DO NOT ENTER ! (CHANBAEK)
BOYSLOVE/YAOI
Main Cast :
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Summary :
Jangan masuk ke dalam sana! Tidak ada yang diperbolehkan masuk ke dalam sana! Larangan tersebut telah diketahui oleh setiap penghuni rumah. Namun Byun Baekhyun, laki-laki yang mendadak menjadi seorang penyusup telah melanggarnya.
~Keseluruhan cerita berasal dari imajinasiku sendiri~
.
.
BB922016
Do Not Enter ! : Chapter 10
Perasaannya hancur. Ia kacau, marah, dan kecewa. Rasanya sangat menyesakan sampai ia sulit bernapas. Ini lebih dari yang namanya sekadar patah hati.
Kris membanting semua barang yang ada di dalam kamarnya. Melempar dan menghancurkan benda apapun yang berada di jarak pandangnya. Pria itu memporak-pondakan kamarnya hingga tak lagi layak disebut sebagai kamar.
Lukisan-lukisan mahal yang selalu menjadi koleksinya selama bertahun-tahun, kini telah hancur tak berbentuk hanya dalam sekejap mata. Sama halnya dengan buku-buku yang selalu ia biarkan tersusun rapih, yang kini telah jatuh berserakan di lantai seolah mereka memang tak bernilai apa-apa sejak awal.
"AARRGHHH..!" Kris membalik meja kerjanya, menimbulkan suara yang cukup keras terdengar. Ia mengamuk layaknya orang gila.
Tak lama terdengar derap langkah terburu-buru para pengawal menghampiri pintu kamar itu. Para pengawal terlihat khawatir sekaligus takut akan apa yang sedang terjadi pada majikan mereka saat ini setelah mendengar suara berisik yang ditimbulkan dari dalam kamar sang pemilik rumah.
Ketukan pintu terdengar dilanjutkan dengan suara salah satu dari pengawal yang datang. "Tuan, apa anda baik-baik saja di dalam sana?"
Pertanyaan itu membuat Kris yang berniat melempar lampu tidur terdiam mengepalkan tangannya. Ia mendengus kesal, menelan kembali emosinya yang meledak-ledak. Tentu ia sangat tidak baik-baik saja. Rasanya saat ini Kris ingin sekali membunuh seseorang untuk meluapkan amarahnya. Andai ia bisa, mungkin orang itu adalah Byun Baekhyun.
Bukankah selama ini ia terlalu berbaik hati kepada penyusup tersebut? Tidak seharusnya ia membiarkan Baekhyun hidup sejak awal. Seharusnya ia memusnahkan laki-laki itu di hari pertama ia melihat wajah tersebut berada di dalam rumahnya. Seharusnya ia sudah menduga jika lelaki itu akan menjadi hama di hidupnya. Menyebalkan. Berani-beraninya lelaki menjijikan itu merebut sesuatu yang menjadi miliknya.
"Tuan?" Tak mendapati jawaban, pengawal tersebut kembali mengetuk pintu kamar untuk memastikan jika tuan mereka ada di sana. "Apa kami diperbolehkan untuk masuk, Tuan?"
Kris memejamkan mata mencoba mengatur napasnya yang terdengar memburu. Ia menjatuhkan lampu itu kemudian beralih menatap pada pintu kamar, seolah tengah menatap para pengawal setia yang berjaga dengan was-was di depan kamarnya.
"Pergi atau kubunuh kalian semua."
Kalimat itu cukup jelas untuk membuat para pengawal diam membungkam tak berani untuk mengecek situasi di dalam kamar lebih lanjut yang sudah tak jauh beda dengan kapal pecah. Pengawal yang berjumlah enam orang itu saling bertatapan satu sama lain, menimbang-nimbang apa yang harus mereka lakukan dan berakhir dengan segera membungkuk patuh lalu lekas berbalik pergi meninggalkan tempat tersebut, berpura-pura seakan tak pernah mendengar adanya keributan yang berasal dari sana.
Setelah para pengawalnya dipastikan telah pergi, Kris jatuh terduduk di lantai. Ia menjambak rambutnya dengan penuh frustasi. Pikirannya sungguh rumit seperti benang kusut, tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia merasa.. dunia seolah runtuh hari ini. Kris membenci segalanya. Ia terluka dan merasa tak berdaya. Ingin menangispun rasanya sia-sia, meski iapun tak terlahir untuk menjadi seorang pria cengeng.
"Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku, Chanyeol?" Gumamnya pelan.
Ia kecewa pada Chanyeol. Setelah semua perjuangan yang ia lakukan untuk lelaki itu, balasan Chanyeol justru sangat menyakitkan. Ia kira selama ini ia telah berhasil menggenggam Chanyeol di tangannya namun itu hanya angan-angan semata.
Kris menundukan wajahnya dan memikirkan kembali segala memori yang selalu mengisi pikirannya. Memori saat ia mengira Chanyeol juga menyimpan rasa untuknya. Semua itu seolah menghancurkan harapan Kris selama ini. Seolah meludahi perasaan sucinya untuk lelaki yang sialnya berstatus sebagai adiknya.
Kris mengeraskan rahang, merasakan kembali denyut sakit menusuknya di dalam dada.
"Seharusnya itu aku, Chanyeol." Kris menundukan kepalanya dalam-dalam. Katakanlah Kris orang yang egois karena ingin menjadi satu-satunya lelaki yang bisa berada di samping Chanyeol selamanya.
Masih dengan keadaan tanpa busana bersama tangan Chanyeol yang melingkari pinggang rampingnya, Baekhyun memulai paginya dengan memperhatikan wajah sang kekasih disertai bayangan mereka bercinta menghampiri pikirannya. Jika boleh jujur, kegiatan semalam memang sangat luar biasa untuknya. Ia bahkan tak ingat mereka sudah melakukannya untuk berapa lama. Hanya rasa pegal di tubuhnya yang dapat menjadi bukti bahwa permainan mereka sangat hebat. Hal itu tanpa sadar membuat jantung Baekhyun berdegup cepat dengan wajah memerah.
Tak lama Chanyeol mengerjap pelan, menyusul Baekhyun terbangun dari tidurnya. Lelaki itu langsung mendapatkan sapaan hangat dari si mungil yang berada di dalam pelukannya.
"Pagi, Chanyeol." Baekhyun tersenyum manis dengan wajah malu-malu. Sangat cantik seperti biasa.
Sementara sang Tuan Muda langsung mendaratkan ciuman di bibir tipis itu sebelum menjawab. "Pagi juga, Baek." Lelaki itu kemudian menjauhkan wajahnya untuk memperhatikan setiap inci wajah kekasihnya.
Chanyeol tersenyum dengan tangan terangkat mengusap lembut pipi Baekhyun kemudian beralih merapihkan rambutnya. "Mengapa wajahmu selalu saja memerah, hm?" Suara berat khas bangun tidur milik Chanyeol mengalun indah di pendengaran Baekhyun.
"Aku tidak tahuu.." Baekhyun menggelengkan kepalanya dengan lucu seraya menutupi pipinya yang merah. Baekhyun hanya merasa tiap kali kedua mata mereka bertemu, seolah ada sengatan aneh di hatinya dan ribuan kupu-kupu hinggap di perutnya.
Mata sipitnya tanpa sengaja turun menatap dada bidang Chanyeol yang dipenuhi banyak kissmark. Oh, Baekhyun hampir melupakan perbuatannya semalam. Lelaki itu meringis mengingat betapa liar dirinya saat itu. Ia benar-benar memberi tanda kepemilikan di sekujur tubuh Chanyeol, termasuk di bagian bawah pusat lelaki tinggi itu. Entah setan apa yang telah merasukinya untuk menggoda Chanyeol dengan begitu erotis.
Chanyeol yang menyadari hal itu ikut menatap ke tubuhnya sendiri dan tersenyum penuh arti. Terlihat bangga dengan karya yang dibuat kekasihnya. "Kau mengingatnya?" Tanya Chanyeol antusias. Sedikit mengeratkan pelukannya di pinggang Baekhyun.
