The King and Hime

.

.

.

.

.

Naruto milik Masashi Kishimoto

.

.

.

.

.

Chapter 11

"E-eh kenapa..?"

Hinata dikejutkan dengan keberadaan seseorang didepan rumahnya. Dia tersenyum ke arah gadis yang akhirnya keluar dari rumah itu. "Kau cukup rajin sebagai CEO. Bukankah ini terlalu awal untuk berangkat?"

"Oho.. siapa ini? Apa Onii-san sekarang menjemput Hinata-neesan?" Hanabi yang juga ingin bersiap berangkat sekolah tertawa menggoda kedua orang ini.

"Ohayo Hanabi-chan? Mau sekalian ku antar?"

"Let's go" Hanabi segera menyetujui ajakannya dan masuk ke dalam mobil yang ada di belakang laki-laki itu. "Nice car, onii-san."

Hinata tersenyum, "Ada masalah apa, Toneri?"

"Cuma ingin memberikan tumpangan. Ayo.."

.

.

.

.

.

Siswa dari sekolah bergengsi itu terlihat sibuk mengatur beberapa hal di halaman depan sekolah. Mereka mendirikan beberapa stand dan menghias nya sedemikian rupa. Walau begitu, beberapa siswa memilih bersantai dan membiarkan teman-teman mereka bekerja; termasuk Kiba, tuan muda Inuzuka. Dia bermain bersama teman-teman nya di parkiran mobil. Mereka asik berbicara tentang pesta malam ini.

"Tapi, Kiba. Apa-apa'an dresscode yang kau tetapkan. Untuk gadis bebas dan untuk laki-laki? Tuxedo hitam. Bukankah itu terlalu formal?" Salah satu teman nya berkomentar kepada Kiba; mendengar itu, laki-laki pencinta anjing itu tertawa.

"Aku sedang tergila-gila dengan sesuatu seperti itu. Nikmati saja" Kiba menepuk bahu temannya itu.

"Ya, kalian menyukai ideku kan, ladies?"

Gadis-gadis disana bersorak gembira yang tentu membuat para laki-laki bungkam.

"Tentu saja mereka setuju. Karena ini akan menjadi kesempatan langka untuk mereka melihat Naruto mengenakan pakaian formal itu." Cibir salah satu laki-laki yang mendapat tatapan tajam dari para gadis.

Lamborghini Aventador SV memasuki halaman sekolah, seluruh mata teralihkan pada mobil keren tersebut, terlebih mereka mengetahui siapa pemilik mobil nya. Para gadis berhenti melakukan pekerjaan mereka sekedar menikmati vitamin pagi dari penyegar mata.

Kiba yang sedang bersantai ria di atas mobil nya menyambut antusias orang itu. Dia melambaikan tangan saat pemilik mobil itu keluar. "Ohayo tampan. Kau datang lebih awal"

Naruto hanya melengos pergi, dia tidak ingin mood nya semakin buruk setelah melihat dua gadis merepotkan itu ikut menemani Kiba. Dia lupa bahwa playboy itu pasti mengajak Mai dan Sakura, rasanya dia kehilangan minat bersenang-senang dengan tuan muda Inuzuka itu.

"Naruto-kun.." kedua gadis itu malah mendekati Naruto dan memberikan senyum terbaik mereka yang tentu saja membuat nya menghela napas lelah.

Kiba tentu saja tertawa melihat reaksi bosan dari teman pirang nya, akan tetapi sesuatu kembali menangkap perhatiannya "Oh itu mobil baru" mobil mewah bewarna putih memasuki wilayah sekolah. Tidak banyak yang menggunakan mobil seperti milik Kiba atau Naruto; yang tentu saja menjadi perhatian semua orang jika ada sesuatu yang mewah baru saja muncul.

Perhatian Naruto teralihkan dengan seruan Kiba. Sepasang sapphire blue itu membulat terkejut melihat siapa yang keluar dari mobil mewah putih yang terparkir tidak jauh dari mereka.

