The king and Hime
.
.
.
.
.
Naruto adalah milik Masashi Kishimoto
.
.
.
.
.
Chapter 10
"Baiklah, Tenten Nee-san. Terima kasih dan Jaga dirimu baik-baik." Hinata mematikan panggilan nya dan tersenyum tulus. Dia berharap yang terbaik kepada hubungan antara kakak nya dan gadis bercepol dua itu. Tenten adalah gadis yang baik, keberadaan nya mungkin dapat membantu kakaknya agar cepat tersadar.
Dia percaya, keberadaan seseorang yang kakak nya rindukan dapat membawa kesadaran kakak nya kembali.
Perhatian Hinata beralih pada Naruto yang menikmati similir angin di bawah pohon rindang. Taman begitu ramai dengan berbagai aktivitas oleh orang kota. Mereka begitu asik hingga tidak menyadari keberadaan tokoh utama dalam majalah ekonomi jepang ini. 'Memang ya, orang tampan, dilihat dari sisi manapun tetap..-'
"Aku baru saja menyelesaikan sesuatu yang sangat hebat." Ucap Naruto tiba-tiba. Dia beralih menatap Hinata dan tersenyum.'
Gadis itu berdehem, "Apakah tentang kebijakan itu?"
"Bingo." Naruto tertawa. Dia meminum botol air di sampingnya. Laki-laki melirik Hinata yang terlihat penasaran bagaimana dirinya bisa menyelesaikan hal itu. Dia terkekeh dan menutup botol air itu.
"Akan kuberitahukan" Dia mendekat ke arah Hinata dan membisikkan sesuatu di telinga gadis itu. "Tapi ada syaratnya." Naruto tersenyum misterius.
Hinata terlihat makin penasaran. Dia mengangguk. "Syarat seperti apa?"
"Aku ingin ini..-" Naruto menyentuh bibirnya dengan telunjuk. Laki-laki itu menekan-nekan bibirnya mencoba membuat Hinata mengerti.
Blush! Wajah Hinata memerah sempurna. Dia segera menjauhi laki-laki itu."D-dasar bocah mesum!" Ucapnya kesal tapi terlihat imut karena pipinya memerah.
"Aku adalah bocah mesum yang tampan. Bukankah karena hal itu kau sejak tadi menatapku saja" Naruto nyengir.
.
.
.
.
.
Di ruangan CEO, Nagato terlihat sibuk dengan dokumen yang menumpuk di meja nya. Akhirnya, pihak pemerintahan mulai menunjukkan reaksi. Sebagian dari mereka yang memilih setuju dengan usul dari Naruto. Ya karena selain bekerja di pemerintah, mereka juga memiliki pekerjaan dibidang ekonomi.
Jepang mungkin tidak berada dalam situasi krisis yang mengharuskan rakyatnya menderita dalam urusan pajak. Tetapi, rencana pembangunan besar-besaran membuat pemerintah tidak memiliki pilihan lain. Mereka berpikir, daripada berhutang dengan negara lain. Lebih baik mereka memanfaatkan perusahaan-perusahaan yang berada di negara mereka.
Kebijakan ini memang akan di tentang, tetapi jika memikirkan jangka panjang nya sendiri, keuntungan yang didapat kan juga berlangsung lama bahkan hingga ke generasi-generasi berikutnya.
Tapi pemerintah tidak menyangka bahwa respon rakyat akan senegatif ini. Mereka benar-benar menolak dengan keras dan tidak berniat mundur dari keputusan mereka.
Usul dari Naruto merupakan angin baru untuk Jepang. Kemungkinan hal ini akan meredam perang dingin antara dua kubu di dalam jepang.
Nagato berdiri. Dia berjalan ke brankas kecil yang terselip di antara buku dilemari kayu di sampingnya. Laki-laki itu mengambil gulungan kertas yang terikat rapi dan membuka nya. Kertas itu merupakan rancangan produk yang akan luncurkan tidak lama lagi. Ini adalah hasil kerja keras nya bersama Naruto.
