Klining! Kakashi mengeluarkan tiga lonceng kecil dari balik saku belakangnya. Ia menunjukkan lonceng itu di hadapan Naruto, Sasuke dan Ino.
"Masing-masing dari kalian harus mengambil lonceng ini. Cara apapun diperbolehkan. Untuk kalian yang gagal, akan kembali ke Akademi," terang Kakashi.
"Apa?!" teriak Naruto dan Ino bersamaan.
Chapter 2
"Bahkan hari ini aku hampir saja kehilangan peringkat genin-ku. Dan sekarang pelajaran pertama sudah sangat menyulitkan!" keluh Ino.
"Lulusan terbaik tidak akan mengeluh hanya karena ujian merebut lonceng seperti ini, bukan?" tanya Kakashi. Ia tersenyum hingga kedua matanya menyipit.
Bagi Ino ucapan Kakashi barusan terdengar seperti sebuah ledekan yang sedikit menyinggung perasaannya. Ia merengut sejenak.
"Tentu tidak! Aku hanya mengatakan isi hatiku. Kami akan merebut lonceng itu, Sensei!" ucap Ino dengan penuh keseriusan.
"Baik. Kita ke tempat latihan sekarang."
Mereka berempat menuju ke Daisan Enshūjō. Tempat latihan shinobi Konoha mengasah keterampilan mereka. Lapangan Pelatihan Ketiga adalah sebagian dari tanah yang terletak di dalam Konoha. Ada pemandangan pegunungan dan sungai besar. Tanah lapang itu di kelilingi hutan di kedua sisinya. Ada sebuah rawa dan di tengahnya ada tiga tunggul yang berjajar berdampingan. Tak hanya itu, di tempat itu pula terdapat Memorial Stone yaitu tugu monumen di Konohagakure yang berbentuk seperti lempengan batu seperti kunai. Monumen itu berisi daftar nama shinobi desa yang tewas saat menjalankan misi.
"Kalian mempunyai waktu sampai jam weker berbunyi! Ini ujian, untuk kalian yang gagal harus kembali belajar di Akademi!" ujar Kakashi.
"Eh?!" pekik Naruto dan Ino bersamaan. Mereka baru saja sampai satu detik yang lalu dan sekarang tanpa memberi penjelasan Kakashi langsung memulai ujiannya. Seolah mereka tidak diberi waktu untuk mengambil napas sejenak dan memikirkan strategi.
"Hya!" teriak Naruto. Ia berlari dan menyerang Kakashi. Naruto mengerahkan kemampuan taijutsu-nya untuk memukul hingga menendang Kakashi tetapi tidak ada satu pun serangan yang mengenai pria dewasa itu. Bahkan sekarang Kakashi malah mengeluarkan buku kecil bersampul jingga dari balik saku jaket jounin-nya sementara loncengnya ia letakkan di dekat saku celana bagian kiri.
Tak hanya Naruto, Sasuke mulai berlari menyusulnya. Sasuke melompat dari atas dan memutar tubuhnya sambil mengayunkan kaki kiri. Kakashi berhasil menangkis tendangan itu dengan satu lengan tangannya. Baik Naruto atau pun Sasuke terus menyerang Kakashi secara bergantian.
"Tunggu, Naruto! Sasuke-kun! Kita harus memikirkan strateginya!" teriak Ino dari kejauhan. Kalau saja ia berada di tim yang sama dengan Shikamaru dan Chouji pasti langkah pertama yang mereka ambil adalah diam dan berpikir. Tentu saja Shikamaru yang akan memikirkan strateginya.
"Tidak ada waktu!" ucap Sasuke. Ia terus menyerang dan berusaha meraih lonceng yang dibawa Kakashi.
Ino kembali merengut. Ia meletakkan jarinya di dagu dan mulai berpikir. Kalau saja ia tidak ada di tim ini pasti akan lebih mudah untuk merebut lonceng itu.
"Shikamaru, Chouji, apa yang harus aku lakukan?" Setengah merengek Ino bertanya pada dirinya sendiri. Berharap angin akan menerbangkan pertanyaannya dan kedua sahabatnya itu akan mendengar dan memberikan solusi.
