Started from: Friendship
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Story by PhiruFi
A/N: Setting waktu Naruto Genin. Akan banyak improvisasi setiap scene di Anime-nya.
WARNING: Semi Canon, Crack Pair, Alternate Ending, DLDR, Typo, EYD.
Enjoy read this story~
Summary:
Karena kesalahannya, Ino harus bergabung dengan tim 7. Bersama dengan Naruto, Sasuke dan Kakashi-sensei sebagai guru pembimbing. Lebih cocok disebut apa? Hukuman atau keberuntungan bagi Ino yang menginginkan berada di dekat Sasuke. Ino harus belajar memahami rekan se-timnya yaitu Naruto yang berisik dan juga Sasuke, pemuda yang terus mengacuhkan setiap tingkah lakunya. Mampukah mereka bekerja sama selama menjalankan misi sementara sifat ketiganya saling bertolak belakang?
oOo
"Aku harus gunakan kesempatan ini untuk mendekati Sasuke-kun!"
oOo
Kelas terlihat amat ramai dengan teriakan dan kegaduhan masing-masing individu. Tidak sedikit dari mereka saling mengganggu, bertengkar dan bahkan ada yang tertidur pulas tanpa memperdulikan suara berisik dari teman-temannya.
Ceklek!
Bunyi pintu terbuka dan menampilkan sesosok pria dewasa yang menyandang gelar wali kelas di Akademi. Anak-anak di kelas itu memanggilnya dengan Iruka-sensei.
"Tenang!" perintah Iruka. Ia berdiri di tengah-tengah kelas dengan membawa papan tulis kecil dan sebuah pulpen.
Seketika kelas terdiam. Mereka duduk dengan tangan terlipat di atas meja dan pandangan lurus ke depan.
"Hari ini aku akan mengumumkan nilai ujian sebagai penentu apakah kalian akan lulus atau tidak," ujar Iruka. Ia menatap papan kecil yang sedari tadi ia bawa. Tanpa bersuara ia terlihat mencoret kertas miliknya.
"Peringkat pertama..." Iruka menggantungkan kalimatnya.
Semua anak terlihat fokus dan menunggu-nunggu siapa yang akan menjadi lulusan terbaik tahun ini. Beberapa sudah mengira bahwa Uchiha Sasuke yang akan mendapatkan peringkat paling atas itu.
"Pasti Uchiha itu."
"Uchiha terakhir? Menurutmu?"
Bisik-bisik terdengar samar di telinga. Kebiasaan lama yang tak pernah lepas dan seolah menjadi budaya —bergosip.
"Yamanaka Ino," lanjut Iruka.
"Eh?!" Ino memekik tanpa sengaja. Ia tidak menyangka bahwa dirinya akan mendapat peringkat satu mengalahkan Uchiha Sasuke, teman sekaligus orang yang ia sukai.
Semua mata tertuju kepada gadis pirang itu. Bukan tatapan iri melainkan mereka bertanya-tanya. Pasalnya selama ini Ino tidak terlalu menonjol walau kemampuannya juga tidak bisa diremehkan dengan mudah.
"Ino dan Sasuke mempunyai nilai yang hampir sama. Hanya saja Ino mampu mengalahkan Sasuke di ujian kerja sama tim. Selamat, Ino!" Iruka mengacungkan ibu jarinya ke arah Ino.
"Arigatou, Sensei!" balas Ino. Ia tersenyum lebar.
Iruka melanjutkan dengan menyebut nama demi nama sesuai dengan urutan peringkat. Dan satu nama yang tidak disebut adalah milik Uzumaki Naruto. Itu artinya Naruto tidak lulus menjadi seorang genin.
"Mulai hari ini kalian adalah seorang genin. Itu artinya kalian memiliki tanggung jawab yang besar." Sebelum meninggalkan kelas, Iruka terlebih dahulu membagikan hitai-ate kepada masing-masing muridnya yang berhasil lulus di ujian genin kali ini. Baru setelah itu ia pergi dan disusul dengan murid yang lainnya.
Namun beberapa murid malah mengelilingi Naruto. Salah satu di antaranya menaikkan satu kaki di meja. Terlihat seperti seorang pimpinan yang angkuh.
"Anak terkutuk mana bisa lulus, 'kan?" tanya Rei salah satu teman sekelas Naruto. Tentu saja dengan nada mengejek.
"Ya, dia memang anak terkutuk. Bunshin saja tidak bisa! Syarat lulus Akademi adalah menguasai satu jurus tertentu. Dia hanya seorang pengecut," sahut teman Rei yang lain. Mereka tertawa dengan keras sedangkan Naruto hanya diam sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
Ino yang baru saja membereskan barang-badangnya merasa terganggu dengan sikap teman sekelasnya itu. Masih saja ada orang yang suka mem-bully satu dengan yang lain —pikirnya.
