Kanojo to Saisho no Tomodachi
(Si Gadis dan Teman Pertamanya)
Naruto by Masashi Kishimoto
Fiction by Izumi Azues
Chapter 4
Sore hari, kala sang matahari terbenam meninggalkan singgasananya. Saat dimana seluruh siswa siswi bersukacita karena pelajaran yang mereka ikuti seharian telah usai. Begitu pun dengan kelas 1-B, banyak yang telah meninggalkan meja belajarnya sesaat setelah bel pulang sekolah berbunyi. Namun, ada juga yang masih tetap di kelas untuk mengobrol atau bergurau sebelum benar-benar pulang.
"Hinata-chan, apakah besok kau luang?", tanya gadis berambut pink yang kini telah berdiri disamping meja Hinata.
"Ehh? Bagaimana Sakura-chan?", Hinata yang sedikit kaget dan kebingungan malah balik bertanya pada Sakura. Hinata agak bingung kenapa Sakura tiba-tiba bertanya.
"Apakah besok kau luang? Aku ingin mengajakmu main keluar Hinata-chan", tanya Sakura kedua kalinya sambil mengatakan apa maksud dan tujuannya bertanya.
"Umm, sepertinya besok aku luang Sakura-chan", Hinata berpikir sejenak sebelum menerima ajakan Sakura.
"Yosh", Sakura puas dengan jawaban Hinata.
"Ano, apa aku boleh tau besok kita akan kemana?", tanya Hinata sedikit penasaran besok akan kemana.
"Ahh, besok kita akan ke Konoha Shopping Mall, aku ingin mengajakmu kesana", jawab Sakura sedikit semangat.
"Benarkah? Wahh, sudah lama aku tidak kesana", kini Hinata juga ikut semangat, matanya sedikit berbinar.
"Ehh? Memang kapan terakhir kau ke sana?", tanya Sakura sedikit penasaran.
"Saat ku kecil, mungkin?", jawab Hinata polos sambil memiringkan sedikit kepalanya.
"Itu terlalu lama Hinata-chan", ucap Sakura sweatdrop setelah mendengar jawaban Hinata.
"Baiklah, besok kita bertemu di stasiun jam 10 ya", sambung Sakura.
"Ha'i Sakura-chan", jawab Hinata singkat.
Sakura kemudian berlalu pergi menghampiri Sasuke yang sedang ngobrol dengan Naruto. Setelahnya Sakura dan Sasuke menuju pintu kelas untuk pulang.
"Jaa, Naruto aku pulang duluan ya dengan Sasuke-kun. Hinata-chan, sampai jumpa besok", ucap Sakura sambil melambaikan tangannya.
"Kami pulang duluan Naruto, Hinata. Sampai jumpa", susul Sasuke.
"Ou, kalian berdua hati-hati dijalan", jawab Naruto sambil tersenyum.
"Ha'i Sasuke-san. Sampai jumpa besok Sakura-chan", jawab Hinata pada Sasuke dan Sakura.
Setelah itu Sasuke dan Sakura pergi dari ruang kelas itu untuk pulang bersama, meninggalkan Naruto dan Hinata yang masih setia di dalam kelas. Naruto kemudian menghampiri Hinata yang akan beranjak dari meja belajarnya.
"Mau pulang bersama Hinata-chan?", tanya Naruto dengan senyum manis di wajahnya setelah menghampiri Hinata.
"Umm, dengan senang hati Naruto-kun", jawab Hinata riang, gadis itu juga tersenyum manis. Muda-mudi itu kemudian meninggalkan kelas mereka. Berjalan beriringan dengan latar jingganya sore hari.
"Ne, Hinata-chan. Dulu kau SMP dimana?", tanya Naruto pada gadis yang berjalan di sebelah kirinya.
"Etto, Sekolah Menengah Khusus Perempuan Suna", jawab Hinata sambil memegang dagunya mengingat-ingat nama SMP nya dulu.
"Ahh, sudah kuduga", ucap Naruto setelah mendengar jawaban Hinata.
"Ha'i?", Hinata memasang wajah bingung, kepalanya sedikit dimiringkan. Bingung dengan tanggapan pemuda disampingnya.
"Pantas saja aku tidak pernah melihatmu dari dulu. Apakah kau baru pindah ke Konoha?", ucap Naruto diiringi tanya kembali.
"Umm, aku baru pindah ke Konoha lagi setelah lama tinggal di Suna", jawab Hinata santai.
"Souka, apa kau lahir di Suna, Hinata-chan?", tanya Naruto kembali seolah ingin tau lebih banyak tentang gadis itu.
"Iie, aku lahir di Konoha. Sejak Okaa-sama meninggal, Otou-sama dipindah tugaskan ke Suna. Aku dan Hanabi selalu ikut bersama Otou-sama karena tidak ada yang menjaga kami di Konoha", jelas panjang lebar Hinata.
