The King and Hime

.

.

.

.

Naruto adalah milik Masashi Kishimoto.

.

.

.

.

.

Chapter 5

Tas nya dilepaskan sembarang, gadis itu menghela napas dan menyalakan musik dengan keras.

Gadis itu berjalan mendekati tas koper besar yang sebagian isinya telah berserakan di luar. Sebuah pigura photo membuat senyum nya muncul. Dia mengelus foto anak laki-laki pirang yang tersenyum lebar. Anak itu tidak sendiri, di samping nya ada foto anak perempuan berambut senada sakura.

"Hm..hm.." Dia menari, kaki nya terus bergerak namun sepasang mata itu terus tertuju pada pigura yang di genggam nya erat. Senyum nya tidak pernah luntur setiap menatap pigura itu. "Aahh.. aku kangen kamu, Naruto-kun."

Drrt~ Drrr~

Ponsel nya bergetar, getaran nya begitu kuat hingga telinga nya segera menangkap suara itu. Ah, benar.. dia meletakkan nya di atas meja.

Kaki nya melangkah malas untuk mematikan musik dan mengambil ponsel pink itu.

"Ya. Sakura disini."

"..."

Perubahan emosi terlihat jelas di raut wajah nya. "Ya. Aku sudah sampai."

"..."

Dia melirik jam tangannya, dan berdecih pelan. "Benar, aku sudah bertemu dengan Naruto -kun."

"..."

"Berhentilah mengurusi ku, Sasuke. Hubungan kita sudah berakhir. Tenang-tenanglah di sana, dan cari gadis bule yang bisa kau mainkan sesukamu." Sakura berteriak kesal, bahunya naik turun seirama dengan emosi nya begitu meledak-ledak.

"..."

"Sasuke, dari awal pernikahan kita bukanlah sesuatu yang berlandaskan cinta. Aku tidak mencintaimu, tidak akan pernah. Aku menikahi mu karena Naruto -kun yang menghasutku. Baguslah, karena kita tidak pernah mendaftarkan pernikahan itu."

Sambungan terputus secara sepihak. Di seberang, laki-laki itu tersenyum kecut. Belum sempat dia mengatakan apapun, gadis yang masih berstatus istri -atau hanya dia yang menganggapnya- telah memutuskan pembicaraan mereka.

Ya seharusnya dia sudah menduga ini, dia telah mengenal gadis itu dari usia mereka yang masihlah sangat muda. Dan sepanjang itu, dia melihat bahwa gadis pujaan nya begitu memuja akan sahabat mereka yang lain.

Awalnya, dia mengira bahwa kedua sahabatnya itu akan berakhir dalam suatu hubungan, karena yang terlihat sahabat pirang nya tidak menolak curahan cinta dari Sakura.

Tapi setelah kematian mendadak dari orang tua Naruto, sahabat pirang nya mulai menjauh. Dia lebih suka menyendiri dan jarang tersenyum.

Hingga suatu kejadian merubah keputusan yang awalnya dia berniat menyerah akan cinta nya pada gadis pink itu.

Flashback

[2 minggu sebelum kaburnya Sakura dan Sasuke]

Hari ini adalah hari pertama memasuki ujian akhir dari sekolah mereka. Ini adalah ujian yang menentukan tolak ukur untuk memasuki jenjang berikutnya.

Dan pada hari ini juga, tepat 3 minggu setelah berita kematian dari pemilik Uzumaki Corp beserta istrinya.

Naruto memasuki kelas nya dalam diam. Seperti biasa, walau berita mengejutkan itu sudah berlalu, tatapan penasaran teman-teman nya tetap saja mengintai Naruto. Yang cukup membuat dirinya sedikit kesal.

"Naruto -kun" Gadis-gadis yang memuja nya perlahan mendekat. Jika ini adalah dua minggu yang lalu, Naruto pastilah akan tersenyum lebar dan bercanda dengan mereka.

Laki-laki itu mendecih kecil, dia mengeluarkan headset nya dan menyalakan musik. Dia segera tenggelam dalam kegiatan nya belakangan ini.

Brak! Mendadak meja nya di pukul keras. Tanpa mendongak, dia sudah mengetahui siapa pelaku yang tidak peka akan keadaan sekarang.

"Naruto -kun, ikut aku ya"

Tidak ada yang tidak mengenal gadis yang menjadi primadona sekolah mereka. Haruno Sakura, anak dari pemilik Rumah Sakit Konoha, yang cukup terkenal di kota mereka. Dia juga adalah murid dari dokter genius yang telah menyelamatkan banyak pasien, Tsunade.

Bukan rahasia umum jika gadis itu menyukai dan memuja laki-laki tampan pemilik otak tercerdas di sekolah mereka yang juga anak dari perusahan terbesar, Uzumaki Corp.

