"Sebelah sini!" Pakkun berbelok ke kanan. Mereka berlari semakin jauh ke dalam hutan dan waktu mereka tidak banyak. Sebentar lagi hari akan gelap dan itu akan semakin menyulitkan.

Chapter 3

Kakashi, Naruto dan Sasuke berlari bersama dengan Pakkun sebagai penunjuk arah. Ninken milik Kakashi itu mengendus tanah dengan semampunya. Pasalnya wangi Ino yang menempel di lengan baju Sasuke tidak terlalu jelas tercium olehnya. Jika malam ini hujan, maka peluang untuk menemukan jejak Ino akan semakin kecil. Mereka harus cepat.

Naruto menggertakkan giginya. Ia merasa marah dan kecewa karena gagal menyelamatkan teman se-timnya. Tidak ada gunanya bila mengharapkan waktu dapat diulang kembali, tetapi tidak dapat dibohongi pula bahwa ia menyesali kejadian beberapa menit yang lalu. Kata 'seharusnya' sepertinya memang terulang seperti kaset diingatannya.

Sementara itu, Sasuke tetap mempertahankan wajah tanpa ekspresinya dalam menyikapi kejadian penculikan itu. Meskipun begitu, pikiran dan hatinya terasa sedikit aneh, seperti ada perasaan marah. Ia berada di posisi yang amat dekat dengan Ino, tetapi ia tidak mampu menyelamatkannya. Sepenuhnya, ini memang salahnya. Sasuke bertanggung jawab atas kejadian itu.

Tiga shinobi dan satu ninken itu menghentikan langkahnya saat merasakan dingin air hujan membasahi kulit mereka. Mereka tanpa sengaja membentuk satu baris tepat di samping pohon besar.

"Gawat! Aku akan kesulitan melacak bau muridmu," kata Pakkun.

"Lakukan selagi hujan belum terlalu deras," balas Kakashi.

Mereka kembali melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda. Tidak ada waktu untuk disia-siakan. Setiap detiknya penting untuk keselamatan Ino.

'Jangan hujan, sial!' batin Naruto.

.

.

.

Ino tidak dapat menebak ke mana para penculik membawanya pergi. Kedua matanya tertutup dan ia juga tidak mampu mengucapkan satu kata sekali pun akibat dari kain yang menyumpal di mulutnya.

Salah satu penjahat menggendong Ino di pundaknya yang keras dan lebar. Ia membiarkan Ino berulang kali menggerakkan kakinya untuk memberontak. Atau jika sudah kesal, penjahat itu akan berteriak menyuruh dan mengancam Ino untuk diam jika ingin selamat.

Meski mendapatkan ancaman, Ino tetap menggerakkan kakinya semakin kuat. Hingga kesabaran si penjahat itu mulai habis dan ia melemparkan Ino hingga jatuh membentur tanah yang mulai basah dan lembab akibat air hujan.

"Kau diamlah!" bentak penjahat itu.

Keempat penjahat itu mengelilingi Ino dan mengamatinya seperti seekor singa yang siap menerkam mangsanya.

Kedua tangan dan kaki Ino terikat hingga menyebabkan ia tidak dapat melarikan diri dari para penjahat. Gadis itu hanya mampu menggeram tertahan. Sebisa mungkin ia memang sengaja membuat keempat penjahat itu marah terhadapnya.

Srek!

Salah satu penjahat itu menarik rambut Ino dengan kasar dan memaksanya untuk berdiri sebisanya dengan kedua kaki yang terikat.

"Bos, kita harus apakan dia?" tanya penjahat itu.

Si pemimpin kelompok itu menyeringai, "Kita bawa dia sampai ke desa. Kita tukar dia dengan uang."

Ino berusaha menjauhkan dirinya dari si penjahat meskipun ia harus menahan rasa sakit akibat dari jambakan rambutnya. Saling menarik hingga ikatan ekor kuda Ino terlepas dan beberapa helai rambut panjangnya terjatuh ke tanah.

"Diamlah jika tidak ingin diperlakukan buruk oleh kami!" Penjahat itu kembali menggendong Ino di pundaknya.

"Jangan sampai dia mati atau lecet sedikit. Itu akan mengurangi nilai jualnya," perintah Daichi —pemimpin kelompok itu.

"Baik."

Mereka melanjutkan perjalanannya di tengah hujan yang semakin deras.

Ino memejamkan matanya. Ia teringat dengan ucapan ayahnya sebelum ia menjalankan misi hari ini.

