The King and Hime
.
.
.
.
.
Naruto milik Masashi Kishimoto
.
.
.
.
Chapter 17
"Nona Hinata Hyuuga, kan?"
Gadis lavender itu mengangguk.
"Anda benar datang sendiri?"
Mata laki-laki yang memeriksa undangan nya, terus menatapnya, bergantian dari undangan lalu ke dirinya.
'Apa aku membawa undangan palsu?'
"Ano.. apa ada masalah?"
"Tidak, tidak ada. Maafkan saya karena telah membuat anda menunggu. Selamat datang ke pameran AI Group." Laki-laki itu berbalik ke arah teman nya, "Gadis ini akan memandu mu."
'Aku tidak tahu bahwa akan mendapatkan pemandu' "Terima kasih"
Berkelas, adalah pemikiran pertama sesaat kakinya menginjak masuk ke tempat ini. Dia terpesona, AI Group memanglah luar biasa. Membuat penonton terpukau adalah hal terpenting dalam sebuah iklan, dan sekarang, AI Group berhasil membuat dia terpesona terhadap dekorasi pameran ini.
"Kalau begitu, Nona Hyuuga. Jika berkenan, bisa kita memulai dari bagian sebelah sini?"
"A-ah, iya." Dia hampir melupakan keberadaan pemandu ini. Kaki nya melangkah mengikuti nya. Ngomong-ngomong, jika diperhatikan. Tidak semua orang memiliki seorang pemandu seperti dirinya. Gadis yang menemaninya sekarang menggunakan seragam yang serempak, jadi dia bisa mengenali para staff dengan mudah.
Gadis pemandu itu memulai dari mengenalkan selak beluk AI Group, sejarah nya dan para pemimpinnya. Dia menyukainya, pemandu ini bahkan tidak sungkan menjelaskan apapun yang ditanyakan bahkan jika itu terkait dengan sejarah hasil iklan yang telah ditampilkan.
"Em...Sacha-san, kan?"
"Anda bisa memanggil saya, Sacha saja. Hyuuga-sama"
"Anda juga.. tidak perlu memanggil saya seperti itu. Hinata saja."
Gadis bernama Sacha itu tersenyum, "Apa ada yang ingin anda tanyakan, Hinata-sama?"
'Benar-benar deh..'
"Tidak.. em.. aku hanya ingin berterima kasih karena sudah memandu ku."
Sacha tersenyum manis, "Ini adalah kehormatan bagi saya bisa memandu tamu VVIP seperti anda."
'Eh?'
"A-apa? Tidak-tidak.. VVIP apaan? Saya bukan orang sepenting itu."
'Apa ada kesalahan dalam penerimaan tamu mereka? VVIP? Apakah sekarang keberadaan ku setingkat seorang presiden?'
Sacha memiringkan kepalanya, bingung. Dia membuka smartphone nya dan berkutat disana untuk beberapa menit. "Benar, saya tidak salah. Anda benar-benar orang yang sangat penting, setingkat presiden" Gadis manis itu tersenyum manis
'A-apa dia membaca pikiran ku?'
Sacha kembali kelayar ponsel nya untuk mencari informasi lebih, saat melihat wajah tidak percaya Hinata. "Tetapi disini, anda dikenalkan sebagai kekasihnya Uzumaki Naruto-sama."
'A-ap..!'
"E-ehhhhh? K-kenapa?"
Gadis manis itu hanya tersenyum, yang menandakan dia tidak tahu menahu tentang hal itu.
Hinata menenangkan dirinya, sebagai wajah dari perusahaan nya, dia tidak boleh melakukan tindakan memalukan disini. 'Naruto no baka!'
"Ehem.." Gadis itu berdehem sebentar, "M-mari kita lanjutkan"
Sacha terkekeh sebentar, "Ha'i"
Tidak jauh dari sana, seseorang sedari tadi memperhatikan interaksi dua gadis itu. Hm.. tidak, sebenarnya, dia hanya berfokus pada gadis yang memiliki surai seindah bunga lavender.
"Apa yang sedang kau perhatikan?" Seseorang mengajak dirinya berbicara, akan tetapi, perhatian nya tetap tertuju pada gadis itu. Dia hanya berpaling sebentar untuk menikmati minuman di tangan nya.
"Pameran" jawab nya singkat.
Tidak bisa, teman nya ini tidak berada dalam keadaan yang bisa diajak berbicara. Semua fokus perhatian nya jelas sekali tertuju pada seseorang. Dia mengikuti pandangan nya dan menemukan gadis cantik yang terlihat takjub dengan salah satu objek pameran.