Ino melangkah di depan Rei dan setengah mendorong kaki pemuda itu untuk memberikan celah bagi tubuhnya berdiri di depan Naruto.
"Kalian kenapa, sih?" tanya Ino sambil berkacak pinggang.
"Tentu saja meledek anak terkutuk itu! Apa lagi?" jawab jujur Rei. Ia menyipitkan mata dan terlihat marah.
"Tidak ada kerjaan? Seharusnya kalian mempersiapkan diri untuk ujian chunnin yang akan datang. Tidak dengar tadi Iruka-sensei menyebut nama kalian berdua paling akhir?" Masih dengan berkacak pinggang, Ino mengutarakan isi hatinya dengan gamblang.
"Cih!" Beberapa teman sekelasnya itu memilih mundur dan meninggalkan Naruto maupun Ino dengan perasaan marahnya.
Ino menghela napas. Ia melangkah menuruni satu anak tangga dan sebuah suara menghentikannya.
"Arigatou, Ino-chan!" teriak Naruto.
Ino menoleh dan mengibaskan kedua tangannya, "Aku tidak membantu apapun. Ayo pulang, Naruto!"
Mereka berjalan berdampingan menyusuri jalanan Konoha di kala senja tiba. Kebetulan toko bunga Yamanaka dengan apartemen Naruto memiliki arah yang sama dan tidak begitu jauh jaraknya. Jadi bukan masalah jika keduanya memutuskan untuk pulang bersama. Ini adalah kali pertama Naruto tidak pulang sendirian.
"Naruto," panggil Ino.
Naruto menoleh, "Ya?"
"Maaf soal kegagalanmu itu. Kau pasti bisa mengulanginya tahun depan dan menyusul kami, kok!" ujar Ino. Ia berbicara tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.
Naruto tertawa renyah.
"Tenang saja, aku akan memikirkan cara instan untuk belajar jutsu dengan mudah!" balas Naruto dengan samangat. Tidak seperti orang yang baru saja gagal ujian. Naruto memang berbeda!
Baru kali ini Ino menoleh. Ia menatap Naruto dengan curiga.
"Maksudmu?" tanya Ino. Ia merasakan ada sesuatu yang salah di otak Naruto.
"Bukan apa-apa!" Naruto berjalan sedikit lebih cepat meninggalkan Ino.
"Hei! Jangan bodoh! Apa yang ingin kau lakukan? Mana bisa kau belajar instan?" teriak Ino. Ia menyusul Naruto.
"Kau harus melatih kontrol chakra dan fokusmu! Jangan bertindak bodoh, ya. Aku mampu mencium rencana licikmu!" Ino pura-pura mengendus di dekat Naruto.
Naruto kembali tertawa, "Tidak! Tapi sekali lagi terima kasih!"
Ino mengangguk. Tak terasa mereka sampai di persimpangan jalan. Lurus ke arah selatan adalah toko bunga Yamanaka sedangkan belok ke timur adalah arah ke apartemen Naruto.
"Sampai jumpa, Ino-chan! Semangat untuk pembagian tim besok, ya!" Naruto melambaikan tangannya.
"Tentu, terima kasih!" Ino membalas lambaian tangan Naruto. Mereka melanjutkan perjalanannya masing-masing.
Ino memasuki toko bunga Yamanaka yang baru saja tutup itu. Ia melihat ayah dan ibunya sedang membereskan beberapa pot bunga.
"Tou-san! Kaa-san! Lihat!" teriak Ino. Ia mengeluarkan hitai-ate miliknya dari dalam tas. Sebuah pelindung dahi berwarna biru.
Inoichi menoleh dan tersenyum lebar. Ia menghampiri putri semata wayangnya dan mengelus kepalanya dengan sayang.
"Putriku memang hebat!" ujar Inoichi. Kebahagiaan tak hanya ada pada ayah dan anak itu, tetapi ibunya juga tidak kalah senang. Ia menarik Ino ke dalam pelukannya. Tidak perlu diragukan lagi, putrinya memang berbakat dan selama berada di Akademi baik Misaki atau Inoichi tidak pernah menerima keluhan dari wali kelas Ino. Ino adalah anak yang baik dan cukup tenar di angkatannya. Suatu kebanggaan tersendiri bagi kedua orang tuanya.
"Kita perlu merayakan ini, 'kan, Anata?" tanya Misaki dan dibalas dengan anggukan kepala Inoichi.
