The King and Hime

.

.

.

.

Naruto adalah milik Masashi Kishimoto.

.

.

.

.

.

Chapter 7

Hening, semua orang mendadak bungkam. Mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing. Laki-laki itu memaklumi nya, bahkan Hinata sampai menutup mulutnya karena keterkejutan.

"Bukankah itu benar-benar merugikan." "Apa yang dipikirkan negara hingga memberlakukan hukum seperti itu." "Ini adalah awal kehancuran bisnis negara ini."

Hinata menunduk, menatap nanar ke bawah. 'Ini buruk.'

"Jangan khawatir, tuan dan nyonya terhormat." Naruto memberikan senyuman manisnya. "Ini bukanlah masalah besar."

.

.

.

.

.

.

.

Pintu hitam itu terbuka, orang-orang mulai meninggalkan ruang rapat yang di dahului oleh Nagato dan diikuti para pemegang saham yang lain. Ruangan itu sekarang hanya ada Hinata dan Toneri. Ah jangan lupa, di kursi depan, terdapat Naruto yang masih diam duduk membaca berkas presentasi nya tadi.

Toneri duduk di samping Hinata yang juga masih membuka berkas di hadapannya, gadis itu masih mencerna semua penjelasan Naruto. "Apa yang kau pikirkan?" Toneri menopang dagu nya dan menatap Hinata yang menghela napas.

"Banyak hal." Gadis itu tersenyum kecut.

Mereka berdua tidak menyadari tatapan seseorang yang sedari tadi juga masih berada diruangan itu.

Naruto menutup berkasnya, "apakah aku tersamarkan disini."

Dua orang itu tersadar dan menoleh. Hinata segera berdiri dan membungkuk sopan, "N-naruto! Ah maksud saya.. CEO. M-maafkan saya."

Laki-laki pirang itu menaikkan sudut bibirnya, "Kenapa? Kenapa mendadak menjadi sopan? Bukankah aku yang seharusnya melakukan itu. Benarkan, Hinata-neesan." Dia berjalan mendekati Hinata. Pandangan nya sejenak beradu oleh Toneri.

Naruto merasakan tatapan kenapa kau mendekat? Apa maumu? yang terbaca sangat jelas.

Tapi bukan Naruto jika terusik tatapan menusuk itu, dia melewati Toneri dengan santai dan berdiri di depan Hinata. "Kau takut?" Laki-laki itu menyarungkan kedua tangannya ke saku celana hitamnya.

Hinata mengangguk pelan, "a-aku.."

"Kau tidak percaya padaku?"

Hinata mendongak dan menatap sepasang sapphire blue yang mengkilat tajam. Dia terpaku, "a-aku.."

Melihat Hinata yang mulai ketakutan membuat pandangan Naruto melembut. Dia mengeluarkan tangan kanan nya dan membelai lembut rambut gadis itu.

"Aku tidak akan mengatakan ucapan omong kosong hanya untuk menenangkan mu, seperti orang lain. Tapi Hinata, Percayalah padaku. Aku tidak akan pernah mengecewakan orang yang percaya padaku. Apalagi sampai membuat gadis cantik di hadapanku ini menangis." Naruto memberikan senyum tulus. Mata nya terpaku pada genangan air di sudut mata gadis itu, tangan nya turun dan menyeka nya pelan hingga membuat semburat merah di pipi Hinata.

Toneri hanya diam melihat perlakuan tidak biasa dari Naruto, dia mengepalkan tangan nya,"Hina..-"

"Hinata!" Naruto mengenggam tangan gadis itu cepat. "Ada yang ingin ku sampaikan soal iklan kita. Ayo.." Hinata terkejut saat dirinya di bawa pergi oleh laki-laki itu. Dia menoleh sekilas pada Toneri yang diam saja dan menatap nya penuh arti.

.

.

.

Hinata menurut saja saat dirinya di dorong masuk kedalam mobil mewah Naruto.

"Aku akan kembali ke apartemenku dulu. Memakai jas ini begitu melelahkan!" Hinata tidak sadar bahwa Naruto telah melepas jas luar nya dan melempar kebelakang.

