Reckless
[ KOOKV - SHO-AI - HISTORICAL ]
by: Odeee_
Chapter 1
"Hey adik kecil, jika kau tidak ingin membeli buahku maka pergilah."
"Aku akan membelinya jika kau menjual dengan harga yang wajar."
Pemilik mengerutkan wajahnya, dia memelototi anak itu saat dia berkata, "Anak kecil sepertimu memangnya mengerti apa soal kualitas buah? Buahku adalah yang terbaik disini, kau perhatikan saja pedagang lainnya mereka bahkan menjual buah busuk."
Anak itu berdecih, dia melipat tangannya didada, dia berkata dengan dagu terangkat, "Aku ini sangat mengerti tentang buah, aku sudah hidup selama 15 tahun, aku ini mengerti semua hal."
Sementara panda kecil yang menggantung dilehernya mulai menirunya, panda kecil itu mengangkat dagu dan mengeluarkan suara 'piuu..' seolah membela anak itu.
"Lalu aku telah hidup selama 50 tahun, pergilah!"
Anak itu mengerutkan wajahnya sebelum berlalu dia menggerutu, "Buahmu sebentar lagi akan membusuk."
Pemilik yang mendengarnya tidak bisa menahan rasa sebalnya, "Dasar iblis kecil!"
Anak itu terdiam saat dia mendengarnya, lalu dengan cepat berbalik dan berbisik ke pemilik toko, "Hey, bagaimana kau tau aku adalah iblis? Apakah kau juga iblis? Ayahku akan menangkapmu."
Urat didahi pemilik toko mulai menonjol, dengan marah dia berkata, "Anak kurang ajar! Dimana sopan santunmu terhadap orangtua? Kenapa kau mengatakan orangtua ini iblis?"
"Kau bukan iblis?"
Panda kecil, "Piuu?"
"Pergi kau anak nakal!"
.
.
.
Hari ke sembilan musim semi dibulan Maret, iblis kecil bernama Jungkook pertama kali menginjakkan kakinya ke dunia manusia saat usianya genap 15 tahun.
Ayahnya, Raja Iblis, menjanjikannya untuk membiarkannya melewati gerbang dunia bawah dan naik ke dunia manusia saat dia berusia 15 tahun.
Dia selalu menguping pembicaraan ayahnya dengan Wang Long yang saat itu mengatakan bahwa dunia manusia terlihat sangat cantik dimusim semi. Raja iblis berencana mengintip untuk menciptakan hal yang sama didunia iblis.
Suara demi suara memenuhi setiap sudut, dia membawa matanya mengelilingi setiap sudut kota. Ada begitu banyak pedagang kecil pinggir jalan dan toko disetiap titik. Ada begitu banyak manusia dari yang berada digendongan ibunya hingga yang berjalan dengan sebuah tongkat.
"Ayah benar-benar pandai meniru."
Dia tidak melihat banyak perbedaan antara dunia manusia dan dunia iblis, hanya bagaimana manusia itu sendiri terlihat tidak sama seperti para iblis yang memiliki tanduk dikepala mereka.
"Adik kecil dimana ibumu? kemarilah, bukankah ini mainan yang sangat bagus?"
Seorang pria tua penjual mainan memanggilnya dengan riang, diatas meja kayu kecil miliknya tersusun aneka anyaman seperti kupu-kupu, lentera gantung, baling-baling, bahkan tas kecil.
Jungkook melambaikan tangan untuk menolaknya, "Tidak paman, saya terlalu tua untuk mainan seperti itu."
Pemilik mengerutkan dahi, dia berkata dengan geli, "Anak kecil sepertimu? Kau bahkan mungkin baru berusia 10 tahun."
"Aku ini 15 tahun!" Dia berteriak tidak terima pada pemilik, kemudian menggerutu dengan bibir mengerucut, "Ini melukai harga diriku yang telah berusia 15 tahun."
Panda kecil, "Piuuu!!"
"Hey, kenapa kau membawa panda dipunggungmu?"
Masih dengan perasaan sebal Jungkook menoleh ke arah sumber suara, tiga anak yang tampak berusia di atasnya mendekat. Dengan remeh menatap ke arahnya.
"Kau berbicara denganku?"
Jungkook sedang merasa tidak enak badan karena disebut anak berusia 10 tahun, dia tidak memiliki tenaga untuk berbicara dengan orain lain.
