Tumben-tumbenan hari ini semua berkumpul di rumah saat jam 7 malam. Ibu Jeon memasak banyak makanan, Bapak Jeon pulang lebih awal dari biasanya. Wonwoo ada di rumah, begitu pula Jungkook yang masih sibuk mengerjakan tugas di kamarnya. Malam ini, Keluarga Jeon makan malam dengan tenang. Keadaan mulai tidak terkendali saat Wonwoo berucap,

"Yah, si Adek punya pacar."

A BTS Fict

Sunny Ji, Me, and You.

#4. Terkuak Sudah

Jeon Jungkook

Kim Taehyung

Romance! Teen! Fluff!

Copyright Choi Miun

2017

Edited ver! 2020

nb : semua nama tempat hanya fiksi belaka.

nb 2 : plagiat haram hukumnya.

nb 3 : bisa dibayangkan Jungkook itu male/fem. Up to you.

nb 4 : percakapan banyak memakai bahasa non baku lo-gue.

nb 5 : fiksi ini dibuat tidak untuk menjelekkan suatu hal. Kesamaan di beberapa bagian merupakan sebuah ketidaksengajaan.


Apa daya Jungkook saat diomeli ayahnya seusai makan malam yang dipercepat.

"Kamu itu masih kecil! Udah berani pacaran! Mau jadi apa kamu?!"

Dalam hati, Jungkook misuh-misuh ke kakaknya yang tersenyum jahat.

Sebenarnya dia keceplosan, dia bilang ke abangnya kalau dia ditembak sama Taehyung. Wonwoo hanya memasang muka 'b aja', sehingga Jungkook tidak berpikiran yang aneh-aneh ke abangnya. Eh, ternyata abangnya itu mendengarkan dengan seksama. Akhirnya bocor juga ke Bapak Jeon.

Bapak Jeon memiliki prinsip, anak-anaknya boleh pacaran kalau sudah kuliah. Tapi anaknya yang bungsu ini sudah melanggar prinsip yang sudah dipegang sejak dulu. Kalau si sulung kan sudah kuliah semester akhir, tidak apa kalau sudah punya pacar. Tapi yang bungsu masih SMA. Sudah begitu, di mata Bapak Jeon, anak bungsunya ini masih dan selalu menjadi yang paling kecil.

"Sudahlah, Yah. Mau diapakan lagi kalau Kookie sudah pacaran? Putus sama pacarnya?" Ibu Jeon melerai perselisihan sepihak dari Bapak Jeon. Namanya juga ibu, pasti menenangkan hati dan kepala ayah yang panas. Tapi Bapak Jeon tetap keras.

"Ya harus putus! Jungkook masih kecil, dia nggak boleh pacaran!"

Jungkook kaget. Dia kan sudah punya KTP, kenapa masih dianggap anak kecil?

"Nggak mau! Masa, Kookie harus putus sama Kak Taehyung?!"

"Oh, jadi namanya Taehyung?"

Mampus. Jungkook keceplosan lagi.

"Jadi, yang telepon sama kamu pakai telepon rumah itu Taehyung, pacarmu? Yang membuat tagihan telepon rumah membludak itu dia?" Bapak Jeon menyerang Jungkook lagi. Jungkook balas menyerang. "iya! Daripada tagihan hape Adek mahal banget? Emang ayah mau bayar tagihan telepon Adek?"

Ibu Jeon menepuk bahu suaminya. "Ayah jangan marah begitu, ah, sama Jungkook. Dia sudah besar kok masih dilarang-larang." Bapak Jeon masih berpegang pada prinsipnya. "Pokoknya kamu nggak boleh pacaran! Titik!"

Jungkook berteriak kesal. "Ayah jahat! Abang jahat!"

Muka Jungkook memerah sesudah diomeli ayahnya. Air mukanya bercampur aduk, tidak sedap dipandang. Dia naik ke kamarnya, dan dia bertemu Wonwoo yang asyik main hape di ruang TV lantai 2. Jungkook berjalan cepat ke arah abangnya.

Plak!

"Aduh!" Kepala Wonwoo dipukul keras-keras. Wonwoo terkesiap. "Anjir! Ngawur banget sih, main pukul kepala orang!" omel si abang. Jungkook diam berdiri menahan marah. "Habisnya, Abang jahat sama gue! Gue diomelin panjang lebar sama Ayah gara-gara Abang!"

Wonwoo hanya memasang muka 'b aja'.