"Rupanya aku adalah orang yang sayang keponakan" Dia terkekeh dan kembali mengikat gulungan kertas itu.
.
.
.
[Washington D.C, Amerika Serikat]
Drrt~ Drrt~
Perhatian laki-laki itu teralihkan saat merasakan getaran di saku celana nya. Dia berhenti mengetik sesuatu di keyboard laptop nya.
"Ini berita jepang. Kalau begitu sekarang...-" dia melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 03.30 pagi.
"..- jam 04.30 sore kan."
Matanya melebar sesaat melihat berita terbaru dari tanah kelahirannya itu. "Si bodoh itu tidak bisa kupanggil bodoh lagi. Dia selalu berhasil mengejutkan semua orang."
Laki-laki itu berdiri dan berjalan ke arah jendela. Suasana malam menjelang pagi ibukota Amerika masih tetap indah untuk dilihat walau dia sudah lama tinggal disini. Senyum tipis terukir di bibirnya, laki-laki tampan itu menyerumput kopi instan yang tidak lama ini menjadi varian kopi favoritnya.
"Si bodoh ini.. dia berniat jadi presiden ya?"
Kembali, dunia bisnis Jepang diguncangkan oleh berita yang baru dirilis oleh salah satu perusahaan berita yang terkenal disana. Wajah seorang anak muda menjadi cover utama berita telivisi, majalah, dan koran yang membahas bisnis. Kebijakan baru yang berhasil membuat geram hampir seluruh lapisan masyarakat berhasil dipadamkan dengan kemunculan berita ini, ditambah pelaku utamanya adalah seseorang yang telah disorot bahkan oleh perusahaan lain di berbagai belahan dunia.
Hinata menatap layar ponsel nya dengan tidak percaya, dia melirik orang disampingnya yang masih setia tersenyum lebar ke arahnya. Wajah tanpa dosa yang sedang menatap nya itu tidak terlihat terkejut saat Hinata menampilkan berita terbaru yang sedang dibacanya. Naruto hanya ber'oh' ria dan kembali nyengir tanpa beban.
"Kau..-" Gadis itu akhirnya tersadar. Keberadaan laki-laki ini sedang rawan. Posisinya yang berada di taman kota yang ramai bukankah akan memicu kehebohan jika dirinya diketahui oleh orang-orang disini. Dia segera berpindah ke depan Naruto dan menghalangi laki-laki itu dengan kedua tangan nya.
"A-apa yang sedang kau lakukan, hime?"
Naruto memegang kedua tangan Hinata dan menurunkannya. Karena gadis itu sedang setengah berdiri di hadapannya, yang tentu saja Hinata lebih tinggi karena Naruto sedang duduk, dia harus mendongak untuk menatap wajah khawatir dari gadis itu.
"Ka-kau ini! Kenapa masih bisa santai setelah berita ini. Bagaimana jika ada yang sadar dengan keberadaan mu? Bagaimana jika banyak wartawan yang datang? Astaga aku tidak memakai jaket untuk melindungimu. Cepatlah merapat sini!" Hinata kembali menutup wajah Naruto dengan kedua telapak tangannya.
"Pfft.." Laki-laki itu tertawa pelan. Dia mundur sedikit dan menatap diam Hinata yang kelihatan sangat khawatir padanya. Gadis itu melirik ke kiri dan ke kanan dengan takut. 'Dengan posisi begini, membuatku ingin memeluknya'
Naruto menyeringai, dia menginginkannya lagi, wajah malu-malu Hinata saat laki-laki itu menggodanya, dia ingin melihatnya sekali lagi. 'Apa aku peluk ya'
"K-kenapa melihatku seperti itu?" Hinata menatap bingung laki-laki yang mendadak diam.
Naruto mengalihkan pandangan terkejut. Dia malu karena tertangkap basah menatap wajah Hinata terlalu lama. Semburat tipis memenuhi pipinya.
