The King and Hime

.

.

.

.

Naruto milik Masashi Kishimoto

.

.

.

Chapter 13

Semua bungkam, mereka tidak berani menengahi Naruto dan laki-laki bernama Yuta tersebut. Mereka malah menganggap ini menarik karena sang pemeran utama ikut dalam panggung pertunjukkan.

Naruto berbalik menatap amethyst yang segera mengalihkan pandangan nya sesaat setelah mata mereka bertemu; yang tentu menimbulkan tanda tanya dari laki-laki pirang itu.

"Kenapa diam? Apakah aku tidak boleh ikut berkenalan dengan gadis ini?" Naruto mencengkram kuat bahu laki-laki itu yang tentu saja membuatnya meringis kesakitan; walau begitu dia tetap diam tak berkutik.

"Hei Yuta. Barusan kau tidak berniat melayangkan tanganmu lagi kan?" Ucapan dingin laki-laki pirang ini membuat sang preman sekolah menggeleng ketakutan. Tatapan menusuknya mengingatkan dirinya pada kejadian mengerikan yang membuatnya berada dirumah sakit selama 1 minggu. Tentu saja tidak terjadi disekolah, bisa-bisa mereka berdua dikeluarkan karena menimbulkan keributan. Tetapi, rumor nya tersebar cepat dikalangan para siswa dan menjadi rahasia sensitif di sekolah tersebut karena menyangkut nama Uzumaki Naruto.

"Itu tidak mungkin kan, Yuta -kun?" Sakura datang di samping Naruto. Dia tersenyum. Sesaat dia menoleh ke arah Hinata, emerald nya membulat terkejut; dia mengenali gadis ini. Kenapa dia bisa berada disini? Apa mungkin..

"Kau tau kan, kau tidak boleh menyakiti gadis ini" Naruto berbisik di telinga laki-laki itu. Cengkraman semakin kuat pada bahu laki-laki yang dibisiki nya ini.

Yuta menunduk, dia tidak berani menatap sepasang sapphire blue mengerikan itu lagi.

"Pssst.. lihatlah, dia tidak berkutik di hadapan Naruto-kun.."

"Ahaahaha.. aku tidak tahu bahwa preman sekolah selemah ini"

"Dia tidak mungkin berani menantang Naruto-kun lagi jika tidak ingin kembali berakhir dirumah sakit."

'Sialan!' "Lepaskan aku sialan" Dia punya harga diri, dia tidak boleh diperlakukan seperti ini. Laki-laki menggenggam tangan Naruto yang mencengkram bahunya dan menepisnya kasar.

"Lucu sekali." Yuta tertawa sarkastik, "Aku tidak tau bahwa tuan muda Uzumaki ini begitu penuh kepedulian tinggi pada perempuan asing"

Naruto menoleh terkejut, "A-ap..-"

Dia berbalik menatap Hinata. "Pfftt.. apa-apa'an ini...-" Laki-laki pirang itu tertawa yang tentu saja menimbulkan tanda tanya pada semua orang di ruangan itu. "Ah.. apa mungkin para wartawan itu mengaburkan wajahmu?" Naruto bertanya sekilas pada Hinata. Gadis itu menggeleng pelan, bukan, itu bukan tanda ketidaktahuan nya.

Hinata bisa menebak bahwa laki-laki ini ingin mengatakan sesuatu tentang dirinya; yang ada di dalam berita. Dan dia rasa apapun yang akan keluar dari mulut Naruto pasti bukanlah hal yang baik untuknya.

Naruto menyeka air mata disudut matanya; sepertinya sudah lama dia tidak tertawa hingga mengeluarkan air mata seperti ini.

"Kau..-" Naruto menyeringai ke arah Yuta, "Kalian semua tidak mengenali gadis ini?" Dia berbalik menatap semua orang disini.

Sakura mengenggam pergelangan tangan laki-laki itu cepat; menghentikan Naruto melanjutkan ucapannya. Dia terlihat tidak baik, tangan nya gemetar gugup, "A-apa yang kau katakan, Naruto. Tentu saja kami tidak mengenali nya. Dia kan bukan berasal dari sekolah kita."

Naruto menyeringai, dia melepas tangan Sakura dan berjalan ke samping Hinata. "Kau tau Yuta, gadis ini bukanlah orang asing. " Sepasang sapphire blue itu menatap tajam ke arah laki-laki yang sudah berkeringat dingin.

