The King and Hime

.

.

.

.

.

Naruto milik Masashi Kishimoto

.

.

.

.

Chapter 16

Ini adalah hari yang cerah, bahkan ramalan cuaca mengatakan bahwa hujan turun kisaran 0% persen yang berarti peluang untuk piknik menyenangkan sangatlah besar.

Tentu itu berlaku untuk orang yang memiliki waktu luang. Hari cerah di hari kerja? Itu adalah tanda untukmu agar semakin semangat dalam bekerja.

"Bukankah kantor terasa semakin kosong beberapa hari ini?"

Ketikan semangat gadis itu berhenti, dia menoleh ke wajah cemberut sahabat pirang nya itu. Hinata menggelengkan kepalanya cepat, berusaha menepis segala pemikirannya dan kembali fokus pada pekerjaan.

"Toneri mengundurkan diri. Sedangkan Naru..- maksud saya, CEO Naruto sedang pergi untuk urusan bisnis."

"Ino, apa kau sekarang menghormati nya?" Komen Sai dingin yang dibalas renggutan oleh Ino.

"Diamlah, senyum palsu" sindir Ino pada kekasihnya itu.

Itu benar, selain Naruto. Ada Toneri, teman nya yang sudah menemaninya dalam waktu yang lama tiba-tiba memutuskan keluar. Tanpa ada kabar sedikitpun. Ini cukup membuatnya sedih, dia sudah mengenal lama laki-laki itu, tetapi kenapa dia pergi tanpa mengabarinya langsung

Hinata hanya menemukan secarik kertas pengunduran diri nya di meja kerja nya pada pagi hari.

'Aku tidak tahu apapun tentang Toneri.' Dia berhenti kembali, wajahnya menunduk menatap keyboard hitam, dimana kedua tangannya berada. 'Tentu saja, selain namanya'

Dan untuk Naruto, dia pergi setelah meninggalkan kehebohan pada dunia berita Jepang sekali lagi. Hinata tidak ingin memikirkan itu, lagipula apapun yang dilakukan nya bukanlah urusan dirinya.

"Haaah~" Akan tetapi, seperti kata pepatah lama, semakin kau berusaha tidak memikirkannya, semakin dalam kau terjebak akan kehadirannya. Hinata berusaha mengenyahkan pikirannya pada berita yang masih tetap hangat walau sudah berhari-hari. Dia bekerja, dan bekerja.. tetapi orang itu akan selalu ada. Di halaman depan koran atau di telivisi.

Ino mendekat ke arah meja Hinata, dia mendapatkan perhatian gadis itu dengan melambaikan tangan nya di hadapan layar komputer. "Apa yang sedang kau pikirkan, Hinata?"

Gadis itu mengalihkan pandangannya cepat. "Pekerjaan." Jawab nya singkat.

Ino menyipitkan matanya, tidak percaya."Jangan berbohong."

"Aku tidak bohong dan juga berhentilah mengangguku, Ino"

Ino menyeringai, "Toneri ya..-"

"Bukan!"

"Hm..Kalau begitu...-Naruto!"

Hinata tidak menjawab, dia kembali berkutat pada pekerjaan nya.

"Keduanya kan? Kau pasti sedang memikirkan mereka berdua!"

"Tidak!"

Sai yang sedari tadi diam melihat perdebatan antara kekasih dan sahabatnya itu, akhirnya bergerak maju. Dia meletakkan segelas kopi ke meja Hinata dan juga memberikan segelas ke Ino.

"Itu pasti pilihan yang sulit. Yang satu adalah teman misterius dan yang satu adalah bocah kaya raya" Hinata tahu, bahwa komentar teman senyum palsu nya ini selalu tidak menyenangkan untuk di dengar.

"Wah! Seperti drama yang sering kutonton" Mereka memang sepasang kekasih yang sangat cocok, lihat lah bagaimana kompak nya mereka berdua, tentu saja untuk menganggunya.

Hinata tetap diam dengan semua perkataan kedua sahabatnya itu. Dia tetap melanjutkan pekerjaan nya untuk iklan mobil yang akan segera dilakukan.