"Hm?" Baekhyun mendongak menatap kekasihnya dengan tatapan polos. Sementara sang kekasih lantas menjawil hidung mungil itu.
"Kau seperti kucing betina semalam." Ucap Chanyeol diselingi senyum menggoda. Ia mengingat bagaimana Baekhyun tampak begitu menggairahkan semalam. Lelaki mungil itu terus ingin menguasi dirinya.
"Aku bahkan kewalahan menghadapimu."
Wajah Baekhyun sudah jauh lebih memerah. Uh.. Sekarang Chanyeol kembali mengingatkan Baekhyun pada malam itu. Bagaimana mungkin Baekhyun lupa setelah ronde pertama mereka, ia dengan sukarela mengambil alih permainan mereka di atas ranjang. Ia bahkan bergerak dengan liarnya di atas tubuh Chanyeol dengan suara desahan yang kencang memenuhi seisi kamar. Ia merasa seperti bukan dirinya sendiri tadi malam.
"A-Aku tidak seperti itu~" Baekhyun ingin sekali menenggelamkan wajahnya menahan rasa malu. Mungkin sekarang Chanyeol telah menganggapnya seperti jalang murahan. Namun hal itu ternyata membuat Chanyeol terkekeh dan segera mengecup bibirnya karena tak tahan menahan gemas. Sulit dipercaya jika seorang Byun Baekhyun yang biasanya selalu menggemaskan seperti saat ini bisa menjadi sangat liar ketika mereka bercinta. Namun Chanyeol menyukai perbedaan yang kontras itu.
Chanyeol bergerak memeluk Baekhyun kembali. Menyembunyikan dirinya di helaian rambut Baekhyun dan membuat tubuh keduanya semakin menempel. Ia menciumi aroma tubuh Baekhyun yang memabukan, sesekali memberi kecupan di rambut halus itu.
"Aku sangat menyukaimu." Bisik Chanyeol.
Dengan senang hati, Baekhyun balas mengusap-usap kepala Chanyeol dengan lembut seperti anak kecil.
"Aku harus mandi, Yeol. Setelah ini aku harus bekerja." Ucapnya.
"Jam berapa sekarang?"
Baekhyun melirik jam yang berada di atas nakas. "Hampir jam delapan."
Chanyeol segera bangkit dari tidurnya. Membiarkan selimut jatuh ke pinggangnya yang tak memakai sehelai benang. Ia menatap Baekhyun dengan cerah. "Mau mandi bersama?" Tanyanya. Tentu saja itu sebuah pertanyaan. Namun tanpa menunggu jawaban dari Baekhyun, lelaki itu dengan mudahnya telah mengangkat tubuh Baekhyun ala bridal style. Membuat si mungil segera melingkarkan tangannya di sekitar leher Chanyeol.
Baekhyun mengerjapkan matanya, terkejut dengan perlakuan Chanyeol yang tiba-tiba. "Kenapa menggendongku? Aku masih bisa berjalan, Yeol."
Namun lelaki tinggi itu tersenyum dengan lembut. "Aku dengan senang hati ingin melakukannya untukmu." Sesungguhnya Chanyeol sangat khawatir jika si mungil akan kesulitan berjalan dengan kondisinya sekarang. Meski Baekhyun mengatakan bahwa lelaki mungil itu baik-baik saja, Chanyeol tak mungkin tega membiarkan kekasihnya kesakitan setiap kali melangkahkan kaki untuk berjalan.
Chanyeol segera menurunkan tubuh Baekhyun ketika keduanya telah berada di depan pintu kamar mandi. Mereka berdiri berhadapan dengan perbedaan tinggi yang terlihat jelas. Tubuh mungil Baekhyun membuatnya tampak sangat kecil dan menggemaskan.
Baekhyun menggerakan bola matanya kesana-kemari dengan canggung. "Hm.. Yeol, sepertinya aku akan mandi terlebih dahulu saja dan kau bisa mandi setelahku."
"Tidak ingin mandi bersama?" Tanya Chanyeol dengan sedikit raut kecewa.
Baekhyun mengerjap menatap wajah Chanyeol yang terlihat sangat sedih. Kedua alisnya bertautan dengan bibir tebalnya melengkung ke bawah. Meski tubuhnya sangat besar, saat ini Chanyeol justru terlihat seperti anak-anak. Tanpa sadar Baekhyun jadi ingin tertawa melihatnya.
"Aku tidak yakin kita akan benar-benar mandi." Jawab Baekhyun seraya mengusap pelan tengkuknya. Akhir-akhir ini ia sering kali mengabaikan pekerjaannya dengan selalu bangun telat, seolah melupakan statusnya sebagai pelayan di rumah. Ia tidak ingin dipandang tak tahu diri hanya karena sekarang ia kekasih Chanyeol. Karena itu, Baekhyun tak ingin lebih terlambat dari ini. "Lain kali saja, Yeol."
"Tapi aku ingin mandi bersama." Chanyeol mengerutkan dahinya. Wajahnya terlihat sangat serius seolah tak ingin mendengar penolakan meski diselingi nada merajuk. Chanyeol ingin Baekhyun menuruti keinginannya.
Hal itu semakin membuat Baekhyun tak habis pikir dengan lelakinya sendiri.
"Aku ingin mandi bersama!"
Tak kunjung juga mendapati respon dari Baekhyun, lelaki tinggi itu mendengus sebelum merubah tatapannya menjadi sendu. "Aku mencintaimu, Baek."
Baekhyun mengerjapkan matanya dengan cepat, terkejut saat mendengar kata cinta keluar dari mulut lelaki itu. Baekhyun akhirnya terkekeh pelan. "Mengapa kau mengatakannya saat kita berada di depan kamar mandi?" Meski begitu, ia selalu menyukai bagaimana Chanyeol menatapnya dengan penuh sayang seperti saat ini.
"Agar kau berubah pikiran?"
"Hm?"
Chanyeol mengerjapkan matanya dengan senyuman yang tidak kunjung pudar. Mencoba membuat Baekhyun luluh kepadanya.
Baekhyun menghela napas sejenak. Ia menatap Chanyeol yang balik menatapnya dengan penuh harap.
"Baiklah.. Ayo mandi bersama." Akhirnya Baekhyun menyerah. Rasanya tak mungkin ia dapat menolak permintaan Chanyeol saat lelaki itu telah memintanya sampai seperti itu.
Dan Chanyeol merasa menang. Ia tersenyum lebar dan segera mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya, membuat pekikan tertahan keluar dari mulut Baekhyun yang kemudian berubah menjadi tawa riang saat keduanya masuk bersama ke dalam kamar mandi.
"Hahaha Chanyeol hati-hati!"
Baekhyun tak mungkin menyesal telah mengijinkan lelaki itu untuk ikut mandi bersamanya, karena ia tampak sangat bahagia bersama lelaki tersebut. Baik Chanyeol maupun Baekhyun merasakannya, bahwa cinta telah sepenuhnya datang kepada mereka.
Mereka telah menjadi pasangan paling bahagia di dunia ini. Mungkin itu yang dihasilkan dari kekuatan bercinta. Seseorang pernah berkata, jika kau melakukan seks dengan orang yang kau cintai maka kau akan semakin mencintai orang itu bahkan melebihi cintamu kepada dirimu sendiri. Kini keduanya semakin jatuh sangat dalam. Menyatu pada ikatan tak kasat mata bahwa mereka tak akan bisa terpisahkan oleh apapun termasuk kematian.
Setelah makan pagi, Chanyeol memutuskan kembali ke kamarnya sementara Baekhyun tertahan di dapur dengan tumpukan cucian piring yang harus ia kerjakan.
Chanyeol berjalan santai dengan kedua tangan yang dimasukan ke saku celana. Langkah kakinya sempat terhenti sejenak ketika tanpa sengaja ia melihat sosok seorang pengawal yang tengah berada di tengah-tengah halaman rumahnya.