"Kau tidak boleh bergantung kepada mereka berdua. Bertindaklah mandiri dengan kemampuanmu. Mereka pasti akan meninggalkanmu."

Sekarang ia tau, penerima posisi terbaik di Akademi seharusnya bukan dirinya. Ia bahkan tidak mampu melepaskan diri dari para penjahat. Dan apa yang bisa ia harapkan sekarang? Yang bisa ia lakukan hanya berharap dan memohon untuk diselamatkan.

Apa teman dan gurunya akan mencari dan menyelamatkannya?

Haruskah ia bergantung dengan mereka?

'Tou-san, maaf...,' batin Ino.

-flashback-

"Tou-san, aku lelah. Bisakah kita istirahat sekarang?" tanya Ino.

Sore itu, Ino dan ayahnya berlatih di hutan perbatasan barat Konoha. Mereka memang biasa melakukan latihan, tentunya karena paksaan dari ayahnya —Inoichi.

"Kau bahkan belum mampu menguasai Shintenshin dengan baik apalagi kemampuan telepatimu, Ino?" Inoichi menyilangkan kedua tangannya di dada. Ia mengamati anak perempuannya dengan kecewa.

Ino menggaruk pipi kanannya dengan jari telunjuk.

"Gomen ne, Tou-san. Tapi bukankah hari ini ada pesanan dari rumah sakit? Sepertinya aku harus membantu Kaa-san mengantar bunga. Jaa ne, Tou-san!" Tanpa menunggu persetujuan dari ayahnya, Ino berbalik dan berlari menjauh dari tempat ayahnya berdiri.

Ucapannya tadi memang hanya alasan yang sengaja ia buat. Tidak ada pesanan yang harus diantar hari ini. Ia hanya ingin melarikan diri dari latihan bersama ayahnya.

Gadis itu berlari tanpa tujuan. Ia hanya mengikuti ke mana kakinya melangkah hingga ia tersadar dan berhenti saat melihat objek lain yang ia kenal. Bukan objek berupa benda, melainkan manusia. Ino mendekat ke arah anak laki-laki seumuran dengannya dengan rambut raven yang melawan gravitasi.

"Sasuke-kun?" panggil Ino. Ia berhenti di depan Sasuke yang tengah duduk bersandar di bawah pohon.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Ino. Ia ikut mendudukkan dirinya tepat di samping Sasuke.

"Kau bodoh, ya?" tanya balik Sasuke. Ia berdiri dan hendak meninggalkan Ino sendirian.

Namun sebelum itu, Ino kembali berkata, "Iya, aku hanya basa-basi, sih. Sedang latihan, 'kan?"

"Tch!" umpat Sasuke dengan kesal. Ia sedikit menoleh dan melirik ke arah Ino.

Gadis itu segera berdiri dan menepuk bagian belakangnya untuk menghilangkan debu yang menempel.

"Tolong ajari aku Katon, Sasuke-kun," pinta Ino. Setengah berlari ia mendekati Sasuke dan berhenti di depannya.

Sasuke menatap tidak suka ke arah Ino. Baginya gadis itu sangat mengganggu dan menyebalkan. Selalu datang disaat ia ingin sendiri dan mengatakan hal konyol yang berujung umpatan kekesalan.

"Berhenti menggangguku, Yamanaka! Pulang dan berlatihlah sendiri!" balas Sasuke dengan penuh penekanan di setiap katanya.

"Atau kau ingin menjadi beban timmu?" tanya Sasuke.

Ino sedikit terkejut. Ia meletakkan jari telunjuknya di dagu dan seolah-olah sedang berpikir.

"Tidak, kok. Aku kan ingin berlatih denganmu, bukankah akan lebih efektif jika berlatih bersama?" tanya balik Ino. Ia bahkan tidak takut dengan ucapan Sasuke barusan dan malah menanggapi dengan enteng.

"Cih! Pemikiran bodoh," balas Sasuke. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan berjalan santai meninggalkan Ino.

"Kau tidak akan berkembang jika berpikir seperti itu. Berlatihlah...," ujar Sasuke dengan pelan tetapi Ino tetap dapat mendengarnya.

-end flashback-

Apa yang bisa disesali sekarang?

Memang seharusnya ia berlatih dengan giat. Kepandaian dan kerja sama akan terasa sia-sia tanpa kemampuan.

'Kau benar, Sasuke-kun. Aku hanya menghambat kalian semua...'

.

.

.

"Baunya benar-benar sudah menghilang, Kakashi." Pakkun berhenti begitu juga dengan tiga shinobi yang mengikutinya.

