Reckless
[ KOOKV - SHO-AI - HISTORICAL ]
by: Odeee_
Chapter 3
Sore itu Sang Yi datang untuk mengetuk kamarnya, mengatakan apakah Jungkook akan bergabung bersama anak-anak sekte perguruan untuk makan malam atau makan dikamarnya.
Jungkook sangat penasaran tentu saja akan memilih makan bersama anak-anak sekte bunga lotus.
Dia mengikuti Sang Yi pergi ke aula makan anak-anak perguruan. Huanhuan ada dipunggungnya mengintip melalui bahunya.
"Apakah guru Kim juga akan makan bersama kita?"
"Para Junim tidak makan bersama muridnya."
*Junim: Master/Lord.
Jungkook tampak kecewa, "Lalu kapan para murid akan melihat Junim?"
Sang Yi menoleh padanya, "Tentu saja saat latihan."
Dia kembali bersemangat, "Kalian akan berlatih dengan guru Kim?"
Sang Yi mulai mengerutkan kening, "Kenapa kau begitu tertarik padanya? Aku akan memberitahumu, guru Kim tidak menerima murid jadi tidak satupun dari kami yang mengetahui tentangnya."
Di dalam sekte bunga lotus terdapat 12 orang Junim dengan masing-masing 10 hingga 15 murid dibawah bimbingannya. Mereka hanya akan memanggil Junim mereka dengan sebutan Junim, sementara untuk guru lainnya hanya akan disebut guru. Mereka membagi setiap angkatan murid perguruan sesuai kemampuan mereka kepada Junim yang sesuai.
"Mengapa dia tidak menerima murid?"
"Aku tidak aku." Sang Yi menggeleng dengan bahu terangkat, "Tetapi guru Kim jarang terlihat di sekte bunga lotus, dia biasanya berada di istana langit."
"Istana langit?"
"Mhm."
.
.
.
Malam semakin larut, bintang-bintang berkelip dengan indah dilangit. Jungkook baru saja akan menarik selimutnya saat tiba-tiba dia mendengar suara ayahnya di benaknya.
"Putraku, Nara datang untuk bermain denganmu."
Jungkook sontak menendang selimutnya, dia bangkit dan mengenakan jubah luarnya, "Nara ada di dunia iblis?"
"Dia datang bersama kakaknya."
Dia tiba-tiba berhenti, kemudian menatap Huanhuan yang juga telah bangun, "Tidak bisakah dia datang sendiri?"
Tiba-tiba dia mendengar suara lain dibenaknya, suaranya tenang tetapi penuh ejekan, "Kau tidak ingin bertemu denganku? Padahal aku sangat merindukanmu."
Dia berdecih, dengan malas kembali duduk di atas tempat tidurnya, "Wang Long hyung-nim kau sangat palsu!"
Kemudian dia mendengar suara tawa Raja Naga di benaknya, suara tawanya yang bahkan lebih menjengkelkan dari apapun.
Kemudian suara kekanakan yang bersemangat datang, "Bola api!"
"Bola nasi? Itu kau?" Jungkook kembali bersemangat.
"Ya! Ini aku! Ini Aku!" Dia mendengar suara tawa kekanakan dari benaknya, "Hechan mengatakan kau ada di dunia manusia? Kenapa kau tidak menemui aku?"
"Aku ada di Barat dan kau di Selatan!" Jungkook memberi isyarat pada Huanhuan untuk naik ke punggungnya, "Aku akan segera turun ke dunia iblis, tunggu aku!"
Saat itu Jungkook mendorong pintu kamarnya dengan tidak sabar, dia bergegas untuk pergi.
Namun saat dia telah mencapai halaman sekte dia menemukan Taehyung berdiri ditengah aula sendirian.
Jungkook ragu-ragu tetapi masih menyapanya, "T-Taehyung-nim?"
Taehyung menoleh padanya, dia menatapnya dengan datar sebelum melembutkan senyumnya, "Hai Jungkook, kemana kau akan pergi?"
"Aku... aku hanya..." Jungkook tidak berharap dia akan melihat Taehyung disini, sementara Huanhuan telah menyusut dibelakang punggungnya untuk bersembunyi, "Aku hanya ingin mencari udara segar."
Taehyung mengembangkan senyumnya dengan mata menyipit, seolah dipaksakan, "Kau berpakaian sangat rapi hanya untuk mencari udara segar?"
"Ah ... " Jungkook menggaruk rambutnya dengan canggung, "Sebenarnya... aku hanya ingin menemuimu."
Taehyung mengerutkan keningnya, "Menemuiku?"
"Itu ... bisakah kau mengangkat aku menjadi muridmu?"
Taehyung, "..."
Jungkook menjelaskan dengan bola matanya yang membulat, menunjukkan binar penuh semangat, "Aku melihat bagaimana murid-murid berlatih dengan Junim mereka dan aku... ingin melakukannya juga."
"Lalu kau bisa menjadikan salah satu dari para Junim itu menjadi Junimmu."
Jungkook segera menggeleng, "Tidak, tidak bisa, aku tidak mengenal mereka seperti aku mengenalmu dan mereka sudah memiliki banyak murid."
Taehyung tampak memikirkannya, dia bahkan menyentuh dagunya sendiri dan mulai membelainya, "Tapi aku tidak menerima murid."
"Mengapa?"
"Aku tidak punya banyak waktu dan aku tidak mempunyai pengalaman menjadi Junim."