Jungkook maju menggeplak badan Wonwoo anarkis. "Gue sampai diancam harus putus sama Ayah! Gara-gara Abang! Semuanya salah Abang! Nanti gue bakal bales dendam!" Pukul, cubit, cakar, jambak, segala macam yang bercampur amarah Jungkook tumpahkan ke tubuh abangnya yang agak kurus. Cuma tulang dan selapis lemak, dan cubitan maut Jungkook membekas biru di kulit.

"argh! Mamah, adek mukulin abang!" Wonwoo mencoba mengadu, namun mulutnya langsung dicubit si adik. Jungkook memasang muka nggak santai. Dan ia bangkit berdiri, langsung membanting pintu kamarnya.

Keesokan hari, Jungkook bersiap untuk berangkat sekolah dengan wajah tertekuk. Ibu Jeon, yang menyiapkan sarapan, heran dengan kondisi hati anak bungsunya. "Dek, mukamu jangan dibuat jelek begitu, ah. Nggak enak lihatnya."

Jungkook duduk di kursi kerajaannya. "Biarin jelek." Dia langsung mencomot roti panggang dan makan oatmeal jatahnya. Ibu Jeon menggeleng maklum.

"Hoahem~" Wonwoo turun dari kamarnya. "Pagi, Mah."

Asem, Jungkook tidak disapa abangnya. Dia pura-pura tidak melihat abangnya yang duduk manis di depannya. Ibu Jeon sibuk menyiapkan bekal untuk si bungsu. "Abang nanti anterin Adek ke sekolah, ya. Udah jam segini, pasti bis udah agak penuh."

Jungkook melotot protes. "Lho, Mah, Adek nggak mau dianter abang. Adek bisa ke sekolah sendiri, naik sepeda."

Wonwoo mendengus. "Halah, naik sepeda aja masih nabrak-nabrak orang mau sok-sokan bawa sepeda ke sekolah." Ibu Jeon menggeplak tangan Wonwoo. "Abang jangan ngomong gitu! Nanti anterin adek kamu ke sekolah, kalau nggak nanti kamu nggak dapet jatah pizza."

Ancaman Ibu Jeon membuat nyali Wonwoo ciut. Tawa Jungkook tertahan sampai-sampai membuat suara tersedak. Ibu Jeon mendelik. "Adek juga! Nanti nggak kebagian pizza kalau masih ngeyel."


Akhirnya kakak beradik Jeon duduk manis di mobil milik Bapak Jeon. Mobilnya hanya satu, jadi Jungkook diantar abangnya ke sekolah dengan mobil, lalu Wonwoo kembali ke rumah, ia sendiri pergi ke kampus dengan subway.

Mobil berhenti di perempatan pertama.

Hening.

Jungkook masih sedikit mangkel terhadap Wonwoo. Berani sekali abangnya membuka rahasia di depan ayahnya yang keras dan konservatif. Buktinya saja, semalam dia dimarahi. Wonwoo melirik ke muka adiknya yang cemberut.

"Dek."

"hm."

"Gue minta maaf."

"hm."

"Ih kok gitu sih."

"biarin."

Wonwoo maklum. Memang, kemarin malam dia keterlaluan, membuka aib Jungkook di hadapan ayah mereka. Sudah begitu Ayah mengomel keras, dan dia juga tahu, Jungkook tidak suka diomeli, dinasehati malah makin ngeyel. Dia pikir, ayahnya mau menerima Jungkook sudah punya pacar. Dulu, saat dia seumuran Jungkook saja, dia dibolehin pacaran sama Ayah.

Jungkook berpikir keras dalam wajah tertekuknya. Memikirkan cara balas dendam yang baik dan tepat untuk Bang Wonu. "Oke! Nanti gue bakal kasih tau ke Ayah kalau Abang udah pacaran sejak SMA. Sama Bang Jun, tetangga sebelah, malah udah ena-ena di kamar. Biar Abang tahu rasa, diomelin Ayah panjang lebar."

Wonwoo melotot. "Enak aja! Lo jangan bilang begitu ke Ayah! Nanti gue disuruh putus gimana?!"

"Makanya Abang jangan bilang kalau gue punya pacar!"

"Tapi kan gue udah terlanjur ngomong ke Ayah."

"Maka dari itu gue juga membuka aib Abang ke ayah."

"Lo kok licik banget sih!"

"Enak aja! Abang lebih licik!"

Tin tin tin

Lampu merah sudah berganti menjadi hijau. Wonwoo yang mangkel langsung menancap gas hingga Jungkook terdorong ke belakang. "Anjir! Abang gue anarkis!"