"Aku dengar hari ini hanya diisi persiapan untuk festival sekolah?" Hinata melihat sekolah SMA yang cukup bergengsi di tokyo. Adiknya begitu beruntung bisa bersekolah mahal ini dengan beasiswa. Berterimakasihlah sekolah ini memiliki toleransi dan memperbolehkan mereka yang dikalangan menengah dan ke bawah dapat merasakan fasilitas sekolah hebat ini dengan kepintaran mereka.

"Itulah kenapa aku harus tetap sekolah, neesan. Kelas kami harus menyiapkan festival besar ini. Ngomong-ngomong terima kasih atas tumpangannya, Toneri-oniisan. Aku beruntung bisa ikut mobil mewah itu."

Hinata sependapat, mobil ini terlalu hebat untuk seorang yang hanya mendapatkan gaji pas-pas an di perusahaan nya. Ya, itu berbeda jika laki-laki ini juga tuan muda dari perusahaan besar.

Mengingat mobil mewah, ini bukan pertama kali dia menaiki nya. Sebelumnya, dia pernah menumpang mobil yang terlihat lebih mahal; ya karena dia telah melakukan pencarian harga setelah menaikinya.

'Aku rasa dia juga bersekolah disini? Bagaimana keadaan nya?' Matanya berkeliaran mencari seseorang yang mungkin paling mencolok dari semua orang disini.

'Ah itu bukan karena aku khawatir padanya. Ah tidak-tidak! Ya! Aku harus khawatir padanya karena seorang pemimpin harus memperhatikan karyawan nya. Yap benar, itu sangat wajar, Hinata Hyuuga.' Hinata malu sendiri dengan semua pemikiran nya. Kenapa dia harus berkelakuan seperti anak kecil.

"Cih." Tangan nya tanpa sadar meremas kuat kunci mobil orange yang dipegangnya. Laki-laki itu tidak suka melihat tatapan yang ditunjukkan tuan muda otsutsuki terhadap gadis lavender milik nya. 'Sial!' Sebelumnya ini tidak pernah terjadi, padahal belum satu bulan dia mempertanyakan alasan tuan muda otsutsuki itu mau bekerja di perusahaan kecil daripada menikmati kemewahan keluarganya. Tetapi sekarang dia malah mengutuk keberadaannya, apapun alasannya kenapa harus berada disisi gadis lavender itu.

"Aku sudah menduga ini, lihatlah darimana daun ini bisa menempel di rambutmu"

Hinata terkejut dengan tangan Toneri yang menyentuh rambut nya. Tatapan laki-laki itu terasa aneh dan tidak biasa. Itu terlalu lembut dan terlihat seperti seorang kekasih yang memperhatikan miliknya. "Ah.. terima kasih" Hinata sedikit malu di tatap dalam oleh seorang laki-laki.

'DIA?!' Kaki nya melangkah ke arah mereka. Otaknya tidak merencanakan apapun sekarang, ini adalah murni karena emosi kuat yang mendorong tubuhnya untuk maju mendekati dua orang yang saling menatap dihadapannya.

"Mau kemana, Naruto-kun?" Tangan Mai di tepis kasar oleh Naruto. Tatapan Laki-laki tetap lurus kedepan dan itu terlihat menakutkan. Kaki nya tetap melangkah dan tidak memperdulikan teman-temannya dibelakang yang menatapnya bingung.

"Apa yang terjadi dengan Naruto-kun, Kiba-kun? Dia terlihat sedikit menakutkan." Gadis yang ada di samping Kiba menyenggol tangan nya.

Laki-laki pencinta anjing itu juga menggeleng tidak tahu. Tapi.. 'Aku kenal sekali ekspresi itu, terlihat seperti seseorang yang tidak suka miliknya disentuh orang lain'

"Uwaaah gila, itu Naruto-senpai." Hanabi menutup mulutnya terkejut.

Mendengar itu, perhatian Hinata segera teralihkan, dia berbalik ke arah pandangan Hanabi. Dan sepasang amethyst itu menemukan sosok laki-laki tampan itu; berjalan ke arah mereka dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan.