"Wahh, pasti merepotkan sekali", ucap Naruto berkomentar.
"Umm, kadang aku juga berpikir seperti itu", balas Hinata menanggapi komentar Naruto.
"Ya kan? Ahahaha"
"Umm, ahahaha"
Mereka berdua tertawa lepas. Naruto yang sedikit melihat ekspresi Hinata dari ekor matanya tertegun sejenak, matanya sedikit melebar. Baru pertama kali ia melihat gadis berambut indigo itu tertawa lepas. Hanya satu kata yang bisa menggambarkan ekspresi gadis itu bagi Naruto. Cantik.
"Ne, Hinata-chan. Mau mampir ke minimarket?", tanya Naruto setelah keduanya puas tertawa.
"Apa Naruto-kun ingin membeli sesuatu?", Hinata malah balik bertanya pada Naruto. Tangannya mengusap air mata yang ada di ekor matanya sehabis tertawa.
"Ya, aku ingin membeli sesuatu", jawab Naruto menganggukkan kepala sambil tersenyum.
"Baiklah", ucap Hinata singkat. Tanpa menanyakan hal lain, gadis itu mengiyakan ajakan Naruto.
Mereka berdua kemudian pergi ke minimarket. Setelahnya Naruto masuk kedalam, Hinata menunggunya di luar. Tidak lama kemudian pemuda itu keluar membawa popsicle double stick di tangannya. Kemudian Naruto membagi dua popsicle ditangannya. Namun tidak terbelah sempurna, satu bagian lebih besar karena ujung bagian yang lain terputus. Tanpa pikir panjang pemuda itu memberikan ukuran yang lebih besar pada gadis di depannya.
"Ini untukmu Hinata-chan", ucap Naruto sambil menyodorkan popsicle ditangannya.
"Ehh? Kenapa aku dapat yang lebih besar Naruto-kun?", tanya Hinata bingung.
"Sudah terima saja. Atau mau ku suapi?", ucap Naruto sedikit menggoda di akhir.
"E- ehh?!", pekik Hinata dibarengi semburat merah di pipi putih gadis itu. Ia tersipu, jantungnya berdegup cepat.
"Hora, nanti meleleh Hinata-chan", ucap Naruto masih setia menyodorkan popsicle untuk Hinata.
"Ha- ha'i", jawab Hinata menerima popsicle pemberian Naruto. Wajahnya masih bersemu, tatapan matanya ke arah samping, masih enggan menatap pemuda itu karena malu.
"Umm, erai ne Hinata-chan", ucap Naruto setelah Hinata menerima popsicle nya sambil sedikit menepuk pucuk kepala gadis itu, lalu sedikit terkekeh.
"Mouu, Naruto-kun", Hinata sedikit kesal, pipinya sedikit menggembung dengan tatapan menajam. Namun terkesan imut karena kedua pipinya masih bersemu merah.
"Uwahh, kowai, demo kawaii ne", ucap Naruto singkat dan tersenyum jahil di akhir kalimat.
"Mooooou", Hinata yang makin kesal kemudian berbalik, berjalan cepat. Gadis itu pergi karena dua hal. Yang pertama karena sedikit kesal dengan pemuda itu. Kedua karena ia dibilang imut oleh Naruto barusan, karena malu yang tak tertahankan gadis itu memilih kabur.
"Oi, Hinata-chan, tunggu aku. Maafkan aku Hinata-chan. Hinata-chan!", ucap Naruto sedikit berteriak karena Hinata berjalan tiba-tiba meninggalkannya. Setelahnya ia sedikit berlari untuk menghampiri gadis itu yang sengaja meninggalkannya.
Begitulah perjalanan pulang mereka hari ini. Meskipun mereka berdua baru berteman, namun tidak bisa dipungkiri bahwa mereka terlihat dekat.
Hari berganti memasuki akhir pekan, waktu yang tepat untuk sebagian orang bersantai setelah beraktivitas selama sepekan. Selain itu ada juga yang memanfaatkan akhir pekan untuk jalan-jalan atau rekreasi.
Sama halnya dengan gadis cantik berambut indigo panjang yang mengenakan dress one piece selutut berwarna putih dan dipadukan dengan stocking hitam yang membalut kaki jenjangnya, serta sepatu dengan heels pendek warna hitam, gadis itu juga membawa chain bag kecil warna hitam yang dikalungkan di bahu sebelah kanan. Gadis itu sedang berdiri di peron stasiun untuk menunggu teman barunya yang diketahui bernama Sakura. Temannya itu mengajaknya pergi main hari ini.
'Jam 09:58, sepertinya aku terlalu bersemangat', ucap dalam hati Hinata saat melihat jam pada layar smartphone nya.