'Ah itu..-' Naruto menangkap kehadiran seseorang yang terlihat mencurigakan; bersembunyi di balik semak-semak. Tebakan Hinata benar, ada wartawan yang sekitar mereka. Tetapi sepertinya orang itu ingin memotretnya diam-diam. 'Dan sekarang aku bersama seorang gadis. Bukankah ini berbahaya' Naruto terlihat berpikir.
'Atau tidak..' dia kembali mendongak ke arah Hinata dan menyeringai.
Hinata merinding melihat tatapan aneh dari laki-laki yang sedang di lindungi nya itu. Dia segera berdiri, berada di posisi sebelumnya cukup melelahkan juga. "Kenapa kau menyeringai aneh seperti itu."
"T-tidak apa-apa" Naruto menutup mulutnya dan kembali memalingkan pandangannya. 'Aahh aku harus mengontrol ekspresiku.'
Naruto melirik Hinata yang sekarang berdiri di hadapannya, 'dia kan tidak suka perhatian berlebihan' Naruto berdiri dan meregangkan badannya. Sayang sekali, rencana piknik romantis mereka harus tertunda. Naruto bahkan belum mengutarakan alasan sebenarnya dia mengajak Hinata keluar.
'Dia mungkin menolaknya jika berita tentang kami keluar lebih dulu' Laki-laki itu merasa bahwa berita tentang kedekatannya dengan Hinata akan segera keluar.
'Untuk sekarang, mari kita mengajak nya makan malam' Naruto mengacak rambut pirang jambring nya. "Ayo pergi." Ajaknya.
Mereka berdua berhasil meninggalkan taman dengan mulus, Naruto juga menyadari bahwa wartawan yang memotret mereka diam-diam juga berhenti mengikuti. Dia melirik Hinata yang sedang fokus melihat layar ponsel nya.
"Apa yang sedang kau lakukan, hime?"
"Kau mengorbankan rancangan perusahaan mu?" Hinata berpaling kaget ke arah Naruto yang membuat si empunya terkekeh sesaat.
"Yaah.. agak disayangkan sih, but it's okey..." Dia tersenyum.
Hinata terlihat penasaran, "Berapa persen?"
"Apanya?" Naruto sedikit menggoda gadis itu, dia memasang wajah bingung.
"Pembagian hasilnya!" Gadis itu menaikkan intonasi nya. Dia menunggu dengan tidak sabar. Laki-laki itu terlihat berpikir sesaat,
"Hm.. 60 40"
Gadis itu terkejut, bukankah itu berarti ada diantara dua belah pihak yang rugi. "Siapa yang 60%?"
Naruto melirik sekali lagi ekspresi Hinata yang sangat penasaran, imut sekali. Dia memasang wajah berpikir sekali lagi. "Presiden?"
"Kau gila?!" Kali ini Hinata berteriak keras. Naruto terkejut sesaat, dia tidak menyangka gadis ini ikut berteriak kepadanya selain Nagato. "Pfftt bwahahaha..." Naruto tertawa keras, dia bahkan menyeka jejak air mata di sudut matanya.
"Kenapa kau bisa tertawa sekarang?"
Naruto meminggirkan mobilnya dan menghentikannya sesaat. Dia tidak bisa berkendara dengan wajah Hinata yang marah tetapi begitu menggemaskan dan sedang duduk di sampingnya.
"Kenapa ya?" Naruto memiringkan wajahnya imut, mencoba menggoda Hinata yang semakin kesal.
"Bukankah itu rancangan yang hebat hingga pemerintah menyetujui nya dengan mudah"
"Oh kau benar."
"Lalu kenapa.." Hinata menghela napas lelah, dia tidak habis pikir, mengapa laki-laki genius ini mau uang hasil rancangan berharga mereka di berikan kepada pemerintah lebih banyak.
Naruto tersenyum lembut, laki-laki itu mengulurkan tangan nya dan mengusap pelan pipi Hinata
"Jawab aku." Gadis itu menepis tangan Naruto walau pipi nya memerah karena perlakuannya sekarang.
