehun terkejut bukan main. Ia terdiam sesaat dengan dahi yang berkerut lalu tersenyum sinis dengan tangan yang masih mengepal erat. Ia sungguh tak mengerti apa yang ada dipikiran seorang Kris Park. Apa lelaki itu sudah kehilangan akal? Setelah berhasil menghina ayahnya, lelaki itu justru menawarkan tempat tinggal padanya. "Sial. Apa kau sudah gila?! Kau pikir aku akan tinggal dengan pembunuh sepertimu?"

Kris benar-benar konyol. Meski sang paman yang Sehun sayangi justru menelantarkannya begitu saja sampai ia tak punya lagi tempat untuk beristirahat, bukan masalah baginya asalkan ia tidak berada di rumah ini. Bahkan Sehun lebih memilih tidur di pinggir jalan daripada harus berada dalam satu rumah yang sama dengan pembunuh ayahnya.

Kris mengangguk-anggukan kepalanya seraya bersedekap. Jelas ia sudah menduga akan penolakan yang Sehun berikan kepadanya. Namun ia segera memberikan alasan lain. "Apa kau tahu apa yang ayahmu minta padaku untuk terakhir kalinya?"

Sehun kembali terdiam, matanya bergerak dengan gugup. Detak jantung Sehun berdegup cepat. Ia mengerjapkan matanya. Memang apa yang ayahnya katakan saat Kris dengan teganya mencabut nyawa satu-satunya keluarganya?

Akan tetapi jika seandainya Kris berkata kurang ajar lagi, Sehun bersumpah akan membunuh lelaki itu dengan kedua tangannya sendiri. Ia tidak main-main.

"Beliau ingin aku tidak menyakitimu. Ia ingin aku melindungimu dan menjagamu." Ucap Kris dengan santai.

Namun berbeda reaksi dengan Sehun. Pandangan Sehun bergetar menatap kedua bola mata Kris bergantian sebelum jatuh menatap ke lantai. Tangannya mengepal dengan erat. Mendengarnya, membuat Sehun merasa jauh lebih sedih dan hancur. Ayahnya itu, bagaimana bisa ia memohon kepada seorang pembunuh? Tak sepantasnya sang ayah harus memohon kepada Kris atas keselamatannya. Harga diri mereka tak serendah itu.

"Tapi semua pilihan ada padamu."

Kris berjalan mendekati Sehun yang masih berada dalam posisinya dengan kepala tertunduk.

"Jika kau berada di sini, aku akan memberimu kenyamanan dan keamanan. Aku bisa mengawasimu dan melindungimu seperti yang ayahmu inginkan."

Kris berhenti tepat di hadapan Sehun. Meski sejujurnya, Kris memiliki alasan lain dengan menahan Sehun di dalam kerajaan miliknya, namun iapun tak mengelak jika ingin memenuhi permintaan dari ayah Sehun untuk sebuah alasan.

"Aku bisa menjaga janjiku pada Tuan Oh untuk dapat membuatnya melihat anak kesayangannya tumbuh dengan sehat dari surga." Lanjut Kris.

Sehun terdiam dan menatap lelaki itu dalam-dalam. Mencari-cari letak kebohongan Kris dalam ucapannya saat ini. Ia tak ingin tertipu oleh lelaki itu lagi lalu pada akhirnya akan menjadi seorang budak yang dapat diperintah sesuka hatinya. Ia tidak ingin Kris menganggapnya mudah. Namun Kris yang terlihat sangat tenang nampak tak berbohong sama sekali. Tetapi, bagaimana bisa Kris mendadak ingin memberinya tempat tinggal? Apa alasan sesungguhnya? Apa lelaki itu ingin mengurungnya karena juga merupakan saksi mata seperti ayahnya?

Melihat wajah kebingungan Sehun, Kris pun mengerti.

"Ada banyak hal yang harus kita bicarakan dengan kepala dingin. Namun untuk sekarang, kau bisa menganggapnya seperti ini. Aku sedang menebus dosaku pada ayahmu dengan memberi semua yang kau mau dan menjagamu."

Kris menaikan sebelah alisnya seolah menunggu Sehun mengatakan sesuatu atas ucapannya. Penawaran itu cukup baik. Tetapi Sehun masih saja tak bergeming.

"Bersikaplah dewasa, Oh Sehun."

Sehun mengepalkan tangannya seraya menatap tepat ke bola mata Kris, menahan segala emosi yang bercampur aduk menjadi satu. Tentang segala rasa marah, penyesalan, dan rindu.

'Ayah..'


Pria itu berjalan angkuh dengan sebuah kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, seraya menaikan masker hitam hingga tak menyisakan sedikitpun bagian wajah terlihat.

Sekretaris Hong yang juga mengenakan masker berjalan di samping sembari membawakan koper milik pria tersebut yang tak begitu banyak isi di dalamnya. Hanya beberapa benda penting yang harus Kris bawa. Tak lupa juga tumpukan uang yang memiliki peran penting dalam misinya saat ini.

Sekretaris Hong pun memandu sang majikan untuk keluar dari bandara dan masuk ke dalam mobil yang telah disiapkan. Disertai satu buah mobil hitam dibelakangnya yang ditumpangi khusus untuk pengawal-pengawal dengan tugas menjaga perjalanannya tetap aman.

"Apa Tuan ingin makan siang terlebih dulu?" Tanya Sekretaris Hong saat mobil yang mereka tumpangi mulai melaju.

Kris menyandarkan kepalanya dengan lelah begitu duduk di dalam mobil. Ia menghela napas seraya menggerakan tangannya dengan gusar. "Tidak. Lakukan saja seperti rencana yang kubuat."

"Baik, Tuan."

Kris memejamkan matanya. Tak banyak yang ia inginkan. Satu-satunya yang Kris inginkan hanyalah menyelesaikan semuanya dengan cepat dan rapih.


Chanyeol mengacak rambutnya dengan frustasi.

"Sial, bagaimana bisa aku lupa menaruhnya?" Gumam Chanyeol sembari terus mengitari kamarnya sibuk mencari sesuatu.

Chanyeol akui bahwa kali ini ia sangat lalai. Bagaimana bisa ia melupakan pemberian Baekhyun padanya di hari natal? Dan lebih bodohnya, ia baru menyadari hal itu sekarang.

Chanyeol sungguh tak ingat apa-apa tentang candy cane itu saat penyerangan di rumah terjadi. Ia terlalu sibuk melawan para penjahat dan mengkhawatirkan keselamatan Baekhyun sampai melupakan pemberian sepenting itu. Chanyeol sangat kebingungan sekarang. Ia tidak bisa menemukannya di seluruh area kamarnya.

Mungkinkah ia menjatuhkan permen itu di suatu tempat?

Chanyeol menghentikan pencariannya dan terdiam. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Jika sampai Chanyeol kehilangan permen itu, ia benar-benar akan membenci dirinya sendiri.

Tok..Tok..

Chanyeol dengan cepat menegakan tubuhnya saat Baekhyun masuk ke dalam kamar dengan senyuman manis bersama nampan di tangannya. Namun senyuman itu tak bertahan lama. Baekhyun membulatkan matanya saat menyadari keadaan di dalam kamar Chanyeol saat ini.

"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Baekhyun sedikit panik seraya menaruh nampan berisi buah-buahan yang telah ia potong dadu di meja dekat sofa.

Lelaki mungil itu berkacak pinggang seraya menatap ke sekeliling kamar. Entah apa yang sedang terjadi, namun untuk pertama kalinya Baekhyun melihat keadaan yang sangat berantakan di kamar tersebut. Barang-barang di atas meja sudah jatuh berserakan, selimut dan bantal yang tergeletak di lantai sampai menghalangi jalan, begitu pula dengan keadaan isi lemari dan nakas. Seingatnya ketika ia bangun pagi ini, ia sudah merapihkan kamar Chanyeol. Namun sekarang kamar itu terlihat seperti kapal pecah.

Lelaki mungil itu berjalan mendekati Chanyeol yang tengah berdiri di samping tempat tidur dengan wajah yang sangat pucat. Baekhyun menjadi khawatir pada lelaki itu. Apa mungkin terjadi sesuatu pada Chanyeol kala ia pergi sejenak?

"Apa yang terjadi?" Tanya Baekhyun dengan lembut.