"Kook~"

"hm."

"Kook~"

"hmm."

"Kook..."

"apaan?"

"Ih kok ketus banget..."

Ini baru istirahat pertama, dan kepala Jungkook sudah terjatuh malas di meja. Jimin heran, biasanya kopel gilanya ini langsung membuka kotak makanan Tapperwear warna ungu. Hari ini loyo, seperti habis putus cinta saja. "Masalah apaan, sih?" Jimin kepo. Jungkook menggeleng di balik lipatan tangan.

"Belum sarapan?" - menggeleng.

"Lupa minum susu?" - menggeleng.

"Kurang tidur?" - menggeleng.

"Berantem sama abang lo?" - mengangguk.

Jimin sudah mendapat keyword pertama. "Gara-gara apa? PS?" -menggeleng.

"Rebutan makanan?" - menggeleng.

"Masalah Taehyung?" Tiba-tiba kepala Jungkook terangkat. Jimin tersentak. "Anjir, emangnya ada masalah apaan?"

Muka Jungkook mewek. "Gue disuruh putus sama Ayah gara-gara Bang Wonwoo ngomong gue udah punya pacaaarr! Huaaaaaaa!" Jungkook mulai mewek. Jimin heran, baru kali ini dia melihat bestie-nya sedih gara-gara cowok.

"Padahal gue merahasiakan ini dari Ayah sama Mamah, tapi Bang Wonu seenaknya nyeplos ke Ayah! Lo tahu sendiri kan, ayah gue gimana?" Bibir Jungkook tertekuk, mukanya dibuat sejelek mungkin. Jimin menggeleng maklum.

Kim Mingyu, bestie Jungkook yang lain, datang dari kantin. Ia langsung duduk di kursi depan Jungkook. "Heh, tumben lo mewek," komentarnya. Ia membuka bungkusan roti cokelat. Jungkook hanya meraung keras dibalik lipatan tangannya. Lalu Jimin menjawab pertanyaan Mingyu.

"Dia berantem sama abangnya."

Mingyu tersedak. "Jungkook berantem sama Bang Wonwoo?"

"hm. Dia berantem sama gebetan lo."

Mingyu tersedak lagi. "Ih, jangan bahas kalau gue suka sama Bang Wonwoo, dong. Bahaya nanti," gusahnya pelan. Jimin cuma meringis. Bisa bahaya kalau Jungkook tahu Mingyu suka sama abangnya. Untung Jungkook masih meraung keras, tidak mendengar ucapan keduanya.

Mingyu melirik Jungkook, dan menepuk kepalanya yang tenggelam di lipatan tangan. "Heh, lo berantem gara-gara apaan?" Jungkook cuma menggerakkan kepalanya, menyingkirkan bekas tangan Mingyu. Jimin memasang muka heran. "Gils, gue baru kali ini liat kelakuan Jungkook kek gini."

Mingyu mengangguk setuju. "Gila memang." Kembali ia menepuk kepala Jungkook agak keras. "Heh, bangun, orang kurang belaian."

Terpaksa Jungkook mengangkat kepalanya. Sisa air mata. iler, dan ingus bercampur di mukanya. Jimin mengerinyit jijik melihat muka bestienya. Mingyu langsung menyodorkan tisu basah.

"Lap muka lo. Geli gue lihatnya."

Jungkook mengelap sisa-sisa sekret, wajahnya jadi bau minyak canola. Tapi air mukanya tetap masam. "Gue berantem sama Bang Wonu gara-gara disuruh putus sama Ayah." Ia memulai percakapan.

Mingyu kaget. "hah? Lo baru pacaran beberapa hari udah disuruh putus?! Gila!"

Jungkook menceritakan semuanya, dari A-AAA. Mingyu memasang muka nggak santai, sementara Jimin sibuk menepuk bahu Jungkook yang agak bergetar. "Ya nggak adil ini namanya. Bang Wonu boleh pacaran, tapi gue nggak!" Jungkook mulai uring-uringan.

Seketika Mingyu terkaget lagi. "HAH?! Bang Wonwoo udah pacaran?!" Mana ia tahu kalau gebetan beda 5 tahunnya udah punya pacar? Hatinya hancur berkeping-keping ketika mengetahui bahwa Bang Wonwoo, gebetannya, udah punya pacar. Jungkook mengangguk. "Iya, pacarnya tetangga sebelah. Made in China, asli, totok." Hati Mingyu makin sakit.

