The King and Hime
.
.
.
.
.
Naruto milik Masashi Kishimoto
.
.
.
.
Chapter 18
Sepasang amethyst itu menatap lekat laki-laki yang masih berdiri di hadapan nya, tidak berniat mendekat ke arahnya. Dia tahu bahwa tidak banyak yang berubah dari teman nya ini. Ya memang karena mereka hanya berpisah beberapa saat saja.
Tetapi entah mengapa, dalam waktu sesingkat itu, ada hal kecil yang membedakan sosok nya dengan Toneri yang dia kenal.
"Toneri?" Panggilnya pelan, akhirnya.
Laki-laki itu tersadar. Dia akhirnya berjalan mendekat dan memberikan piring makanan yang sejak awal ada di tangannya.
"T-tunggu.." Hinata berdiri dari kursi pemijat. Dia mengambil piring itu, "Terima kasih"
"Sepertinya kau cukup bersenang-senang?"
"Ah iya." Hinata menyuap sebuah kue kecil. "Sedikit" Dia tersenyum manis.
Toneri terkekeh, dia mencubit pipi Hinata pelan. "Kau pasti memiliki banyak pertanyaan untukku, kan?"
Hinata mengangguk ragu, dia melirik ke arah Toneri yang tetap diam menatapnya. Dia memang bereaksi seperti itu, tetapi Hinata tetap tidak mengatakan apapun, bertanya ataupun hal lain yang dapat menjawab semua pertanyaan yang ada dikepalanya.
'Kenapa kau pergi?' 'Apa ada sesuatu yang terjadi?' 'Kenapa tidak mengatakan langsung padaku?'
Laki-laki itu tersenyum memaklumi. Hinata yang ada dihadapan nya sekarang seperti Hinata yang dulu yang pernah membuatnya jatuh cinta untuk pertama kali. Dia yang terlalu banyak memikirkan sesuatu, takut menyakiti seseorang karena ucapan dan perbuatan nya, dan juga tidak ingin terlihat terlalu ikut campur dengan masalah orang lain.
Tangan nya terulur ingin menyentuh kedua pipi gadis yang sedang menunduk itu. Dia ingin melihat wajah cantik yang tersembunyi dari balik helaian surai indigo.
Tetapi sebelum tangan itu mencapai tujuan nya, gadis itu mendongak, menatap sepasang mata indah yang hampir serupa dengan miliknya.
Toneri terpukau dengan wajah gadis yang memberikan alasan dia untuk bangkit kembali dan melawah ayahnya, 'Aku merindukan mu, Hinata'.
Laki-laki itu tersenyum, "Namaku adalah Toneri, Otsutsuki Toneri."
Hinata tersentak sesaat, tetapi dia langsung memahami maksud perkenalan ini, "Hinata Hyuuga."
Toneri terkekeh melihat tatapan polos dari gadis ini. Kenapa dia juga ikut mengenalkan dirinya? Tetapi syukurlah, Hinata tidak terlihat membenci nya karena pergi meninggalkan gadis itu.
Dia kembali ke posisi awal dan kembali memberikan jarak di antara mereka. "Aku lahir di Jerman."
"Waah" Hinata menutup mulutnya, terkejut.
Sekali lagi, reaksi imut gadis itu membuat tidak tahan untuk tidak tersenyum.
"Seluruh keluargaku tinggal di Jerman, tetapi ibuku berasal dari Jepang. Itulah kenapa, aku berakhir disini" Toneri sedikit emosional jika mengingat tentang Ibunya. "Aku ingin mengetahui nya.. bagaimana negara kelahiran ibuku."
"Toneri.." Hinata berucap pelan
Laki-laki itu mengendalikan perasaan nya, "Lalu aku bertemu dengan mu." Dia tersenyum. "Seseorang yang selalu bergaul dengan teman dekat nya dan terlihat tidak ingin terbuka dengan yang lain"
Hinata malu, "Begitu ya.. aku terlihat seperti itu dimata orang lain"
Toneri tersenyum lirih, "Maaf karena pergi tanpa mengatakan langsung padamu." Dia menunduk dan menyatukan kedua tangan nya erat, "Setelah aku meletakkan surat itu, aku kembali ke Jerman untuk menemui ayah ku"
Toneri menggigit sudut bibirnya, terlihat takut untuk mengatakan kebenaran yang dia sembunyikan. "Hinata, aku.. -aku akan melanjutkan perusahaan ayahku"
"Syukurlah"
Toneri tidak menemukan tatapan kekecewaan dari gadis itu, sebaliknya, dia tersenyum lembut ke arahnya.