"Incaranmu?" Tanya nya.
"Hah?" Akhirnya orang ini menoleh, dia sadar bahwa orang disamping nya juga tengah memperhatikan gadis itu. "Jangan menganggu nya, Akari. Dia milikku"
"Baik baik.." Dia melirik, teman nya kembali lagi terfokus pada gadis itu, dan tentu saja mengabaikan nya.
"Sampai kapan kau di Jepang?" Pada akhirnya, teman nya itu mengajak nya berbicara. Ya walau, tatapan nya tidak lepas dari gadis yang masih tidak menyadari keberadaan mereka.
"Aku hanya ingin mengunjungi pameran ini" ucap nya. "Kalau kau? Sampai kapan bermain cinta seperti ini?"
Dia tersenyum dengan komentar pedas laki-laki itu.
"Toneri.. kau dengar aku? Kau harus segera kembali ke Jerman dan meneruskan perusahaan ayahmu"
"Aku memang berencana seperti itu." Tatapan nya berubah dingin, "Itulah alasan mengapa, aku pergi dari sisi nya."
Keadaan Sasuke tidak berbeda jauh dengan Sakura yang masih terkurung di kamarnya. Akan tetapi, laki-laki itu masih diperbolehkan berkeliaran di sekitar rumah dengan jaminan menyelesaikan tugas yang diberikan oleh ayahnya.
Sasuke membuka sedikit celah dari woodblinds yang menghalangi pandangannya dari pemandangan taman milik keluarga Uchiha.
Tatapan nya melirik sebentar ke meja, dimana segunung dokumen yang harus dia lalui untuk kembali bertemu dengan Sakura. Ini adalah ujian dari ayahnya untuk menilai kelayakan nya. Akan tetapi, dia mengetahui bahwa ini mungkin adalah ide dari sahabat kuning nya itu.
Sasuke tersenyum remeh, "Ujian ya.." dia menyandarkan kepalanya ke dinding. Permata hitam itu melirik ke cahaya matahari yang berusaha masuk, menerangi ruangan kerja tempat dia menghabiskan lebih banyak waktunya sekarang.
"Kita akan segera bertemu lagi, Sakura" lirihnya pelan.
"Aku akan menjemputmu.. segera.."
Flashback
Dengan kedatangan heboh seperti itu, dia berhasil mendapatkan seluruh perhatian semua orang. Sekarang semua mata tertuju ke arahnya. Di belakang, Utakata mengikuti dalam diam.
Apaan rencana datang dengan baik-baik. Tuan nya itu bahkan mendobrak pintu depan dengan keras dan membuat penjaga di depan nya tersungkur ke belakang.
"N-naruto kun" Sakura yang pertama menyeruakan nama nya. Itu juga membuat Sasuke terpaksa mendongak dengan sulit saat mendengar nama sahabatnya.
Sepasang sapphire blue itu menatap kedua sahabatnya yang tersungkur di tanah. Keadaan Sakura masih terlihat baik walau ada darah di sudut bibirnya. Tetapi Sasuke, laki-laki itu terlihat menyedihkan dengan bekas pukulan sepihak di tubuhnya. Jelas sekali bahwa pemegang sabuk hitam itu membiarkan dirinya dipukuli.
"Menyedihkan sekali, Sasuke" gumam Naruto pelan.
Para tetua dari kedua belah pihak langsung menunjukkan ketidaksukaan mereka pada pemimpin klan Uzumaki itu. Mereka menilai bahwa bocah SMA seperti Naruto belum layak untuk memegang kendali terhadap klan besar seperti Uzumaki. Akan tetapi, mereka tidak bisa memberikan ketidaksetujuan secara langsung, karena para tetua Uzumaki sudah dibuat bungkam oleh nya.
"Apa yang di inginkan oleh tuan muda Uzumaki disini?" Seorang tetua klan dari Uchiha maju mendekat ke arah Naruto. Dia memberikan tatapan ketidaksukaan nya secara langsung.
Naruto menyeringai mendapat tatapan tajam 5 menit setelah dia masuk dengan keren, menurutnya. "Yaah.. aku hanya mendengar bahwa ada rapat besar klan Uchiha-Haruno. Bukankah tidak baik mengasingkan Uzumaki yang sudah menjadi bagian tiga sekawan bersama dua klan hebat ini." Naruto tetap tersenyum.