"Ayo, ibu akan buatkan puding tomat ceri untukmu, Ino-hime!" Mereka bertiga berjalan masuk ke ruang makan. Kali ini tugas Misaki untuk memasak. Bentuk perayaan sederhana untuk kelulusan putrinya.
Begitu selesai membersihkan diri, Ino segera turun dan menemui Ibunya yang sedang memasak puding untuknya. Ia membantu Misaki menata meja dengan piring kecil dan juga garpu. Hidangan spesial selesai dan keluarga Yamanaka itu menikmati makan malam seperti biasanya. Suasana cerah dan santai mengelilingi ketiganya.
"Tou-san, Kaa-san, aku dapat peringkat satu di kelas. Dan besok adalah pembagian tim. Aku harap bisa satu tim dengan Sasuke-kun!" ujar Ino. Ia menyendok puding dan memakannya dengan tenang.
Inoichi dan Misaki saling berpandangan. Kedua orang tua itu bingung harus menjawab apa tentang harapan putrinya yang ingin satu tim dengan Uchiha Sasuke. Karena seperti tahun lalu, sudah menjadi tradisi bahwa Yamanaka akan saling berkaitan dengan Nara dan Akimichi. Itu artinya Ino memang tidak akan bisa terpisah dengan Shikamaru dan Chouji.
"Tou-san? Kaa-san?" tanya Ino heran dengan keheningan ayah atau ibunya itu.
Misaki tersenyum, "Tentu saja. Kami sangat bangga denganmu yang lulus dengan nilai terbaik di Akademi. Dan putri kami pasti akan mendapatkan tim yang terbaik."
Seulas senyum terukir di wajah cantiknya. Soal harapannya barusan, Ino tahu itu tidak akan terjadi. Ia mengetahui tradisi ketiga clan legendaris di Konoha. Salah satunya adalah clan keluarganya. Sejak dulu Yamanaka menjalin hubungan erat dengan clan lain yaitu Nara dan Akimichi. Itu artinya sangat jelas bahwa rekan tim Ino tak lain adalah Shikamaru dan Chouji. Mereka bahkan sudah saling mengenal sejak kecil. Dan satu fakta lagi, ia akan berada di bawah bimbingan jounin dengan clan Sarutobi.
oOo
Ino baru saja mencoba kembali setelan ninjanya. Kali ini ia ingin memadukan dengan hitai-ate miliknya. Ino memutuskan mengikatkan hitai-ate di pinggangnya. Terlihat modis dan modern, tidak seperti kebanyakan ninja lainnya. Walau terlihat aneh jika mengingat arti dari hitai-ate yang seharusnya menjadi pelindung dahi, bukan pelindung perut.
Ia menoleh ke arah jam weker di meja nakasnya yang menunjukkan pukul tujuh malam. Entah mengapa Ino dilingkupi rasa tidak nyaman. Ia teringat dengan ucapan Naruto saat perjalanan pulang tadi. Tentang belajar jutsu secara instan.
Ino menuruni tangga dan mendapati kedua orang tuanya masih mengobrol di meja makan.
"Tou-san, Kaa-san, aku pamit sebentar. Ingin menemui Sakura," izin Ino. Ia sengaja berbohong karena jika ia mengatakan yang sebenarnya mungkin saja orang tuanya tidak akan mengizinkannya. Ayahnya tidak mungkin membolehkan dirinya bertemu dengan Naruto di jam malam seperti ini.
"Hanya setengah jam saja, ya," pesan Inoichi.
Ino mengangguk dan segera berlari keluar rumah. Ia menuju apartemen Naruto.
Sesampainya di sana, ia tidak menemukan keberadaan pemuda jabrik itu. Pintu apartemennya terkunci dan Ino sudah menunggu lebih dari 10 menit tetapi sia-sia. Ino menyerah. Dugaan tentang kekhawatirannya memang benar. Naruto merencanakan sesuatu yang bodoh.
"Ino tenang dan pikiran kira-kira ke mana pemuda bodoh itu pergi!" Ino menyilangkan kedua tangannya di dada dan berpikir keras.
"Jutsu, instan, lulus ujian, Naruto no Baka!" Ino berteriak frustasi. Ia berlari ke arah gedung Hokage.
"Jangan bilang dugaanku benar. Naruto kau tidak serius mencuri gulungan rahasia, 'kan?" Ino bermonolog.
Langkahnya terhenti di depan pagar pintu masuk gedung. Ia melihat Sandaime bersama dengan wali kelasnya yaitu Iruka-sensei. Ino merapatkan dirinya di pagar berusaha untuk tidak terlihat. Biarkan kali ini Ino bersikap tidak sopan dengan cara menguping pembicaraan orang lain.