Itu Sehun, dengan seragam formalnya yang sedang berjalan mengelilingi taman. Seperti kegiatan biasanya setiap hari yaitu mengawasi keamanan di sekitar rumah. Tak ada yang aneh dengan itu.
Chanyeol sudah berniat melanjutkan kembali langkahnya, jika saja ia tidak menyaksikan hal yang dilakukan oleh Sehun setelahnya.
Tak lama Sehun mengeluarkan sebuah permen dari sakunya. Itu adalah sebuah candy cane yang dibungkus dengan sebuah plastik transparan yang cantik. Sehun tak sengaja menemukannya ketika tengah membereskan kekacauan yang terjadi setelah penyerangan di rumah. Ia menatap lekat permen itu dalam diam.
Dahi Chanyeol berkerut memperhatikan Sehun. Tidak sepenuhnya pengawal itu yang menjadi pusat perhatiannya, karena mata Chanyeol lebih tertuju pada sebuah permen yang ada di genggaman tangan pengawal tersebut. Oh, Chanyeol mengingatnya dengan jelas. Permen itu miliknya. Permen yang Baekhyun berikan untuknya di hari natal. Sekarang Chanyeol dibuat bertanya-tanya, bagaimana bisa permen itu ada di tangan pengawal tersebut? Apa pengawal itu telah mencuri permen tersebut darinya?
Lelaki itu menyipitkan matanya dengan tangan yang mengepal kuat hingga memperlihatkan urat-uratnya. Chanyeol terlihat marah sekali. Rasanya ia ingin sekali mematahkan leher pengawal itu. Chanyeol sangat benci jika seseorang memegang benda miliknya tanpa ijin. Ia tidak bisa mentoleransi hal tersebut.
Dan ketika Sehun membuka bungkus permen tersebut, Chanyeol tak bisa menahannya lagi. Ia menatap Sehun dengan geram. "Beraninya kau.."
Dengan langkah yang lebar, Chanyeol segera berjalan mendekati pengawal tersebut dan merebut candy cane itu.
"Enyah saja kau, brengsek!"
Sehun tersentak kaget. Sebelum ia benar-benar mengerti apa yang terjadi, Chanyeol tiba-tiba saja telah memukul wajahnya tanpa ampun hingga Sehun jatuh ke tanah. Chanyeol tak membiarkan Sehun berdiri atau bahkan bernapas sedikitpun. Lelaki itu tetap memukuli wajah sang pengawal hingga rahangnya terasa retak. Sehun tak sempat menghentikan Tuan Mudanya yang mengamuk karena pukulan-pukulan itu terasa sangat menyakitkan. Ia telah lebih dulu dibuat kalah telak karena hanya dapat terbaring tak bertenaga di tanah.
Chanyeol menginjak-injak perut Sehun dengan mata yang berapi-api.
"Uhuk.. T-Tungguㅡ"
Bahkan sebelum Sehun selesai berbicara, lelaki itu telah menarik kerah belakang kemejanya dan menyeretnya untuk mengikuti langkah lelaki tersebut. Sehun sungguh tak mengerti mengapa Tuan Mudanya tiba-tiba bisa semarah ini. Ia tak merasa telah berbuat sesuatu kepada lelaki tersebut.
"T-Tuan Muda..!"
Langkah kaki Sehun terseok-seok mengikuti Tuan Mudanya yang membawanya melewati lorong demi lorong, dan terus berjalan hingga menuruni anak tangga untuk sampai ke ruang rahasia bawah tanah. Tentu saja penghuni rumah sangat kaget sekaligus penasaran mengapa Tuan Muda mereka membawa salah satu pengawal setia Kris ke ruang bawah tanah. Mereka memperhatikan kedua orang tersebut secara terang-terangan dan mengikuti keduanya dari belakang.
Chanyeol membuka salah satu pintu dan melempar tubuh itu ke lantai ketika telah tiba di sebuah ruangan hitam berbau amis yang baunya sangat menyengat.
Sehun terbatuk-batuk tersungkur di lantai, merasakan nyeri di sekitar wajah dan tubuhnya.
Chanyeol bergerak menyalakan saklar lampu hingga terlihat jelas seisi ruangan hitam itu yang dindingnya dipenuhi banyak darah yang telah mengering. Tentu Sehun tahu tentang ruangan ini dan separah apa kisah yang ada di balik ruangan berdarah ini. Tak jarang teriakan meminta ampun dan tangisan terdengar memenuhi ruangan tersebut. Satu-satunya orang yang tak tahu bagaimana mengerikannya isi ruangan tersebut mungkin hanyalah Baekhyun seorang, mengingat lelaki mungil itu adalah orang baru di rumah ini.
Tak perlu dijelaskan seperti apa, ruangan itu tak ada bedanya dengan ruang kematian. Tempat dimana Kris mengeksekusi orang-orang bersalah. Kris merasa memiliki hak penuh untuk memberikan hukuman yang pantas bagi orang-orang yang berdosa di sana.
Sehun menatap terkejut pada Chanyeol yang tengah mengambil sebuah benda dari dalam lemari kaca yang ada di sudut ruangan.
Kedua matanya membelalak. Itu.. cambuk tali.
"T-Tuan.." Sehun sampai tak bisa berkata-kata lagi. Tubuhnya bergetar ketika mata mereka bertemu. Chanyeol tampak menyeramkan dengan tatapan dinginnya. Dan ketika langkah kakinya semakin mendekat berjalan kearahnya, Sehun hanya dapat berharap ini bukan akhir dari hidupnya.
Baekhyun yang baru saja kembali dari dapur, menatap bingung ke dalam kamar Chanyeol yang kosong. Ia tak menemukan sosok kekasihnya di sana. Ia kira lelaki itu pergi ke kamarnya, namun sepertinya ia salah. Baekhyun kemudian menutup pintu tersebut.
"Dimana Chanyeol?" Gumamnya bertanya-tanya.
Ia menggaruk pelan kepalanya dan berjalan menuruni tangga untuk mencari lelaki itu di tempat lain, ketika tiba-tiba saja Yeri datang menghadangnya dengan keringat yang mengucur di dahi. Gadis itu terengah-engah saat telah sampai di depan Baekhyun, membuat Baekhyun mengernyit heran kepadanya.
"Yeri?"
Gadis itu menunduk dengan kedua tangan yang bertumpu pada lutut. Sedikit lelah berlarian menaiki tangga hanya untuk mencari Baekhyun kesana-kemari. "Oppa.. hosh.. apa yang kau lakukan di sini?!" Tanya Yeri dengan nada kesal. Yeri sangat marah karena Baekhyun tampak tenang saja, sementara hampir seluruh isi rumah sedang panik saat ini di ruang bawah tanah karena perbuatan majikan mereka.
Berita sudah menyebar ke seluruh penjuru rumah. Bagaimana bisa Baekhyun masih di sini dan terlihat santai?
Lelaki cantik di hadapan Yeri hanya mengerjap kebingungan menatap Yeri dari atas hingga bawah. Baekhyun tak mengerti mengapa gadis itu tiba-tiba marah kepadanya. "Memangnya ada apa? Kenapa juga kau sampai berlari seperti itu?"
Yeri mengusap dadanya untuk menetralkan detak jantungnya. Gadis itu menarik napas sejenak kemudian berbicara dengan suara lantang, yang membuat Baekhyun sangat terkejut dan hampir tersedak dengan salivanya sendiri.
"Tuan Muda! Tuan Muda akan membunuh Sehun!"
Mata Baekhyun membelalak terkejut, sekaligus tak mengerti. "A-Apa maksudmu!?"
Apa-apaan ini? Apa yang sebenarnya tengah terjadi? Baekhyun berharap ia salah dengar, karena ia tak ingin mempercayai jika Chanyeol ingin melukai orang lain. Namun sepertinya, kali ini ia harus kembali menghadapi kenyataan bahwa Chanyeol memang belum sepenuhnya berubah. Tak semudah yang ia kira.