Bocah terlalu tinggi itu mulai memasang muka -sok- tersakiti. "Ternyata, harapan gue selama ini digantungin?" Jimin ganti menepuk bahu Mingyu prihatin. "Bro, gue tahu perasaaan lo. Paham banget." Ia menyemangati sohibnya yang patah hati. Mingyu mulai mewek, mukanya udah mulai dia buat jelek.

Jungkook, yang masih butuh perhatian, protes. "Lho kenapa yang disemangati Mingyu? Kan di sini yang sedih gueeee!" Ia kembali meraung keras. "huweeeee! Jimin nggak adil sama gueeeee!"

Makin ricuh keadaan kelas 3-3.


3 hari setelah insiden cakar mencakar, Jungkook main ke Sunny Ji.

"permisi." Ia langsung ke counter, bertanya pada petugas tampan -tapi tidak setampan Taehyung-, kalau tidak salah namanya Jeonghan. "Kak Taehyung ada?"

Jeonghan, yang pada dasarnya gemas dengan Jungkook, langsung mencubit pipi Jungkook. "Duh dek kok kamu nggemesin banget, sih. Taehyung ada di dalam. Aku panggil bentar, ya." Jungkook mengangguk. Ia duduk di meja dekat pintu dapur.

Tak selang lama, Taehyung keluar dari dapur. Bisa Jungkook lihat, penampilan Taehyung yang makin lama makin tampan. Sudah begitu, rambutnya yang dipotong agak cepak dan diberi headband membuat jidat -bangsadh-nya terlihat jelas.

Duh, Jungkook mau mimisan rasanya.

Taehyung tersenyum kotak. "Hai, Kook."

"Halo, Kak." Jungkook tersenyum manis melihat Taehyung. Mukanya memanas, sudah begitu pipinya mulai merona lagi. Sisa-sisa iler sudah ia hapus baru saja. Taehyung mengacak rambutnya gemas.

"Tumben jam segini udah pulang?" tanya Taehyung heran. Biasanya Jungkook pulang jam 4 sore, namun hari ini jam 3 sore dia sudah duduk manis. Jungkook "Iya, hari ini nggak ada tambahan."

Sekian menit, kentang goreng dan sebotol air putih dihidangkan di meja nomor 12. Taehyung menopang dagu, menatap gemas Jungkook yang sedang makan kentang goreng, dilumuri saos sambel tambah bubuk cabe. "Eh, kamu suka sambel?"

"iya."

"Pantesan, soalnya cintaku padamu makin panas, kayak buldak."

Bisa disebut gombalankah ini? Tapi Jungkook terlanjur tersipu malu akibat perkataan Taehyung, yang sebenernya nggak ada bumbu manis sedikitpun. Taehyung mengulum senyum. "Ih gitu aja tersipu~" Ia mengacak rambut Jungkook. Pipinya makin memerah saat tangan Taehyung mengelus kepalanya pelan.

"Kalau dilihat-lihat, mukamu kayak mochi."

"Kok bisa?"

"Pipimu tembem. Kayak mochi. Kenyal, bisa diciwel." Tangan Taehyung ganti menciwel pipi Jungkook gemas. Seketika dia jadi ingat es krim mochi. Mochi yang manis diberi isian es krim vanila yang lumer, dimakan pas siang hari. Ah, seketika Taehyung jadi lapar.

"kalau gitu, Kakak kayak kue cokelat."

"kok bisa?"

"soalnya kulit kakak tan. Kayak cokelat." Sebenarnya hanya kue cokelat yang terlintas di pikiran Jungkook. Warna kulit Taehyung yang agak gelap membuatnya teringat oleh kue cokelat buatan Ibu Jeon.

Taehyung mendelik. "jadi kamu mau bilang aku dekil?"

Seketika Jungkook menggelengkan kepala keras-keras. "ya nggak juga. Ada temenku yang lebih dekil. Kalau kakak sih eksotis. Glowing, berkilau," jelasnya.

Taehyung makin gemas. "aduh aduh, kok kamu tambah nggemesin gini sih?" Ia kembali mengelus puncak kepala yang lebih muda. Jungkook sendiri agak malu setelah melontarkan gombalan nggak jelas begitu.

"Jungkook?!"

Keduanya terkaget mendengar suara berat dari arah kanan mereka. Makin kaget lagi saat mereka melihat Bapak Jeon berdiri di samping meja yang mereka duduki dengan ekspresi campur aduk.


Hening di meja nomor 12. Bangku kosong di sebelah Jungkook diduduki ayahnya. Bapak Jeon melihat Taehyung detail, yang dilihat hanya diam menunduk. Jungkook menggigit bibir gemas.