"Sial!" umpat Naruto.

"Maksudmu, kita tidak mungkin menemukan Ino-chan?" tanya Naruto. Ia mengepalkan kedua tangannya. Jika saja ia tahu di mana Ino sekarang, ia bisa saja bertindak sendirian tetapi kali ini ia tidak tahu ke mana penjahat itu membawa temannya.

"Kita bisa menemukannya. Dia tidak sebodoh dirimu," balas Sasuke.

"Kau—!"

"Berhenti bertengkar kalian!" perintah Kakashi. Ia harus bertindak sebelum kedua murid laki-lakinya meributkan hal yang tidak berguna.

"Lalu bagaimana kita bisa mengejar Ino-chan?" tanya Naruto.

Sasuke mengedarkan pandangannya. Indera penglihatannya terfokus pada helaian kuning pucat menyatu dengan tanah di arah timur salah satu pohon di dekatnya.

"Rambut." Sasuke memunguti rambut itu. Ia langsung berasumsi bahwa rambut itu milik Ino. Dilihat dari warna dan panjang rambutnya sama. Lagipula siapa orang lain yang datang di tengah hutan seperti ini kecuali mereka?

"Kakashi, sebelah sini!" kata Sasuke.

Sasuke berlari terlebih dahulu ke arah timur dengan petunjuk dari rambut Ino. Tanpa sadar Sasuke menyeringai. Benar dugaannya, Ino adalah shinobi yang pandai. Tidak heran jika Ino memikirkan cara apapun untuk meninggalkan jejaknya agar mudah dilacak, apalagi dengan kondisi hujan seperti sekarang ini.

.

.

Bruk!

Penjahat itu melemparkan Ino hingga ia terjatuh dan dahinya membentur ke lantai kayu. Tunggu sebentar!

Ya. Lantai kayu.

Ino merasakan kerasnya lantai kayu melukai dahinya hingga darah menetes mengotori kain yang menutupi kedua matanya. Para penjahat itu telah sampai ke suatu bangunan entah di mana.

Ino kembali menggeram dan berusaha bergerak dengan kedua kakinya.

Duak!

Penjahat itu menendang Ino tanpa belas kasihan.

"Diamlah! Sejujurnya aku sudah muak dengan dirimu!" ucap penjahat itu —Kado.

"Daichi sialan itu hanya bisa memerintah dan memerintah, dia bahkan tidak tau kalau kau adalah korban paling menyebalkan yang pernah kami tangkap!" Kado menarik Ino dengan cara mencengkeram dagunya dengan kuat.

Ino kembali memberontak dan menggunakan kesempatan itu untuk membenturkan kepalanya dengan wajah Kado. Dan benar saja, penjahat itu mengaduh kesakitan dan cengkeramannya terlepas.

"Aarggghh! Perempuan bodoh! Aku akan membunuhmu!" ancam Kado.

Penjahat itu melepas kain yang menyumpal mulut Ino sedari tadi.

"Ada kalimat terakhir yang ingin kau sampaikan?" Kado menyeringai lebar, tentu saja Ino tidak dapat melihatnya.

Bukannya takut, Ino malah tersenyum sinis.

"Dalam mimpimu, Pecundang yang bau!" kata Ino.

Bugh!

Satu pukulan telak mengenai wajah Ino. Kado memukul Ino hingga terlempar dan menabrak di tembok belakangnya.

"Jalang!"

Sebelum Kado keluar dari ruangan itu, ia memastikan Ino kehilangan kesadarannya dengan menendang perutnya. Begitu tidak ada tanda-tanda Ino akan kembali memberontak, ia meninggalkan gadis itu terbaring tak berdaya di lantai.

Pening. Kepalanya seperti ingin meledak. Darah segar mengalir dari hidungnya dan sedikit membuatnya kesulitan untuk bernapas. Namun, rencananya berhasil meskipun harus membahayakan dirinya sendiri. Ia sengaja memancing amarah Kado dengan terus memberontak. Rencananya membuahkan hasil, mulutnya tidak lagi tersumpal oleh kain yang membuatnya kesusahan untuk berbicara ataupun bernapas dengan kondisinya sekarang.

"Aku tau... jika ada orang lain di sini, tolong...," pinta Ino.

Tidak ada yang menjawab.

Ino yakin, saat dirinya menerima pukulan dari Kado, ia sempat mendengar pekikan tertahan seseorang. Ino yakin dirinya tidak sendirian di ruangan itu.

Ino susah payah mengubah posisinya untuk duduk. Meskipun awalnya terjatuh, ia mampu duduk dan menyandarkan dirinya di tembok.

