The King and Hime
.
.
.
.
Naruto milik Masashi Kishimoto
.
.
.
.
.
Chapter 12
Beberapa laki-laki berjas hitam berlarian masuk kedalam bandara udara. Salah satu dari mereka memberi kode dan mulai berpencar. Keberadaan mereka cukup menjadi perhatian orang-orang disana.
"Aku tidak tahu kedatanganku akan menjadi seheboh ini" Laki-laki itu melepaskan kacamata hitam nya, dia tersenyum sinis.
"Ini kopi anda." Seorang pelayan memberikan pesanan nya dengan gugup. Rona merah telah memenuhi pipinya. 'Seorang pelanggan yang tampan'. Tidak hanya pelayan itu, beberapa gadis yang ada disana juga sibuk mengagumi sebuah objek keindahan.
"Anda disini, tuan" salah satu pria berjas hitam berdiri di samping orang itu. Dia membungkuk hormat.
"Kau membuatku menunggu selama 15 menit. Terlalu sulit kah menemukan ku?"
Pria berjas itu berkeringat dingin, dia kembali membungkuk takut.
"Dimana kakakku?" Orang itu melirik ponsel yang disodorkan di depannya. Apa-apa'an ini, dia yang memintanya kembali dengan putus asa, tetapi dia yang tidak datang untuk menjemputnya.
"Halo."
"Selamat datang di Jepang"
Laki-laki tersenyum sinis, "Hingga meminta bantuan orang lain untuk mencariku. Bukankah Uchiha sekarang menjadi sedikit lemah."
"Pulanglah kerumah, Sasuke."
Setelah mengucapkan itu, panggilan terputus secara sepihak. Sasuke menghela napas. Tentu saja, walau sebanyak apapun waktu berlalu, seperti inilah Uchiha. Dingin dan tidak berperasaan bahkan pada keluarga sendiri. Sasuke berdiri. "Aku akan pergi sendiri. Sebaiknya kalian pulang."
"Tetapi kami diperintahkan untuk membawamu ke rumah utama"
"Oleh ayahku?"
Pria berjas itu mengangguk.
"Aku akan pulang saat aku harus pulang. Sekarang pergilah sialan." Sasuke membawa koper nya pergi dari sana. Dia kembali memasang kaca mata hitamnya. "Bukankah saatnya menyapa teman lama dan istri yang kabur"
.
.
.
"Jadi maksudmu, permintaan mu yang satunya adalah aku harus menemani mu ke pesta temanmu?"
"That's right" Naruto menyendok ice cream di hadapannya dengan tenang. Dia tersenyum melihat wajah syok Hinata. Gadis itu terlihat keberatan; ralat sangat keberatan dengan permintaannya.
Tangan nya menyambar segelas air putih dihadapannya dengan cepat dan meminumnya. Naruto menunggu dengan sabar hingga gadis ini menenangkan diri.
"Malam ini?"
Naruto tersenyum manis; tanpa beban "ya, malam ini."
"KAU?! gila ya?" Hinata hampir berteriak. Dia menoleh ke sekitarnya; menyadari bahwa perhatian semua orang tertuju pada mereka. Gadis itu kembali menghela napas dan menenangkan diri.
Grep! Laki-laki itu menarik tangan Hinata dan meletakkannya di dahi nya sendiri. Dia memasang wajah bodohnya, "Kurasa tidak. Bisa kau cek sendiri."
Wajahnya terlihat puas dengan rona merah yang memenuhi pipi Hinata. Gadis itu menarik tangannya cepat, dia memalingkan wajahnya malu, "Dasar.."
"Hei hei kau lihat itu.." Hinata berbalik saat seseorang di samping meja mereka berbisik nyaring ke arah mereka sambil menunjuk-nunjuk ke seseorang.
"Itukan, Uzumaki Naruto."