"Dan juga gadis ini bukanlah seseorang yang bisa kau sentuh atau goda sesukamu." Naruto berbalik menatap laki-laki lain disekitar Yuta yang juga ikut mengoda Hinata barusan. "Berlaku juga untuk kalian."

"Dia..-" Hinata terkejut dengan genggaman kuat Naruto pada tangannya. Gadis itu memberontak walau begitu genggaman nya semakin kuat. Naruto tidak membiarkannya melepaskan tangan nya.

Tangan nya yang tergenggam di tarik mendekat ke arah laki-laki itu. Cup!

"Dia adalah gadis berita milikku"

"Eh?" Hinata menatap horror punggung tangan nya yang dikecup pelan oleh laki-laki itu. Apa yang sedang diperbuat bocah mesum ini; Bahkan teman-temannya melongo tidak percaya.

"Aah.. jadi dia si perempuan beruntung dari berita itu?" Kiba berseru iri melihat keberuntungan laki-laki itu mendapatkan gadis secantik Hinata.

"Gadis secantik itu?" "Bukankah kau bilang gadis itu jelek, maka dari itu wartawan mengaburkan wajahnya?" "Ah itu? Aku juga tidak yakin" Berbagai orang mulai asik membicarakan identitas tokoh utama yang mendadar terbeberkan di tengah acara. Mereka memperhatikan lalu berbisik.

Jelas Hinata tidak suka dengan situasi ini, benar-benar diluar perjanjian. Gadis itu bahkan menunjukkan ketidaksukaan nya dengan remasan kuat pada tangan Naruto yang masih setia menggenggamnya.

Naruto menyeringai, "Dan juga dia..-"

Plak!

Tamparan keras yang diterimanya membuat perhatian semua orang menatapnya syok. Dua orang yang lebih dulu menjadi perbincangan hangat di sekolah kembali berulah. Kali ini, bukan adegan romantis gadis pink yang terus mengejar-ngejar laki-laki tampan itu. Tetapi sebuah pertengkaran. Jelas terlihat dari wajah penuh amarah dari gadis pink cantik itu.

Naruto mendecih pelan, dia memegang pipinya yang memerah, "Apa yang sedang kau lakukan, Haruno Sakura." Matanya mengkilat tajam, dia tidak suka menjadi perhatian semua orang dengan cara ini; ini bukanlah style nya, mendapat tamparan di muka umum? Jika itu laki-laki, Naruto pasti memastikan lawan nya tidak hanya mendapatkan luka ringan.

"Aku sudah berusaha.." Kedua tangan gadis itu mengepal kuat, wajahnya cantiknya menunduk menyembunyikan perasaan marah yang menguasainya, "Sejak lama..-"

"Tapi kenapa?! Kenapa gadis itu yang berada di sampingmu." Telunjuknya menodong pada Hinata. Tatapan tajamnya mengarah langsung pada gadis itu.

'Perasaan ini jelas berbeda! Ini sungguh berbeda dari sebelumnya. Aku merasakan Naruto akan pergi meninggalkan ku jika aku diam saja!' Sakura mengertakkan giginya 'Aku merasa gadis ini akan mengambil Naruto dari diriku?!'

"Aku bahkan menurutimu dan mempercayaimu! Aku mengikuti Sasuke-kun dan bahkan menikah dengannya. Tapi aku tidak bahagia! Aku tidak bahagia, Naruto-kun" Gadis pink itu hilang kendali, dia mencengkram pakaian Naruto.

Laki-laki itu tetap dalam ketenangannya, dia tidak menunjukkan ekspresi apapun walau sahabatnya ini menangis di hadapannya. "Kau hanya sedang berada dalam fase pertengkaran. Berpikir jernihlah dan..-"

"Aku tidak pernah menganggapnya sebagai suamiku!" Teriak gadis itu nyaring. "Kenapa.. kenapa kau terus menjodohkan aku dengan laki-laki sialan itu!" Air mata membanjiri matanya; dia menangis.

Naruto menghela napas; menyusahkan untuk berbicara dengan seseorang yang tidak bisa berpikir rasional. Dia beralih ke arah Hinata yang menatapnya. Naruto tidak bisa membaca ekspresi gadis itu.