Chanyeol nampak ragu menjawab. Lelaki itu mengusap belakang lehernya dengan tatapan yang menghindari Baekhyun. Mencoba mencari-cari alasan logis. "A-Aku.." Karena Chanyeol tak mungkin bisa mengatakan yang sebenarnya, atau Baekhyun akan marah padanya dan mungkin membencinya. Chanyeol tak ingin Baekhyun kecewa.

Melihat Chanyeol yang gugup membuat Baekhyun semakin khawatir. Tanpa banyak bicara, ia segera mendekati Chanyeol dan memeluknya begitu erat. Yang terlintas di pikiran Baekhyun hanya kemungkinan bahwa Chanyeol kembali memikirkan permasalahan keluarganya. Tanpa tahu alasan sebenarnya Chanyeol membuat kekacauan seperti ini.

"Semua akan baik-baik saja." Bisiknya. Lelaki mungil itu menepuk pelan punggung tegap Chanyeol dengan penuh sayang.

Chanyeol hanya bisa menghela napas. Ia merasa bersalah, namun akan lebih baik jika Baekhyun tidak tahu Chanyeol menghilangkan permen pemberiannya.

"Sekarang aku sudah baik-baik saja." Balas Chanyeol. Ia mengusap pelan kepala Baekhyun dalam pelukan mereka. Tak ingin membuat si mungil semakin khawatir.

"Benarkah?"

Chanyeol mengangguk yakin. Meskipun begitu, ia tak akan menyerah dan akan lanjut mencarinya nanti saat Baekhyun sudah tak bersamanya. Untuk sekarang, akan lebih baik jika ia menyembunyikannya dari Baekhyun.

Baekhyun tersenyum senang dan menarik tangan Chanyeol untuk mengajaknya duduk di sofa. "Aku akan membereskan kekacauannya nanti. Sekarang aku akan menemanimu memakan buah." Ucap Baekhyun dengan riang. Energi positif yang menguar dari tubuh Baekhyun selalu saja ikut membuat Chanyeol bahagia tanpa disadari. Baekhyun satu-satunya orang yang dapat membuat mood Chanyeol membaik.

Kini keduanya tengah duduk di sofa dengan nyaman. Baekhyun mengambil garpu kecil di nampan sebelum menusuknya pada potongan semangka.

"Aaa?" Baekhyun menyodorkan semangka itu pada Chanyeol membuat sang kekasih menoleh dengan senyuman tampannya yang mempesona. Sangat jauh lebih bahagia bisa mendapat perhatian dari lelaki mungil kesukaannya itu.

"Manis." Gumam Chanyeol seraya mengunyahnya lalu memposisikan dirinya untuk tidur di atas paha empuk Baekhyun yang beratus-ratus kali lebih nyaman dibandingkan tempat tidur king sizenya.

"Hei? Tidak baik makan dalam posisi seperti ini." Omel Baekhyun mencoba membuat Chanyeol bangkit duduk kembali.

Namun Chanyeol seolah tak mendengarkannya. Lelaki itu mengubah posisinya sehingga berhadapan dengan perut rata milik Baekhyun. Ia memberi banyak kecupan pada perut si mungil yang tertutup oleh kemeja putih khas seorang pelayan.

Baekhyun tersenyum kegelian. "Chanyeol, hentikan. Itu geli." Tetapi Chanyeol sangat nakal sehingga kembali memberi kecupan yang jauh lebih banyak sehingga Baekhyun pun tak dapat menahan tawa.

Suara tawa yang khas milik Baekhyun terdengar sangat merdu di pendengaran Chanyeol. Membuat lelaki itu tanpa sadar mengulas senyumnya seraya memperhatikan betapa cantik kekasihnya itu.

"Kau sangat cantik, Baek."

Yang dipuji tengah mengusap air mata yang membasahi area matanya karena menahan rasa geli. Baekhyun merona setelahnya. "Aku tidak cantik."

Chanyeol mengangkat sebelah tangannya untuk mengusap pipi lembut si mungil. Mengagumi dan memuja makhluk tuhan yang ada dihadapannya. "Ya, kau cantik. Aku bahkan bisa memandangi wajahmu selamanya dan tak akan pernah bosan."

Baekhyun terkekeh. "Apa kau sedang menggombal padaku, Tuan Muda?"

Chanyeol memperhatikannya dengan senyuman polos seperti anak kecil dengan kedua matanya yang bulat. Membuat Baekhyun menahan rasa gemasnya. Bagaimana bisa Chanyeol yang manis seperti ini adalah psikopat? Bahkan duniapun akan tak percaya.

"Baek.."

"Hm?"

"Apa kau bahagia tinggal di rumah ini?"

Baekhyun menatap Chanyeol sejenak sebelum menjawab dengan yakin disertai anggukan kecil. "Tentu saja." Lelaki itu tersenyum sangat lebar. "Mungkin karena ada kau di sini."

Seperti sungguh tak ada masalah bagi Byun Baekhyun.

Bukan hanya telah kehilangan kesempatan untuk meninggalkan penjara istana, ia juga telah kehilangan kesempatan untuk dapat bertemu dengan sahabatnya, Jongdae. Bahkan yang lebih penting, ia telah kehilangan kesempatan untuk mencari 'seseorang' yang selama ini ia cari secara diam-diam. Padahal Baekhyun sendiri telah berjanji kepada kedua orangtuanya untuk menemukan orang tersebut apapun yang terjadi. Tetapi yang ia lakukan kini justru mengambil keputusan lain. Mungkin ia akan berdosa.

Memang ada beberapa rasa penyesalan, namun Baekhyun tak ingin terus berlarut dalam kesedihan. Ia telah berjanji untuk tidak meninggalkan Chanyeol. Rasa cintanya pada lelaki itu membuatnya ingin terus berada disamping lelaki itu tak peduli jika akan kehilangan segalanya. Setidaknya ia tahu, ia masih memiliki Chanyeol.

Chanyeol semakin melebarkan senyumannya. Ia senang mendengar hal itu. Maka hatinya tak perlu lagi merasa cemas dan khawatir jika Baekhyun akan meninggalkannya. Sekarang, ia benar-benar dapat bahagia dengan Baekhyun yang ia sayangi.

Dengan lembut, Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun dan mengecupnya sebelum kembali menatap tepat ke bola mata Baekhyun dan berbicara dengan nada serius. "Aku ingin menikahimu."

Baekhyun membulatkan matanya. Tentu saja terkejut mendengar Chanyeol tiba-tiba saja berbicara tentang pernikahan. Hubungan yang mereka jalin bahkan belum sampai ke tahap dimana mereka harus segera menikah. Mereka baru saja memulai jalinan cinta. Mereka baru pada tahap awal dalam berpacaran. Namun sekarang Chanyeol telah mengutarakan niatnya dengan sangat jelas.

"A-Apa?"

"Aku akan melamarmu, itu pasti. Jadi bisakah kau menunggu sampai hari itu tiba?"

Baekhyun terdiam sejenak dalam tatapan Chanyeol yang lembut namun tajam di waktu yang bersamaan. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya dengan rona merah yang menghiasi kedua pipinya. Ia tidak tahu harus merespon bagaimana jika Chanyeol terus menatapnya seperti itu.

"Aku ingin memilikimu sepenuhnya dan ingin bersamamu selamanya. Aku sungguh tak bisa jika tidak ada kau. Apa aku terlihat egois?"

Tidakkah Chanyeol saat ini begitu manis? Rasanya tak ada satupun hal yang dapat membuat Baekhyun kembali takut pada lelaki itu. Persetan dengan kejiwaan Chanyeol yang tidak wajar. Bagi Baekhyun sekarang, Chanyeol adalah lelaki polos yang terlalu jujur akan perasaannya sendiri. Bukan monster psikopat yang menyeramkan dan hanya dibutakan oleh kegilaan.

Baekhyun tersipu malu sebelum menganggukan kepalanya dengan yakin. "Ayo menikah. Aku akan selalu bersedia kapanpun kau melamarku." Senyuman manis Baekhyun menghiasi wajahnya. Begitu juga dengan mata sipitnya yang ikut tersenyum senang. Rasanya menenangkan dapat bersama orang yang kau cintai, bukan?