"Kau tahu, Toneri. Aku selalu berpikir bahwa selama ini, aku telah memaksa mu untuk bekerja dengan ku"
Toneri terlihat panik, "I-itu tidak mungkin! A-aku..-"
Hinata tersenyum lebar, "Syukurlah"
Laki-laki itu ikut tersenyum. "Hinata.."
"Aku akan mendukungmu, Toneri"
"Terima kasih"
Dan dengan dalih untuk melepaskan kepergian dirinya, Toneri membawa Hinata pergi makan malam, hanya mereka berdua. Hinata mengiyakan saja karena dia merasa bahwa mungkin mereka tidak akan pernah bertemu lagi untuk waktu yang lama.
Laki-laki itu membawa nya ke sebuah restoran prancis yang berada di dekat stasiun tokyo, Nouvelle ere.
Toneri sengaja memilih restoran ini, selain menampilkan pemandangan malam yang menakjubkan. Nouvelle ère dapat diartikan dalam bahasa jepang, Shin Jidâi atau era baru. Laki-laki itu berharap bahwa setelah ini hubungan nya dengan Hinata mulai beranjak ke tahap baru, lebih dari sebuah pertemanan yang telah terjalin bertahun-tahun.
Hinata duduk di kursi dengan canggung. Dia mengetahui keberadaan restoran ini, tetapi tentu saja dia tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki di dalam nya. Terlebih setelah mengetahui harga dari makanan di sana.
Gadis itu melirik ke arah Toneri yang sibuk berbicara dengan waitress disana. Dia tidak terlihat canggung ataupun gugup sepertinya, seolah-olah laki-laki itu telah mengalami hal ini berulang kali.
'Begitu ya..' Dia sudah menduga nya, bahwa teman nya bukanlah orang biasa saja seperti dirinya. Kepergian mendadak dari laki-laki itu ditambah dengan penjelasan nya beberapa jam lalu menambah keyakinan Hinata bahwa sepertinya Toneri memiliki asal-usul yang luar biasa.
"Apa yang ingin kau pesan, Hinata?"
Gadis itu tersenyum kecil, "Samakan dengan mu saja"
"Baiklah" Laki-laki itu balas tersenyum
Hinata memang tidak mempelajari bahasa prancis, tetapi dia bisa mengetahui bagaimana fasih nya laki-laki itu mengucapkan nama menu yang ingin dipesan nya. Terkadang, dia bahkan membalas sapaan berbahasa prancis dari pelayan bule itu dengan baik.
Toneri kembali ke posisi semula setelah kepergian pelayan. Tidak seperti yang lalu, dia terlihat gelisah dan terus memperbaiki duduknya.
"Apa ada sesuatu yang salah?'
Pertanyaan khawatir dari Hinata cukup membuatnya terkejut. Dia segera menggeleng cepat, menandakan semua nya baik-baik saja.
"Aku akan membantu apapun jika kau ada masalah"
"T-tidak. Aku hanya..-" Toneri terlihat lebih gugup. Tatapan nya terus menghindar dari Hinata. "A-ada sesuatu yang ingin kukatakan!"
Gadis itu terkejut dengan respon luar biasa dari Toneri. "Y-ya, katakanlah"
Laki-laki itu tersenyum cerah, dia meremas pakaian nya, dan berusaha mengendalikan kegugupan nya. Toneri menarik napas panjang sebelum berakhir menatap lekat gadis bersurai indigo dihadapannya.
"Saat ini, aku sedang berusaha untuk mendapatkan kepercayaan Ayahku kembali. Aku bekerja keras setiap hari.." Toneri berhenti sebentar, dia memalingkan wajahnya.