Berbeda di samping nya, Toneri mengerti sekali arti tatapan mengerikan yang serasa ingin membunuhnya di tempat.

'Bukankah ini tatapan balas dendam?' Toneri menyeringai. Baru-baru ini, dia juga pernah melancarkan tatapan seperti itu kepada Naruto. Ya karena gadis yang disukainya di rebut secara langsung dihadapannya. Siapa yang tidak cemburu dengan hal itu?

Sapphire blue yang sebelumnya menatap tajam makhluk di samping lavendernya beralih ke arah sepasang amethyst yang sedari tadi terpaku menatapnya.

Mata indah yang menatapnya lekat itu membuat emosi nya yang mengebu-ngebu layaknya api yang dapat membakar apapun; mendadak padam seolah disiram air.

"Aku tidak tahu karyawan sementara kita bersekolah disini juga kan, nata-chan?" Toneri tersenyum misterius ke arah Hinata yang tentu saja di sambut tatapan bingung oleh Hanabi dan Naruto yang sudah berada dalam jangkauan pembicaraan itu.

"Kau masih memanggilku seperti itu, Toneri?" Hinata terkejut sebentar, tangan nya memukul pelan lengan laki-laki itu. "Jangan menambah panggilan anehku."

"Kekanakkan sekali." Laki-laki pirang itu tahu bahwa dia tidak boleh menunjukkan emosi nya yang sebenarnya di hadapan orang lain, tapi entah mengapa, dia ingin sekali menujukkan ketidaksukaan nya dengan panggilan aneh tetapi terlihat romantis yang diucapkan Toneri.

"Aku tidak sedang menanyakan pendapatmu, Naruto-san?" Toneri menghadap Naruto sepenuhnya. Kedua laki-laki itu saling menatap sengit satu sama lain.

Dari jauh, Kiba menikmati pertunjukkan dadakan di hadapannya. Dia memang tidak melihat ekspresi Naruto sekarang dari balik punggung nya. Tetapi wajah orang yang menjadi lawan Naruto dihadapannya menjelaskan semuanya.

'Apa gadis manis itu? Oh.. bocah itu doyan perempuan yang lebih tua?' Kiba beralih menatap Sakura yang mulai bereaksi. Dia sedikit memuji kepekaan gadis pink itu jika menyangkut Naruto. Menurutnya, Sakura bisa dengan mudah menangkap perubahan ekspresi Naruto lebih baik dari dirinya. Ya mungkin karena mereka adalah teman dekat sejak kecil.

Dan sesuai dugaannya, Sakura melangkah mendekat ke arah arena saling tatap tajam yang masih memanas disana. Bukankah ini akan menjadi gosip menyenangkan. Terlebih pemeran utamanya adalah genius tampan yang menjadi sorotan dunia. Pesta nya malam ini mungkin akan sedik..ah tidak! Pasti berubah menjadi sangat luar biasa menyenangkan.

"Apa yang terjadi, Naruto-kun?" Tangan gadis itu sudah mengaet Naruto dari samping. Dia beralih menatap orang-orang yang menjadi lawan bicara Naruto sekarang.

"Sakura-senpai, kan?" Hanabi mengulurkan tangannya sopan, "Hanabi Hyuuga kelas 1 A. Salam kenal Sakura senpai dan Naruto-senpai."

Sakura tersenyum manis, dia tidak berniat menyambut uluran tangan itu."Oh halo, Hana..-"

"Salam kenal Hanabi." Berbeda dari gadis itu, Naruto membalas uluran Hanabi dan tersenyum. "Ah.. boleh kupanggil seperti itu kan?" Naruto melepaskan pegangan tangan Sakura pada lengan kiri nya.