'Semua akan semakin menyebalkan jika aku tidak menghentikan ini segera'

Gadis ini berbicara terlalu banyak. "Hei tenanglah. Sakura.." Naruto memperhatikan seluruh tatapan penuh selidik dari teman-temannya. Ini sudah berada diluar kemampuannya; semua sudah mendengar pengakuan langsung dari Sakura; jadi dia tidak bisa mengelak apapun.

"Kau harus pulang, Sakura."

Sakura melepas genggamannya, dia menatap dingin ke arah sepasang sapphire blue itu. "Apakah kau sekarang mengusir ku, Naruto-kun?"

Grep! Naruto mengenggam pergelangan gadis itu dan membawa nya pergi dan menjauh dari sana.

"Wah wah.. bukankah itu agak berbahaya. Naruto terlihat kesal sekali." Kiba bersidekap.

Gadis lavender itu hanya menatap kedua orang yang perlahan menghilang dari balik pintu. Dia tidak suka dengan pemikiran yang sekarang berkecamuk dikepalanya, 'Meninggalkan partner mu sendirian adalah kesalahan fatal, Naruto'

Laki-laki itu membawa Sakura menjauh. Dia melepas genggaman nya dengan kasar dan menatap kesal gadis yang masih terisak di hadapannya.

"Aku sudah tahu ini. Cepat atau lambat kau akan mengusik ku, Sakura. Apa kau tahu apa yang kau lakukan barusan? Kau menggali kuburan mu sendiri. Menurutmu bagaimana respon keluarga Haruno dan Uchiha tentang hal ini?"

"Dia mengkhinatiku." Lirih gadis itu pelan.

"Hah?" Apa lagi ini. Siapa yang mengkhiati siapa. Dia sudah lelah dengan pesta ini ditambah dengan kedatangan Sakura. 'Bagaimana aku bisa mengontrol ekspresi setelah ini' Mengingat agenda nya setelah ini membuat Naruto semakin pening.

'Jika masalah ini juga menyeret nama Uzumaki. Aku mungkin..-' Sapphire blue indah itu sedikit terlihat menakutkan. Memikirkan hal-hal yang mungkin terjadi jika nama keluarga juga disebutkan oleh para wartawan yang mendengar berita ini; membuat dirinya mendidih. Jangan sampai berita sialan ini juga menyeret keluarga yang dia bangun sekuat tenaga.

Sakura tidak menyadari perubahan ekspresi Naruto. Dia masih menunduk dan sibuk menatap tanah. "Sasuke-kun; dia mengkhianatiku. Aku memergokinya bersama perempuan lain di apartemen kami."

Ekspresi laki-laki itu kembali semula, Naruto dibuat bingung. 'Sasuke? Maksudmu Uchiha Sasuke yang membuang gelar pewaris Uchiha dan memilih kabur bersama gadis pink ini?'

"Kau mungkin hanya salah pah..- Sakura!" Naruto dikejutkan dengan pelukan tiba-tiba dari gadis ini. Dia mendekapnya kuat.

"Jangan membuangku, Naruto. Kau satu-satunya; hanya kau yang tidak boleh meninggalkanku." Emerald gadis itu menutup pelan; ingatannya melayang pada kejadian yang tidak mungkin pernah menghilang dari kepalanya; pertemuannya pertama dengan laki-laki pirang ini.

Flashback

Haruno Sakura adalah putri tunggal pemilik rumah sakit Konoha yang terkenal akan kehebatannya. Dokter-dokter hebat, alat medis lengkap dan jangan lupa Distribusi obat terbesar hingga ke seluruh dunia; yang tentu saja menuntut Sakura belajar dengan keras di usia nya yang muda. Dia di didik untuk menjadi dokter dan penguasa hebat; layaknya Ayahnya.

Mereka tidak menerima kecacatan di produk terhebat mereka- Haruno Sakura. Hingga pada akhirnya semua paksaan itu membuat Sakura meledak, dia kabur.

Tentu saja kediaman Haruno berubah ricuh, seluruh penjaga diturunkan untuk mencari keberadaan nona muda mereka. Semua teman yang berhubungan dengan Sakura dihubungi, sekedar menanyakan apakah nona muda mereka hanya ingin mengunjungi teman-temannya; termasuk kediaman Uzumaki.

"Hiks..Hiks.." Anak itu terisak kecil. Dia memeluk kedua lututnya.

"Memangnya mereka pikir pergi sejauh mana anak kecil tanpa punya uang."