Yeri mengusap wajahnya kasar, terlihat sangat frustasi. Wajahnya memerah menahan tangis. Ia takut dan sedih, mungkin karena yang menjadi korban Chanyeol kali ini adalah orang yang ia sukai. "Tuan Muda Chanyeol.. sedang menyiksa Sehun di ruang bawah tanah. Beliau ingin membunuh Sehun.."
Ucapan itu membuat tubuh Baekhyun mendadak terasa lemas. Kepalanya pening. Ugh, mengapa hal ini harus terjadi? Kenapa Chanyeol kembali berulah lagi? Padahal pagi tadi Chanyeol masih terlihat baik-baik saja dan justru terlihat manis seperti anak anjing.
Kris terbangun dengan kondisi kamarnya yang berantakan, tak jauh beda seperti kondisinya saat ini. Semalam ia tertidur di sofa masih dengan pakaian lengkap seperti saat ketibaannya di rumah.
Pria itu kembali memejamkan mata, menggunakan sebelah lengan untuk menutupi wajahnya. Ia merasakan pusing yang luar biasa di kepalanya hingga penglihatannya berubah buram. Mungkin karena ia terlalu banyak minum semalam.
Bagaimana tidak? Dua botol scotch whisky yang memiliki kadar alkohol tinggi itu dihabiskan sekaligus karena tak tahan lagi menahan rasa sakit hatinya dan segala perasaan yang bercampur aduk. Tentu saja alkohol selalu melakukan pekerjaannya dengan baik. Berkat alkohol, Kris merasa jauh lebih tenang dari sebelumnya. Ia tidak lagi mengamuk seperti tadi malam. Ia sangat bersyukur atas itu.
Namun tetap saja hal tersebut tak mampu membuat kesedihan Kris menghilang. Perasaannya menjadi lebih tenang namun tak berarti ia telah pulih. Kini pria itu justru merasa jauh lebih hampa. Ia seperti mayat hidup. Jiwanya seperti telah diambil pergi. Kris bukan lagi Kris yang tangguh dan tak terkalahkan. Kris benci mengakuinya, namun kini ia terlihat seperti seorang pecundang lemah hanya karena hal sialan yang disebut cinta.
Seberapa keras Kris mencoba melupakannya, bayangan-bayangan itu semakin tak mau hilang dan terus menyiksanya. Ia sangat frustasi. Ia begitu mencintai Chanyeol dengan sepenuh hatinya selama ini. Ia ingin memiliki lelaki itu seutuhnya. Hanya ia seorang. Kris tak ingin berbagi Chanyeol pada siapapun. Dan ia semakin sakit karena ia tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan ia tak ingin menyakiti Chanyeol, satu-satunya hal yang paling berharga di dunia ini.
Pria itu memutuskan bangkit dari tidurnya dan mengambil salah satu botol wine dari lemari kaca dengan kadar alkohol yang cukup rendah namun masih dapat membuatnya mabuk, terlebih lagi efek alkohol semalam masih terasa jelas. Tanpa menunggu lama, ia meneguknya langsung dari botol tersebut tanpa jeda. Membiarkan beberapa tetes jatuh membasahi kemejanya. Namun Kris sungguh tak mau peduli.
Pria itu berjalan terhuyung-huyung menuju sofa. Entah akan seburuk apa keadaannya setelah ini. Kris tak tahu lagi. Ia hanya dapat mempercayakan alkohol untuk segera memperbaiki hatinya.
Gemetar pada kedua kaki Kris yang melangkah membuatnya harus terjatuh di atas pecahan keramik dengan posisi tangan dan lututnya yang menyangga tubuh. Pecahan-pecahan itu menembus telapak tangan dan lututnya yang terbalut celana bahan. Pecahan keramik itu merobek kulitnya hingga mengeluarkan cairan merah pekat. Namun Kris lagi-lagi tak mau peduli. Ia hanya terdiam, sibuk sendiri dengan pikirannya. Perasaannya jauh lebih buruk dari luka itu.
Kris bangkit dan menatap pada darah yang mengalir dari tangannya. Mata merahnya menatap kosong selama beberapa saat.
"Byun Baekhyun.." gumamnya dengan suara lemah. Nama itu melintas begitu saja di pikiran Kris seolah akhirnya ia tersadar kembali dari kesedihan.
Bukankah ini semua salah Baekhyun? Ya. Lelaki itu adalah penyebab dari keterpurukan Kris saat ini. Seharusnya Kris telah memberikan ganjaran yang pantas untuk lelaki tersebut, bukannya berdiam diri membiarkan pelayan rendahan itu dapat tertawa senang di samping Chanyeol sementara ia harus tersiksa di dalam kamarnya.
Sebuah kesalahan besar bagi Kris telah membiarkan lelaki itu tinggal di sini dan bisa dekat dengan Chanyeol. Niat awal Kris hanya ingin bersenang-senang memperhatikan Baekhyun yang terlihat seperti memiliki sebuah hubungan dengan Chanyeol. Ia hanya penasaran saja karena itu ia menempatkan Baekhyun sebagai pelayan pribadi Chanyeol. Tetapi semua itu justru menjadi sebuah malapetaka untuknya. Chanyeol dan Baekhyun sungguh bersatu. Kedua insan itu saling mencintai dengan begitu kuat.
Kris menggeram. Ia tak ingin melihat lagi wajah bahagia lelaki itu yang membuatnya muak. Ia harus menyingkirkan pengrusak itu segera.
Kris harus membunuhnya. Ah, tidak, Kris memang harus membunuh Baekhyun. Karena begitulah takdir seorang pengganggu. Harus siap untuk dimusnahkan.
"Aku akan membunuhmu, Baekhyun."
Manik mata Chanyeol menunjukan kilatan marah sebagaimana lelaki itu mengangkat tangannya, melayangkan sebuah cambukan di dada pengawalnya.
Sehun berteriak kesakitan setelah menerima cambukan yang ke-dua belas, hingga urat-urat di sekitar dahinya menonjol. Mulutnya mengeluarkan darah. Tubuhnya terasa lemas tak dapat bergerak merasakan nyeri yang luar biasa di kulitnya yang memerah dan banyak mengeluarkan darah. Ia tak bisa menghindar. Kedua tangannya telah diborgol pada tiang di kanan dan kirinya dan ia terlalu lemas untuk sekadar membuka mulut, meminta Chanyeol menghentikan aksinya.
Chanyeol menyaksikan hal itu sambil menyeringai jahat dengan kedua alis yang terangkat. Ia mengeluarkan tawa kecil sembari menatap senang cambuk di tangannya kemudian beralih pada Sehun.
"Itulah yang kau dapatkan jika berani menyentuh milikku."
Itulah akibatnya jika telah mencuri barang berharga milik Chanyeol. Mungkin orang lain akan menganggapnya berlebihan, namun Chanyeol sangat tidak bisa mentoleransi seseorang yang telah mencuri permen pemberian kekasihnya.
Beberapa pengawal dan pelayan yang menyaksikan dari depan pintu hanya dapat menutup mulut mereka dan menatap iba pada Sehun, tanpa melakukan sebuah tindakan selain menjadi penonton. Bukannya bermaksud tak punya hati, mereka sadar mereka tak akan pernah menang melawan Tuan Muda. Jika mereka menginterupsi, mereka pasti akan menjadi korban selanjutnya. Setidaknya mereka harus mengurangi jumlah korban. Yang tak bersangkutan tak perlu susah payah menambah keributan.
Pandangan Sehun mulai buram. Sehun mengerjap dengan lambat menatap sang majikan dengan napas yang tersenggal. Ia tak memiliki tenaga yang tersisa. Mungkin sebentar lagi ia akan kehilangan kesadarannya. Meski sampai saat ini, Sehun belum mengerti alasan sesungguhnya Chanyeol melakukan ini semua padanya.