"Kalau saja ada Shikamaru di sini pasti aku akan terbantu dengan jurus bayangannya. Dengan begitu aku dapat dengan mudah menggunakan Shintenshin no Jutsu untuk mengambil alih jiwa Sensei. Kemudian aku akan melempar lonceng itu ke atas dan Chouji akan menangkap dengan tangan besarnya!" ucap Ino bermonolog. Ia menjambak ikatan rambutnya dengan kesal. Ini hanya pemikiran yang sia-sia. Nyatanya kedua sahabatnya itu tidak ada di sini. Yang harus Ino pikirkan adalah apa yang mampu ia lakukan bersama dengan Naruto dan Sasuke. Tidak ada waktu untuk berandai-andai dengan keadaan yang tidak mungkin bisa diubah.
Ino berlari ke pinggiran hutan. Ia bersembunyi di balik semak-semak dan memperhatikan kedua rekan tim-nya yang terus saja menyerang Kakashi. Kedua pemuda itu tidak terlihat ingin menyerah. Ia menyadari sesuatu yang janggal. Jumlah lonceng itu berbeda. Bukan tiga tetapi hanya dua, lalu ke mana yang satunya lagi?
"Mereka banyak bergerak! Aku sulit menggunakan jurusku! Naruto! Sasuke-kun! Bisakah kalian diam sebentar!" gerutu Ino.
Dari kejauhan terlihat Kakashi menutup buku miliknya. Ia sekarang sedang membuat segel tangan tora dengan masih memegang buku di antara telapak tangannya.
"Sensei mulai serius?" Ino terkejut. Ia mengamati dengan teliti dan ada sedikit rasa khawatir. Pasalnya ia belum tahu dengan karakter dan kemampuan dari Hatake Kakashi. Gurunya itu terlihat misterius.
"Jurus rahasia, ya?" ucap Ino.
Kakashi berbalik ke arah Naruto yang baru saja menyerangnya dengan pukulan namun berhasil ia hindari.
"Konohagakure Hiden Taijutsu Ōgi." Kakashi mengarahkan tangannya untuk menusuk bagian belakang Naruto yang sedang berada pada posisi setengah berjongkok.
"Sennen Goroshi," ucap Kakashi saat melancarkan aksinya.
"Aaaa!" teriak Naruto. Pemuda itu seolah seperti melesat cepat ke arah sungai hingga tercebur ke sana. Tubuhnya tak lagi terlihat.
Sasuke menggunakan kesempatan itu untuk berlari mundur dan bersembunyi. Ia mengintai gerak-gerik Kakashi dari belakang pohon.
Sementara itu Ino menepuk dahinya setelah melihat apa yang dilakukan Kakashi terhadap Naruto. Ia pikir gurunya itu akan mengeluarkan sebuah jurus rahasia dengan tingkat bahaya tinggi, tetapi ternyata tidak. Ini seperti sebuah gurauan saja dibalik tampangnya yang misterius.
"Ini kesempatanku," ujar Ino setelah melihat Kakashi berdiri diam di tempatnya. Ia membentuk segel tangan khusus dan mengarahkan ke arah di mana Kakashi berada.
"Shintenshin no Jutsu!"
Teknik Ninjutsu dengan membentuk segel tangan yang dibutuhkan dan kemudian memproyeksikan roh mereka keluar dari tubuh ke target. Sayangnya, Ino belum terlalu menguasai jurus ini hingga kecepatan perpindahannya lambat dan juga jangka waktu pemakaiannya masih sangat singkat. Jika target bergerak atau menghindari roh yang masuk, peluang untuk sukses sangat sedikit atau bisa saja gagal. Maka dari itu jurus ini sangat sesuai dipadukan dengan Kagemane no Jutsu milik clan Nara.
Bersamaan dengan Ino yang mampu menguasai jiwa Kakashi untuk sesaat, tanpa diduga Sasuke melompat keluar dari persembunyiannya. Sasuke mengepalkan tangan kanan dan mengayunkannya tepat di perut Kakashi dengan jiwa Ino di dalamnya.
Bugh!