Baekhyun, kau sungguh terlihat bahagia sekarang.


Kuasa Kris dan kelicikannya merupakan perpaduan yang sangat gila. Hanya dengan jentikan jarinya, seluruh pengawal telah melakukan segala persiapan untuknya. Ia mampu mengatasi keadaan sehingga misinya dapat berjalan tanpa ada gangguan.

Pria itu masih lengkap dengan kacamata dan maskernya. Namun sekarang, ia memasang topi hitam di kepalanya sebelum keluar dari mobil yang membawanya memasuki salah satu hotel berbintang yang cukup terkenal di Jepang. Sekretaris Hong telah mereservasi suite room sebagai kamar yang akan ia tempati semalaman. Dan beruntungnya, untuk tipe suite room hanya memiliki dua buah kamar di lantai yang sama di hotel tersebut. Tebaklah, siapa yang mengisi ruangan suite room di sebelahnya?

Kris tersenyum licik di balik maskernya ketika berjalan melewati lorong demi lorong sebelum masuk ke dalam kamar hotelnya diikuti oleh Sekretaris Hong disisinya. Hanya mereka berdua, agar tak menimbulkan kecurigaan bahwa dirinya adalah seseorang yang sangat penting dan terpandang.

Dengan sigap, Sekretaris Hong menyiapkan sebotol red wine beserta gelas khususnya untuk Kris yang baru saja mendudukan dirinya dengan angkuh disofa empuk.

Kris menyambut segelas wine itu sembari berkata dengan nada suara yang tegas. "Ku harap kau melakukannya dengan benar." Kris menggoyangkan gelas winenya. "Nyawamu yang akan menjadi taruhan jika terjadi sedikit kesalahan saja."

Ucapan bernada mengancam itu sudah sangat sering Sekretaris Hong dengar selama bertahun-tahun mengabdi untuk mengurus dan menjalankan tugas yang diluar akal. Namun pria itu masih tetap saja merasa gugup mendengarnya dari mulut Kris tiap kali misi mereka akan di mulai.

"Baik, Tuan. Saya tidak akan mengecewakan anda." Sekretaris Hong membungkuk dengan penuh hormat.

Kini Kris hanya perlu menunggu waktu yang tepat. Ah, tidak. Sejujurnya, ia hanya perlu menghabiskan winenya terlebih dahulu sebelum melancarkan aksinya untuk memberi kejutan pada seseorang yang telah berhasil menguji kesabaran seorang Kris selama ini.

Ilnam.

Jika saja pria tua itu tidak pernah menyentuh Chanyeol sedikitpun, mungkin Kris akan tetap bersabar selamanya. Membiarkan tikus itu berbicara omong kosong dan menggangunya setiap hari karena ia masih melihat situasi mereka yang merupakan orang paling berpengaruh atas Korea Selatan. Tetapi kini semuanya telah berbeda. Kris tak akan tanggung-tanggung mengambil resiko berbahaya.

Kris meneguk winenya dan mendongak memejamkan matanya. Membayangkan Red wine yang mengalir ke tenggorokannya seperti darah membuat Kris semakin liar. Kris ingin tahu bagaimana ekspresi Ilnam ketika Kris melumuri wajah itu dengan darah dan luka. Kris sungguh tak sabar untuk menyaksikan wajah penuh kesakitan dan ketakutan yang sebentar lagi akan terwujud.

Kris tersenyum dalam diam. Untuk sementara ini, ia masih ingin menahan diri. Ia tak ingin jiwa aslinya berlalu begitu cepat.


Jongdae kembali menghela napasnya lagi. Ia tersenyum miris menatap pada telepon umum yang berada di sampingnya lalu beralih pada sebuah kertas di genggaman tangannya yang menunjukan alamat asal dari telepon umum tersebut.

Entah Jongdae harus sedih atau kecewa, satu hal yang pasti adalah bahwa Baekhyun telah berbohong padanya.

Tak mungkin jika Jongdae akan diam saja setelah Baekhyun mengucap kata 'perpisahan' secara tiba-tiba. Ia semakin berusaha mencari lelaki itu diam-diam. Namun ternyata pencariannya membawanya pada sebuah telepon umum yang tak jauh dari sebuah ice skate. Jongdae tak mengira jika teman kecilnya akan berbohong padanya dengan mengatakan bahwa lelaki itu tengah melakukan perjalanan jauh. Jelas-jelas Baekhyun masih berada di Seoul. Di kota yang sama dimana ia tinggal.

"Baekhyun, sebenarnya ada apa denganmu?" Lelaki itu mengusap wajahnya kasar. Atas dasar apa Baekhyun berbohong padanya? Apa semua sungguh baik-baik saja?

"Kau selalu menemuiku jika sedang merasa kesulitan." Gumamnya. Jongdae menatap sejenak kepada telepon umum itu. "Kuharap kau memang baik-baik saja."


"Baekhyun?"

Panggilan itu membuat lelaki mungil tersebut menoleh.

"Nyonya Kim?" Nyonya Kim datang menghampiri Baekhyun yang saat ini tengah berdiam diri memandangi salju turun dari balik jendela kamar mereka.

"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Nyonya Kim saat telah tiba tepat disebelah lelaki itu.

Baekhyun tersenyum simpul. "Tidak ada, Nyonya Kim. Hanya memandangi salju saja." Jawabnya singkat dan kembali memperhatikan suasana taman yang ditutupi salju di luar jendela.

Nyonya Kim tersenyum dan ikut memandang ke luar jendela. Entah mengapa berada bersama lelaki itu disampingnya membuat sesuatu terlintas di pikirannya. Sesuatu yang selalu ia simpan, tak bisa diutarakan. Sejujurnya ada hal yang ingin sekali ia katakan pada Baekhyun sejak ia tahu lelaki itu dekat dengan Tuan Muda, dan mungkin sekarang kedua insan itu telah menjalin kasih saat ini.

"Baekhyun-ah. Aku harap kau dapat menjaga Tuan Muda dengan baik." Ucap Nyonya Kim tiba-tiba.

Baekhyun menoleh dengan tatapan bingung. Ia mengerjapkan mata, tak mengerti mengapa Nyonya Kim mengatakan hal itu kepadanya. "Ne?"

"Sejujurnya.. aku selalu merasa kasihan dan khawatir padanya. Tuan Muda selalu sendirian selama 10 tahun. Dan selama itu, tidak ada satupun orang yang mengunjunginya di kamar terlarang termasuk aku sendiri." Nyonya Kim terlihat sendu saat mulai bercerita. Mata itu nampak berkaca-kaca dengan helaan napas yang terdengar mengepul di udara, sesekali menatap ke arah Baekhyun.

"Ketika aku tahu bahwa Tuan Muda menyukaimu, tanpa sadar aku menaruh banyak harapan padamu." Nyonya Kim tersenyum lembut. Menyalurkan kehangatan pada ruang kamar mereka. Membuat Baekhyun bungkam, mendengarkan setiap ucapan wanita itu dengan seksama. "Mungkin terdengar tak masuk akal. Tetapi aku yakin kau bisa membuat Tuan Muda menjadi sosok yang lebih baik. Dan ternyata, semua itu terbukti dalam beberapa hari kalian bersama."

Wanita paruh baya itu meringis memeluk dirinya sendiri ketika mulai bernostalgia pada masa lalu yang menyakitkan disaat ia meninggalkan Chanyeol dikurung di kamar terlarang. Ia tak pernah lagi menemui lelaki itu sejak hari dimana Chanyeol dikunci di dalam sana.

"Aku pernah menjadi nenek kesayangannya, dan seharusnya tetap seperti itu sampai saat ini. Namun aku tak yakin apa aku masih pantas mendapat sebutan itu setelah meninggalkan Tuan Muda sendirian untuk waktu yang lama. Bahkan aku yakin Tuan Muda membenciku sekarang."

Sementara itu sebelah tangan Baekhyun mulai terangkat menyentuh pundak lemah Nyonya Kim, yang dibalas oleh senyuman dari wanita tersebut sebelum kembali melanjutkan ceritanya.