"Woah Uzumaki Naruto"
"Kyaaa Naruto-kun tampan"
"Tapi gadis itu.."Mereka yang mayoritas perempuan, ikut menyadari keberadaan seseorang yang duduk di depan Naruto; dan sibuk menutup wajahnya.
Hinata mendelik ke arah Naruto yang kembali memakan ice cream nya santai. "Lindungi wajahmu" bisik nya pelan.
Naruto menyeringai, "Kenapa?" Dia membentuk tanda ceklis dengan tangannya dan meletakkan di bawah dagunya sendiri, "Wajah ini bukankah harus dipamerkan."
"Dasar narsis" Gadis itu mengambil sesuatu di dalam tas nya. Dia berpindah ke kursi di samping laki-laki itu dengan cepat. "Gunakan ini. Ah gunakan jaketmu juga." Gerakan cepat Hinata membuat dirinya tidak bisa bereaksi; tahu-tahu gadis itu sudah kembali ke kursi nya semula dan menatap hasil perbuatan nya dengan puas.
"Baiklah, aku tidak bisa menyalahkanmu yang ingin menikmati wajahku sendirian." Naruto nyengir.
Hinata mendecak. Dia mengaduk-ngaduk ice creamnya dan menyuapnya dengan kesal.
'Imutnya..' Naruto memperhatikan wajah Hinata diam. "Kalau begitu akan kujemput jam 7 malam."
"Apakah aku harus benar-benar ikut?" Hinata mengingat sosok gadis pink yang menatapnya kesal saat dirinya dibawa pergi oleh Naruto pagi tadi. Dia sudah menduga bahwa gadis itu pasti akan ikut pesta ini dan tentu saja gadis-gadis lain.
Drrt~ Drrt~
Naruto membuka pesan dari Kiba. Itu sebuah link yang menuju ke artikel yang baru saja dirilis. "Tentu saja." Dia menyeringai membaca judul artikel tersebut. "Karena kau adalah bintang utamanya"
"Hah?"
"Ah, sepertinya kau juga harus mengenakkan topi ini." Naruto melepas topi nya dan memasangkannya kembali ke Hinata. "Cocok untukmu"
Artikel tentang laki-laki itu kembali menjadi peringkat tinggi di berbagai situs. Dengan judul yang menarik, artikel tersebut membuat seluruh kalangan menjadi heboh,
"Kekasih rahasia dari laki-laki tampan pahlawan ekonomi masa kini"
.
.
.
"Na-naruto..?"
Laki-laki itu bisa merasakan tatapan berita sialan macam apa ini dari Hinata. Dia berdiri dari kursi kerja nya dan mendekat ke arah Hinata. Dia pura-pura terkejut dengan artikel yang sekarang sedang tersuguh di layar komputernya.
"Ini foto kita saat kencan beberapa hari lalu kan?" Berbeda dengan Hinata, laki-laki itu dengan senang menunjuk sebuah foto yang dikenalinya. Itu adalah foto saat mereka duduk di taman.
"Aku bersyukur Toneri-san tidak kerja hari ini." Ino berbisik dengan dengan Sai. Mereka memperhatikan dua orang yang saling bertolak belakang itu, jelas sekali wajah penolakan dari Hinata dan berbanding terbalik dengan Naruto yang malah semangat dengan kemunculan berita itu.
Setelah menikmati ice cream, mereka memutuskan kembali ke kantor Newday untuk menyelesaikan pekerjaan.
"Ah ini.." Naruto melirik wajah Hinata yang memerah. Ini adalah foto yang diambil di dekat apartemennya. Foto dimana dirinya mencium jemari Hinata dihadapan banyak orang. 'Ah aku memang sedikit kelewatan saat itu' Naruto menjadi sedikit malu melihat reaksi Hinata.
Ino menyeringai, lihat ini, baru beberapa menit yang lalu mereka saling berbeda pendapat. Tetapi sekarang, keduanya begitu menggemaskan dengan semburat merah di pipi keduanya.