"I-iya." Hanabi memerah malu dan sedikit merapatkan diri pada kakak nya. Tidak ada yang bisa menolak senyuman tampan dari idola nomor 1 sekolahnya, terlebih orang ini mulai menujukkan eksistensinya di hadapan ekonomi dunia; yang jelas berbeda dari idola tampan yang pernah dikenalnya

"Apakah bermalas-malasan merupakan kegiatan barumu, CEO?" Naruto beralih ke arah gadis yang telah menjadi pusat perhatian nya. Dia tidak tahu kenapa emosi berlebihan ini menguasai dirinya saat menatap sepasang amethyst yang menawan itu. Dia tidak suka dan ingin menunjukkan ketidaksukaan itu di hadapan gadis ini.

Tetapi sayangnya perasaan itu ditangkap salah oleh lawan bicaranya..

"Apakah kau sedang menghinaku, Naruto?" Hinata tidak suka dengan tatapan dingin dan menghina yang di lancarkan oleh laki-laki ini.

Naruto menyerngitkan dahinya, dia semakin kesal dengan tatapan melawan yang ditunjukkan gadis itu. "Bukankah itu yang sedang kau lakukan, Hime?"

"Hime?" Hanabi terkejut dengan panggilan tidak biasa yang katakan oleh Naruto. Dia mencubit lengan kakaknya pelan. "Nee-san, kenapa Naruto-senpai memanggilmu seperti itu?"

"Hanya sebuah panggilan mengejek biasa, Hanabi-chan." Toneri tersenyum membalas bisikan Hanabi yang kelewatan nyaring itu.

Hinata merasa tidak senang dengan pandangan tidak bersahabat yang ditunjukkan Naruto secara terang-terangan. Laki-laki seolah menghakimi nya tanpa alasan jelas.

'Terlebih..' Tatapan nya teralihkan pada sebuah tangan yang kembali bergelayut di lengan Naruto. Kali ini laki-laki itu tidak menunjukkan respon penolakan pada keintiman yang dilakukan oleh gadis pink cantik di sampingnya. Dia menggigit bibir bawah nya tanpa sadar, perasaan nya semakin memburuk.

"Ayo pulang, Toneri" Hinata berbalik menghindari laki-laki itu. Dia ingin melangkah pergi menjauh dari sana. "Baiklah." Toneri menyeringai ke arah laki-laki pirang itu. Dia tersenyum puas melihat wajah marah yang ditunjukkan Naruto secara terang-terangan.

"Tidak." Grep!

Hinata tersentak dengan pegangan kuat di pergelangan tangannya. Dia menatap ekspresi terkejut yang diberikan adiknya. Tidak! Sejak kapan mereka jadi perhatian semua siswa disini.

"Siapa yang mengijinkanmu untuk pergi" Gadis itu berbalik dengan satu tarikan kuat di pergelangan tangan nya. Sepasang amethyst itu terkejut tatapan marah yang pertama kali dilihatnya. "Na-naruto.."

"Ayo" Hinata tidak melawan saat tubuhnya di bawa mengikuti langkah kaki laki-laki itu. Emerald dan Amethyst sempat saling bertukar pandangan saat tubuh gadis ungu itu melewati Sakura akibat tarikan sepihak dari Naruto. Jelas sekali ada keterkejutan dari tatapan mata gadis pink itu; dia syok dan tidak berkutik.

Hinata bisa merasakan semua tatapan menusuk yang di lancarkan semua gadis disana. Tentu saja ini karena gelagat aneh yang ditunjukkan laki-laki yang katanya tidak pernah menunjukkan ketertarikan lagi pada gadis manapun dalam dua tahun dirinya di sekolah ini; dan untuk pertama kalinya, di tahun ketiganya, Naruto mengenggam tangan seorang gadis dan membawa nya pergi dari laki-laki lain.

'Bukankah ini terlihat seperti dia cemburu' Dia jujur bahwa dirinya selalu membiarkan Naruto mengenggam dan membawa nya pergi seperti ini. Tapi ini pertama kalinya; Benar, ini adalah pertama kalinya laki-laki itu membawanya dengan amarah. Bukankah orang bisa salah paham dan mengatakan bahwa Naruto sedang cemburu.

"Masuk" Naruto membuka pintu mobil nya.