"Apa aku harus ikut?"

Naruto menoleh menatap Hinata, dia terdiam dan menggaruk pipinya, "Kau mau masuk ke apartemen ku?"

Semburat merah memenuhi wajah Hinata, dia menunduk malu. "M-maksudku bukan itu.."

Naruto terkekeh. "Aku tau.. aku tau."

Mobil itu melaju keluar dari wilayah perusahaan besar itu. Apartemen Naruto berada di kawasan elit. Dari balik jendela, Hinata menatap kagum jajaran apartemen mewah yang menjulang tinggi. Mobil itu masuk ke basement tempat mobil lainnya terparkir.

Hinata melihat bagaimana keren nya seorang laki-laki yang memarkirkan mobil nya dengan mulus padahal wilayah parkir ini sedang dipenuhi oleh banyak mobil lain.

'Pantas saja, adegan ini selalu ada di drama romantis yang di tonton Hanabi .' Tatapan Hinata tidak lepas dari tangan Naruto yang menempel di belakang kursi tempat nya duduk. Sepasang sapphire itu terlihat fokus menatap kebelakang. Tangan kiri nya sibuk memutar kemudi mobil.

Hinata jujur, laki-laki ini selalu bisa membuat dia terpesona dan terpaku diam.

"Kenapa?"

Hinata tersadar, dia mendongak menatap wajah tampan yang juga ikut menatap nya. Wajah nya mendadak merah karena ketahuan mengintip kegiatan menggiurkan di hadapannya.

"Ganteng ya?" Laki-laki itu menyeringai.

"Eh?"

Naruto tertawa keras melihat wajah Hinata yang semakin merah. Dia memegang perut nya sakit, "astaga, Hinata kau itu mudah sekali di tebak."

"Kau suka sekali menggoda ku, Naruto." Gadis itu mengerucutkan bibirnya, kesal.

Naruto tersenyum, "Hei Hinata."

Hinata menatap sepasang sapphire blue itu. "Ada apa?"

"Daripada bekerja, bagaimana kalau kita jalan-jalan saja? Aku merasa capek sekali."

"Jalan-jalan?" Hinata menatap bingung.

"Benar, jalan-jalan. Ah mungkin bisa disebut kencan kali ya.. seperti waktu itu, saat kita makan ramen bersama. Ya! Ayo kencan dengan ku." Naruto tersenyum lebar.

Blush! Hinata mendapat serangan kuat. Wajah nya pasti merah sekali. Bagaimana bisa laki-laki itu mengucapkan hal tabu pada dirinya yang belum pernah pacaran ini.

Naruto terkekeh kecil, dia melepas sabuk pengaman nya. "Mau naik atau tunggu disini?"

"A-aku tunggu disini saja." Hinata menunduk, dia meremas kuat sabuk pengaman nya. Dia harus menyembunyikan wajah memalukan ini.

Naruto mengangguk, dia keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam lift.

"Ah malas sekali" Naruto menggumam pelan, dia menatap layar hitam yang menunjukkan lantai tempat dia berada sekarang.

Laki-laki itu beralih menatap pantulan dirinya di pintu lift.

"Tampan.." Naruto kembali bergumam, tangan kanan nya mengacak rambut pirang nya dengan ekspresi datar.

"Kaya, genius." Laki-laki itu tersenyum meremehkan, dia kembali memasang jas mahal nya dan merapikan pakaian nya.

"Dan juga...-" Sekarang dia menyentuh pintu lift itu dengan kepalan tangan kanan nya.

"Baik hati." Tidak ada yang bisa menebak suasana hati laki-laki itu sekarang. Marah? Malas? Senang? Atau sedih. Dia tetap menatap pantulan dirinya dengan ekspresi yang tidak bisa di jelaskan.

Lift terbuka, Naruto berjalan lurus, mengabaikan tatapan kagum seorang wanita yang berpapasan dengan nya di depan lift.

"Ano.. Uzumaki-san."

'Menjengkelkan..' Naruto berbalik dan tersenyum manis, "Ya?"

"Ah benar, Naruto Uzumaki -san, kan?" Wanita cantik itu tersenyum senang, dia berjalan mendekat ke arah Naruto.