'Good job, Hinata. Laki-laki tampan dan kaya adalah yang terbaik.'
"Ta-tapi ini bukanlah masalah besar." Naruto kembali berdiri tegak. Dia berdehem sebentar saat merasakan lirikan tajam dari gadis itu. "Semua akan baik-baik saja, percayalah padaku."
Blush!
Inilah yang dia tidak suka dari Naruto. Laki-laki itu bisa mempengaruhinya dengan mudah. Bahkan dengan senyuman percaya diri dari dirinya sekarang, cukup membuat gadis itu merasakan desiran aneh di jantungnya.
Srek! Naruto meletakkan salah satu tangan nya di meja, dia menunduk sedikit menyamakan wajah mereka. "Akan kupastikan kau tidak akan rugi sedikitpun. Ah! Aku juga akan menepati janjiku." Laki-laki kembali berdiri saat Hinata kembali menatap nya bingung. Sepertinya dia tidak memahami maksud Naruto.
"Kau lupa soal itu?" Naruto terkekeh.
"Itu?" Hinata balik bertanya. Terlalu banyak kejadian yang terjadi semenjak dia mengenal laki-laki ini. Rasanya semakin banyak saja yang harus dipikirkan.
Naruto memamerkan dua tiket yang ada di tangan nya. Laki-laki itu menyukai perubahan ekspresi Hinata yang akhirnya mengingat tentang janji itu.
"Sepertinya kau mengingatnya. Ya benar, pameran AI grup."
"Pameran AI grup katamu?" Ino yang awalnya hanya ingin memperhatikan juga terkejut. Tiket yang katanya hanya bisa didapatkan melalui undangan resmi dari perusahaan AI Grup itu sendiri sekarang berada di hadapan mereka.
"Bagaimana bisa kau mendapatkannya?" Sai ikut berkomentar.
"Aku memintanya...-" Dia beralih menatap Hinata dan tersenyum.
"Khusus untuk Hinata Hyuuga." Naruto memamerkan nama Hinata Hyuuga, CEO Newday group yang tertulis jelas di tiket tersebut.
"Te-terima kasih." Hinata menerima tiket tersebut. Matanya tidak lepas dari kertas yang ada di tangannya. Rasanya begitu tidak nyata; bahkan membuat sudut matanya basah dengan air mata.
"Kau sangat menyukainya?"
Hinata mengangguk tanpa sadar, pameran ini akan sangat membantu untuk perusahaannya. Dia bisa banyak belajar dengan hanya melihat dan juga tanpa harus membayar.
'Ah!' Hinata tersadar, dia kembali mendongak ke arah Naruto yang memasang wajah kemenangan.
"Kalau begitu, kau tidak masalah dengan pesta malam ini kan, Hinata Hyuuga-hime?"
Glek!
"T-tentu saja ehehe.." Gadis itu tertawa canggung. Dia tentu tidak bisa menolaknya.
"Baguslah. Ah, dan juga soal dandanan mu, aku akan membayarnya."
"Aku harus membelinya? Kenapa tidak menggunakan pakaian yang kupunya?"
"Tidak!" "Tidak boleh!"
Hinata terperanjat dengan teriakan dua orang di hadapannya. Naruto dan Ino berteriak keras ke arahnya.
Ino maju mendekati mereka berdua."Pesta yang dihadiri oleh pegawai terhormat kita ini tentu akan menjadi medan perang. Para wartawan dan gadis-gadis cantik akan berkeliaran seolah mencari mangsa. Tentu saja, pendampingnya tidak boleh berpenampilan biasa, benar kan, Naruto-kun?"
Naruto mengangguk setuju. "Dan juga ini dapat membantu keberadaan mu semakin terkenal dan mungkin berdampak pada perusahaan mu. Anggap saja sebagai iklan yang bisa kita dapatkan gratis."
"Ba-baiklah." Gadis itu menghela napas pasrah.