Satu orang lagi, Sasuke Uchiha. Anak dari pemilik perusahaan Syamsyung. Ketiga orang itu adalah sahabat dekat, mereka selalu bersama.

Gadis-gadis yang lain menyingkir setelah mendapat tatapan tajam dari Sakura. Dia begitu tidak suka ada gadis yang mendekati Naruto nya.

"Naru..."

Belum sempat Sakura mengatakan sesuatu, Naruto telah berdiri dari beranjak dari sana. Masih ada waktu hingga bel berbunyi. Dia membawa buku nya dan menjauh dari kelas.

"Naruto -kun.." lirih Sakura pelan. Laki-laki itu menjadi begitu dingin padanya. Dia bahkan tidak menengok ke belakang dan berjalan ke arah pintu dimana Sasuke berada di sana. Kedua laki-laki itu saling bertukar pandangan hingga Naruto melewati nya tanpa sepatah kata.

Sakura mengepalkan tangan saat mendapat tatapan remeh dari para gadis-gadis itu. Entah berapa kali, Naruto telah mengabaikannya. Padahal selama ini, dia begitu yakin bahwa laki-laki itu tidak akan pernah mengatakan atau melakukan hal yang membuatnya sedih.

Naruto pasti akan selalu menemani nya walaupun laki-laki itu sedang bersama dengan perempuan lain. Maka dari itu, dia tidak pernah menuntut untuk Naruto menerima cinta nya. Tapi kenapa sekarang..

"Kau lihat wajah gadis itu.. lihatlah betapa malu nya dia sekarang."

"Astaga.. sudah berapa kali Naruto -kun mengabaikan nya dan dia selalu menganggu nya. Apakah urat malu tidak putus?"

"Menyedihkan.."

Sakura menggeram kesal, dia tidak bisa membiarkan ini terus terjadi. Dia harus mengeluarkan Naruto dari keterpurukannya. Gadis itu menatap Sasuke yang ikut menatapnya.

Naruto telah menyelesaikan rapat dengan para anggota osis. Posisinya sebagai ketua osis membuat dia harus pulang terakhir karena membereskan beberapa berkas di ruangan sendirian.

Dia akan memasuki mobil jemputannya sebelum pintu itu di tahan dan di banting keras oleh gadis itu.

"Ada apa?"

"Astaga akhirnya kau berbicara juga dengan kami." Sakura menghela napas.

Naruto memutar matanya bosan, dia tidak memiliki tenaga untuk berbicara dengan gadis yang begitu cerewet seperti Sakura. Di belakang, Sasuke hanya menatap.

"Naruto -kun. Ayo main bersama ku. Aku begitu kesepian, kau selalu menghindariku. Aku ingin...-"

Naruto mengangkat tangannya, "jangan berbicara lagi. Aku begitu lelah sekarang. Aku harus mengurus beberapa dokumen perusahaan dan tidak memiliki waktu bermain-main."

"Begitu sibuk kah hingga selalu mengabaikan ku di sekolah." Sakura mulai menaikkan intonasi nya.

Naruto menghela napas, tatapan nya melembut. Bisa dilihat bagaimana hancurnya dia sekarang, penampilan Naruto memang masihlah keren karena pelayan dirumah nya berusaha habis-habis an untuk membuat Naruto tetap memikat walau sudah begadang hampir beberapa malam ini.

Tangan laki-laki itu menyentuh pundak Sakura, "maaf karena aku mengabaikan mu. Tapi aku benar-benar tidak ada waktu untuk berbicara. Aku harus membereskan masalah di perusahaan. Terutama para pemegang saham yang terus meminta pertanggung jawaban kepada paman ku karena saham kami turun drastis. Aku harap kau mengerti."

Naruto bukanlah mesin yang bisa bekerja tanpa istirahat. Hei, dia baru berusia 16 tahun dan sudah di libatkan dalam urusan perusahan.

Sakura meremas kuat ujung seragam nya, dia masih terlihat tidak rela. "Tapi aku.. aku...-"

"SAKURA!"

Gadis itu syok, dia bahkan refleks mundur beberapa langkah karena teriakan kekesalan itu.

"Jangan bersikap kekanak-kanakan. Kau tau, bahwa aku sudah begitu lelah dengan kelakuanmu sekarang. Aku sudah bersabar karena kau adalah sahabatku. Tapi sekarang waktu adalah sesuatu yang sangat penting bagiku. Bahkan sekarang pembicaraan tidak penting ini sudah membuang waktu berhargaku."

Sasuke bersumpah bahwa dia tidak pernah Naruto berteriak marah seperti itu di depan Sakura. Dia melangkah maju dan mencoba menenangkan Naruto

"Naruto.."