"S-Sasuke-kun!" Ino menjerit dengan suara Kakashi. Sejenak ia memegangi perutnya karena rasa nyeri. Tanpa kemauannya sendiri jiwanya kembali terlempar ke tubuhnya.
Sasuke terdiam di depan Kakashi dengan tangan yang masih mengepal. Ia baru menyadari bahwa Ino sedang mengambil jiwa Kakashi untuk sementara waktu. Ia tidak pernah menduga bahwa waktu yang mereka ambil salah.
Ino tersadar dengan darah mengalir dari sudut bibirnya. Meskipun tidak menerima pukulan secara langsung, tetapi pengguna Shintensin no Jutsu merasakan kerusakan fisik yang sama seperti yang diterima targetnya.
Ino menyeka darah dengan punggung tangannya.
"Gegabah." Kakashi menarik tangan Sasuke dan memutarnya ke belakang. Ia mengunci kedua tangan Sasuke.
"Tch! Lepas!" Sasuke memberontak dan berusaha melepaskan tangannya dari kuncian Kakashi.
Kakashi mendongak. Ia melihat matahari sudah berada tepat di atas kepala dan menandakan waktu makan siang telah tiba. Tak lama kemudian dering jam weker berbunyi. Itu artinya ujian lonceng telah selesai.
Kakashi berkumpul kembali dengan Ino dan Sasuke di tengah tempat pelatihan.
"Sampai waktu selesai, kalian tidak dapat merebut lonceng ini. Itu artinya—"
"Tunggu, Kakashi-sensei! Di mana Naruto?" sela Ino.
"Oh! Naruto mendapatkan hukuman karena ia lebih memilih mencuri makan siang dibanding mengikuti ujian bersama dengan kalian," jelas Kakashi. Ia menunjuk ke arah tunggul yang berada di samping tempat pelatihan.
Sasuke dan Ino menoleh bersamaan. Ino sedikit terkejut melihat Naruto diikat dengan tali tambang yang melilit dari perut hingga dadanya. Ino terlalu fokus dengan ujiannya kali ini sampai tidak memperhatikan ketidakhadiran Naruto sejak menerima serangan Kakashi. Ketiganya memutuskan mendekat ke arah Naruto.
"Sensei, lepaskan aku!" teriak Naruto sambil menggoyang kedua kakinya berusaha melonggarkan ikatan tali di tubuhnya. Ia memberontak terus-menerus.
Kakashi berdiri di depan ketiga muridnya, "Kalian tidak perlu kembali menjadi murid Akademi."
"Eh?" Ino sedikit menelengkan kepalanya.
"Kami lulus ujian?" tanya Ino.
Kakashi memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Ya. Karena mulai sekarang kalian harus berhenti menjadi seorang shinobi!" tekan Kakashi.
Naruto, Sasuke dan Ino terkejut. Mereka membulatkan kedua matanya.
"Apa? Kenapa kami harus berhenti menjadi seorang shinobi?!" teriak Naruto sambil menggerakkan kedua kakinya.
Sementara Sasuke berlari ke arah Kakashi dengan tangan mengepal. Ia mengayunkan kepalan tangannya dan Kakashi berhasil menangkapnya. Ia mengunci pergerakan Sasuke dengan mendorongnya ke tanah. Kakashi menekan kepala Sasuke dengan kakinya.
"Sensei!" teriak Ino.
"Kalian tim, 'kan? Apa arti dari tim itu?" tanya Kakashi.
"Tim?" Naruto membeo.
"Kerja sama! Kalian melupakan itu. Naruto, kau terlalu ceroboh dengan bertindak sendirian. Sasuke, kau menganggap Ino dan Naruto adalah orang yang menghalangimu. Dan Ino, kau sedikit mengerti dengan arti tim hanya saja kedua rekanmu memilih untuk tidak mendengarkan," jelas Kakashi.
Ino menggelengkan kepalanya sejenak, "Lalu kenapa jumlah lonceng itu hanya dua? Bukankah masing-masing dari kami harus mendapatkannya?"
"Ini hanya pengalihan," jawab Kakashi.