Naruto tersenyum, dia mengeluarkan black cardnya. "Kalau begitu, aku serahkan dirinya padamu, Yamanaka-san" Laki-laki itu menyeringai ke arah Ino yang dibalas senyum licik oleh gadis itu.
"Tentu saja, Naruto-kun. Serahkan semuanya padaku. Aku akan mempersembahkan maha karya luar biasa padamu malam ini."
Sai bergidik dengan aura yang dikeluarkan dua orang itu. Sepertinya mereka senang sekali membuat Hinata sengsara.
.
.
.
Klik! Pintu apartemen terbuka. Dirinya menghela napas lelah sebelum memasuki ruangan tersebut. Dia menarik kopernya dan membawanya ke dalam kamar.
Mata hitamnya menjelajah setiap detil ruangan yang akan di tempati nya ini. "Lumayan.."
Drrt~ Drrt~
"Kau sudah tiba?"
"Ya." Laki-laki itu berjalan ke arah kulkas, dia tersenyum melihat deretan bahan makanan lengkap didalamnya. "Kau masih saja bersikap romantis seperti ini."
"Jangan membuat ku jijik, sialan!"
Dirinya terkekeh pelan dengan reaksi orang yang menjadi teman nelpon nya ini.
"Ayo bertemu malam ini"
"Tidak bisa, aku harus menghadiri pesta"
Sekelebat pemikiran memenuhi otak laki-laki itu. Temannya ini memang bukan penggila pesta, tetapi ini cukup mencurigakan dia mau datang ke acara seseorang.
"Formal?"
"Tidak, hanya acara kumpul-kumpul"
"Deng..-" Sejenak dia ragu untuk menanyakan pertanyaan ini. Laki-laki itu tidak ingin kecewa dengan jawaban dari temannya itu. Akan tetapi, "D-dengan siapa?"
Laki-laki itu merasakan bahwa teman bicara ini sedang tertawa pelan, "Kau..- apa kau membaca berita hari ini?"
Dia memutar otaknya mengingat berita macam apa yang dimaksud teman nya itu. "Tidak mungkin?! Berita omong kosong itu benar?"
Sejak awal dia merasa aneh dengan hasil jepretan wartawan yang terlihat cukup real untuk dikatakan bahwa sahabat kuningnya itu sedang dalam hubungan asmara. Karena selama ini rumor percintaannya hanyalah omong kosong belaka, itu hanyalah foto yang dibuat-buat dengan efek berlebihan.
"Kau bodoh?! Tentu saja aku harus bersama dengan pasanganku."
.
.
.
.
"Ini gila?!" Ino menyeka keringat di dahi nya, dia puas dengan maha karya nya yang satu ini. "Wah ini memang gila." Sai memamerkan jempolnya pada gadis bersurai indigo yang ada dihadapannya; yang tentu saja membuat gadis itu memerah.
"Bukankah ini berlebihan, Ino.. Sai.."
"Tentu tidak..-" Sai berbalik ke arah Ino. "Kekasihku ini memang luar biasa" Laki-laki itu menepuk-nepuk pelan rambut gadis pirang pucat itu.
"Kau ini.." Ino memerah malu. "Ehehe.."
Kriet!
"Waaah!!!! Nee-san!" Hanabi yang baru saja kembali; melongo melihat penampilan kakaknya yang begitu memukau.
"Ha-hanabi.. sejak kapan?" Hinata menutup wajahnya. Dia malu.
"Nee-san, kau cantik sekali." Hanabi mendekat ke arah kakaknya, dia memamerkan dua jempolnya.
"Tapi bukankah ini agak berlebihan.." Hinata menutup area depannya. Bukankah pesta yang dimaksud oleh Naruto hanya pesta kumpul-kumpul anak muda dan dia rasa pakaian ini cukup agak berlebihan.
"Kenapa?..-"
Perhatian semua orang teralihkan pada seseorang yang bersandar nyaman di tembok. Sepasang sapphire blue itu terus menatapnya lekat. Mendapat tatapan seperti tentu membuat pipi nya memerah. "Kau terlihat cantik."