Salah satu dari ketiganya yang terlihat paling menonjol menjawab, "Siapa lagi anak bawang yang membawa panda selain kau?"
Jungkook mengerutkan dahinya dengan bingung, "Anak bawang?"
Panda kecil dipunggungnya menoleh ke arahnya juga tampak kebingungan, "Piu?"
Dia terdiam memperhatikan wajah-wajah ketiga orang didepannya, memikirkannya untuk waktu yang lama sebelum mengambil kesimpulannya sendiri, "Apakah itu berarti dia menghinaku?"
Panda kecil membulatkan matanya lalu dengan marah mengangguk, "Piuuu!!"
Jungkook menekuk alisnya dengan tajam saat dia mulai mengancam ketiga orang didepannya dengan tatapan tajamnya, "Sebaiknya kau menarik kembali ucapanmu sebelum aku memukulmu menjadi bubur."
Panda kecil, "Piu piu!!"
Salah satu dari ketiganya yang berada disebelah kanan menjawab dengan remeh, "Kau pikir kami akan takut padamu?"
Salah satunya yang berada disebelah kiri kali ini berkata, "Kau tidak tau siapa kami?"
Orang disebelah kanan berkata lagi, "Kami ini murid tingkat menengah sekte bunga lotus!"
Jungkook berdecih sebelum dengan dagu terangkat berkata, "Lalu aku adalah putra Ra-"
Panda kecil yang menggantung dipunggungnya menghentikannya dengan memukul kepala Jungkook, "Piuuu!!"
"Ahem ... identitasku rahasia!" Dia kembali mengangkat kepalanya dengan bangga.
Orang yang berada ditengah menjawab dengan dahi berkerut, "Apa yang dikatakan pengemis kecil ini."
Orang yang baru saja mengatakan dia pengemis mengeluarkan pedang kayu yang sebelumnya menggantung dipinggangnya. Dia menunjuk Jungkook dengan pedang itu sebelum membuka kakinya mengambil posisi siap untuk menyerang.
"Wow, bagaimana kau melakukan pose itu?" Jungkook dan panda kecil itu memiliki binar dikedua mata mereka, "Kau terlihat sangat terlatih!"
Salah satu dari mereka berkata dengan bangga, "Tentu saja! sahyung adalah yang terbaik pada tingkat menengah.. dan apa yang kau lakukan bocah?! Sekarang bukan saatnya untuk kagum kau akan dipukuli!"
*sahyung = sunbae
Tidak seperti yang mereka harapkan dari reaksinya, Jungkook tampak semakin kagum saat dia mendengar dia akan mulai memukul. Dia sangat menantikan gerakan-gerakan pedang yang akan dilakukan oleh orang itu.
Wang Long pernah berkata jika di dunia manusia terdapat beberapa sekte bela diri. Mereka berlatih ilmu pedang disebuah bukit tinggi dan beberapa kali mengadakan ujian bela diri antar sekte. Jungkook sangat ingin melihatnya dan saat ini dia begitu senang karena tanpa sengaja menemukannya.
Orang itu mengerutkan dahinya dengan marah, dengan satu gerakan dia mulai menebas ke arah Jungkook. Sebuah langkah yang tepat. Gaya yang diciptakan oleh rotasi lembut dari pinggang yang tertekuk dimuat dengan sempurna di ujung tangannya yang mengayunkan pedang.
Namun itu dengan mudah dihindari oleh Jungkook, dia tampak semakin kagum, "Wow... itu keren! Lakukan lagi!"
Orang itu semakin kesal karena pedangnya mampu dihindari dengan mudah dan respon yang diberikan Jungkook semakin membuatnya kesal, "Diam!"
Orang itu kembali mengayunkan pedangnya, gerakan kaki dan tangannya sangat cepat. Dia menggerakkan pedangnya dengan sebuah pola, karena dia selalu bergerak dengan gerakan yang sama berulang kali.
Namun tidak satupun dari itu mampu menyentuh bahkan ujung kain yang Jungkook gunakan.
"Bagaimana bisa!"
Orang itu terlihat sangat marah, dia bernapas dengan berat entah karena dia kelelahan atau karena sangat marah.
"Kau sudah selesai?" Jungkook memiliki senyum miring dibibirnya, "Sekarang giliranku."
Dia melempar ke atas panda kecil yang menggantung dipunggungnya dalam satu gerakan. Mengambil langkah dengan gesit ke arah lawan, dia menunjukkan senyuman liciknya sebelum dengan keras menendang lawannya hingga terlempar jauh membentur salah satu dinding toko.