"Ayahku memang cukup keras, dia memberikan ku tanggung jawab yang besar. T-tetapi aku akan terus berusaha! Aku akan berusaha hingga cabang Jepang bisa bersaing dengan kantor pusat yang ada di Jerman" Tanpa sadar, Toneri menaikkat intonasi nya pada akhir kalimat.
"Ya walaupun itu terlihat mustahil" Dia terkekeh pelan.
Hinata memahami maksud Toneri. Dia tersenyum, "Kau pasti bisa, semangat!"
Laki-laki itu kembali mendapatkan motivasi nya, "lalu untuk itu aku harus pergi berulang kali, dari Jerman lalu ke Jepang. Aku mendapatkan pelatihan di kota kelahiranku dan juga mengurus perusahaan yang ada di kota kelahiran ibuku."
"Itu terlihat melelahkan"
Toneri tersenyum. Dia meletakkan tangan nya di atas tangan Hinata. "Itu sulit, tapi aku akan berusaha." Sepasang permata yang senada dengan mata gadis itu, menatap tangan Hinata yang tetap diam di bawahnya.
Toneri mengingat keberadaan rival nya yang terlalu kuat untuk dilawan dengan hanya status sebagai teman satu perusahaan, 'Aku tidak boleh lengah sedikitpun' tekadnya.
Toneri bergerak menggenggam jari jemari Hinata pelan, "Akan tetapi, aku sedikit mendapat masalah"
"A-apa itu?!" Hinata memberikan tekanan pada jemari nya yang di genggam, yang cukup membuat laki-laki itu tersentak.
Tatapan Toneri lurus menatap ke sepasang tangan yang saling menyentuh, "Dirimu. Aku tidak bisa melihat mu, Hinata" Sepasang mata itu beralih menatap ke arahnya, dengan lekat seolah ingin menyampaikan kesungguhan hatinya.
"Ah.." Gadis itu terkejut. Dia menyadari ke arah mana pembicaraan ini. "Begitu ya.." Dia berniat menarik tangan nya sebelum di genggam erat oleh Toneri, seolah tidak membiarkan dia pergi.
"Hinata, maukah kau tetap berada disisi ku? Aku ingin kau menemaniku kemanapun aku pergi."
Gadis itu segera menarik tangan nya, dia memalingkan wajahnya, "M-menemani.. apa'an.. kau terlihat seolah ingin melamarku, Toneri."
"Tetapi aku memang sedang melamarmu, Hinata."
Sebuah kotak kecil di letakkan di atas meja. Toneri membuka nya pelan, terlihat sebuah cincin yang terlihat begitu menawan dan indah. Dihiasi oleh begitu banyak permata kecil putih di sisi kanan kirinya, memberikan kemewahan tersendiri untuk permata amethyst yang menjadi pusat daya tarik cincin tersebut.
Hinata menyukai nya, dia menyukai cincin yang terpantul indah di bawah gemerlap lampu restoran.
Tetapi dia tidak bisa memilikinya; cincin indah itu. Tentu tidak setelah rasa menyedihkan yang terus membayangi nya seharian ini, hanya karena seorang laki-laki yang membatalkan janji mereka karena kesibukan nya si tempat lain. Dia menyadarinya, hatinya tidak berada dalam keadaan siap menerima ini. Dia sedang dalam kebimbangan.
"Ini sangat cantik, Toneri." Hinata tersenyum. Dia mengelus permata amethyst pelan.
"Benarkah? Kau ingin aku memasangk..-"
"Tetapi ini tidak cocok di jariku." Kali ini, Sepasang mata amethyst itu menatap ke arah Toneri. "Aku selalu sibuk bekerja hingga larut malam, kulit tangan ku terus terkena matahari langsung. Tidak ada waktu untuk merawat diri agar cincin ini terlihat bagus ditangan ku."
"Aku rasa, cincin cantik ini akan jauh terlihat lebih indah di jari gadis lain" lanjutnya.
"Tetapi Hinata.. aku..-"
"Aku..!" Hinata tanpa sadar memberikan tekanan pada ucapan nya. Tangan gadis itu meremas kuat pakaian yang dikenakannya.