"Ada apa?" Gadis itu menatap Naruto yang terdiam.
"Hm.. aku hanya berpikir, kenapa ya aku mau rugi seperti ini. Seperti bukan gayaku saja" Dia juga mencubit pipi lembut itu yang tentu saja di balas tatapan tajam oleh si empunya.
Flashback
Naruto menatap semua perwakilan dari perusahaan-perusahaan yang bekerja sama dengan Uzumaki corp. Walau dengan cahaya minim, dia bisa melihat wajah terpuruk mereka. Sepasang Sapphire blue itu berbalik menatap CEO dari perusahaan yang memperkerjakan dirinya sementara.
Gadis itu menunduk dan bergetar hebat. Sepertinya kebijakan baru itu benar-benar mengejutkannya. Naruto menghela napas 'Dia pasti terbebani sekali'
Dalam cahaya remang-remang, Naruto berpaling ke arah jendela di samping nya. Sepasang sapphire blue itu menatap cahaya terang dari jalanan Jepang yang terlihat kecil jika dilihat dari ruangan CEO. Pamannya sudah memilih pulang dan tertinggal dirinya yang masih setia memikirkan tentang keputusan apa yang akan di ambilnya.
Laki-laki bersandar nyaman di kursi CEO. Dia menghela napas dan mengalihkan pandangannya pada gulungan kertas yang terbuka. Dia menghabiskan waktu yang tidak sedikit untuk membuat rancangan produk tersebut.
Dia baru saja bertengkar hebat dengan Nagato. Padahal sebelumnya, pamannya tersebut mengangguk setuju tetapi setelah mendengar tentang pembagian hasil yang merugikan itu, pamannya menentang dengan keras.
Tetapi dia menjelaskan bahwa ini satu-satunya cara agar pemerintah menerima usulan mereka. Hak paten memang akan di serahkan kepada perusahaan mereka tetapi pembagian hasil penjualan akan lebih menguntungkan pemerintah.
Dia menatap pantulan dirinya di jendela tersebut. "Kenapa kau harus berbuat sejauh ini. Pajak 40% lebih besar? Memangnya kenapa? Perusahaan kami tetap bisa membayarnya." Naruto kembali memutar kursi nya ke arah meja dan duduk dengan tegak. Dia mengangguk yakin.
Laki-laki itu tiba-tiba menghela napas, "Tapi ya..-" dia memejamkan matanya dan kembali bersandar pada kursi. "Untuk perusahaan kecil, bukankah ini sangat tidak mungkin."
Dengan di temani cahaya bulan, hanya terdengar helaan napas panjang dari laki-laki itu. "Kau benar-benar gila Naruto"
Flashback end
Hinata kembali menepis pelan tangan Naruto yang membuat si empunya tersadar. Gadis itu kembali ke posisi awalnya. "Sepertinya aku berhutang padamu, Naruto"
Naruto tersenyum, dia kembali memasang seatbelt dan menjalankan mobil. "Mau kuberitahu bagaimana melunasi nya?"
Laki-laki itu berpaling ke arah Hinata, "Kabulkan satu permintaan ku dan...-"
Hinata menyerngit bingung, "dan..?"
"Ayo makan malam denganku."
.
.
Walau Naruto mengajak nya seperti itu, sebenarnya dirinya tidak tahu dimana bisa makan malam bersama dengan Hinata dalam damai. Akibat berita ini; tentu saja mereka tidak bisa makan di restoran. Naruto akan mudah di kenali disana dan akan berujung kegaduhan yang menyebalkan.
Kedua insan itu berdiam diri setelah ajakan beberapa saat lalu oleh Naruto yang di sambut angukkan setuju dari Hinata.
Drrt drrt
Pesan masuk dari ponsel Hinata membuat perhatian si empu nya teralihkan. Gadis itu segera membalas pesan tersebut dengan cepat.
"Aku tidak terlalu suka tempat ramai" ucap Hinata tiba-tiba yang dibalas anggukan semangat oleh Naruto.