Ino akhinya berhenti tertawa, dia melirik ke sisi meja kerja Hinata. Terdapat sebuah tiket familiar disana. "Besok kan..-"

Tuk! Hinata kembali terhenti.

"..-Pameran nya?"

Dia mengendalikan ekspresinya yang sedikit terguncang, lalu kembali melanjutkan mengetik. "Benar."

"Kau akan pergi?"

"Tentu saja. Ini adalah pameran langka"

"Tanpa Naruto?"

"Itu yang kuharapkan. Datang bersamanya hanya menambah rumor palsu tentang kami."

Sai menyadari perubahan wajah Hinata walau sebentar. Dia menyadari bahwa menanyakan hal ini hanya akan membuatnya semakin terguncang. "Ino, ada hal yang perlukan darimu."

"Hm.. apa itu."

"Ayo, ikuti aku saja" Sai membawa kekasihnya pergi dari Hinata.

Helaan nafas kembali terdengar. Hinata menatap tanpa ekspresi layar komputer dihadapannya.

"Apa yang kau harapkan; memberi tiket bukan berarti dia ingin pergi denganmu." Tangan nya mengepal kuat, gadis itu berusaha mengenyahkan perasaan kecewa yang menguasainya.

"Benar-benar menyedihkan, Hinata Hyuuga" lirih nya pelan.

■•••••■

Suara desiran laut menenangkan nya sebentar. Proyek besar ini benar-benar menjadi bumerang telak untuk nya. Dia tidak mengira bahwa pemerintah melepaskan begitu saja tanggung jawab sebesar ini pada laki-laki yang akan menjalani hari akhirnya di SMA beberapa bulan lagi.

"Suasana tenang seperti itu.. entah kenapa...-"

Laki-laki tampan itu mengepalkan tangan nya kuat; berusaha mengenyahkan hantaman aneh yang tiba-tiba menyerang jantungnya.

'Tenang apanya?! Tidak melakukan apapun hanya membuatku semakin memikirkan nya'

'Aku ingin menelponnya. Ingin sekali! Aku ingin mendengar suaranya'

Laki-laki pirang cerah itu menghela napas gusar, 'Tetapi tidak bisa! Itu hanya membuatku semakin ingin melihatnya'

"Haaaah~" Lagi, Helaan nafas ketidak berdayaan kembali dihembuskan nya. "Hinata.. aku merindukanmu"

Sepasang permata lautan itu menatap kosong pemandangan indah yang memanjakan mata. Dia bisa melihat para klien nya yang berlari riang ditemani gadis-gadis cantik. Pertemuan mereka akan dilakukan malam hari, dan bukannya mempersiapkan itu, mereka semua malah asik bermain dengan gadis-gadis berpakaian minim itu.

Menyenangkan apanya, gadis-gadis seperti itu tidak akan pernah mengalahkan Hinata nya.

"Ngomong-ngomong, Utakata"

"Ha'i, Naruto-sama?" Seorang laki-laki bergerak maju ke arahnya. Dia berdiri di samping Naruto yang meraih minuman nya.

"Apa ada laporan terbaru, yang perlu kuketahui" Naruto sedikit menekankan pada akhir kalimatnya yang berarti dia tidak ingin mendengar informasi omong kosong yang tidak berguna.

Utakata memahami itu, dia telah bersama dengan tuannya ini, cukup untuk mengetahui sesuatu yang dia suka atau tidak sukai, "Ada kejadian mengejutkan yang terjadi pada Newday."

"A-ap..-" Sepasang sapphire blue membulat kaget; mendengar nama yang familiar tentu saja membuatnya hampir tersedak. Dia menoleh dengan cepat, "Apa yang terjadi pada New..- maksudku Hina...-Hyuuga Hinata. Tidak ada hal buruk terjadi padanya kan?!"

Utakata menyungging senyum tipis melihat reaksi langka itu. "Tidak ada hal buruk terjadi pada Nyonya"

"Uhuk A-apa maksudmu dengan ny-nyonya?"