"Aku selalu berusaha untuk menemui Tuan Muda berulang kali, namun Tuan Kris selalu mengetahui segalanya. Ia tidak membiarkan aku menemui cucuku yang tengah mengalami kesulitan itu." Suara Nyonya Kim terdengar bergetar seolah air mata akan segera keluar dari pelupuk matanya, tak sanggup menahan kesedihan. "Selama 10 tahun itu, Tuan tidak membiarkan siapapun mendekati Tuan Muda Chanyeol."

Dahi Baekhyun berkerut mendengarnya. Itu aneh. Mengapa Kris melarang semua orang untuk menemui Chanyeol? Apa alasannya? Mengapa seolah Kris memperlakukan Chanyeol seperti monster berbahaya sementara dirinya tak jauh beda dengan sang adik?

"K-Kenapa Tuan Kris melakukan itu?" Tanya Baekhyun dengan penasaran. Ia merasa jika ada yang salah disini, dan ia belum tahu apa itu.

Semakin ia masuk ke dalam keluarga ini, ia semakin tak mengerti permasalahan yang tengah terjadi. Sebenarnya ada apa? Apa hal yang ia tidak ketahui tentang keluarga ini? Tentang Kris dan Chanyeol?

Sementara Nyonya Kim memilih diam untuk beberapa saat, membiarkan keheningan menyerang mereka sebelum ia menatap Baekhyun kembali dengan penuh harapan besar.

"Jika aku bisa meminta, ijinkan aku meminta bantuanmu untuk menjauhkan Tuan Muda dari Tuan Kris." Wanita itu meraih kedua tangan Baekhyun dan menggenggamnya erat. Seolah benar-benar memohon pada Baekhyun untuk mengabulkan permintaannya.

Baekhyun semakin dibuat bingung. Ia menatap kedua bola mata Nyonya Kim bergantian dengan bibir yang bergetar kebingungan tak tahu harus menjawab apa. Ucapan Nyonya Kim mengingatkannya kembali pada kata-kata Sehun, bahwa kedua saudara kandung itu tak harusnya bersatu.

"T-Tapi kenapa? Sebenarnya.. kenapa semua orang ingin Tuan Kris dan Chanyeol tidak berbaikan?" Baekhyun mengerutkan dahinya, sungguh tidak mengerti.

Wanita itu terdiam menatap Baekhyun dengan hati yang berat. Iris matanya melirik ke arah lain dengan gugup. Ia telah menyimpan kata-kata ini sejak lama untuk diucapkan, namun ia sendiri belum cukup yakin untuk mengatakannya.

"Terkadang, aku berpikir bahwa Tuan Kris.. mungkin sajaㅡ"


"Pergilah, tinggalkan aku sendiri." Ucap Ilnam kepada sekretaris setianya.

"Baik, Tuan."

Begitu sekretarisnya pergi, Ilnam menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dengan layar laptop di hadapannya yang menampilkan sebuah artikel mengenai kasus penyerangan di rumah Keluarga Park. Ilnam menggeram kesal. Ia yakin rencananya sudah sempurna namun sepertinya ia terlalu berpihak pada egonya sehingga melupakan fakta bahwa Kris memiliki ratusan pengawal terlatih di rumah besar itu.

Ilnam memejamkan mata dan memikirkan cara apa lagi untuk menjatuhkan Kris. Pasukan yang ia kerahkan telah tewas seluruhnya tanpa sisa, bahkan dengan orang kepercayaannya yang mengetahui latar belakang Kris. Namun Kris seakan sulit dihancurkan. Pria itu tak tersentuh.

"Sial." Ilnam menaruh kacamatanya di meja dan memijat dahinya. Ia harus menyusun rencana lain sebelum Kris bertindak.

Bip.

Ilnam membuka matanya ketika dirasa seseorang telah menempelkan kunci hotel untuk membuka pintu kamarnya. Raut wajah pria tua itu terlihat kesal mengira bahwa pelakunya adalah sekretarisnya. Ia rasa sudah cukup jelas ia menyuruh sekretarisnya untuk pergi meninggalkannya sendirian.

Namun kedua mata lelahnya lantas membola saat melihat kehadiran beberapa pria berpakaian serba hitam dengan topi yang menutupi wajah mereka masuk ke dalam kamarnya. Ilnam bangkit dari duduknya dengan gelisah menatap kepada seluruh pria yang sedang berjalan kearahnya.

"S-Siapa kalian?!" Teriak Ilnam dengan suara lantang.

Kris yang datang terakhir dan beberapa pengawal didepannya menghentikan langkah tepat di hadapan pria tua yang ketakutan itu, sebelum membuka topinya dan tersenyum miring memperhatikan ekspresi terkejut Ilnam.

"K-Kau.."

"Kejutan!" Kris melebarkan kedua tangannya dengan ekspresi ceria yang dibuat-buat. Hal itu sontak membuat Ilnam merinding karenanya. Pria itu gila.

Ilnam mencoba menyembunyikan kepanikannya dengan berdeham pelan. Ia menutup layar laptopnya dan melangkah pelan memutari meja kerja untuk berhadapan langsung dengan Kris tanpa ada penghalang. Pria tua itu menatap Kris penuh percaya diri dan angkuh. Tak menyadari situasi saat ini telah membuatnya kalah telak. Ia seharusnya menyerah dan memohon pada Kris untuk tidak melakukan apapun kepadanya meski semua itu tentu tak akan berguna.

"Ada apa kau datang ke sini dan bahkan masuk ke dalam kamarku tanpa ijin?" Tanya Ilnam.

Kris menatapnya remeh seraya bergerak mengeluarkan sebuah pisau dari belakang sakunya. Begitu tajam hingga mengilap saat terkena cahaya lampu. Jemarinya yang tertutupi sarung tangan memainkan pisau itu dengan lihai.

"Aku hanya memberimu kejutan seperti yang kau lakukan padaku. Sayang sekali saat ini kau tidak berada di rumah, jadi aku memutuskan untuk melakukan kejutan di tempat kau bersembunyi." Terdengar nada mengejek pada suara Kris meski ekspresinya tetap datar.

Ilnam melirik kesana-kemari dengan panik. Mengutuk sekretarisnya yang entah ada dimana saat ini karena tak kunjung datang membantunya. Seketika ia menyesal karena kepergiannya ke Jepang hanya bersama seorang sekretaris tanpa membawa pengawal-pengawal yang menjaganya. Sial.

Ilnam mundur satu langkah menjauhi pria-pria itu. "Brengsek! Kau tidak akan bisa membunuhku, Kris!"

Kris menaikan satu alisnya. "Bukankah saat ini tidak seharusnya kau bersikap angkuh?" Jentikan jemari Kris membuat para pengawalnya bergerak mendekati Ilnam dan mengunci pergerakannya. Pengawal-pengawal tersebut memegangi kedua tangannya dan menarik kursi kerja sebelum mengikat pria tua itu di sana, mengabaikan teriakan Ilnam yang ingin dilepaskan.

"Lepas! Sialan kau, Kris!" Ilnam sungguh ketakutan. Namun ia tak ingin Kris menertawakan keadaannya yang tak dapat berbuat apa-apa.

Derap langkah Kris terdengar begitu menyeramkan memenuhi ruangan. Wajah Kris yang datar tanpa ekspresi membuat bulu kuduk Ilnam berdiri. Kris terlihat seperti pembunuh berdarah dingin dengan pisau itu. Pengawal yang sedari tadi berdiri di kedua sisi Ilnam lantas menjauh. Membiarkan tuan mereka agar leluasa memperlakukan Ilnam.

"Kau tidak benar-benar mengenalku, Ilnam." Kris berbicara di telinga pria tua itu dengan nada yang rendah. "Kau seharusnya tidak memancing kesabaranku." Kris tersenyum miring menatap wajah pucat Ilnam dan tubuhnya yang gemetar namun masih menampakan raut wajah sombong.

"Aku mengenalmu, Kris. Kau dan adikmu sama-sama pembunuh!"

Ucapan itu membuat Kris menajamkan tatapannya. Rahangnya mengeras merasakan aliran darahnya yang berdesir menahan marah ketika adiknya disebut saat ini. Hingga akhirnya ia menancapkan pisau tajam itu ke arah perut Ilnam dengan cepat dan terus menekannya hingga dalam.

"Aaakkh!" Pria tua itu menundukan wajahnya merasakan rasa sakit yang luar biasa ketika pisau itu membelah kulit dan mengoyak isi perutnya. Sementara Kris menatap datar sembari mengeluarkan pisau itu hingga tetesan darah memenuhi ke lantai sekitar mereka.