"Kalau begitu...-" ucapnya terpotong, Hinata terlihat ragu mengatakan kalimatnya.
Gadis itu menggaruk pelan pipi nya, canggung. "Itu.. kau mau makan dirumahku?"
Sepasang sapphire blue itu melebar sebentar. Naruto tersenyum lembut, "Oke"
From: Hanabi
To: Hinata
Gomen Hinata-nee. Aku harus pergi merayakan ulang tahun temanku. Kami juga akan sedikit sibuk karena menyiapkan beberapa hal untuk festival sekolah.
From: Hinata
To: Hanabi
Iya, Bersenang-senanglah
Mobil orange itu terpakir mulus di depan rumah yang dihuni oleh keluarga Hyuuga itu. Tidak lama, Hinata datang dengan motor bebek nya. Dia segera turun dan berjalan ke arah pintu.
"Masuklah.." Hinata membuka lebar pintu nya membiarkan tamu tak terduga ini masuk. Naruto dengan canggung melepas sepatu nya dan memasang sandal ruangan yang disediakan.
Laki-laki itu menyadari sesuatu yang kurang, "Adikmu?"
"Dia sedang bersenang-senang dengan temannya. Ah, aku permisi sebentar." Gadis itu berjalan ke arah kamarnya dan menutup nya pelan. Hinata akui bahwa dia benar-benar gugup di situasi ini. Oh ayolah, seorang laki-laki muda berkunjung kerumah dimana hanya ada dirinya sendiri.
Apa yang harus dilakukan seorang wanita dewasa sepertinya jika dihadapkan seperti ini. "Yaaah.. ini bukan berarti umur kami berbeda jauh. Cuma satu tahun lebih muda."
Blush~
'A-apa yang barusan kau pikirkan, Hinata! Laki-laki itu masih berada di bangku sekolah yang itu berarti, dia masih muda. Dia tidak berbeda jauh dengan adik nya.'
Hinata terdiam. Dia menatap pantulan tubuhnya di cermin besar yang ada dihadapannya. Wajah semerah tomat yang menghiasi pipi; semakin ditatap, semakin memalukan.
"Berhentilah bertindak memalukan dan ayo bersikap seperti wanita dewasa yang berpendidikan"
Di ruang tamu, Naruto terlihat asik memperhatikan pigura-pigura yang ada di rumah ini.
"Gadis yang lucu" Naruto mengangkat sebuah pigura yang menarik perhatiannya. Seorang anak kecil yang tersenyum manis menatap kamera. Dia terlihat senang dan memamerkan setoples kue di dekapannya.
Pikiran nya melayang pada ingatan yang tersimpan rapi di sudut otaknya. Ingatan tentang seorang gadis yang merasa bangga lebih tua darinya. "Benar-benar membawa kenangan.." nada suara laki-laki itu berubah, dia terdengar sendu.
Matanya menangkap pigura yang berukuran lebih besar dari yang lain, itu adalah potret keluarga besar gadis ini. Walau wajah ayah dan kakak laki-laki nya terlihat kaku, Naruto yakin bahwa mereka bahagia. "Aku bohong jika tidak iri." Bisik laki-laki itu pelan; nyaris tidak terdengar.
Keluarga pamannya adalah satu-satunya yang bisa dia panggil keluarga, tetapi pada nyatanya mereka bukanlah keluarga kecilnya. Dia sendirian. Dia bersama perusahaan yang ditinggalkan oleh orang tuanya.
Dia memang memiliki keluarga lain selain pamannya itu. Ya karena Uzumaki merupakan klan besar yang memiliki jumlah anggota yang tersebar di seluruh Jepang. Ah, orang-orang busuk yang mengincar harta itu tidak bisa dihitung.
"Maaf membuatmu menunggu." Hinata yang sudah mengganti pakaian nya menatap Naruto yang terdiam di hadapan pigura-pigura foto. Tanpa bertanya pun, Hinata sudah tahu bahwa ada yang tidak beres dengan laki-laki itu.