"Hinata-chan!", pekik seorang gadis agak jauh dari tempat Hinata berdiri.
Hinata yang merasa namanya dipanggil oleh seseorang langsung menoleh ke arah sumber suara. Gadis itu langsung mengenali siapa yang memanggilnya itu, yang tidak lain adalah Sakura.
Sakura mengenakan rok berwarna hitam selutut dengan kaos panjang berpola garis hitam putih horizontal, serta sandal dengan heels pendek berwarna hitam menghiasi kakinya. Gadis itu juga membawa tas selempang berwarna merah.
"Ohayou Hinata-chan. Apakah kau sudah menunggu dari tadi?", ucap Sakura setelah menghampiri Hinata.
"Umm, sepertinya aku sudah disini sejak 10 menit yang lalu Sakura-chan", jawab Hinata sambil sedikit mengingat berapa lama ia sampai di stasiun.
"Yosh! Saatnya bersenang-senang", ucap Sakura dengan berapi-api.
"Umm", respon Hinata disertai anggukan dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya. Tidak dipungkiri bahwa gadis itu senang karena ini adalah kali pertama dalam hidupnya ia pergi hangout dengan teman perempuan seumurannya.
Tak lama setelah itu kereta yang akan membawa dua gadis cantik itu ke Konoha Shopping Mall pun tiba. Mereka berdua langsung masuk sesaat setelah pintu kereta dibuka. Setengah jam berlalu, sampailah Hinata dan Sakura di Konoha Shopping Mall, sebuah pusat perbelanjaan terbesar dan terlengkap seantero negeri.
"Ne, Hinata-chan, mau cari makan siang dulu? Kebetulan sebentar lagi jam makan siang", ucap Sakura sesaat setelah tiba di lokasi tujuan mereka.
"Tidak masalah Sakura-chan. Lagipula aku bingung harus apa disini", ucap Hinata polos.
"Ahh, tenang saja aku sudah menyiapkan rencana untuk hari ini Hinata-chan", respon Sakura.
"Umm, baiklah. Mohon bantuannya Sakura-chan", ucap Hinata dengan sedikit menundukkan badannya sedikit.
"Yosh, baiklah ayo Hinata-chan", ucap Sakura semangat, lalu menarik tangan Hinata.
Keduanya kemudian melesat masuk kedalam gedung besar berlantai tujuh dengan arsitektur modern itu. Mulai dari makan siang di restoran khas Italia, nonton film di bioskop, hingga saat ini mereka sedang asik ngobrol di rooftop pusat perbelanjaan itu. Keduanya terlihat senang dengan hari ini, terlebih bagi Hinata yang baru pertama kali hangout dengan teman sebayanya.
"Hal apalagi yang bisa kita lakukan di sini Sakura-chan?", tanya Hinata pada obrolan mereka. Mata gadis itu berbinar, seperti anak kecil yang baru dibelikan sebuah mainan.
"Mmm, cukup banyak. Tapi sepertinya waktu kita tidak cukup untuk melakukan semuanya", jawab Sakura yang saat ini memandangi langit sore ini.
"Souka", ucap Hinata singkat. Dirinya juga ikut menikmati langit luas itu.
"Mungkin kau bisa mengajak Naruto kapan-kapan untuk mencoba hal baru di sini lain kali Hinata-chan", ucap Sakura sambil mengalihkan wajahnya menatap Hinata.
"Ehh? Apa maksudnya Sakura-chan?", ucap Hinata sedikit gelagapan karena ucapan Sakura.
"Tentu saja kencan", jawab Sakura simpel, menampakkan sedikit senyum jahil.
"Ta- tapi aku dan Na- Naruto-kun tidak p- pa- pacaran", ucap Hinata terbata, wajahnya tertunduk, pipinya sudah memerah, kedua ujung jari telunjuknya dimainkan.
'Kawaii ne… Ehh, apa ini? Kemana tatapannya yang mengerikan itu?', ucap Sakura dalam hati ketika melihat perubahan sifat temannya itu. Dirinya sedikit kaget campur bersyukur dengan perubahan Hinata.
"Pergi kencan tidak harus pacaran Hinata-chan", ucap Sakura sedikit meluruskan perkataannya.
"Ta- tapi, aku hanya ingin bersamanya", ucap Hinata yang semakin pelan di setiap katanya. Pipinya merona merah.
'Kawaii sugiru! Seandainya aku laki-laki pasti Hinata sudah ku jadikan pacar'. ungkap dalam hati Sakura dengan khayalan tingkat tingginya.
"Kenapa tidak kau ungkapkan saja Hinata-chan?", tanya Sakura.
"A- aku be- belum siap", jawab Hinata masih dengan volume suara yang kecil, namun masih dapat didengar oleh Sakura.
