The King and Hime

.

.

.

.

Naruto adalah milik Masashi Kishimoto.

.

.

.

.

.

Chapter 4

"Naruto -kun"

Mai bergelayut manja di lengan laki-laki itu. Naruto berbalik terkejut, dia tersenyum dan melepas tangan Mai risih.

Gadis itu memanyunkan bibirnya, kesal. "Ada hubungan apa antara Naruto -kun dengan gadis pink itu."

"Dia hanya teman lamaku, Mai -chan" Naruto memutar bola mata nya bosan. Dia berjalan lebih cepat, meninggalkan Mai yang memilih berhenti disana. Dia terlihat tidak percaya dengan ucapan Naruto.

Laki-laki itu membuka ruangan olahraga dengan cepat. Dia mengedarkan pandangan nya ke segala arah dan menemukan gadis itu, yang sedang tersenyum ke arahnya.

"Sakura.." Naruto mendekat ke tengah lapangan. Dia menatap gadis itu, tidak ada yang berubah dari nya sejak dari hari mereka berpisah 2 tahun yang lalu.

"Dimana Sasuke?" Naruto menatap perubahan Sakura. Senyum gadis itu luntur, dia terlihat tidak menyukai pembahasan topik tentang sahabat raven nya itu.

"Mengapa kau menanyakan laki-laki itu?" Sakura berdelik tidak suka. Dia melempar bola basket yang ada di samping nya ke arah Naruto.

"Kalian lah yang memutuskan kabur dari rumah dan hidup bersama di Amerika. Bahkan baru 7 bulan yang lalu, kau mengirimkan foto pernikahanmu." Dia melempar bola itu ke lain arah.

Sakura mengibaskan rambutnya. "Karena kau yang mengatakan, aku akan bahagia dengan laki-laki itu." Gadis itu semakin mendekat ke arah Naruto dan mengambil kedua tangannya.

"Aku menyesal, Naruto. Aku tidak bahagia. A-aku.." Sakura menggantung kalimatnya. Naruto menyadari genggaman di kedua tangannya semakin kuat. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi antara kedua sahabatnya itu.

"...Aku sudah sejak lama menyukai mu. Aku mencintaimu, Naruto. Tolong jangan dorong aku menjauh lagi, ya.." Gadis itu menunduk tidak ingin menatap iris sapphire yang berubah dingin, tidak sehangat dulu.

Naruto melepaskan kedua tangan yang mengenggamnya. Dia menghela napas. Entah berapa kali, dia harus mengatakan ini. "Tapi aku tidak menyukai mu, Sakura. Kau tidak akan bahagia denganku. Sasuke lah yang mencintaimu dengan tulus. Dia pasti sedang menderita sekarang. Kembalilah padanya.."

Sakura mengepalkan tangannya. "Kau selalu seperti ini, Naruto -kun. Kau hanya memikirkan perasaan nya dan tidak memikirkan ku. Dulu kau membuai ku dengan ucapan manis yang mengatakan bahwa Sasuke sangat mencintaiku."

Sakura mendongak dan sepasang Sapphire blue yang tetap menatap nya dingin. "Ah.. aku tau! Kau melakukan nya untuk menyingkirkan ku kan? Kau membuat aku menyerah padamu."

Gadis itu tersenyum kecut, "Maaf, Naruto. Tapi perasaan ku padamu tidak sesederhana itu. Walaupun aku sudah menikah, aku tetap tidak akan menyerah. Akan ku lakukan apapun hingga kau kembali kepelukanku." Dia mendorong Naruto dan berlari pergi.

Laki-laki itu menatap Sakura yang menghilang dari balik pintu. Dia menghela napas. "Apa aku harus menerima saran Kiba untuk mendapatkan kekasih ya.." Dia memijit keningnya. "Ini benar-benar menyebalkan.."

.

.

.

.

.

.

Cuaca perlahan mehangat. Musim dimana bunga bermekaran, waktu yang tepat dimana berjalan santai di taman kota. Namun, sayang bagi beberapa orang waktu siang adalah waktu bekerja keras. Begitu juga dengan gadis manis ini,

"Berhentilah.. jaga kesehatan matamu." Toneri mencubit pipi Hinata. Gadis itu sejak tadi sangat fokus di depan layar komputer, dan itu sangat berbahaya untuk matanya.

Hinata merenggut kesal, dia mengelus pipinya. "Biarkan aku menyelesaikan ini. Aku merasakan ide ini akan diterima oleh Naruto."

"Naruto?"

Hinata menggangguk cepat. Dia kembali mencoba fokus ke pekerjaannya. Gadis itu tersenyum jika membayangkan melihat wajah puas dari karyawan sementara nya itu.

Toneri menyukai Hinata yang bersemangat seperti ini. Gadis itu akan mengerjakan tugas nya dengan sungguh-sungguh. Namun dia agak kecewa karena bukan dirinya yang menjadi alasan semangat itu.

"Mau makan siang?" Sebuah map hitam menutupi layar komputer. Hinata mendongak menatap pelaku yang lagi-lagi menganggu pekerjaannya.