Sepasang Emerald itu melebar. Dia terkejut dengan nada sarkastik yang menghentikan tangis nya. Dia tidak bisa melihat sosok itu dari dalam pipa besar yang berada di sudut taman bermain yang sudah terbengkalai tak jauh dari kediamannya.

"Kau berbicara dengan ku." Diam, orang itu berhenti berbicara. Namun tidak lama terdengar ketukan di pipa tempat dia bersembunyi.

"Tentu saja, Haruno Sakura-san." Dia tidak mungkin melupakan gadis itu; yang membuat dirinya harus keluar rumah di terik matahari panas karena perintah ibunya untuk membantu pencarian nona muda merepotkan ini. "Berhentilah bermain, mari pulang agar aku juga bisa pulang."

"Tidak mau!" Suara tegas gadis kecil terdengar yang membuat helaan napas lelah dari dirinya. "Aku tidak mau pulang"

'Nona manja ini?!' Anak laki-laki itu menahan untuk tidak berteriak kasar yang sebenarnya tidak sesuai dengan umur nya.

"Pulanglah.." Sakura tergerak dengan kalimat lembut dari seseorang yang dia tahu seumuran dengan dirinya. "Tidak apa-apa, orang tua mu tidak akan marah."

"Ayahmu..- maksudku Kizashi Haruno-san sudah mendapatkan ceramah dari ibuku karena membiarkan orang lain mendidik anak perempuannya." Lanjut nya.

"Kau yakin? Mereka tidak akan marah?"

"Kau bisa percaya padaku."

Sakura tersenyum, dia perlahan merangkak keluar dari dalam pipa. Emerald nya mengerjap; membiasakan cahaya matahari yang langsung tertangkap oleh matanya.

"Ayo.." Gadis itu menatap uluran tangan dari seseorang dihadapannya. Dia mendongak dan menemukan seseorang yang tidak kalah bersinar terang layaknya matahari; terlebih dengan warna rambut nya yang begitu cerah. Ah jangan lupakan mata biru sejernih lautan yang terbentang luas. Gadis itu memerah malu.

Dan juga untuk pertama kalinya, dia merasakan perasaan aneh yang membuat jantung nya berdetak tak karuan.

Flashback end

"Aku tidak akan mengatakan ini dua kali; Haruno Sakura, lepaskan tanganmu"

'Rasa hangat itu, apakah aku tidak bisa merasakannya lagi.' Sakura menggigit bibir nya, dia menjauh dan menatap biru lautan indah yang balas menatapnya dingin.

"Apakah kau menyukai nya- gadis itu?"

Jelas, Naruto tersentak. Dia tahu bahwa itu jawaban dari semua kelakuan anehnya belakangan ini. Mengacaukan perusahaan, media bahkan perasaan menjengkelkan yang dia rasakan baru-baru ini. Otak pintar nya berpikir keras menemukan alasan dibalik semua itu dan tentu saja dia sudah menduga kemana arah nya. Cinta, dia jatuh cinta.

Tetapi tentu saja, ego nya tidak akan kalah semudah itu. Dia tidak akan mengakui nya hingga mendapat balasan positif dari gadis itu. Tidak adil jika hanya dia merasakan perasaan menggelitik ini. Hanya hingga dia mendapatkan lampu hijau, hanya sampai saat itu. Maka dia akan mengungkapkan semuanya.

"Tidak." Jawab Naruto tegas. 'Untuk detik ini. Entah untuk detik berikutnya' sambungnya dalam hati.

Sakura tertawa sarkastik, 'bagaimana bisa aku jatuh cinta pada bocah tidak mau kalah ini.' "Kalau begitu aku tidak akan menyerah. Jika tidak berhasil padamu maka aku akan membuat gadis itu yang menyerah padamu"

"Jangan berani menyentuhnya!" Naruto mengenggam kuat pergelangan tangan gadis itu hingga dirinya meringis kecil.

"Tapi bagaimana ya..-" Sakura tersenyum mengejek, dia mendekat ke wajah laki-laki itu dan berbisik pelan di telinganya. "Gadis malang itu sedang menatap kita dengan wajah syok" bisik nya kecil.

Pupil laki-laki itu bergetar, dia mendorong tubuh Sakura dan menoleh ke belakang. Gadis itu menatap nya, sepasang amethyst itu menatap nya lekat lalu berbalik pergi meninggalkannya. "T-tidak.. tunggu.."