Ino berjalan satu langkah ke depan. Ia meletakkan tangan kanannya di dada, "Maaf, Sensei. Tolong beri kami kesempatan! Kami akan menunjukkan kerja sama tim sesuai harapanmu."
Kakashi melepaskan Sasuke dari kungkungannya. Ia berdiri dan disusul oleh Sasuke.
"Untuk kalian yang ingin merebut lonceng kembali, selesaikan makan siang kalian lalu lanjutkan ujian ini. Aku memberi kalian kesempatan kedua. Dan tentu saja akan lebih sulit dari sebelumnya," ujar Kakashi.
"Di sini aku yang memegang perintah. Jangan berikan apapun kepada Naruto!" Kakashi berbalik meninggalkan ketiga muridnya.
Setidaknya Ino mampu bernapas lega. Namun begitu ia harus menyiapkan diri untuk ujian selanjutnya.
'Bisakah aku mempercayai kalian?' batin Kakashi. Ia berdiri di balik pohon di pinggir hutan. Ia melirik sejenak ke arah Naruto, Sasuke dan Ino.
Sasuke dan Ino menyantap makan siang dengan tenang. Ino mengambil tempat duduk di sisi kiri sementara Sasuke berada di sisi kanan dengan Naruto di tengah-tengah mereka.
Kruk!
Bunyi perut Naruto terdengar cukup jelas di telinga Ino dan Sasuke. Ino berhenti menyumpit nasinya. Ia menoleh ke arah Naruto.
"Lagi-lagi kau bertindak bodoh disaat kami berdua sedang susah payah merebut lonceng itu. Sekarang apa? Kau lapar, 'kan?" omel Ino. Ia memasang wajah kesalnya.
"Gomen. Sekarang tolong aku, Ino-chan! Aku lapar!" ujar Naruto. Ia memasang wajah memelas.
Ino mengamati kotak makan siangnya. Ia berpikir sejenak.
'Apa boleh buat. Meski ini salah dan Kakashi-sensei sudah memperingatkanku,' batin Ino.
Ino menyodorkan satu sumpit telur gulung ke arah Naruto. Ia terkesiap melihat Sasuke melakukan hal yang sama seperti dirinya. Pemuda itu menyodorkan satu sumpit daging kepal.
"Kita harus menyelesaikan ujian. Akan merepotkan jika Naruto kelaparan," ujar Sasuke.
Ino tersenyum. Ternyata Sasuke memiliki sisi lembut di dalam hatinya yang tertutup rasa dendam itu.
"Teman-teman! Kalian baik sekali!" Naruto melihat kedua sumpit Sasuke dan Ino secara bergantian. Ia tidak menyangka Sasuke akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Ino.
Buuuffff!
Asap putih tebal muncul di hadapan ketiganya. Secara tiba-tiba Kakashi hadir di depan mereka.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Kakashi.
"Sensei! Bagaimana bisa?!" Ino terkejut. Ia meletakkan kotak makan siangnya di rumput.
"Siapa yang menyuruh kalian memberikan Naruto makan siang?" tanya Kakashi lagi.
Kakashi melakukan beberapa gerakan segel tangan dan saat itu juga langit berubah gelap dan petir sesekali menyambar.
"Kau bilang kami satu tim?! Kami melakukan hal yang seharusnya dilakukan seorang teman, 'kan?" teriak Ino dengan ketakutan. Ia menyilangkan kedua tangan di depan wajahnya.
"Kalian lulus!" ucap Kakashi.
Langit perlahan kembali cerah. Awan hitam memudar tertiup angin dan kembali memperlihatkan sinar mentari yang cerah.
"T-tunggu?" Ino menurunkan tangannya. Ia terlihat kebingungan. Apa barusan itu? Ia pikir Kakashi akan marah. Apalagi dengan awan hitam dan juga petir di langit terlihat amat menyeramkan.
"Shinobi yang melanggar aturan memang disebut sampah, tetapi shinobi yang meninggalkan sahabatnya lebih rendah dari sampah," ujar Kakashi.
"Kalian telah melakukan hal yang benar. Mulai besok kita akan menjalankan misi," lanjutnya.
Ino melompat sambil mengangkat kedua tangannya di udara, "Yey! Benarkah?! Senangnya!"