"Ayah nggak nyangka kalo kamu pacaran sama cowok macam dia begini."

Bapak Jeon membuka pembicaraan. Terlihat jelas raut wajahnya yang masih terkaget melihat anak bungsunya berduaan dengan cowok yang tidak jelas asal usulnya. Tampilan seperti preman, headband motif nggak jelas yang terikat di kepala, pakai anting di telinga, sudah begitu ada suara gemerincing dari rantai di jeans yang dia pakai.

Tidak lolos standar calon mantu keluarga Jeon.

Jungkook merengek. "Ih, Ayah, jangan gitu sama Kak Taehyung." Bapak Jeon tidak mengindahkan rengekan si bungsu. Beliau tetap melihat Taehyung penuh selidik. "Kamu dari mana?"

"Dari Daegu, Om."

"Kuliah di mana?"

"Shinju, Om."

"Ambil apa?"

"Manajemen."

"Pasaran."

Taehyung menahan rasa mangkel di hatinya. Calon mertuanya saja sudah menyepelekan dia, bagaimana dia bisa lanjut dengan Jungkook kalau begini jadinya?

Jungkook menepuk lengan ayahnya agak keras. "Ayah jangan sinis gitu sama Kak Taehyung, ih." Bapak Jeon mengalihkan pandangannya ke arah si bungsu. "Ayah baru tahu selera cowokmu macam begini. Urakan."

Ucapan Bapak Jeon menambah rasa mangkel di hati Taehyung.

Sedikit keras, Taehyung berdeham. "maaf, Om. Walaupun penampilan saya urakan tapi kelakuan saya tidak serusak itu. Tampilan garang begini tidak selalu mencerminkan perilaku yang garang juga. Toh juga saya berpenampilan garang begini Jungkook kepincut pada saya," ucap Taehyung penuh intonasi dan penekanan.

Ucapannya yang merasuk di pikiran Jungkook, wajah tampannya yang bersinar, ditambah dengan kesan seksi dan pintar makin membuat Jungkook terpesona. Aduh, boyfriend material banget.

Bapak Jeon juga -sedikit- terkesima melihat ketegasan Taehyung. Beliau hanya menguji ketahanan Taehyung, dan ternyata calon mantunya ini cukup tahan banting juga. Perlu diuji lagi.

"Memangnya kamu punya apa buat ngebahagiain anak saya? Cinta? Anak saya nggak butuh cinta dari pihak lain selain keluarga."

Buset, seperti bertanya pada calon mantu langsung.

"Saya saat ini emang belum punya apa-apa, Om. Saya juga tahu, cinta itu nggak bisa digunakan untuk beli makanan dan lainnya. Maka dari itu, lulus kuliah, saya mau kerja dulu di perusahaan yang cukup bonafit di Daegu."

"Yakin cuma begitu?"

"Saya harus menabung demi masa depan. Terutama dana untuk lamaran," ucap Taehyung pasti dengan sedikit lirikan ke Jungkook. Pipi Jungkook bersemu merah tomat mendengan ucapan Taehyung. Gimana nggak tersipu kalau sudah diberi kode-kode menjurus?

Bisa dilihat dari wajah Bapak Jeon yang cukup puas. Ternyata calon mantunya ini oke juga. Berwawasan luas, dewasa, tahan banting, ditambah wajah yang rupawan. Cocok bersanding dengan si bungsu yang manja dan kekanakan. Dan finalnya...

"oke. Kalau begitu, buktikan kalau kamu pantas untuk bersanding dengan anak saya."

"hah?!"


note

SAYA KANGEN SAMA SUNNY JI T-T

Seneng sih, ada yg masih mau baca cerita ini setelah gak apdet sekian bulan. ku terhura :'D Tapi sedih, yg view ada ratusan lebih, yg review cuma secuil dr populasi viewers :'

Sibuk di sekolah, pulang sore, kebelet nulis ff lagi :' gabisa curi waktu buat nulis, waktu kosong nyempil dikit aja ga sempet :' Mingdep udah uas :'

Makasih yang udah review di chap 3. Makasih juga yg udah ngefav n follow cerita abal ini. Kalian warbyazah. Aku cinta kalian :'*

Special thanks to :

Kyunie, SwaggrxBang, Botol Gas, guest (deer antlers), Kimizaku, NaluTachi, bibble-ie, guest (9894), jjemy, archangelsunny, Taejun, christianseagul

note edit

Last! Review plz :D