Naruto tidak mengubris panggilan Sasuke, dia masih menatap Sakura yang sudah terisak. Ah dia sudah keterlaluan. Laki-laki itu mengacak rambutnya.

"Seharusnya kau lebih memperhatikan sekelilingmu. Waktu mu terbuang berharga karena mengharapkan balasan cinta dariku."

Sakura mendongak terkejut, jarang sekali Naruto membicarakan pembahasan soal perasaan

"Sakura, kau tahu kan." Naruto melirik ke arah Sasuke. "Bahwa ada laki-laki bodoh sekarang yang juga menunggu dan membuang waktu nya untuk mencintai seorang wanita."

Naruto kembali melanjutkan ucapannya, "dan wanita itu adalah kau. Sakura, kau sudah menyadari akan hal itu kan. "

Sekarang giliran Sasuke yang menatap Sakura. Dia menunggu ucapan apa yang akan dikeluarkan oleh gadis itu.

"Tapi Naruto -kun, aku mencintai..-"

"Ya aku tahu." Naruto kembali memotong ucapan Sakura. "Aku kan. Tapi Sakura..-"

"Aku tidak mencintaimu. Dari dulu sampai sekarang, aku selalu menganggapmu adik kecil yang berkeliaran di sampingku. Sesuatu yang harus kujaga karena perintah orang tua ku."

"Kau hanya mengangapku sebuah tanggung jawab yang menyebalkan?"

"Kau tahu kan Sakura. Aku tidak pernah benar-benar mencintai seseorang. Aku tidak menyukai hubungan rumit dan menyebalkan. Aku sangat membenci hal-hal yang membuatku lelah dan bosan."

Perlahan air mata turun melewati pipi mulus Sakura, jadi selama ini, dia di anggap hanya sebuah gangguan dan perintah dari orang tua nya. Dan saat orang tua Naruto telah tiada, perintah itupun hilang? Begitukah, Naruto -kun?

Naruto melirik jam tangannya, dia berdecak kesal.

"Aku tidak mau membuat ini semakin menyebalkan dan berlarut-larut. Tapi benar jika aku menganggap kalian adalah sahabatku. Kalian adalah orang terdekatku setelah keluargaku. Dan aku ingin orang-orang ku bahagia. "

Naruto mengenggam tangan kanan Sakura. "Sakura, aku ingin kau bahagia. Dan hal itu tidak bisa kau dapatkan dari ku."

Tangan kiri Naruto yang bebas menepuk pundak Sasuke yang masih diam sejak tadi. "Dan aku rasa, Sasuke adalah orang yang tepat. Sakura, aku tidak pernah menemukan laki-laki sebaik dan setulus Sasuke. Dia telah bertahan dengan perasaan yang sama selama bertahun-tahun. Kurang apa lagi kan?"

Sekarang, Naruto sepenuhnya berbalik menatap Sasuke. Dia tersenyum lebar, untuk pertama kali nya sejak 3 minggu yang lalu. "Aku ingin kau menjaga nya, menggantikan diriku. Aku percaya padamu."

"Naruto.." panggil Sakura. Dia berniat kembali mengenggam tangan Naruto yang sempat di lepaskan oleh si empunya.

"Sakura."

Gadis itu tersentak saat tangan nya malah di genggam erat oleh Sasuke. "Aku mencintaimu Sakura. Aku benar-benar mencintaimu."

"Sa-sasuke."

Naruto terkekeh, "Silahkan lanjutkan di tempat lain, tolong." Dia tertawa. Laki-laki menyentuh pundak kedua nya sekilas dan berbalik pergi.

"Aku menunggu kabar gembira dari kalian." Naruto membuka pintu mobil dan masuk.

"Tunggu, Naruto -kun.." Sakura melepaskan genggaman Sasuke dan berbalik.

"Sakura, kumohon." Gadis itu terhenti saat sebuah tangan melingkar di perutnya. Lirihan pelan laki-laki itu berhasil membuat pikirannya buyar. Dia hanya bisa menatap perlahan saat mobil hitam itu menghilang sempurna dari halaman sekolah yang sudah sepi.

Flashback end

Di mobil, Hinata tetap fokus membaca berkas yang diberikan oleh Naruto. Gadis itu benar-benar berusaha memahami iklan seperti apa yang akan diacungi jempol oleh laki-laki di samping nya ini

"Kau ingin langsung ke kantor?" Naruto agak kebosanan diacuhkan oleh gadis di sampingnya. Sejak dia memberikan map itu. Entah kerasukan apa, Hinata melahap habis makanan nya dengan cepat dan langsung tenggelam pada dokumen nya seperti sekarang. Saat diajak berbicara, sahutannya cuma sekenanya saja.