Sehun bertanya-tanya dalam hatinya, dosa besar macam apa yang telah ia perbuat? Namun ia justru memejamkan matanya alih-alih membuka suara.
Chanyeol membungkukan badannya mensejajarkan wajahnya dengan Sehun. Ia menjambak rambut Sehun untuk menatapnya dengan lurus, tak membiarkan lelaki itu pingsan dengan mudahnya.
Chanyeol tersenyum lebar dengan sangat menyeramkan. "Bagaimana rasanya? Kau suka? Aku janji setelah ini akan terasa jauh lebih menyakitkan."
Chanyeol kembali berdiri tegak dan tersenyum bersiap-siap untuk memberikan cambukan yang jauh lebih menyakitkan.
"PARK CHANYEOL!"
Chanyeol tersentak saat suara itu memenuhi pendengarannya. Bagaikan sebuah mannequin, Chanyeol terdiam mematung menghentikan aksinya dan kemudian menoleh pada sosok mungil yang tengah berjalan ke arahnya dengan ekspresi yang Chanyeol tak bisa artikan.
"Hentikan." Ucap Baekhyun tegas. "Oh, astaga!" Untuk sesaat Baekhyun yang berdiri di ruangan itu tersentak melihat kondisi sekelilingnya yang dipenuhi darah terlebih lagi keadaan Sehun yang penuh luka di sekujur tubuh, sebelum ia beralih menatap pada kekasihnya yang sudah seperti orang kesetanan. Baekhyun tak pernah melihat Chanyeol bersikap seliar ini dan itu sangat mengejutkannya. "Kumohon hentikan semua ini, Chanyeol."
Sehun melihat sayup-sayup kehadiran Baekhyun dan sedikit menarik sudut bibirnya susah payah. Ia tak bisa lebih bersyukur daripada kedatangan Baekhyun sekarang. Ia sangat berterima kasih untuk itu. Ia bisa saja mati jika Baekhyun terlambat.
Chanyeol mengeratkan genggamannya pada cambuk yang ia pegang dan menatap Baekhyun dengan sikap egoisnya.
"Baek.."
Dengan tangan yang gemetar antara takut dan khawatir, Baekhyun tetap mencoba bersikap tenang. Ia tahu ia tak bisa melawan Chanyeol dengan amarah. "Mari hentikan ini, Chanyeol."
Chanyeol menggeleng. Tangannya mengepal sangat kuat menahan emosi. "Tidak. Aku tidak akan diam saja kali ini. Dia merebut milikku."
"Apa?"
"Dia merebut permenku."
Wajah Baekhyun saat ini menunjukan ekspresi 'Apa kau serius mengatakannya, Chanyeol?' karena Baekhyun sungguh tak habis pikir mendengar alasannya. Apa ia sedang bercanda? Apa mereka anak kecil? Apa Chanyeol adalah bocah berumur lima tahun yang masih mempeributkan permen? Namun wajah Chanyeol terlihat sangat serius sekarang. Ini konyol! Lelaki itu ingin membunuh orang hanya karena sebuah permen!
Chanyeol menatap Sehun kembali dan siap untuk melayangkan cambukan yang ke-tiga belas jika saja Baekhyun tidak kembali membuka suara dan maju selangkah lebih dekat dengan lelaki itu.
"Park Chanyeol, jangan berani-berani kau melakukannya lagi."
Jantung Baekhyun hampir copot melihat Chanyeol akan kembali melanjutkan aksinya.
Namun kali ini ego Chanyeol lebih besar. Lelaki itu mengeraskan rahangnya dan beralih menatap Baekhyun dengan penuh marah karena si mungil telah berusaha menghentikannya. Kedua alisnya saling bertautan. Kali ini ia tak ingin berhenti. Sehun telah melakukan hal yang sangat fatal baginya. Dan ia tak ingin Baekhyun menghalanginya. "Kau tidak bisa melarangku atas segalanya! Kau tidak bisa memerintahku!"
Andai Baekhyun tahu betapa sakit hatinya Chanyeol ketika permen yang lelaki itu berikan telah dirampas oleh orang lain.
"Ya. Aku bisa."
"Kau tidak bisa, Baek! Aku akan tetap melakukan apa yang menurutku benar!"
Baekhyun menghela napasnya tetap mencoba tenang meski rasanya ia ingin sekali menjambak rambut kekasihnya itu. Chanyeol sangat kekanak-kanakan di balik sifat pembunuhnya itu. "Kalau begitu lakukan saja. Aku akan marah besar padamu. Aku akan membencimu. Dan aku akan pergi darimu. Selamanya." Hanya itu yang bisa Baekhyun katakan sebagai balasan karena ia sudah kehabisan akal, dan siapa yang akan menyangka jika itu ternyata berhasil.
Chanyeol langsung terdiam mendengar kata-kata Baekhyun. Mulutnya tertutup rapat. Ia tak bisa mengeluarkan bantahan lain setelah mendengar ancaman itu. Chanyeol selalu takut jika itu menyangkut Baekhyun yang menghindarinya. Ia takut Baekhyun tak di sisinya. Chanyeol hanya mampu menatap Baekhyun yang sedang menatapnya dengan penuh percaya diri.
Chanyeol merasa kalah telak. Ia langsung melempar cambukannya dengan asal dan segera pergi meninggalkan ruangan itu dengan egonya yang tinggi.
Baekhyun kembali menghela napas. Tak butuh waktu yang lama untuknya dan pengawal lain bergegas membantu melepaskan borgol di tangan Sehun. Para pelayan ikut turut memanggil dokter khusus dan membantu hal sekecil apapun yang bisa mereka lakukan untuk menolong.
Baekhyun menatap Sehun dengan rasa bersalah. Luka di tubuh lelaki itu benar-benar buruk dan terlalu mengerikan untuk terus dilihat.
"Maafkan aku, Sehun."
Sehun yang harus dibopong oleh dua orang pengawal hanya bisa menatap Baekhyun dengan lemas, tak bisa menjawab atau bahkan bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
Yeri yang ada di sebelah Baekhyun ikut sedih. Melihat kulit putih Sehun tertutupi oleh warna pekatnya darah, bagaimana mungkin Yeri tidak ingin menangis melihatnya? Tuan Muda mereka sangat kejam memperlakukan Sehun seperti ini.
Mereka semua berjalan bersama-sama keluar dari ruangan kotor itu untuk mengantarkan Sehun ke kamarnya. Baekhyun berjalan di paling belakang bersama Yeri. Sebisa mungkin siap siaga jika Sehun membutuhkan sesuatu.
"Baekhyun."
Ketika melewati area ruang makan, ada sebuah suara yang memanggil nama Baekhyun membuat lelaki mungil itu lantas berhenti berjalan dan menoleh ke belakang. Begitu juga dengan Yeri yang ikut berhenti. Mereka berdua terkejut ketika sekarang mendapati Kris sedang berjalan ke arah mereka seperti mayat hidup dengan sebuah pisau di tangannya.
'Astaga. Masalah apa lagi sekarang?'
"Tuan.."
Para pengawal lain dan Sehun ikut berhenti.
Mata Kris merah. Pria itu tak mengalihkan sedikitpun pandangannya dari Baekhyun. Pria itu hanya menatap Baekhyun seorang sembari mengeratkan genggamannya pada pisau, bersiap-siap untuk menusuk Baekhyun sampai mati. Kris terus menggumamkan kata-kata seperti 'Mati kau, Baekhyun' atau 'Aku akan membunuhmu' yang tak bisa di dengar oleh orang lain selain dirinya sendiri.
Kris terlihat lebih menyeramkan dari sekadar psikopat. Ia berjalan dengan langkah sempoyongan.
Jarak mereka semakin dekat. Baekhyun hanya mampu terdiam menyaksikan Kris seperti orang gila yang ingin membunuhnya, sementara Yeri langsung berada di depan Baekhyun untuk melindunginya. Gadis itu merentangkan tangannya dengan percaya diri menjadi tameng untuk Baekhyun seolah sudah dapat menduga apa yang akan pria itu lakukan.