"Apakah seperti ini perasaannya, apakah saat itu wajah nya seperti Naruto. Terkejut dan ketakutan." Sakura menatap punggung Naruto menghilang mengikuti gadis yang duluan pergi. "Kali ini aku sendirian ya."

"Sakura-chan.." Gadis itu terperanjat. Dia menoleh menatap seorang laki-laki yang tersenyum ke arahnya. "Yuta-kun?"

.

.

.

"Hinata- tunggu aku! Hei Hinata.." Dia bisa menangkap gadis itu jika dia mau. Tetapi dia merasa bahwa gadis ini akan semakin marah jika dia melakukannya. "Tunggu aku."

"HEI?!"

Glup! Naruto tanpa sadar berteriak ke arah nya yang tentu saja berhasil menghentikan gadis itu. "Apa barusan kau berteriak padaku?"

"Ti-tidak.. A-aku.." Naruto takut? Dia? Dia yang selalu memberikan tatapan dingin pada karyawan yang tidak bisa memberikan ide sesuai keinginannya ataupun para pemegang saham yang berani menentangnya.

Naruto yang selalu di elukan dimanapun dia berada malah berkeringat dingin dan berpikir keras untuk menenangkan tatapan amarah yang di lancarkan oleh gadis ini. "Kau salah paham, hime"

"Siapa? Aku?"

Laki-laki menelan saliva nya gugup. Sepasang amethyst itu menyipit; menunggu ucapan selanjutnya dari Naruto.

"Maafkan aku" Untuk sekarang, mari minta maaf. Dia membungkuk 90 derajat di hadapan gadis itu; untuk pertama kalinya selama dia hidup.

"Kenapa minta maaf, kau kan tidak salah."

Masih dalam posisi yang sama, Naruto merasa permintaan maafnya tidak akan begitu mudah diterima. Apa yang harus dilakukan nya.

Melihat lawan bicara nya tetap diam dengan posisi membahayakan itu; membuat Hinata harus menahan ego nya dan menerima permintaan maaf an Naruto. Berbahaya jika ada wartawan yang melihat. Bisa-bisa besok ada berita aneh lagi tentang mereka berdua.

Dia menyadari bahwa tindakannya ini sangatlah salah. Hinata tidak memiliki hak untuk marah- pada laki-laki yang bukan siapa-siapa bagi nya dan memeluk gadis lain dihadapannya.

'Aku bukanlah seseorang yang bisa bertindak egois menganggap bahwa seluruh perhatiannya haruslah milikku'

Jiit! Dia tidak suka dengan rasa sakit hanya karena memikirkannya, dia membenci perasaan ini. "Sudahlah, Aku ingin pulang"

"B-baiklah, aku akan mengantarmu"

Hinata membelakangi laki-laki itu. "Tidak perlu. Aku akan naik taksi"

Grep! Naruto menahan tangan gadis itu dari belakang. "Tidak! Aku akan mengantarmu"

Tangan satunya yang bebas mengepal kuat. Dia merasa tidak ingin melihat wajah laki-laki itu. Hanya sementara.. benar-benar hanya sementara lalu dia akan kembali ke Hinata sebelumnya.

"Aku sudah bilang tidak perlu" Hinata berusaha melepaskan pegangan pada tangan nya walau nihil karena genggaman laki-laki itu begitu kuat.

"Jangan keras kepala! Aku akan mengantarmu."

Hinata tidak suka dengan nada paksaan ini, seolah pendapatnya tidak dihargai. Dirinya hanya ingin sendirian. Bukankah seharusnya laki-laki ini memahami emosi yang sudah dia tunjukkan; sebentar saja, dia hanya tidak ingin melihat atau mendengar suara Naruto.

"Lepas!" Hinata berbalik dan melepaskan paksa tangan Naruto. Amethyst nya berkilat marah. Hinata tahu ini salah tetapi dia merasa emosi nya begitu tidak stabil sekarang; rasanya hanya ingin marah dan menjauh dari laki-laki ini. Semua nya.. apapun yang dikatakan laki-laki itu hanya membuat dirinya mendidih dan di kuasai amarah.

"Jangan berlebihan, bocah sialan!" Hinata menaikkan suara nya; dia kesal. Di tatapnya sepasang sapphire blue yang membulat kaget. "Bagaimana bisa anak SMA seperti mu melawan balik orang dew..- Eh?"