"Yosh!" teriak Naruto. Ia sama girangnya seperti Ino. Ia bahkan kembali menggerakkan kedua kakinya tanpa sadar.
Sedangkan Sasuke hanya menyeringai tipis.
"Ayo, kita pulang!" Kakashi berbalik badan dan mulai melangkahkan kakinya. Dari belakang, Sasuke dan Ino mengekorinya.
"Hei! Kalian tunggu aku! Jangan tinggalkan aku! Sudah ku duga ini akan terjadi!" teriak Naruto.
Mau tak mau Ino harus berbalik arah kembali ke tempat Naruto dan melepaskan ikatannya.
"Ayo, bodoh!" Ino menyeret paksa kerah baju Naruto. Mereka bertiga kembali ke rumah masing-masing dan mempersiapkan diri untuk misi pertama.
oOo
"Tadaima!" ucap Ino. Ia melepaskan sepatu dan meletakkannya di rak dekat pintu masuk. Ia melewati toko bunga dan langsung masuk ke ruang keluarga.
"Okaeri, Ino-hime!" balas Misaki. Ia menghampiri putrinya dan memeluknya sejenak.
"Ada apa, Kaa-san?" tanya Ino. Ia sedikit kebingungan. Tidak biasanya Ino menerima pelukan mendadak seperti sekarang.
Misaki menuntun Ino untuk duduk di meja makan. Rupanya ibunya sudah menyiapkan makan malam untuknya.
"Kaa-san tahu pasti kamu lelah, 'kan?" tanya Misaki. Ia menuangkan susu rendah lemak di gelas milik Ino.
Misaki menerka tentang bagaimana putrinya berjuang keras dengan orang baru. Apalagi Ino harus berada di tim dengan anggota yang cukup 'unik'. Naruto adalah anak pembuat onar yang dibenci penduduk desa sementara Sasuke adalah seorang Uchiha terakhir dengan masa lalu kelam.
"Tidak terlalu. Hari ini lancar, kok! Besok siang kami akan menjalankan misi pertama," jelas Ino. Ia mulai menyendok kari dan mencicipinya.
"Syukurlah." Misaki menghela napas lega. Ia ikut duduk sambil memperhatikan Ino yang sedang menikmati makan malamnya.
"Kau harus banyak belajar taijutsu, ninjutsu dan kenjutsu dengan benar. Dua anak itu berbeda dengan Shikamaru atau pun Chouji. Mereka mengandalkan serangan jarak dekat dan menengah. Kau harus belajar lebih cepat." Inoichi turun dari tangga. Ia mengomel tanpa jeda dan tidak membiarkan Ino menyela.
Ino meletakkan sendoknya dan memperhatikan ayahnya yang ikut duduk di samping ibunya.
"Tou-san, aku paham. Aku pasti akan belajar," jawab Ino dengan entengnya.
"Kau tidak boleh bergantung kepada mereka berdua. Bertindaklah mandiri dengan kemampuanmu. Mereka pasti akan meninggalkanmu." Inoichi mengamati putrinya dengan teliti.
Ino memutar bola matanya, "Tou-san, mereka tidak akan meninggalkanku. Kami tim. Sama seperti Shikamaru dan Chouji, kami bertiga akan akrab. Tou-san tidak perlu khawatir seperti ini." Ino berusaha meyakinkan ayahnya untuk tidak khawatir.
Inoichi menghela napas pasrah. Seperti biasanya memang sangat sulit berdebat dengan Ino.
oOo
Ino menyiapkan bekal dan barang-barang yang akan ia bawa selama misi. Tidak ada yang boleh tertinggal untuk misi pertamanya. Ia menggendong tas berwarna ungunya dan keluar dari rumah. Tentunya Ino sudah meminta izin kepada ayah dan ibunya. Ia beruntung berhasil lari dari ceramah Ayahnya yang panjang itu.
Ino sengaja berangkat lebih awal. Ia mengambil jalan yang searah dengan apartemen Sasuke. Ino ingin berangkat bersama menuju gedung Hokage dengan pemuda berambut raven itu.