Dia mencoba mendekat. Para bodyguard yang berdiri di depan kedua keluarga itu segera bersiaga.
Utakata yang melihat itu ikut berdiri di depan Naruto, melindungi tuan nya. "Oh ayolah, santai saja. Aku kan bagian dari keluarga ini juga" Dia menyentuh pundak Utakata. Dari balik punggung bodyguardnya, sepasang sapphire blue itu memberikan tatapan tajam nya kepada para laki-laki berjas yang menghalangi mereka.
Hanya sebentar, dia kembali tersenyum seperti biasa dan kembali berjalan mendekati mereka.
Kali ini, Naruto berhenti di depan Sakura.
Laki-laki pirang itu menyentuh puncak kepala Sakura dan mengusapnya pelan. "Kau tak apa?" Tanya nya pelan. Sakura mengangguk.
Naruto mengakui bahwa mereka telah bersama sejak kecil, dia dan Sakura. Walau sifat nya menyebalkan, Sakura sudah dia anggap sebagai adik yang harus dia lindungi, tidak hanya karena perintah mendiang ibunya. Tetapi tulus dari hatinya sendiri. Lagipula, masa kecil nya menjadi sedikit ramai saat gadis keras kepala ini selalu berusaha menganggunya.
Sepasang sapphire blue itu melirik ke arah Sasuke, dia tersenyum dan mengangguk kecil. Laki-laki raven itu bingung sesaat, tetapi dia tetap balas mengangguk.
Naruto berdiri dihadapan kedua kepala klan itu."Bisakah aku memberi pendapat juga?" Mata nya balas menatap langsung ke arah dua orang yang jelas memiliki perbedaan usia sangat jauh dari dirinya.
Dia melirik sesaat ke arah kedua orang wanita dibelakang yang terlihat lega akan kedatangannya. "Sebagai kepala keluarga Uzumaki, teman dan juga salah satu pihak yang bertanggung jawab atas kaburnya mereka berdua?"
Utakata yang kembali ke posisi awal nya dan hanya berniat menonton dari belakang, gelabakan mendengar kejujuran tuannya. "Naruto-sama!"
Naruto memberikan sinyal kepada Utakata untuk diam, dia bisa mengatasi ini. Dia tidak mungkin datang tanpa persiapan matang.
Ayah dari sahabat pink nya tertawa keras, "Bukankah kau terlalu percaya diri untuk datang kesini, Uzumaki Naruto?" Kizashi menatap tajam bocah yang dulu pernah di anggapnya sebagai calon menantu.
Senyum Naruto kembali mengembang, dia memberikan kedipan kecil ke arah Kizashi, yang tentu saja membuat urat kemarahan muncul di kening laki-laki tua itu. "B-bocah sialan!"
"Sebenarnya kenapa kalian marah? Bukankah pernikahan adalah hal yang baik? Uchiha dan Haruno? Memikirkan masa depan cerah kedua klan ini saja sudah merupakan hal menyenangkan."
Naruto kembali menghadap Kizashi, dia tersenyum manis. "Benarkan Kiza Oji-san?"
"Siapa yang kau panggil paman, hah! Bocah sialan! Kemari kau! Biar kutebas!" Di belakang, Mebuki, ibu Sakura terkekeh pelan. Dasar suami nya ini.. padahal sejak kecil, dia yang memberitahu Naruto untuk memanggilnya paman, tetapi bocah kuning itu terus menolaknya.
Ibu dari Sakura itu menatap ke arah Naruto yang juga menatapnya. Bocah pirang yang selalu bersikap dingin kesiapapun sejak kecil sedang memberi senyum kecil ke arahnya, dan dia tahu arti senyum itu. Mebuki bisa merasakannya, dia balas tersenyum lega dan berterima kasih.
"Aku benar kan, Fugaku-ojisan?" Oke ini adalah tantangan berat, paman satu ini tetap menatap lurus ke arahnya. Sialan! Dia dan harga dirinya, Fugaku adalah lawan berat. Dia mungkin adalah last boss! Bagaimana dirinya bisa melel..-
Tidak seperti yang dibayangkan, wajah keras Fugaku melunak. "Kau benar." Laki-laki itu mengangguk kecil. Dia melipat kedua tangan nya di dada. Wibawa nya tetap harus terjaga walau ucapanya mengiyakan ucapan Naruto.
'Eh?'
Kasus ini..Sepertinya tidak sesulit dia kira.