"Kalau begitu bergegaslah, Naruto cukup populer loh dikelas", ucap Sakura, mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum jahil di wajah cantiknya.
"E- Ehh!?", pekik Hinata kaget mendengar hal itu.
"Yosh, pemberhentian selanjutnya adalah game center", ucap Sakura tanpa memperdulikan ekspresi kaget dan tercengang dari Hinata. Kemudian gadis itu berbalik sedikit meninggalkan Hinata yang masih terdiam di posisinya.
"Tunggu aku Sakura-chan", Hinata sedikit berteriak karena Sakura sedikit meninggalkannya. Dirinya kemudian menyusul gadis merah jambu itu dengan sedikit berlari.
Saat ini Sakura dan Hinata berada di depan sebuah mesin crane game berisikan bantal berbentuk wajah rubah berwarna oranye. Entah kenapa gadis berambut indigo itu sangat tertarik dengan hadiah dari mesin pencapit itu. Sakura yang sadar bahwa Hinata menginginkan hadiah itu sedikit bertanya.
"Kau mau hadiahnya Hinata-chan?", tanya Sakura.
"Umm, mereka terlihat empuk dan halus", jawab Hinata tanpa mengalihkan pandangannya dari hadiah crane game itu.
"Baiklah akan aku ambilkan untukmu Hinata-chan", ucap Sakura mantap.
"Ehh? Benarkah?", tanya Hinata senang, sedikit berharap bahwa Sakura benar-benar memenangkan hadiahnya.
"Umm, serahkan padaku", ucap Sakura percaya diri.
Setelahnya gadis merah muda itu memasukkan koin pada mesin crane game itu. Sedikit menggeser arah capitan, kemudian menekan tombol untuk mengarahkan capit kebawah untuk mengambil target.
Brukk
Ternyata gadis itu berhasil mengambil hadiah pada mesin crane game itu.
"Wahh, Sakura-chan keren, kau berhasil mengambilnya", ucap Hinata terpukau saat Sakura mengambil hadiah berupa sebuah bantal berbentuk wajah rubah warna oranye itu.
"Ahahaha, ini belum seberapa Hinata-chan. Ini untukmu", Sakura sedikit tertawa dengan reaksi Hinata yang menurutnya lucu sambil menyodorkan hadiah itu pada gadis di depannya.
"Arigatou Sakura-chan. Aku akan menjaganya dengan baik", ucap Hinata sedikit girang, gadis itu kemudian memeluk hadiah itu.
"Umu umu, kawaii", komentar Sakura sambil menganggukkan kepalanya saat melihat reaksi Hinata.
Kemudian mereka berdua melanjutkan untuk menjajal beberapa game yang ada disana, hingga tidak terasa sore telah berganti malam. Saat ini Sakura dan Hinata berada di persimpangan jalan tempat mereka berpisah untuk pulang kerumah masing-masing.
"Jaa, sampai jumpa di sekolah Hinata-chan", ucap Sakura.
"Umm, sampai jumpa di sekolah Sakura-chan. Terima kasih banyak untuk hari ini, dan terima kasih atas hadiahnya. Aku sangat senang", balas Hinata tersenyum sambil sedikit membungkukkan badannya ke depan.
"Tidak masalah. Aku juga menikmati hari ini, lain kali kita kesana lagi ya", jawab Sakura sambil tersenyum.
"Umm, aku menunggu kesempatan itu", ucap Hinata sambil tersenyum menanggapi ajakan Sakura.
"Bye bye Hinata-chan", ucap Sakura sedikit melambaikan tangan kanannya.
"Hati-hati dijalan Sakura-chan", ucap Hinata.
"Kau juga Hinata-chan", balas Sakura sebelum berbalik meninggalkan Hinata yang masih ada di persimpangan jalan yang memisahkan rumah keduanya.
Setelah Hinata tidak melihat teman perempuan pertamanya itu, ia berbalik kemudian berjalan. Bantal hadiah dari mesin pencapit pemberian Sakura ia peluk, wajahnya berseri tanda bahwa gadis itu senang.
Di tempat lain, seorang pemuda berambut kuning jabrik tengah berdiri menikmati langit malam bertabur bintang lewat balkon kamarnya. Ia bersandar di pojok tembok pembatas balkon. Rambutnya bergoyang seirama dengan hembusan angin malam itu.
"Meow!", suara kucing milik pemuda itu memecah keheningan.
"Yo, Kurama ada apa? Mau bergabung?", tanya pemuda itu pada kucing oranye berjenis domestik short hair itu.
"Meow", kucing itu menjawab pertanyaan pemiliknya itu. Mengambil ancang-ancang lalu melompat ke atas tembok pembatas balkon tempat pemiliknya itu bersandar.