"Hentikan, Tuan."
Mendengar itu, Kris semakin mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Wajahnya berubah menyeramkan dan berjalan lebih cepat ke arah Baekhyun. Semua orang di buat panik untuk yang kedua kalinya oleh dua majikan mereka hari ini. Namun belum sempat Kris melakukan apa-apa, ia terjatuh pingsan di lantai tepat di hadapan Yeri dengan sangat keras hingga membuat semua orang terkejut dan langsung berlari menolongnya dan berulang kali memanggil namanya. Terkecuali Baekhyun dan Sehun yang tentu tidak dalam kondisi baik.
Kris pingsan tiba-tiba dengan bau alkohol yang melekat di tubuhnya.
Baekhyun masih tetap diam tak bersuara. Ia tak tahu apa yang terjadi, namun yang bisa ia duga Kris berusaha ingin membunuhnya.
"Terkadang, aku berpikir bahwa Tuan Kris.. mungkin saja menyukai Chanyeol. Ah, tidak. Ia memang menyukai Chanyeol bukan sebagai adik."
Setelah mendengar apa yang Nyonya Kim katakan padanya, sekarang Baekhyun harus sangat waspada karena telah mengetahui perasaan Kris yang sesungguhnya untuk Chanyeol. Dan iapun tahu Kris bukan orang biasa yang bisa ia hindari dengan mudahnya.
"Kau.. baik?"
Baekhyun menoleh pada Sehun.
Dalam keadaannya yang buruk, Sehun masih menunjukan kekhawatirannya. "Dia mulai bertindak. Dia.. tidak akan tinggal diam lagi. Berhati-hatilah, Baekhyun." Lanjut Sehun.
Tubuh Baekhyun gemetar mendengarnya.
Ya, Baekhyun harus berhati-hati. Kris sudah mengincarnya sekarang. Kris tak akan melepaskan mangsanya. Kris akan membunuhnya. Saat ini Baekhyun hanya beruntung saja. Tapi lain kali ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan nyawanya.
Baekhyun masuk ke dalam kamar tanpa suara dan berjalan menghampiri si pemarah yang tengah sibuk memandang keluar jendela dengan kedua tangan yang melipat di depan dada. Bisa Baekhyun lihat wajah Chanyeol tidak menyenangkan. Chanyeol masih menyimpan marah kepadanya.
"Chanyeol. Park Chanyeol." Baekhyun memanggil nama kekasihnya berulang kali. Sudah bisa Baekhyun duga jika Chanyeol pasti tengah merajuk atau semacamnya. Lelaki itu memang sulit untuk dimengerti.
Situasi ini membuat Baekhyun terlihat seperti orang yang bersalah.
"Chanyeol-ah." Itu panggilan terakhir ketika Chanyeol langsung membalik tubuhnya memeluk sang kekasih. Membuat amarah Baekhyun mulai sedikit mereda. Ugh, Baekhyun terlalu penyabar. Sebenarnya berapa banyak porsi kesabaran yang Tuhan tanamkan di jiwa Baekhyun?
Baekhyun membalas pelukan itu dan mengusap punggung Chanyeol dengan sayang. Meski Baekhyun sangat kesal dan marah atas apa yang terjadi sebelumnya, ia tak bisa berbohong bahwa ia masih tetap sangat menyayangi Chanyeol di atas segala sifat buruknya.
"Kenapa kau melakukannya, hm?" Tanya Baekhyun dengan lembut. Lelaki itu masih terus mengusap punggung sang kekasih.
"Sudah kubilang dia merebut permenku." Oh, dengarlah suaranya yang lebih terdengar seperti sedang merajuk daripada sedang berteriak.
Baekhyun mengerutkan dahinya. "Aku sungguh tidak mengerti sejak tadi. Sebenarnya permen apa yang kau maksud?"
"Permen pemberianmu saat natal."
Mata Baekhyun mengerjap dalam hening. Ia sedikit terkejut jika alasan semua ini adalah karenanya. Oh tuhan, kenapa Chanyeol begitu bucin terhadap dirinya?
Lelaki itu menghela napas kemudian melepas pelukan mereka untuk menatap wajah Chanyeol yang masih marah. Ia memegang kedua pipi lelaki itu dan sedikit memberi usapan lembut. "Aku bisa membuatkannya lagi untukmu, Chanyeol. Kau bisa memintanya padaku. Lagipula kau tak suka permen, bukan? Aku bisa membuatkanmu seluruh makanan kesukaanmu, jadi kau tak perlu bersikap seperti tadi."
Chanyeol menggerutu kesal. "Tetap saja itu hadiah pertamaku darimu. Itu milikku!"
Lagi-lagi Baekhyun menghela napas. Chanyeol sangat keras kepala dan pemarah dan menyebalkan di saat-saat seperti ini. Baekhyun harus memutar otak hanya untuk mengembalikan moodnya yang jelek. "Itu bukan hadiah pertamamu." Baekhyun harus berterima kasih kepada ingatannya yang bagus. "Hadiah pertama yang kuberikan adalah ciuman untukmu di taman. Kau ingat?"
Chanyeol hanya terdiam. Sepertinya ia tak bisa membalas ucapan Baekhyun lagi. Sementara Baekhyun yang tersenyum manis mengusap sebelah pipi Chanyeol membuat Chanyeol jauh lebih kesal karena Baekhyun tampak menggemaskan. Chanyeol bersusah payah mempertahankan rasa kesalnya agar tak terprovokasi dengan senyuman Baekhyun yang cantik.
"Sekarang kau harus meminta maaf pada Sehun, ok?"
"Okay?" Ulang Baekhyun.
Alih-alih menjawab, Chanyeol kembali memeluk Baekhyun seerat mungkin dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Baekhyun seolah tak mendengar apa yang baru saja lelaki cantiknya katakan.
"Chanyeol? Kau mendengarku, kan?"
"Hm." Chanyeol berdeham pelan. Tak berniat menjawab.
"Kalau begitu kau harus meminta maaf pada Sehun segera. Perbuatanmu tadi sangat salah."
"Mengapa kau selalu saja menyalahkanku?"
Baekhyun menghela napas panjang. Berbicara dengan Chanyeol yang seperti ini membutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Ia mulai berbicara dengan nada tak minat. "Chanyeol-ah. Terakhir kali kita membahas hal seperti ini, kita berakhir dengan saling mendiami satu sama lain."
"Aku tidak ingin kita bertengkar."
"Kalau begitu kau harus meminta maaf. Park Chanyeol yang tampan telah berjanji kepada Byun Baekhyun untuk menurut."
Meski telah dipujipun, Chanyeol kembali diam. Bertahan dengan harga dirinya yang tinggi.
Sesungguhnya Chanyeol mau saja jika ia harus meminta maaf kepada Baekhyun karena itu bukan lagi hal yang sulit. Namun sekarang ia harus meminta maaf kepada orang asing? Chanyeol tak mau.
"Chanyeol." Panggil Baekhyun lagi.
"Aku mencintaimu."
Baekhyun hampir tertawa melihat sikap menggemaskan Chanyeol. Ia selalu bertanya-tanya bagaimana bisa psikopat yang menyeramkan dan hampir saja membunuh salah satu pengawal kini justru sedang merajuk seperti anak kecil. Chanyeol itu memang sesuatu.
"Aku juga mencintaimu, Park Chanyeol. Jadi kau harus meminta maaf."
Tapi Chanyeol lagi-lagi kembali diam dan itu membuat Baekhyun frustasi.
"Aku akan membuatkan permennya lagi untukmu."
"Oh, haruskah kita pergi ke Lotte World?"
"..."
Baekhyun sudah kehabisan akal. Ia mau bunuh diri saja rasanya. Chanyeol masih tetap mendiamkannya.
"Aku akan memberimu seribu kecupan setiap hari."
"..."
Tidak berhasil. Usaha Baekhyun tetap tidak berhasil.