"Woah ada apa tampan? Kau lupa janji kita untuk bersenang-senang hari ini?" Kiba menghentikan Naruto yang ingin menarik tangan Hinata untuk menyuruhnya masuk. "Aku sudah mengumpulkan teman-teman. Bukankah dirimu yang menginginkan nya kemarin?"

"Aku keluar." Naruto menepis kasar Kiba dan membawa masuk Hinata ke dalam mobil. "Hei hei kenapa?" Kiba mengikuti Naruto yang berjalan ke arah pintu satunya. Kali ini laki-laki itu menahan Naruto sepenuhnya. Dia berdiri di depan pintu dan menghalanginya.

"Kau gagal saat membawa gadis-gadis yang merusak kesenangan ku. Bukankah kau tahu aku tidak suka keributan." Kiba sedikit bergidik merasakan tatapan menusuk Uzumaki Naruto pertama kalinya. 'Apakah ini alasan kenapa para pemegang saham takut kepadanya? Kau benar ayah, ini sangat menakutkan'

"Sekarang minggir, Inuzuka Kiba. Aku tidak berada dalam perasaan yang baik untuk meladenimu."

"Oke" Kiba mundur dengan teratur. Dia membiarkan laki-laki itu masuk dan membawa mobilnya pergi dari sana.

Suasana sekolah berubah canggung setelah kepergian Naruto. Kiba menatap ke arah teman-temannya dan menggeleng tidak tahu; ini tentu saja diluar kekuatannya.

Tidak ada yang bisa memikirkan semengerikan apa tuan muda Uzumaki saat dia marah; ya karena mereka tidak pernah melihat Naruto marah; yang tentu saja berlaku untuk gadis pink yang belum beranjak dari tempat awalnya karena syok.

"Sepertinya aku harus pergi sekarang, Hanabi-chan." Toneri memasuki mobil putihnya dan pergi dari sana.

Hanabi tidak bisa membaca ekspresi Toneri sekarang. Gadis itu sudah terlalu terkejut dengan perlakuan idolanya pada kakak kesayangannya. Daripada marah, dia malah merasa bahwa Naruto dikuasai api cemburu. 'Wah neesan, aku tidak tahu bahwa hubunganmu sedikit spesial dengan Naruto-senpai.' Hanabi terkekeh geli, 'aku bangga padamu, Neesan' Gadis itu melirik Sakura yang menatap nya tajam sebentar dan pergi dari sana dengan kesal.

.

.

.

.

.

.

Drrt~ Drrt~

Naruto melirik sebentar siapa yang menghubungi nya di LCD monitor yang ada di dalam mobilnya.

"Ada apa, paman?"

Hinata tetap tidak bereaksi melihat laki-laki di samping nya menjawab panggilan yang bertuliskan nama paman tersebut.

"Kau dimana, Naruto. Para wartawan sudah menunggu mu."

'Ah aku lupa' Naruto menghela napas lelah, dia melonggarkan dasi seragamnya kasar. "Aku serahkan semuanya padamu, paman."

"A..ap?! Hei bocah! Kau itu bintang utamanya. Bagaimana bisa pak tua ini menggantikan mu?"

Naruto dikejutkan dengan cubitan kecil di lengan nya. Dia berbalik menghadap Hinata yang menatapnya canggung. Laki-laki itu terfokus ke arah mulut Hinata yang berucap pelan, gadis itu mencoba mengatakan bahwa dirinya akan menunggu. Mereka akan melanjutkan pembicaraan mereka berdua setelah pekerjaan laki-laki itu selesai.

Naruto terkekeh pelan, dia tidak bisa melawan nya. Tangan kirinya yang bebas mengacak pelan rambut gadis itu. 'Baru saja aku merasa marah dan ingin membanting semua karena gadis ini. Tetapi bagaimana bisa, dia membuat ku kembali tenang dengan tatapan menggemaskan itu'

Hinata terpaku dengan senyuman yang diberikan oleh laki-laki ini. Begitu lembut dan cukup membuatnya berdebar. Dirinya segera memperbaiki posisi duduknya dan memalingkan wajahnya kesamping; menghindar tatapan bingung Naruto.