"Yosh yosh, kucing pintar", ucap pemuda itu sambil membelai kepala kucing tersebut yang tengah duduk itu.
"Malam yang indah, bukan begitu Kurama?", tanya Naruto pada kucing kesayangannya yang seolah menjadi teman ngobrol pemuda itu malam ini.
"Meow", seperti paham perkataan majikannya, kucing itu mengeong untuk memberi jawaban.
Drrtt drrrtt
Getar smartphone yang ada di meja belajar kamar Naruto, menandakan ada sebuah pesan masuk. Pemuda itu lalu menghampiri smartphone nya, lalu membaca sebuah pesan.
From : Haruno Sakura
To : Uzumaki Naruto
*You receive an image. Tap to download*
"Sebuah gambar? Tidak biasanya Sakura-chan mengirimkanku sebuah gambar", gumam Naruto, sedikit heran dengan sebuah pesan yang tidak biasa dari sahabat kecilnya itu.
Tap
Tanpa berpikir panjang, Naruto kemudian mengunduh gambar pada pesan itu. Wajah yang semulanya bingung keheranan seketika berubah. Matanya sedikit melebar, kemudian tersenyum hangat.
Dilihatnya sebuah foto dua orang gadis yang Naruto ketahui adalah Sakura dan Hinata. Kedua gadis cantik itu tersenyum menghadap kamera, dengan posisi Sakura merangkul pundak Hinata.
Lama Naruto menatap foto itu, tepatnya menatap gadis berambut indigo panjang yang ada di foto itu. Ia perhatikan lekuk wajah dan ekspresi yang dibuat gadis di foto itu.
"Meow!", lagi-lagi suara Kurama yang mengeong memecah keheningan sekaligus kegiatan yang dilakukan oleh pemuda itu. Ternyata kucing itu sudah duduk manis di atas meja belajar tanpa pemuda itu sadari.
"E- Eh! Kurama?", Naruto sedikit tersentak karena kucingnya itu sudah berada di atas meja belajarnya.
"Meow", Kurama kembali mengeong.
"Ahh, ini. Aku sedang melihat foto yang dikirimkan Sakura-chan. Mau lihat?", Naruto menjelaskan kegiatannya barusan pada kucingnya itu, lalu menyodorkan smartphone yang menampilkan sebuah foto yang diperbesar hingga hanya menampilkan foto gadis berambut indigo.
Kucing itu kemudian melihat foto yang ada pada layar smartphone milik tuannya itu. Setelahnya, layar yang menampilkan foto itu diendus, lalu Kurama menggosokkan kepalanya pada layar smartphone itu.
"Pfft hahaha, apa kau menyukainya Kurama?", pemuda itu sedikit tertawa setelah melihat kucing oranye itu bereaksi pada foto yang ditunjukkan oleh Naruto.
"Meow", Kurama mengeong memberi jawaban.
"Ahahaha, kau ini", ujar Naruto merespon jawaban Kurama, kemudian mengelus kepala kucing oranye itu.
"Tapi… Aku baru melihat Hinata-chan mengenakan pakaian selain seragam sekolah", ucap Naruto agak pelan.
"Hahhhh… Kawaii ne", sambungnya sambil kembali memperhatikan foto gadis rambut indigo yang ada di smartphone nya itu. Tanpa sadar kedua pipi pemuda tersebut sedikit bersemu merah.
"Ne, Kurama. Kau ingin susu?", ujar Naruto, kemudian berjalan menghampiri pintu kamarnya yang tertutup.
"Meow!", jawab kucing oranye itu, kemudian mengikuti majikannya untuk turun ke dapur.
Di kamar seorang gadis berambut merah jambu, terlihat Sakura yang sedang santai sembari membaca majalah dengan posisi duduk dikasurnya.
Drrtt drrrtt
Gawai gadis itu bergetar tanda pesan masuk. Dengan cepat gadis itu membuka pesan baru itu. Sedikit tersenyum karena pesan yang dikirimkan gadis tadi mendapatkan respon dari Naruto.
From : Uzumaki Naruto
To : Haruno Sakura
Hinata-chan terlihat menikmatinya, ia terlihat manis.
Terima kasih telah mengajaknya pergi Sakura-chan. Besok akan ku kirim puding buah persik sesuai perjanjian.
Sakura yang membaca balasan pesan dari Naruto tersenyum, karena puas dengan respon yang diberikan sahabat kecilnya itu.
"Syukurlah hari ini berjalan lancar dan menyenangkan", ujar Sakura sambil sedikit meregangkan tubuhnya.
"Hinata-chan terlihat senang hari ini, Naruto senang karena aku bisa mengajak Hinata-chan pergi keluar, dan yang paling penting…", ucap Sakura menggantungkan ucapannya.