Blush~
Laki-laki kembali berdiri tegap, dia berjalan ke arah gadis itu.
Menyadari tatapan semua orang, Naruto tersadar, "oh ini, dresscode nya jadi..-" Dia sedikit malu; entah kenapa. Apalagi tatapan Hinata tidak pernah lepas darinya.
"Lagipula kita hanya sebentar di pesta itu. Setelahnya, aku harus mehadiri acara perusahaan teman paman ku."
"Berlebihan ya?" Naruto memegang leher belakangnya , malu. Memang, pakaian ini cukup berlebihan untuk acara kumpul-kumpul biasa. Tapi dia tidak waktu untuk bolak balik dari mansion orang tuanya, hanya untuk mandi dan ganti baju.
"Dibilang berlebihan pun, nyatanya dia cocok dengan pakaian itu." Ino berbisik di samping Hinata. Gadis ungu itu mengangguk setuju. Sesuai atau tidak sesuai, pakaian Naruto sekarang membuatnya semakin tampan saja; memikirkan dia harus bersanding dengan orang bak model ini, membuat Hinata kembali memerah. Berada sedekat itu, apakah baik untuk jantungnya.
"Kalau begitu, ayo" Naruto mengulurkan tangan kanan nya pada gadis itu. Dia tersenyum lembut yang membuat mereka semua membeku sebentar.
"Ehem..Hei, Neesan.." Hanabi menyikut kakaknya yang terpaku diam. Damage dari Naruto yang tersenyum dengan tampan itu memang mampu membuat semua orang terdiam
"Ah.. i-iya.." Gadis itu terkejut saat tangan nya ditarik dan bergelayut di lengan laki-laki itu; yang tentu saja membuat jarak mereka semakin dekat. 'Ini terlihat seperti aku berdiri di sampingnya di depan pastur' Hinata tersadar, 'ah! Apa yang barusan aku pikirkan! Dasar gila'.
.
.
.
.
.
Kiba menggunakan vila keluarganya untuk tempat pesta malam ini. Semua mulai berdatangan, tempat semakin ramai. Kiba sebagai tuan rumah menyambut dengan semangat teman-teman nya terlebih para gadis cantik.
Para pelayan berkeliaran membawa minuman non akohol pada semua orang, ya pada dasarnya ini hanya pesta kumpul-kumpul anak SMA kaya.
Pintu terbuka lembar, kaki jenjang nya memasuki ruangan dan berjalan menuju tengah pesta. Seperti yang diharapkan, tatapan kagum dan iri meiringi setiap langkah nya.
Kedatangan gadis itu menjadi perhatian semua orang, terutama dengan kecantikan nya yang sudah terkenal di kalangan siswa. Langkah kaki nya ringan menuju ke arah Kiba; menyapa sang tuan pemilik acara. "Pesta yang ramai, Kiba-kun"
Kiba nyengir,"Terima kasih karena telah membuat pesta ku semakin meriah, Sakura-chan"
Sakura tersenyum puas, dia melirik ke arah Mai yang memalingkan wajah darinya, model cantik itu mungkin tidak akan menganggu nya malam ini.
"Walau begitu, pesta terasa hambar jika pemeran utamanya belum datang" Lirih nya pelan, dia meminum sedikit cola dari gelas yang barusan di ambil nya dari pelayan.
"Kau sangat cantik sekali, Sakura-chan" Seorang laki-laki maju mendekati Sakura. Gadis itu hanya tersenyum membalas pujian yang dilontarkan padanya. Melihat reaksi positif dari target; beberapa laki-laki ikut mengumbrungi gadis yang berhasil menjadi pusat perhatian karena kecantikannya.