Ino melihat Sasuke berjalan sambil memasukkan tangannya ke dalam saku.
"Sasuke-kun!" panggil Ino.
Pemuda itu sama sekali tidak berhenti atau pun memelankan langkah kakinya. Sasuke mengacuhkan Ino.
"Sasuke-kun! Ohayou!" Ino berlari menghampiri dan langsung memeluk tangan kanan Sasuke.
"Tch! Jangan memelukku. Lepaskan!" bentak Sasuke. Ia sedikit mengibaskan tangannya dan berharap pelukan Ino terlepas.
"Galak sekali, sih." Ino melepaskan pelukannya dari tangan Sasuke.
Keduanya berjalan tanpa pembicaraan. Sampai 10 menit berlalu Ino mulai merasa kaku dan tidak nyaman dengan kecanggungan seperti ini.
"Sasuke-kun?" panggil Ino.
"Hn?" gumam Sasuke.
Ino lega setidaknya Sasuke menanggapi panggilan darinya.
"Serius soal orang itu?" tanya Ino.
Sasuke menoleh ke arah Ino. Mereka sempat saling menatap sebelum Sasuke kembali mengalihkan pandangannya.
Tak ada jawaban lagi dan Ino memutuskan untuk kembali bertanya, "Soal impianmu sewaktu memperkenalkan dirimu kepada Kakashi-sensei."
"Bukan urusanmu!" balas Sasuke.
"Hah..." Ino menghela napasnya sejenak.
"Aku bisa jadi pendengar yang baik, lho. Kau tidak sendirian, Sasuke-kun! Ada aku, Na—," ucapan Ino terputus.
Mereka berpapasan dengan Naruto di tengah perjalanan.
"Ino-chan! Ohayou!" sapa Naruto. Ia melambaikan tangan ke arah Ino.
Ino membalas lambaian tangan Naruto dan berlari menghampiri pemuda jabrik itu.
"Ohayou! Eh! Tunggu! Apa-apaan ini? Kau mandi tidak, sih? Lihat kau tidak sisiran, ya?!" tebak Ino asal-asalan. Ia memukul lengan Naruto dan menyebabkan pemuda itu mengaduh kesakitan.
"Ini misi pertama kita! Dan kau tidak rapi sama sekali. Lihatlah Sasuke-kun! Dia tampan dan rapi! Bukan seperti dirimu!" omel Ino.
"Ahahaha, sisirku hilang. Lagipula rambutku memang seperti ini, 'kan?" Naruto tertawa sambil menggaruk kepala bagian belakangnya.
Sasuke menghentikan langkahnya. Ia terdiam di tempat sambil mengamati Naruto dan Ino. Kalimat barusan yang ia dengar cukup mengusik pikirannya.
"Kau tidak sendirian, Sasuke-kun!"
"Tch!" decak Sasuke. Ia kembali melanjutkan perjalanannya. Ketiganya berjalan bersama dengan Ino yang berada di tengah-tengah.
Tujuan mereka adalah gedung Hokage. Sebelum berangkat menjalankan misi tentunya mereka harus mendengarkan beberapa penjelasan secara detail dari Hokage.
oOo
Naruto, Sasuke dan Ino berdiri menghadap Hokage. Tidak hanya mereka, tetapi Kakashi juga ada di sana. Tepatnya berdiri di samping kanan Sasuke.
"Misi kalian tergolong mudah karena ini misi pertama. Kalian akan di kirim ke Kusagakure no Sato atas permintaan pemilik tanah perkebunan bernama Aimi Sasaki. Misi membantu warga sipil selama 4 hari penuh. Kalian paham?" ujar Hiruzen.
"Hai!" sahut Naruto, Sasuke dan Ino bersamaan.
Mereka berempat undur diri. Kini tim 7 tengah berjalan meninggalkan gerbang Konoha.
"Misi kita mudah sekali! Aku pikir kita akan mengalahkan musuh yang jahat-ttebayo!" Naruto berjalan dengan kedua tangan berada di belakang kepala.
Ino menatap tajam Naruto, "Jangan meremehkan misi! Kita tidak tau apa yang akan terjadi, 'kan?"