"... PUDING BUAH PERSIK BUATAN NARUTO!! KYAAAA!! BANZAI!! BANZAI!! BAN-"
Brakkk
"SAKURA JANGAN BERTERIAK MALAM-MALAM!!!", teriak Mebuki setelah mendobrak pintu kamar putrinya yang seketika membuat Sakura terdiam.
"Ada apa kau berteriak hah?!", tanya Mebuki dengan wajah garangnya. Mengacungkan centong sayur yang dibawanya.
"E- etoo a- anoo b- bukan apa-apa Kaa-san", jawab Sakura tergagap, takut dengan ibunya yang sedang murka.
"Hahhh, jangan berteriak. Kau bisa mengganggu tetangga", ucap Mebuki memberitahu Sakura untuk tidak berteriak.
"Umm umm", Sakura yang masih sedikit takut hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Makan malam sebentar lagi siap", ucap Mebuki kemudian berjalan keluar.
"Ha'i, aku akan segera turun", jawab singkat Sakura dengan pose hormat.
Flashback
"Ne, Sakura-chan. Apa kau bisa mengajak Hinata-chan pergi main di akhir pekan?", Naruto bertanya pada gadis yang menjadi sahabat masa kecilnya itu.
"E- eh? Aku? Maaf, tapi aku masih sedikit belum terbiasa dengan Hinata-chan", Sakura sedikit enggan atas permintaan sahabatnya itu.
"Kurasa kalian berdua akan cepat akrab kalau kau mengajaknya pergi Sakura-chan", Naruto sedikit meyakinkan Sakura.
"Tapi, kenapa harus aku Naruto?", Sakura masih enggan dengan permintaan itu.
"Kita sudah kenal sejak kecil. Kalau ada apa-apa aku langsung bisa pergi ke rumahmu. Lagipula, aku belum mengenalkan Hinata-chan pada teman perempuan lain di kelas", Naruto memberikan alasan realistis pada Sakura, berharap gadis rambut merah jambu itu mau menerima permintaannya.
"Aku paham dengan situasinya. Tapi-", Sakura kembali ingin beralasan, namun perkataannya sudah dipotong.
"Aku akan memberimu hadiah", potong Naruto menawarkan hadiah apabila Sakura mengiyakan permintaannya.
"Apa hadiahku untuk ini?", Sakura yang tadinya sempat bimbang mulai sedikit tertarik dengan tawaran yang akan oleh Naruto.
"Akan ku buatkan puding buah persik. Bagaimana?", tawar Naruto.
"Yosh, aku terima", tanpa berpikir panjang Sakura menerima dengan mantap tawaran hadiah yang diberikan Naruto apabila ia bisa mengajak Hinata pergi main diakhir pekan ini.
Keduanya berjabat tangan, tanda setuju dengan perjanjian yang mereka buat.
"Tapi, kemana aku akan mengajak Hinata-chan pergi, sementara aku belum terlalu mengenalnya?", tanya Sakura.
"Terserah kau saja, dari yang kutahu Hinata-chan lebih banyak menghabiskan waktu di rumahnya selama ini", jawab Naruto sambil memberikan sedikit informasi tentang Hinata.
"Heeee, kau perhatian sekali dengannya. Apa kau menyukainya?", tanya Sakura dengan ekspresi jahil.
"Etoo, bagaimana ya menjawabnya", ucap Naruto malu-malu sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Hmm~ hmmm~", gumam Sakura berusaha memojokkan Naruto untuk menjawab pertanyaan. Wajahnya yang tersenyum jahil semakin menjadi ditambah alisnya yang naik-turun.
"Eee, etooo. Senyumnya mirip Kaa-chan jadi aku ingin melindungi dan membuatnya bahagia", ucap Naruto masih malu-malu.
"Naruto", ucap Sakura lirih, matanya sedikit melebar dan berkaca-kaca. Sakura tau bahwa Naruto sangat menyayangi mendiang kedua orang tuanya terlebih ibunya. Gadis itu pun tau bahwa hal yang menyangkut kedua orang tua sahabatnya itu, pasti berkaitan mengenai hal emosional milik pemuda itu.
Sasuke yang dari tadi melihat lapangan sekolah yang ada dibawahnya pun sedikit menengok saat Naruto mengatakan hal tadi. Dirinya iba dengan keadaan sahabatnya itu yang kehilangan kedua orangtua yang dicintainya saat masih SMP dulu, dirinya juga kesal karena tidak bisa berbuat banyak dengan hal itu.
"Oke, kalau begitu. Mohon bantuannya Sakura-chan", ucap Naruto.
"Ha'i, jangan lupakan puding buah persik nya", balas Sakura.
"Kau ini, sangat suka dengan puding itu", ucap Naruto geleng-geleng karena Sakura sangat semangat dengan hadiah yang dijanjikannya.