'Wanita kantoran. Umur? 25 tahun, ah tidak. Mungkin mendekati 27 tahun ke atas. Cantik, kaya, dan uh.. pakaian yang kentat sekali. Apa dia bisa bekerja dengan pakaian seperti itu? Dan juga, Ah benar, wanita ini..'

Wanita itu menyelipkan rambut nya ke belakang telinga, dia malu di tatap oleh laki-laki muda yang merupakan deretan orang berpengaruh dalam perekonomian Jepang. 'Ah tidak-tidak.. aku akan di anggap orang dewasa yang gagal karena memacari anak laki-laki di bawah umur. T-tapi..-'

Naruto menatap bingung perempuan yang malah asik dalam pikirannya. Tanpa sepengetahuan wanita itu, Naruto tersenyum tipis. 'Ah benar-benar... wanita ini..'

'Model wanita yang paling kubenci .'

'Naruto uzumaki! Dia tampan sekali'

Kedua orang itu saling menatap dengan pemikiran yang bertolak belakang, Naruto merasa tulang pipi nya sakit karena harus menahan senyuman di depan wanita ini. 'Kenapa dia tidak berbicara juga. Aku harus berganti pakaian dengan cepat. Ini menyebalkan! Melelahkan! Dan juga ada Hinata yang masih menunggu ku di mobil. Bisa-bisa dia marah'

"Naruto-san. Ah! Boleh saya panggil seperti itu." Wanita itu tersenyum malu-malu.

"Anda ini berkata apa. Tentu saja anda bisa memanggil saya seperti apapun yang anda mau. Saya kan lebih muda dari anda." Naruto memberikan senyum ramah nya.

'Baru bertemu sudah memanggil nama depanku, tidak sopan sekali...-'

'Tidak, Naruto! Senyum bisnis. Senyum bisnis. Tahan dirimu Naruto, kau tidak boleh mengacaukan nya. Bisa saja wanita tua ini adalah anak pemilik sebuah perusahaan. Ayo tahan!'

"Ahahaha.. benar. Tapi, Naruto-san, a-aku tidak tau, kau tinggal disini."

"Rupanya kita bertetangga ya"

Wanita itu tertawa kecil, "Eh, Iya. Aku tinggal di kamar 1402."

Setiap koridor hanya memiliki 2-3 kamar saja. Jadi tentu saja kesempatan bertemu dengan orang lain satu koridor sangat kecil. Ini cocok untuk orang-orang yang memiliki kekayaan dan ingin menghindari perhatian orang lain, seperti idol.

"Ah, kamar itu. Kalau aku..-"

Drrt~ Drrt~

Perhatian Naruto teralihkan, dia mengambil hp nya. Laki-laki itu tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum melihat nama siapa yang tertera di layar.

"T-teman mu ya?" Wanita itu bisa melihat wajah berseri dari laki-laki tampan itu. Dia menggigit bibir nya.

"Bukan. Gadis ini adalah kekasihku."

Wanita itu syok, "ah.. Kekasih ya.. itu pasti Haruno-san kan?"

"Sakura? Anda kenal Sakura?"

"Ya sedikit."

Naruto menghela napas lelah, rupanya wanita tua ini adalah kenalan Sakura. "Sakura bukanlah kekasihku. Dia hanyalah salah satu temanku."

"Aku tau, tetapi Naruto-san tidak pernah mencintai pacar Naruto-san kan? Haruno-san mengatakan nya padaku, Walaupun Naruto-san memiliki banyak kekasih tetapi Haruno-san tetaplah wanita yang paling penting di hidup Naruto-san."

Apa lagi ini, benar-benar membuatnya sakit kepala. Kenapa omong kosong seperti itu malah menyebar luas. Dia tidak boleh lengah lagi. Semua gosip tentang dirinya dan gadis pink itu harus dimusnahkan.

"Maaf ya, Nona. Tetapi, Sakura hanyalah temanku. Dan tidak akan pernah menjadi kekasihku."