Dengan tampang polosnya, Utakata menatap bingung tuan nya itu, "Ada yang salah dengan panggilan saya pada Calon Nyonya Uzumaki?"

"T-tidak. Itu bagus." Naruto mengangguk setuju, dia berdehem sebentar. "Ehem.. Kalau begitu lanjutkan laporan mu, Utakata"

"Homura Toneri, ah tidak, Otsutsuki Toneri mengundurkan diri dari perusahaan nyonya"

"Heee.. benarkah?"

"Lalu dia kem..-"

"Tidak, sudah cukup. Jangan lanjutkan lagi, Utakata" Naruto menyeringai kecil, rupanya tuan muda itu sudah menyadari eksistensinya dan mulai berpikir rasional.

"Apa yang akan anda lakukan?" Utakata sedikit bergidik melihat seringai iblis dari tuan nya itu.

"Biarkan saja. Tidak seru jika kita menghadapi serangga yang belum dewasa. Biarkan dia tumbuh besar dan bermimpi indah untuk mengalahkan ku." Dia melirik ke arah Utakata.

"Lalu saat serangga itu dengan sombong nya berpikir sudah setara denganku, maka saat itulah kita akan meremukkan nya secara perlahan"

'Otsutsuki-san, memang bagus memiliki motivasi yang kuat untuk mengalahkan seseorang' Utakata menelan saliva nya, takut. 'Tetapi tentu saja kau harus memilih lawan yang seimbang'

Di lain tempat, di waktu yang sama seseorang berlari dengan tergesa-gesa, dia berulang kali meminta maaf saat dirinya menabrak beberapa orang di jalan.

Kaki nya akhirnya berhenti saat berdiri di depan pintu, dia menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan. "T-tuan. Ini saya"

"Masuklah"

Sepasang mata hitamnya segera menangkap sosok yang menjadi penyelamat perusahaan cabang ini, kehadiran nya membawa angin segar dan mendadak membuat mereka menjadi pusat perhatian kantor utama karena calon penerus perusahaan ini menjadi direktur utama cabang Jepang.

"Toneri-sama"

"Bagaimana hasilnya?"

Dia segera mendekat dan meletakkan amplok cokelat di hadapan tuan muda nya itu. "Saya berhasil mendapatkan nya"

"Kerja bagus." Dia tersenyum senang, dengan segera tangannya merobek amplok cokelat itu dan mengeluarkan isinya.

"Kau beruntung mereka mau memberikanmu kesempatan" Kali ini laki-laki tampan yang duduk tenang di sofa berkomentar. Dia menyerumput teh nya dengan tenang.

"Kau benar, Sasori."

Laki-laki merah itu melirik dari sudut matanya, "Itu pasti berharga sekali untukmu"

"Tentu saja. Ini adalah tiket emas untuk ku bertemu dengan nya"

"Kau masih mengejar nona Hyuuga itu?"

Toneri tersenyum, "Aku memilih kembali kesini, semua untuknya."

Laki-laki itu berdiri. Dia menghampiri jendela besar yang akan membawa nya ke pemandangan indah kota Tokyo. "Aku tidak akan melepasnya begitu mudah."

Dan hari itu, dua laki-laki tersebut sudah bertekad untuk semakin gencar mengklaim kepemilikan dari gadis itu.

"Naruto-sama" Utakata kembali memanggil tuan nya yang mendadak diam; memikirkan sesuatu.

"Ada yang perlu kau laporkan lagi?"

"Apa anda benar-benar hanya akan membiarkan berita itu?"

Naruto memahami maksud berita yang sedang di katakan bodyguardnya itu. Tentu saja merujuk pada berita sialan yang menambah rumor buruk tentangnya.

Padahal dia sudah mengantisipasi hal ini dengan memberikan peringatan kecil kepada seluruh media terkemuka di Jepang, tetapi si bodoh Yuta itu ternyata bekerja sama dengan media kecil yang baru saja terbentuk.

Dia bukan dewa yang bisa mengatasi semua nya. Tentu saja ada hal yang bisa luput dari perhatiannya, dan akhirnya ini yang terjadi, berita hubungan antara mereka bertiga akhirnya terkuak.