"Umm, selain mencintai Sasuke-kun aku juga mencintai puding buah persik buatanmu", ucap Sakura mantap.
"Hahhh, dasar", Naruto menghela nafas mendengar pernyataan Sakura.
"Sasuke, aku minta Sakura-chan untuk pergi keluar bersama Hinata-chan akhir pekan nanti. Apa kau tidak masalah?", tanya Naruto pada Sasuke yang berjarak tiga langkah darinya.
"Aku tidak masalah, tapi sebagai gantinya aku ingin bermain game seharian di rumahmu", jawab Sasuke.
"Kalian ini temanku atau bukan hah?", Naruto sedikit menggerutu pada dua sejoli itu.
"Kau mendapatkan apa yang kau mau, dan kami juga mendapatkan yang kami mau. Sangat adil bukan?", ucap Sasuke merespon Naruto yang menggerutu.
"Umm win win solutions", tambah Sakura.
"Ya ya ya, win win", respon Naruto malas. Dirinya seperti kalah bertaruh. Ekspresinya terlihat lucu oleh kedua sahabatnya itu.
"Pffftt ahahahaha", tawa Sakura pecah saat melihat ekspresi Naruto.
"Ahahahaha", Sasuke pun ikut tertawa.
"Pffftt ahahahaha", Naruto juga tertawa karenanya.
"Ahahahahaha- uhuk- uhuk- uhuk"
"Sakura-chan, kau berlebihan"
End Flashback
Pagi di kelas 1-B sama dengan kelas pada umumnya. Sebagian siswa asik ngobrol, ada yang mengerjakan PR, ada yang tidur, ada yang makan cemilan, ada yang asik main dengan semut, ada yang membaca, dan banyak kegiatan random lainnya yang dilakukan para siswa di kelas itu.
Srekkk
Terdengar suara pintu yang bergeser, menampakkan pemuda berambut kuning dan gadis berambut indigo yang mengekor di belakangnya.
"Ohayou minna!", sapa pemuda itu semangat kepada penghuni kelas 1-B yang sudah datang. Senyuman cerahnya tidak luput dari wajah tampannya.
"Ohayou"
"Ohayou Naruto-kun"
"Ohayou Naruto"
Sapa balik penghuni kelas kepada Naruto. Setelahnya pemuda itu ke tempat duduknya yang berada di kursi paling belakang baris kedua dari sebelah kanan. Gadis yang berangkat sekolah bersamanya duduk disebelah kanan pemuda itu.
"Yo, Naruto. Apa yang kau lakukan saat akhir pekan kemarin?", tanya Kiba setelah menghampiri Naruto di mejanya.
"Etoo, bantu Sasuke main game RPG", jawab Naruto.
"Woah, kau punya konsol game?", Kiba kembali bertanya.
"Yaa, beberapa", jawab singkat Naruto.
"Sugoi, punya game sepakbola?", tanya Kiba yang sangat tertarik dengan topik video game yang mereka bahas.
"Tentu, tapi aku tidak terlalu jago", ucap Naruto.
"Kapan-kapan ayo kita bertanding. Aku akan ke rumahmu", ucap Kiba mengajak Naruto tanding game sepakbola.
"Boleh saja, tapi jangan menertawakan ku saat bermain", ucap Naruto menyetujui ajakan Kiba.
"Ou, tenang saja. Itu hanya permainan", ucap Kiba tersenyum menyodorkan fist bump kearah Naruto yang langsung dibalas olehnya.
"Ohayou Naruto, Kiba, Hinata-chan", ucap gadis berambut pink yang baru datang bersama pemuda raven yang ada di belakangnya.
"Ohayou Sakura-chan, Sasuke", Naruto dan Kiba menjawab hampir bersamaan salam dari Sakura.
"Ohayou Sakura-chan, ohayou Sasuke-san", kini yang menjawab adalah Hinata dengan volume suara agak kecil namun masih bisa terdengar.
Kiba yang melihat kedekatan Sasuke dan Sakura terhadap Hinata sedikit penasaran. Dirinya penasaran bagaimana cara mereka berdua bisa dekat dengan gadis yang punya sorot mata tajam dan menyeramkan itu. Kiba jadi salah satu korban keganasan tajamnya sorot mata milik Hinata.
"Naruto, sejak kapan Sakura-chan dan Sasuke dekat dengan Hyuuga-san?", tanya Kiba setengah berbisik pada Naruto.
"Beberapa hari yang lalu. Kau penasaran dengan Hinata-chan?", kini Naruto balik bertanya setelah menjawab pertanyaan Kiba.
"Tidak tidak tidak. Aku masih cukup kaget dengan perkenalan minggu lalu", jawab Kiba dengan keringat dingin yang keluar dari dahinya.
