Harapan dari Bunga Aster Kuning
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Story by PhiruFi
Pairing: (Itachi U. & Ino Y.) Sasuke U.
Genre: Tragedy, Hurt/Comfort, Drama
Warning: Semi Canon, Crack Pair, OOC (maybe), DLDR, EYD, Typo, RnR.
A/N: Timeline Blanc Period
Enjoy read this story~
"Di kehidupan selanjutnya, aku berharap kita bisa memenuhi janji ini. Bukan hanya kau seorang diri, tetapi bersamaku,"
"Entah harapanku ini akan berakhir sia-sia, atau Sang Pencipta akan mengabulkannya,"
"Aku sangat ingin bertemu denganmu,"
"Aku ingin mengulang saat di mana aku bercerita dan kau malah tertawa,"
"Aku akan berkata, 'Hei! Aku tidak sedang bercanda!' Sesaat hening menyela, kemudian kita malah tertawa bersama. Lucu, bukan?"
"Sampai sekarang aku tetap berharap, saat itu akan kembali datang,"
"Dan jika keajaiban itu tiba, aku ingin mengatakan maaf. Maaf telah membuatmu merasa terbebani dengan janji yang kubuat,"
"Terima kasih."
oOo
Langit biru perlahan menjadi jingga, serta sinar cerah mentari memudar dengan eloknya. Meskipun sebentar lagi malam tiba, tak membuat sekawanan burung-burung untuk terbang di atas. Mereka terbang dengan bebas, mengumpulkan ranting atau makanan untuk dibawa ke sarang.
Kini dua manusia dengan warna surai yang jelas berlawanan —hitam dan kuning platinum— berjalan beriringan.
Pemilik rambut platinum itu memilih untuk diam sambil memandangi pijakan di bawahnya, sedangkan yang satunya setia menerawang jauh ke depan.
Mereka memang bersama, tetapi tidak ada perbincangan disela-sela perjalanan panjang itu.
Sangat bukan tipikal si gadis —harus diam dan senyap tanpa obrolan. Akhirnya gadis itu memutuskan memulai dengan sebuah candaan yang nantinya membuat si pemuda mengumpat kesal.
"Nee... Sasuke-kun, kau jauh-jauh datang dari perjalanan penebusan dosamu hanya untuk mengajakku kencan membosankan seperti ini?" canda si gadis —Ino.
"Cih! Diamlah!" perintah Sasuke.
Pemuda yang menjadi anggota terakhir clan Uchiha selepas kepergian Itachi itu memang masih belum berubah seluruhnya. Ia masih menjadi Sasuke seperti 7 tahun yang lalu. Nampaknya perjalanan untuk menebus semua dosa belum membuat hatinya sedikit melunak.
"Oh! Maaf-maaf. Hanya saja kau membuang waktuku."
Ino tak mau kalah. Ia membalas perkataan Sasuke seolah dirinya tidak senang dengan ajakan pemuda raven itu 10 menit yang lalu. Jika Sasuke mengajaknya saat masih kecil dulu, mungkin ia akan senang sebab pikirannya hanya ada main dan bermain.
"Cukup diam dan ikuti aku," perintahnya.
Setelah dua tahun meninggalkan Konoha, pemuda itu kembali ke tanah kelahirannya. Tempat pertama yang Sasuke datangi adalah kediaman Yamanaka.
Kepulangan Sasuke yang tiba-tiba itu membuat Ino terkejut. Ia tidak pernah menyangka kedatangan Sasuke di senja itu untuk mengajaknya ke luar tanpa tujuan yang pasti. Tak menolak bahkan tidak butuh waktu satu menit, Ino langsung menyetujui ajakan Sasuke. Pikirnya tidak ada yang salah jika 'kencan' dengan salah satu pahlawan shinobi.
"Kau mengiyakan ajakanku," balas Sasuke.
"Ya, aku pikir kita akan makan atau melihat matahari. Bukan jalan seperti ini. Membosankan dan melelahkan." Ino melihat ke arah samping kanannya, di mana sungai mengalir dengan tenang dan pantulan cahaya berwarna jingga terlukis di air.
Sedari tadi memang keduanya berbicara tanpa saling memandangi. Bukannya tidak sopan, hanya saja suasana terasa amat canggung. Bahkan keduanya saja jarang bicara sebelumnya.
Bukan dengan sengaja Ino mengatakan bahwa perjalanan ini membosankan, hanya saja ingatan masa lalunya kembali berputar di otak. Jalanan ini mengarah ke tempat yang dulu sering ia datangi. Sebuah tempat pemukiman milik clan ternama dan terhormat di Konoha —kompleks Uchiha. Dulu daerah itu mirip seperti sebuah pemukiman kecil tetapi lengkap dengan berbagai toko dan kedai.
Sejak insiden itu, tempat ini berubah menjadi reruntuhan bangunan tak terawat.
Memang benar, di sinilah mereka sekarang. Keduanya berdiri di tepi danau yang biasa menjadi tempat Sasuke kecil berlatih katon —dan tentu saja Itachi juga.