"Kejar Naruto di perbatasan sebelah utara! Jangan biarkan gulungan itu berakhir di tangan orang yang salah," perintah Sandaime kepada Iruka.
Tanpa menunggu lama, Ino sedikit memutar arah agar tidak ketahuan tengah menguping. Ia berlari sesuai arah yang dikatakan Hokage. Hutan perbatasan sebelah utara.
oOo
Ino tidak memperdulikan atmosfer mencekam di hutan. Beruntungnya malam ini bulan bersinar cukup terang setidaknya ada pencahayaan yang cukup.
"Naruto, berikan gulungan itu!"
Ino berhenti setelah mendengar suara Iruka. Ia bersembunyi di balik semak. Ternyata dirinya terlambat. Iruka terlebih dahulu menemukan keberadaan Naruto.
"Aku pasti akan menguasai satu jurus. Dengan begitu aku akan lulus, 'kan?" tanya Naruto. Ia tersenyum lebar hingga memperlihatkan deret gigi putihnya. Berlagak seperti anak polos tanpa dosa.
"Siapa yang mengatakan hal itu?" tanya Iruka. Ia berdiri di depan Naruto.
"Mizuki-sensei. Setelah aku menghafal jurus di gulungan ini, aku akan menjadi ninja yang hebat-ttebayo!" jawab Naruto.
"Dia bohong!" sanggah Iruka. Ia berusaha meraih gulungan di punggung Naruto tetapi pemuda 12 tahun itu terus memundurkan dirinya.
Ino mengepalkan kedua tangannya.
'Naruto kau benar-benar bodoh!' batin Ino kesal.
Slep!
Tujuh kunai terlempar dan mengenai tubuh Iruka hingga terdorong ke belakang. Kunai itu menancap di rompi jounin-nya dan beberapa melukai kaki dan tangan Iruka. Akibatnya pergerakan Iruka terkunci pada sebuah rumah tua dari kayu di dekatnya.
"Kemarilah, Naruto! Berikan gulungan itu kepadaku. Iruka menipumu!" Suara yang tidak asing menggema dengan lantangnya di tengah hutan. Pria itu tak lain adalah Mizuki. Ninja tingkat jounin sama seperti Iruka. Mizuki juga seorang pengajar di Akademi.
"Jangan dengarkan dia, Naruto! Jangan biarkan gulungan itu jatuh ke tangan yang salah!" teriak Iruka. Pria itu menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
"Kau tau, Naruto, selama ini Iruka membencimu! Seluruh warga desa memiliki sebuah aturan tanpa sepengetahuan dirimu. Hanya dirimu!" Mizuki berkacak pinggang di atas dahan pohon yang kokoh.
"Aturan? Hanya aku yang tidak tau? Apa itu?" tanya Naruto. Kedua matanya terlihat berkaca-kaca.
"Bahwa kau adalah seorang rubah iblis. Anak terkutuk dengan rubah yang sengaja tersegel di tubuhnya. Semua orang membencimu!" jawab Mizuki. Ia tertawa sejenak sebelum melanjutkan ucapannya, "itu alasan mengapa Iruka tidak pernah menyukaimu! Orang tuanya terbunuh saat rubah itu mengamuk tepat di waktu kau terlahir di dunia ini!"
Naruto jatuh terduduk. Ia cukup terguncang dengan kenyataan yang barusan ia dengar. Begitu pula dengan Ino. Ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Ia ingin membantu tetapi tidak tahu harus melakukan apa. Ia terlalu takut.
Mizuki meraih fūma shuriken di belakang punggungnya dan melemparkan ke arah Naruto.
Slash! Fūma shuriken itu menancap dan menyebabkan luka hingga memuncratkan darah segar begitu banyak.
Iruka menggunakan punggungnya sebagai perisai agar fūma shuriken itu tidak melukai Naruto.
"Kenapa?!" teriak Naruto yang berada di kungkungan Iruka.
"Sepertinya aku gagal menjagamu, Naruto. Seharusnya kau tidak perlu merasakan rasa sakit akibat perlakuan orang lain selama ini. Kau bersikap kuat meskipun tidak dengan hatimu, 'kan? Kau cukup terluka sejauh ini. Kau sama sepertiku, Naruto!" Iruka meneteskan air matanya hingga jatuh menyentuh pipi Naruto.
"Aku percaya padamu, kau akan menjadi shinobi yang hebat. Lebih hebat dari Hokage sebelumnya, karena kau adalah Uzumaki Naruto!" ujar Iruka.