Wajah nya terlalu sedih hanya karena melihat pigura foto keluarga orang lain. Dia terlihat kosong dan sedikit mengerikan; seolah sedang mengutuk melalui tatapannya.
'Aku tidak harus nya peduli. Lagipula dia pasti teringat soal keluarga nya. Aku tidak boleh berusaha ikut campur' Hinata berbalik dan berjalan ke arah dapur. Dia harus menyelesaikan tujuan mereka datang kesini.
Keputusannya saat itu pada akhirnya membuat Hinata menyesal. Naruto yang sudah terlanjur dalam keadaan bad mood tidak berbicara sedikitpun. Laki-laki itu hanya membalasnya dengan gerakan tubuh seadanya, dia memakan makanan dihadapannya dalam diam.
Hinata ikutan canggung, dia merasa tidak enak jika langsung bertanya padahal dia tahu masalahnya.
"Terima kasih atas makanannya"
Hinata terperanjat saat Naruto segera berdiri setelah menyelesaikan makanan nya. Laki-laki itu berjalan ke arah pintu.
Apa-apa'an, apakah dia benar-benar hanya ingin makan malam? Bagaimana dengan permintaan yang satunya? "Kau akan pulang?"
Naruto berhenti. Dia berbalik dan mengangguk. "Maaf, Hinata. Aku lupa bahwa ada yang harus kukerjakan. Sampai jumpa besok"
Blam!
Hinata menghela napas lelah, dia tidak tahu bahwa laki-laki itu begitu emosional jika menyangkut keluarga. Seharusnya dia tidak mengabaikan nya seperti itu. "Pada akhirnya dia masihlah anak sma yang labil"
.
.
.
.
.
.
Disuatu ruangan, seorang laki-laki berumur 30 an terlihat santai meminum kopi dan bersandar nyaman di kursi kerja nya. Ruangan itu terlihat mewah dan juga elegan. Jari nya beberapa kali mengetuk-ngetuk meja menikmati alunan musik klasik yang terdengar.
Kring~ Kring~
Dia segera menghentikan pekerjaan nya dan mengangkat telepon. "Selamat malam."
"Aku akan pulang sebentar. Tolong siapkan semuanya"
Orang itu terdiam sebentar, dia mengenali dengan jelas ini suara siapa.
Tidak, daripada suara nya, dia lebih terkejut dengan perintah yang di terima nya barusan. Bukankah ini pertama kalinya semenjak kematian orang tua nya.
"Na-naruto-sama"
"Kau siapa?" Jelas, orang yang menjadi lawan bicara nya ini terlihat bingung. Dia tidak mengenali siapa yang sedang berbicara dengannya sekarang.
"Ah.. s-saya kepala pelayan yang baru. Saya anaknya, nama saya..-"
"Cukup!" Terdengar helaan nafas dari Naruto. Sepertinya dia tidak ingin mendengar penjelasan panjang. "Siapkan saja semuanya."
"B-baik, Naruto-sama"
Dia berdiri dan berjalan keluar dari ruangan pribadi nya dengan tergesa-gesa. Laki-laki itu tidak mengira bahwa tuan muda akan kembali pulang.
Dia harus memberitahukan kepada para maid untuk mempersiapkan kamar utama dan juga memperingatkan kepada tamu rahasia nya untuk berhati-hati.
Pintu mansion besar itu terbuka. Semua pelayan menunduk; memberikan salam kepada pemilik mansion yang akhirnya pulang setelah sekian lama. "Selamat datang, Naruto-sama"
Sepasang sapphire blue itu menyapuh pandangan ke arah rumah yang begitu membawa kenangan. Entah apa yang dipikirkanya hingga memutuskan kembali ke rumah yang sangat di bencinya ini.
'Tapi, aku tidak bisa selamanya menghindari ini.'
"K-kau disini, keponakanku yang tampan" seorang laki-laki yang terlihat seumuran dengan Nagato bergerak maju menghentikannya.