Ditambah dengan hal mendadak yang harus di lakukan, dia tidak bisa mengatasi berita konyol ini sesegera mungkin.

Bagaimana bisa semua ini datang secara bersamaan, seolah ingin menjauhkannya dari Hinata.

"Gadis itu pasti sudah membaca berita itu kan?"

"Tentu saja. Ini sudah beberapa hari setelah awal terbit nya"

Naruto berbalik sepenuhnya ke arah Utakata. Dia terlihat pucat, berbanding terbalik dengan image yang sering dia tampilkan di khalayak umum.

Ini adalah hal langka dan tentu saja pertama kali untuk Utakata melihat Naruto yang kehilangan ketenangannya. Stres akibat pekerjaan dan gadis itu, membuat nya hampir kehilangan kendali akan dirinya, dan berteriak pada pelayan yang tidak sengaja menuangkan jus pada pakaiannya.

Padahal diri Naruto yang dia kenal, seburuk apapun perlakuan orang padanya, dia tidak akan pernah kehilangan kendali dan tetap tersenyum ramah.

"Utakata, apa dia akan marah padaku?"

"Naru..-"

Dia berbalik kembali, membelakangi Utakata. "Tentu saja kan. Laki-laki yang baru kemarin mencium dan menyatakan cintanya padamu ternyata memiliki hubungan rumit dengan pasangan yang sudah menikah."

Sepasang tangan itu mengacak kasar rambut pirang nya. Dia frustasi, lebih daripada menghadapi segunung pekerjaan ataupun tugas dari sekolah.

"Dia akan marah, kesal dan juga merasa terkhianati" Utakata maju dan menyentuh pelan bahu tuan nya. "Tetapi saya rasa dia tidak akan membenci anda, Naruto-sama"

"Kau yakin?"

"Walaupun pemahaman saya pada gadis itu belum sempurna, tetapi menilai dari beberapa hari saya memantau nya dari jauh. Saya yakin bahwa dia bukan gadis berpikiran sempit yang dengan mudah membenci orang yang membantu perusahaannya. Dan Saya percaya pada insting saya."

"Benar. Ya kau benar." Perlahan Naruto mulai mengendalikan dirinya. Memikirkan hal-hal rumit seperti ini bukanlah gaya nya. Dia adalah Uzumaki Naruto, seseorang yang bisa membalikkan perekonomian dunia dengan mudah. Dia hanya harus melakukan sama seperti biasanya dia lakukan.

"Ayo selesaikan semua ini dan kembali secepatnya"

"Ha'i"

Waktu berlalu begitu saja tanpa ada hal yang berarti. Seharian ini, dia hanya sibuk menyelesaikan laporannya dan meninjau beberapa hal sebelum pelaksanaan iklan. Dibawah komando nya dengan dibantu oleh beberapa staff dari Uzumaki corp, dia telah menyelesaikan masalah model iklan dan juga kostum hingga riasan.

Walaupun kurang dalam bagian penyesuaian dan pemilihan kostum, Ino memiliki kemampuan unik dalam riasan nya. Dia dapat membuat staff profesional Uzumaki Corp terpana dengan riasan gratis miliknya.

Selain itu, ketelitian Sai dalam pemilihan peralatan syuting menyelamatkan mereka dalam situasi tidak terduga. Kesalahan dalam bagian peralatan dalam memesan peralatan syuting membuat mereka hampir mendapatkan peringatan dari Naruto.

Pada akhirnya, Hinata harus berterima kasih pada Naruto yang mau menerima anggota perusahaan nya yang sebenarnya tidak memiliki kemampuan hebat dalam bidang mereka. Dia mau mempercayai perusahaan nya dan menyerahkan segala keputusan pada dirinya adalah berkah terbesar untuknya.

Begitulah, hari baru kembali datang. Dia bersiap-siap, tetapi bukan untuk pergi bekerja.

"Kalau begitu, mari berangkat" Dia mengambil tiket tersebut dan memasukkan nya kedalam tas kecilnya.