"Ahaha..- Ya! Benar kan? Bahkan Fugaku- Ojisan juga membenarkan nya" Naruto ngeblank sesaat. Rencana yang dia susun matang untuk melelehkan Fugaku ternyata tidak terpakai sama sekali. Selanjutnya.. apa yang harus dia katakan selanjutnya..
'Ah benar!'
"Bagaimana menurut kalian, para tetua klan?" Tidak seperti sebelumnya, sudut bibirnya di naikkan ke atas. Dia memang tersenyum, tetapi senyum meremehkan.
"Kalian setuju kan?" Intonasi kalimat nya sedikit memberat. Jelas, dia ingin menekankan setiap ucapan yang akan ditunjukkan kepada para tetua klan cerewet ini. Jujur, melawan para orang-orang tua ini bukanlah masalah besar. Sama seperti dirinya yang sudah mengendalikan Tetua klan Uzumaki yang ada di Kyoto.
Naruto bisa mendengar decihan kekesalan dari para orang tua itu, tetapi mereka tidak mengatakannya. Mereka memilih diam dan berbalik pergi sana. "Aku tidak menyangka kau selemah ini, Fugaku.. Kizashi" Dan dengan itu, ruangan luas tempat mereka berpijak sekarang lumayan kosong karena separuh para bodyguard mengikuti para tetua.
Fugaku berbalik ke arah bodyguard yang tersisa. "Kurung bocah ini di kamar nya sampai hukuman nya di putuskan."
"Ha'i"
Sasuke menurut saja, dia sudah tidak memiliki energi untuk melawan. Sesaat, kedua sahabat itu bertukar pandangan. Naruto tersenyum menenangkan, sepasang sapphire blue itu memberikan sinyal bahwa dia akan berusaha mengatasi semua ini. Sama halnya dengan Sakura yang juga dibawa pergi oleh ibunya.
Sekarang ruangan tengah itu menyisakan para pemimpin klan. Mereka duduk di sofa yang ada. Suasana agak tenang karena dari mereka tidak ada yang memulai pembicaraan.
Kizashi meneguk teh yang disuguhkan oleh pelayan nya. "Bagaimana perkembangan proyek mu, Naruto?"
"Semua berada dalam kendali ku, Kiza -ojisan"
"Aku dengar kau akan pergi mengurusnya langsung?" Kali ini Fugaku ikut berbicara.
"Itu Benar, Fugaku -ojisan." Naruto meminum teh nya dengan tenang, dia melirik sekilas ke arah Fugaku. "Itulah mengapa, aku memerlukan Sasuke."
"Apa maksudmu?"
"Daripada aku yang hanya temannya. Bukankah oji-san seharusnya lebih mengetahui kemampuan anakmu sendiri." Naruto tersenyum misterius, dia meletakkan teh nya. Ucapan nya memang cukup membuat Fugaku tersentak, untuk sebentar. Di samping, Kizashi hanya diam menunggu ucapan laki-laki itu.
Naruto yang merasa minyak yang dia siram belum cukup menyalakan api lebih besar, dia kembali menyeruakan sebuah kalimat yang mungkin akan memberikan celah terhadap hubungan kedua sahabatnya itu. "Fugaku -Ojisan, jika ada seseorang yang bisa sebanding denganku. Maka itu adalah Sasuke. Dia adalah teman sekaligus rival ku." Dia mengakhiri kalimatnya dengan langsung menatap ke arah Fugaku yang terdiam, pria paruh baya itu terjebak dalam pikirannya.
"Yaah sayang sekali, rival ku sekarang kehilangan motivasi terbesarnya." Naruto bersandar pada sofa. Dia melirik ke arah Kizashi.
"Apa kau menganggap anak gadis ku sebagai suatu barang yang membangkitkan semangat?"
"Pfft.. tentu saja tidak, oji-san. Kau kan lebih mengetahui nilai Sakura. Aku bahkan mengakui kehebatan nya, tentu saja bukan hanya pada bidang medis. Dia adalah perempuan yang kuat, sama seperti mu. Kau bisa membayangkan bagaimana bisa mereka bertahan di negara asing hanya dengan dokumen-dokumen?"
Naruto bersorak dalam pikiran nya melihat perubahan ekspresi kedua ayah tersebut. "Sasuke dan sakura bukanlah bocah SMA biasa. Mereka sudah membuktikan bisa melewati dan bertahan terhadap masalah utama yang sering dihadapi orang dewasa zaman sekarang, tanpa bantuan dari orang tua nya. Bukankah itu sangat hebat?"