Uhuk! Ia terbatuk hingga mengeluarkan darah segar.
"Lari, Naruto!" perintah Iruka.
"Iruka berbohong, Naruto! Kemarikan gulungan itu!" teriak Mizuki.
Naruto menangis dan segera berlari dengan melompat dari dahan ke dahan.
"Aku akan mengurus dirimu nanti setelah aku membunuh anak itu!" Mizuki berlari menyusul Naruto dan meninggalkan Iruka yang tengah kesakitan.
Ino tidak diam. Ia menyusul Naruto meski sebelumnya ia sempat ragu meninggalkan Iruka sendirian.
"Gomenasai, Sensei!" ujar Ino. Ia mengejar Naruto dengan sekuat tenaga.
"Naruto! Berhenti!" teriak Ino. Ia melemparkan sebuah kunai hingga melewati samping pipi kiri Naruto tanpa melukainya sedikit pun. Pemuda itu memperlambat larinya.
"Ino-chan?" tanya Naruto.
Mereka memutuskan berhenti di bawah pohon. Keduanya saling berhadapan.
"Kau gila?" tanya Ino.
"Ayo kembali!" Ino meraih tangan Naruto namun pemuda itu menepisnya.
Naruto sedikit menunduk, "Tidak!"
Ino menggigit bibir bawahnya untuk meredam kekesalan.
"Apa yang kau pikirkan? Kau mempercayai ucapan Mizuki-sensei?" tanya Ino tidak percaya.
"Naruto, dengar! Kau pikir apa yang tengah kau lakukan? Iruka-sensei mempedulikan dirimu. Jangan pernah mengira kami membencimu!" teriak Ino. Ia terlalu kesal dengan sikap Naruto.
"Percayalah, perkataan Iruka-sensei yang benar!"
Ino menatap tepat di kedua mata biru Naruto.
!
Naruto mendorong tubuh Ino hingga terjengkang di balik semak-semak. Naruto tidak ingin Mizuki melihat Ino bersamanya. Gadis itu tidak boleh terlihat. Ini masalahnya dan artinya semua ini adalah tanggung jawabnya.
"Kau di sini rupanya." Mizuki berhenti di dahan pohon. Ia menunduk dan memperhatikan Naruto.
Mizuki melemparkan kembali sebuah kunai ke arah Naruto. Pemuda jabrik itu berlari menjauh untuk menghindarinya.
Trang! Suara kunai beradu dengan shuriken. Ino yang melempar shuriken itu agar arahnya sedikit terbelokkan.
"Oh! Rupanya ada kelinci kecil lainnya, ya..." Mizuki melompat turun ke bawah. Ia berjalan ke arah semak di mana Ino bersembunyi.
"Tunggu!" Suara Iruka menghentikan langkah Mizuki. Ia berjalan tertatih dengan luka di kedua kaki dan tangannya.
"Tch! Mengganggu saja. Sepertinya akan ada rencana yang diubah. Aku akan menghabisimu, Iruka!" Mizuki kembali melemparkan fūma shuriken terakhir miliknya ke arah Iruka.
Slash! Senjata shinobi berukuran besar itu menancap di punggung Naruto. Sama seperti yang dilakukan Iruka beberapa saat lalu, kini Naruto menjadi perisai untuk melindungi Iruka. Pemuda jabrik itu sempat berlari di hadapan Iruka sambil merentangkan kedua tangannya.
"Maaf, Iruka-sensei," ucap Naruto. Ia tersenyum lebar seolah tidak merasakan rasa sakit apapun.
Naruto berbalik dan menghadap ke arah Mizuki.
"Jika kau melukai Iruka-sensei lagi, aku akan memberikan pelajaran dengan jurus yang ada di gulungan ini!" Dengan sedikit kesusahan, Naruto mencabut fūma shuriken dari punggungnya.
"Kage Bunshin no Jutsu!" teriak Naruto setelah melakukan segel tangannya. Segel tangan yang sama persis untuk melakukan jurus rahasia yang ada di dalam gulungan itu.
Seratus bayangan yang serupa dengan Naruto muncul mengelilingi ketiganya. Tidak hanya sekedar bayangan biasa, Naruto berhasil menguasai sebuah jurus rahasia kelas atas.
'Kau memang hebat, Naruto,' batin Iruka.
"Rasakan ini, Mizuki-sensei!"
Secara bersamaan bayangan milik Naruto menyerang Mizuki. Bunshin Naruto memukuli Mizuki tanpa ampun hingga pria itu berteriak keras.
"AAAARRGGGHHH!"
Mizuki terkapar dengan wajah penuh luka.