"Kalau begitu..-"

Naruto menghela napas, "soal rumor percintaan ku sebelumnya, aku tidak akan mengatakan apapun. Tetapi sekarang aku benar-benar mencintai kekasihku ini"

Naruto menekan tombol jawab dan meletakkan hp nya di telinga nya. "Jadi kutekankan sekali lagi, Sakura itu, dia bukan kekasihku.."

Laki-laki itu berbalik pergi meninggalkan wanita itu.

"T-tunggu.. Naruto -san."

Naruto tidak mengubris panggilan gadis itu, dia berlalu pergi dari sana. "Halo hime"

Tidak ada jawaban, laki-laki itu bingung, dia berhenti menekan password kamar nya. "Halo Hinata. Haloo"

Tiit!

"Ah aku menekan tombol yang salah." Dia menurunkan hp nya dan berniat mematikan panggilan. Mungkin gadis itu salah pencet.

"K-kekasih?"

Laki-laki itu kembali menaruh hp nya di telinga karena mendengar suara gadis itu pelan. "Apa yang kau katakan barusan? Aku tidak mendengarnya.."

"Maafkan aku. A-aku.."

"Ada apa Hinata? Kenapa kau meminta maaf?" Naruto menunggu perkataan Hinata dengan sabar, kali ini laki-laki itu berhasil menekan password dengan benar. Dia melepas sepatu dan berjalan ke arah kamar nya

"Aku ingin pulang."

"HAH?!"

Naruto berhenti melepas pakaian nya, "kenapa? terlalu lama ya? T-tadi ada wanita tua.. ah tidak maksudku ada seseorang yang mengajak ku berbicara. Tunggu! Aku akan segera kebawah."

"Aku..-" Suara Hinata terhenti, dia terdengar mengambil napas panjang dan menghembuskannya perlahan. "A-aku ingin kembali ke perusahaan. Jadi, sampai jumpa besok, Uzumaki-san."

"H-hinata?! Hei tunggu. Oi" Naruto memasang celana nya dengan tergesa-gesa. Laki-laki menyambar jaket nya dan bergegas keluar.

"T-tunggu Hinata. Aku akan tiba disana. Jangan pulang! Tunggu! Tunggu aku ya." Naruto mematikan panggilan dan menekan tombol menutup lift dengan tergesa-gesa. "Astaga mengapa lama sekali menutupnya"

Tatapan laki-laki itu teralihkan dengan pantulan dirinya di pintu lift. Berbeda dari yang tadi, keadaan nya sekarang jauh dari kata rapi dan bermartabat. "Oh astagaa..." Dia merapikan rambut nya yang benar-benar acak-acak kan. Pakaian nya bahkan tidak merceminkan laki-laki yang cerdas.

Dia terkekeh, "Gadis ini benar-benar tidak sabaran." Hanya hinata yang bisa membuat seorang Uzumaki Naruto terlihat seperti ini. Dia menggeleng tidak percaya. Laki-laki itu melihat sekali lagi pantulan dirinya. "Tapi ya.. tidak buruk juga." Dia tersenyum tipis.

Tap tap tap

Naruto membuka mobil nya dengan cepat. Dan benar, Hinata sudah tidak ada di sana. "Astaga, benar-benar..."

Dia bisa saja mengabaikannya hal ini dan kembali beristirahat. Tapi.. "Arghhh.. kemana dia!" Laki-laki itu menjambak rambut pirang nya

"Ah benar, dia mungkin masih berada di loby." Dia kembali berlari ke lift dan bergegas masuk

"Astaga bodoh sekali! Kenapa tidak memikirkan kemungkinan seperti itu dengan cepat. Sejak kapan kau menjadi bodoh seperti ini, Uzumaki Naruto."

Naruto berlari keluar. Dia mendekati satpam yang menjaga di depan gedung. "Hei! Apa kau melihat seorang gadis berambut indigo. Tinggi nya seperti ini."

"Ya?" Penjaga itu terlihat bingung karena di suguhkan pertanyaan dengan cepat.

"KAU MELIHAT NYA ATAU TIDAK!"

"A-aku melihat nya! Aku melihat nya. Gadis itu baru saja lewat beberapa menit yang lalu."