Lagi, Sepasang amethyst menatap lekat ke arah laki-laki di hadapannya, dia menyunggingkan senyum kecil, "A-aku benar kan, Toneri?" Dia memberikan senyum terbaiknya, walau mungkin terlihat berbeda di mata Toneri. Itu malah terlihat seperti sebuah senyum rasa bersalah dan keterpaksaan.
Laki-laki itu tidak bisa menatapnya, senyuman manis yang selalu diberikan oleh gadis itu. Sebelumnya, dia selalu memuja akan nya, akan tetapi sekarang, rasanya sangat menyakitkan walau hanya sekedar menatapnya sekilas, "Ya, kau benar, Hinata." Lirinya pelan.
'Hinata, aku benar-benar mencintaimu.'
"Aku merasa hari ini telah makan siang dua kali"
Dibelakang, Utakata terkekeh pelan. "Tentu saja, perbedaan waktu antara Jepang dan Jerman adalah delapan jam. Mungkin di sana sedang jam makan malam"
Naruto mengunyah sandwich nya pelan. Dirinya telah tiba di Negara ini setelah menempuh perjalanan berjam-jam. Dia memiliki waktu 2 jam untuk istirahat sebelum menyelesaikan masalah yang harus membuatnya kembali menahan untuk tidak menghubungi gadis itu.
'Dia pasti sudah makan malam kan?' Naruto tersenyum kecil, tangan nya sibuk membolak-balikkan dokumen yang diperlukan saat rapat 2 jam lagi.
"Saya penasaran.." ucap Utakata tiba-tiba.
Perhatian Naruto beralih pada bodyguard nya, "Ada apa?"
"Bukankah bulan depan, anda akan menghadapi ujian masuk perguruan tinggi? Anda sudah belajar, Naruto-sama?"
"Bukan tepat bulan depan, tetapi satu bulan lebih beberapa hari lagi lagi saat musim dingin." Naruto kembali memusatkan perhatian nya kepada dokumen ditangan nya. "Tapi apa kau serius menanyakan hal ini padaku, Utakata?" Dia menyeringai.
Utakata menyerah, dia tidak bisa melawan tuan nya itu. Ujian masuk perguruan tinggi yang katanya susah itu bahkan di anggap enteng olehnya. "Apa anda akan melanjutkan keluar negeri?"
"Jika kau menanyakan pada diriku beberapa bulan yang lalu mungkin aku akan menjawab iya"
"Apa karena Hyuuga-san?"
Naruto tersenyum, "Sekarang, ada sebuah harapan yang kuinginkan. Aku ingin belajar bersama-sama dengan nya, ikut acara kampus, ataupun makan siang bersama di kafetaria"
Sesaat setelah mengatakan itu, Naruto menutup dokumen nya. Dia menghela napas, "Aku akan secara resmi mewarisi perusahaan ayahku setelah menyelesaikan kuliahku, dan tentu saja aku harus mempersiapkan nya dengan benar dan lulus lebih cepat."
"Tidak ada waktu untuk bermain. Apa itu adalah yang ingin anda katakan?"
Naruto tidak menjawab, dia berdiri dan berjalan mendekat ke arah jendela besar yang langsung menghadap ke jalanan kota. "Tidak hanya aku, Hinata juga memiliki tanggung jawab besar terhadap perusahaan nya, hingga sampai kakaknya sadar dan dapat menjalankan kembali perusahaan"
'Benar-benar pasangan yang super sibuk'
Sepasang permata biru itu tetap diam menatap jalanan besar yang diisi oleh puluhan alat transportasi darat. Itu menyenangkan melihat seperti ini dari ketinggian, tetapi tetap saja tidak bisa menghiburnya.
Naruto tidak tahu bahwa Hinata akan bersikap begitu dingin padanya. Gadis itu tidak pernah sekalipun menghubungi, entah sekedar mengetahui kondisinya ataupun penasaran tentang berita menyebalkan tentang dirinya.
Dia yang selalu dikejar sekarang harus memutar otak lebih keras agar bisa mengejar sosok gadis itu.
