Reckless
[ KOOKV - SHO-AI - HISTORICAL ]
by: Odeee_
Chapter 2
Jungkook mengerutkan dahinya tidak sabar, dia telah berguling ke kiri dan ke kanan dalam tidurnya. Akhirnya menendang selimut saat dia mulai tidak tahan.
Suara teriakan dan suara pedang kayu yang beradu memenuhi sekte begitu pagi. Jungkook sangat ingin membungkam mereka, tetapi dia tidak ingin orang-orang tau siapa dia sebenarnya, akhirnya hanya bisa menahannya.
Ayahnya mengatakan untuk selalu berhati-hati menggunakan energi iblisnya di dunia manusia.
Dia menggerutu saat dia mulai mengikat rambut panjangnya yang berantakan, "Apa yang mereka lakukan begitu pagi? Kenapa tidak membiarkan tamu mereka tidur dengan nyaman."
Panda kecil yang tidur disebelahnya masih tertidur dengan nyaman dibawah selimut hangat. Jungkook meminta agar Huanhuan juga mendapatkan bantal dan selimutnya sendiri, dan bagaimana ketiga orang itu menemukan selimut untuknya dia hanya menerimanya dengan senang.
Jungkook menarik selimut Panda kecil dan menggoyangkan tubuh kecilnya yang terlelap, "Huanhuan kau harus bangun atau aku akan meninggalkanmu disini."
Panda kecil itu dengan enggan membuka matanya, dia menguap dan mengerjab beberapa kali, "Piuuuu..."
Suara ketukan pintu terdengar dengan suara Sang Yi mengikuti, "Hyung-nim apakah kau sudah bangun?"
Jungkook membuka pintu untuknya, dia melihat Sang Yi datang sendirian untuk membangunkannya.
Jungkook tanpa ampun berkata, "Apa yang terjadi dengan keributan ini pagi-pagi sekali?"
"Kami sedang melatih murid tingkat bawah, hyung-nim bagaimana jika kau berlatih bersama kami?"
Jungkook menyipitkan matanya, Sang Yi menunjukkan senyuman yang terlihat aneh.
"Baiklah."
Lagipula tidak ada hal yang bisa dia lakukan.
Dihalaman sekte telah berbaris anak-anak yang tampak berusia 10 sampai 15 tahun berjumlah kurang lebih 50 orang. Sang Yi menyebut mereka murid tingkat bawah bukan hanya karena usia mereka yang masih sangat muda, namun angkatan saat mereka mendaftarkan diri pada sekte bunga Lotus.
Sang Yi membawa Jungkook berdiri didepan barisan anak-anak itu dan dengan bangga berkata, "Dengar adik-adikku, orang disebelahku ini ingin berlatih bersama kalian."
Sang Yi melirik ke arah Jungkook dengan senyuman anehnya sebelum kembali menatap pada barisan, "Dia adalah tamu sekte kita, dia tidak mengerti ilmu pedang namun dia adalah orang dengan tenaga dalam yang melimpah."
Jungkook tidak mengerti apa yang dia katakan namun dia merasa harus mengangkat dagunya dengan sombong. Sementara Panda kecil yang menempel dipunggungnya mulai mengikutinya dengan bertindak sombong.
"Apakah ada yang ingin mencoba berlatih dengannya?"
Barisan itu terdiam, mereka melirik orang disebelah mereka namun masih tidak ada yang maju.
Hingga seorang anak yang tampak berusia sama dengan Jungkook mulai mengangkat tangan, dia berkata, "Sahyung, bagaimana kami harus berlatih dengannya saat dia bahkan tidak tau cara memegang pedang?"
Jungkook mengerutkan bibirnya tampak sedikit sebal.
Sang Yi tampak berpikir, dia menoleh ke arah Jungkook dengan alis terangkat.
Jungkook mengulurkan tangannya terbuka dengan sebal berkata, "Aku bisa, berikan pedangmu padaku."
Sang Yi tampak terkejut, namun dia masih memberikan pedang kayunya, "Kau pernah berlatih pedang sebelumnya?"
"Aku tidak, tapi aku telah melihat gerakanmu kemarin."