"Mungkin... kita bisa keluar bersama," kata Ino.

"Atau... temanku akan datang ke sini. Ah, tidak! Atau mungkin mereka kehilangan jejakku, dan meninggalkanku." Meskipun tidak ada sahutan, Ino tetap mengutarakan isi hatinya.

Satu sentuhan lembut mengenai bahu kirinya. Ino tersentak, sensornya mungkin sudah lebih baik dari sebelumnya, atau mungkin hanya kebetulan Ino dalam menebak.

"Bisa tolong lepaskan kain di mataku?" pinta Ino.

Jemari dingin tanpa sengaja menyentuh pipi Ino. Dan detik selanjutnya, matanya dapat kembali melihat objek sekeliling. Yang pertama Ino lihat adalah anak perempuan yang lebih muda darinya, mungkin umur 8-9 tahun.

Tidak perlu meminta, anak perempuan itu melepaskan ikatan di kaki dan tangan Ino.

"Terima kasih," kata Ino. Ia tersenyum dengan lemah.

Anak perempuan itu membalas dengan senyuman tipis.

"Kau bilang, bisa membawa kita keluar dari sini?" Sebuah suara lain memaksa Ino menoleh. Ia mendapati anak perempuan seusianya tengah duduk di sudut ruangan.

"Ya. Aku rasa..." Ino sedikit ragu.

"Kalian—" belum sempat Ino menyelesaikan ucapannya, anak perempuan seusianya itu menyela.

"Kami tidak seberani dirimu. Kami takut mati jika melawan," katanya.

"Aku Asahi dan dia adikku, Yura." lanjut Asahi. Ia mendekat ke arah Ino dan Yura.

Ino terdiam. Ia memikirkan cara untuk kabur dari tempat itu.

"Aku Ino. Mungkin rencanaku terdengar nekat. Tapi kita harus mencobanya." Ino berdiri dan berjalan mendekati arah pintu kayu yang menjadi jalan satu-satunya untuk keluar.

"Aku akan mengecoh mereka dengan jurusku. Setelah mereka cukup jauh, kita bisa berlari dari sini," kata Ino.

"Kau gila! Mana mungkin bisa? Kami tidak bisa berlari secepat para shinobi sepertimu! Kau ingin membunuh kami?" tolak Asahi.

Ino menggelengkan kepalanya, "Tentu tidak. Aku akan melindungi kalian."

Asahi tersenyum sinis, "Bagaimana? Kau saja minta bantuan kami untuk melepas semua ikatanmu."

Ino menundukkan kepalanya. Asahi benar, ia tidak mungkin bisa melindungi Asahi maupun Yura dalam waktu yang bersamaan. Apalagi ia tidak mempunyai senjata dan kemampuan taijutsu-nya tidak terlalu dapat dibanggakan.

"Kau bilang temanmu tadi. Bagaimana jika kau berlari dan meminta bantuan temanmu untuk menyelamatkan kami?" usul Asahi.

"Aku tidak mungkin meninggalkan kalian," tolak Ino.

"Tch! Hanya itu yang bisa kita lakukan. Bukankah bantuan akan lebih menguntungkan?" tanya Asahi.

Ino menimang kembali usulan Asahi. Jika ia bisa berlari dan berhasil kabur dari tempat ini, maka ia bisa meminta bantuan Naruto, Sasuke dan Kakashi untuk menyelamatkan Asahi dan Yura.

"Kami akan menunggumu di sini," kata Asahi.

Ino menganggukkan kepalanya. Ia mengintip di celah lubang kayu yang ada di sela pintu kayu tua itu. Ia melihat tiga penjahat tengah duduk di depan api unggun. Ada Kado di sana.

Ino membentuk segel tangan Shintenshin-nya. Semoga saja dengan lubang sekecil ini, jurusnya mampu menjangkau Kado dan melancarkan Shintenshin no jutsu andalan clan-nya.

"Shintenshin no jutsu!"

'Ya! Aku berhasil!' batin Ino yang berada di tubuh Kado. Waktunya tidak banyak. Ia harus segera mengalihkan perhatian penjahat lainnya dan kabur dari tempat ini.

"Hei! Kalian tau, aku sangat menantikan pertarunganku dengan teman bodoh seperti kalian," ucap Kado —tentunya dengan kendali Ino.

"Apa katamu?" tanya penjahat lainnya. Ia menatap aneh Kado yang tiba-tiba mengatakan hal yang cukup menyebalkan.