AI Group, dituding sebagai perusahaan periklanan terbesar di Jepang, hingga perusahaan luar pun meminjam jasanya. Itulah mengapa perusahaan itu pada dasarnya dijadikan panutan oleh perusahaan-perusahaan kecil yang bergerak di bidang yang sama, mendapat keberkahan agar bisa melihat langsung pameran ini adalah sesuatu yang tidak ada dua nya.

"Uzumaki Naruto, seseorang yang dikenal sebagai orang yang terus mengambil keuntungan dimanapun dia berada. Walau begitu, keberadaan nya adalah menjadi keajaiban besar diperusahaan kami." Hinata tersenyum miris, kaki nya melangkah masuk kedalam kereta yang akan membawanya pergi ke stasiun terdekat.

'Orang hebat seperti itu tidak mungkin benar-benar jatuh cinta padaku.'

Syukurlah, tengah sesaknya kereta. Hinata beruntung mendapatkan satu kursi. Dia bernapas lega, walau kembali murung.

"Kau masih mengikuti berita itu?"

Perhatian Hinata teralihkan pada dua gadis SMA yang berdiri di hadapannya, melihat wajah-wajah muda itu membuat gadis itu tersenyum kecil, 'Kangen nya.. pergi kesekolah bersama-sama'

"Ini tentang Naruto-senpai, aku hanya bingung. Kenapa dia tidak mengatakan apapun soal berita sialan itu!"

Hinata mengintip, 'benar juga. Ini seragam sekolah Hanabi. Mereka adalah teman satu sekolah Hanabi dan Naruto'

"Jangan bermain hp di kereta, bodoh. Itu berbahaya. Lagipula, jika dia tidak mengatakan apapun, itu berarti beritanya benar kan?"

'Kalau begitu.. Naruto dan gadis pink itu..-

"Bukankah itu berarti, aku tidak ada kesempatan lagi dong."

Deg!

"Sakura-san kan cantik, pandai, dan dia juga berasal dari keluarga terpandang. Ah tetapi dia kan sudah menikah. Kalau begitu...-"

"Jangan bermimpi, gadis bodoh. Menikah atau belum, mereka itu sesuatu yang tidak bisa kita dekati. Lebih baik kau menyerah sebelum terluka lebih jauh"

"Baiklah..." Gadis itu cemberut. Dia mematikan hpnya.

'Dia benar..' Hinata menunduk murung, 'Aku dan Naruto.. kami tidak mungkin bersatu'

"Setelah ini aku harus naik beberapa stasiun lagi?" Hinata keluar dari kereta dan melihat jamnya. Ini adalah perjalanan jauh untuk menghadiri pameran itu. "Sepertinya sebentar lagi kereta ku datang"

Di lain sisi, Toneri memasuki mobil hitam mewah yang akan membawanya ke acara tersebut. Dia gugup.. ah tidak, ini bukan karena pameran nya, ini karena alasan lain. Dia akan bertemu kembali dengan gadis itu. Seseorang yang mengisi ingatan bahagia akan kota kelahiran ibu nya itu.

"Kau benar-benar akan meninggalkan ku dengan dokumen sialan itu?" Sasori benar-benar tidak rela, padahal Toneri bisa bersenang-senang ke pameran. Sedangkan dia terjebak di ruangan kecil bersama dokumen perusahaan.

"Aku serahkan perusahaan padamu, oke." Dia tersenyum kecil dan segera menancap gas pergi dari sana.

"Bos sialan!"

Pintu kamar mandi terbuka, laki-laki pirang itu keluar sambil mengeringkan rambut nya dengan handuk. Dia menyadari keberadaan seseorang, dia berhenti dan berbalik."Oh kau sudah disini?"

"Selamat pagi, Naruto-sama"

Naruto mendengus, dia mengambil segelas susu dari nampan yang dibawa Utakata. "Bukankah kau sedikit mengerikan. Bagaimana bisa kau masuk keruangan ini"

Utakata dengan tenang, terlihat sedikit bangga, menjawab pertanyaan tuan nya itu, "Bukankah itu membuktikan aku bukanlah Bodyguard biasa."