Sang Yi sangat mempercayainya, terutama saat bagaimana dia telah dikalahkan sebelumnya.
Barisan itu mulai menyingkir memberikan ruang untuk mereka berlatih dihalaman. Jungkook memegang pedang kayu seolah itu hanya tongkat biasa, sementara orang yang ingin berlatih dengannya sudah mengambil posisi siap.
Jungkook menunjuk anak itu dengan pedangnya saat dia berkata, "Kau maju lebih dulu."
Dari pinggir halaman Sang Yi diam-diam sangat menantikan pertarungan keduanya. Orang yang melawan Jungkook adalah yang terkuat di tingkat bawah, Choen Moo. Dia merasa sebal pada anak itu karena selalu mengabaikan arahannya, dengan sikap sombongnya itu Sang Yi tau bahwa anak itu pasti ingin melawan Jungkook.
Cheon Moo melakukan beberapa gerakan pemanasan sebelum mulai menyerang Jungkook dalam satu gerakan. Gerakan yang digunakan sama dengan gerakan Sang Yi kemarin. Sekte bunga lotus memberikan ajaran teknik pedang yang sama pada setiap muridnya.
Dia mengingat jika Wang Long pernah mengatakan setiap sekte memiliki teknik pedang mereka sendiri dan itu tidak boleh jatuh ke tangan sekte lainnya.
Namun kali ini dia tidak menghindarinya, Jungkook mengayunkan pedangnya dengan gerakan yang sama hingga kedua pedang kayu itu berbenturan.
Cheon Moo menatap tajam ke arah Jungkook sebelum kembali meluncurkan serangannya, namun Jungkook kembali menahannya dengan gerakan yang sama. Dia terus melakukan serangan sementara Jungkook terus menahannya.
Cheon Moo sangat kesal, "Apakah kau bermain-main?"
Jungkook mengangkat bahunya saat dia berkata, "Aku hanya melakukan apa yang kau lakukan."
Mereka memiliki tinggi yang sama dengan usia yang sama, saat mereka bertarung mereka terlihat seperti dua bocah kecil yang tengah bermain-main dengan mainan baru mereka.
Saat itu Cheon Moo diam-diam bergerak dengan cepat mengayunkan pedangnya ke arah Panda kecil yang menggantung di punggung Jungkook.
Panda kecil itu tercengang, "Piuu!!"
Dia sangat terkejut. Tangan-tangan kecilnya meremas bahu Jungkook dengan kencang.
Jungkook mengambil langkah cepat untuk menghindarinya, hingga ujung pedang kayu itu hanya membelah angin.
Jungkook menatapnya dengan tajam saat dia berkata, "Kau ingin bermain dengan Huanhuanku?"
Cheon Moo melihat kemarahan diwajah Jungkook, dia mengambil posisi siap saat dia berkata, "Kau akhirnya serius sekarang?"
Jungkook menajamkan tatapannya, dia berkata dengan senyuman miring, "Aku tidak akan bermurah hati padamu lagi."
"Kau terlalu banyak omong." Cheon Moo mulai mengambil langkah maju untuk menyerang.
"Huanhuan!" Jungkook melempar panda kecil itu ke langit dalam satu gerakan.
Sang Yi yang telah melihat itu sebelumnya mulai bersemangat. Dia mengepalkan tangannya dengan penuh semangat saat melihat kemarahan diwajah Jungkook.
Jungkook memusatkan hanya sedikit tenaga dalamnya ke dalam pedang kayu itu sebelum membalas serangannya.
Suara benturan terdengar dengan nyaring, kedua pedang saling berbenturan hingga kedua pedang itu terbelah menjadi dua bagian.
Cheon Moo tercengang saat genggaman tangannya mulai kosong. Seberapa kuatpun latihan yang dia lakukan pedang kayu itu tidak akan pernah terkikis apalagi hancur, namun hanya dalam satu benturan itu terbelah menjadi dua.
Jungkook merasakan Huanhuan sebentar lagi akan jatuh, dengan cepat bergerak mendekati Cheon Moo yang masih tercengang sebelum memberikan satu pukulan keras didadanya hingga anak itu terlempar membentur dinding, dan memuntahkan seteguk darah.