Hinata dikejutkan dengan tarikan kuat dari Naruto; dia bahkan belum sempat menyelesaikan ucapannya.

"Kau ini terlalu banyak bicara" Cup! Sepasang amethyst melebar dengan sensasi lembut yang menyentuh bibir nya. Dia bahkan belum sempat bereaksi; bahkan setelah Naruto menjauhkan sedikit kepalanya. Kecupan singkat itu berhasil menghentikan sepenuhnya gerakan nya.

Lautan biru itu menatap sepasang amethyst yang masih belum mencerna kejadian barusan. Naruto masih belum memberikan jarak, dia masih berada dalam jarak berbahaya bagi hati gadis itu.

Tuk! Naruto menempelkan dahi nya pada Hinata. "Berhenti melakukannya..-"

Dia mengerjap; sadar kembali dan balik menatap sapphire blue yang menatap nya sayu. "A-ap..-"

"Aku benar-benar tidak suka...-" Sepasang lautan indah itu kembali menatap bibir yang pernah membuat dirinya kehilangan akal untuk sesaat. Tangan kiri nya naik untuk menyentuh leher belakang Hinata. "Benar-benar tidak suka saat kau menganggapku seorang anak kecil" Dia kembali melakukannya, dan sekali lagi, Hinata berhasil dibuat tidak berkutik di hadapan laki-laki itu.

'Dengan ini akan kuhapus predikat bocah kecil yang kau sematkan untukku.' Sapphire blue membuka, dia tersenyum puas dalam hati melihat permata amethyst itu masih menutup sempurna. Tangan nya kembali menekan Hinata untuk semakin dekat dengan dirinya. 'Aku berubah pikiran, tidak perlu menunggu; akan kubuat dirinya menjadi milikku sekarang juga' Naruto kembali menutup matanya; merasakan desiran menyenangkan yang memenuhi hatinya.

.

.

.

"Ini akohol?" Sakura kembali mendorong minuman yang disuguhkan dihadapannya.

Yuta menyeringai, dia menopang dagu nya dan menatap gadis yang kelihatannya tidak pernah mencicipi manisnya minuman memabukkan itu. "Hanya lebih awal, anggap saja kita minum lebih awal. Lagipula beberapa tahun lagi, kita sudah di anggap dewasa kan?"

Sakura terlihat tertarik, dia menatap cangkir kecil itu. "Lagipula apakah kau sudah izin dengan Kiba-kun memasuki tempat ini?"

Mereka berada di rumah kecil yang ada di belakang Villa. Sepertinya ini rumah untuk para pelayan yang bertugas membersihkan villa keluarga inuzuka itu. Tapi karena sedang ada pesta, rumah ini sedang kosong; hanya ada mereka bedua.

"Tentu saja." Yuta tersenyum. 'Itu bohong' lanjutnya di dalam hati.

"Sakura-chan.." Yuta menghela napas, "Aku mendengar semuanya, tentang masalahmu."

Sakura mendengus, "Lalu kenapa? Kau ingin menyebarkannya? Sebarkan saja. Aku tidak memperdulikan apapun lagi.

Yuta menggeleng pelan, dia menatap Sakura simpati. "Aku hanya merasa kasihan denganmu, Sakura-chan. Suami mu selingkuh bahkan kau di khianati oleh Naruto. Bukankah hidupmu malang sekali?" Yuta kembali mendorong gelas kecil berisi akohol yang disembunyikannya. "Mari lupakan segalanya"

'Aku sudah memesan taxi di depan. Sesaat setelah dia mabuk, aku akan membawanya pergi.' Yuta menyeringai dalam hati.

"Apa minuman ini bisa membuatku melupakan segalanya" Emerald itu terlihat kosong, dia menyentuh gelas yang awalnya di tolaknya itu. "Apa dengan ini aku bahagia"

"Ya, tentu saja, Sakura-chan." Yuta mengangkat gelas lainnya di hadapan gadis itu. "Mari bersulang demi kebahagian"

Dia tergerak untuk mengangkat gelas itu. Yuta yang melihat nya; langsung menyatukan gelas mereka hingga berbunyi "Cheers.." dia meminum duluan.

Sakura melihat respon Yuta yang biasa saja saat meminum itu membuatnya semakin tertarik untuk mencoba. "C-cheers.."