"Maaf sepertinya aku kelepasan-ttebayo!" Naruto menggaruk kepala bagian belakangnya.
Iruka berdiri dan menghampiri Naruto. Ia melepaskan pelindung dahinya dan mengikatkannya di kepala Naruto.
"Kau adalah seorang genin sekarang, Naruto!" ujar Iruka.
Naruto mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia mematung sesaat sebelum berteriak kegirangan.
"Apa ini benar?"
"Serius?"
"Iruka-sensei? Terima kasih!" Naruto menyentuh besi yang melambangkan Konoha itu. Seperti yang ia impikan selama ini, akhirnya terwujud. Kini ia adalah seorang genin.
"Terima kasih, Iruka-sensei!" lagi-lagi Naruto mengatakan terima kasihnya.
Iruka tersenyum, "Tidak. Terima kasih, Naruto!"
Ino mengelus dadanya dengan perasaan lega. Tanpa disadari ia meneteskan air mata setelah melihat keberhasilan Naruto. Semua berjalan dengan baik untuk Naruto dan juga gurunya.
"Sekarang kau boleh keluar dari persembunyianmu!" perintah Iruka tiba-tiba.
Tubuh Ino menegang. Ia mengikuti perintah yang barusan ia dengar dengan keluar dari tempatnya bersembunyi. Ia melangkahkan kakinya mendekat ke arah Iruka.
"Melanggar aturan dan memposisikan diri sendiri dalam bahaya? Apa itu pantas dilakukan oleh penerima peringkat pertama di kelas?" Iruka berkacak pinggang di depan Ino yang tengah menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Ino menyembunyikan kedua tangannya di belakang badannya sambil mengamati kedua kakinya. Ia pantas jika menerima amarah dari gurunya. Kesalahan pertama adalah menguping pembicaraan Sandaime dan kesalahan kedua adalah bersikap ceroboh dengan mengikut sertakan dirinya dalam sebuah misi tanpa perintah.
"Peringkat genin-mu bisa saja kami cabut, Ino!" lanjut Iruka.
Ino tersentak, "Jangan!"
"M-maafkan aku!" Ino membungkukkan tubuhnya untuk meminta maaf.
Naruto membantah, "Kenapa begitu? Ini semua salahku! Ino tidak ada hubungannya!"
Iruka melepas hitai-ate milik Ino. Ia mengambil dan menyimpannya di kantong senjatanya.
"Besok kau harus menghadap Hokage!"
Ino terkejut sampai-sampai membuat mulutnya terbuka lebar.
oOo
"Inoichi-san, ini adalah kali pertama anda dipanggil untuk kesalahan putri Anda, ya?" tanya Sandaime.
Seperti yang dikatakan kemarin oleh Iruka, rupanya Ino benar-benar harus menyanggupi panggilan atas kesalahannya. Tidak seorang diri tetapi bersama dengan ayahnya. Ino tidak diizinkan masuk ke dalam, ia menunggu di luar sambil menyandarkan dirinya di tembok. Takut sekaligus cemas menunggu keputusan yang akan ia terima. Benarkah ia harus kehilangan peringkatnya sebagai seorang genin?
"Maaf atas kecerobohan Ino. Kami sangat menyesalinya." Inoichi sedikit membungkukkan tubuhnya meminta maaf.
"Ya. Ada beberapa hal yang harus diterima putrimu sebagai bentuk pertanggung jawabannya. Maka dari itu kami harus memanggilmu ke sini," lanjut Sandaime.
Hiruzen mengeluarkan beberapa beberapa lembar data shinobi se-angkatan Ino.
"Ini rencana awal kami. Seperti tradisi tahun lalu, seharusnya Ino berada di dalam tim asuhan Sarutobi. Tim 10 dengan anggota Nara dan Akimichi." Hiruzen menunjukkan data diri Shikamaru dan Chouji.
"Tim yang cocok untuk tipe support ketiganya. Seperti legenda trio InoShikaChou. Dilihat dari kerja sama tim yang tidak diragukan lagi. Keberhasilan tim mencapai 80-90%. Tim yang jelas memudahkan putri Anda," lanjut Hiruzen.
Inoichi menganggukkan kepalanya sebagai isyarat bahwa ia paham dengan penjelasan dari Sang Hokage.
"Tapi, setelah semalam, putrimu masuk dalam ninja dengan pengawas karena kecerobohan. Tentunya harus diperbaiki, bukan?" tanya Hiruzen.
Inoichi meringis, "Ya. Putri keluarga kami bertindak di luar perintah bahkan setelah menerima peringkat genin."
Inoichi tidak pernah menyangka putrinya akan dicap sebagai anak 'bermasalah'.