"Chanyeol, aku akan melakukan segalanya untukmu.." Baekhyun menyerah. Ia menghela napasnya dan menyandarkan wajahnya di dada Chanyeol. Ia tak akan membujuk lagi. Terserah Chanyeol ingin apa ia sudah lelah. Baekhyun memilih menutup mulutnya saja.
"Baiklah. Aku akan meminta maaf." Balas Chanyeol pada akhirnya.
Namun yang Baekhyun tak tahu, sedari tadi Chanyeol menahan senyuman lebarnya mendengar bujukan Baekhyun yang beragam. Baekhyun itu sangat menggemaskan. Chanyeol bersumpah ia tidak akan melepaskan lelaki itu. Baekhyun adalah sumber kebahagiaannya.
"Aku akan menunggu kau mewujudkan semuanya, Baekhyun."
Baekhyun langsung menyipitkan matanya menatap sang kekasih yang balas menunjukan wajah datarnya. "Oh, kau sungguh licik, Park Chanyeol!"
"Ugh." Baekhyun mendorong tubuh besar Chanyeol masuk ke dalam kamar Sehun sebelum menutupnya.
Meski sebelumnya Chanyeol sudah berkata 'iya', tetapi lelaki itu masih tak ingin menemui Sehun jika bukan karena Baekhyun yang menyeretnya.
Sehun yang hampir saja terlelap langsung sigap membuka matanya begitu melihat kehadiran Chanyeol. Meski ia diselimuti rasa takut, namun ia tetaplah seorang pengawal yang harus patuh dan taat kepada majikannya.
"Tuan Muda.."
Chanyeol hanya diam melirik ke arah lain selain ke arah Sehun yang terbaring lemah di atas tempat tidur dengan tubuh yang diperban seperti mumi. Lelaki itu bersikap angkuh dengan memasukan tangannya ke saku celana tak mempedulikan penderitaan Sehun.
Wajah Sehun bengkak dan lebam di sana-sini, ditambah lagi tubuhnya luka parah. Beruntung ia masih tetap terlihat tampan meski dengan luka sebanyak itu.
Baekhyun langsung menyikut perut lelaki itu saat menyadari Chanyeol tak kunjung mengatakan permintaan maaf dan hanya diam saja karena gengsi atau semacamnya.
"Tunggu apa lagi, Chanyeol? Cepat." Bisik Baekhyun dengan mata yang melotot.
Chanyeol mengepalkan tangannya. Ia begitu kesulitan untuk sekadar membuka mulut. Ia merasa harga dirinya terinjak-injak jika harus meminta maaf seperti ini. Ia merasa dikalahkan.
Baekhyun kembali melirik Chanyeol dan berbisik. "Park Chanyeol.."
"MAAF."
Brakk..
Baekhyun melongo melihat kepergian Chanyeol yang secepat kilat. Sebegitu tingginya harga diri lelaki itu untuk meminta maaf sampai harus pergi secepat itu dalam sekejap mata. Baekhyun entah harus tertawa atau menariknya kembali ke sini untuk mengucapkan maaf dengan cara yang lebih benar.
Sehun ikut melongo tak percaya. Namun Sehun terkejut karena Tuan Muda yang kejam itu baru saja mengatakan maaf kepadanya meski dengan cara yang tidak sopan seperti itu.
"Ah, Sehun.. Maafkan Chanyeol ya. Dia memang seperti itu." Baekhyun meringis pelan sembari berjalan ke sisi ranjang Sehun.
Tetapi Sehun yang terdiam beberapa saat akhirnya menarik sudut bibirnya. "Kau yang membuatnya berkata begitu?"
"Ya, begitulah.."
"Ternyata Tuan Muda sangat mencintaimu ya." Ucapan Sehun membuat Baekhyun mau tak mau merona. Baekhyunpun tak menyangka bisa membuat Chanyeol berubah. Ia hanya mengikuti sesuai nalurinya saja dan Chanyeol ternyata selalu menurutinya meski terkadang terlihat bertentangan dengan hatinya sendiri.
"Oh? Syal itu.." Baekhyun tiba-tiba menunjuk syal abu-abu yang berada di nakas di samping tempat tidur Sehun.
Sehun meliriknya sekilas. "Dari fansku. Yeri."
"Gadis itu selalu mengejarku." Lanjutnya.
Baik Baekhyun dan Sehun sama-sama tertawa. Mungkin karena Yeri masih sangat muda sehingga gadis itu terlihat terlalu jujur dengan perasaannya sendiri.
"Dia menyukaimu."
"Aku gay."
Baekhyun hanya membentuk 'o' dengan mulutnya seolah mengerti penolakan Sehun terhadap perasaan Yeri.
Sehun membenarkan posisi tidurnya dengan sedikit ringisan pelan kemudian kembali menatap Baekhyun dengan wajah lebamnya yang justru terlihat sangat lucu. "Jika kupikir-pikir lagi aku memiliki kesamaan dengan Yeri."
Baekhyun memiringkan kepalanya penasaran. Ah, ia baru ingat Yeri juga pernah mengatakan hal yang sama tentang persamaan mereka berdua. Sebenarnya apa itu?
"Apa itu?"
"Kami berdua yatim piatu." Sehun tersenyum singkat dan menatap ke arah lain mencoba mengingat-ingat lagi beberapa memori yang hampir terkubur dalam kepalanya.
"Setahuku Nyonya Kim membawa Yeri ke sini setelah kedua orangtuanya meninggal. Setelah itu Yeri mengalami amnesia karena syok berat di umurnya yang masih sangat muda. Ia tidak ingat siapa dirinya atau keluarganya dan Nyonya Kim memutuskan mengangkatnya sebagai cucu."
Mendengar hal itu Baekhyun hanya diam merenung. Ia tak tahu tentang itu sama sekali. Yeri tak pernah bercerita kepadanya. Gadis itu selalu terlihat ceria dan senang menggodanya sehingga tak sedikitpun terlihat memiliki masalah.
"Tapi seperti yang kau lihat. Sepertinya gadis itu tak mencoba mengingat masa lalu lagi. Ia sangat bahagia dengan dirinya yang sekarang."
Diam-diam Baekhyun setuju. Gadis itu memang kelewat ceria.
"Lalu bagaimana denganmu?" Tanya Baekhyun.
"Ibuku pergi meninggalkanku dan ayahku sudah tiada. Kau akan terkejut jika aku mengatakan bahwa Tuan Krislah yang telah membunuh ayahku."
Mata Baekhyun sontak membulat. "Hah?!" Baekhyun sangat syok seperti dugaan Sehun. Namun Sehun terlihat santai saja tak terlihat benci ataupun marah menyebut nama Kris.
"T-Tapi kenapa..?"
"Kesalahpahaman. Sebagai gantinya Tuan Kris memutuskan untuk membiarkanku hidup di sini."
Sehun menghela napasnya dengan berat sebelum melanjutkan ucapannya. "Meski aku yakin ia tak merasa bersalah sedikitpun setelah membunuh ayahku, namun ia sungguh tidak pernah berniat membunuhku. Kau tahu, aku bebas melakukan apapun termasuk pergi meninggalkan rumah ini dan ia tetap tak akan membunuhku. Hanya saja aku tetap bertahan di sini karena aku tak ingin melupakan ayahku. Aku ingin tetap mengingat perasaan itu."
Baekhyun baru menyadari satu hal bahwa semua orang yang berada di rumah ini memiliki cerita yang sangat menyakitkan untuk didengar, termasuk dirinya sendiri. Namun Sehun terlihat sangat tegar saat masih bisa tersenyum tanpa ada air mata yang jatuh. Lelaki itu terlihat seperti lelaki sejati yang sangat mencintai ayahnya.
"Lalu kenapa kau menjadi pengawal?"
"Iseng saja. Bosan jika tidak melakukan apapun, bukan?"
Baekhyun terkekeh pelan. Berbicara dengan Sehun ternyata sangat menyenangkan. Sehun hanya balas tersenyum dan mengalihkan pandangannya kepada langit-langit kamarnya.