"Kau ingin bernostalgia dengan kenangan burukmu itu, Sasuke-kun?" tanya Ino. Gadis itu tersenyum miris sambil memandangi riak air.
"Kau tersenyum memilukan untuk dirimu sendiri?"
Bukannya menjawab pertanyaan dari Ino, Sasuke malah membalasnya dengan pertanyaan yang mirip dengan sebuah sindiran.
Enggan untuk menjawab ejekan tersirat dari pemilik rinnegan itu, Ino memilih memejamkan matanya sejenak.
"Aku ingin menebus dosaku dengan menikahimu, Ino."
Ino menoleh sambil mengernyitkan dahinya. Apa-apaan yang dikatakan pemuda Uchiha di sampingnya ini?
"Kau tidak melakukan dosa apapun terhadapku," balas Ino.
Gadis ini menengadahkan wajahnya. Kini langit sudah berubah warna menjadi gelap, itu artinya malam benar-benar telah tiba. Untung saja beberapa kunang-kunang berdatangan. Mereka terbang di atas permukaan air danau. Di tempat itu tidak lagi sepenuhnya gelap.
"Aku ingin melindungimu seperti apa yang Itachi lakukan kepadaku," kata Sasuke.
Ino menggelengkan kepala dengan pelan, "Jujur saja, aku tidak pernah sekesal ini kepadamu. Aku tidak ingin membuang waktuku," ujar Ino.
Buru-buru Ino membalikkan badannya. Ia hendak pergi menjauh dari Sasuke, tetapi pergelangan tangannya lebih dulu ditahan.
Sasuke menahan Ino untuk tidak beranjak dari tempatnya berdiri.
"Aku tahu perasaan Itachi. Dia mengatakannya..." Sasuke memberi jeda, "... sesaat sebelum kepergiannya."
Ino menoleh dengan raut keterkejutannya, "Itachi-nii mengatakan semua kepadamu?" tanyanya.
"Tentang apa? Jangan mengarang cerita. Aku ingin pulang."
Beberapa detik setelah Ino mendengar pernyataan Sasuke, ia berpikir. Apa yang membuat Itachi memutuskan untuk mengatakan perasaaannya terhadap Ino kepada Sasuke?
Bukankah terlihat memalukan? Ia benar-benar malu sekarang. Itulah sebabnya Ino ingin segera pergi dari tempat itu. Akan tetapi, sejujurnya ia penasaran.
Sebenarnya perasaan yang bagaimana? Ia akui, ia sangat ingin mengetahui kebenarannya.
"Aku rasa begitu," jawab Sasuke.
Pemuda itu tidak tahu pasti seberapa banyak kakaknya memperlihatkan semua kenangannya dengan teman satu angkatannya itu.
"Kau punya banyak memori dengannya, ne?" tanya Sasuke.
Ino mengurungkan niatannya untuk beranjak pergi. Ia menghadap ke arah Sasuke sesaat setelah pergelangan tangannya kembali bebas.
"Dia meninggalkan sesuatu padamu, di sana."
Pandangan mata Sasuke terarah pada tanah di belakang tempat Ino berdiri.
Ino menoleh dengan segera. Selama ini, ia bahkan tidak menyadari bahwa Itachi meninggalkan sesuatu kepadanya. Mungkin lebih tepatnya adalah Itachi menguburkan sesuatu untuk Ino.
"Apa aku bisa mempercayai omonganmu? Bagaimana jika kau mengada-ada," ucap Ino tak percaya.
"Kau bisa melihatnya sendiri," balas Sasuke.
Ino memandangi tanah itu. Di sana seperti tidak ada apapun yang terkubur. Semua tampak normal, bahkan tak ada tanda yang mampu menunjukkan bahwa ada sesuatu yang terkubur selama bertahun-tahun di sana.
Ino bersimpuh di tanah. Ia menghiraukan noda cokelat dari tanah yang menodai rok panjangnya. Ino menggali tanah itu dengan perlahan. Tidak masalah meski nanti kuku cantiknya akan rusak, ia tidak peduli. Ia ingin melihat apa yang Itachi ingin sampaikan kepadanya. Meski sudah bertahun-tahun lamanya, rasanya masih belum terlambat.
Gerakan tangannya terhenti saat menyentuh sebuah kotak kayu. Ino mengambilnya dan mengusapkan tangannya di permukaan kotak untuk menghilangkan sisa tanah yang mulai melekat di sana.
"Itachi-..." Ino menarik napasnya sejenak untuk mengumpulkan nyali.
Tiba-tiba saja perasaan takut menyelimutinya. Ia takut akan ada penyesalan untuk semua ini. Ia tentunya akan menyesal karena tidak menyadarinya selama ini dan membiarkan benda ini terkubur lama.
Jangan. Ia memohon dengan sangat di dalam hatinya.
"Jangan membuatku menyesalinya, Itachi-nii," batin Ino.