"Lalu giliranmu." Dia tidak membiarkan orang lain bereaksi sebelum dia mulai menendangnya hingga terlempar.
"Dan kau."
Ketiganya, yang ditendang hanya dengan satu kali tendangan tidak bisa mereka tangani, jatuh di tempat tanpa mengeluarkan suara dan tidak sadarkan diri.
Jungkook mengangkat tangannya ke atas untuk menangkap panda kecil yang sebelumnya dia lempar, "Huanhuan apakah kau suka itu?"
Panda kecil itu tertawa dengan bahagia, dia sangat menyukai saat Jungkook melemparnya ke udara dan menangkapnya. Dia merasa seperti dia tengah menari diangkasa saat dibawahnya Jungkook juga sedang menari bersama lawannya.
Jungkook menyelesaikan ketiga orang itu sebelum Huanhuan jatuh.
.
.
.
Malam semakin gelap, kerlap kerlip lampu gantung menghiasi setiap bangunan dengan begitu meriah seolah tengah menyambut Kaisar Langit turun ke bumi.
"Ugh ... perutku terasa mual."
"Kau sudah bangun?"
Ketiga orang yang baru saja terbangun merasa akan jatuh pingsan lagi saat dia melihat Jungkook duduk bersila didepan mereka.
Mereka tidak pernah melihat seorang anak yang lebih kecil darinya memiliki kekuatan yang begitu besar. Bahkan murid tingkat atas sekte bunga lotus mungkin tidak sekuat anak ini yang mampu merobohkan ketiganya secepat angin.
Jungkook mengabaikan wajah ketakutan mereka dan bertanya dengan santai, "Hey, apakah sekte bunga lotusmu itu pandai dalam obat-obatan?"
"Ka-kami memiliki guru yang pandai dalam obat-obatan."
Dengan cepat ekspresi diwajahnya berubah, dia tampak senang, "Bagus! Bawa aku ke sana!"
Ketiga orang itu tampak memucat, mereka memiliki wajah yang tidak sedap dipandang saat mendengar Jungkook ingin pergi ke sekte bunga lotus. Mereka tidak ingin mendapat masalah dengan membawa biang onar ke sekte bunga lotus.
Jungkook berdecak, dia mengangkat ketiga jarinya saat dia mengatakan, "Aku memberimu tiga detik untuk menjawab, satu..."
Ketiga orang itu saling memandang seolah meminta pendapat.
"Tiga!"
Dimana angka duanya!
"Baik! Baik! Kami akan membawamu!"
Dalam perjalanan menuju sekte bunga lotus ketiganya masih memiliki wajah pucat mereka saat Jungkook dengan senang mengikuti mereka. Orang itu bahkan bersenandung bersama panda kecil yang dibawanya.
Salah satu dari ketiganya menoleh dengan ragu-ragu sebelum bertanya, "Kau... adalah?"
Jungkook saat ini dalam suasana hati yang baik, dia berkata dengan murah hati, "Oh, panggil saja aku sahyung bagaimana dengan itu?"
Dia sebelumnya mendengar kedua anak itu memanggil orang lainnya sahyung, dan dia ingin dipanggil seperti itu juga.
Salah satu dari ketiganya tampak tidak senang, namun rasa takut masih ada dalam suaranya saat dia berkata, "Tapi... kau tampak lebih kecil dari kami."
Jungkook hanya berdecak dan ketiganya langsung menyetujuinya untuk memanggilnya sahyung.
"Sahyung kita telah sampai, selanjutnya kita hanya perlu mendaki bukit ini." Salah satu dari orang itu menunjuk ke atas, "Sekte bunga lotus berada dibalik awan itu."
Jungkook melihat ke arah yang dia tunjuk, bukit hijau yang tinggi hingga menembus awan. Itu sangat tinggi hingga ujung bukit itu tidak terlihat.
Mereka mendaki bukit dengan teknik meringankan tubuh, mereka melompat-lompat dari satu pijakan ke pijakan lainnya hingga menembus awan.
Setelah mendaki sebuah bukit yang sangat tinggi itu, mereka akhirnya mencapai puncak, tempat dimana sekte bunga lotus berdiri.
Ketiga orang itu diam-diam mengintip ke arah Jungkook, mereka tidak menemukan kelelahan sama sekali padanya seolah dia hanya berjalan beberapa langkah dari tempat sebelumnya mereka berada.