"Baiklah terima kasih." Naruto berlari menjauh dari gedung. Sepasang sapphire itu menatap orang-orang yang berkeliaran di sekitar komplek apartemen mewah itu. "Untuk mendapatkan taxi di wilayah ini cukup sulit karena biasanya mereka menggunakan mobil pribadi. Jadi mungkin.."

Naruto berlari ke arah halte terdekat. Dan letak nya sangat jauh sekali. 'Sekarang aku terlihat bodoh sekali! Hanya karena seorang gadis yang seperti nya marah padaku, aku harus berlari seperti ini daripada menggunakan mobil mewah ku.'

"Tapi.." Laki-laki itu berusaha berlari cepat ke arah halte.

"Mungkin.. ini kemungkinan saja. Jika aku memilih berbalik kembali ke mobilku, a-aku.. aku mungkin akan kehilangan nya."

'Astagaaa! Aku bodoh sekali! Seolah aku tidak bisa bertemu dengan nya besok.'

Mata nya menangkap sosok gadis yang berhasil membuat dirinya berlari jauh untuk pertama kali dalam hidupnya hanya untuk menemukan seorang perempuan.

Kaki nya perlahan melambat. Dia berjalan mendekati sosok yang masih tidak menyadari akan kehadirannya.

'Kenapa?'

Irama jantung nya masih kacau, napas nya tersenggal-senggal, dan juga keringat membasahi seluruh pakaian nya sekarang. Lupakan image tampan yang melekat padanya, dia sekarang terlihat sangat berantakan! Padahal Naruto benci sekali berada dalam situasi menyedihkan seperti ini.

'Tapi kenapa?'

Mendengar suara gadis itu yang bergetar di panggilan terakhir mereka membuat dirinya kehilangan akal. Dia ingin segera melihat wajah gadis itu. Dia tidak bisa menunggu besok atau pun hanya 1 jam lagi. Sekarang! Dia ingin melihat wajah itu sekarang juga!

Kaki nya berhenti dengan sempurna. Dia terkekeh pelan, bagaimana bisa pemikiran seperti itu muncul. "Aku terlihat seperti seorang remaja yang baru saja menemukan cinta pertama nya."

Naruto kembali menatap Hinata yang mulai menjauh lagi. Laki-laki itu menghela napas. Dia berlari mendekat dan menepuk pelan pundak gadis itu. "Tertangkap."

Bisa dilihat gadis itu terkejut, dia berhenti berjalan tetapi dia tidak berbalik untuk menatap Naruto. "U-zumaki-san?"

"Ya ya.. Aku Uzumaki Naruto yang itu. Kau mengingatku Hinata hime-san" Laki-laki itu bingung, gadis ini masih juga tidak mau berbalik menatap nya.

"Jadi ada alasan apa hingga membuat putri cantik ini kabur. Kau tau pangeran mu harus berlari sangat jauh untuk menemukanmu. Padahal kau berjanji akan kenc..-"

"Uzumaki-san." Hinata mengucapkan nama Naruto dengan datar, seolah mereka baru saja bertemu. Perasaan ini...Hinata seolah menjaga jarak.

"Ap..-" Naruto tidak suka dengan nada dingin yang di dengarnya sekarang. Seolah mereka adalah dua orang asing. Seolah dia hanyalah karyawan biasa, ya walau itu benar. Tapi hei! Mereka bahkan makan bersama beberapa hari yang lalu, candaan nya juga di terima baik oleh Hinata tanpa ada amarah berlebih. Dan yang paling penting, dia tidak suka dirinya hanya di anggap orang asing biasa oleh gadis ini.

"Aku hanya merasa, aku hanya menganggu waktu mu dengan kekasihmu saja."

Kesimpulan tidak mendasar apa lagi ini? Apa ada berita omong kosong tentang kekasih nya lagi. Apa dia melewatkan sebuah berita omong kosong lagi dari para wartawan kurang kerjaan? Bagaimana bisa dirinya memiliki kekasih padahal dia sendiri tidak terlalu suka hal-hal merepotkan seperti itu.