"Ah! Aku harus pergi sekarang. Chanyeol pasti sedang merajuk lagi." Seolah tersadar kembali, Baekhyun langsung menepuk dahinya setelah sempat melupakan tentang Chanyeol karena terlalu asik berbincang. Mungkin Chanyeol sekarang sudah memasang wajah yang sangat kusut.
"Kalau begitu aku pergi dulu ya." Baekhyun menatap Sehun dengan senyum manisnya dan berjalan menuju pintu kamar dengan sedikit tergesa-gesa, khawatir apabila Chanyeol sedang menunggunya sedari tadi.
"Baekhyun." Panggilan Sehun membuat Baekhyun berhenti.
Lelaki itu mengangkat alisnya menunggu Sehun kembali berbicara.
"Sesungguhnya kalian terlihat sangat cocok bersama. Maaf jika aku terlihat seperti menghalangi kalian."
Sehun sangat tulus mengatakannya. Lelaki itu tersenyum dengan hangat membuat Baekhyun ikut tersenyum juga.
"Terima kasih, Sehun. Cepatlah sembuh dan selamat beristirahat."
"Ah, tapi aku belum tahu alasan kenapa Tuan Muda menyiksaku."
Mendengarnya, mata Baekhyun membulat dan langsung membuka pintu untuk melarikan diri.
Brakk..
Itu akan sangat memalukan jika Baekhyun mengatakan semua hanya karena permen.
Kris mengerjap pelan, menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya yang masuk. Ia memperhatikan keadaan sekitarnya. Ia berada di kamarnya saat ini, yang hebatnya telah berubah kembali menjadi bersih tanpa noda meski tak seperti semula karena banyak barang-barang yang telah rusak. Namun setidaknya kali ini ruangan itu lebih enak dipandang dari sebelumnya. Tidak ada serpihan-serpihan kaca atau benda hancur lainnya. Semua terlihat aman dan nyaman untuk ditempati.
Kris menoleh ke tangan kanannya yang di suntikan jarum infus. Ia mengernyit heran, tak mengingat apa yang telah terjadi kepadanya dan mengapa ia bisa terbaring dengan selang infusan.
Sekretaris Hong masuk ke dalam kamar. Raut datarnya seketika berubah cerah saat melihat Kris yang telah siuman, setelah membuat seisi rumah panik karena Tuan mereka yang mendadak tak sadarkan diri dan hanya terbaring lemah di tempat tidur selama dua hari. Selama ini tak pernah mereka melihat tuan mereka bisa jatuh sakit sampai ke tahap dimana kondisinya sangat down. Kali ini Kris pasti sangat stres dan banyak pikiran. Untung saja pria itu tidak mengalami overdosis alkohol. Keadaannya bisa dikatakan baik-baik saja, hanya membutuhkan istirahat cukup dan menghindari minuman beralkohol dalam waktu singkat.
Sekretaris Hong membungkuk hormat. "Bagaimana keadaan anda, Tuan?"
Kris melirik sekilas dan memejamkan matanya kembali. "Apa yang terjadi?"
"Anda tidak sadarkan diri selama dua hari, Tuan. Dokter bilang, anda mengalami stres berat ditambah efek dari takaran alkohol yang Tuan minum. Namun, dokter bisa pastikan bahwa keadaan Tuan akan segera membaik dalam beberapa hari lagi."
Kris mengangguk singkat. Ia mendudukan dirinya di atas tempat tidur dengan bersandar pada kepala ranjang, menghela napasnya berulang kali.
"Apa ada yang Tuan butuhkan saat ini?" Tanya sang sekretaris. Tanpa balas berkata-kata, Kris hanya mengibaskan tangannya menyuruh sekretaris itu meninggalkannya sendiri.
Yang Kris butuhkan adalah waktu sendiri, tanpa mendengar nada kekhawatiran yang keluar dari mulut sekretarisnya tiap berbicara. Membuatnya sangat risih.
Sekretaris Hong lantas mengerti arti dari gestur yang diberikan tuannya. "Kalau begitu saya permisi." Sekretaris Hong kembali membungkuk hormat sebelum melangkah keluar, pergi dari hadapan tuannya.
Kris memandang pintu kamarnya yang ditutup. Ia memegangi kepalanya yang masih merasa sedikit pusing. Sial. Ia masih ingat jika ia ingin membunuh Baekhyun. Namun lihat yang terjadi sekarang, ia terbaring lemah. Kris benci harus terlihat seperti pecundang lagi.
Kris mencabut selang infusnya dan berjalan mengambil remote tv kemudian duduk nyaman di sofa.
Layar televisi saat ini sedang memberitakan kematian mengejutkan yang terjadi kepada seorang pengusaha kaya bernama Ilnam. Inilah yang ingin Kris dengar. Hal itu membuat Kris sedikit merasa senang setelah sebelumnya merasa kesal karena gagal membunuh Baekhyun. Kris menahan tawanya mati-matian ketika mendengar sang reporter mengatakan tentang surat bunuh diri yang ditinggalkan Ilnam di kamar hotelnya setelah membakar dirinya habis-habisan.
Rencana Kris berjalan dengan mulus dan itu merupakan sebuah kebanggaan untuk dirinya sendiri.
Kris menutup mulutnya menahan rasa tawa yang ingin ia keluarkan. Kemudian ia memejamkan matanya dan kembali mengontrol perasaannya. Sedetik kemudian wajah pria itu kembali dingin sedingin es. Ia mematikan televisinya dan beranjak untuk kembali menidurkan tubuh lelahnya yang mulai terasa nyeri lagi. Namun tanpa sengaja ia melihat sesuatu yang berada di atas meja kerjanya. Sesuatu yang hampir terasa asing dan terlupakan olehnya.
Kris berjalan mendekati meja kerjanya yang baru diganti dan mengambil tumpukan koran yang disusun rapih di atas meja. Kris hampir melupakan keberadaan koran-koran itu untuk sekian lama. Sepertinya meja kerjanya yang rusak telah membuat keberadaan koran itu terbongkar.
Kris sudah sejak lama berniat membuangnya namun tak pernah sempat melakukannya. Pria itu mendengus dan membawa koran itu ke tempat sampah. Namun saat ia ingin membuang koran-koran lama itu, matanya menangkap sesuatu yang tak asing. Sesuatu yang baru ia sadari sekarang.
'Dua Orang Pejalan Kaki Terbunuh Di Daerah XXX'
'Suami-Istri Dibunuh, Satu Anak Hilang'
'Pelaku Pembunuhan Sepasang Suami-Istri Diduga Adalah Putra Dari Konglomerat'
'Keluarga Korban Menyisakan Satu Anak Laki-Laki'
'Pembunuhan Keluarga Byun Terkait Dengan Pembunuhan Keluarga Konglomerat Park?'
Mata Kris terpaku pada satu kata. Byun.
.
.
.
.
{ To Be Continued }
7k words..
Tes.. tes.. Apakah masih ada yang ingat ff ini? wkwkwk /ditimpuk batu/
Respon kalian di chapter 9 kemarin bener bener beragam tentang perasaannya Kris wkwk Jangan kesel sama Kris loh hati-hati dia gigit wkwk
Aku penasaran kira-kira respon kalian tentang chapter ini gimana ya.. hehe Aku selalu dag dig dug tiap upload chapter, takut dengan respon kalian semua. Tapi aku berterima kasih banyak yang sudah ngasih kritik dan saran selama ini dan juga yang ngasih review positif terhadap ff ini hehe Terima kasih terima kasih!
Terima kasih banyak untuk yang sudah fav/foll/review bagi yang baru datang atau yang tetap bertahan. Kritik dan saran yang membangun akan selalu aku terima dengan senang hati. Jujur aku merindukan kalian sebanyak aku bacain review kalian ulang dari awal prolog sampai chapter 9 huhuhu Sampai jumpa lagi!