"Aku... aku adalah orang yang belajar dengan cepat! Kau tidak perlu selalu mengawasiku!" Jungkook mencoba meyakinkannya dengan penuh keyakinan, "Dan... aku bisa membuatmu memiliki pengalaman menjadi Junim bukan?"
Taehyung menatapnya, dia mulai mengerutkan alisnya. Jungkook tampak sangat gigih, dia juga telah melihat bagaimana kemampuan Jungkook sebelumnya.
Dia telah menjadi immortal, mungkin tidak ada salahnya mulai menerima murid.
Pada akhirnya dia mengangguk, "Baiklah, aku adalah Junimmu mulai saat ini!"
Jungkook mengepalkan satu tinjunya dan membenturkannya dengan salah satu tangannya yang terbuka, menunjukkan sikap hormat pada Junimnya, "Baik Junim, murid ini akan berada dibawah bimbingan anda!"
Taehyung mengangguk padanya dengan tangan di belakang punggungnya, tampak sangat mulia dan mulia.
Jungkook masih dengan postur tangannya, mulai mengembangkan senyumnya. Senyuman murni seorang anak 15 tahun yang kekanakan, dengan kilauan penuh kekaguman didalam mata hitam bulatnya.
.
.
.
Malam itu Jungkook menghubungi Nara jika dia tidak bisa kembali dan mengatakan akan membawa Nara bermain dengannya saat dia menuruni gunung.
Jungkook telah berpakain dengan baik pagi-pagi sekali. Taehyung memberinya pakaian berwarna biru langit dengan lambang bunga lotus berwarna putih di dada kirinya.
Setiap Junim akan memberikan seragam dengan warna yang berbeda pada murid mereka, untuk mengetahui siapa-siapa saja orang yang berada dibawah bimbingannya. Tetapi setiap seragam memiliki tanda bunga lotus pada dada kiri mereka.
Taehyung tidak pernah mengambil murid, tetapi dia saat ini memilikinya. Dia hanya memilih warna biru langit karena warna biru langit tidak ada yang menggunakan.
Jungkook tengah mengepak barangnya, bersiap untuk pindah ke pavilliun Nancho yang merupakan halaman dimana Taehyung tinggal.
Dia tidak membawa banyak barang, hanya beberapa kain yang dia gunakan dan panda kecilnya, Huanhuan.
Jungkook meminta Sang Yi untuk mengantarnya ke pavilliun Nancho, selama perjalanan menuju pavilliun Sang Yi terus menerus bertanya padanya bagaimana caranya dia diterima menjadi murid guru Kim. Namun tentu saja Jungkook tidak memberitahunya.
Pavilliun Nancho berada pada halaman tertinggi sekte bunga lotus, dia harus melewati banyak pavilliun Junim lainnya untuk mencapainya. Sang Yi mengatakan jika Taehyung menyukai ketenangan, itu sebabnya dia memilih pavilliun teratas untuk menghindari kebisingan.
Seperti namanya, Pavilliun Nancho dipenuhi oleh bunga anggrek. Bunga anggrek yang menempel di pohon, tertanam ditanah dan tergantung pada dinding kayu bangunan pavilliun.
"Aku hanya akan mengantarmu sampai dihalaman." Sang Yi berbisik padanya, "Murid lain tidak boleh masuk ke pavilliun guru lainnya tanpa seijin Junim."
Jungkook mengangguk mengerti, "Baiklah."
Setelah Sang Yi pergi, Jungkook mulai mendekati bangunan pavilliun mencoba mengintip ke dalamnya tetapi tidak ada yang bisa dilihat dari pintu dan jendela tertutup.
"Piuuuuu..."
Huanhuan menunjuk pada kolam teratai yang mengelilingi pavilliun, seolah bangunan kayu pavilliun itu mengambang diatas kolam.
"Sangat indah bukan? Apakah aku harus meminta ayah untuk membuat seperti ini dirumah?"
Panda itu menggeleng, kembali menunjuk ke arah sebelumnya, "Piuu... piuuuuuuu!"
Jungkook menyipitkan matanya, dia mendekat beberapa langkah kemudian tercengang dan mundur selangkah.
Itu adalah Taehyung yang tertidur dipinggir kolam teratai, tampak sangat tenang dan tak tersentuh. Rambut hitam panjangnya menyebar pada lantai kayu pavilliun, dan jubah putihnya melebar disana, dengan matanya yang tertutup menunjukkan keindahan tiada tara.
Jungkook mengaguminya cukup lama sampai akhirnya Taehyung dibangunkan oleh cahaya matahari yang menusuk matanya.
Melihat Taehyung akan bangkit dari posisinya, Jungkook segera mendekat dan berlutut dengan satu kaki, dengan tangannya yang menunjukkan penghormatan, "Junim, murid ini datang untuk panggilan anda kemarin malam."
Taehyung mengernyit, perlahan bangun dari tidurnya. Rambutnya tampak berantakan dan menyebar dipunggungnya. Kulitnya yang pucat terpapar matahari pagi, dengan tangan langsingnya dia menghalau cahaya matahari yang menusuk wajahnya.
"Jungkook?"
"Y-ya Junim?" Jungkook mengangkat kepalanya dengan ragu-ragu.
Dia terdiam beberapa saat, kemudian kembali menunduk menatap tanah.
"Kau bisa mengambil kamar disebelah."
"Baik Junim!"
Jungkook bangkit dengan kaku, dia terlihat seperti robot saat dia berjalan menuju kamarnya.
Taehyung menatapnya sebentar kemudian terkekeh, "Jadi aku memiliki seorang murid sekarang?"