'Wah gila.. dia meminum nya sekali tegukan'

"Rasa aneh apa ini.." Sakura meletakkan gelas nya. 'Aneh.. tapi sedikit menyenangkan.' Dia mengulum senyum.

"Sekali lagi.." Yuta kembali mengisi cangkirnya.

Hingga beberapa cangkir, Sakura terus meminum akohol itu tanpa curiga. Perlahan tatapan matanya menjadi kurang fokus. Tubuhnya terus terhuyung kesana kemari.

"Sakura-chan?" Yuta yang sudah terbiasa dengan ini sedikit dapat mengendalikan dirinya. Dia mengibaskan tangannya di hadapan Sakura. "Kau oke?"

Gadis itu tidak menjawab, dia hanya menatap lurus ketempat lain.

'Dia sudah mabuk' Yuta menyeringai. Dia berdiri dan ingin mendekati tubuh Sakura. "Aku akan membantumu pulang, Sakura-chan." Yuta memeluk pinggang gadis itu dari samping, dia mempertahankan tubuh Sakura yang oleng saat dia membantu nya berdiri.

"Kenapa.. hik.."

"Aku akan mengantarmu pu..-" Buk! Yuta terhuyung dan terjatuh saat menerima pukulan langsung dari tangan kanan Sakura ke perutnya.

"Kenapa kau menyentuhku sialan hik.. baka?!"

'Apa ini kekuatan seorang gadis.' Ini memang tidak sekuat Naruto, jelas karena dia seorang gadis dalam keadaan mabuk. Tetapi cukup untuk membuat dirinya hampir memuntahkan semua isi perutnya.

'Ini sakit.'

Yuta menatap sepasang kaki yang mendekatinya. Dia meneguk saliva takut dan mendongak. "Sa-sakura chan?"

"Matilah"

"Eh?"

Dan dengan itu tangan kanan Sakura kembali melayang; memukul puncak kepala Yuta hingga membuat laki-laki itu pingsan.

"Ini uangnya hik.." Sakura memberikan beberapa uang ke supir tersebut dan membuka pintu taxi. Entah bagaimana caranya, dia berhasil pulang dan menemukan taxi di depan Villa. Tanpa perlu basa basi, dia masuk dan meminta supir taxi mengantarkan nya ke suatu tempat.

Dia menatap gedung tinggi dihadapannya. "Berapa nomor nya? 1043? Ya 1403.."

Gadis itu berusaha agar tidak terhuyung saat memasuki gedung itu. Dia berhasil memencet tombol lift dan bernapas lega sesaat.

Ting! Lift terbuka. Dia berjalan gontai ke kamar bertuliskan 1403. "Ah ini dia"

"Na..naruto-kun! Na-naruto kun?!" Dia menggedor-gedor pintu kamar dan memencet bel berulang kali. Tapi hingga beberapa menit, tidak ada sahutan apapun di dalam.

'Dia mengabaikan ku?'

"Na..-" klek! Tangan nya di tarik masuk oleh seseorang. "Naruto-kun" Grep!

Sakura memeluk tubuh itu dan bernapas pelan di dekapannya. "Apakah ini nyata.. kau yang ada dihadapanku sekarang." Orang itu berbisik pelan, dia membalas pelukan gadis itu.

"Ya aku. Ini aku, Haruno Sakura. hik" Racau gadis itu tidak jelas. Kepalanya sangat sakit, dia hanya ingin tidur.

Orang itu tersadar, dia melepas pelukan Sakura. "Kau mabuk?"

Kepala Sakura terkulai kebawah, dia berusaha mendongak dan menyadarkan dirinya. "Ya berkat kamu"

"Kau gila?! Kau ini masih anak sekolah. Bagaimana bis..-"

"Urusai na!" Sakura menutup mulut orang itu dengan tangan kanan nya. "Kau cerewet sekali, Naruto-kun"

Deg!

"Bukan Naruto"

"Hm?"

Tangan laki-laki itu menurunkan tangan Sakura yang ada dimulutnya. Dia beralih pada dagu gadis itu dan memaksa dirinya mendongak; menatap wajahnya.

"Sasuke, aku Uchiha Sasuke"

Sepasang emerald itu melebar; dia terkejut. Sekarang sepenuhnya kesadarannya kembali. "Sa-sasuke kun. Ke-kenapa?"

.

.

.

Tbc

.

.

.

.