Naruto menoleh dan tersenyum lebar, "Ya, aku sudah tidak sabar untuk mengalahkan musuh dengan jurusku, Ino-chan!"
Tuk!
Ino menepuk kepala Naruto dengan tangan kirinya, "Jangan konyol! Kau ingat kata Sensei, 'kan?"
Naruto menyipitkan mata sambil mengelus kepala yang terkena tepukan tangan Ino, "Yang mana? Aku lupa-ttebayo!"
"Soal satu orang pengacau dalam tim bisa membahayakan nyawa teman yang lain! Kau harus ingat itu! Jika kau bertindak konyol aku akan menyeretmu sampai ke Konoha!" omel Ino. Ia merasa konyol berada dalam satu tim dengan orang seperti Naruto.
Naruto dan Ino berjalan di depan seolah memimpin. Sementara Kakashi dan Sasuke berjalan di belakang mereka. Sasuke mengamati dengan diam.
"Tidak bergabung?" tanya Kakashi.
Sasuke menoleh sejenak, "Cih! Tidak."
Slep!
Dua kunai melesat dari dalam hutan ke arah tim 7.
Trang! Trang!
Dengan sigap Kakashi mengambil kunai miliknya dari dalam kantong senjata untuk menangkis satu kunai yang tertuju kepadanya.
Sama halnya seperti Kakashi, Sasuke melakukan hal yang sama. Ia berhasil menangis kunai musuh dengan mudah.
"Semua bersiap!" perintah Kakashi.
Tak lama muncul lima orang dengan wajah yang ditutupi topeng kain. Topeng itu hanya memperlihatkan mata saja hingga tim 7 tidak mampu melihat wajah musuh mereka.
"Kita mendapatkan mangsa baru. Sangat berharga...," ucap salah seorang musuh yang berdiri di tengah. Dari gayanya terlihat seperti pemimpim kelompok itu.
'Apa maksud mereka? Kita bahkan belum terlalu jauh dari Konoha!' batin Ino. Ia memasang kuda-kuda untuk bersiaga dengan dugaan terburuk.
Gerakan tangan dari musuh sebagai tanda penyerangan mereka. Keempat anak buahnya melesat secepat kuda ke arah tim 7. Mereka membawa senjata seperti pedang dengan mata pedang bergerigi.
Trang!
Kakashi menahan serangan dengan hanya menggunakan kunai. Ia merentangkan satu tangannya bersiap untuk mengeluarkan elemen petirnya.
Buuuuuffff!
Asap putih muncul dan menghalangi penglihatan.
Ssssssrreeeett!
"Kya! Lepas! Ugh—!" teriak Ino.
Saat pandangan mereka teralihkan, orang yang sedari tadi berdiri dan tidak ikut menyerang telah menggunakan kesempatan itu untuk melesatkan sebuah tali dari senjata yang ia kenakan di tangan kirinya. Tali itu melilit leher Ino dan menyeret gadis itu ke arahnya.
"Ino!" teriak Kakashi.
"Raikiri!" Kakashi mengeluarkan petir dari tangan kanannya. Ia mengarahkan jurusnya itu ke perut musuh di depannya. Musuh itu terkapar di tanah dengan mulut mengeluarkan darah.
"Sasuke! Raih Ino!" perintah Kakashi. Ia melihat Sasuke berada di jarak yang paling masuk akal untuk menyelamatkan Ino. Namun kenyataannya, pemuda itu terdiam dengan ekpresi sedikit terkejut. Ia melihat mata sharingan milik Kakashi saat gurunya itu menggunakan Raikiri beberapa saat lalu.
"Teme, selamatkan Ino-chan!" teriak Naruto. Ia sedang berhadapan dengan dua musuh bersenjata. Ia tidak dapat berlari ke arah Ino dan menangkap gadis itu.
Ino berada di bawah kendali musuh karena lilitan di lehernya. Ia berusaha melepaskan tali itu dengan tangan kirinya.
"S-Sas-suke-kun!" panggil Ino dengan susah payah. Lama kelamaan tubuhnya kehabisan oksigen. Lilitan di lehernya menyebabkan oksigen dari darah tidak mampu tersalur ke otak.