Kris masih tetap bertahan dengan ekspresinya bahkan saat berucap, "Tutup mulutmu."

Ilnam memuntahkan darah dari mulutnya dengan wajah yang pucat pasi. Ia butuh pertolongan saat ini. Ia bisa saja kehabisan darah. Namun Ilnam masih tetap angkuh dan tak menunjukan sikap lemah yang Kris inginkan. Dengan susah payah, pria itu membalas. "Aku.. benar, bukan? A-Adikmu itu.. pembunuhh.."

Kris memegang erat pisau di tangannya hingga terlihat jelas urat-urat menonjol.

"Aku.. me-nyaksi..kannya. Sepuluh tahun.. yang la-lu, ad-adik..mu membunuh.. beberapa pe-jalan ka..ki."

Hal yang tidak Kris sadari, bahwa Ilnam merupakan salah satu saksi yang tak ia ketahui keberadaannya. Seharusnya Kris sudah membunuh Ilnam dulu.

"Pengecut! K-Kau menyembunyikan..nya di rumahmu, bu-kan? Seharusnyahh.. adikmu itu ma-suk penja..ra."

SRAATT..

"Aku tidak mengijinkanmu berbicara omong kosong." Bersamaan dengan kekesalannya, ia mengayunkan tangannya menggores wajah lelaki itu secara diagonal. Membiarkan satu bola mata pria itu ikut terlukai tajamnya pisau.

"AAARRRGGHHH!" Jangan tanya betapa sakit dan perih yang dirasakan Ilnam. Bersyukur ruangan tersebut kedap suara sehingga teriakan menggelegar Ilnam tak akan mengundang tanda tanya kepada semua penghuni hotel.

Kris bersorak senang di dalam hati mendapati wajah kesakitan itu yang tercampur dalam ketakutan. Kris menyukai bagaimana pria itu mencoba mengatur pernapasannya agar tetap terjaga. Sungguh menyenangkan, bukan? Kris bahkan tersenyum lebar hingga memperlihatkan giginya.

Para pengawal yang terbiasa melihat tuan mereka bersikap gila hanya dapat berdiam diri, namun tak jarang juga ada pengawal yang mencoba menahan rasa mual melihat darah yang terus mengalir dari tubuh Ilnam.

Darah mengalir dari pelupuk mata Ilnam. "Se-mua a..kan seghera ta..tahu adikmu adalahh.. pembunuh."

Kris menatapnya remeh. "Itu tidak akan terjadi selama masih ada aku." Ya, benar. Sampai kapanpun, Kris akan selalu melindungi Chanyeol dan Chanyeol akan selalu baik-baik saja.

Ilnam berdecih lalu terbatuk-batuk merasakan tubuhnya kesulitan bergerak. "K-Khau.. selalu saja m-membu-nuh orang ha-nya demi.. melin..dungi adikmuh.." Bagi Ilnam itu terdengar konyol mengetahui Kris selalu saja melindungi adiknya mati-matian bahkan menyembunyikan keberadaan Chanyeol dari awak media dengan mengurungnya di rumah besar itu. Bagi Ilnam yang telah mengawasi pria itu selama bertahun-tahun membuatnya tahu bahwa Kris begitu takut sesuatu terjadi kepada Chanyeol.

Ilnam menarik napas dalam-dalam. Mengabaikan rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya termasuk rasa sangat lemas dan lemah.

"Tapi, a..pa adikmu.. peduli jika kau melakukan..nya?" Ilnam terkekeh susah payah. "Kurasa.. tidak."

Setidaknya jika Ilnam mati hari ini, ia telah berhasil menyulut emosi Kris.

Dan benar, Kris berlipat-lipat kali semakin marah. Kedua matanya memerah dikabuti rasa ingin membunuh. Ucapan Ilnam yang seolah menohoknya membuatnya ingin menutup mulut pria tua bangka itu. Kris sungguh tak akan memberi ampun.

"Brengsek!" Amuknya. "Mati kau! Mati! Mati!"

Pria tampan itu tak hanya menusuk dada Ilnam, ia juga melakukan hal yang sama pada kedua paha dan tubuh pria yang sudah kehabisan darah itu berulang kali. Cipratan darah membasahi pakaian dan wajahnya. Namun ia masih tetap menusuk pria tua itu seolah belum puas, bahkan ketika tubuh itu hanya menyisakan jasad tanpa nyawa.

"Mati, Ilnam! Mati kau! Mati!"

Para pengawal terlalu takut untuk menghentikan aksi Kris karena mereka tak ingin menjadi sasaran amukan bagi tuan mereka. Jadi mereka tetap berdiam diri sampai Kris merasa jauh lebih tenang.

Setelah puas, Kris melempar pisau yang ia gunakan dan memejamkan matanya mengontrol emosi. Dengan napas terengah-engah, ia meludahi mayat Ilnam. Lalu menoleh kepada para pengawal yang berada di balik punggungnya dengan nada datar.

"Urus semuanya."

Setelah mengucapkan itu, Kris berlalu pergi meninggalkan kamar berdarah Ilnam tanpa suara. Dan membiarkan para pengawal bekerja menutupi kejahatan yang telah dilakukan tuan mereka.


Didalam pelukan Chanyeol dan selimut yang menyelimuti keduanya, Baekhyun menatap jauh pada bintang-bintang di langit yang bersinar dengan cahaya terang.

Mereka duduk di atas tempat tidur dengan pandangan yang menatap ke arah jendela di keadaan kamar yang gelap. Membiarkan hanya sinar rembulan yang menerangi keduanya dengan segelas susu cokelat panas.

Jemari Chanyeol mengeratkan pelukan pada perut Baekhyun yang rata dan menaruh dagunya pada pundak Baekhyun. Terasa begitu nyaman berada dalam posisi seperti itu.

"Bintangnya indah sekali, ya." Kedua bola mata indah si mungil menatap dengan berbinar kepada cahaya bintang yang berkelap-kelip. Sesekali menyesap susu cokelatnya.

"Kau ingin aku mengambilkannya untukmu?" Tanya Chanyeol yang disambut kekehan manis dari bibir tipis Baekhyun. Pertanyaan yang tak masuk akal namun membuat hati Baekhyun bergetar.

Chanyeol ikut tersenyum singkat seraya mengeratkan pelukannya dan sedikit menggoyangkan pelan tubuh Baekhyun ke kanan dan kiri. "Aku sangat mencintaimu, Baek. Cintaku sedalam itu padamu hingga aku ingin memberikanmu segalanya." Bisikan cintanya mengalun dengan lembut, memberi debaran halus pada si mungil. "Andai saja aku bisa memberimu seisi dunia dan bahkan jika itu hanya sebatas bintang. Bagiku, kau pantas menerima segalanya." Lanjut Chanyeol.

Pernahkah kau merasa ingin memberikan segalanya pada seseorang yang kau sayangi bahkan jika itu hal yang tak masuk akal? Seolah kau dapat melakukan apa saja untuk membahagiakan orang tersebut. Maka kau benar-benar mencintainya sepenuh hatimu. Dirimu hanya dipenuhi oleh sosoknya.

Baekhyun menoleh pada Chanyeol dan mengerjap pelan. Membiarkan bulu matanya bergerak dengan cantik memperhatikan wajah tegas lelaki itu dari samping. Ia tersenyum. Saat ini, Chanyeol terlalu manis untuk diabaikan. Baekhyun tidak tahu jika Chanyeol bisa seromantis itu dalam berkata-kata. Tapi tentu Chanyeol tak hanya sebatas mengucap, ia bersungguh-sungguh.

"Aku juga sangat mencintaimu, Park Chanyeol. Dan meskipun aku tak bisa memberikanmu apapun, namun dapat kupastikan aku bisa berjanji untuk selalu mencintaimu." Senyuman Baekhyun yang bersinar secerah mentari membawa kehangatan pada hati Chanyeol.

Chanyeol tersenyum dan memeluknya lebih erat lagi. Merindukan tubuh itu meski ia menyentuhnya saat ini. "Dan kau harus berjanji untuk tidak meninggalkanku."