Jungkook mengabaikannya, dia berlari ke arah Huanhuan dan menangkapnya sebelum panda kecil itu mencapai permukaan tanah.
"Huanhuan, apakah kau terluka?" Dia terdengar sangat khawatir.
"Piuuuuu..." Panda kecil tertawa senang memeluk leher Jungkook. Sebelum kembali menggantung dipunggungnya.
"Piuu ... Piuu ..." Panda kecil itu mengusap-usapkan wajahnya pada punggung Jungkook dengan senang.
"Panda kecil yang sangat manis."
Jungkook menoleh saat mendengar suara itu, guru yang sebelumnya dia temui entah bagaimana saat ini berada tepat dibelakangnya. Dia tidak merasakan kehadirannya sama sekali.
Seluruh murid yang berada dihalaman telah membenturkan lutut mereka ke tanah dengan hormat menundukkan kepala mereka.
Bahkan Cheon Moo dengan mulut penuh darah saat ini sudah berlutut.
Panda kecil itu bersembunyi dibalik punggungnya, dia selalu bersembunyi saat melihat guru Kim.
"...Guru."
Orang itu tersenyum mendengar nada canggung Jungkook, "Hei, kau tidak harus memanggilku guru, aku bukan gurumu."
Dia benar. Murid-murid itu memanggilnya guru karena dia adalah guru mereka.
Dia tersenyum dengan lembut, "Namaku Kim Taehyung."
"Aku Jungkook."
.
.
.
Api lilin berkedip, memancarkan cahaya hangat redup di atas ruangan. Diluar matahari telah terbit namun saat dia perhatikan, di dalam ruangan ini tampak gelap gulita jika tidak ada nyala lilin.
Jungkook tidak bisa menguraikan kilauan di matanya karena Taehyung berlama-lama di depan rak seolah mencari sesuatu.
Apakah immortal ini membawanya ke ruangan ini untuk membunuhnya karena telah melukai muridnya?
Namun apakah immortal ini sekuat itu untuk mampu membunuh iblis darah murni seperti dirinya?
Jungkook memperhatikan punggung itu untuk waktu yang lama saat tiba-tiba dia mendengar suara di dalam benaknya.
"Anakku, apakah kau baik-baik saja? Ayah merasakan kegelisahanmu. Itu sangat menyedihkan hingga ayahmu ini ingin menangis."
Itu adalah suara ayahnya, Raja Iblis.
Jungkook berdecih mengabaikan suara ayahnya. Ayahnya setuju membiarkannya naik ke dunia manusia dengan syarat bahwa dia membiarkan ayahnya memantaunya.
Dia menelan darah ayahnya dan membiarkan ayahnya mengetahui bagaimana kondisinya dan dimana dia berada, ayahnya bahkan bisa menghancurkannya dengan darah yang telah dia telan.
Taehyung akhirnya berbalik ke arahnya, dia menarik kursi didepannya untuk duduk. Gerakannya entah bagaimana selalu terlihat mulia, itu membuat Jungkook merasa harus bersikap hormat padanya.
"Jadi Jungkook, bagaimana kau belajar teknik pedang sekte bunga lotus kami?"
Ah ... dia melihatnya.
"Aku hanya melakukan apa yang aku lihat."
Taehyung tampak tercengang, dia terdiam beberapa saat sebelum berkata, "Kau belajar dengan cepat."
Suara ketukan pintu terdengar dari luar, bahkan mereka mengetuk pintu dengan sangat hati-hati.
"Masuklah."
Dua murid yang terlihat seumuran dengan Sang Yi masuk membawa dua nampan besar dengan berbagai hidangan ringan hingga berat.
"Kau belum makan bukan?"
"Piu?" Panda kecil mengintip dari balik punggung Jungkook saat dia mencium bau sedap.
"Huanhuan bukan? Kemarilah kau juga harus makan."
"Piu?" Panda kecil memiringkan kepalanya menatap Jungkook seolah meminta persetujuannya.