Naruto menatap tidak percaya, "Dasar stalker mesum" Dia berjalan ke arah pakaian nya yang sudah disiapkan oleh Utakata.

"Jadi ada apa?" Naruto melirik bodyguard nya itu dari kaca panjang yang ada dihadapannya. Dia mengancingkan perlahan kemeja putihnya.

Utakata terlihat ragu, mengatakan hal ini sebelum rapat akhir bukanlah hal baik. Dia tidak ingin kosentrasi tuan nya terganggu dengan berita ini.

"Katakan saja." Naruto bisa membaca raut wajah gelisah dari Utakata. "Apapun yang kau katakan, tidak akan mempengaruhi kinerja ku sebagai pemimpin proyek besar ini"

Utakata tersenyum tipis, tuan nya memang tidak pernah bisa dibohongi, "Perkiraan anda benar, Naruto-sama. Otsutsuki-san berhasil mendapatkan tiket undangan pameran itu"

"Hm.." Sepasang sapphire blue itu menggelap, dia menatap pantulan dirinya di cermin itu. "Menarik sekali." Tangan bergerak merapikan rambut pirang nya. "Ayo pergi, Utakata." Dia menyeringai dan berbalik.

Image

"Pihak lawan sudah bergerak.. bukankah kita harus segera bersiap."

"Ha'i, Naruto-sama"

■■■■■■■■••••••■■■■■■■

Disinilah dirinya pada akhirnya, seolah terkurung layaknya tahanan penjara. Tidak banyak yang bisa dia lakukan, selain makan dan tidur di kamar yang telah dia tinggalkan bertahun-tahun.

Tidak, dia tidak boleh mengeluh. Ini akan berubah menjadi lebih buruk jika tanpa bantuan Naruto. Setelah kejadian beberapa hari yang lalu, keputusan awal dimana dia akan di hukum berat bersama Sasuke, ditangguhkan. Disinilah dia sekarang, menunggu hasil rapat keluarga akan nasib nya dengan Sasuke.

Benar, jika saja Naruto tidak datang saat itu...-

Flashback

Plak!

Tamparan keras di daratkan pada pipi gadis pink itu. Dia tersungkur jatuh, pipinya memerah, dan terasa nyeri. Tidak ada yang lebih buruk dari tamparan seorang laki-laki dewasa yang merupakan ayah nya itu. Ini cukup membuatnya tidak berani bangkit dan tetap bertahan di posisi nya sekarang.

"S-saku..-"

"Jangan pernah berani mendekat kesana, Uchiha Sasuke."

Keadaan laki-laki ini bahkan jauh lebih buruk, wajahnya sudah babak belur dipukuli oleh bodyguard suruhan ayah nya. Dia tidak bisa melawan, karena itu hanya akan membuat semua menjadi lebih buruk.

Tidak! Ini hanyalah dalih nya semata. Dia benar-benar laki-laki pengecut, Sasuke sadar akan hal itu. Dia bahkan tidak bisa mendekat dan menolong istrinya yang menunduk takut.

Uchiha Fugaku, pemimpin klan Uchiha, ayahnya. Dia tidak akan pernah bisa melawan orang itu, selamanya. Didikan keras ayahnya sejak kecil begitu membekas di hatinya. Sasuke terus mengingat bayangan Ayahnya yang membawa rotandi tangan nya. Saat dia melakukan kesalahan, sekecil apapun itu, ayahnya akan menatap nya begitu dingin dan mengarahkan rotan itu untuk memukul kakinya.

Sepasang mata hitam itu menatap nanar permata emerald yang balas menatapnya penuh harap. Sakura yang sudah berlinar air mata terus memandang nya, meminta bantuan.

Dia tahu walau Sakura tidak pernah menceritakannya. Klan Haruno sama keras dengan Uchiha. Mereka adalah keluarga hebat yang menghasilkan dokter-dokter dan ahli obat yang berpengaruh di dunia kesehatan dan farmasi. Didikan keras sebagai kepala keluarga sudah menjadi makanan sehari-hari gadis itu.