Image baik hati yang melekat pada dirinya pun hanyalah topeng bisnis yang di ajarkan oleh paman nya. Sebenci apapun dirimu pada seseorang, jangan pernah menunjukkan kebencian itu. Kalimat itu yang melekat pada dirinya hingga sekarang.

"Aku tidak tau darimana kau mendengar gosip itu. Tapi..-"

Drrt~ Drrt~

Naruto kesal. Siapa yang berani memutus perkataan nya sekarang. Ini pasti ulah pamannya.

"Halo pam..- Ah Sakura?"

Gadis itu meremas ujung pakaiannya. Tanpa berbalik pun, dia sudah tau bagaimana ekspresi laki-laki ini. Jelas sekali itu adalah nama seorang gadis. Dia tau bahwa gadis sebelumnya yang berbicara dengan Naruto saat Hinata berada di mobil itu bukanlah kekasih nya, bisa dilihat dari nada bicara Naruto yang kelihatan enggan. Tapi sekarang, Naruto menyebut nama gadis bernama Sakura itu dengan intonasi yang berbeda, seolah mereka memiliki suatu hubungan yang rumit.

"Tentu saja, aku ada di apartemen ku, Sakura."

'Benar, ini adalah nama yang sama yang kudengar di panggilan tadi.'

Flashback

Hinata menatap jam di tangan nya dengan jenuh, mengapa Naruto lama sekali. Dia mengedarkan pandangan ke segala arah. Basement terasa sunyi sekali, sedikit membuatnya takut.

Dia merogoh saku nya dan mencoba menelpon Naruto.

"Mengapa lama sekali di angkat nya."

Tatapan gadis itu teralihkan oleh beberapa mobil yang meninggalkan basement.

'Wah mobil mewah semua. Kenapa mereka juga membunyikan klakson. Ya mungkin mau pamer' Hinata terkekeh dengan pemikirannya sendiri.

'ah di angkat.'

"Halo Na..-"

"Sakura...-

'Sakura? Siapa?' Hinata menyerngit bingung.

"Astaga.." Perhatian Hinata teralihkan dengan lampu sorot beberapa mobil yang tiba-tiba mengenainya.

"Kekasihku..."

'Eh..?' Hinata menatap mobil terakhir dalam diam. Tatapan nya berubah kosong. Ucapan apa yang baru saja di dengarnya. Sebuah pengakuan kah? Sakura? Siapa itu Sakura?

Hinata dengan jelas mendengar suara itu, suara Naruto. Dan ucapan nya soal gadis bernama Sakura adalah kekasih nya. Walau dengan kebisingan mobil dan klakson yang berbunyi nyaring yang melewati mobil Naruto, dia masih bisa mendengarnya dengan jelas.

Flashback end

Hinata tidak tau kenapa dia bersikap seperti ini, tapi untuk sekarang, dia harus pergi dan menenangkan diri. Rasanya benar-benar tidak sanggup walau hanya menatap sekilas wajah laki-laki yang masih asik berbicara dengan kekasihnya di belakang nya.

"Hinata.." Naruto menahan tangan gadis yang kembali ingin lari dari dirinya. "Hinata, ada apa?"

"Hinata? Gadis itu? Kau bersama dengan gadis itu sekarang, Naruto. Di dalam apartemen mu?"

Naruto menghela napas lelah, kenapa gadis pink ini kembali menggangu dirinya. Dan juga..

"Hinata, apa ada sesuatu yang terjadi?" Naruto mematikan panggilan Sakura secara sepihak. Masalah Sakura mengetahui nomor telepon nya akan dia pikirkan nanti.

"Tidak ada. Aku hanya ingin pulang dan melanjutkan pekerjaan ku. Kau lupa? Waktu kami semakin sedikit. Masih banyak yang di kerjakan. Ah aku juga harus mengadakan rapat dengan karyawan ku. Ahaha benar, aku akan menyuruh mereka bergadang hari ini."

"Denganku..-" Naruto mengeratkan genggaman nya pada pergelangan tangan Hinata. "N-naruto?"

"Akhirnya kau memanggil namaku juga." Gumam laki-laki itu pelan, nyaris tidak terdengar.