Baekhyun mengangguk penuh yakin. "Aku berjanji."

"Berjanjilah untuk tidak bersembunyi dariku."

"Aku berjanji."

"Berjanjilah.. kau tidak akan pernah menghilang dari pandanganku."

Baekhyun terkekeh manis memandangi wajah serius Chanyeol. "Aku berjanji, sayangku."

Dan tiada hal yang lebih membahagiakan bagi keduanya, sehingga Chanyeol mendekatkan wajah mereka. Mengikis jarak yang menjadi penghalang diantara keduanya. Membiarkan tubuh mereka saling mendekat dan menyatu dalam sentuhan lembut di kedua belah bibir mereka bersama debaran halus nan seirama.

Kedua pasang mata itu terpejam meresapi bibir satu sama lain dengan lumatan yang halus, dengan rasa susu cokelat yang mendominasi. Sementara tangan Chanyeol bergerak menyentuh belakang leher Baekhyun untuk memperdalam ciuman mereka dan membuktikan pada bulan serta bintang-bintang di langit malam, bahwa Chanyeol sungguh mencintai Baekhyun.

Jemari mungil Baekhyun balas menyentuh rahang Chanyeol dan sesekali mengusapnya pelan. Membiarkan tubuh keduanya berdesir merasakan perasaan bergejolak kala mereka semakin memperdalam ciuman itu. Lidah mereka tak hentinya bermain hingga terdengar suara decakan yang mengisi kesunyian. Mereka kembali menciptakan surga mereka sendiri.

Chanyeol melepas ciuman itu dan menatap pada wajah Baekhyun yang memerah dengan bibir yang membengkak akibat perbuatannya. Lelaki mungil yang berada dalam rengkuhannya terlihat sayu dan menggairahkan membuat Chanyeol merasa gelisah, ingin berbuat lebih jauh.

"Jika kau selalu cantik seperti ini, bagaimana bisa aku menahan diriku?" Bisikan Chanyeol menghasilkan degupan pada jantung Baekhyun bersama tangannya yang kini telah beralih mengusap punggung mungil Baekhyun dari balik pakaiannya dengan penuh kelembutan, membuat Baekhyun semakin terbuai dengan sentuhannya.

Dengan wajah semerah tomat, sang kekasih menatap malu-malu pada Chanyeol. "Maka, jangan berhenti." Ia menggigit bibir bawahnya. "Lanjutkan saja. Aku ingin mengenalmu lebih jauh, Chanyeol. Aku.. ingin tahu sosok dirimu." Bisiknya. Dan semua itu bagaikan pertanda bahwa Baekhyun mempercayai Chanyeol sepenuhnya.

Chanyeol tersenyum sangat tampan dan mengusap lembut sebelah pipi Baekhyun. "Kau tidak akan menamparku lagi kali ini, bukan?" Oh, itu bukan sebuah ejekan. Chanyeol bertanya dengan sangat serius akan hal itu. Berjaga-jaga apabila ia akan kembali mendapat tamparan manis dari si mungil.

Baekhyun menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Chanyeol menahan malu. Wajahnya sudah seperti kepiting rebus sembari mengutuk kebodohannya saat itu. "Aku tidak akan menamparmu." Gumamnya pelan, namun masih dapat terdengar oleh Chanyeol.

Chanyeol tersenyum dan mengambil gelas yang masih ada di tangan Baekhyun untuk ia taruh pada nakas disamping tempat tidurnya, begitu juga dengan gelas miliknya. Kemudian ia kembali menatap pada sosok Baekhyun yang menatapnya malu-malu. Dan Chanyeol tak tahan untuk tidak mengangkat tubuh lelaki itu keatas pangkuannya. Membiarkan kedua gundukan mereka saling bergesekan disana.

"Ngh.." Lenguhan terdengar dari bibir tipis Baekhyun, sementara Chanyeol menggeram tertahan. Baekhyun tampak memukau saat ini. Membuatnya benar-benar terangsang hanya melihat wajah lugu lelaki mungil itu.

Dengan mata yang sayu, Baekhyun membuka sedikit bibir merahnya dan merengek pelan. "Chanyeol, cium aku." Namun Chanyeol tak melakukannya. Ia hanya tersenyum miring dan justru menggerakan jari nakalnya menyelinap ke dalam pakaian Baekhyun dan mencari puting sang kekasih.

"Ahh.." Baekhyun memejamkan matanya ketika Chanyeol memainkan kedua putingnya, memilinnya dengan lembut lalu bergerak sedikit kasar. Sementara Chanyeol mulai menciumi leher jenjangnya. Menjilat dan menggigit area lehernya sehingga meninggalkan bercak-bercak kemerahan.

Baekhyun dikabuti kenikmatan oleh perlakuan Chanyeol dan itu membuatnya bergerak gusar merasakan tubuhnya sangat panas. Jemari-jemari mungilnya berulang kali mengusap leher Chanyeol atau meremas rambutnya dengan penuh napsu. Mereka kembali berciuman dengan panas. Saling melumat dengan penuh semangat, ingin mendominasi satu sama lain. Seolah ciuman itu membawa mereka pada tingkat tertinggi dan mereka merasa kehilangan akal.

Chanyeol melepas ciuman mereka dengan saliva yang bertautan lalu menidurkan Baekhyun di tempat tidur dengan nyaman. Ia mendekat dan berbisik dengan tangannya yang bergerak sensual mengusap paha dalam lelaki mungil itu. "Baek, memohonlah padaku."

Chanyeol sungguh bergairah. Ia menatap Baekhyun dengan kedua bola matanya yang menggelap. "Katakan kau ingin aku memulai semuanya." Bisiknya kembali dengan seduktif.

Baekhyun menggigit bibir bawahnya dengan wajah merah padam. Antara menahan rasa malu dan tak tahan untuk merasakan lebih jauh Chanyeol membawanya gila. Namun ia bersedia memohon jika itu tandanya ia dapat merasakan kenikmatan surga duniawi dengan kekasihnya.

Jemari lentik Baekhyun bergerak mengelus rahang lelaki itu. "Chanyeol, please.." Ucapnya memohon. "Sentuh aku, Chanyeol. Aku ingin kau berada di dalamku. Please, Chanyeol.."

Rasanya menyenangkan mendengar lelaki itu memohon kepadanya. Dan Chanyeol benar-benar gila setelah itu. Adrenalin nya meningkat drastis dan membuatnya melepas baju yang ia kenakan dengan tidak sabar. Memperlihatkan tubuh atletisnya yang mampu membuat jantung Baekhyun berdegup cepat dan ingin sekali menyentuhnya. Membayangkan bagaimana ia ingin menggigit dada bidang itu dan meninggalkan tanda kepemilikan disana.

Chanyeol menyeringai. "Menyerahlah dibawahku, Baek."

Dan setelahnya Chanyeol menindih tubuh Baekhyun. Mereka kembali berciuman untuk kesekian kalinya. Disela ciuman mereka Chanyeol melepas semua helai benang yang melekat ditubuh kekasihnya, hingga tak menyisakan apapun. Dan Baekhyun melakukan hal yang sama pada tubuh Chanyeol dengan melepas celana lelakinya. Hingga kini keduanya benar-benar telanjang bulat.

Lidah Chanyeol yang semula bermain di bibir tipis Baekhyun kemudian turun menggigit dagunya dan semakin turun menjilati leher, dada dan berhenti di perut Baekhyun.

"Yeol..mmhh.."

Chanyeol menatapnya dengan sangat mendominasi sementara jemarinya kini telah menggenggam penis Baekhyun. Membuat sang empu meracau tak karuan kala Chanyeol mengocok penisnya dengan tempo cepat.

"Ah..ah..ahhh.."

Chanyeol tersenyum miring dan semakin mempercepat temponya. Menikmati setiap ekspresi lelaki yang ada dibawahnya. Bersamaan dengan itu, ia menurunkan wajahnya untuk menjilati kedua bola kesayangan Baekhyun disekitar penis itu.

"Ssh.. Chan..yeol.."

Merasa Chanyeol mengambil alih dirinya terlalu jauh, Baekhyun tak ingin hanya dirinya sendiri yang merasakan kenikmatan. Ia mengarahkan jarinya untuk ikut memanjakan penis Chanyeol yang sudah mengeras. Milik Chanyeol sangatlah besar hingga Baekhyun tak cukup menggenggamnya hanya dengan satu tangan.