"Heeeee, padaha-"
Ding dong ding dong~ Ding dong ding dong~
Belum sempat Naruto menyelesaikan kalimatnya bel tanda masuk berbunyi.
"Wahh, sudah bel. Aku kembali dulu Naruto", ucap Kiba, berjalan kembali ke tempat duduknya. Naruto hanya merespon ucapan Kiba dengan anggukan.
Tidak lama setelahnya seorang guru dengan masker yang menutupi separuh wajahnya masuk ke dalam kelas. Seisi kelas hening.
Hening beberapa saat. Kemudian.
"Eee, tidak ada salam untukku?", tanya polos Hatake Kakashi selaku guru dan wali kelas 1-B itu sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Ha'i sensei", Sakura mengangkat tangan tanda interupsi.
"Silahkan Haruno-san", Kakashi mempersilahkan Sakura untuk berbicara.
"Kita belum menentukan ketua kelas sensei", ucap Sakura.
"Ahh, begitu rupanya. Pantas aku seperti melupakan sesuatu yang penting", ucap Kakashi santai yang membuat penghuni kelas sweatdrop serentak.
"Oke sebelum masuk pembelajaran kita pemilihan ketua kelas terlebih dahulu", ucap Kakashi sembari menulis di papan tulis.
"Baiklah ada yang ingin mencalonkan diri?", tanya Kakashi. Seisi kelas langsung sedikit berisik.
"Jadi ketua kelas sangat merepotkan"
"Kau saja yang jadi ketua nya"
"Aku sangat sibuk"
Terdengar bisik-bisik dari kelas 1-B.
"Hahhh, baik harap tenang", Kakashi menginterupsi agar siswa nya tenang. Dan berhasil.
"Baiklah jika tidak ada yang ingin mencalonkan diri. Kalau begitu ada rekomendasi?", ucap Kakashi santai.
"Sensei", kali ini yang mengangkat tangan adalah Shikamaru.
"Silahkan Nara-san", dengan cepat Kakashi mempersilahkan Shikamaru untuk berpendapat.
"Aku merekomendasikan Naruto untuk jadi ketua kelas", ucap Shikamaru sama santainya dengan Kakashi.
"Tunggu dulu Shikamaru! Kenapa harus aku hah?!", tanya Naruto sedikit panik, ia sudah berdiri dari bangkunya.
"Mudah saja, kau sudah berbaur dengan teman sekelas. Kau bisa diandalkan, aku juga mempercayaimu dan yang paling penting, kau bisa bermain shogi", ucap Shikamaru menjelaskan beberapa poin kenapa dirinya merekomendasikan Naruto.
"Aku setuju dengannya"
"Naruto-san juga sangat bersahabat"
"Dia juga bisa diandalkan, bukan begitu?"
Suasana kelas kembali ramai setelah Shikamaru menyuarakan alasan dirinya memilih Naruto untuk menjadi ketua kelas.
"Yang benar saja? Ehh? Shogi? Oi, Shikamaru apa kaitannya dengan shogi?", tanya Naruto yang sudah pasrah dengan keadaannya.
Diam-diam Hinata memperhatikan Naruto yang sudah terpojok untuk jadi ketua kelas. Ingin dirinya membantu Naruto yang kesulitan. Namun dirinya bingung harus melakukan apa.
"Ayahku bilang orang yang bisa bermain shogi adalah orang yang bisa memikul tanggung jawab", ucapnya simpel.
"Kenapa tidak kau saja?", tanya Naruto malas.
"Aku tidak cocok untuk itu", jawab singkat Shikamaru.
"Baiklah, harap tenang kembali", Kakashi kembali menginterupsi untuk kembali tenang. Kemudian berbalik untuk menulis nama Naruto di papan tulis.
"Baiklah karena kita sudah dapat calonnya. Sekarang ada yang keberatan Uzumaki-san menjadi ketua kelas?", Kakashi melempar pertanyaan kepada murid-muridnya.
Seisi kelas hening yang mengindikasikan tidak adanya keberatan untuk hal itu.
"Baik, kalau begitu Uzu-"
"Sensei"
Para murid yang semulanya hening kali ini dibuat sedikit terkejut karena ada yang menginterupsi. Pandangan mata seluruhnya tertuju pada seorang gadis.
Degggg!!!
Makin terkejut lagi karena yang menginterupsinya adalah Hinata. Gadis yang jadi mimpi buruk bagi sebagian besar murid 1-B pada perkenalan minggu lalu.
"Silahkan Hyuuga-san", ucap Kakashi mempersilahkan Hinata berbicara.
Gadis itu kemudian berdiri, wajahnya tertunduk sambil memegang dadanya, menarik nafas sejenak. Lalu menegakkan kepalanya, kemudian.
"Aku mencalonkan diri menjadi ketua kelas"