"Ya?" Hinata berniat berbalik sebelum tubuh nya di tahan oleh Naruto. Gadis itu bingung karena dirinya malah tidak di perbolehkan menatap Naruto.

Naruto mendekati telinga Hinata dan berbisik pelan,"Denganku saja. Jangan berduaan dengan laki-laki lain." Naruto mendelik tidak suka saat membayangkan Hinata berduaan di kantor yang sepi bersama Toneri.

Hinata memerah, dirinya mematung sempurna tak bergerak sedikitpun. Bahkan saat Naruto menarik tangan nya pun dia tidak bereaksi. Pasrah di bawa kembali ke arah apartemen milik laki-laki itu.

"A-ayo kita kencan di apartemenku saja."

Hinata mendongak menatap laki-laki yang terlihat lebih tinggi darinya. Pirang jambrik yang menyilaukan dan mempesona, bagaimana bisa rambut acak-acakkan seperti itu membuat nya semakin menawan.

"Kau mau?" Naruto tersipu sendiri dengan ucapan nya barusan. Dan semakin malu karena gadis yang di tarik nya tidak merespon apapun.

"H-hinata." Laki-laki itu berhenti dan berbalik ke arah gadis itu. Naruto semakin memerah melihat wajah Hinata yang malah lebih merah dari nya.

"M-maksudku bukan itu.. hei kau berpikiran apa?"

Hinata menggeleng cepat. "Aku tidak berpikiran apa-apa." Dia mengibaskan tangan nya.

"Pffft..." Naruto tertawa kecil, dia mengusap pelan rambut gadis itu. "Kau pasti memiliki sesuatu yang ingin dikatakan padaku."

"Aku?"

Naruto mengangguk, "kau marah padaku?"

Gadis itu memalingkan wajahnya, "bukan marah. Hanya memikirkan sesuatu yang membingungkan."

Naruto tersenyum tipis, dia meraih tangan kanan gadis itu dan mencium jemari nya, tanpa melepas tatapan nya terhadap wajah gadis yang semakin memerah. Dia menyeringai.

Perbuatan mereka menjadi tontonan menarik dari beberapa orang yang lewat.

'Naruto baka! Bagaimana jika ada reporter yang lewat. Bisa-bisa besok..'

Tentu saja, Naruto telah memikirkan kemungkinan itu. Semua nya hingga saat ini. 'Bukan hal yang buruk. Dan itu adalah tujuanku.'

Naruto menjauhkan bibirnya dari tangan Hinata, dia menurunkan tangan gadis itu. Akan tetapi, Tangan nya kembali mengelus pelan rambut gadis yang masih terpaku diam akan perbuatannya barusan.

Tangan nya turun untuk mengelus pipi gadis itu. Dia membelai nya dengan lembut.

Naruto menyukai semburat merah yang memenuhi kedua pipi gadis itu. Sangat menggemaskan.

'Seorang gadis cantik dan penurut. Dia adalah kandidat yang pas untuk menjadi kekasih uzumaki Naruto dan menjauhkan lalat-lalat sialan yang beterbangan disekitarku.'

"Naruto?" Hinata tidak menolak sentuhan lembut di pipi nya, laki-laki itu masih tidak berbicara dan terus menatap nya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.

"Hinata, mau kah kau membantuku?" Naruto tersenyum.

'Gadis ini..-' Laki-laki itu menyeringai

.

.

.

.

.

'Mulai detik ini, Hinata Hyuuga akan ku jadikan milikku. Hanya milikku'

Tbc

Sebenarnya untuk chapter ini, aku lebih memperpanjang nya dari chapter sebelum-sebelumnya. Apa kalian sadar? Tidak panjang-panjang amat juga sih.

Biarkan aku mendengar semua keluh kesah kalian, saran ataupun kritik. Kritik tajam pun ku terima, karena memang aku yang salah?

Sampai jumpa chapter depan~

Sebenarnya aku tidak bisa berjanji kapan akan update, tapi aku usahakan secepatnya^^ maaf, aku memang penulis tidak berguna. Tolong jangan lupakan aku? ゚ᄂᆪ

Enjoy