"Kami mempunyai seorang pembimbing yang mampu memperbaiki pola tingkah lakunya." Hiruzen kembali mengeluarkan lembar data seorang jounin. Profil dari Hatake Kakashi.
Inoichi sedikit terkejut, "Maksud Anda, putri kami akan berada di tim dengan anak-anak yang sama bermasalahnya?
Hiruzen menggeleng, "Jika berpikir seperti itu, maka kau salah."
"Lalu?" tanya Inoichi.
Hiruzen mengambil profil milik Uchiha Sasuke dan Uzumaki Naruto.
"Mereka anak dengan potensi khusus. Aku rasa ini bukan sepenuhnya hukuman. Kami berusaha memperbaiki putri seorang Yamanaka. Kami menyadari peran penting Yamanaka di hari mendatang untuk kelangsungan Konoha. Aku harap Anda mengerti." Hiruzen menyerahkan profil milik Uzumaki dan Uchiha.
Inoichi membaca dengan teliti. Kedua genin ini adalah tipe petarung jarak menengah-dekat. Sangat bertolak belakang dengan Ino. Kekhawatiran utama Inoichi adalah Ino akan kesulitan mengimbangi keduanya. Ino dilatih untuk kerja sama tim dengan formasi tradisi ketiga keluarga. Jika seperti ini, maka Ino harus berusaha lebih keras lagi.
"Tim ini bersifat sementara atau bisa permanen. Tergantung dengan keberhasilan tim dalam misi ke depannya," tambah Hiruzen. Ia kemudian menyerahkan hitai-ate milik Ino.
Inoichi menerimanya dan keluar dari ruangan setelah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.
Ceklek!
Ino menegakkan tubuhnya dan menatap ayahnya dengan takut-takut.
"B-bagaimana, Tou-san?" tanya Ino.
"Tou-san kecewa padamu, Ino! Bagaimana bisa kau berbohong kepada Ayahmu ini dan melakukan kecerobohan yang pada akhirnya merugikan dirimu sendiri!" bentak Inoichi.
Ino menundukkan kepalanya, "Maaf, Tou-san."
Inoichi mengulurkan tangan yang sedang memegang hitai-ate, "Temui rekan tim-mu di jembatan Konoha. Mereka sudah menunggu."
"Kita selesaikan ini nanti saat kau pulang!" lanjut Inoichi.
Ino menegakkan kepalanya dan menerima pelindung dahi miliknya.
"A-arigatou. Aku pergi dulu!" Ino langsung berbalik. Ia takut berhadapan dengan ayahnya jika sudah marah seperti tadi. Jadi, kesempatan ini tidak akan Ino sia-sia kan. Setidaknya ia bisa kabur sejenak. Sisanya bisa dipikirkan nanti saja.
Ino mengikatkan hitai-ate miliknya di pinggang. Ia berlari ke jembatan di tengah desa. Ia memang izin dari kelas saat pembagian tim karena harus melapor ke hadapan Hokage.
oOo
Lari Ino terhenti saat melihat Naruto dan Sasuke berdiri di tengah jembatan. Tunggu dulu!
"Naruto? Sasuke-kun? Kenapa ada di sini?" tanya Ino. Ia berdiri di hadapan keduanya.
"Di mana Shikamaru dan Chouji?" tanya Ino lagi.
Sasuke mengernyitkan dahinya.
"Ini tempat tim kita berkumpul, Ino-chan! Kenapa kau malah mencari Shikamaru dan Chouji?" Naruto balik bertanya hingga menyebabkan Ino mengernyit keheranan.
"Tim kita?" Ino membeo.
Ino menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Aku, Sasuke, kau dan Kakashi-sensei adalah tim 7!" jelas Naruto. Ia bahkan menegaskan dengan cara menunjuk dirinya, Sasuke dan Ino secara bergantian.
"APA?!" pekik Ino. Ia melihat Naruto dan Sasuke bergantian. Tidak sesuai dengan kenyataan yang seharusnya tetapi ini sesuai dengan harapannya semalam. Ino ingin berada di tim yang sama dengan Sasuke. Bukankah ini adalah kesempatan terbaik baginya untuk mendekati Sasuke? Tapi ini terlalu mendadak!
"T-tunggu! B-bagaimana bisa—"
"Yo! Maaf terlambat." Kakashi muncul secara tiba-tiba di belakang Naruto dan Sasuke.
Kedua pemuda itu menoleh dan mengamati guru pembimbing baru mereka. Sedangkan Ino mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia masih tidak percaya atau bisa dibilang otaknya sedang berpikir keras mencerna kenyataan yang ia dengar dan lihat secara langsung.