Taehyung bangkit dari kursinya, dia kembali ke arah rak-rak itu dan mengeluarkan tiga buku besar. Dia meletakkan tumpukan buku itu ke atas kursi lalu melirik ke arah panda kecil.
"Huanhuan, kau boleh duduk disana. Pasti tidak nyaman makan dengan terus berada dipunggung Jungkook."
Baik Jungkook dan Huanhuan terdiam.
Taehyung menurunkan wajahnya, dengan suara rendah dia berkata, "Apakah kalian tidak menyukainya?"
Jungkook menepuk kepala Huanhuan dengan ringan, panda kecil itu melompat dan dengan patuh duduk diatas tumpukan buku yang diberikan oleh Taehyung.
Panda kecil itu mengambil satu persatu hidangan didepannya, kedua tangannya sangat sibuk. Dia mulai mengabaikan semua hal untuk makanan didepannya.
Taehyung memperhatikannya, tampak tertarik pada panda kecil. Dia berkata, "Berapa usianya?"
Jungkook terdiam beberapa saat sebelum menjawab, "Empat tahun."
Panda kecil itu menoleh, "Piu?"
Pada dasarnya panda kecil itu berusia lebih tua dari Jungkook. Namun karena dia adalah ras iblis dia terlihat seperti berusia empat tahun.
Jungkook menepuk kepala panda kecil itu dengan ringan, panda kecil itu menatapnya dengan senang sebelum kembali memakan makanannya.
"Jadi, jika aku boleh tau untuk apa kau menemui tetua Ro ke sekte bunga lotus?"
"Ahh ... " Jungkook hampir melupakan tujuannya datang ke sekte bunga lotus, "Aku ingin meminta bantuannya untuk membuat sebuah obat."
"Obat?"
Dia mengangguk, dengan ragu-ragu berkata, "Temanku sakit, kami tidak tau bagaimana menyembuhkannya."
"Aku sangat menyesal, tetua Ro saat ini sepertinya tidak dapat diganggu." Dia terlihat sangat menyesal diwajahnya saat dia mengatakannya, "Aku bukan tabib, tapi aku mengerti sedikit tentang obat, bisakah kau menjelaskan sakit seperti apa temanmu?"
"Itu... dia tidak mengalami pertumbuhan pada fisik dan prilakunya kecuali dia berkultivasi, dia selalu terlihat seperti anak kecil."
Taehyung mulai menuangkan teh pada dua cangkir di depannya, dia berkata dengan tenang, "Bagaimana itu terjadi?"
"Wang... ehem... kakaknya mengatakan sebelumnya dia telah mengkonsumsi berbagai obat terlarang."
"Jenis obat apa itu?"
"Kami tidak tau."
"Lalu kami juga tidak tau obatnya."
Jungkook, "..."
Bahkan panda kecil juga berhenti mengunyah dengan mulut penuh. Dia menelan paksa semua makanan dimulutnya sebelum melompat untuk memberi pelukan pada Jungkook.
"Piu..." Dia mengusap-usapkan wajahnya pada perut Jungkook untuk menenangkannya.
"Maafkan aku, sepertinya kau memang harus menunggu tetua Ro." Taehyung tampak lebih menyesal setelah dia menyaksikan seorang bocah kecil dan pandanya berpelukan.
"Kapan aku dapat menemuinya?"
"Aku tidak tau, tetapi mungkin akan memerlukan waktu 1 minggu."
"Piuuuuu..." Panda itu mulai menangis memeluk Jungkook.
Jungkook mengusap kepala pandanya, dia tampak murung.
Taehyung memiliki rasa bersalah dihatinya saat dia melihatnya, "Bagaimana jika kau tinggal disini sementara menunggu tetua Ro, dia mungkin datang lebih awal jadi kau bisa segera menemuinya saat dia kembali."
Jungkook mengangkat kepalanya, "Bisakah aku tinggal?"
"Tentu."
Tanpa sadar Jungkook mengangkat sudut bibirnya, dia tersenyum dengan lembut, senyuman seorang anak 15 tahun yang lugu dan cemerlang.
Taehyung tidak bisa menahan dan ikut tersenyum saat dia melihatnya.