Senyum manis laki-laki itu cukup menghentikan Hinata untuk beberapa detik. Dia tersadar dan memalingkan wajahnya.

"Kenapa kau bisa di sini. Ini kan.." Hinata melirik jam tangannya. "Baru jam 1 siang." Hinata menatap laki-laki yang memalingkan wajah nya, menghindari pertanyaan nya. "Kau bolos ya, Naruto!" Teriak Hinata yang sepertinya tepat sasaran.

Laki-laki pirang tersenyum singkat dan kembali ke tempat duduknya. "Ayolah, Hinata. Mari makan siang."

Toneri menatap bingung, baru bertemu satu hari, tapi mereka sudah memanggil dengan nama depan. Seolah mereka sudah kenal sejak lama. Padahal dia dan Hinata saling memanggil nama depan setelah 5 bulan berteman.

"Kau duluan saja. Aku masih ingin mengerjakan ini." Hinata memperbaiki posisinya dan kembali fokus dengan pekerjaan nya.

Naruto menatap tak suka. Dia berdiri dan mendekati gadis itu. Toneri tidak juga beranjak dari posisi awalnya, dia hanya menatap Naruto yang kembali menganggu Hinata, laki-laki itu ikut mengetik sesuatu di keyboard komputer hingga hasil ketikan di layar Hinata menjadi tidak beraturan.

"Narutoo!" Hinata berteriak kesal. Dia memukuk keras tangan Naruto yang tidak beranjak dari keyboardnya.

"Hahahaha aw hei s-sakit... Hinata!" Naruto menahan tangan gadis itu. Dia menyeringai, "Aku mendapatkanmu." Naruto menarik tangan gadis itu keras hingga membuat nya berdiri. Sebelum Hinata berteriak, Naruto segera mengambil mantel yang ada di kursi Hinata dan memakaikannya kepada gadis itu.

Hinata terperangah saat tangan kanan nya di genggam erat Naruto. Laki-laki itu membawa Hinata pergi meninggalkan Toneri yang menatap mereka diam.

"Let's go, waktu nya makann" Naruto berteriak senang.

.

.

.

.

.

.

Naruto membawa nya ke halte bus dan meninggalkan sepeda nya di kantor Hinata. Laki-laki itu menatap arloji nya dan berdecak kesal. Di samping, Hinata melihat kegiatan Naruto, melihat bagaimana perubahan emosi nya dari kebosanan hingga kesal karena menunggu bus yang sangat lama.

"Aku kira kau hanya bisa tersenyum." Lirih Hinata tanpa sadar.

Naruto berbalik, "Hah? Aku kan manusia. Tentu saja bisa kesal." Sepertinya laki-laki itu semakin kesal, wajahnya terus saja di tekuk. Kelihatan sekali dia benci menunggu lama.

'Tapi kenapa, dia masih terlihat tampan.'

Hinata tersentak saat tangan nya kembali ditarik. Laki-laki itu membawa nya untuk duduk. Ah.. Hinata sadar, mereka masih berpegangan tangan sejak tadi.

"Kau sudah bisa melepaskan tanganku, Naruto. Aku tidak akan kabur." Hinata mengangkat tangan nya yang digenggam oleh Naruto erat.

"Hah!" Naruto berbalik ke arah Hinata dengan wajah yang benar-benar masam.

'Woah.. dia benar-benar kesal. Naruto menjadi tidak terkendali saat kesal ya' Hinata terkekeh. Laki-laki itu tidak mendengar ucapannya. Hinata kembali mengangkat tangan mereka berdua yang saling mengenggam dan menggoyangkan nya.

"Ada apa, Hinata. Berhentilah! Tanganku menjadi pegal." Naruto semakin mempererat pegangan mereka yang membuat Hinata terdiam.

Tangan yang mengenggam nya begitu besar dan hangat. Tanpa sadar, pipi nya memerah. Iris yang bewarna sebiru lautan itu menatap nya dalam, dia tidak bisa memalingkan diri dari tatapan Naruto.

Hinata tersadar, dia memalingkan wajahnya, pipi nya memerah "K-kalau begitu, lepaskan tanganmu ya.."

Gadis itu melirik Naruto yang terpaku.

"Aa.. em.. i-iya. Ma-maaf ya." Laki-laki itu menggaruk pipinya malu.

'Imut juga' pikirnya melihat Naruto yang malu seperti itu. 'Gini ya rasanya punya adik laki-laki.'

Naruto menatap Hinata yang tertawa kecil. Laki-laki itu menyerngitkan dahinya. "Kau menertawakan ku?"

'Wah.. dia sadar.' Hinata menggeleng cepat. "Tidak. Aku hanya ingin tertawa saja."

Naruto mendecih pelan. Dia tidak suka di perlakukan seperti anak kecil. Walau sebenarnya dalam soal umur, dia kalah. Tapi hei, mereka cuma berbeda satu tahun saja.

"Bus kita datang." Hinata mengalihkan topik. Bisa gawat jika CEO muda ini merajuk dan membatalkan kerja sama mereka.