Malam tampak semakin gelap, sekte bunga lotus memiliki aturan tidak boleh berkeliaran pada jam malam sehingga itu terlihat seperti bangunan kosong.
Aula itu begitu sunyi sehingga menyeramkan. Nyala api menari dengan gemetar dan angin menghembuskannya keluar. Seolah kegelapan menelan mereka. Kemudian sinar bulan yang terang bersinar pada miring ke ubin dipoles seperti selembar embun beku pucat.
Jungkook dan panda kecil tidak pernah melihat tempat seperti ini sebelumnya, bahkan ayahnya tidak meniru hal ini untuk dibuat di dunia iblis. Rasa kantuk yang berat dimata panda kecil mulai menghilang, dia tampak sangat penasaran.
"Sang Yi, Han Bin, Yoo Wae, kalian melanggar jam malam lagi?"
Suara itu berasal dari atas mereka, itu terdengar berat namun juga lembut.
Jungkook mengangkat pandangannya untuk melihatnya, jubah putih berlapis-lapis dengan pola bunga lotus berwarna keemasan berdiri diatas bangunan. Kakinya tampak seolah tanpa beban saat dia berjalan diatas atap sebelum melompat turun.
"Guru!"
Ketiga orang itu berjongkok menekuk kaki dengan postur hormat saat orang yang mereka sebut guru itu berdiri didepan mereka.
Orang yang disebut guru itu mengangguk membalas salam mereka sebelum mulai menatap ke arah Jungkook.
Jungkook membuka dan menutup mulutnya beberapa kali seolah lupa bagaimana untuk berbicara. Sementara panda kecil telah bersembunyi dibalik punggungnya, sesekali dia akan mengintip namun saat tatapannya bertemu dengan guru itu dia kembali bersembunyi.
"Kita kedatangan tamu."
Jungkook mengangguk dengan leher kaku, dia berkata dengan terbata, "Y-ya benar, aku adalah tamu."
"Baik, jadi siapa yang tamu kecil kita cari disekte bunga lotus?"
Jungkook tidak tau apa yang salah dengan caranya berbicara namun dia merasa harus menghormati orang ini. Dia bahkan merasa lebih memiliki dorongan untuk menghormati orang ini daripada ayahnya, Raja Iblis.
Orang ini hanya tampak begitu mulia dan tak tersentuh. Seperti seseorang yang baru saja turun dari istana langit.
"Aku datang untuk bertemu dengan..." Dia tidak mengetahui siapa nama guru yang pandai obat-obatan itu. Dia melirik ketiga orang yang masih menunduk dengan putus asa, "Guru... guru yang pandai obat-obatan."
Orang itu mengangguk, "Tetua Ro sedang istirahat, bagaimana jika kau menemuinya besok pagi?"
Jungkook terdiam mencerna apa yang dikatakan oleh orang didepannya, itu adalah kalimat sederhana namun tiba-tiba kepalanya sangat padat hingga dia tidak mampu memberikan respon padanya.
Panda kecil merasakan ke kakuan tuannya, dia memukul kepala Jungkook lalu berbisik ditelinganya, "Piuuuu..."
"Pi..piuuuu..."
Panda kecil, "..."
Guru itu membulatkan matanya sesaat sebelum tertawa, dia menutup mulutnya dengan lengannya saat dia tertawa yang bagaimana membuatnya tampak sangat lembut dan mulia.
Sementara ketiga orang yang masih menunduk mulai bergetar menahan tawa.
"Ahem ..." Guru itu menenangkan dirinya sebelum berkata, "Baiklah tamu kecil, bagaimana dengan beristirahat disini malam ini lalu menemui tetua Ro besok pagi?"
"Baik."
"Sang Yi antar tamu kita ke ruangannya."
"Baik guru."
Guru itu memberikan senyuman seringan bulu pada Jungkook sebelum berbalik pergi.
Garis pandangnya mengikuti arah kemana guru itu meninggalkan mereka dan tanpa sadar jatuh di punggungnya yang halus dan tak tersentuh, sampai dia berbelok di sudut dan menghilang.
"Siapa orang itu?"
"Dia adalah tetua Kim, seorang immortal yang paling kuat di sekte bunga lotus."
Jungkook menatap ke arah menghilangnya guru itu saat dia berkata dengan suara yang tenang, "Jadi seperti itulah bagaimana seorang immortal terlihat?"