Sasuke tersadar. Ia menoleh ke arah Ino. Gadis itu sedang mengulurkan tangannya. Sasuke melakukan hal yang sama dengan berlari ke arah Ino dengan tangan yang terulur. Ia berusaha meraih tangan itu.
Tidak! Sudah terlambat!
Musuh itu melesat ke balik semak-semak bersama dengan Ino. Ketiga anak buah yang tersisa ikut mundur seperti yang dilakukan pemimpinnya.
"Sasuke-kun!" teriak Ino.
Sasuke gagal meraih tangan Ino. Bahkan kedua tangan mereka tidak sedikit pun bersentuhan. Sasuke terlalu lambat bereaksi. Ia hanya mampu meraih angin di depannya.
Sasuke terdiam sambil mengamati genggaman tangan kanannya. Tangan yang hanya mampu meraih angin dan gagal menyelamatkan Ino.
"Sasuke!" Naruto berlari ke arah Sasuke.
Bugh!
Satu pukulan telak mengenai pipi kiri Sasuke. Pemuda Uchiha itu jatuh terduduk di tanah. Ia menyeka darah yang mengalir dari sudut bibir dengan punggung tangannya.
"Apa yang kau lakukan, Teme!" teriak Naruto. Ia mengepalkan tangan kanannya dengan kuat.
Kakashi mendekat dan melerai dengan memberi jarak keduanya, "Hentikan, Naruto."
"Tidak ada gunanya bertengkar. Kita harus memikirkan cara menyelamatkan Ino," ujar Kakashi.
Kakashi menggerakkan tangannya untuk membentuk segel tangan i-inu-tori-saru-hitsuji. Segel tangan untuk teknik Kuchiyose no Jutsu. Seekor anjing cokelat dengan hitai-ate Konoha muncul di hadapan ketiganya.
"Pakkun, tolong bantu melacak jejak muridku," ucap Kakashi.
"Aku butuh mencium bau muridmu. Ada benda yang dapat aku cium baunya?" tanya Pakkun.
"Heh?! Anjing ini berbicara?" Naruto terkejut mendengar anjing itu dapat berbicara.
Pakkun adalah salah satu anjing shinobi atau disebut Ninken. Anjing shinobi yang memiliki indera dan kemampuan yang tinggi dan mampu bekerja sama dengan ninja pemanggilnya. Ninken Kakashi menunjukkan kemampuan untuk menggunakan bahasa manusia, berjalan di atas air, mengembangkan strategi tempur, dan melacak target melalui deteksi bau mereka. Kakashi dapat memanggil salah satu dari delapan ninken miliknya.
"Lenganku. Apa kau masih bisa mencium bau Ino?" tanya Sasuke. Ia mengulurkan tangannya kanannya.
Pakkun mendekat dan mengendus penghangat lengan berwarna putih milik Sasuke.
"Ya. Wanginya sedikit tertinggal. Aku bisa melacaknya. Ayo cepat!" Pakkun mulai berlari ke dalam hutan. Tanpa membuang banyak waktu, ketiganya berlari di belakang Pakkun. Kakashi memutuskan untuk menghentikan misi sementara. Anak muridnya lebih penting saat ini. Ia harus mencari jawaban dari pertanyaan siapa dan mengapa. Siapa musuh sebenarnya yang sedang mereka hadapi saat ini dan mengapa mereka menculik Ino.
"Sebelah sini!" Pakkun berbelok ke kanan. Mereka berlari semakin jauh ke dalam hutan dan waktu mereka tidak banyak. Sebentar lagi hari akan gelap dan itu akan semakin menyulitkan.
-to be continued-
Chapter 2 selesai! Maaf apabila alurnya terlalu cepat dan terlihat terburu-buru atau kurang rapi. Aku mencoba membuat scene fighting, semoga tidak mengecewakan, ya! Walau memang berantakan, sih! Ahahah~
Terima kasih untuk teman-teman yang menyempatkan waktu untuk membaca kelanjutan cerita ini. Maaf apabila beberapa dari kalian ada yang tidak suka.
Terima kasih juga sudah meninggalkan review!
See you next chapter!