Naruto kembali fokus ke jalanan, dia melirik sebentar Hinata yang masih berada di posisi awalnya. Tatapan nya bergantian menatap jalanan dan juga Hinata. Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu.

Crit~ Hinata tersentak dengan belokan tiba-tiba yang dilakukan Naruto. Laki-laki itu meminggirkan mobil nya dengan cepat.

"Hinata.."

Gadis itu dikejutkan dengan panggilan lembut yang tidak seperti biasanya dari laki-laki itu. Pandangan nya mengarah pada sebuah tangan yang awalnya ragu untuk menyentuh tangan nya tetapi pada akhir ya menggenggam nya erat. "Maaf untuk barusan. Aku tidak bermaksud menghina mu. Aku hanya..-" Laki-laki itu kembali menghembuskan nafas nya lelah.

"Aku tidak tahu perasaan apa yang sedang menguasai ku sekarang. Rasanya begitu menjengkelkan dan membuatku ingin marah. Jadi..-"

Hinata tersenyum, dia balas mengenggam tangan laki-laki itu; yang tentu saja membuat si empu nya menatapnya kaget. "Kau pasti mempunyai banyak hal yang ingin dikatakan padaku."

Naruto tertawa canggung, "Tidak banyak. Tapi memang benar ada hal yang ingin kukatakan." Laki-laki itu menggaruk pipinya, malu.

"Baiklah"

Naruto tersenyum cerah, "kau mau mendengarkannya?"

Hinata mencoba menggodanya, "yaah.. sebenarnya aku mempunyai banyak hal yang harus dikerjakan setelah ini. Tapi baiklah, aku akan menunggu mu dan mendengarkan seluruh hal yang ingin kau katakan. Ini khusus untukmu lo, Naruto." Hinata melepaskan pegangan mereka. Gadis itu berakting seolah kelelahan dan termangu; menyentuh pipi kirinya, "Bukankah aku adalah yang pertama? Tidak ada seorang CEO yang mendengarkan karyawan nya dengan sabar."

"Pfft.. kau benar." Naruto memperhatikan Hinata yang tertawa di samping nya. Laki-laki itu terkekeh kecil melihat wajah yang semula canggung itu menjadi tertawa lepas begini.

"Kenapa menatapku?" Hinata bersandar di kursi mobil. Dia balik menatap Naruto yang tetap diam memperhatikannya.

Laki-laki itu mengindikkan bahu nya, "Entahlah.." Naruto kembali memasang sabuk pengaman nya dan menjalankan mobil.

Pintu perusahaan terbuka, kaki nya melangkah masuk dengan diikuti sapaan hormat dari para karyawan yang dilaluinya. "Anda datang, Toneri-sama"

"Aku akan keruangan ayah"

"Baik, Toneri-sama."

Kaki nya kembali melangkah ke arah lift. Semua orang yang melihat dirinya untuk pertama kali saling berbisik kecil. Siapa sebenarnya laki-laki tampan yang terlihat dihormati oleh sekretaris presdir mereka.

"Itu karena tuan muda jarang datang keperusahaan." Seorang gadis yang bertugas pada bagian resepsionis itu menjawab pertanyaan teman-temannya. "Akan kuberitahu fakta rahasia yang ada diperusahaan ini."

"Fakta umum?" Mereka semakin mendekat.

"Tuan muda kita sibuk mengejar kekasihnya."

"Hah?" Wajah mereka dengan jelas tertulis ketidakpercayaan. Bagaimanapun kesan pertama tuan muda mereka tidak terlihat seperti orang yang mempertaruhkan hidup mereka demi mengejar seorang gadis.

"Kau berharap kami percaya? Sudah jelas itu adalah wajah dingin dengan ego yang besar." Timpal seseorang dari mereka yang dibalas anggukkan yang lain.

Resepsionis cantik itu menggoyangkan jari telunjuknya, "Kau salah jika berpikir seperti itu. Semua orang disini, aku juga termasuk. Kami semua pernah berpikiran seperti itu. Tetapi kau harus percaya jika tuan muda itu cinta mati pada gadis nya. Bahkan presdir tidak bisa berbuat apa-apa tentang hal itu."