Naruto menyerngitkan dahinya sebentar, dia melirik tajam ke arah kepala pelayan yang menunduk takut. "Aku tidak tahu bahwa mansion ini berubah menjadi tempat penginapan."
Kepala pelayan itu bergidik ngeri. "M-maafkan saya, Naruto-sama"
"Jangan terlalu kaku seperti itu, sepupu!" Kali ini seorang laki-laki yang terlihat lebih tua dari Naruto maju.
'Sepupu katanya, apakah dia anak dari laki-laki tua yang barusan' Naruto tidak mengubris hal itu, perhatiannya teralihkan pada beberapa orang yang juga berdiri di belakang mereka berdua. Seorang wanita dewasa dan satu gadis yang terlihat seumurannya.
'Gila, dia membawa satu keluarganya' Naruto berpikir dia harus tenang. Dia tidak boleh bertindak kelewat batas.
"Siapa mereka?" Naruto kembali beralih ke arah kepala pelayan itu lagi.
"Itu..-"
"Ah.. ahahaha, maafkan kami yang bertindak kurang ajar. Bagaimana bisa aku tidak mengenalkan diri. Aku adalah paman mu." Orang tua itu mengulurkan tangannya.
Naruto hanya menatap uluran tangan itu sesaat. Dia beralih menatap orang yang mengaku pamannya itu dengan dingin."Paman?"
"Hei bocah! Bagaimana bisa kau menatap pamanmu seperti itu. Kau tidak diajarkan tata krama, hah!" Laki-laki yang seperti nya anak tertua paman kurang ajar maju kedepan dan menatapnya sengit.
"Berhentilah, Yugo. Dia adalah sepupu. Kau tidak boleh kelewat batas." Paman itu menahan anak nya. Dia masih tertawa ceria di hadapan Naruto.
"A-aku adalah sepupu ibumu, Naruto. Aku Uzumaki Daichi. Bocah ini adalah anak tertuaku, Uzumaki Yugo. Dan dia adalah istriku dan anak perempuanku; Emi Uzumaki dan Ayumi Uzumaki."
Naruto beralih menatap dua perempuan itu. Dia mendecak kesal dengan kedipan imut yang di lancarkan oleh Ayumi. Gadis itu berusaha menggodanya yang tentu saja membuat mood nya tambah buruk.
Kepala pelayan itu maju kedepan dan menengahi ketiga orang itu. "Mereka adalah keluarga Uzumaki dari Kyoto. Mereka pergi ke tokyo karena ada urusan bisnis, jadi saya memberinya tempat tingg..-"
"Tanpa seizinku?"
Kepala pelayan itu kembali merinding dengan tatapan tajam dari Naruto.
"Kau membiarkan mereka menumpang tanpa seizin pemilik rumah ini?"
"Hiiii.. ma-maaf..-"
"CUKUP BOCAH! Aku tidak tahu bahwa kau sekurang ajar ini pada orang yang lebih tua! Apakah membiarkan kami menginap beberapa hari cukup membebani! Dasar bo..-" Glek!
Yugo terdiam melihat tatapan tajam dari sepasang sapphire blue itu.
'Apa-apa'an bocah ini! Dia menatap kami layaknya kecoa secara terang-terangan. Kurang ajar?!'
"Maafkan aku paman, tapi aku memberikan mu waktu 3 hari untuk mencari tempat numpang lain. Aku tidak bisa membuat rumah istimewa ini di tinggali oleh seseorang yang terlalu kurang ajar"
"K-kau..-"Yugo kembali ingin bersuara sebelum ditahan oleh ayahnya. Daichi beralih menatap kepala pelayan yang balik menatap nya tidak berdaya.
"T-tuan.. bukankah mereka adalah keluargamu. B-bisakah..-"
"KAU..-" Naruto berhenti berjalan. Dia berbalik menatap kepala pelayan itu.