Di sisi lain, Mai yang biasanya berada dalam situasi tersebut hanya diam tidak bergerak. Teman-temannya yang berada disisi nya berbisik pelan dan menyayangkan tindakan diam Mai. Padahal sudah sewajarnya model cantik ini menunjukkan eksistensinya dan lebih aktif mengumbar kecantikannya.
"Aku tidak perlu melakukan hal itu." Mai akhirnya bersuara, "Karena tokoh utamanya belum datang" Gadis itu menyeringai, dia terus menatap ke arah pintu masuk.
Walau pesta tetap berjalan lancar, perhatian semua orang terus-menerus beralih pada pintu jika saat ada suara orang yang membukanya. Tentu, karena mereka sedang menunggu seseorang .
'Si bodoh tukang telat ini, pesta ku kan jadi terasa hambar' Kiba mengutuk seseorang yang menjadi penyebab pesta nya berjalan aneh seperti itu. Pikiran para tamunya terus berada di pintu masuk.
"I-itu dia.."
Seolah di komando, mereka serempak menoleh saat mendengar teriakan seorang gadis. Jelas, kedatangan nya menjadi angin baru pada pesta; terlebih karena wajahnya terus menjadi pemberitaan utama selama beberapa jam di setiap channel tv di seluruh dunia.
"Na-naru..-"
"Kyaaaa... Naruto-kun." "Naruto-kun.."
Beberapa gadis segera berlarian menghampiri nya. 'Woahh ada apa ini, kenapa mereka berlarian? Gempa bumi kah?' Naruto jelas tidak siap dengan semua teriakan mereka. Dengan cepat semua gadis mengumbrungi dirinya.
Dia hanya tersenyum membalas semua ricauan yang tidak terkontrol ini. 'Senyum bisnis apanya.. kalau begini otot wajahku bisa kram' Naruto mengutuk siapapun yang mengatakan padanya untuk tetap tersenyum kesemua orang.
"Aku merasa kita menjadi tembus pandang disini" Para laki-laki lain berdecih kesal, selalu seperti itu, tidak ada yang bisa melawan aura kepopuleran Naruto. Bahkan hanya dengan menghela napas saja, dia terlihat keren.
Laki-laki pirang itu jelas risih dengan semua tatapan mereka. Untunglah, Kiba menghalangi wartawan yang ada di depan villa untuk masuk. Jika tidak, pesta ini akan berubah jadi ajang kemunculannya pertama setelah berita itu. Tetapi, ada hal lain yang harus dia pikirkan sekarang, 'Jika dia melihat ini, gadis itu pasti langsung kabur'
Di lain sisi, sepasang amethyst tetap terpaku dengan penampilan nya yang ada di cermin. Sesaat mereka sampai di depan villa, dirinya langsung merasa tidak nyaman dan meminta izin ke kamar kecil ditemani oleh seorang bodyguard perempuan yang menjaga di depan villa. Dari tempat ini dia bisa mendengar jelas teriakan gadis dari ruang utama.
Villa cantik dan mewah ini bersebelahan langsung dengan pemandangan indah lautan biru. Di temani dinginnya laut malam, gadis itu tetap diam setelah keluar dari kamar kecil. Untunglah, posisi tempat itu bisa dilewati tanpa harus masuk ke dalam villa. Gadis itu jelas tersihir dengan pemandangan yang dia tidak bisa nikmati setiap hari.
"Menjadi orang kaya memang hal baik" Dia tersenyum kecut. "Ibu pasti menyukai nya; melihat hal indah seperti ini"
'Aku ingin kesana, berjalan di sisi pantai pasti menyenangkan' Hinata pernah mendengar ini, Lautan menyimpan aura ke misterius an; suara ombak yang bergulung dan aroma air asin yang pekat akan menarikmu untuk bermain kesana. Jelas sekali, Hinata sepenuhnya telah terhipnotis dengan keindahan ini.