Naruto menyeringai, dua orang ini memang terkenal hebat di bidang mereka masing-masing. Tetapi semua manusia akan sama saja jika dihadapkan dengan orang yang mereka sayangi, dalam konteks ini adalah putra putri mereka.
Fugaku masih ragu untuk mempercayai putra kedua itu, "Tapi bocah itu.. dia..-"
"Seharusnya oji-san bisa memaklumi itu.." Naruto tersenyum cerah.
"A-apa?"
"Kawin lari hingga masuk berita? Itukan cuma kasus cinta bocah remaja. Berita seperti itu akan cepat dilupakan dan tidak mempengaruhi kehebatan klan Haruno dan uchiha. Lagipula itu sebanding dengan pengalaman berharga yang telah mereka dapatkan" Naruto memberikan senyum matahari nya.
Kizashi terkekeh mendengar itu. Bagaimana bocah sialan ini mengatakan masalah besar sebagai hal sepele. Tetapi dia tidak berniat menyanggah, pada akhirnya, dirinya hanyalah seorang ayah seperti yang lainnya, yang hanya ingin melindungi putri nya.
"Kalau begitu, bagaimana kalau begini saja keputusan hukumannya?" Naruto menyeringai.
Flashback end
"Ini kembalian nya.."
"Terima kasih" Utakata membungkuk sebentar, lalu berlalu pergi dari sana. Laki-laki itu segera berlari kembali ke tempat Naruto.
Akhirnya, matahari telah berada puncak nya, dan ini menjadi kesempatan mereka untuk beristirahat sebentar sebelum meninjau ke tempat berikutnya. Awal-awal pengerjaan proyek memang lumayan sibuk. Ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh Naruto sendiri sebagai ketua dari proyek itu.
Utakata menekan kode pintu kamar laki-laki itu, dia baru saja membelikan beberapa makanan untuk makan siang mereka. Ini semua dikarenakan permintaan cerewet Naruto yang sudah bosan akan makanan hotel.
Klik! Pintu terbuka. Dia melangkah masuk dan menemukan Naruto yang sedang menatapnya dengan kesal. Utakata balas menatap bingung, tatapan laki-laki itu beralih pada dokumen yang berserakan di atas meja.
"Ada apa?" Utakata meletakkan bawaan nya dan mengambil dokumen itu. Sepasang matanya membulat kaget, "Wah.. " Dia melirik ke arah Naruto yang terlihat semakin marah dan akan kehilangan kesabaran nya.
"Orang-orang tidak berguna ini.." Dia menggeram marah. Surai pirang itu kembali di remas kuat, mencoba menyalurkan kemarahan yang sedang menguasainya.
"Kau sudah membicarakan dengan para penanggung jawab?" Utakata meletakkan makanan pesanan yang diinginkan Naruto.
"Ya.." Permata biru lautan itu terlihat menggelap karena amarah. "Mereka mungkin telah menerima surat cinta dari paman ku."
"Mereka dipecat?"
"Tentu saja. Setelah proyek ini selesai, mereka harus segera meninggalkan perusahaan." Intonasi Naruto naik sesaat. Dia segera tersadar dan menghirup napas dalam. Tubuh nya bersandar nyaman di sofa, kaki nya terangkat dan bertumpu pada kaki lainnya. Sepasang sapphire blue itu menatap dingin ke arah Utakata yang sedang menyantap makanannya. "Aku tidak memerlukan karyawan yang tidak kompeten. Ketidakbecusan mereka ini sudah membuat perilisan proyek tertunda."
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?"
Naruto tidak menjawab, dia mengambil smartphone nya. Jari jemari laki-laki itu mengetik sebuah nama di layar kontak telepon.
"Kau akan menghubungi gadis itu?"
Sepasang sapphire blue itu mengalihkan pandangan nya. Dia menonaktifkan handphone dan berdiri pergi. "Siapkan tiket pesawat ke Jerman. Aku harus bernegoisasi dengan Mr. Smith secara langsung."
"Baik"
"Lalu..-" Naruto terlihat ragu melanjutkan kalimat nya. "Hubungi ketua tim proyek mobil A.I dan katakan bahwa aku mungkin tidak akan berhadir saat perilisan"
Utakata menangkap tatapan kosong dari bos nya itu. Dia menghela napas, "Baiklah. Apa aku juga harus menyiapkan tiket untuk kembali?"
Naruto tersenyum miris, "Tidak perlu terburu-buru." Dia kembali mengambil smartphone nya dan menelpon seseorang. "Kita mungkin memerlukan waktu yang lama disana."