.

.

.

.

.

Naruto membawa nya ke restoran yang dekat dengan perusahaan laki-laki itu. Dia terpana melihat betapa besar Uzumaki corp.

"Pesanan datang."

Gadis itu kembali dari lamunan nya saat seorang pelayan membawakan makanan mereka. Hinata sadar, bahwa sejak tadi, mereka menjadi pusat perhatian semua orang disini, yang rupanya sebagian besar adalah pegawai perusahaan. Tentu saja, CEO mereka sedang ada di hadapan mereka, makan berdua dengan seorang gadis tidak mereka kenal. Tatapan kesal para gadis terus menganggu Hinata yang ingin menikmati makanan nya.

"Kau terganggu."

Syukurlah laki-laki ini bukan anak yang tidak peka keadaan, Hinata balas dengan menatap nya seolah berkata 'kau apa maksud membawa ku kesini. Mau pamer, hah?!'

Naruto yang paham akan situasi hanya terkekeh. Dia menikmati ekspresi Hinata yang menahan kekesalan dengan sikap anggun dan mencoba menikmati makanan nya dengan tenang. Seolah dia keturunan bangsawan kerajaan saja. Terlihat seperti seorang..

"Hime.." lirih Naruto tanpa sadar.

Telinga Hinata menangkap dengan jelas suara kecil Naruto yang nyaris tidak terdengar, berterima kasihlah pada pendengaran yang sangat sensitif.

"Naruto?" Hinata membalas tatapan Naruto yang sejak dari tadi menatap nya. Mereka bertukar pandangan hingga Naruto memalingkan wajahnya, memutus pandangan mereka.

"Kenapa?"

"Ah tidak.. aku hanya penasaran. Darimana kau tau nama itu?" Hinata mengambil tisu di samping nya dan mengelap pelan sisa makanan di bibir nya.

"Nama?"

Hinata terkekeh, sepertinya laki-laki ini tidak mengetahui apapun yang baru saja dia katakan, "Hime. Itu adalah nama kecilku. Orang tuaku sering memanggilku seperti itu." Ada nada sedih saat dia mengatakan itu dan tertangkap jelas oleh Naruto.

"Hime? Hm.. Hinata-hime? Heeeh.. sungguh cocok sekali." Laki-laki itu tersenyum tulus saat mengatakannya.

Hinata mengerucutkan bibirnya, dia kesal. "Kau juga? Oh ayolah, nama itu terlalu berlebihan. Aku menjadi seperti putri manja yang keinginan nya harus terpenuhi."

Naruto itu terkekeh. Dia mengambil telur gulung dengan sumpitnya. Laki-laki itu menyodorkan nya pada Hinata.

"Hime -sama. Waktu nya makan.. aaaa.."

Hinata memerah, dia memalingkan wajahnya malu, "berhenti, Naruto."

Laki-laki terkekeh pelan, dia kembali menarik sumpitnya. "Hinata? Hm.. Hime.. Hinata.. er.. Yosh! Mulai sekarang kau ku panggil Hime. Entah kenapa aku menyukainya."

Hinata melotot mendengar keputusan yang menyangkut dirinya itu. Dia berniat protes sebelum Naruto mengeluarkan sesuatu dari tas nya.

"Apa itu?" Hinata terlihat tertarik dengan amplok map cokelat di hadapannya.

Naruto melirik kanan kirinya, dan mendekat pelan ke arah Hinata. Gadis itu menjadi tegang. Dia ikut melirik ke kanan dan kirinya.

"Ini adalah file rahasia Uzumaki corp." Bisik Naruto pelan

Hinata membulatkan matanya, kaget. "Eehh.. Jangan bercanda."

"Tentu saja, aku bercanda."

Naruto tertawa melihat wajah kesal Hinata. Astaga, perut nya begitu sakit. Sudah berapa lama dia tertawa seperti ini. "Aah maaf maaf. Maafkan aku, hime. Pffftt.. hahaha.."

"Cih.." Hinata berdecih kecil dan memalingkan wajahnya malu. "Jadi itu apa?"

Naruto terkekeh pelan, "ini hanya sebuah bantuan."

Hinata menyerngitkan dahinya.

"Beberapa contoh iklan yang disukai oleh beberapa petinggi perusahaan. Ini adalah kumpulan iklan yang pernah berjaya beberapa tahun terakhir."

"Kau mengumpulkan untuk kami." Hinata menerima dengan syok

"Mudah saja sebenarnya. Aku hanya melihat beberapa iklan di seluruh dunia dan memilah nya menjadi beberapa iklan yang kusukai. Mungkin bisa disebut refrensi untuk kalian."

'Ini sangat membantu sekali.' Hinata menatap Naruto haru. Si empu nya hanya balas tersenyum.

TBC

Bagaimana chapter 4 ini? Maaf jika terlalu lama. Saya lumayan sibuk untuk beberapa hari, jadi ya.. agak mencicil cerita nya hehehe...

Yosh! Sampai jumpa chapter berikutnyaa..

Enjoy