"Nona" Hinata dikejutkan dengan panggilan seseorang dari belakangnya. Dia menoleh dan menemukan bahwa bodyguard perempuan yang barusan mengantarnya masih setia menjaganya. "Maaf nona, Partner anda ingin memastikan bahwa kami mengantarkan anda kembali dengan aman ke aula pesta"
'Haah~ apa yang kuharapkan. Aku disini bukan untuk liburan'
Gadis itu tersenyum, dia mengikuti langkah kaki bodyguard itu. Pikirannya melayang pada suara ombak yang bergulung lagi. Dia ingin sekali melepas high heels nya dan memanjakan kakinya; pasti hebat sekali saat dia bisa merasakan langsung air laut dan pasir lembut menyentuh kulit nya.
Brak!
Pintu utama terbuka, sekali lagi. Namun bukan gadis cantik atau laki-laki berjas. Seorang perempuan lengkap dengan pakaian layaknya bodyguard membungkuk dihadapan semua orang yang menatap nya. Dia segera undur diri dan mempersilahkan orang di belakangnya untuk masuk.
"Bodyguard?"
"Selebriti?"
"Gadis itu apakah dia orang terkenal?"
Semua orang berbisik melihat kejadian spektakuler yang ada dihadapan mereka. Gadis yang sedang dihadapan mereka terlihat memiliki aura hebat. Melihat wajah tenang dan tatapan kosong, jelas terasa bahwa gadis itu seperti sedang menatap orang-orang yang tidak sederajat dengannya; aura keangkuhan yang luar biasa.
Walau begitu, mereka tidak marah dan merasa terhina dengan tatapan itu. Terlebih dengan wajah ayu dan body wow yang sedang tersuguh dihadapan mereka. Model? Selebriti? Atau seorang bidadari? Apapun panggilan yang sedang mereka pikirkan, itu tidak bisa menggambarkan kecantikan alami perempuan yang tetap diam di depan pintu ini.
'Pantai.. aku ingin ke pantai' Hinata mengibas rambut nya pelan, pikirannya masih terus tertuju pada list daftar tempat yang harus dikunjungi sebelum mati yang pernah dibuatnya tanpa sengaja. Dia masih tidak menyadari tatapan semua orang yang terpaku padanya.
"Woah malaikat" Kiba jujur mengagumi gadis itu, dia tidak pernah melihat gadis secantik ini. "Kau tertarik padanya?" Di samping, laki-laki pirang tersenyum puas dengan semua perhatian yang tertuju pada partnernya itu.
'Tentu saja, kalian harus menganguminya. Dia adalah gadis pilihanku. Pilihan Uzumaki Naruto tidak pernah keliru.' Dia berpikir seperti itu, tetapi tangan nya malah meremas kuat gelas yang ada digenggamannya. Sepasang sapphire blue itu menyala marah.
Ekspresi kesal jelas terlihat di wajah tampan Naruto. Amarah nya semakin kuat saat segerombol laki-laki maju mendekati Hinata. Mereka berbicara sesuatu kepada gadis itu dan terlihat terus ingin bergerak maju mendekat ke tubuh Hinata.
"Oh, ada apa teman-teman.. apa yang sedang kalian bicarakan?" Naruto menatap tidak percaya, teman yang baru saja berbicara padanya barusan sudah hilang dari sisinya dan ikut menibrung bersama laki-laki lain dan mengitari Hinata layaknya serangga.
"Huh!" Laki-laki itu menegak minuman nya dengan sekali tegukan. Dia meletakkan gelas itu di meja disampingnya. Kaki nya berniat melangkah sebelum sepasang tangan memegang tangan kanannya.
"Sakura?" Laki-laki itu baru menyadari keberadaannya. "Kau disini.." Sakura memberikan senyuman terbaiknya.
"Partner apanya.." Gadis lavender itu menggumam pelan. "Dia bahkan meninggalkan aku sendiri." Tatapan nya menatap lurus dua orang yang saling berpandangan jauh di depannya.
"Hei, kau tidak mendengar ku?"