"Gadis itu? Memang siapa gadis itu?"

"Kalau itu...-" Resepsionis itu kembali mendekat, dia berbisik pelan sekali. "Itu juga hal yang ingin kutahu."

.

.

.

"Selamat pagi, Uzumaki-san"

"Selamat pagi" Naruto tersenyum ke arah pewawancara nya.

"Oh astaga, apakah aku sekarang tersipu malu. Wajah ku pasti sangat merah." Gadis itu menutupi wajahnya dengan kertas yang ada di tangan nya; Naruto hanya tersenyum menanggapi wajah malu-malu gadis itu.

"Oh aku harus kembali sadar sekarang. Terimakasih sudah datang, Uzumaki Naruto-san."

"Tidak, kami yang harus berterima kasih karena kalian menyempatkan datang jauh-jauh kesini."

Gadis itu tertawa pelan, "Uzumaki-san benar-benar ahli dalam memperlakukan perempuan ya"

Laki-laki itu tidak menjawab, dia hanya tersenyum manis.

"Baiklah, mari kita kepertanyaan pertama"

"Hyuuga-san?"

Hinata tersentak kaget, dia membungkuk sopan saat tahu siapa yang mengajaknya berbicara.

Nagato tersenyum, "Terlalu membosankan disini. Mari kita pindah keruanganku."

Hinata mengangguk, dia melirik sesaat ke arah Naruto dan berjalan mengikuti Nagato.

Image

Di lain sisi, sepasang sapphire membulat kaget, laki-laki itu terdiam sebentar melihat sosok gadis yang tadinya tetap diam menunggu nya menghilang.

"Uzumaki-san.." panggilan dari perempuan dihadapannya, menyadarkan Naruto. Dia tersenyum

"Saya akan pindah kepertanyaan berikutnya"

"Iya" Perhatian nya kembali teralihkan kepada reporter tersebut.

.

.

.

.

"Mau kopi?"

"Terima kasih, Uzumaki-sama" Hinata duduk di kursi panjang. Dia tersenyum ke arah Tenten yang memberikannya kopi.

"Bagaimana kabar ayahmu?"

"Ayah dan ibu baik." Hinata menyerumput kopi nya diam. Entah kapan terakhir dia memasuki kantor CEO seperti ini. Walau ini bukan pertama kali, dirinya masih tetap tegang.

"Aku dengar Naruto menjadi karyawan sementara di perusahaan mu. Aku harap bocah itu tidak merepotkanmu."

Hinata menggeleng cepat, "Tidak, Uzumaki-san bekerja dengan baik. Dia sangat membantu kami."

Nagato tersenyum, "Apakah persiapan iklan untuk produk mobil nya berjalan dengan baik."

"Ah.. soal itu..-" Hinata sedikit bingung menjawabnya. Perusahaan nya bukan tidak becus dalam bekerja, tetapi mobil ini merupakan produk yang sangat hebat. 80% mobil ini adalah kecerdasan buatan, terdapat A.I yang dapat mengontrol bagian mobil ini. Benar-benar, Uzumaki Corp adalah perusahaan yang sangat hebat. Mereka sering dikatakan sebagai perusahaan multi fungsi; tidak hanya dibidang elektronik seperti mesin cuci ataupun alat pemanggang. Perusahaan juga merambah pada bidang permobilan hingga ponsel pintar.

Walaupun begitu yang membedakan mereka dari perusahaan lain adalah semua nya berbasis komputer; kecerdasan buatan lah yang memegang kendali.

Karyawan didalamnya juga begitu berkualitas, tidak sembarang orang bisa diterima bekerja disini terlebih pemimpin mereka yang genius.

"Kau tahu, Hyuuga-san. Ah bolehkan ku panggil Hinata? Aku begitu dekat dengan ayahmu, tentu saja aku harus mengakrabkan diri dengan anaknya kan? Dan kau juga bisa memanggilku paman."