Naruto menyukai tantangan, dan dirinya mengakui, bahwa ini sulit dan menantang. Tetapi untuk mendapatkan hati gadis ini, dia tidak ingin tergesa-gesa dan bertindak salah.
Hati manusia itu unik, dia mudah berpindah kemana saja yang dia mau. Mungkin sekarang, Hinata terlihat menyukainya, tetapi tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi jika mereka tidak bertemu hingga berminggu-minggu, seperti sekarang.
"Utakata.." panggil nya.
"Ya, Naruto-sama?"
"Hubungi Fugaku oji-san." Dia berbalik menatap bodyguard yang sekarang berperan sebagai sekretaris nya. "Katakan bahwa aku memerlukan Sasuke sekarang juga. "
.
.
.
Jerman, salah satu negara yang berada di benua Eropa dan juga negara yang memiliki sejarah terkenal tentang Tembok Berlin. Ini adalah sebuah Negara yang maju, dalam pendidikan, teknologi dan juga mode pakaian.
Dan hal mencolok lainnya dari Negara ini tentu saja dari banyaknya ilmuwan-ilmuwan yang lahir disini dan mendapatkan perhargaan Nobel. Selain itu, berbagai predikat lainnya seperti, negara yang pertama kali mencetak buku di dunia, negara yang memiliki kebun binatang terbesar di dunia, hingga negara yang memiliki stasiun terbesar di Eropa
"Ini akan menyenangkan jika kami menghabiskan hari disini."
Utakata melirik tuan nya yang tiba-tiba berbicara aneh setelah sedari tadi diam saja; membaca dokumen.
"Anda mau kemana?"
"München" ucapnya tanpa sadar.
"München? Salah kota di Jerman? Kenapa anda mau kesana?"
Naruto tersenyum. Dia berbalik menatap ke arah jendela mobil. Jalanan kota Berlin cukup ramai di jam-jam sekarang ini, dan lumayan menyenangkan untuk dilihat.
Utakata menyetir dengan sesekali melirik ke arah tuan nya yang tetap diam. Entah apa yang dipikirkan nya. Bahkan dokumen-dokumen yang ada di pangkuan nya tidak tersentuh lagi. "Naruto-sama?"
Laki-laki pirang itu tersadar, dia memijat pangkal hidung nya perlahan. "Utakata.." Naruto bersandar di kursi dan membuang napas.
"Ya?"
"Sasuke mungkin akan tiba besok. Kau bisa menjemputnya kan?"
"Iya."
"Kalau begitu, beritahu apa yang akan dilakukan nya, semuanya.."
"Ha'i. Lalu apa yang akan anda lakukan, Naruto-sama?"
"Aku?" Naruto tersenyum kecil, "Aku ingin ke Müchen."
Utakata melirik bingung tuan nya yang tersenyum bahagia. Entah apa yang akan dilakukan nya di sana.
Flashback
Duduk diam dalam waktu yang lama di kursi memang sangat memberatkan untuknya. Naruto meluruskan kaki nya sebentar demi mengurangi sedikit ketegangan otot diseluruh tubuhnya.
Dia melirik kesekitar, sebagian besar dari mereka masih tertidur, hanya ada sedikit orang yang tersadar.
Tangan nya menggapai brosur yang disediakan pesawat ini, dan membacanya. Isinya tentu saja seputar pesawat dan keindahan yang ditawarkan oleh Negara yang akan dia kunjungi saat ini.
'Müchen?' Permata lautan itu tertarik dengan slogan tempat terbaik untuk kencan romantis menikmati keindahan bunga yang ditawarkan oleh salah kota di Jerman itu.
'Hinata menyukai bunga, kan?'
"Aku akan mengunjungi nya nanti" Dia tersenyum kecil, dan mengembalikan brosur itu ke tempatnya.
Flashback end
.
.
.
Tbc
.
.
.
Terima kasih atas dukungan nya hingga chapter 18 ini, saya benar-benar berterima kasih kepada kalian semua, para pembaca tersayangku
Saya juga meminta maaf atas kesalahan yang telah saya lakukan sepanjang 18 chapter ini, mungkin berbentuk ketypoan atau kata/kalimat yang sulit dipahami.
Sampai jumpa di next chapter~
See you