"Hm.."

"Hm? Apa itu maksudnya? Ya atau tidak." Naruto semakin kesal saat Hinata malah mengindikkan bahu nya tidak tau, sepertinya saat gadis ini fokus, di ajak bicara pun nggak akan nyambung.

Drrt.. Drrt..

Handphone laki-laki itu menyelamatkan Hinata dari amukan Naruto. Namun setelah melihat nama yang tertera di layar, kekesalan nya menjadi.

Naruto menghela napas, menenangkan hati nya yang sedang campur aduk.

"Ada apa, Mai-chan?"

Pegangan nya pada kertas mendadak menguat. Hinata tidak berbohong, jika dia memang penasaran percakapan antara Naruto dengan model cantik itu.

"Ya, aku bolos." Naruto menjawab dengan malas. Dia mengetuk-ngetukkan jari nya pada kemudi.

Dari dekat, entah kenapa, dia bisa melihat semua ekspresi aneh Naruto yang sebenarnya tidak sesuai dengan perkataan nya.

"Ya, aku juga ingin segera bertemu denganmu besok."

Dengan kalimat ini, seharusnya dia tersenyum malu-malu kan? Tapi, dia...

'Dia mencibir..'

"Ah, pakaian itu.. hahaha.. benar, kau pasti cantik sekali."

Memuji? Dia memuji kan? Bukankah dia harus tersenyum kan?

'Wajah nya datar sekali.'

"Benar. Aku akan memikirkan nya. Ya, aku tidak sabar dengan pesta malam ini. Sampai bertemu di sana."

Naruto menutup telepon nya sepihak, dia tidak menunggu Mai membalas ucapan perpisahannya. Laki-laki menghela napas lelah, dia menarik kesal dasi sekolahnya.

"Kau sibuk setelah ini?" Hinata akhirnya memberikan perhatiannya pada Naruto. Dia melirik laki-laki yang lebih muda satu tahun dari nya itu.

Naruto hanya melirik, dia kembali mengetikkan sesuatu di layar handphone dan mengambil earphone nya.

"Halo, ya ini aku. Sepertinya aku tidak bisa berhadir di pesta mu."

"..."

"Hm.. ada beberapa alasan.." Naruto melirik Hinata yang juga menatapnya. Dia menyeringai.

"Ya.. kau tau kan. Saran mu.. sepertinya aku akan melakukannya." Naruto terkekeh.

"..."

"Hahaha.. baiklah. Aku akan segera mengenalkannya. Ya.. sampai jumpa."

Naruto mematikan panggilannya. Hinata mernyerngit bingung saat laki-laki ini terus tertawa aneh. Tidak seperti biasanya. Tapi yang pasti, dia terlihat sedikit tulus.

"Kau sibuk setelah ini?" Laki-laki itu mengulang pertanyaan Hinata.

Gadis itu menggangguk tidak yakin, "Mempelajari berkas ini." Dia menggoyangkan kertas itu.

Naruto melongo tidak percaya, apakah semua yang ada dipikiran gadis ini hanyalah bekerja. "Aku akan memberimu pilihan."

Gadis itu melirik Naruto dari ekor matanya, dilihatnya laki-laki menyeringai ke arahnya. Dan astaga! Kenapa dia terlihat begitu tampan.

"A-apa?" Gadis itu syok sendiri, kenapa dia bertingkah memalukan seperti ini.

"Kau akan mempelajari setengah mati berkas itu atau belajar denganku yang adalah ahlinya."

Hinata memfokuskan perhatiannya penuh kepada laki-laki yang menyeringai. "Kau ingin mengajari. Sungguh.. "

"Tentu, aku juga akan minta bantuan sutradara terkenal lainnya untuk membantu mu."

"A-aku akan sangat berterima kasih, Naruro." Hinata mengenggam tangan kiri Naruto yang berada di kemudi. Dia menatap Naruto dengan binar bahagia.

Laki-laki terkekeh, bagaimana bisa gadis ini begitu senang dengan bantuan kecil itu. Tentu saja, ini hanyalah hal yang mudah untuk dia lakukan.

"Tentu saja, ini semua tidak gratis."

"Aku akan melakukan apapun."

Naruto tidak percaya melihat Hinata begitu mudah menjawabnya, tanpa dipikirkan dulu. Astaga bagaimana bisa dia sepolos ini.

"Aku akan memikirkan itu nanti." Dia tersenyum misterius yang cukup membuat Hinata sedikit menyesal karena menyetujui nya dengan mudah.

TBC

Tanpa basa-basi... sampai jumpa di chapter berikutnya^^

Enjoy