°°°°°°°°•••••••••°°°°°°
Hinata tersenyum puas dengan hasil catatan yang dia dapat. Memang keputusan yang bijak untuk menghadiri pameran ini. Selain mengembalikan semangat nya, sekarang dia dipenuhi beberapa ide baru untuk rancangan iklan berikutnya.
"Saya senang melihat anda puas, Hinata-sama"
"Terima kasih, Sacha. Penjelasan mu memang terbaik"
"Ini kehormatan bagi saya untuk melayani anda"
Hinata menyadari bahwa dia sudah berada cukup lama di tempat ini. Kakinya bahkan sudah pegal karena berdiri terlalu lama.
"Apa anda mau istirahat sekarang? Kami sudah menyiapkan ruangan khusus untuk VVIP?"
"Nee.. Sacha, apakah setelah ini ada acara berikutnya?"
"Benar, Hinata-sama."
"Begitu ya..-" Hinata melirik ke sekitar, semua orang masih berkeliaran untuk menikmati pameran.
"Kalau begitu sebentar.. aku ingin istirahat dan juga..-" Jemari nya menunjuk ke arah bagian makanan yang tersaji untuk para tamu.
Sacha tersenyum, "Saya akan menyiapkan untuk anda. Hinata-sama bisa lebih dulu beristirahat. Silahkan lewat sini"
Gadis itu dipandu ke sebuah ruangan private dimana hanya ada dirinya diruangan besar itu. Segala macam barang memanjakan diri ada diruangan itu, oke, sebuah mesin pijat mahal langsung menjadi hal pertama yang akan dia coba.
"Kalau begitu selamat beristirahat" Sacha membungkuk sebentar lalu berlalu pergi dari sana.
"Makan malam.. mungkin aku akan mengajak Naruto ke tempat yang lebih mahal lain kali" ucapnya tanpa sadar.
'Dia kan sudah memberikan tiket berharga ini,'
Tatapan Hinata terfokus pada langit-langit. "Aku harus bertemu dengan nya lagi" lirih nya pelan.
Gadis itu tersadar, dia langsung mengenyahkan pemikiran-pemikiran yang menyerang dirinya. "Tentu saja, kami akan bertemu lagi.. sebagai seorang boss dan karyawan" Dia tersenyum kecut. Sepasang permata amethyst menutup, menikmati pijatan yang dilakukan oleh mesin ini pada kakinya.
Kriet! Mendengar pintu terbuka, Hinata segera memperbaiki posisinya. "Ah, terima kasih, Sac..-"
"Halo..-" Itu bukanlah Sacha. Orang itu menatap dan tersenyum canggung ke arahnya.
"Makanan nya..-" Dia berucap pelan.. Kedua tangan nya sibuk dengan piring yang penuh dengan makanan. Laki-laki itu refleks mengalihkan pandangan nya canggung sesaat merasakan sepasang amethyst milik Hinata terus menatapnya dalam.
"Toneri.." Pada akhirnya, pemilik surai indigo itu bereaksi. Hinata tanpa sadar menggigit bibirnya pelan. Lalu mendongak menatap seseorang yang menghilang dengan hanya sebuah surat pengunduran diri. "Apa kau sekarang bekerja sebagai pengantar makanan, hm?" Gadis itu tersenyum kecil.
Melihat senyum itu membuat Toneri lebih rileks, "Lama tidak jumpa, Hinata"
'Aku merindukan mu'
Tbc
.
.
.
Akhirnya.. titik tengah untuk masalah Sasuke dan Sakura mulai terlihat. Walaupun mereka harus bertahan dengan jarak yang memisahkan.
Dan tidak hanya untuk pasangan raven-sakura tersebut. Hubungan Naruto dan Hinata juga memulai tahap baru, dan belum terselesaikan, mereka harus terpisah karena pekerjaan dari seorang Uzumaki Naruto.
Dia mencintai ketenaran dan pekerjaan, tetapi apakah akan tetap seperti itu jika kecintaan nya malah memisahkan dirinya dari Hinata?
Apa yang akan dilakukan si bocah genius itu terhadap rasa rindu dan jawaban yang tak kunjung datang dari Hinata?
Tidak hanya itu saja, pihak lawan mulai menunjukkan perlawanannya. Bagaimana Naruto melawan seseorang yang telah lama mengenal Hinata.
Nantikan chapter berikutnya..
See you~