Chanyeol mendesis, merasakan jemari lembut Baekhyun berada pada miliknya membuatnya benar-benar kehilangan akal. Terlebih lagi Baekhyun mengurut penisnya dengan sangat lembut. Chanyeol merasa gila karena ia sangat menginginkan sang kekasih untuk mempercepat temponya. "Baekhh.."

Baekhyun menggigit bibirnya, tubuhnya semakin panas mendengar desahan berat Chanyeol. Dan akhirnya ia mulai mempercepat tempo mengocok penis Chanyeol menyamakan tempo sang kekasih pada miliknya. Mereka saling memuaskan hasrat satu sama lain.

Sudah yang kedua kali Baekhyun menyemburkan cairannya, namun Chanyeol masih tetap keras dan bergairah.

"Ahh.. shit." Chanyeol segera melepas tangan Baekhyun darinya dan memposisikan penisnya pada lubang Baekhyun. Sementara lelaki mungil itu langsung mengerti dan membuka pahanya lebar. Membuat dirinya terlihat jelas di depan Chanyeol. Dan Chanyeol tak bisa untuk tidak semakin terangsang melihatnya.

"Katakan jika sakit, Baek." Ucap Chanyeol dengan napas yang terengah, yang langsung diangguki oleh Baekhyun.

Keduanya telah siap. Chanyeol mendekatkan dirinya semakin maju. Memasukan penisnya pada lubang hangat Baekhyun dengan sangat perlahan. Meski ia sangat bernapsu, namun ia tak ingin menyakiti Baekhyun. Setidaknya, ia mencoba mengurangi rasa sakit itu. Dan Baekhyun nampaknya mampu menahan rasa sakit tersebut. Ia mengangguk setelahnya untuk memberi Chanyeol tanda bahwa Chanyeol mulai bisa menggerakan tubuhnya.

"Ngghh..Yeollhh.. Ahh!Ahh!" Chanyeol benar-benar menghantam Baekhyun dengan keras. Chanyeol terlihat sangat berkuasa diatas sana, bergerak dengan tempo yang luar biasa cepat dan dalam. Membuat Baekhyun hanya bisa mendesah dengan frustasi. Ia tak bisa membayangkan hal lain selain kenikmatan yang Chanyeol berikan padanya.

Chanyeol terus bergerak cepat. Sebelah tangannya ia gunakan untuk mengocok penis si mungil. Ia menyeringai memperhatikan Baekhyun yang memejamkan mata dengan mulut yang terbuka mendesahkan namanya berulang kali. Sungguh pemandangan yang sangat indah.

"Oohh..Ak-Akuhh..Mmhh.." Baekhyun menggelengkan kepalanya berulang kali dengan kedua tangan yang meremas kuat seprai.

"Ssh.. Kau.. sangat nikmat, Baek." Chanyeol mendongakan kepalanya menikmati penyatuan tubuh mereka yang semakin kasar. Chanyeol mengigit bibirnya seraya mengusap rambutnya ke belakang dengan pinggul yang terus menggoyang miliknya pada Baekhyun.

"C-Chanyeol..aahh..a-aku..ingin..nggh..keluar.."

Mendengar itu, Chanyeol semakin mempercepat gerakannya membuat decitan ranjang mereka semakin terdengar jelas. Chanyeol mendekatkan bibirnya pada telinga Baekhyun. Menjilat dan mengulumnya, yang langsung membuat sang empu menggeliat keenakan. Ia berbisik setelahnya. "Bersama denganku, Baek."

Dan setelahnya, kedua lelaki itu mendesah seraya menyemburkan cairan cinta bersamaan. Chanyeol menusuk kembali miliknya pada Baekhyun dengan maksud ingin membuat cairan spermanya habis memenuhi lubang Baekhyun. Deru napas lega mereka mengisi kamar yang nampak gelap dan sunyi. Keduanya sama-sama terengah akibat kegiatan panas mereka yang menguras banyak tenaga.

Chanyeol memberi kecupan singkat di dahi kekasihnya. Seolah berkata bahwa ia sangat berterima kasih kepada Baekhyun karena membiarkannya menyentuh lelaki itu malam ini. Setelahnya, Chanyeol yang berada di atas Baekhyun lantas menjauhkan tubuhnya tak ingin membuat Baekhyun keberatan karena bobot tubuhnya.

Namun saat ia baru setengah berdiri, Baekhyun menahan lengannya dengan tatapan yang sialnya mulai Chanyeol sukai. Baekhyun menatap sayu padanya dengan jari telunjuk yang digigit diantara belah bibir lelaki itu.

"Chanyeol.." Panggilnya dengan sedikit rengekan pada nada suaranya, membuat Chanyeol mengerjapkan mata dan menunggu lelaki mungil itu berbicara lagi.

Baekhyun melirik kearah lain sebelum berakhir menatap kembali pada kekasih yang masih berada diatas tubuhnya. "Sentuh aku lagi, Chanyeol. Please.."

"Baek?"

Ia sedikit tak menduga jika Baekhyun akan kembali memohon padanya. Membuat tubuh bagian bawahnya kembali mengeras setelah ia menyadari maksud dari ucapan tersebut. Sebuah tanda bahwa Baekhyun menginginkan Chanyeol untuk kembali memulainya. Atau lebih tepatnya, mengulangi kegiatan mereka.

Jemari Baekhyun bergerak mengusap dada bidang dihadapannya. Ia tak peduli jika ia akan merutuki sikap liarnya di keesokan hari, karena saat ini ia sungguh membutuhkan Chanyeol. Ia ingin kembali merasakan tubuh lelaki itu. "Aku.. masih menginginkanmu, Chanyeol."

Dan Park Chanyeol mengumpat dalam hati mengakui betapa lemah dirinya yang menjadi sangat terangsang hanya karena mendengar bisikan sensual itu.


Setelah penerbangannya dari Jepang, ia langsung sesegera mungkin kembali ke rumah. Langkah pelannya membawanya menaiki tangga demi anak tangga. Sarung tangan yang sedari tadi menyelimuti jemarinya lantas ia lepaskan agar memberi napas bagi kedua tangannya untuk merasakan udara. Tak peduli akan tubuhnya yang sudah sangat lelah, ia hanya ingin bertemu dengan Chanyeol terlebih dulu. Ia bisa istirahat sehabis itu.

Kris mengulas senyuman termanisnya tiap kali dirasa ia akan semakin dekat dengan kamar adik kesayangannya. Setelah apa yang terjadi dengannya di Jepang, ia ingin memberitahu Chanyeol. Memperlihatkan kedua tangannya yang memerah menyisakan sedikit darah milik Ilnam disana, sebagai bukti bahwa ia berhasil menyingkirkan seseorang yang berani mengusik kehidupan Chanyeol.

Ia sangat ingin menunjukan pada Chanyeol bahwa tak terhitung banyak hutang budi yang harus Chanyeol bayar selama ini atas perlindungannya. Ia ingin sekali menceritakan perjuangannya selama ini untuk melindungi Chanyeol. Karena Kris telah melakukan segalanya untuk lelaki itu sampai detik ini.

Langkah Kris semakin dekat dengan pintu yang dulunya merupakan pintu terlarang. Ia terdiam sejenak di hadapan pintu kamar Chanyeol dan tersenyum simpul. Sebelum akhirnya, ia mengangkat tangan dan membuka knop pintu secara perlahan.

Namun sayang, tak seharusnya ia menyaksikan hal menyakitkan itu.

"Sshh.. Baek, akuhh.. sangat mencintaimu."

"Aahh! Aahh! Yeoll.."

Tubuh Kris membeku dengan pandangan yang tertuju pada kedua insan yang terpapar oleh sinar rembulan dari balik jendela. Iris matanya bergetar. Kris melihat semuanya dan mendengar jelas suara yang satu-satunya memenuhi pendengarannya. Namun sampai beberapa detik ia masih tetap terdiam, berdiri di sana seperti orang bodoh. Memperhatikan kedua lelaki yang tengah diselimuti hawa nafsu dan kenikmatan. Mereka terlalu sibuk hingga tak menyadari jika ada orang lain yang menyaksikan kegiatan mereka.