"B-baiklah.." Hinata menunduk malu.

"Ckckck.. sekarang kau terlihat seperti pedofil, paman."

Hinata dan Nagato menoleh kaget. Di sana, seorang laki-laki tampan bersandar nyaman di depan pintu. Dia memasang wajah tidak percaya dan merasa jijik.

"A-ap..- kau!" Nagato berteriak malu. "Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu di depan tamu penting"

Naruto menghela napas, dia berjalan masuk dan mendekat ke arah Hinata. Dirinya berdiri di samping gadis itu, walaupun tatapannya menuju ke arah Nagato.

Terdengar helaan nafas sesaat, "Sepertinya ada sesuatu yang salah disini, paman." Naruto beralih menatap Hinata yang juga ikut membalas tatapannya, Laki-laki itu tersenyum sesaat ke arah nya, "Pertama, gadis ini bukanlah tamu mu. Dia tamu ku, aku yang membawanya kesini." Naruto memegang tangan gadis itu dan menariknya berdiri.

"Na-naruto..-" Hinata tersentak kaget dengan jarak mereka yang begitu dekat. Akan tetapi, pemilik tangan yang sedang menggenggam nya erat ini tidak berniat melepaskan genggamannya.

Sepasang sapphire blue itu menatap lekat ke arah Nagato, "Kedua, Jangan membawanya pergi tanpa seizinku."

Naruto memalingkan wajahnya sesaat 'Tiba-tiba menghilang begitu, bikin perasaanku nggak nyaman aja.' Gumamnya pelan, nyaris tidak terdengar.

Bukannya marah, Nagato malah tersenyum lebar. Melihat itu tentu saja membuat Naruto bergidik, "Itu tidak benar, apapun yang paman pikirkan sekarang, semua itu tidak benar."

Nagato berdehem, dia harus menjaga ekspresinya, "Apakah wawancaramu berjalan dengan baik?"

Laki-laki terkejut, "T-tentu.. ah, aku harus segera kembali"

"Kau belum menyelesaikannya?" Nagato menyerngit bingung. "Kenapa kau berkeliaran sementara ada orang yang menunggumu"

"Jangan mengatakan hal yang membuat orang salah paham." Balasnya. "Barusan aku cuma em.. izin toilet sebentar." Dia menggaruk kepala nya canggung, Naruto melirik Hinata yang diam menatapnya.

"A-aku akan kembali. Ayo Hinata, pekerjaanku sebentar lagi selesai."

Gadis itu tersentak dengan genggaman kuat dari Naruto, "T-tunggu Naruto" Hinata berniat melepasnya sebentar sebelum mendapat lirikan tajam dari si empunya. "K-kami permisi." Hinata menunduk sopan ke arah Nagato dan Tenten yang dibalas senyuman.

Image

"Dasar anak muda, bikin iri saja." Nagato meminum kembali kopinya. "Huh, pedofil katanya. Apakah aku terlihat menyedihkan jika marah pada bocah yang kesal karena gadis nya dibawa pergi?" Nagato menoleh ke arah Tenten yang hanya terkekeh pelan.

.

.

Tbc

.

.

/prok/ /prok/

Selamat saya ucapkan bagi readers yang bertahan hingga chapter ini; jangan lupa juga terselip rasa terima kasih sebanyak-banyak nya dari saya atas dukungan kalian.

Ehehe.. ngomong-ngomong, bukankah bocah pirang kita mulai terlihat menunjukkan ketertarikannya? Apakah kalian merasakan hal itu? Dapatkah feelnya terasa?

Dapatkah kalian memberikan beberapa saran untuk chapter kedepan-depannya? Adakah sesuatu atau seseorang yang harus saya perhatikan atau tonjolkan lagi?

Aku harap cerita ini tidak terlalu berlarut-larut karena banyak sekali yang ingin kukembangkan kedepannya. Tidak hanya khusus untuk pemeran utama kita; karakter lain juga harus mendapat jatah bahagia dong. Ohohohoho

Baiklah, sampai jumpa next chapter

See you