"Ya. Pecundang seperti kalian mana bisa mengalahkanku." Kado mengambil kunai dan mengarahkannya kepada rekannya.

"Kau menantang?" Ketiganya kini berdiri dengan saling menatap.

"Ya, kita selesaikan di sana, para pecundang!" Kado menyeringai lebar.

"Mulut besar!" teriak salah satu rekannya.

'Kai!'

Chakra Ino menipis dan ia melepaskan jurus Shintenshin-nya.

Ino kembali mengamati ketiga penjahat itu tengah saling mendorong dan memaki. Kado sendiri terlihat kebingungan dan berusaha mengelak dengan tuduhan yang dikatakan rekannya. Ia menjelaskan bahwa tadi bukan dirinya, tetapi kedua temannya tidak percaya.

Begitu ketiga penjahat itu menjauh dari tempatnya semula. Ino mendobrak pintu dengan kuat dan berlari keluar. Ia sempat berhenti dan memilih jalan mana yang lebih aman untuk kembali ke tempat tim 7 berada.

Ke mana?

Timur, Barat, Utara atau Selatan?

Ino memutuskan untuk memilih arah Timur dan ia berbalik badan. Baru satu langkah pertama, tubuhnya membeku dan tidak dapat bergerak karena sebuah tusukan senjata tajam di perut kirinya.

Rupanya ia berhadapan begitu dekat dengan Daichi. Kesalahan besar, Ino melupakan satu orang lagi.

"Kelinci sepertimu ternyata penuh kejutan, ya..." Daichi mencabut kunai yang tadinya sempat ia tusukkan ke perut Ino.

"Ugh!" Ino memegangi perutnya yang terluka.

Bugh! Ino memukul Daichi dengan kekuatan yang tersisa.

Ino berlari dengan tertatih-tatih sambil memegangi perutnya. Otaknya tidak mampu memikirkan rencana lain untuk membebaskan diri dari Daichi.

Tubuh Ino tidak mampu lagi menahan rasa sakit dan jika ia memaksakan diri, justru ia bisa jatuh pingsan.

"Tolong, jangan sekarang!" ucap Ino.

Ia menyandarkan dirinya di pohon besar. Yang bisa Ino lakukan sekarang adalah bersembunyi dari Daichi.

"Hei! Kelinci kecil! Di mana kau? Tidak ada gunanya bersembunyi dariku!" teriak Daichi.

Daichi melihat tetesan darah di tanah. Ia mengamati kembali kunai miliknya yang penuh dengan darah Ino. Pria itu melempar topeng yang sedari tadi ia kenakan ke sembarang arah.

"Hum... Darahmu... Rambutmu... Sepertinya aku tidak akan menjualmu. Tapi aku akan menjadikanmu boneka di rumahku! Keluar kau sekarang!" teriak Daichi. Ia mencium darah yang menempel di kunai-nya.

"Sial!" umpat Ino. Ia mampu mendengar suara Daichi mendekat ke arahnya. Pria itu segera akan menemukan dirinya.

Ino memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya untuk mengurangi rasa sakit di sekitar perutnya.

"Hei...," ucap Daichi. Pria itu berhasil menemukan persembunyian Ino. Tampaknya penjahat itu berhasil mengikuti jejak darah dan membawanya menemukan Ino yang sedang bersandar di pohon. Dan lagi, rambut Ino yang tergerai bebas memudahkan Daichi menemukannya meski kondisi gelap di malam hari dan juga hujan yang masih saja turun dengan derasnya.

"Mitsuketa, Usagi-chan..." Daichi mengulurkan tangannya untuk meraih tubuh Ino.

Sebisa mungkin saat itu juga, Ino berbalik dan memundurkan dirinya untuk menghindari jangkauan tangan Daichi. Tidak! Jangan sampai hidupnya berakhir di sini.

Jangan!

-to be continued-

Chapter 3 selesai! Maaf membuat teman-teman menunggu lama, ya. Karena aku masih buruk dalam mengatur waktu jadi untuk fanfic ini sempat tertunda selama berbulan-bulan.

Tapi terima kasih kepada teman-teman yang sudah mau menunggu dengan sabar kelanjutan cerita ini. Aku harap tidak mengecewakan, ya. Terima kasih juga untuk review yang sudah diberikan untukku, kalian sangat baik dan selalu mendukungku. Maaf tidak bisa membalasnya, tapi aku sangat senang bisa membacanya. Terima kasih banyak!

Jangan lupa untuk meninggalkan review kalian lagi, ya.

See you next chapter~