Kris mengepalkan tangannya dengan erat. Bahkan darah Ilnam seolah mengejeknya. Memberitahunya bahwa usahanya selama ini adalah sia-sia. Mengatakan padanya bahwa Chanyeol tak akan pernah melihat kearahnya. Bahwa Chanyeol tidak akan pernah peduli atas apa yang sudah ia lakukan.

"Chanyeol-ah, bukankah aku sudah menjadi pahlawanmu lagi hari ini?" Gumamnya pelan. Rasa sedih menjalar padanya, meski rasa marah dan kesal lebih mendominasi. "Aku selalu menjadi pahlawanmu, Park Chanyeol."

Ya, semua yang Kris lakukan sejak dulu semata-mata hanya untuk lelaki itu. Demi menjadi pahlawannya.

Kris menajamkan tatapan matanya dengan rahang yang mengeras, menahan emosi yang siap untuk meledak.

"Bukankah kau menyukaiku karena itu?"


Sosok kakak tentu akan menjadi seorang panutan bagi adiknya. Dari bagaimana cara berperilaku maupun bersikap, semuanya akan dicontoh oleh adik.

Begitulah yang terjadi pada Kris saat itu. Sejak kecil, adiknya yang bernama Chanyeol atau yang akrab ia sapa Richard begitu mengagumi betapa hebat dirinya, sehingga ia selalu dijadikan sebagai panutan dalam setiap hal. Bahkan Chanyeol juga menganggap bahwa sosok Kris adalah seorang pahlawan yang akan selalu menjaga, merawat, dan melindungi Chanyeol dari segala macam bahaya.

Jauh sebelum itu, Kris sangat menyayangi Chanyeol lebih dari apapun. Ia selalu ingin menjaga lelaki kecil itu dibawah perlindungannya. Dan Kris sungguh merasa senang bukan main saat mengetahui betapa adiknya sangat menyukainya. Untuk Kris, Chanyeol adalah segalanya.

Waktu terus semakin berlalu dan bahkan sudah tak terhitung lagi sudah seberapa seringnya Kris dan Chanyeol menghabiskan waktu bersama-sama. Selain karena mereka memiliki kegemaran yang sama, keduanya memang saling mengerti satu sama lain. Dan untuk Chanyeol, Kris adalah sosok terhebat baginya. Kris adalah orang terhangat yang ia miliki. Kris, adalah segalanya.

Bahkan meski Chanyeol menemukan sisi buruk kakaknya, hal itu tak merubah persepsinya. Baginya, Kris tetaplah sosok yang ia kagumi.

"K-Kris hyung." Chanyeol yang saat itu telah berumur 10 tahun berdiri dengan tubuh yang gemetar. Tatapan terkejutnya seolah menghakimi Kris.

Kris menegakan tubuhnya yang terasa kaku saat pandangan mata mereka bertemu. Tak jauh dari tempatnya berada, sang adik tengah menatapnya ketakutan.

Selama ini, Kris selalu berusaha dengan keras. Ia selalu berusaha menunjukan sikap dan perilaku baik yang memang harus dicontoh oleh Chanyeol. Ia mencoba mendidik Chanyeol dengan tegas. Kris ingin membuat Chanyeol selalu merasa nyaman berada didekatnya dan akan selalu menganggapnya sebagai orang yang terpenting dihidup lelaki kecil itu.

Namun Kris tak pernah tahu bahwa sekeras apapun ia mencoba, sulit baginya untuk menutupi dan menahan diri. Nyatanya ia tetaplah seorang monster jahat. Ia harus menelan fakta bahwa dirinya sangat tidak pantas untuk dijadikan seorang panutan. Bahwa dirinya bahkan bisa membuat adik kecil yang sangat ia sayangi berada dalam bahaya.

"H-Hyung.."

Lalu Kris bergerak gelisah akan tatapan itu. Tak seharusnya Chanyeol melihat dirinya melakukan hal seperti ini. Chanyeol tak seharusnya melihat dirinya tengah membunuh burung peliharaan ayahnya dengan mencengkramnya begitu kuat sampai leher burung tersebut patah. Chanyeol tak seharusnya melihat bagaimana sosok dirinya yang tertawa senang melihat darah menetes dari sela jemari tangannya.

"R-Richard.."

Chanyeol bergerak mundur satu langkah. "M-Mengapa kau melakukan.. itu, hyung?"

Kris melepaskan burung itu dan membiarkan burung tersebut jatuh tak bernyawa di tanah. Lelaki yang lebih tua itu menatap darah yang berada ditangannya dengan gugup. "Aku.. A-Aku hanya merasa begitu kesal dengan hewan ini.." Jawab Kris dengan jujur. "Ia.. sangat berisik." Sebuah jawaban yang terdengar sangat tidak logis dan tidak membenarkan Kris untuk membunuh hanya karena merasa kesal. Namun Chanyeol masih terlalu muda untuk mengerti apa yang terjadi.

Sejak saat itu, semakin dirinya bertambah dewasa, Chanyeol menjadi lebih sering melihat kakak yang disayanginya melakukan hal-hal kejam. Ia sering kali menangkap basah kakaknya tengah membunuh binatang-binatang tak berdosa, sampai melukai teman-teman sekelasnya karena sering mengejek atau membully dirinya.

"Mereka pantas mendapatkannya, Richard. Mereka berani menyakitimu, maka mereka juga harus tersakiti pada akhirnya. Rasa sakit yang begitu lama dan sulit untuk pudar. Mereka pantas untuk itu." Ucap Kris. Lelaki itu memegang kedua pundak Chanyeol dengan tatapan lurus menatapnya. "Kau harus melindungi dirimu dengan pemikiran itu."

Kris tak akan pernah tahu betapa berpengaruhnya kalimat tersebut pada Chanyeol. Seharusnya, Chanyeol menyadari ada yang aneh dengan kakaknya dan bukan mengikuti setiap tutur kata yang Kris katakan kepadanya. Hingga akhirnya, seorang adik yang selama ini Kris sayangi berperilaku tak beda jauh dengannya. Chanyeol berubah menjadi sosok yang sama kejamnya dan akan menyakiti siapapun jika merasa dirinya terusik. Kris telah membuat Chanyeol yang polos dan lugu menjadi sosok menyeramkan seperti dirinya. Monster.

Namun lebih dari itu, nyatanya Kris bahkan lebih dari sekedar orang jahat yang telah menjerumuskan sang adik pada penyakit kejiwaan. Lebih dari semua itu, ada hal yang jauh lebih membuat Kris sangat tidak pantas menjadi seorang panutan, bahkan sebagai seorang kakak.

Selain menjadi psikopat gila, seharusnya Kris tidak menambah dosa pada hidupnya seperti itu.

Kau tahu apa itu?

Ia memiliki perasaan khusus pada adiknya sendiri. Karena Kris jatuh cinta pada Chanyeol.

.

.

.

.


{ To Be Continued }


8k words..

Hola! Sebelumnya aku mau mengucapkan Merry Christmas, and Happy New Year!

Selamat datang tahun 2019. Semoga tahun 2019 akan menjadi tahun yang lebih baik untuk kita semua. Dan untuk para exol, tetap dukung exo terus ya! Kita sudah melewati tahun-tahun bahagia dan tahun-tahun menyakitkan bersama-sama. Kita sudah menjadi lebih kuat setiap hari, jadi tolong jangan lepaskan genggaman kalian. Apapun yang terjadi, percaya apa yang ingin kamu percayai. Dan apapun yang terjadi, jangan pernah lupakan momen berharga selama ini. We are one! Saranghaja!

Aku harap Chap ini cukup memuaskan yahh wkwk Dan karena perlahan-lahan sudah mulai terbongkar, maka kita sudah bergerak semakin dekat menuju masa lalu. Untuk part nc, maaf ya aku ga pandai bikin nc, jangan bully aku wkwkwk

Terima kasih banyak aku ucapkan kepada yang sudah fav/foll/review. Kritik dan saran yang membangun akan selalu aku terima dengan senang hati. Aku gak maksa kalian untuk review, tapi alangkah baiknya jika kalian meninggalkan jejak hehe Aku rindu sekali bacain review kalian.. Sampai jumpa lagi!

~Wherever we go will be heaven if EXO and EXO-L are together~