Hinata menatap jengah beberapa laki-laki yang terus-terusan melemparkan banyak pertanyaan ke arahnya. Kenapa mereka bertindak seolah mengenal nya dan terus mengajak nya berbicara.
"Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya, apakah kau kesini bersama seseorang?" Kiba menyita perhatian Hinata. Mendapat tatapan dari sepasang amethyst indah itu membuat perasaan Kiba berdesir aneh. "A-apa aku salah ya?"
Hinata menggeleng pelan, dia tersenyum. "Aku memang datang sebagai pasangan seseorang. Tetapi sekarang dia malah sibuk dengan perempuan lain." Tatapannya beralih pada pasangannya yang sedang berbicara dengan gadis pink itu.
"Ow.. siapa laki-laki sialan yang berani menelantarkan gadis secantikmu?"
'Ah benar, wajahku kan di blur pada berita itu. Jadi mereka tidak mengenaliku.'
"Entahlah.." Dia memang tersenyum; seperti itu. Nyatanya, dalam hati Hinata sedang terjadi perang kewarasan dan harga diri. Bagaimana bisa dia berbicara kepada orang asing tanpa malu-malu begini, seolah dia sedang dikontrol oleh sesuatu sesaat setelah melihat pegangan romantis antara pasangan nya dengan gadis pink itu.
'Pantai indahku.. aku ingin segera berlari kesana dan menenangkan diri!!!' Senyum manis tidak pernah luntur dari bibir Hinata. 'Apa aku harus terus begini?'
"Hei, kapan kau mau mengatakan namamu pada kami" Laki-laki dari sisi kanan nya yang terus saja ingin menarik perhatiannya mulai kesal karena pertanyaan nya tidak di jawab. Walau dia tidak setampan Naruto dan Toneri. Laki-laki ini masih enak di pandang. Mungkin dia bisa disebut normal; ini terasa aneh karena sudah lama dia tidak berhadapan dekat dengan seseorang pemilik wajah normal, karena selama ini, wajah setingkat Sai atau Toneri lah yang ada dihadapannya. Oh, Naruto jelas berada di level yang berbeda.
"Apakah aku harus memberitahu namaku?" Hinata menatap laki-laki itu dari atas hingga ke bawah, entah dapat kepercayaan diri dari mana; Tatapan gadis itu terlihat seolah meremehkan keberadaannya.
Grep! Genggaman kuat di pergelangan tangan nya cukup membuat Hinata meringis.
"Hei, Yuta! Apa yang kau lakukan" Kiba mencoba menenangkan seseorang yang terkenal karena ke kasar an nya bahkan sampai dijuluki preman sekolah. Tapi tidak ada yang bisa berbuat apapun pada anak pemilik perusahaan terkemuka.
"Aku tidak tahu kau siapa, tetapi bukankah sikap mu sekarang sedikit kurang ajar. Bersikaplah layaknya perempuan! Kau tidak boleh melawan kepada laki-laki"
"Hei Yuta" Kiba mengutuk di dalam hati, sebenarnya siapa yang mengajak laki-laki kasar ini sih. Ah, apa mungkin dia datang sendiri tanpa diundang? "Berhentilah"
"Sedang bicara apa? Seru sekali.."
Deg!
Yuta terdiam dengan tangan yang tiba-tiba menyentuh bahu nya. Pupilnya bergetar saat mengetahui siapa pemilik tangan nya tersebut. Sepasang sapphire blue milik laki-laki itu berkilat tajam ke arahnya.
.
.
.
Tbc
.
.
.
Siapa Yuta? Apa dia berada dalam serial Naruto? Seingatku sih ada. Tapi ini bukan dia. Karena Yuta yang kumaksud berbeda yang ada di serial aslinya. Yang artinya cuma buatan.
Terima kasih sudah bertahan hingga chapter ini. Benar-benar berterima kasih lo. Dan hingga chapter ini pun masih memerlukan kritik saran dari para readers tercintah aku
Enjoy