Dengan latar belakang itulah mereka berdua bisa berteman, di tambah dengan klan Uzumami yang sudah menjadi teman dekat keluarga Uchiha dan Haruno sejak beberapa generasi sebelumnya.

"Paman tenanglah, ayah juga." Itachi membantu adiknya yang sudah sangat kelelahan, bahkan hanya untuk berbicara memanggil nama istrinya.

"Kau tidak perlu ikut campur, Uchiha Itachi. Ini adalah urusan kepala klan dengan para pengkhianat ini." Salah satu tetua klan Haruno menatap sinis Itachi yang balas menatap dingin ke arahnya. Orang tua itu sedikit bergidik dengan tatapan itu, tetapi dia berusaha menyembunyikan nya, karena sang Uchiha Itachi pun tidak bisa berbuat apa-apa pada tetua klan lain.

"Apa yang akan kau perbuat pada gadis pengkhianat ini, Kizashi."

"Sayang, Sakura baru saja kembali pada kita. Tolong jangan hukum dia terlalu keras. Kau sudah menamparnya hingga tersungkur seperti itu." Mebuki Haruno menyentuh pelan lengan suaminya. Dia tahu bahwa anaknya telah melakukan kesalahan, tetapi dia tidak tega menghukum dengan kejam darah dagingnya sendiri. Perasaan seorang ibu bukanlah sesuatu yang sepele, dia telah terhubung dengan anak gadis nya itu bahkan jauh sebelum orang lain melihat rupanya saat lahir ke dunia.

Maka dari itu, jika ada orang yang harus menghukumnya. Itu adalah dirinya, ibu dari anak itu.

"Mebuki! Kau tidak boleh bertindak lemah terhadap pengkhi..-"

"Sakura! gadis yang anda panggil pengkhianat hina itu adalah Haruno Sakura. Dia anakku." Mebuki melirik tajam tetua klan yang bungkam. Wanita itu berbalik menatap Mikoto yang tidak berhenti menangis sejak pertama melihat keadaan anaknya yang sudah babak belur.

Tatapan nya tidak pernah lepas terhadap Sasuke, tubuhnya gemetar hebat. Mebuki tahu bahwa wanita ingin sekali memeluk anak nya yang sudah menghilang selama bertahun-tahun, tetapi jika itu hanya akan menambah amarah dari suami nya, Fugaku. Mikoto rela untuk menahannya untuk sekarang.

'Tuhan.. dewa.. atau siapapun.. aku mohon, tolong bantu anak ku. Aku mohon, siapapun.. siapapun tolong biarkan aku memeluk anak ku, dan mengobatinya.' Mikoto menutup matanya dan memohon.

'Dia pasti sudah berjuang keras untuk menghidupi dirinya dan juga istrinya. Aku hanya ingin mereka bahagia. Tolong jangan biarkan mereka menderita lagi.'

"Aku akan mengusir bocah ini dari Uchiha" Fugaku berbalik menatap Kizashi.

"Mengusir? Bocah sialan ini sudah mempermalukan Uchiha, tetapi kau hanya mengusirnya?! Bukankah kau terlalu lembek, Fugaku!" Kali ini tetua klan Uchiha protes. Dia merasa bahwa hukuman Sasuke tidak sebanding dengan akibat yang telah dia lakukan terhadap nama baik klan Uchiha.

"Maaf anda tidak bisa masuk kedalam.." "Tidak.. ada.." Brak!

"Gaah..!" Tubuh laki-laki terlempar masuk sesaat pintu di dobrak keras dari luar. Para bodyguard yang berjaga disekitar segera bersiap melindungi di depan dua keluarga tersebut.

Perlahan dua kaki melangkah mendekat, diikuti dengan dua kaki lain di belakang. Pemilik kaki paling depan mengacak rambut pirang nya sesaat, dia menyeringai melihat wajah marah dari para tetua klan yang melihat wajahnya. "Apa ini? Apakah aku melewatkan sesuatu?" Dia tersenyum lebar.

Image

"Kau?! Uzumaki Naruto?!"

Naruto menyeringai, "Selamat malam. Maaf menganggu.."

Flashback end.

Tbc

.

.

.