"Ah aku tidak tau namamu; terserahlah! Siapapun kau, Bukankah dirimu terlalu serakah diumurmu yang masih muda. Kembalikan uang sogokan mereka dan pergi dari sini.."
"T-tidak! Tu..- Naruto-sama!"
Naruto menggertakkan giginya kesal, "aku tidak suka mengulangi ucapanku. Pergi dari rumah ini pelayan sialan! Kau ku pecat"
"T-tidak.." Kepala pelayan itu tertunduk pasrah. Dia menatap takut tuan muda yang bahkan belum pernah dilihat nya semenjak dia dibekerjakan dirumah ini.
Blam!
Naruto mengacak rambutnya kesal, dia membuka pakaian nya kasar dan melemparnya asal. Laki-laki itu ingin segera mandi dan beristirahat.
Dia menyalakan shower dan berdiri di bawah guyuran air dingin. Naruto ingin mendinginkan kepalanya, besok adalah waktu perangnya, dia tidak ingin emosi tidak perlu ini menganggu pekerjaannya.
Buk buk!
"Sialan! Sialan!" Naruto memukul keras tembok di hadapannya. Dia sudah mengacau semenjak dirumah Hinata. Malam yang seharusnya berjalan romantis malah gagal karena emosi tak berguna yang menguasainya. Bagaimana bisa dia cemburu dengan keluarga orang lain.
Naruto menghembuskan nafasnya kesal, "Hinata pasti mencapku sebagai seorang bocah sekarang. Argh.. semua usahaku.."
.
.
.
.
Ketukan di pintu kamar membuat Naruto berhenti membaca laporan berkas di kasurnya. Dia bangkit dengan malas dan membuka pintu.
Kriet!
"S-selamat malam, Naruto-kun"
'Asami? Ayami? Ayun? Siapa namanya tadi?' Naruto menghela napas lelah, "Ada apa?"
"I-itu aku.." Gadis itu menunduk malu, pipi nya memerah dan tidak berani menatap laki-laki itu.
'Naruto-kun dengan rambut basah benar-benar keren!!'
Naruto menatap nampan berisi kue dan coklat panas yang di bawa nya. Dia bisa menebak tujuan gadis ini. 'Keluarga ini benar-benar membuatku lelah'
"Maafkan aku, sepupu. Aku sangat lelah hari ini. Aku baru saja kencan dengan pacarku di rumahnya, jadi..-"
Deg!
'Ohohoho.. lihatlah wajah syok nya itu. Nice!'
"Jadi aku.. ahahaha.. bodohnya aku, kenapa membicarakan hal memalukan ini kepada sepupuku" Naruto melanjutkan aktingnya, dia pura-pura memerah malu dan tertawa canggung.
"I-iya, Naruto-kun. Kau pasti ingin istirahat. S-selamat malam." Gadis itu pergi dari sana dengan cepat yang disambut wajah kemenangan oleh Naruto.
Drrt~ Drrt~
Laki-laki itu kembali menutup pintu kamarnya dan berlari ke arah ponsel nya. "Halo Kiba."
"Sekedar mengingatkan untuk pesta ku besok? Kau tidak lupa kan?"
Naruto sedikit kesal mengingat hal itu, dia sudah mengacaukan rencananya untuk mengajak Hinata malam ini. "Ya" Laki-laki itu bersandar nyaman pada sisi kasurnya. "Ayo bolos besok, Kiba"
"Kau? Kenapa?"
"Aku tidak ingin sekolah. Ayo bolos besok"
"Nice! Aku suka itu. Boleh kuajak teman-teman gadis ku?"
"Terserah kau saja." Naruto mematikan panggilannya. Dia memejamkan matanya lelah. Rasanya terlalu banyak hal yang dia terima hari ini; terlalu banyak, hingga membuatnya semakin lelah saja.
.
.
Tbc
.
.
Chapter 10~
Yuhuuuu bagaimana untuk chapter ini? Ada pemasukan? Saran atau kritik? (:
eheheh.. see you next chapter
Enjoy