"Kita mulai dengan perkenalan. Aku adalah guru kalian mulai hari ini hingga seterusnya. Namaku Hatake Kakashi. Kurasa cukup. Sekarang giliranmu, sebutkan nama dan impianmu di masa mendatang," ujar Kakashi sambil menunjuk ke arah Ino.
Tanpa persiapan sebelumnya, Ino terlihat sedikit memundurkan tubuhnya.
"Aku?" tanya Ino memastikan.
"Ya," jawab singkat Kakashi.
"Ehem!" Ino berdehem sejenak untuk mengurangi rasa gugupnya.
"Namaku Yamanaka Ino. Aku ingin..." Ino melihat ke arah Sasuke sejenak.
'Menikah dengan orang itu!' inner Ino berteriak.
"Melakukan hal terbaik yang aku bisa untuk melindungi teman-temanku," lanjut Ino.
Kakashi tersenyum hingga kedua matanya menyipit, "Seperti?"
Ino berpikir sambil menyentuh dagunya dengan jari telunjuk.
"Seperti melampaui seseorang dan berjalan bersama dengan orang yang aku sukai." Ino tersenyum. Rasa gugupnya sudah hilang. Ia mampu mengendalikan dirinya lagi.
Kakashi berganti melihat ke arah Naruto, "Dan kau?"
Naruto memegangi pelindung dahinya dan berkata dengan lantang, "Uzumaki Naruto-ttebayo!"
"Aku ingin menjadi seorang Hokage dan melindungi semua warga desa!" lanjut Naruto. Ia tersenyum lebar.
Kakashi memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Itu artinya kau tidak bisa main-main," balas Kakashi.
Naruto mengangguk dengan semangat, "Tentu! Aku akan berusaha keras untuk menjadi kuat dan mengalahkanmu, Teme!" Naruto menunjuk ke arah Sasuke.
"Tch!" Sasuke enggan membalas perkataan Naruto.
"Sekarang terakhir kau," ucap Kakashi. Ketiganya memperhatikan Sasuke.
Pemuda itu melakukan hal yang sama dengan Kakashi yaitu memasukkan kedua tangannya di saku celana.
"Sasuke. Aku ingin membunuh Uchiha Itachi," Sasuke memperkenalkan dirinya dengan singkat.
Ino bergidik mendengar ucapan Sasuke barusan. Rupanya Sasuke serius dengan keinginannya tadi. Pemuda itu diselimuti oleh rasa dendam terhadap kakaknya yang telah melakukan pembantaian terhadap seluruh anggota clan-nya hingga menyisakan Sasuke seorang diri.
"Dengan?" tanya Kakashi.
"Menjadi kuat dengan cara apapun. Itachi harus mati." Sasuke menjawab dengan pandangan datar tanpa ekspresi yang pasti.
Kakashi menghela napasnya sejenak.
'Sepertinya akan merepotkan,' batin Kakashi. Ia memandangi ketiga murid didiknya secara bergantian.
"Pelajaran pertama adalah—"
Ino menyela, "Langsung ke pelajaran? Ini baru hari pertama, 'kan?"
"Tidak perlu ada banyak waktu yang harus terbuang," jawab Kakashi.
Klining! Kakashi mengeluarkan tiga lonceng kecil dari balik saku belakangnya. Ia menunjukkan lonceng itu di hadapan Naruto, Sasuke dan Ino.
"Masing-masing dari kalian harus mengambil lonceng ini. Cara apapun diperbolehkan. Untuk kalian yang gagal, akan kembali ke Akademi," terang Kakashi.
"Apa?!" teriak Naruto dan Ino bersamaan.
-to be continued-
Halo hai! Ketemu lagi, nih sama PhiruFi dengan cerita canon lagi, ahahah~ Jadi, fanfiksi ini tiba-tiba aja plotnya terlintas di kepala sehabis stress berat. Konfliknya ringan kali, ya. Atau malah ga jelas? Maaf! Oh, ya! Rencananya nanti fanfiksi ini bakalan ada tiga bagian dengan setting waktu berbeda.
Siapa yang kangen Naruto dan kawan-kawan waktu genin? Jadi aku buat aja, sekedar selingan ahahah~ Chapter pertama banyak Naruto-nya, ya. Maaf! Semoga kalian terhibur dan maaf apabila banyak kekurangan. Aku harap dapat memperbaiki di chapter selanjutnya.
Jangan lupa tinggalkan jejak review di cerita ini. Terima kasih sebelumnya aku ucapkan untuk kalian yang menyempatkan membaca nanti.
See you next chapter!
